SHALAT ‘ID DI MASJID ATAU LAPANGAN? (JILID 2)

SHALAT ‘ID DI MASJID ATAU LAPANGAN? (JILID 2)

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

PERIHAL JAUHKANLAH WANITA HAID DARI MUSHOLLA (TEMPAT SHOLAT)

Sebagian orang yang berpendapat shalat hari raya harus di masjid berdalil dengan mengatakan bahwa terbukti shalat hari Raya tidak boleh dihadiri oleh wanita yang sedang haid, sehingga ini menunjukkan bahwa shalat waktu itu bukan di lapangan melainkan di masjid sebagaimana hadits berikut :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah berkata, telah memberitakan kepada kami Sufyan dari Ayyub dari Ibnu Sirin dari Ummu Athiah ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Keluarkanlah para wanita-wanita belia (gadis) dan wanita berhijab untuk menghadiri shalat ied dan do`a kaum muslimin. Dan jauhkanlah wanita haid dari musholla. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1298)

Maka perkataan “jauhkan wanita haid dari tempat shalat” sama sekali tidak menunjukkan bahwa shalat tersebut dilaksanakan di masjid. Karena dalam hadits lain jelas disebutkan bahwa termasuk wanita haid diminta hadir untuk mendengar khutbah, menyaksikan perayaan, namun mereka tidak ikut shalat karena wanita haid dalam keadaan hadats besar, dan dilarang ikut melaksanakan shalat.

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ayyub, Yunus, Habib, Yahya bin ‘Atiq dan Hisyam di riwayat yang lain, dari Muhammad bahwa Ummu ‘Athiyah berkata : “Rasulullah s.a.w. memerintahkan kami menyuruh keluar para wanita yang terpingit dalam rumah untuk keluar pada hari raya ‘Id, lalu di tanyakan; “Bagaimana dengan wanita haid?” beliau bersabda; “Hendaknya ia menyaksikan kebaikan pada hari itu dan juga do’a dari kaum Muslimin.” (H.R. Abu Daud No. 961)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Muhammad dari Ummu ‘Athiyah seperti hadits ini, katanya; “Hendaklah wanita haidh agak menjauh dari tempat shalat kaum Muslimin…”

Telah menceritakan kepada kami An Nufaili telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami ‘Ashim Al Ahwal dari Hafshah binti Sirin dari Ummu ‘Athiyah dia berkata; “Kami di perintah …” seperti hadits ini, katanya; “Hendaknya wanita-wanita berada di belakang orang-orang dan bertakbir bersama mereka.”

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid yaitu Ath Thayalisi dan Muslim keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ishaq bin ‘Utsman telah menceritakan kepadaku Isma’il bin Abdurrahman bin ‘Athiyah dari neneknya yaitu Ummu ‘Athiyah lalu dia berkata; “Aku adalah utusan Rasulullah s.a.w. kepada kalian, beliau memerintahkan kami untuk menyuruh keluar wanita yang sedang haidh dan para hamba sahaya pada dua hari raya” (H.R. Abu Daud No. 962)

Maka perintah agar wanita menjauhi tempat shalat maksudnya adalah sekadar menjauh saja dan berada di tepi orang yang shalat, namun dibolehkan hadir di situ. Maka hal ini menunjukkan bahwa shalat ‘Id tidak dilaksanakan di masjid, karena seandainya shalat dilaksanakan di masjid, tentu wanita haid tidak diminta hadir.

Perintah bahwa wanita yang haid hendaklah menjauh dari musholla, maka sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya di atas, bahwa istilah musholla di sini bukanlah bangunan tempat sholat atau masjid, melainkan adalah tanah lapang yang dipakai untuk sholat. Hal ini sebagaimana dijelaskan pada hadits yang telah kami sebutkan sebelumnya :

Nafi’ dari Ibnu Umar berkata, “Di pagi menjelang siang Rasulullah s.a.w. keluar saat hari shalat id, membawa tombak kecil (untuk sutrah). Ketika sampai di tempat musholla, tombak kecil itu ditancapkan di antara beliau dan hadapannya lalu beliau shalat ke hadapannya. Dan itu karena tanah musholla adalah tempat yang terbuka dan tidak ada apapun yang menutupinya (atau untuk dijadikan sutroh). ” (H.R. Ibnu Majah No. 1294)

Maka perkataan musholla (tempat sholat) di sini bukanlah masjid melainkan lapangan karena ada keterangan bahwa ia adalah tempat terbuka yang tidak tertutup apapun.
Maka perkataan Dan jauhkanlah wanita haid dari musholla. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1298) maksudnya adalah agar agak menjauh dari lapangan yang dipakai sebagai tempat shalat ‘Id.

HADITS YANG MENGISYARATKAN SHALAT DI LAPANGAN

Kelompok yang berpendapat bahwa shalat hari raya harus di lapangan berdalil berdasarkan hadits-hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. bersama kaum muslimin melaksanakan shalat hari raya di lapangan :

Dari Al-Baraa’ r.a. berkata : “Nabi s.a.w. keluar pada hari ‘Idul Adha menuju Baqi’. Lalu beliau shalat ‘id dua rakaat. Kemudian beliau menghadapkan wajahnya kepada kami seraya bersabda, “Sesungguhnya awal kurban kita adalah pada hari kita ini. Kita mulai dengan shalat, lalu kita kembali untuk menyembelih hewan kurban. Barang siapa yang melakukan hal itu, maka sungguh ia telah mencocoki sunnah kita. Barangsiapa yang menyembelih sebelum itu (sebelum shalat), maka dia (sembelihannya) adalah sesuatu yang ia segerakan untuk keluarganya, bukan hewan kurban sedikitpun“.(H.R. Bukhari No. 933)

Baqi adalah tanah luas di sebelah Timur masjid Rasulullah s.a.w. yang belakangan dijadikan sebagai kuburan kaum muslimin.

Telah menceritakan kepada kami Hamzah bin Nushair telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Suwaid telah mengabarkan kepadaku Unais bin Abu Yahya telah mengabarkan kepadaku Ishaq bin Salim bekas budak Naufal bin ‘Adi telah mengabarkan kepadaku Bakr bin Mubasyir Al Anshari dia berkata; “Aku berangkat untuk melaksanakan shalat Idul Fithri dan Idul Adha bersama sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. Ketika pergi, kami melewati lembah Bathhan hingga sampai di musholla, lalu kami shalat bersama Rasulullah s.a.w., ketika kami pulang ke rumah masing-masing, kami juga lewat lembah Bathhan.” (H.R. Abu Daud No. 978)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah s.a.w. shalat ke musholla namun musholla tersebut adalah sebuah tempat yang melewati lembah bathan. Maka jelas musholla di sini bukanlah masjid. Walaupun demikian hadits ini dla’if karena mauquf (terputus) sampai pada perkataan Bakr bin Mubasyir dan ia tidak tsiqoh karena Mubasyir hanya meriwayatkan 1 hadits ini saja.

Mengenai maksud dari musholla ini maka dikatakan dalam kitab Subulus Salam membedakan istilah masjid dan musholla :

“Bahwasanya Rasulullah s.a.w. pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adlha keluar ke mushalla.. Hadits ini sebagai dalil disyari’atkannya keluar ke mushalla. Dari hadits ini pula dengan mudah difahami bahwa keluarnya Nabi itu ke sebuah tempat yang “bukan masjid” dan memang benar demikian, karena sesungguhnya mushallanya Nabi itu berupa suatu tempat yang telah diketahui oleh banyak orang yang mana jarak antara mushalla dan pintu masjidnya Rasulullah s.a.w. adalah seribu dzira’ (± 500 m.) (Subulus Salam Juz 2 Hal 67)

“Bahwasanya ketika hari raya, Rasulullah menempuh jalan yang bebeda, yakni kembali dari mushallanya melewati arah yang tidak beliau lewati sewaktu berangkat menuju mushalla”. (Subulus Salam Juz 2 Hal 69)

Jika musholla yaitu maksudnya adalah masjid Nabi s.a.w., niscaya tidak disebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. menempuh jalan yang berbeda antara ketika menuju mushola dan kembali dari musholla, karena masjid Rasulullah s.a.w. menempel dengan kamar beliau.

KETIKA HUJAN, SHALAT DILAKSANAKAN DI DALAM MASJID

Dari Abu Hurairah r.a. berkata : bahwa kami pernah kehujanan pada waktu pelaksanaan shalat Ied, maka Nabi s.a.w.melaksanakannya di masjid.” (H.R. Abu Daud 980, Ibnu Majah No. 1303)

Telah menceritakan kepada kami Al ‘Abbas bin Utsman Ad Dimasyqi berkata, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim berkata, telah menceritakan kepada kami Isa bin Abdul A’la bin Abu Farwah ia berkata; Aku mendengar Abu Yahya Ubaidullah At Taimi menceritakan hadits dari Abu Hurairah ia berkata, “Pada masa Rasulullah s.a.w.orang-orang diguyur hujan di hari raya, maka beliau pun shalat bersama mereka di masjid. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1303)

Dari hadits-hadits di atas diketahui apabila shalat ‘Id memang dilaksanakan di dalam masjid, niscaya tidak disebutkan bahwa “karena hujan maka shalat dilaksanakan di masjid”. Jika sejak awal shalat memang dilaksanakan di dalam masjid, maka tidak jadi masalah hujan atau tidak hujan sehingga tidak perlu diceritakan dalam hadits. Maka penceritaan masalah hujan menunjukkan bahwa semula shalat dilaksanakan di luar masjid / lapangan, dan ketika hujan baru dilaksanakan di dalam masjid.

BERSAMBUNG..

SHALAT ‘ID DI MASJID ATAU LAPANGAN? (JILID 1)

SHALAT ‘ID DI MASJID ATAU LAPANGAN? (JILID 1)

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Esok hari Insya Allah umat Islam akan melaksanakan shalat ‘Idul Adha. Melaksanakan shalat hari raya ‘Idul adha atau idul fitri sendiri hukumnya adalah sunnah muakkad yaitu sunnah yang sangat ditekankan pelaksanaannya karena Rasulullah s.a.w. tidak pernah meninggalkannya. Sebagian dari umat Islam akan melaksanakannya di lapangan sedangkan bagi sebagian yang lain melaksanakan di masjid. Baik yang melaksanakan di lapangan maupun melaksanakan di dalam masjid, keduanya sama-sama sah shalatnya.

Namun sangat disayangkan ada sebagian orang yang bersikap berlebihan dengan mengatakan bahwa yang melaksanakan shalat di masjid adalah bid’ah dan tidak sesuai dengan sunnah. Sikap ini dibalas tidak kalah sengitnya dengan pihak yang shalat di masjid dengan mengatakan bahwa yang shalat di lapangan itu tidak sah shalatnya, karena di lapangan banyak najis dan tahi binatang. Sedangkan tidak sah shalat orang di tempat najis.

Masalah ini termasuk masalah khilafiyah (yang memungkinkan terjadi perbedaan pendapat). Baik yang melaksanakan shalat di lapangan maupun di masjid, keduanya mengikuti salah satu pendapat imam madzhab, sehingga tidak boleh pendapat madzhab yang satu menganggap sesat madzhab yang lain karena tiap-tiap imam madzhab memiliki kapasitas sebagai mujtahid (berhak melakukan ijtihad).

Sebenarnya inti dari perbedaan pendapat masalah ini adalah seputar istilah “mushola” dalam hadits-hadits yang menjelaskan tentang shalat hari raya. Secara kamus mushola artinya memang tempat sholat. Mendengar kata musholla kita langsung terbayang masjid kecil tempat sholat. Sehingga sebagain berpendapat bahwa mushola di sini maksudnya adalah masjid. Namun sebagian lain berpendapat istilah musholla maksudnya adalah lapangan.

