SUTERA APAKAH HARAM?

Jubah Sutera 02

SUTERA APAKAH HARAM?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

 Jubah Sutera 02

Secara umum kita selama ini tahu bahwa sutera adalah haram bagi laki-laki muslim. Banyak hadits yang meriwayatkan mengenai hal ini sebagaimana hadits-hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Ibnu Abu Laila dia berkata; “Sesungguhnya Nabi s.a.w. melarang kami memakai kain sutera, dibaaj (sejenis sutera) dan tempat minum yang terbuat dari emas dan perak, beliau bersabda: “Itu semua untuk mereka (orang kafir) di dunia, dan untuk kalian di akhirat kelak.” (H.R. Bukhari No. 5201)

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Tsabit dia berkata; saya mendengar Ibnu Zubair berkhutbah, katanya; “Muhammad s.a.w. telah bersabda: “Barangsiapa mengenakan kain sutera di dunia, maka ia tidak akan memakainya di Akhirat kelak.” (H.R. Bukhari No. 5385)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid bin Abu Habib dari Abu Aflah Al Hamdani dari Abdullah bin Zurair -yaitu Al Aghafiqi- Bahwasanya ia mendengar Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah s.a.w. pernah mangambil sutera lalu meletakkannya pada sisi kanannya, dan mengambil emas lalu meletakkannya pada sisi kirinya. Kemudian beliau bersabda: “Sesugguhnya dua barang ini haram bagi umatku yang laki-laki.” (H.R. Abu Daud No. 3535)

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Asy’ats berkata, aku mendengar Mu’awiyyah bin Suwaid bin Muqarrin dari Al Bara’ bin ‘Azib r.a. berkata: “Dan Rasulullah s.a.w. melarang kami dari menggunakan bejana terbuat dari perak, memakai cincin emas, memakai kain sutera kasar, sutera halus, baju berbordir sutera (qassy) dan istabraq (sutera tebal)“. (H.R. Bukhari No. 1163)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad dia berkata; telah menceritakan kepadaku Ayahku dia berkata; telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abu Ishaq dia berkata; Salim bin Abdullah berkata kepadaku; “Apakah istabraq itu?” aku menjawab; “yaitu kain sutera yang agak tebal dan kasar.” Salim berkata; saya mendengar Abdullah berkata; “Umar pernah melihat seorang laki-laki mengenakan baju sutera dari istabraq (sutera tebal), lalu dia datang kepada Nabi s.a.w. dan berkata; “Wahai Rasulullah, Alangkah bagusnya jika Anda membelinya untuk Anda pakai saat menerima para utusan yang datang kepada Anda.” Maka beliau menjawab: ‘Yang memakai sutera ini hanyalah orang yang tidak mendapat bagian di akhirat”.  (H.R. Bukhari No. 5617)

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a. : “bahwa Rasulullah s.a.w. melarang mengenakan qassy  dan mu’ashfar “ (H.R. Muslim)

Qassy ialah pakaian yang disulam dengan sutera yang berasal dari Qass di Mesir. Sedangkan mu’ashfar adalah pakaian yang dicelup warna merah dan kenung yang biasa dipakai para dukun di India pada jaman dahulu sehingga menyerupai mereka merupakan sebuah larangan.

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi’ dari ‘Abdullah bin ‘Umar, bahwa ‘Umar bin Al Khaththab melihat pakaian sutera di depan pintu masjid, maka ia pun berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya tuan beli pakaian ini lalu tuan kenakan pada hari Jum’at atau saat menyambut utusan (delegasi) bila datang menghadap tuan.” Rasulullah s.a.w. lalu menjawab: “Sesungguhnya orang yang memakai pakaian seperti ini tidak akan mendapat bagian di akhirat.” Kemudian datang hadiah untuk Rasulullah s.a.w. yang diantaranya ada pakain sutera. Beliau lalu memberikan pakaian sutera tersebut kepada ‘Umar bin Al Khaththab, maka berkatalah ‘Umar, “Wahai Rasulullah, tuan telah memberikan pakaian ini untukku, padahal tuan telah menjelaskan akibat orang yang memakainya!” Rasulullah s.a.w. bersabda: “Aku memberikannya kepadamu bukan untuk kamu pakai.” Maka ‘Umar bin Al Khaththab memberikan pakaian sutera tersebut kepada saudaranya yang musyrik di kota Makkah.” (H.R. Bukhari No. 837 dan No 896)

