SETAN TELAH MENGALAHKANMU SAAT MEMBALAS CACIAN

Debat 01

SETAN TELAH MENGALAHKANMU SAAT MEMBALAS CACIAN

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Sebagian orang tentu pernah minimal sekali dalam hidupnya mengalami dicaci orang, entah itu ketika sedang di jalan, di sekolah, atau bahkan mungkin di dunia maya. Tidak terkecuali dalam berdiskusi masalah agama pun, mungkin kita mendapat cacian atau minimal julukan-julukan yang tidak semestinya. Dijuluki ahlul bid’ah, dijuluki ahlul hawa (pemgikut hawa nafsu) dijuluki anti sunnah, atau julukan lain yang tidak selayaknya dituduhkan kepada kita. Lantas apakah kita membalasnya mencaci? Lalu, apakah kita tidak mau kalah dan balik melabeli mereka dengan julukan-julukan yang tidak semestinya.

Belum lagi jika cacian dan label tidak mengenakkan itu sudah membawa-bawa nama kelompok, nama jamaah atau nama organisasi, maka yang merasa terhina bukan hanya diri kita, melainkan seluruh kelompok itu ikut terhina. Belum lagi jika dari mulut ke mulut, dari status ke status, dari inbox ke inbox bahkan melalui sms berantai tersebar berita bahwa kelompok ini menghina kelompok kita, maka terseretlah seluruh kelompok pada saling balas membalas cacian, saling berlomba membuat label-label baru yang tujuannya merendahkan kelompok lain dan secara tidak langsung juga berarti membenarkan kelompok sendiri. Di sini setan sudah mulai bermain, semua pihak merasa yang dibela adalah Islam, seolah yang dijunjung adalah sunnah, padahal Anda tidak sadar dengan berbuat begini sesungguhnya yang dibela adalah kehormatan diri, dan kehormatan kelompoknya, bukan kehormatan Islam.

“Habis, dia yang memulai mencaci kita !” begitu alasan kita. Cobalah renungkan tidakkah di sini Anda sudah emosi? “Ya, namun cacian mereka sudah keterlaluan..! Jujurlah.. tidakkah di sini Anda sudah emosi? Mengapa bisa emosi? Benarkah kita emosi karena Islam direndahkan? Ataukah kita emosi karena merasa diri kita yang direndahkan?

Tahukah Anda bahwa ketika kita dicaci dan difitnah dengan tuduhan yang tidak benar, maka malaikat lah yang membela dan mendustakan atau mengingkari tuduhan itu kepada kita? Namun ketika kita membalas cacian dan tuduhan itu, dengan cacian yang sama buruknya, maka setan telah berhasil mengalahkan kita.

Telah menceritakan kepada kami Isa bin Hammad berkata, telah mengabarkan kepada kami Al Laits dari Sa’id Al Maqburi dari Basyir Ibnul Muharrar dari Sa’id bin Al Musayyab ia berkata, “Ketika Rasulullah s.a.w.  sedang duduk-duduk bersama para sahabat sahabatnya, tiba-tiba datang seorang laki-laki mencela Abu Bakar, namun Abu Bakar diam saja. Laki-laki itu kembali mencacinya untuk yang kedua kalinya, namun Abu Bakar tetap diam. Dan ketika laki-laki itu mencacinya untuk yang ketiga kalinya, Abu Bakar membela diri dan membalas caciannya. Maka ketika Abu Bakar membela diri, Rasulullah s.a.w. bangkit. Hal itu menjadikan Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau marah kepadaku?” Rasulullah s.a.w. menjawab: “Malaikat telah turun dari langit mendustakan apa yang ia katakan kepadamu, saat engkau membela diri setan telah mengalahkanmu. Maka tidak sudi aku ikut duduk jika setan sudah ikut campur di sini”. (H.R. Abu Daud No. 4251)

Belum lagi jika yang kita caci itu adalah sesama muslim, atau sesama kelompok dakwah maka hal itu adalah lebih buruk lagi.

Telah mengabarkan kepada kami Ishaq bin Ibrahim, ia berkata; telah memberitakan kepada kami Abdur Razzaq, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Abu Ishaq dari Umar bin Sa’d, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Abu Waqqash bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Membunuh orang muslim adalah kekafiran dan mencelanya adalah kefasikan.” (H.R. Nasa’i No. 4035, Tirmidzi No 2558 dan Ahmad No. 3761) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih

Jangankan terhadap sesama muslim, lha wong kepada berhala-berhala dan tuhan-tuhan yang jelas merupakan ke-musyrik-an dan ke-kafir-an  saja kita dilarang mencaci maki, terlabih lagi kepada sesama muslim yang berbeda pendapat.

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan” (Q.S. Al-An’aam [6] : 108)

Maka adalah lebih buruk lagi jika balas membalas celaan dan cacian ini kemudian menyeret seluruh kelompok dan terjerumuslah mereka semua ke dalam ashobiyyah (fanatisme golongan)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Syaiban dari Al A’masy dari ‘Amru bin Murrah dari Yusuf bin Mahak dari Ubaidullah ‘Umair dari ‘Aisyah dia berkata; Rasulullah s.a.w.  bersabda: “Sesungguhnya manusia yang paling besar fitnahnya adalah orang yang mencaci seseorang, kemudian dia membalas mencacinya hingga kabilah (golongannya) semuanya ikut saling mencaci, dan seorang lelaki yang menyingkirkan ayahnya dan menzinahi ibunya.” (H.R. Ibnu Majah No. 3751) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih

Betapa buruknya perilaku menyeret sebuah kelompok pada perseteruan dengan kelompok lainnya gara-gara awalnya adalah saling caci pribadi dengan pribadi lainnya, bahkan hal ini disandingkan dengan perilaku menzinahi ibunya sendiri.

Maka tahanlah lidah mu dari membalas cacian orang lain, terlebih jika hal ini dilatarbelakangi perbedaan pemahaman atas dalil Al-Qur’an dan sunnah. Tahanlah hati mu dari emosi akibat celaan orang lain terlebih jika hal ini disebabkan oleh perbedaan wawasan dan kurangnya pengetahuan akan perbedaan fiqih dan pendapat para ulama.

Telah mengkhabarkan kepada kami Qutaibah, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Ibnu ‘Ajlan dari Al Qa’qa’ bin Hakim dari Abu Shaleh dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seorang muslim sejati adalah orang yang seluruh manusia selamat dari lidah dan tangannya, sedangkan seorang mukmin sejati adalah orang yang seluruh manusia merasa aman darah dan harta mereka dari (gangguan) nya.” (H.R. Nasa’i No. 4909, Abu Daud No. 2122 Ahmad No. 15082)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s