Kami menjumpai beberapa tulisan sebagian orang yang bersikap berat sebelah dan tidak adil dalam rangka membenarkan pendapatnya. Maka dalam kesempatan ini ada baiknya kita mengetahui duduk masalahnya secara adil. Yang dimaksud adil di sini adalah kita harus sampaikan semua dalil yang tersedia terkait permasalahan ini tanpa menutup-nutupi dalam rangka membenarkan salah satu pendapat. Demikian pula berbagai alasan dan penafsiran masing-masing kelompok harus dibahas secara adil kelebihan dan kekurangannya.

KELOMPOK YANG BERPENDAPAT SHALAT ‘ID HARUS DI MASJID

Kelompok yang berpendapat bahwa shalat hari raya harus di masjid berkata bahwa
dalam hadits disebutkan “musholla” (tempat sholat) ” atau “musmaliin” (tempat sholatnya kaum muslimin) dan tidak pernah menyebut lapangan, sebagaimana hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Maryam berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far berkata, telah menceritakan kepadaku Zaid bin Aslam dari ‘Iyadl bin ‘Abdullah bin Abu Sarah dari Abu Sa’id Al Khudri berkata, “Pada hari raya Idul Fitri dan Adlha Rasulullah s.a.w. keluar menuju musholla dan pertama kali yang beliau kerjakan adalah shalat hingga selesai..” (H.R. Bukhari No. 903)

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz dari Dawud dari ‘Iyadh bin ‘Abdullah dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah s.a.w. pada hari Idul Fitri dan Idul Adha ke Musholla lalu Beliau shalat bersama manusia. (H.R. Nasa’i No. 1558)

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Sa’id Al Aili berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb berkata, telah mengabarkan kepadaku Sulaiman bin Bilal dari Yahya bin Sa’id dari Anas bin Malik berkata, “Rasulullah s.a.w. melaksanakan shalat ‘ied di musholla dengan menjadikan tombak sebagai satirnya (sutrohnya). ” (H.R. Ibnu Majah No. 1296) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin ‘Abdurrahman dari Amru bin Abu Amru dari Al Muthallib dari Jabir bin Abdullah ia berkata : “Aku pernah mengikuti shalat ‘idul adhha bersama Nabi s.a.w. di musholla, maka ketika selesai berkhutbah beliau turun dari mimbar. (H.R. Tirmidzi No. 1441) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Nafi’ bahwa Abdullah bin Umar mandi pada Hari Raya Idul Fitri sebelum pergi ke musholla.” (Atsar .R. Imam Malik dalam Al-Muwatha’ No. 384)

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, serta Khalaf bin Hisyam Al Muqri`, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Manshur dari Rib’i bin Hirasy dari seorang sahabat Nabi s.a.w, ia berkata : “Orang-orang berselisih mengenai akhir hari Ramadhan. Kemudian terdapat dua orang badui yang datang dan memberikan persaksian di hadapan Nabi s.a.w. dengan nama Allah, sungguh mereka telah menyaksikan Hilal kemarin sore. Kemudian Rasulullah s.a.w. memerintahkan orang-orang agar berbuka. Khalaf menambahkan dalam haditsnya; dan agar mereka pergi ke musholla mereka. (H.R. Abu Daud No. 1992)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Ya’qub Al Iskandari, dari ‘Amr dari Al Muththalib dari Jabir bin Abdullah, ia berkata : “Saya menyaksikan bersama Rasulullah s.a.w. Shalat Adha di musholla, kemudian tatkala menyelesaikan khutbahnya beliau turun dari mimbarnya, dan beliau diberi satu ekor domba kemudian Rasulullah s.a.w. menyembelihnya, dan mengucapkan: “BISMILLAAHI WALLAAHU AKBAR, HAADZA ‘ANNII WA ‘AN MAN LAM YUDHAHHI MIN UMMATI” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, ini (kurban) dariku dan orang-orang yang belum berkurban dari umatku). (H.R. Abu Daud No. 2427)

KELOMPOK YANG BERPENDAPAT SHALAT ‘ID HARUS DI LAPANGAN

Jika kita mengartikan musholla seperti pada bahasa Indonesia maka yang terbayang memang sebuah bangunan atau ruangan kecil yang digunakan untuk sholat. Namun dalam hadits yang lain dijelaskan bahwa yang dimaksud musholla adalah tanah yang lapang dan bukan bangunan tempat shalat sebagaimana hadits berikut :

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Al Auza’i berkata, telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar berkata, “Di pagi menjelang siang Rasulullah s.a.w. keluar saat hari shalat id, membawa tombak kecil (untuk sutrah). Ketika sampai di tempat musholla, tombak kecil itu ditancapkan di antara beliau dan hadapannya lalu beliau shalat ke hadapannya. Dan itu karena tanah musholla adalah tempat yang terbuka dan tidak ada apapun yang menutupinya. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1294) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih.

Dalam hadits di atas dikatakan bahwa yang dimaksud musholla (tempat sholat) di sini adalah tanah terbuka yang tidak ada sesuatu menutupinya. Maka jelas musholla ini bukan bangunan masjid kecil atau musholla seperti istilah dalam bahasa Indonesia. Maka tidak salah jika penerjemah sering langsung saja menerjemahkan musholla ini adalah tanah lapang atau lapangan.

Dan memang istilah mushollah sering dipakai untuk mengistilahkan lapangan seperti misalnya pada hadits ini :

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah, bahwa Abu Usamah telah menceritakan kepada mereka dari Usamah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi s.a.w. menyembelih kurbannya di musholla dan Ibnu Umar melakukan hal tersebut. (H.R. Abu Daud No. 2428)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad dan saya mendengarnya dari Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Usamah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, dia menyembelih udhiyah (hewan kurban) -nya di musholla pada hari Nahr dan dia menuturkan bahwa Nabi s.a.w. melakukan seperti itu. (H.R. Ahmad No. 5609)

Telah mengabarkan kepadaku seorang yang telah mendengar Jabir bin Abdullah Al Anshari berkata : “Aku termasuk diantara orang yang merajamnya. Maka kami merajamnya di musholla di Madinah” (H.R. Bukhari No. 4866)

Jika musholla di situ diartikan bangunan tempat sholat atau masjid maka tidak mungkin menyembelih hewan di dalam masjid. Bahkan hukuman rajam juga disebutkan dilaksanakan di musholla. Rasanya tidak mungkin jika hukuman rajam dilaksanakan di dalam masjid.

BERSAMBUNG..

MENGHILANGKAN RASA IRI

MENGHILANGKAN RASA IRI

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Iri ialah menginginkan hal yang sama seperti yang diperoleh atau dialami orang lain karena menganggap yang diperoleh atau dialami orang lain itu lebih baik dari pada apa yang diperoleh atau dialami dirinya.

Jadi intinya iri itu karena ada sesuatu pada diri orang lain yang kita pandang atau kita anggap lebih baik. Dan intinya iri itu karena menganggap apa yang diperoleh atau dialami pada diri kita itu lebih buruk daripada orang lain alami.

Nah jadi menekan rasa iri berkisar pada 2 hal itu, yaitu : 1. menganggap lebih baik (yaitu yang ada pada orang lain) dan 2. menganggap lebih buruk (yaitu yang ada pada orang lain). Jadi intinya adalah merasa oran lain lebih dan merasa driri kurang. Jika kita telah berhasil menekan 2 hal ini maka Anda akan berhasil menekan rasa iri

Maka jika 2 hal di atas dipersempit lagi ternyata keduanya sama-sama bermuara pada yang namanya ANGGAPAN dan ini berasal dari CARA PANDANG. Jika berhasil mengubah cara pandang maka Anda akan berhasil menekan rasa iri

Contoh, wanita yang bertubuh gemuk, merasa iri dengan temannya wanita yang bertubuh langsing. Hal ini karena adanya ANGGAPAN bahwa tubuh langsing itu lebih sexy lebih dikagumi singkat kata lebih baik daripada tubuh yang gemuk. Jika ANGGAPAN dan PANDANGAN terhadap tubuh gemuk dan langsing ini bisa diubah misal bahwa ternyata ada lho yang seleranya justru dengan wanita gemuk, ada lho ras dan bangsa tertentu justru menganggap wanita gemuk itu sexy (misal di ras polynesia, india dan arab) dan ada lho pria yang menganggap kurus itu tidak menarik, maka Anda tidak akan iri lagi karena ANGGAPAN merasa orang lain lebih dan merasa diri kurang itu telah berubah.

Nah cara-cara mengubah ANGGAPAN dan CARA PANDANG terhadap perbandingan diri sendiri dengan orang lain diantaranya sebagai berikut :

1. Percayalah bahwa setiap orang itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Maka tak ada orang yang melulu hanya memiliki kelebihan dan melulu hanya memiliki kekurangan. Ada sih memang segelintir orang yang sepintas full dengan kekurangan namun prosentasenya sedikit sekali dan ada hikmah lain di balik kekurangannya dan mungkin ia tidak dimintai pertanggung jawaban penuh sebagaimana orang lain.

2. Maka tugas kita adalah mengalihkan perhatian dari kekurangan diri kita dan kelebihan orang lain dokus pada kelebihan diri kita saja.

3. Maka tugas kita adalah menemukan apa kelebihan diri kita dan pupuk kelebihan itu secara maksimal. Arahkan kelebihan itu sehingga berguna bagi orang banyak. Karena tak ada gunanya kelebihan itu jika tidak bermanfaat bagi orang lain.

4. Cara menemukan kelebihan diri kita adalah banyak mencoba berbagai hal dan mengamati diri kita sendiri. Satu-satu nya cara menemukan bakat diri kita adalah rajin mencoba berbagai hal dan menggali potensi diri kita sendiri. Sekali bakat itu ditemukan pupuk habis-habisan hingga menjadi nomor satu dalam bidang tersebut.

5. Carilah lingkungan yang mendukung mencuatnya bakat kita. Carilah lingkungan yang menghargai bakat kita. Terkadang lebih baik menjadi ikan paling besar di kolam yang kecil ketimbang menjadi ikan kecil atau biasa saja di kolam yang besar. Jadi kadang potensi diri kita tidak terlihat karena kita berada di kolam yang penuh dengan potensi potensi lain yang menonjol. Maka sejenak menyepi di lingkungan yang lebih terbatas kadang ada gunanya agar nampak bakat dan potensi diri kita

6. Jangan mencoba meniru atau mengejar kelebihan orang lain karena setiap orang memiliki kelebihannya sendiri-sendiri. Jadilah diri sendiri dan tak ada gunanya menjadi orang lain karena itu menipu diri dan menyiksa diri.

7. Setiap orang akan dimudahkan Allah untuk apa yang telah menjadi jatahnya (bagiannya) maka temukanlah apa yang telah menjadi bagian kita dan tak ada gunanya menyibukkan diri memikirkan apa yang menjadi jatah orang lain.

8. Orang lain bahagia tapi pasti punya masalah dan diri kita mungkin punya masalah namun pasti bisa bahagia.

9. Orang lain beruntung tapi bisa jadi itu awal musibah bagi dirinya sedangkan diri kita mengalami musibah namun bisa jadi adalah awal keberuntungan kita.

10. Orang lain beruntung namun bisa jadi ia tidak bersyukur dan itu adalah musibah bagi dia, sedangkan kita mungkin mengalami musibah namun jika bersyukur maka itu adalah awal keberuntungan kita. Karena jika kita bersyukur Allah akan menambahkan kenikmatan pada diri kita.

11. Berhentilah menganggap diri orang lain besar dan belajarlah untuk lebih menghargai apa yang ada dalam diri sendiri. Karena orang lain tak akan menghargai apa yang ada pada diri kita jika kita sendiri tidak menghargai nya.

NIKAH MUT’AH ATAU KAWIN KONTRAK

NIKAH MUT’AH ATAU KAWIN KONTRAK

Oleh : Abu Akmal Mubarok
Image

Nikah mut’ah disebut juga nikah kontrak atau kawin kontrak dimana kedua pasangan yang menikah sepakat untuk bercerai setelah jatuh tempo waktu tertentu. Misalnya sepakat bahwa pernikahan ini hanya berjalan 1 bulan atau 1 minggu bahkan 1 hari. Dan setelah mencapai waktu yang disepakati otomatis keduanya bercerai.