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Abdul Malik bin Maisarah berkata, aku mendengar Zaid bin Wahb dari ‘Ali r.a. berkata: “Aku diberi hadiah kain bermotif garis dari sutera oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu aku kenakan, maka nampak aku lihat kemarahan dari raut wajah Beliau. Kemudian aku bagikan untuk isteri-isteriku“. (H.R. Bukhari No. 2422)

Ali memotong sutera tersebut hingga dapat digunakan sebagai kerudung lalu membagi-bagikannya kepada Fathimah istrinya, Fathimah bintu Asad bin Hasyim ibunya, dan Fathimah bintu Hamzah bin Abdil Muththalib (sepupunya). (Fathul Bari Juz 10 hal 310)

Walaupun demikian, sutera itu masih dibolehkan bagi kaum wanita dan hanya dilarang bagi kaum pria

Diriwayatkan dari Abu Musa bahwa Rasulullah bersabda : “Dihalalkan emas dan sutera bagi kaum wanita dari umatku dan diharamkan bagi kaum lelakinya” (H.R. Ahmad, Nasa’i dan Tirmdizi) Abu Isa (Tirmidzi) menshahihkan hadits ini

Hadits Yang Meriwayatkan Rasulullah s.a.w. Memiliki Pakaian Dari Sutera

Namun dalam hadits lain diceritakan bahwa Rasulullah s.a.w. pernah mengenakan baju dari sutera

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dia berkata; telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu ‘Adi dari Ibnu ‘Aun dari Muhammad dari Anas r.a. dia berkata; Ketika Ummu Sulaim melahirkan, dia berkata kepadaku; “Wahai Anas, lihatlah bayi kecil ini, dan jangan sampai ia mendapatkan sesuatu (untuk dimakan) sehingga besok pagi kita menemui nabi s.a.w. supaya beliau mentahniknya (mengunyahkan buah kurma kemudian dimasukkan ke dalam mulut bayi), keesokan harinya aku bersamanya menemui Nabi, ketika itu beliau tengah berada di kebun, beliau mengenakan kain yang ada renda suteranya dan tengah membuat tanda pada binatang yang diberikan kepada beliau di hari penaklukan kota Makkah.” (H.R. Bukhari No. 5376)

Rasulullah s.a.w. juga pernah menerima hadiah jubah sutera dan beliau s.a.w. memakainya

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Sufyan Ats Tsauri dari ‘Aun bin Abu Juhaifah dari Ayahnya ia berkata; “Aku melihat Bilal mengumandangkan adzan seraya berputar mengikuti mulutnya ke sini dan ke sini, sedang jari-jarinya ada di telinganya. Dan Rasulullah s.a.w. waktu itu berada di dalam kubah merahnya. Menurutku ia mengatakan, “Dari kulit.” Lalu Bilal keluar dari dalam kubah tersebut dengan membawa tombak kecil, ia menancapkan tombak itu di tanah yang lapang. Setelah itu Rasulullah s.a.w.  shalat menghadap ke arah tombak tersebut, dan lewatlah seekor anjing dan keledai di hadapannya. Beliau waktu itu mengenakan pakaian merah dan seolah-olah aku dapat melihat kilatan kedua betisnya.” Sufyan berkata; “Kami memperkirakan bahwa pakaian itu adalah hibrah (pakaian yang terbuat dari campuran sutra dan wol).” (H.R. Tirmidzi No. 181) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih

Demikian pula riwayat dari Asma binti Abu Bakar bahwa peninggalan jubah Rasulullah s.a.w. yang dipakai beliau ketiika bersama Aisyah r.ah. terbuat dari sutera

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Abdul Malik berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bekas budaknya Asma’ binti Abu Bakar, dari Asm’a dia berkata, “Asma mengeluarkan untukku sebuah jubah dari kain yang tebal, di atasnya ada semacam kerudung dari kain yang menyerupai sutra kisrawani, kedua lubangnya memiliki jahitan di tepinya. Dia berkata, “Ini adalah jubah Rasulullah s.a.w., beliau dulu memakainya ketika bersama ‘Aisyah. Saat Aisyah meninggal ,  aku mengambilnya, kemudian kami mencucinya dan memakaikannya untuk orang yang sakit agar kita memohon kesembuhan dengannya (yastasyfi biha).” (H.R. Ahmad No. 25705) Ibnu Hajar Asqolani, Al-Ajli, Ibnu Hibban, An-Nasa’iy, Adz-Dzahabi mentsiqohkan perawi-perawi hadits ini.