Biasanya pernikahan seperti ini disertai dengan ketidak jelasan lainnya seperti cerainya itu talak satu kah atau sekaligus talak tiga? Lalu jika dari pernikahan itu timbul anak maka bagaimana status anak tersebut?  Dan bagaimana status warisnya jika misalnya bapaknya meninggal?

Nikah mut’ah memang pernah diijinkan oleh Rasulullah s.a.w pada waktu terjadi Perang Khaibar sebagaimana dikisahkan dalam hadits berikut ini

Dan Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Amru bin Dinar ia berkata, saya mendengar Al Hasan bin Muhammad menceritakan dari Jabir bin Abdullah dan Salamah bin Al Akwa’ ia berkata; utusan Rasulullah s.a.w. datang kepada kami, lalu dia berkata, “Rasulullah s.a.w. telah mengizinkan kalian untuk nikah mut’ah.” (H.R. Muslim No. 2494)

Dan telah menceritakan kepadaku Umayyah bin Bistham Al ‘Aisi telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Rauh yakni Ibnul Qasim, dari Amru bin Dinar dari Al Hasan bin Muhammad dari Salamah bin Al Akwa’ dan Jabir bin Abdullah bahwasanya; “Rasulullah s.a.w. menemui kami, lalu beliau mengizinkan kami untuk nikah mut’ah.” (H.R. Muslim 2495)

Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari ayahnya dia pernah mengabarkan bahwa Rasulullah s.a.w. melarang nikah mut’ah di saat penaklukan kota Makkah, dan ayahnya juga pernah melakukan mut’ah dengan dua helai kain burdah berwarna merah. (H.R. Muslim No. 2507)

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Aun Telah menceritakan kepada kami Khalid dari Isma’il dari Qais dari ‘Abdullah r.a. dia berkata; Kami pernah berperang bersama Nabi s.a.w. namun tidak mengikut sertakan istri-istri kami, lalu kami berkata: Wahai Rasulullah, tidakkah kami dikebiri? Namun Nabi s.a.w. melarang kami melakukannya. tapi setelah itu beliau memberikan keringanan kepada kami untuk menikahi wanita dalam waktu tertentu (kawin kontrak). lalu beliau membacakan ayat : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Al Maidah: 87).” (H.R. Bukhari No. 4249)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Abdul Aziz bin Ar-Rabi’ bin Sabrah bin Ma’bad dia berkata; Saya telah mendengar ayahku, Ar-Rabi’ bin Sabrah menceritakan dari ayahnya, Sabrah bin Ma’bad bahwa pada saat penaklukan kota Makkah, Nabiyallah s.a.w. memerintahkan kepada para sahabatnya supaya nikah mut’ah, lantas dia (Sabrah) berkata, kemudian saya bersama temanku dari Bani Sulaim keluar sampai kami bertemu dengan seorang budak perempuan dari Bani ‘Amir, sepertinya dia adalah seorang perawan, lantas kami meminangnya sambil memperlihatkan kain burdah kami (sebagai maskawin), lalu dia memandangi kami, dia melihatku, dan ternyata wajahku lebih tampan daripada temanku, namun dia melihat kain burdah temanku lebih bagus daripada kain burdahku, setelah dia meminta izin untuk bermusyawarah beberapa saat, dia memilihku daripada temanku, lalu kami tinggal bersamanya selama tiga hari, kemudian Rasulullah s.a.w. memerintahkan kami untuk menceraikannya. (H.R. Muslim No. 2504)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Fudlail bin Husain Al Jahdari telah menceritakan kepada kami Bisyr yaitu Ibnu Mufadldlal telah menceritakan kepada kami Umarah bin Ghaziyyah dari Ar Rabi’ bin Sabrah bahwa ayahnya pernah ikut perang Fathu Makkah bersama Rasulullah s.a.w., dia berkata; Kami tinggal di Makkah selama lima belas hari dan malam, lantas Rasulullah s.a.w. memberikan izin kepada kami melakukan nikah mut’ah. Lalu saya bersama seorang dari kaumku pergi mencari seorang wanita untuk kami nikahi secara mut’ah, saya lebih tampan dari saudaraku yang memang dia agak jelek daripadaku. Masing-masing dari kami membawa kain baju (untuk mas kawin); tetapi baju telah usang, sedangkan baju sepupuku masih baru dan halus. Sesampainya kami di bawah kota Makkah atau di atasnya, kami bertemu seorang wanita muda yang cantik dan berleher panjang. Lantas kami bertanya kepadanya; “Maukah kamu menerima salah satu dari kami untuk kawin mut’ah denganmu?” Dia menjawab; “Apa ganti (maskawin) yang akan kalian berikan?” Lalu masing-masing dari kami memperlihatkan baju yang telah kami siapkan sebelumnya, sementara itu, wanita tersebut sedang memperhatikan kami berdua, saudara sepupuku melihat kepadanya sambil berkata; “Sesungguhnya baju yang ini sudah usang, sedangkan bajuku masih bagus dan halus.” Wanita tersebut berkata; “Baju usang ini juga tak masalah.” Dia mengatakannya sampai tiga kali atau dua kali. Kemudian saya nikah mut’ah dengannya. Saya tidak keluar dari (Makkah) sehingga Rasulullah s.a.w. mengharamkannya (untuk selamanya).” Dan telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Sa’id bin Shakhr Ad Darimi telah menceritakan kepada kami Abu An Nu’man telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami ‘Umarah bin Ghaziyyah telah menceritakan kepadaku Ar Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari Ayahnya dia berkata; Kami pernah keluar bersama Rasulullah s.a.w. pada hari penaklukan kota Makkah menuju Makkah, kemudian dia menyebutkan seperti haditsnya Bisyr dengan menambahkan; Gadis itu berkata; “Apakah hal itu boleh?” dan ada juga tambahan (kata sepupu Sabrah); “Sesungguhnya kain burdah yang ini sudah usang.” (H.R. Muslim 2501)

Dan telah menceritakan kepadaku Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Laits dari Ar Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari bapaknya Sabrah, bahwa ia berkata : “Rasulullah s.a.w. pernah mengizinkan kami untuk nikah mut’ah. Maka aku beserta seorang temanku mendatangi seorang wanita dari Bani Amir, sepertinya wanita itu masih gadis dan cantik jelita. Maka kami pun menyerahkan diri kami padanya, lalu wanita itu berkata, “Mahar apa yang akan kalian berikan?” Aku menjawab, “Pakaianku.” Dan temanku juga berkata, “Pakaian milikku.” Pakaian temanku sebenar lebih bagus dari pakaianku, namun usiaku lebih muda darinya. Bila wanita itu melirik pakaian milik temanku, ia pun terkagum olehnya. Dan ketika melirik kepadaku, aku pun membuatnya terkagum-kagum. Kemudian wanita itu pun berkata, “Kamu dan pakaianmu telah mencukupiku.” Maka aku pun tinggal bersamanya selama tiga hari. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang masih memiliki isteri dengan cara mut’ah, maka ceraikanlah.” (H.R. Muslim No. 2500)

Dan Telah menceritakan kepada kami Al Hasan Al Hulwani telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij ia berkata, Atha` berkata; Jabir bin Abdullah kembali dari menunaikan Umrah, lalu kami pun menemuinya di rumahnya, dan orang-orang pun bertanya kepadanya tentang berbagai persoalan. Kemudian mereka pun menyebutkan tentang nikah mut’ah, maka Jabir menjawab; “Ya, kami pernah melakukan nikah mut’ah pada masa Rasulullah s.a.w., Abu Bakar dan Umar.” (H.R. Muslim No. 2496)

Hadits-hadits yang membolehkan nikah mut’ah di atas telah dimansukh (dibatalklan) dengan hadits-hadits yang melarang nikah mut’ah berikut ini :

Dan telah menceritakan kepadaku Salamah bin Syabib telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin A’yan telah menceritakan kepada kami Ma’qil dari Ibnu Abi Ablah dari Umar bin Abdul Aziz dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ar Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah s.a.w.  melarang melakukan nikah mut’ah seraya bersabda: “Ketahuilah, bahwa (nikah mut’ah) adalah haram mulai hari ini sampai hari Kiamat, siapa yang telah memberi sesuatu kepada perempuan yang dinikahinya secara mut’ah, janganlah mengambilnya kembali.” (H.R. Muslim No. 2509)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faris, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Rabi’ bin Sabrah dari ayahnya bahwa Nabi s.a.w.  telah mengharamkan menikahi wanita secara mut’ah. (H.R. Abu Daud No. 1775) Syaikh Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Ada sebagian kaum muslimin termasuk kaum Syi’ah yang meyakini bahwa nikah mut’ah pernah dibolehkan dan pernah dilarang namun pelarangan ini tidaklah permanen artinya ketentuan nikah mut’ah ini bisa diberlakukan kembali ketika situasi masyarakat menuntut perlunya niah mut’ah (misal merajalelanya zina yang tak bisa diberantas, dalam peperangan dll) sedangkan jika situasi sudah tidak memerlukan nikah mut’ah maka ketentuan nikah mut’ah bisa kembali dilarang.

Maka pendapat seperti di atas, tertolak dengan adanya hadits Rasulullah s.a.w. yang menyatakan  bahwa pelarangan nikah mut’ah ini berlaku sampai hari kiamat :

Beliau s.a.w. bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya dahulu aku telah mengizinkan kalian untuk menikahi para wanita secara mut’ah. Ketahuilah bahwa Allah telah mengharamkannya hingga Hari Kiamat. Barangsiapa memiliki sesuatu dari mereka, hendaknya ia melepaskannya, dan janganlah mengambil sesuatupun dari apa yang kalian berikan kepada mereka.” (H.R. Ad-Darimi No. 2098)

Husain Salim Asad Ad-Daroni mengatakan hadits ini sanadnya sahih.

Makah hadits-hadits lainnya yang berisi larangan nikah mut’ah atau kawin kontrak adalah bersifat permanen dan sampai hari kiamat walaupun tidak disebutkan demikian karena ada hadits lain yang sudah menyebutkan bahwa hal itu berlaku sampai hari kiamat :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah menceritakan kepadaku Ibnu ‘Uyainah dari Az Zuhri dari Al Hasan dan Abdullah dari ayah mereka berdua, ia berkata; aku mendengar Ali  r.a. berkata kepada Ibnu Abbas r.a. ; “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah melarang mut’ah yaitu menikahi wanita secara mut’ah, dan daging keledai jinak ketika perang Khaibar.” (H.R. Ad-Darimi No. 2100) Husain Salim Asad Ad-Daroni mengatakan hadits ini sanadnya sahih.