Ibnu Hajar Asqolani menyebutkan hadits ini dengan redaksi berbeda dalam kitab Bulughul Maram :

Diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar bahwa ia mengeluarkan jubah Rasulullah s.a.w. yang bagian lehernya, kedua ujung tangannya dan bagian pinggirnya dihiasi “dibaaj” (sejenis kain sutera) (H.R. Muslim)

Dalam lafadz Abu Daud ada tambahan : “Jubah ini tadinya berada du tangan Aisyah lalu aku (Asma) mengambilnya ketika ia (Aisyah) meninggal. Semasa hidupnya jubah ini dipakai Rasulullah s.a.w. dan kami selalu mencucinya untuk dipakaikan kepada orang-orang yang sakit agar sembuh”. (H.R. Abu Daud)

Bukhari mencantumkan hadits ini dalam Adabul Mufrod dengan tambahan lafadz : “Beliau memakainya untuk menemui tamu kenegaraan dan shalay Jum’at” (H.R. Bukhari)

Demikian pula Ibnu Umar r.a. yang pernah menolak membeli jubah dari sutera lalu ia bertanya pada Asma binti Abu Bakar sehingga ditunjukkan jubah Rasulullah s.a.w. yang terbuat dair sutera

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus berkata, telah menceritakan kepada kami Al Mughirah bin Ziyad berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah Abu Umar mantan budak (yang telah dimerdekakan oleh) Asma binti Abu Bakr, ia berkata, “Ibnu Umar membeli kain Syam yang padanya terdapat warna merah, lalu ia mengembalikannya. Maka aku mendatangi Asma dan aku ceritakan hal itu kepadanya. Asma lalu berkata, “Wahai jariah, bawalah kemari jubah (semacam selendang) Rasulullah s.a.w.” Pembantu perempuan itu lalu mengeluarkan jubah tebal yang masing masing dari tepi kantong, dan kedua lengan baju, serta kedua tepi belahan bajunya dari dibaaj (sejenis sutera).” (H.R. Abu Daud No. 3532) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih.

Maka jelas pada hadits di atas, bahwa Rasulullah s.a.w. memiliki jubah dengan bagian bagian tertentu dari kain dibaaj (sutera) dan bahkan dipakai ketika shalat Jum’at. Sekiranya memang sutera adalah haram total, tentu Rasulullah s.a.w. tidak memakainya untuk shalat.

Telah mengabarkan kepada kami Al Hasan bin Qaza’ah dari Khalid -yakni Ibnul Harits- ia berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amru dari Waqid bin Amru bin Sa’d bin Mu’adz ia berkata, “Ketika Anas bin Malik datang ke Madinah, aku masuk menemuinya seraya memberi salam. Anas lalu bertanya, “Siapa kamu?” Aku menjawab, “Aku Waqid bin Amru bin Sa’d bin Mu’adz.” Anas kemudian berkata, “Sungguh, Sa’d adalah orang yang paling tinggi dan besar.” Kemudian ia menangis dan tangisnya semakin menjadi, setelah itu ia berkata lagi, “Rasulullah s.a.w. pernah mengutus utusan kepada Ukaidar, penguasa Dumah. Kemudian Ukaidar mengirimkan kepada Rasulullah s.a.w. kain dibaj (sejenis kain sutera) yang ditenun dengan benang emas. Rasulullah s.a.w. kemudian memakainya dan naik ke atas mimbar, beliau duduk tanpa berbicara sepatah kata pun. Setelah itu beliau turun hingga orang-orang (berusaha) menyentuh kain tersebut dengan tangan mereka. Beliau lalu bersabda: “Apakah kalian merasa ta’ajub dengan keindahan kain ini? Sungguh, sapu tangan Sa’d di surga lebih bagus dari apa yang kalian lihat ini.” (H.R. Nasa’i No. 5207) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini hasan shahih.