Telah menceritakan kepada kami Amru An Naqid dan Ibnu Numair keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Az Zuhri dari Ar Rabi’ bin Sabrah dari ayahnya bahwasannya Nabi s.a.w. telah melarang nikah mut’ah. (H.R. Muslim No. 2505)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulaiyah dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Ar Rabi’ bin Sabrah dari ayahnya bahwa pada hari Fathu Makkah Rasulullah s.a.w.melarang nikah mut’ah. (H.R. Muslim No. 2506)

Maka demikianlah para sahabat Rasulullah s.a.w. memahaminya dan tak ada yang berbeda pendapat bahwa nikah mut’ah atau kawin kontrak itu telah dilarang oleh Rasulullah s.a.w sehingga siapa yang mengerjakannya dianggap berzina. Hal ini sebagaimana dikisahkan dalam hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Zubair ia berkata, saya mendengar Jabir bin Abdullah berkata; “Kami pernah melakukan nikah mut’ah selama beberapa hari dengan mas kawin beberapa genggam kurma dan tepung, pada masa Rasulullah s.a.w.  dan Abu Bakar r.a. sampai Umar r.a. melarang nikat mut’ah dalam kasus Amru bin Huraits.” (H.R. Muslim 2497)

Telah menceritakan kepada kami Hamid bin Umar Al Bakrawi telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid yakni Ibnu Ziyad, dari Ashim dari Abu Nadlrah ia berkata; Aku pernah berada di dekat Jabir bin Abdullah, lalu ia didatangi oleh seseorang dan berkata; Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair berselisih pendapat mengenai Mut’atain (yaitu nikah mut’ah dan haji tamattu’), maka Jabir pun berkata, “Kami pernah melakukan keduanya bersama Rasulullah s.a.w., kemudian Umar melarang kami untuk melakukan keduanya dan kami tidak pernah lagi melakukannya lagi.” (Atsar riwayat Muslim No. 2498)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf Al ‘Asqalani berkata, telah menceritakan kepada kami Al Firyabi dari Aban bin Abu Hazim dari Abu Bakr bin Hafsh dari Ibnu Umar ia berkata, “Tatkala Umar bin Khaththab menjadi Khalifah, dia berkhutbah di hadapan orang banyak, ia menyampaikan, “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah mengizinkan kita untuk melakukan nikah mut’ah sebanyak tiga kali, kemudian mengharamkannya. Demi Allah, tidaklah aku mengetahui seseorang yang melakukan nikah mut’ah sementara dia sudah menikah melainkan aku akan merajamnya dengan batu. Kecuali jika dia mendatangkan kepadaku empat orang yang bersaksi bahwa Rasulullah s.a.w. menghalalkannya setelah Beliau mengharamkannya“.” (H.R. Ibnu Majah No. 1953)

Dan telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Yunus. Ibnu Syihab berkata; telah mengabarkan kepadaku ‘Urwah bin Az-Zubair bahwa Abdullah bin Az-Zubair tinggal di Makkah, lantas dia berkata : “Sesungguhnya Allah telah membutakan hati orang-orang sebagaimana Dia membutakan penglihatan mereka, karena mereka telah melakukan nikah mut’ah, tiba-tiba nampaklah seorang laki-laki sambil menyerunya; Sesungguhnya kamu orang yang bodoh, demi hidupku, sungguh nikah mut’ah telah berlaku sejak zaman imam Muttaqin, maksudnya adalah Rasulullah s.a.w.. Ibnu Umar pun berkata kepadanya; coba kamu lakukan, demi Allah jika kamu melakukannya sungguh saya akan merajammu dengan batu. Ibnu Syihab berkata; Telah mengabarkan kepadaku Khalid bin Muhajir bin Saifullah bahwa ketika dia sedang duduk-duduk bersama seorang laki-laki, tiba-tiba seorang laki-laki datang meminta fatwa kepadanya tentang nikah mut’ah. Dia (Khalid) pun membolehkannya, maka Ibnu Abi ‘Amrah Al Anshari berkata kepadanya; Tunggu dulu!, lantas dia (Khalid) berkata; kenapa? Demi Allah hal itu pernah dilakukan di masa Imamul Muttaqin (yaitu Rasulullah s.a.w.). Ibnu Abi ‘Amrah berkata kepadanya; Memang, nikah mut’ah pernah dibolehkan pada masa permulaan Islam karena terpaksa, sebagaimana bolehnya memakan bangkai, darah dan daging babi (dalam kondisi terpaksa), namun Allah telah menetapkan hukum dalam agam-Nya dan melarang melakukannya. Ibnu Syihab berkata; Telah mengabarkan kepadaku Rabi’ bin Sabrah Al Juhani bahwa ayahnya berkata; Sungguh saya pernah melakukan nikah mut’ah di masa Rasulullah s.a.w. dengan wanita dari Bani ‘Amir dengan maskawin dua kain burdah berwarna merah, kemudian Rasulullah s.a.w. melarang melakukan nikah mut’ah. Ibnu Syihab berkata; Saya mendengar Rabi’ bin Sabrah telah menceritakan hal itu kepada Umar bin Abdul Aziz sedangkan saya duduk (disampingnya). (H.R. Muslim No. 2508)

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Ibnu Syihab dari Urwah bin Zubair bahwa Khaulah binti Hakim menemui Umar bin Khattab dan berkata; “Rabi’ah bin Umayyah telah menikah secara mut’ah dengan seorang wanita, lalu wanita itu hamil! ” Umar bin Khattab kemudian keluar dengan membawa selendangnya, lalu ia berkata, ‘Ini adalah Nikah mut’ah, sekiranya aku mendapatinya, maka akan aku rajam.” (Atsar Sahabat dalam Al-Muwatha’ Imam Malik No. 995)

Telah menceritakan kepadaku Hasan Al Khulwani dan Abd bin Humaid dari Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad telah menceritakan kepada kami ayahku dari Shalih telah mengabarkan kepada kami Ibnu Syihab dari Ar

Telah mengabarkan kepada kami ‘Amr bin Ali, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya dari ‘Ubaidullah bin Umar, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Az Zuhri dari Al Hasan dan Abdullah keduanya anak Muhammad, dari ayah mereka, Ali mendapat informasi bahwa terdapat seorang laki-laki yang berpendapat nikah mut’ah tidak dilarang. Kemudian Ali berkata; Engkau sesat, Rasulullah s.a.w. telah melarang nikah mut’ah dan daging keledai jinak pada saat terjadi perang Khaibar. (H.R. Nasa’i No. 3312)

Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Umaroh bin Ghoziyyah Al Anshori berkata: telah menceritakan kepada kami Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari Bapaknya berkata : “Kami berangkat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pada Fathu Makkah. Kami tinggal selama lima belas hari dan satu malam. (Rabi’ bin Sabrah Al Juhani Radliyallahu’anhu) berkata; (Bapaknya) berkata; Rasulullah s.a.w.  mengijinkan nikah Mut’ah. Saya dan anak pamanku keluar ke daerah yang rendah di Makkah atau daerah yang tinggi, lalu kami bertemu seorang wanita muda dari Bani ‘Amir bin Sho’sho’ah, sepertinya dia adalah unta muda yang sangat bagus dan berleher panjang (maksudnya gadis belia yang berperawakan menarik). Saya orang termasuk orang buruk rupa, namun saya memakai mantel baru yang sangat bagus, sedang anak pamanku membawa mantel yang sudah usang. Kami mengatakan kepadanya, maukah kau menikah mut’ah dengan salah satu dari kami? Lalu wanita itu bertanya, apakah hal itu boleh? Ya, jawabku. Lalu dia melihat ke anak pamanku, lalu saya katakan kepadanya, mantelku ini baru dan bagus sedangkan mantel anak pamanku itu sudah usang dan lusuh. (wanita itu) berkata; mantel anak pamanmu itu tidak masalah. Lalu (anak pamannya) menikahinya secara mut’ah. Kami tidak berangkat lagi ke Makkah sampai Rasulullah s.a.w. mengharamkannya. (H.R. Imam Ahmad No. 14805)

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah saudara Qabishah bin Uqbah, telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats Tsauri dari Musa bin Ubaidah dari Muhammad bin Ka’ab dari Ibnu Abbas berkata; “Mut’ah itu pernah dibolehkan pada awal Islam. Ada seorang yang datang dari negeri yang jauh, yang belum tahu. Dia menikahi seorang wanita dengan jangka waktu tinggal di tempat tersebut. Agar wanita itu menjadi perhiasannya dan mengurusi kebutuhannya sampai turunlah ayat; “Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki.” ” Ibnu Abbas berkata; “Semua farj (kemaluan) selain dari keduanya (farj istri dan budaknya), haram hukumnya.” (Atsar Riwayat  Tirmidzi No. 1041)

Maka termasuk pada selain hal itu maksudnya adalah bentuk bentuk nikah lainnya yang dilarang. Kesimpulannya nikah mut’ah dan kawin kontrak yang banyak dilakukan sebagian kalangan umat Islam dan kaum Syi’ah jelas mutlak keharamannya sampai hari kiamat. Orang yang melakukannya dianggap berzina.

Wallahua’lam.

NIKAH SIRI DAN NIKAH DIAM-DIAM

NIKAH SIRI DAN NIKAH DIAM-DIAM

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Sir itu artinya rahasia. Sebenarnya dalam khazanah syariat islam tak ada istilah nikah siri. Jadi tidak benar bahwa ini adalah salah satu dari jenis jenis pernikahan dalam Islam. Nikah sirri itu konotasi orang berbeda-beda. Ada yang kumpul kebo tanpa akad tanpa diketahui jelas sudah menikah atau belum, maka itu bukan lah nikah tapi zina. Ada juga yang menikah diam-diam tanpa wali tanpa saksi maka itu juga bukan nikah siri tapi nikah bathil yang rusak dan tidak sah secara syariat. Adapun yang hendak kita bahas adalah nikah siri yang terpenuhi rukun2 nikah secara agama, hanya saja tidak tercatat secara administratif oleh negara atau tidak tercatat di KUA dan tidak memiliki buku nikah.

Jika rukun2 nikahnya telah terpenuhi dengan benar, maka nikahnya sah di mata Allah. Sedangkan kumpul kebo dari kaca mata agama, adalah berkumpulnya dua insan yang bukan mahram dalam satu atap / satu rumah tanpa pernah melakukan ijab qabul pernikahan sama sekali atau mungkin saja mereka mengaku melakukan akad nikah namun akad nikah yang fasad seperti nikah mut’ah, tidak memakai wali atau tidak dipenuhi mahar dan saksi. Maka kumpul kebo tidak lain adalah zina.

Jika yakin telah pernah melakukan ijab qabul pernikahan, dengan dinikahkan oleh walinya si wanita atau wali hakim, dan dipenuhi rukun2 lainnya seperti mahar, 2 orang saksi (laki2) maka di mata Allah bukanlah zina dan bukan pula kumpul kebo. Di mata Allah, sah sebagai suami istri. Namun orang di sekitar dan masyarakat siapa yang tahu kalau mereka berdua sudah menikah?

jaman Rasulullah memang  tidak  ada administratif pencatatan nikah. Karena Rasulullah adalah juga kepala negara . Beliau berhak menikahkan dan menceraikan. Agar semua orang tahu maka Rasulullah s.a.w meminta agar menikah itu diramaikan atau dibuat  resepsi walaupun hanya dengan seekor kambing.  Dengan cara ini semua orang  tahu bahwa si fulan telah menikah dengan fulananah. Jika ada masalah dalam perkawinan, maka orang akan mendatangi Rasulullah untuk meminta keputusan hukum.

Namun perlu dipahami bahwa penduduk Madinah ketika itu tidak banyak orang dan satu sama lain saling mengenal. Jika ada yang menikah, orang pasti tahu dan jika ada yang bercerai orang pun tahu. Ada kalanya mereka  cukup menceritakan saja kepada Rasulullah s.a.w. bahwa si Fulan telah menikah dengan Fulanah.

Oleh karena itu dalam beberapa kasus, Rasulullah s.a.w. pun tidak tahu jika sesorang telah menikah. Seperti pernikahan Abdurrahman bin Auf. Maka agar masyarakat tahu bahwa seseorang telah menikah, Rasulullah menyuruh umatnya untuk melakukan walimatul nikah (merayakan pernikahan) walauapun hanya dengan hidangan seekora kambing, agar khalayak tahu.

Anas bin Malik ra. bahwa: Nabi saw. melihat pada salah satu bagian tubuh Abdurrahman bin Auf terdapat warna bekas wewangian pengantin. Rasulullah saw. bertanya: Apa ini? Abdurrahman menjawab: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku baru saja menikahi seorang wanita dengan maskawin sebanyak lima dirham emas. Mendengar itu Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: Kalau begitu segera adakan walimah (pesta) walau hanya dengan memotong seekor kambing (H.R. Bukhari)

Demikianlah walaupun menikah secara siri itu sah secara agama, namun tetap disyaratkan untuk menghindari fitnah, agar diramaikan, minimal mengundang sanak saudara dan tetangga dekat agar mereka tahu bahwa kita telah menikah. Tidak dibenarkan nikah siri lalu juga dirahasiakan maka jangan salahkan masyarakat jika mereka tidak tahu dan menyangka kumpul kebo.

Namun walaupun sah secara agama, tetap dianjurkan untuk tercatat secara administrasi negara. Adapun untuk menjelaskan nikah siri VS nikah yang tercatat resmi dalam administrasi negara (alias memiliki buku nikah) maka untuk memudahkan pemahaman saya memakai contoh kasus lain.

Misalnya suatu hari teman Anda datang meminjam uang, Anda telah memberikan uangnya dan telah melakukan menerima ucapan ijab qabul teman Anda bahwa ia menyatakan berhutang. Maka mulai detik itu di mata Allah teman Anda telah berhutang. Namun Anda berdua melakukan transaksi hutang piutang tanpa memakai kwitansi dan tanpa perjanjian di hadapan notaris dll.

Pada hari yang dijanjikan, ternyata teman Anda tidak mengembalikan hutangnya, dan bahkan rumahnya telah pindah dan kabur entah kemana. Anda tidak bisa menuntut di pengadilan atau melapor ke polisi karena tidak ada bukti. Karena secara administrasi hukum positif (hukum manusia) Anda tidak terbukti memberikan hutang pada dia. Kalaupun ada bukti transfer tidak terbukti statusnya sebagai hutang, bisa saja uang itu memang Anda berikan sebagai hadiah.

Dalam kasus di atas secara agama dan dimata Allah sampai hari kiamat pun, dan diakhirat nanti teman Anda itu tetap berhutang dan Anda sebagai pihak yang menghutangi dia. Insya Allah hutang itu tetap di tagih di Mahkamah Allah kelak. Namun di dunia dan dalam urusan dengan manusia di dunia, Anda harus menerima dan mengikhlaskan uang itu hilang.

Demikian pula sama hal nya dengan nikah siri, secara agama dan di mata Allah kedua manusia  itu telah sah sebagai suami istri dan tidak berzina. Namun anda semua hidup di dunia dan berurusan sementara ini dengan sesama manusia. Maka sepanjang tidak ada apa-apa ya tidak apa-apa. Namun suatu ketika nanti jika terjadi penyimpangan agama maupun kezhaliman, siapa yang bisa menyelesaikan? Misalnya si wanita diceraikan oleh suaminya, namun tidak dikembalikan maharnya, atau suaminya tidak memberi nafkah sekian lama, nafkah lahir batin diabaikan, menghilang sekian bulan, sedangkan diceraikan juga tidak. Demikian pula ketika anaknya butuh mengurus akta kelahiran untuk sekolah, atau ketika suaminya meninggal dan istrinya dan anaknya berhak mendapatkan harta warisan, namun tidak ada yang tahu bahwa mereka sudah menikah dan sudah punya anak. Dan banyak kerepotan lain terkait muamalah dengan sesama manusia. Jika masing2 pihak sadar dengan resiko dan kerepotan ini kemudian rela atau bersedia menerima saja jika terjadi kesulitan, ya itu terserah pada masing2 pribadi yang menjalaninya.

Wallahua’lam

APAKAH SAH SHALAT BERJAMAAH DENGAN SHAF TERPUTUS (JILID 2) ?

APAKAH SAH SHALAT BERJAMAAH DENGAN SHAF TERPUTUS (JILID 2) ?

 Oleh : Abu Akmal Mubarok

 ImageShaf Diselingi Jalan dan Sungai  

Imam Syafi’i berpendapat jika Imam berada di dalam masjid sedangkan makmum ada di luar masjid maka tidak mengapa jika terpisah sampai jarak 300 depa terhitung dari akhir bangunan masjid. Tidak mengapa pula jika ada pemisah atau terhalang jalan, sungai besar yang bisa dilalui perahu dan dapat direnangi. (Fiqhul Islam Wa’adillatuhu Jilid 2 Hal 353)

Al Hasan berkata : “Tidak mengapa engkau shalat sedangkan antara engkau dan imam terdapat sungai” (Fathul Bari Jilid 4 Hal. 397)

Imam Malik bin Anas (Madzhab Maliki) berpendapat adanya penghalang baik sungai jalan atau tembok tidak mencegah sahnya shalat berjamaah selama ia bisa mengetahui gerakan imam dan dapat mendengar takbirnya (komando gerakan imam). Hal ini mengambil keumuman hadits :

Dari Anas bin Malik, beliau bersabda: “Sesungguhnya dijadikannya imam itu untuk diikuti.” (H.R. Bukhari No. 365 dan Ad-Darimi No. 1228)

Maka Imam Malik berpendapat sepanjang makmum dapat mengikuti gerakan imam, dan dapat mendengar suara takbir imam, sah shalat berjamaahnya walaupun terhalang jalan, sungai atau lainnya kecuali shalat jum’at yang memang disyaratkan agar barisannya bersambung. Jika seorang makmum mengikuti imam shalat jum’at di rumah yang bersebelahan dengan masjid maka shalatnya batal karena bergabungnya itu adalah syarat sahnya shalat jum’at (Fiqhul Islam Wa’adillatuhu Jilid 2 Hal 351)

Shaf Tidak Bersambung Di Lapangan

Abu Hanifah (generasi tabi’in) yaitu imam madzhab Hanafi berpendapat bahwa shalat di lapangan hendaknya dalam satu barisan itu tidak kosong lebih dari jarak 9 orang, sedangkan jika satu barisan shof itu ada kosong kurang dari sembilan orang tidak mengapa.

Imam Syafi’i mengatakan jika imam dan makmum berada di padang pasir (lapangan) jika barisan makmum terpisah dengan imam sampai jarak lebih dari 300 depa maka tidak mengapa dan sah shalat berjamaah asalkan tidak terhalang dinding, pintu atau jendela atau jalan yang orang dan kendaraan berlalu lalang di situ atau sungai besar yang memisahkan imam dan makmum.

Madzhab Hambali berpendapat jika imam dan makmum berada di lapangan maka sholat berjamaah sah dengan syarat makmum dapat melihat punggung imam, maka jika makmum tidak melihat imam atau sebagian dari punggung imam maka tidak sah shalat berjamaah meskipun makmum masih dapat mendengar suara takbir imam. Keharusan melihat punggung Imam oleh Imam Ahmad bin Hambal adalah berdasarkan hadits Aisyah :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdah dari Yahya bin Sa’id Al Anshari dari ‘Amrah dari ‘Aisyah berkata, “Pada suatu malam Rasulullah s.a.w.pernah shalat di kamarnya, saat itu dinding kamar beliau tidak terlalu tinggi (pendek) hingga orang-orang pun melihat Nabi s.a.w. berdiri shalat sendirian (munfarid). Lalu orang-orang itu pun berdiri dan shalat di belakang beliau (bermakmum pada Beliau), hingga pada pagi harinya orang-orang saling memperbincangkan kejadian tersebut. ” (H.R. Bukhari No. 687)

Hadits di atas menurut Imam Ahmad menunjukkan dibolehkannya terpisah dan adanya penghalang antara Imam dan Makmum asalkan masih dapat melihat sebagian punggung imam.

Sementara Imam Ahmad juga mengatakan tidak sah shalat berjamaah jika antara imam dan makmum itu terpisah oleh sungai yang bisa dilewati perahu demikian pula jika terputus oleh jalan yang cukup lebar bisa dilewati kendaraan. (Fiqhul Islam wa ‘Adillatuhu Jilid 2 Hal. 354)

Sementara itu Imam Malik (Madzhab Maliki) secara total membolehkan shalat di lapangan dimana Imam dan Makmum terpisah oleh jalan, sungai dan dinding, sehingga sah shalat jamaahnya.

Shaf Terpisah Dengan Bangunan Bertingkat

Pada masa kini sebagian masjid ada yang bertingkat beberapa lantai. Maka dalam hal ini ada empat kemungkinan yaitu :

  1. Imam Berada di Lantai Atas Sendirian Dan Makmum  Berada di Lantai Bawah
  2. Imam Dan SebagianBarisan Makmum Ada Di Lantai Atas dan Sebagian Barisan Makmum Berada Di Lantai Bawah
  3. Imam Berada di Lantai Bawah Sendirian Dan Makmum  Berada di Lantai Atas
  4. Imam Dan SebagianBarisan Makmum Ada Di Lantai Bawah dan Sebagian Barisan Makmum Berada Di Lantai Atas

Mari kita bahas hukum dari empat kemungkinan ini satu persatu :

A.     Imam Berada di Lantai Atas Sendirian Dan Makmum  Berada di Lantai Bawah

Sebagian ulama mengatakan hal ini tidak boleh dengan berdalil pada hadits yang melarang imam berada lebih tinggi dari makmum :

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hajjaj dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada saya Abu Khalid dari Adi bin Tsabit Al-Anshari telah menceritakan kepada saya : “Seorang laki-laki yang pernah bersama Ammar bin Yasir sewaktu di Mada`in, ketika iqamat shalat telah dikumandangkan, ‘Ammar maju untuk menjadi imam dan dia berdiri di atas bangku panjang, sementara para makmum berada di bawahnya, lalu Hudzaifah maju dan menarik tangan ‘Ammar dan ‘Ammar pun mengikutinya hingga dia diturunkan ditempat yang sejajar oleh Hudzaifah. Setelah ‘Ammar selesai shalat, Hudzaifah berkata kepadanya; Apakah kamu belum pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apabila seseorang mengimami suatu kaum, maka janganlah dia berdiri di tempat yang lebih tinggi dari tempat mereka”, atau semisal ucapan tersebut. Ammar berkata; “Maka dari itu saya mengikutimu tatkala kamu menarik tanganku”. (H.R. Abu Daud Jilid 1 Hal. 163 No. 506) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini hasan

Juga hadits berikut ini :

Dari Abu Mas’ud Al-Anshari ia berkata : “Rasulullah s.a.w. melarang imam untuk berdiri di atas sesuatu sementara orang di belakangnya lebih rendah darinya” (H.R. Daruqutni) Hadits ini dianyatakan hasan oleh Nashirudin Al-Albani dalam Tamamul Minnah No. 281)

Jika kita melihat dua hadits di atas maka sepintas dapat disimpulkan bahwa Imam berada lebih tinggi dari makmum adalah dilarang, jika tidak haram maka hukumnya adalah makruh. Namun dalam hadits lain diceritakan bahwa

Rasulullah s.a.w. pernah shalat di atas mimbar sementara makmum mengikuti di bawahnya :

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Hazim berkata : “Orang-orang bertanya kepada Sahal bin Sa’d tentang terbuat dari apa mimbar Rasulullah? Maka dia berkata, “Tidak ada seorangpun yang masih hidup dari para sahabat yang lebih mengetahui masalah ini selain aku. Mimbar itu terbuat dari batang pohon hutan yang tak berduri, mimbar itu dibuat oleh seorang budak wanita untuk Rasulullah s.a.w. Ketika selesai dibuat dan diletakkan, Rasulullah s.a.w. berdiri pada mimbar tersebut menghadap kiblat. Beliau bertakbir dan orang-orang pun ikut shalat dibelakangnya, beliau lalu membaca surat lalu rukuk, dan orang-orang pun ikut rukuk di belakangnya. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu mundur ke belakang turun dan sujud di atas tanah. Kemudian beliau kembali ke atas mimbar dan rukuk, kemudian mengangkat kepalnya lalu turun kembali ke tanah pada posisi sebelumnya dan sujud di tanah. Itulah keberadaan mimbar.” (H.R. Bukhari No. 364)

Maka Imam Syafi’i (Madzhab Syafi’i) berpendapat “Boleh kalau imam bermaksud mengajari orang shalat (yakni dengan berdiri di tempat yang tinggi) satu kali, (setelah itu) saya lebih menyukai Imam shalat sejajar dengan makmum. Hal ini karena tidak pernah diriwayatkan dari Nabi s.a.w. bahwa beliau shalat di atas mimbar, kecuali hanya satu kali saja (yaitu hadits dari Sahl bin Sa’d)”(Al Umm Hal. 310)

Senada dengan Syafi’i Ibnu Hibban berkata, “Jika seseorang menjadi imam lalu dia shalat sebagai imam orang-orang yang baru masuk Islam sehingga ia berdiri di tempat yang lebih tinggi dari makmum untuk mengajari mereka hukum-hukum shalat yang langsung dilihat mata, hal itu diperbolehkan sesuai dengan hadits sahabat Sahl bin Sa’d  Tetapi, kalau alasan ini tidak ada, janganlah ia shalat di tempat yang lebih tinggi dari tempat makmum, sesuai dengan hadits dari sahabat Abu Mas’ud. Dengan demikian, kedua hadits (yang melarang dan membolehkan) itu tidak saling membantah. (Shahih Ibnu Hibban)

Sementara pendapat lain membolehkan secara mutlak dalam semua kondisi (tidak hanya ketika mengajari shalat) Imam boleh sendirian di tempat lebih tinggi (termasuk lantai atas) sementara makmum ada di bawah nya Ini adalah salah satu pendapat dari Ashab Imam Ahmad bin Hambal (Madzhab Hambali), Ibnu Hazm (Mazhab Zhahiri), dan Ad-Darimi.