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad Al Ju’fiy telah bercerita kepada kami Yunus bin Muhammad telah bercerita kepada kami Syaiban dari Qatadah telah bercerita kepada kami Anas r.a. berkata: “Nabi s.a.w. dihadiahi baju jubah terbuat dari sutera tipis padahal sebelumnya Beliau pernah melarang memakai sutera. Lalu orang-orang pun menjadi terkagum-kagum karenanya. Maka Beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh sapu tangan Sa’ad bin Mu’adz di surga lebih baik daripada ini“. (H.R. Bukhari No. 3009)

Rasulullah s.a.w. Membagikan Baju Sutera Berkancing Emas Pada Para Sahabat

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdul Wahhab telah bercerita kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayub dari ‘Abdullah bin Abi Mulaikah bahwa Nabi s.a.w. dihadiahi beberapa potong baju terbuat dari sutera yang berkancing emas lalu Beliau membagi-bagikannya kepada orang-orang dari shahabat Beliau dan menyisakan satu potong untuk Makhramah bin Naufal. Maka dia datang bersama anaknya, Al Miswar bin Makhramah lalu berdiri di depan pintu seraya berkata; “Panggilkan Beliau untukku” Nabi s.a.w. mendengar suaranya lalu Beliau mengambil baju yang tersisa, dan beliau berikan kepadanya seraya memperlihatkan kebagusan baju tersebut serta berkata:Wahai, Abu Al Miswar, sengaja aku sisakan untukmu, wahai, Abu Al Miswar, sengaja aku sisakan untukmu“. (H.R. Bukhari No. 2895)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdul Wahhab telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah telah mengabarkan kepada kami Ayyub dari Abdullah bin Abu Mulaikah bahwa Nabi s.a.w. pernah diberi hadiah beberapa potong baju yang terbuat dari sutera dan berkancing emas lalu beliau membagi-bagikannya kepada para shahabat dan menyisakan satu potong untuk Makhramah. Ketika Makhramah datang beliau bersabda: “Aku telah menyimpannya untukmu.” Lalu Ayyub memperagakan bagaimana beliau memberikan kain tersebut kepada Makhramah.” (H.R. Bukhari No. 5667)

Dalam catatan Sunannya, Abu Daud menyebutkan, “Ada dua puluh orang atau lebih dari sahabat Rasulullah s.a.w. mengenakan pakaian dari sutera, salah seorang di antara mereka adalah Anas dan Al bara bin Azib.”

Pelana Dari Sutera

Rasulullah s.a.w. pernah melarang alas pelana yang bersulamkan sutera kecuali jika diperuntukkan bagi para wanita.

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad Ibnul ‘Ala ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris ia berkata; Aku mendengar Ashim bin Kulaib dari Abu Burdah dari Ali ia berkata, “Rasulullah s.a.w.bersabda kepadaku: “Ucapkanlah ‘Ya Allah, luruskanlah perkataanku dan berilah aku petunjuk’. Beliau juga melarangku untuk duduk di atas alas pelana yang terbuat dari sutera. Yang dimaksud dengan alas pelana ini adalah kain yang bersulam sutera, biasanya ia dibuat oleh para wanita untuk keluarganya yang diletakkan di atas kendaraan, seperti kain tebal yang ada campuran warna merah.” (H.R. Nasa’i No. 5281)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Habib berkata, telah menceritakan kepada kami Rauh berkata : telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Muhammad dari Abidah dari Ali r.a. ia berkata, “Telah dilarang pemakaian alas pelana yang terbuat dari sulaman sutera.” (H.R. Abu Daud No. 3529)