Hal ini didukung oleh riwayat yang menceritakan bahwa posisi kamar Rasulullah s.a.w. itu agak ke atas dari lantai masjid sebagaimana hadits berikut :

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu’adz Al Ambari telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Furat Al Qazzaz dari Abu Ath Thufail dari Abu Sarihah Hudzaifah bin Usaid berkata: “Nabi s.a.w. berada di kamar sementara kami berada dibawah, beliau melihat kami dari atas lalu bertanya: “Apa yang kalian bicarakan?”  (H.R. Muslim No. 5163)

Sedangkan para sahabat pernah bermakmum pada Nabi s.a.w. yang shalat ada di kamarnya (yang posisinya lebih tinggi dari lantai masjid)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdah dari Yahya bin Sa’id Al Anshari dari ‘Amrah dari ‘Aisyah berkata, “Pada suatu malam Rasulullah s.a.w.pernah shalat di kamarnya, saat itu dinding kamar beliau tidak terlalu tinggi (pendek) hingga orang-orang pun melihat Nabi s.a.w. berdiri shalat sendirian (munfarid). Lalu orang-orang itu pun berdiri dan shalat di belakang beliau (bermakmum pada Beliau), hingga pada pagi harinya orang-orang saling memperbincangkan kejadian tersebut. ” (H.R. Bukhari No. 687)

Dalam hadits lainnya diceritakan :

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepadaku Yahya bin Sa’id dari ‘Amrah dari Aisyah r.ah. dia berkata; Rasulullah s.a.w. mengerjakan shalat di kamarnya, ternyata orang-orang mengikuti beliau dari belakang kamarnya.” (H.R. Abu Daud No. 951) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih.

Ada juga atsar dai Anas bin Malik :

Dari Anas bin Malik beliau melakukan shalat Jum’at di rumah Abu Nafi’ di sebelah kanan masjid, di sebuah ruangan setinggi tubuh manusia. Ruangan yang pintunya mengarah ke masjid, di kota Bashrah. Anas mengikuti shalat Jum’at di tempat tersebut  dan menjadi makmum. (Atsar R Sa’id bin Manshur sebagaimana dalam kitab Al-Muntaqa)

Abu ‘Abdullah berkata, ‘Ali Al Madini berkata, Ahmad bin Hambal bertanya kepadaku (ali Madini) tentang hadits di atas. Ia katakan, “Yang aku maksudkan bahwa Nabi s.a.w. posisinya lebih tinggi daripada orang-orang. Maka tidak mengapa seorang imam posisinya lebih tinggi daripada makmum berdasarkan hadits ini.”  Sahl bin Sa’d berkata, “Aku katakan, “Sesungguhnya Sufyan bin ‘Uyainah sering ditanya tentang masalah ini, ‘Apakah Anda tidak pernah mendengarnya? ‘ Ahmad bin Hambal menjawab, “tidak.”

Ibnu Rajab juga mengisahkan sebuah percakapan dengan Imam Ahmad yaitu ketika Beliau ditanya, “Bolehkah seseorang shalat di atas loteng bermakmum dengan imam (di bawahnya)?” Beliau (Imam Ahmad) menjawab, “Boleh, namun jika antara dia dengan imamnya ada jalan atau sungai, tidak boleh.” Beliau ditanya lagi, “Ada riwayat Anas (bin Malik) shalat Jum’at di loteng (rumah Abu Nafi’).” Beliau menjawab, “Pada hari Jum’at tidak ada jalan orang-orang.” Ibnu Rajab menjelaskan bahwa yang dimaksud Imam Ahmad adalah bahwa pada hari Jumat jalan-jalan penuh dengan orang-orang sehingga dapat dianggap shaf-shaf bersambung. (Fathul Bari oleh Ibnu Rajab)

Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Shalat pada tempat yang dibangun di atas tanah semacam sebuah ruangan di masjid atau di atas loteng masjid, semuanya boleh dan tidak ada kemakruhan dalam hal ini tanpa ada perbedaan” (Fathul Bari oleh Ibnu Rajab)

Namun sebagian Ulama kontemporer seperti Nashiruddin Al-Albani membantahnya. Ia mengatakan bahwa penggunaan dalil dengan hadits Sahl bin Sa’d tentang shalat Nabi di atas mimbar “Hal ini adalah pendalilan yang aneh dari para imam tersebut. Keherananku hampir-hampir tidak habis. Bagaimana bisa mereka berdalil untuk membolehkan hal itu secara mutlak, padahal perbuatan beliau itu (jelas-jelas) terkait dengan pengajaran, sebagaimana ucapan Nabi s.a.w. sendiri.” (Ats-Tsamarul Mustathab)

B.     Imam Dan Sebagian Barisan Makmum Ada Di Lantai Atas dan Sebagian Barisan Makmum Berada Di Lantai Bawah

Jika imam ada di lantai atas dan beberapa barisan shof ada satu lantai di belakangnya, maka barisan shof yang lain yang ada di lantai bawah dibolehkan walaupun terpisah dinding. Pada dasarnya barisan makmum dan imam sejajar satu lantai sehingga tidak perlu dipersoalkan. Adapun barisan makmum lainnya yang ada di lantai bawah adalah dihukumi sama dengan kasus shof yang terhalang dinding namun masih termasuk satu bangunan dengan masjid, maka tidak ada perselisihan hukumnya adalah boleh.

C.    Imam Berada di Lantai Bawah Sendirian Dan Makmum  Berada di Lantai Atas

Madzhab Syafi’i berkata bahwa atap masjid dan balkon masjid asalkan masih merupakan bagian dari bangunan masjid maka itu dianggap termasuk masjid, sehingga tidak mengapa makmum berada di atap masjid bermakmum pada imam di bawahnya.

Madzhab Hambali mengatakan dibolehkan orang berada di atap masjid bermakmum pada imam yang ada di bawahnya . Hal ini berdasarkan riwayat Abu Hurairah bahwa ia (Abu Hurairah) pernah bersolat di bahagian atas masjid mengikuti imam (yang berada di bawa) (Atsar R. Ibnu Abi Syaibah)

Ibnu Hajar Asqolani mengatakan bahawa atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi syaibah dari riwayat Sholeh maula Tauamah. Sholeh berkata : “aku pernah bersolat bersama Abu Hurairah di bagian atas masjid dengan mengikuti imam (di bawahnya)“.

Sholeh ini adalah lemah tetapi Sa’id Ibnu Mansur telah meriwayatkan dari jalan yang lain dari Abu Hurairah maka ia menguatkan riwayat Sholeh ini. Sa’id bin Mansur juga meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Hasan Al Basri tentang seorang lelaki yang shalat di tingkat atas bangunan mengikut imam. Hasan Al Basri berkata: “tidak mengapa dengan keadaan ini”.

Dari Sa’di bin Salim telah berkata: “Aku melihat Salim bin Abdullah shlat maghrib di bagian atas masjid dan ada lelaki lain bersamanya mengikuti imam ( di bawahnya)“. (Atsar R. Ibnu Abi Syaibah)

Imam Syaukani berkata :”Apabila lokasi makmum terlalu tinggi dari imam misalkan 300 kaki dan makmum tidak dapat mengetahui gerakan imam, maka hal ini terlarang berdasarkan ijma ulama, tanpa membedakan apakah shalat berjamaah tersebut dilaksanakan di masjid atau bukan masjid (lapangan yaitu misal makmum di atas tebing). Namun apabila jaraknya kurang dari 300 kaki, maka hukum asalnya adalah boleh sehinggalah datang dalil yang melarang di mana keharusan ini didukung oleh riwayat dari Abu Hurairah yang telah disebutkan di atas dan perbuatan beliau itu tidak diingkari

D.     Imam Dan SebagianBarisan Makmum Ada Di Lantai Bawah dan Sebagian Barisan Makmum Berada Di Lantai Atas

Jika imam ada di lantai bawah dan beberapa barisan shof berada satu lantai di belakangnya, maka tidak ada yang peru dipersoalkan. Adapun barisan shof yang lain yang ada di lantai atas jika terpisah dinding maka dihukumi menurut pembahasan shalat terpisah dinding yaitu boleh karena masih satu  bangunan dengan masjid dan tidak mengapa jika terhalang dinding, pagar dll asalkan masih dapat mengetahui gerakan imam dan mendengar aba-aba takbir imam. Apalagi  jika tidak terpisah dinding (seperti balkon) dimana makmum masih dapat melihat sebagian imam dan mendengar suara imam, maka sholat makmum yang di atas itu sah dan dibolehkan.

Imam Dan Makmum Berbeda Bangunan

Menurut Madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali tidak sah makmum yang berbeda tempat dengan imam. Jika berbeda tempat dengan imam maka batal-lah keikutsertaan dalam jamaah tersebut. Definisi berbeda nya tempat itu berbeda beda lagi pendapat.  Sebagain berpendapat terpisah nya barisan makmum dengan imam, itu jika dipisahkan oleh shof wanita, tembok, jalanan, dan sungai. Hal ini berdasarkan atsar (perkataan) sahabat Umar bin Khattab r.a. : “Seorang makmum yang terpisah tempatnya dengan imam karena adanya sungai, jalan atau shof wanita, maka sholatnya tidak sah

Menurut Madzhab Syafi’i  jika imam dan makmum berada di dua bangunan yang terpisah maka tergantung dari posisi bangunan makmum. Jika bangunanmakmum di belakang bangunan imam maka sah jamaahnya jika jaraknya tidak melebihi 300 depa terhitung dari akhir bangunan tempat imam dan makmum bisa mengetahui gerakan dan aba-aba imam. Tidak mengapa jika diselingi jalan atau sungai antara satu bangunan dengan bangunan lainnya.

Jika bangunan itu di sebelah kanan atau kiri bangunan imam, maka disyartkan barisan shalat bersambung dari satu bangunan ke bangunan lainnya dan tidak mengapa jika ada satu sela kecil yang tidak memungkinkan orang shalat di dalamnya.

Sedangkan untuk perahu yang terpisah maka Imam Syafi’i berpendapat : Tidak mengapa jika imam berada di satu perahu dan makmum berada di perahu lain sepanjang jaraknya tidak lebih dari 300 depa dan makmum bisa mengetahui gerakan dan aba-aba imam.  (Al Mughni Al Muhtaaj Jilid 1 Hal 248-251)

Madzhab Hambali mengatakan tidak sah jika seseorang makmum berbeda gedung dengan imam  hal ini berdasarkan riwayat Anas bin Malik : Demikian pula tidak boleh seorang makmum berada di suatu unta dan imam ada di unta yang lain atau makmum berada di satu kapal dan imam berada di kapal yang lain. Namun Imam Ahmad bin Hambal membolehkan hal ini jika situasinya dalam keadaan perang atau alasan lain yang tidak bisa dihindari. Hal ini sebagaimana hadits bahwa Rasulullah s.a.w. pernah juga shalat berjamaah dalam keadaan berada di unta masing-masing. (Kasysyaf Al Qinaa ‘ Jilid 1 Hal 579-580)

Telah menceritakan kepada kami Suraij bin Nu’man Telah menceritakan kepada kami Umar bin Maimun bin Rammah dari Abu Sahl Katsir bin Ziyad Al Bashri dari Amru bin Utsman bin Ya’la bin Murrah dari Bapaknya dari Kakeknya, bahwa Rasulullah s.a.w.  dan para sahabatnya sampai pada daerah yang agak sempit sedangkan beliau masih berada di atas kendaraannya, sementar langit menurunkan hujan dan tanah yang ada di bawah mereka basah (berlumpur). Lalu datanglah waktu shalat, beliau kemudian memerintahkan seorang muadzdzin untuk mengumandang adzan, lalu muadzdzin tersebut adzan dan iqamah. Rasulullah s.a.w. kemudian maju ke depan dengan tetap berada di atas kendaraannya, lalu beliau shalat bersama mereka. Beliau shalat dengan berisyarat, menjadikan sujud lebih rendah daripada rukuk. Atau beliau menjadikan sujudnya lebih rendah daripada ruku’nya.” (H.R. Ahmad No.16915) Salah seorang perawi hadits ini yaitu Utsman bin Ya’la bin Murrah dikatakan Ibnu Hajar Asqolani dan Ibnu Qathan sebagai perawi majhul (tidak dikenal) dan Adz-Dzahabi tidak menyebutkan biografinya dalam Ats-Tsiqaat.

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa berkata; telah menceritakan kepada kami Syababah bin Sawwar berkata; telah menceritakan kepada kami Umar bin Ar Rammah Al bakhil dari Katsir bin Ziyad dari Amru bin Utsman bin Ya’la bin Murrah dari Ayahnya dari Kakeknya bahwasanya mereka bersama Nabi s.a.w. dalam sebuah perjalanan, hingga sampailah mereka pada jalan sempit, lalu waktu shalat tiba sedangkan langit dalam keadaan hujan dan kondisi tanah tergenang air. Rasulullah s.a.w. kemudian adzan di atas kendaraannya, lalu beliau iqamah dan maju ke depan. Setelah itu beliau shalat bersama para sahabat dengan merunduk, beliau menjadikan sujud lebih rendah dari rukuk.” (H.R. Tirmidzi No. 376) Nshiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini dla’if dalam Kitab Dla’if Sunan Tirmidzi No. 65 karena Utsman bin Ya’la bin Murrah adalah majhul (tidak dikenal)

Namun Abu Isa (Tirmdizi) berkata; “Hadits ini derajatnya hasan dan gharib. Umar bin Ar Ramman Al Bakhil meriwayatkan hadits ini secara gharib (asing), tidak diketahui ada hadits lain kecuali dari haditsnya, dan tidak hanya satu orang ulama yang meriwayatkan darinya. Maka Tirmidzi menaikkan derajat hadits ini yang semula dla’if karena  terdapat riwayatkan oleh ulama lain dari berbagai jalur maka yang dla’if tadi bisa dinaikkan menjadi hasan.

Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari Hisyam bin Urwah bahwa Bapaknya berkata kepadanya, “Jika kamu dalam sebuah perjalanan, sementara kamu ingin adzan dan iqamat, maka lakukanlah. Dan jika mau, kamu boleh iqamat saja tanpa adzan.” Yahya berkata, “Saya mendengar Malik berkata, “Tidak mengapa seorang laki-laki mengumandkan adzan, meskipun ia di atas kendaraannya.” (Atsar.R. Imam Malik dalam Al-Muwatha’ No. 145)

Shalat yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. di atas kendaraan (Yang dikisahkan pada hadits di atas) bersama-sama dengan para sahabat (berjamaah) dengan didahului oleh adzan dan iqomah jelas adalah shalat fardhu, karena tidak pernah shalat sunnah didahului adzan dan iqomah. Hal ini merupakan dalil bahwa dalam situasi memang tidak memungkinkan untuk turun dari kendaraan (yaitu karena hujan dan becek) maka shalat wajib di atas kendaraan adalah dibolehkan.

Sedangkan menurut Imam Malik (Madzhab Maliki) jika imam berada di satu bangunan dan makmum berada di bangunan lain maka hal ini dibolehkan dan sah shalat jamaahnya sepanjang makmum bisa mengetahui gerakan imam dan dapat mendengar takbir imam. Adapun ketersambungan barisan shof hanya disyaratkan pada shalat jum’at dan tidak disyaratkan pada shalat lainnya termasuk shalat fardhu.

Sementaa sebagian ulama lain membolehkan Imam dan Makmum terpisah bangunan jika ada alasannya seperti masjid telah penuh. Hal ini berdasarkan Atsar dari Hisyam bin Urwah, “Suatu saat aku bersama ayahku datang (ke masjid). Ternyata kami dapati masjid telah penuh. Kami pun tetap shalat bersama imam di sebuah rumah di sisi masjid, dan antara keduanya ada jalan”  (Atsar R. Abdurrazzaq, Jilid 3 Hal 82)

Dan Juga berdasarkan riwayat dari Anas bin Malik :

Dari Anas bin Malik beliau melakukan shalat Jum’at di rumah Abu Nafi’ di sebelah kanan masjid, di sebuah ruangan setinggi tubuh manusia. Ruangan yang pintunya mengarah ke masjid, di kota Bashrah. Anas mengikuti shalat Jum’at di tempat tersebut  dan menjadi makmum. (Atsar R Sa’id bin Manshur sebagaimana dalam kitab Al-Muntaqa)

Atsar dari Anas bin Malik di atas menjelaskan bahwa ia shalat jum’at pada bangunan yang terpisah dari bangunan tempat imam berada, yaitu di sebuah rumah yang terletak di sebelah kanan masjid di kota Basrah dan letaknya pun lebih tinggi dari masjid.

Wallahua’lam

APAKAH SAH SHALAT BERJAMAAH DENGAN SHAF TERPUTUS (JILID 1)?

APAKAH SAH SHALAT BERJAMAAH DENGAN SHAF TERPUTUS (JILID 1)?

 Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Kita sering menyaksikan terkadang ketika shalat jum’at atau shalat ‘idul fitri dimana dihadiri jamaah yang sangat banyak sementara tempat tidak mencukupi maka orang shalat dimana saja. Terlebih di Jakarta beberapa masjid ada yang terletak di gang sempit, maka kami menjumpai jamaah shalat jum’at kadang terpaut sangat jauh dari imam, ada yang terpisah tembok, ada yang terputus menggerombol sendiri di bawah pohon dan seterusnya.

Hal yang sama kami pernah jumpai pula di masjidil haram di Makkah Al Mukaromah, dimana kini lantai masjidil haram telah bersambung dengan koridor pertokoan dari sebuah hotel kelas atas, maka barisan shof shalat meluber sampai di depan pertokoan dan lift hotel. Ada sebagian orang membentuk shof tersendiri dua tiga orang di dalam toko terpisah dari barisan shof lainnya di lobby hotel. Maka timbul pertanyaan apakah sholat mereka sah atau kalaupun sah apakah dihukumi munfarid (sholat sendirian) ataukah mendapat pahala sholat berjamaah?

Pada mas kini kita juga banyak menjumpai masjid bertingkat 2-3 lantai dimana kadangkala imam shalat berada di lantai teratas atau terbawah sedangkan jamaah yang berada di lantai lainnya tidak melihat imam dan hanya mendengarkan komando imam dari loud speaker. Ada juga masjid yang menyediakan TV yang menayangkan gerakan imam di lantai atasnya.

Maka timbul pertanyaan sejauh mana batasan bolehnya makmum terpisah ruangan dan tidak melihat imam? Dan kalau itu dibolehkakn maka bolehkah bermakmum terhadap imam hanya mendengar dari radio saja? Atau melihat televisi saja? Bolehkah kita bermakmum pada imam masjidil haram melalui siaran langsung shalat taraweh di masjidil haram yang disiarkan televisi ??

Makmum Terpisah Menyendiri Di Belakang Barisan Jamaah

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa suatu ketika seorang sahabat bernama Abu bakrah r.a. pernah shalat menyendiri di belakang barisan/shof Rasulullah s.a.w. yang sedang shalat berjamaah :

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam dari Al A’lam -yaitu Ziyad- dari Al Hasan dari Abu Bakrah, bahwa dia pernah mendapati Nabi s.a.w. sedang rukuk, maka dia pun ikut rukuk sebelum sampai ke dalam barisan shaf. Kemudian dia menceritakan kejadian tersebut kepada Nabi s.a.w. , Nabi s.a.w.  lalu bersabda: “Semoga Allah menambah semangat kepadamu, namun jangan diulang kembali.” (H.R. Bukhari No. 741)

Seandainya shalatnya tidak sah maka Rasulullah s.a.w. akan menyuruh Abu Bakrah mengulang shalatnya. Adapun perkataan jangan diulangi lagi menunjukkan ke-sunnah-an sehingga berkurangnya kesempurnaan atau keafdholan shalat berjamaah.  (Bustanul Ahbar Hal. 857)

Berdasarkan hadits di atas Abu Hanifah (Madzhab Hanafi), Imam Malik (Madzhab Maliki) dan Imam Syafi’i (Madzhab Syafi’i) menganggap sah dan tetap mendapat pahala berjamaah bagi orang yang shalat menyendiri di luar barisan atau di belakang barisan, namun masih dalam satu masjid.

Walaupun demikian,  Abu Hanifah dan Imam Syafi’i berpendapat walupun sah, hukumnya adalah makruh (tidak disukai) shalat berjamaah secara terpisah menyendiri dari barisan. Dengan kata lain seandainya ia tidak melakukan itu dan shalatnya bergabung dalam barisan, tentu pahalanya akan lebih besar lagi.

Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal (Madzhab Hambali) berpendapat bukan hanya tidak mendapatkan pahala jamaah bahkan tidak sah shalatnya dan harus mengulang shalatnya yaitu orang yang shalat menyendiri di belakang barisan sampai satu rakaat penuh padahal ia bisa melihat barisan jamaah di depannya. Kecuali jika hanya beberapa gerakan lalu ia berusaha bergabung dengan barisan sehingga tidak sampai satu rakaat penuh menyendiri di luar barisan. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah s.a.w. berikut ini :

(Ahmad bin Hanbal) berkata, telah menceritakan kepada kami Abdushshamad dan Suraij berkata, telah menceritakan kepada kami Mulazim bin ‘Amr telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Badr Abdurrahman bin ‘Ali menceritakannya, bapaknya, ‘Ali bin Syaiban berkata : “(Rasulullahi s.a.w.) melihat seorang laki-laki shalat di belakang shaf dan berdiri sendiri sampai shalat selesai, maka Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ulangilah shalatmu, karena tidak sah shalat seseorang yang berdiri di belakang shaf sendirian.”  (H.R. Ahmad No. 15708) Hadits ini sanadnya shahih.