Namun demikian, Khalid bin Walid r.a. mengenakan pelana dari sutera. Dalam Kitab Bidayah wa Nihayah yang ditulis oleh Ibnu Katsir diceritakan dari Saif bin Umar bahwa bahwa pada saat pengepungan Baitul Maqdis, Umar bin Khattab r.a. menaiki Kuda dari Madinah menuju Baitul Maqdis setelah menunjuk Ali bin Abi Thalib r.a. sebagai penggantinya sementara di Madinah. Maka Umar r.a. menaiki kuda bersama pasukan hingga mencapai Jaabiyah. Orang yang pertama kali bertemu dengan Umar r.a. adalah Yazid bin Abu Sufyan, kemudian Abu Ubaidah, setelah itu Umar bertemu dengan pasukan berkuda yang dipimpin oleh Khalid bin Walid r.a. dimana mereka mengenakan pelana dari kain sutera. Ketika Umar r.a. melihat hal itu, Umar r.a. mengingkari mereka dan memerintahkan agar pelana sutera itu dilepas. Namun Khalid bin Walid beralasan bahwa pelana tersebut sangat penting bagi mereka dalam peperangan untuk membawa senjata di atasnya. Akhirnya Umar mendiamkan dan memakluminya. (Ath-Thabari Tarikh Al-Umam wa Ar-Rusul Juz 3 hal 607)

Dalam kesempatan lain dalam peperangan menaklukan Damaskus, ketika mengejar Tazariq saudara Heraklius, Kaisar Byzantium,  yang melarikan diri bersama pasukan Romawi,  Khalid bin Walid r.a. bermalam di kemah milik Tazariq dimana dikisahkan Tazariq memiliki 30 kemah terbuat dari sutera dan di dalamnya terdapat berbagai kasur empuk dari sutera. ( Tarikh Ath-Thabari Juz 3 hal 400)

Hadits Yang Meriwayatkan Dibolehkannya Baju Sutera Bagi Yang Berpenyakit Gatal

Beberapa hadits meriyatakan bahwa sahabat menderita penyakit gatal, sehingga terasa perih jika bergesekan dengan kain yang kasar. Maka Rasulullah s.a.w. membolehkan sahabat menggunakan baju dari kain sutera karena penyakit tersebut.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah mengabarkan kepada kami Waki’ telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Anas dia berkata : “Nabi s.a.w. pernah memberi izin kepada Zubair bin Awwam dan Abdurrahman bin Auf untuk memakai kain sutera karena penyakit gatal yang dideritanya.” (H.R. Bukhari No. 5391 dan No. 2703, Nasa’i No. 5215 dan No. 5216, Tirmidzi No. 1644)

Berkata Ath-Thabari berkata “Dalam hadits ini ditunjukkan bahwa larangan memakai sutera (bagi laki-laki) dikecualikan pada orang yang memiliki penyakit, di mana penyakitnya itu dapat diringankan dengan memakai sutera.” (Fathul Bari, Juz 10 hal 308) 

Demikianlah apabila kita melihat rangkaian hadits di atas, maka pandangan kita tidak sekaku jika hanya melihat satu dua hadits saja. Karena kenyataannya sutera itu masih dibolehkan bagi laki-laki muslim, asalkan bukan keseluruhan pakaian itu terbuat dari sutera.

Hadits Yang Meriwayatkan Dibolehkannya Sedikit Sutera

Bagaimana mungkin Rasulullah s.a.w. di satu sisi melarang pakaian dari sutera namun di sisi lain beliau memiliki jubah dari sutera dan menghadiahkan baju sutera kepada para sahabat? Bagaimana mungkin Rasulullah s.a.w. dijumpai oleh sahabat di kebun mengenakan pakaian sutera? Dan 20 orang sahabat dikatakan oleh Abu Daud mengenakan pakaian sutera?

Untuk memahami hal ini, Kita mencari penjelasan mengenai hal ini pada hadits-hadits lainnya sebagai berikut :

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad berkata, telah menceritakan kepada kami Ashim Al Ahwal dari Abu Utsman An Nahdi ia berkata, ” Umar menulis surat kepada Utbah bin Farqad, bahwa Nabi s.a.w. melarang kain sutera kecuali sekian dan sekian. Yakni sekadar dua jari, atau tiga jari, atau empat jari.” (H.R. Abu Daud No. 3523) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih

Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Ja’far Telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qatadah dari Asy Sya’bi dari Suwaid Bin Ghafalah bahwa Umar menyampaikan khutbah kepada orang-orang di Jabiyah lalu dia berkata; “Rasulullah s.a.w. telah melarang dari memakai kain sutera kecuali hanya sebesar ukuran dua jari atau tiga jari atau empat jari, dan dia menunjukkan ke arah telapak tangannya.” (H.R. Ahmad No. 344)

Demikian lah Sahabat Umar bin Khattab r.a. memahami larangan Rasulullah s.a.w. ini bukan dengan pemahaman yang kaku sebagaimana disangkakan sebagian orang, melainkan beliau memahami bahwa masih dibolehkan sutera sedikit sedikit asalkan bukan keseluruhannya terbuat dari sutera.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basysyar dan lafazh ini milik Ibnu Al Mutsanna keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah ia berkata; Aku mendengar Abu Utsman An Nahdi berkata; “Ketika kami sedang bersama Uthbah bin Farqad di Azerbaijan atau di Syam, tiba-tiba datang kepada kami surat dari Umar yang berisi sebagai berikut; Amma Ba’du, Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah melarang memakai sutera, kecuali hanya seukuran dua jari ini. Abu Utsman berkata; Maka kami pun memerlukan waktu sekian lama untuk mengerti bahwa maksudnya adalah sebagian kecil kain sutera”. (H.R. Muslim No. 3859)

Hadits Yang Meriwayatkan Dibolehkannya Sulaman Dari Benang Sutera

Telah menceritakan kepada kami Marwan telah menceritakan kepadaku Khusaif dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas dari berkata; “Sesungguhnya yang dilarang oleh Rasulullah s.a.w. adalah mengenakan baju yang terbuat dari sutra.” Ibnu Abbas berkata; “Sedang pakaian yang dijahit dengan benang (sutra) dan pakaian yang bergambar sulaman (dari bahan sutera), maka itu tidak mengapa.” Telah menceritakan kepada kami Ma’mar yaitu Ibnu Sulaiman Ar Raqi, berkata; Khusaif berkata; telah menceritakan kepadaku lebih dari seorang dari Ibnu Abbas berkata; “Nabi s.a.w. melarang pakaian yang terbuat dari sutera, sedang yang terdapat gambar sulaman (dari bahan sutera) maka tidak dilarang.” (H.R. Ahmad No. 1783)

Ibnu Abbas r.a. menjelaskan bahwa yang dilarang adalah jika murni sutera, dan jika seluruh pakaian dari sutera, sedangkan bahan kain campuran sutera dibolehkan, demikian pula bila bagian tertentu dari pakaian terbuat dari sutera itu dibolehkan, termasuk sulaman dan bordir atau renda dari sutera

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Nufail berkata, telah menceritakan kepada kami Zuhair berkata, telah menceritakan kepada kami Khushaif dari Ikrimah dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata, “Bahwasanya yang dilarang Rasulullah s.a.w. adalah kain yang murni dari sutera, adapun jika itu berupa gambar atau benangnya saja, maka tidaklah mengapa.” (H.R. Abu Daud No. 3533) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih

Jadi kesimpulannya, penjelasan Ibnu Abbas r.a. nampaknya yang bisa menjembatani perbedaan berbagai hadits yang berbeda-beda di atas, ada yang mengharamkan namun di sisi lain dijumpai bahwa Rasulullah s.a.w. juga pernah mengenakan baju atau jubah dari sutera, demikian pula sebagian sahabat pernah mendapat pembagian sutera, serta dibolehkannya sedikit bagian tertentu dari sutera. Maka hadits-hadits yang menerangkan Rasulullah s.a.w. pernah dilihat sahabat mengenakan sutera atau jubah Rasulullah s.a.w. terbuat dari sutera maka hal itu adalah sebagian kecil saja yang terbuat dari sutera bukan keseluruhan baju atau jubah itu dari sutera.

Pendapat Imam Madzhab dan Ulama Tentang Sutera

Dalam kitab Syarah (penjelasan) Shahih Bukhari karya Imam Ibn Bathal juz 9, hlm. 106-109 disebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat dengan bermacam-macam rincian dari perbedaan pendapatnya tentang hukum memakai kain sutra. Secara global ada 2 pendapat besar, yaitu tidak haram dan haram. Ulama-ulama yang berpendapat haram terbagi menjadi 5 pendapat, yaitu:

1) haram secara mutlak, baik bagi laki-laki atau perempuan; baik kadar sutera sedikit atau banyak. Ini adalah pendapat yang terlalu ekstrim dan berlebihan ghuluw.