Imam Bukhari menjelaskan hadits di atas bahwa hadits tersebut khusus untuk laki-laki (Fathul Bari Jilid 4 Hal. 395) Imam Syaukani berkata : ulama salaf berbeda pendapat mengenai sah tidaknya orang yang shalat sendirian di belakang barisan (shof jamaah). Satu golongan mengatakan tidak sah shalatnya. Yang lain membedakan antara laki-laki atau perempuan. Jika laki-laki tidak sah dan wajib mengulangi shalatnya sedangkan jika perempuan tidak wajib mengulangi shalatnya. Adapun orang yang berpendapat sah berpegang pada hadits (kasus) Abu Bakrah yang sudah mengerjakan sebagian shalat di belakang shof sedangkan Nabi s.a.w. tidak menyuruh mengulang shalatnya. (Bustanul Ahbar Hal. 857)

Memang dalam hal ini ada pengecualian untuk barisan wanita, dimana wanita walaupun hanya sendirian dianggap sah shof / barisannya. Hal ini karena wanita tidak ditekankan untuk datang shalat berjamaah ke masjid hal ini sebagaimana hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Ishaq bin ‘Abdullah dari Anas bin Malik r.a., ia berkata, “Nabi s.a.w. pernah melaksanakan shalat di rumah Ummu Sulaim, maka aku dan anak yatim ikut di belakang beliau sedangkan Ummu Sulaim berdiri di belakang kami.” (H.R. Bukhari No. 824 No. 685)

Ibnu Bathal menjadikan hadits di atas sebagai dalil sahnya shalat sendirian (bagi laki-laki) di belakang imam. Jika hal ini dibolehkan bagi wanita maka demikian pula untuk laki-laki juga dibolehkan (shalat sendirian di belakang barisan). (Fathul Bari Jilid 4 Hal. 395)

Apabila Antara Imam dan Makmum Dalam Areal Masjid Terhalang Dinding

Sebagian ulama berpendapat tidak mengapa jika makmum dan imam terhalang dinding asalkan masih dapat melihat gerakan imam dan mendengar takbir imam. Hal ini berdasarkan hadits berikut :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdah dari Yahya bin Sa’id Al Anshari dari ‘Amrah dari ‘Aisyah berkata, “Pada suatu malam Rasulullah s.a.w.pernah shalat di kamarnya, saat itu dinding kamar beliau tidak terlalu tinggi (pendek) hingga orang-orang pun melihat Nabi s.a.w. berdiri shalat sendirian (munfarid). Lalu orang-orang itu pun berdiri dan shalat di belakang beliau (bermakmum pada Beliau), hingga pada pagi harinya orang-orang saling memperbincangkan kejadian tersebut. ” (H.R. Bukhari No. 687)

Dalam hadits lainnya diceritakan :

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepadaku Yahya bin Sa’id dari ‘Amrah dari Aisyah r.ah. dia berkata; Rasulullah s.a.w. mengerjakan shalat di kamarnya, ternyata orang-orang mengikuti beliau dari belakang kamarnya.” (H.R. Abu Daud No. 951) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih.

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Salim Abu Nadlr maula Umar bin Ubaidullah, dari Busr bin Sa’id dari Zaid bin Tsabit ia berkata; “Rasulullah s.a.w. memasang tenda dari tikar pada sebuah tempat di Masjid, sehingga menjadikan sebuah kamar tempat beliau shalat (malam). Melihat hal itu, beberapa orang sahabat mendatangi tempat itu dan mereka shalat pula mengikuti Nabi s.a.w. shalat (bermakmum pada Beliau) (H.R. Muslim No. 1301)

Maka berdasarkan hadits di atas jelas bahwa orang boleh bermakmum mengikuti imam walaupun imam terpisah dinding dengan makmum selama makmum bisa mengikuti gerakan imam dan mendengar aba-aba takbir dari imam.

Maka Imam Syafi’i (Madzhab Syafi’i)  membolehkan makmum dan imam terpisah asalkan masih dalam satu areal masjid walaupun mereka terpisah dalam jarak tiga ratus depa atau terhalang tembok, sumur, dan pintu yang tertutup atau imam shalat di awal masjid (depan) sedangkan makmum berada di ujung akhir masjid asalkan tidak  ada penghalang. (Mughni Al Muhtaaj Jilid 1 Hal. 248-251)

Al Hasan berkata : “Tidak mengapa engkau shalat sedangkan antara engkau dan imam terdapat sungai” Abu Miljaz berkata : “Boleh mengikuti imam meskipun antara keduanya terpisah jalan atau tembok selama ia dapat mendengar takbirnya (komandonya) imam” (Fathul Bari Jilid 4 Hal. 397)

Imam Malik bin Anas (Madzhab Maliki) berpendapat tidak ada syarat harus satunya tempat antara imam dan makmum. Berbedanya tempat imam dan makmum tidak mencegah sahnya shalat jamaah. Adanya penghalang baik sungai jalan atau tembok tidak mencegah sahnya shalat berjamaah selama ia bisa mengetahui gerakan imam dan dapat mendengar takbirnya (komando gerakan imam). Hal ini dibolehkan pada semua sholat kecuali untuk shalat jum’at.  Imam Malik berpendapat demikian karena mengambil keumuman hadits :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdurrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun berkata, telah mengabarkan kepada kami Humaid Ath Thawil dari Anas bin Malik, beliau bersabda: “Sesungguhnya dijadikannya imam itu untuk diikuti. Jika imam bertakbir maka takbirlah kalian, jika rukuk maka rukuklah kalian, jika sujud maka sujudlah kalian, dan jika ia shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri.” (H.R. Bukhari No. 365)

Telah mengabarkan kepada kami ‘Ubaidullah bin Abdul Majid telah menceritakan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik Beliau s.a.w. bersabda : “Sesungguhnya dijadikannya imam agar diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya” (H.R. Darimi No. 1228)

Maka Imam Malik berpendapat sepanjang makmum dapat mengikuti gerakan imam, dan dapat mendengar suara takbir imam, maka sah shalat berjamaahnya walaupun terhalang dinding, jalan, sungai atau lainnya kecuali shalat jum’at yang memang disyaratkan agar barisannya bersambung. Jika seorang makmum mengikuti imam shalat jum’at di rumah yang bersebelahan dengan masjid maka shalatnya batal karena bergabungnya itu adalah syarat sahnya shalat jum’at (Fiqhul Islam Wa’adillatuhu Jilid 2 Hal 351)

Shaf Terhalang Tiang

Sebagian ulama mengatakan bahwa tidak sah barisan shaf yang terhalang tiang-tiang di antaranya. Maka jika ada tiang di situ hendaknya orang bergeser ke depan atau ke belakang untuk membantuk shaf sehingga dari ujung kanan ke kiri tidak diselingi oleh tiang-tiang. Pendapat ini berdasarkan atsar (perkataan) Ibnu Mas’ud r.a. sebagai berikut :

Ibnu Mas’ud r.a. berkata: “Janganlah kamu menyusun shaf di antara tiang-tiang”. Para ahli ilmu seperti Imam Ahmad dan Ishaq membenci barisan shaf antara tiang-tiang. (AI-Qaulul Mubin Fi Akhthail Mushallin Hal. 231 oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman.)

Namun hal ini bukan merupakan pendapat mutlak karena sebagian besar ulama lain berpegang pada keumuman bahwa sah shalat berjamaah walaupun terpisah oleh tirai, dinding, pintu, jendela dan lainnya, apalagi hanya tiang. Hal ini mengambil keumuman hadits yang sudah kami ungkapkan di atas bahwa para sahabat pernah bermakmum pada Rasulullah s.a.w. sementara beliau berada di kamarnya yang dipisahkan oleh dinding, dan suatu ketika dipisahkan oleh tirai dari tikar.

Shaf Pria Diselingi Shaf Wanita

Imam Hanafi berpendapat bahwa tidak sah barisan jamaah pria yang terhalang dengan shof wanita. Juga dimakruhkan jika seorang pria sholat sementara di hadapannya ada seorang wanita yang juga sedang sholat. Abu Hanifah mengambil keumuman hadits  :

Dari Abdurrazaq dari Ibnu Mas’ud r.a. merafa’kan pada Rasulullah s.a.w. “Akhirkanlah barisan mereka (wanita) sebagaimana Allah mengakhirkan mereka” (H.R. Thabrani)

Zayala’i mengatakan bahwa hadits di atas adalah hadits gharib (asing) yang dirafa’kan (dikatakan bersambung pada Rasulullah s.a.w.mauquf (terputus) pada perkataan Ibnu Mas’ud sehingga dianggap sebagai atsar (perkataan) Ibnu Mas’ud dan bukan sabda Rasulullah s.a.w. (Nashab Ar-Raayah Jilid 2 Hal. 36)

Ada juga yang berdalil dengan perkataan Umar bin Khattab r.a. sebagai berikut :

Umar r.a. berkata : “Seorang makmum yang terpisah dengan imam oleh sungai atau jalan atau barisan wanita maka shalatnya tidak sah

Namun Imam Nawawi berkata : ” atsar tersebut tidak ada asalnya”. Atsar yang diriwayatkan dari Umar melalui jalur Laith bin Abi salim dari Tamim adalah dla’if karena Laith ini adalah perawi dla’if dan Tamim tidak dikenal (majhul). Sehingga atsar ini tidak dapat dijadikan dalil.

Hadits yang shahih menyebutkan tentang urutan shaf dalam shalat adalah sebagai berikut :

Telah bercerita kepada kami Abu Ahmad dan Abdullah bin Al Walid berkata; telah bercerita kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil dari Jabir dari Nabi s.a.w. bersabda: “Sebaik-baik shof laki-laki adalah yang terdepan, yang paling jelek adalah yang terakhir, sejelek-jelek shof wanita adalah yang terdepan dan yang terbaik adalah yang terakhir“. (H.R. Ahmad No. 14024)

Ada juga yang berdalil dengan hadits :

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Ishaq bin ‘Abdullah dari Anas bin Malik r.a., ia berkata, “Nabi s.a.w. pernah melaksanakan shalat di rumah Ummu Sulaim, maka aku dan anak yatim ikut di belakang beliau sedangkan Ummu Sulaim berdiri di belakang kami.” (H.R. Bukhari No. 824 No. 685)

Maka hadits-hadits di atas menunjukkan urutan shaf wanita yang harus di belakang shaf laki-laki. Ibnu Hajar Asqolani mensyarah hadits di atas mengatakan : “Hadits di atas menjadi dalil bahwa wanita jika sendirian tetap tidak boleh satu shof dengan barisan laki-laki dan sah membentuk barisan walau hanya seorang diri. Hadits ini menjelaskan bahwa wanita tidak boleh masuk barisan laki-laki karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah bagi laki-laki. Walaupun demikian, apabila wanita menyalahi hal ini shalatnya tetap sah menurut jumhur ulama kecuali madzhab Hanafi.

Menurut madzhab Hanafi rusak shalatnya laki-laki jika masuk di dalamnya seorang wanita. Pendapat ini berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud : “Tempatkanlah mereka dibelakang sebagaimana Allah menempatkan mereka”. Maka menurut Imam Hanafi perintah ini mengindikasikan wajib sehingga jika dilanggar rusaklah shalatnya. (Fathul Bari Jilid 4 Hal. 394)

Namun Zayala’i mengatakan bahwa hadits di atas adalah hadits gharib (asing) yang dirafa’kan (dikatakan bersambung pada Rasulullah s.a.w.) Yang benar adalah hadits tersebut mauquf (terputus) pada perkataan Ibnu Mas’ud sehingga dianggap sebagai atsar (perkataan) Ibnu Mas’ud dan bukan sabda Rasulullah s.a.w. (Nashab Ar-Raayah Jilid 2 Hal. 36)

Sedangkan menurut Mazhab Maliki, Hambali dan Syafi’i hadits yang menyebutkan tentang urutan shof wanita di belakang laki-laki adalah sunnah namun tidak membatalkan shalat barisan laki-laki maupun barisan wanita seandainya shof wanita sejajar dengan laki-laki. Demikian pula jika ada seorang wanita atau barisan wanita berada di shof laki-laki tidak batal shalatnya orang yang berada di sampingnya atau belakangnya atau di depannya maupun shalat si wanita itu sendiri, melainkan hanya berkurang kesempurnaanya (Fiqhul Islam Wa ‘Adillatuhu Jilid 2 Hal. 361)

BERSAMBUNG JILID 2…