2) haram hanya bagi laki-laki dan boleh bagi perempuan, namun tetap haram untuk sutera campuran, sintetas, sedikit maupun banyak.  

3) Haram bagi pria dalam kondisi normal, tapi tidak haram (boleh) dalam kondisi yang lain. Artinya, hukum asalnya adalah haram, namun menjadi boleh jika pada kondisi tertentu, seperti punya penyakit gatal (alergi) dan saat berperang.

Termasuk yang berpendapat seperti ini adalah ulama-ulama Saudi seperti Abdul Aziz bin Baz, Abdurrazaq Afifi, Abdullah bin Ghidyan, Syaikh Al-Utsaimin dan Syaikh Sholeh Al Fauzan serta ulama lain yang tergabung dalam Lajnah Ad-Daimah

4) Haram bagi pria jika baik sutera murni maupun campuran, namun dibolehkan / tidak haram (boleh) dalam jika hanya dua atau empat jari.

Termasuk yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu Daqiqil-’Ied berkata : ”Pembolehan tersebut adalah sutera yang kadarnya seukuran maksimal empat jari apabila disendirikan dari pakaian itu. Adalah haram bagi siapa saja (yaitu laki-laki) yang memakai sutera murni dan sutera bercampur (tidak murni), dan diperbolehkan apabila campuran sutera dari seluruh pakaian itu jika disisihkan hanya seukuran empat jari saja

5) Haram bagi pria jika suteranya 100% atau seluruh kain dari sutera, namun tidak haram (boleh) bila bukan murni sutra alami yang dari ulat, tetapi sutra sintesis atau lainnya. Termasuk yang berpendapat seperti ini adalah madzhab Syafi’i

Dalam Kitab Syarah Riyadhus Shalihin (Penjelasan kitab Riyadhus Shalihin), Musthafa Dib Al-Bugha menjelaskan : Keharaman sutera yang dimaksud dalam nash-nash hadits adalah sutra alam yang dikenal. Sedangkan sutra buatan tidak tercakup dalam pengharamanm kecuali jika tidak bisa dibedakan dari sutra alam dan orang-orang samar sehingga menduganya berserupa dengan wanita. Jika demikian, maka ia termasuk yang diharamkan. (Syarah Riyadhus Shalihin Juz 2, hal. 337)

Dalam Kitab Al-Umm terdapat dialog antara Ar-Rabi’ dan Imam Syafi’i tentang hukum memakai Al-Khizzi (Kain yang Ditenun dari Sutera dan Bulu) Ar-Rabi’ berkata : Aku bertanya kepada Imam Syafi’i sehubungan dengan orang yang memakai Al-Khizzi. Imam Syafi’i berkata : Tidak mengapa, kecuali bila seseorang meninggalkannya demi mendapatkan yang lebih ekonomis darinya. Adapun sekedar memakai Al-Khizzi, maka tidak mengapa. Imam Syafi’i berkata : Malik telah mengabarkan kepada kami dari Hisyam, dari bapaknya, dari Aisyah bahwa ia memakaikan sutera kepada Abdullah bin Az-Zubair sehelai Al-Khizzi yang biasa ia pakai. (Kitab Al-Umm Juz 3, hal. 398)

Sayyid Sabiq dalam Fiqhu Sunnah berkata : “Madzhab Syafi’i berpendapat, sutera campuran bisa haram bisa halal, tergantung apabila sebagian besarnya (lebih dari 50%) dari sutera, maka pakaian itu diharamkan, sedangkan apabila sutra itu separuhnya atau kurang dari itu, maka pakaian itu tidak diharamkan. Sedangkan An-Nawawi dari Madzhab Syafii berpendapat bahwa sutera yang dicampur dengan bahan lainnya (asalkan tidak 100% sutera) atau sutera sintetis adalah tidak diharamkan. (Fiqih Sunnah 4, hal. 398-399)

Ibnu Hajar Asqolani berkata : ”Jumhur ulama berpendapat tentang bolehnya memakai sutera apabila campurannya lebih banyak daripada sutera tersebut”. (Fathul Bari Juz 10 hal 294)

Sedangkan ulama-ulama yang berpendapat tidak haram terbagi menjadi 2 pendapat, yaitu mubah (boleh) dan makruh (lebih baik ditinggalkan namun jika dilakukan tidak mengapa). Sebagian ulama berpendapat bahwa larangan sutera hanyalah makruh (tidak disukai namun tidak sampai pada derajat haram), karena Rasulullah s.a.w pernah memakainya ketika shalat namun kemudian membencinya.

Ibnu Zubair berkhutbah, katanya; “Muhammad s.a.w. telah bersabda: “Barangsiapa mengenakan kain sutera di dunia, maka ia tidak akan memakainya di Akhirat kelak.” (H.R. Bukhari No. 5385)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid bin Abu Habib dari Abu Al Khair dari ‘Uqbah bin ‘Amir r.a. bahwa dia berkata; “Rasulullah s.a.w. pernah diberi hadiah baju yang terbuat dari kain sutera, lalu beliau mengenakannya untuk shalat, seusai shalat beliau melepasnya dengan paksa seakan-akan beliau benci mengenakan baju tersebut, kemudian beliau bersabda: “Baju ini tidak layak dipakai oleh orang-orang yang bertakwa.” H.R. Bukhari 5355)

Kemungkinan hal ini karena kelembutan dan kemewahan kain sutera membuat Rasulullah s.a.w. membencinya, karena Rasulullah s.a.w. membenci kemewahan karena dikhawtirkan menjerumuskan umatnya. Maka perkataan karahah (membenci ) ini secara fiqih adalah makruh dan bukan haram.

Demikian pula dari cara pengungkapan alasan pelarangan sutera ini bahwa yang mengenakan sutera di dunia tidak dapat mengenakan sutera di akhirat, maka hal ini menunjukkan kemakruhannya. Hal ini berbeda dengan larangan lain yang disertai ancaman apabila dilakukan berakibat neraka, maka hal itu menujukkan keharaman.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar telah menceritakan kepada kami Ali bin Al Mubarrak dari Yahya bin Abu Katsir dari Imran bin Hitthan dia berkata; saya bertanya kepada Aisyah r.ah. mengenai kain sutera, lalu dia berkata; datanglah kepada Ibnu Abbas dan bertanyalah kepadanya, Imran berkata; “lalu aku bertanya kepada Ibnu Abbas r.a., namun dia menjawab; “Tanyakanlah kepada Ibnu Umar, Imran melanjutkan; “Lalu saya bertanya kepada Ibnu Umar, dia menjawab; telah mengabarkan kepadaku Abu Hafsh Umar bin Al-Khatthab r.a. bahwa Rasulullah s.a.w.bersabda: “Hanya saja yang mengenakan kain sutera di dunia, yaitu orang tsb tidak mendapatkan bagiannya di akhirat kelak.” (H.R. Bukhari No. 5387)

Kesimpulan

Maka kesimpulannya pemakaian sutera bagi kaum laki-laki itu “makruh” jika seluruhnya terbuat dari sutera. Hal itu tidak hanya berlaku bagi pakaian melainkan juga pada jubah, selimut, sprei,  bantal dan benda-benda lain. Namun pemakaian sutera ini dibolehkan jika ada perlunya bagi yang berpenyakit kulit sebagaimana Zubair bin Awwam r.a. dan Abdurrahman bin Auf r.a. atau ada perlunya untuk mengangkut senjata yang berat dan banyak, pada kuda sebagaimana Khalid bin Walid r.a. Demikian pula dibolehkan ada bagian kecil terbuat dari sutera baik untuk pakaian, jubah, selimut sprei dll. Kriteria sedikit itu adalah selebar 2 – 4 jari, seperti bagian krah, bagian lengan, tangan, hiasan renda, sulaman atau bordir dll sebagaimana jubah yang dimiliki oleh Rasulullah s.a.w.

About these ads

2 thoughts on “SUTERA APAKAH HARAM?

  1. irvin says:

    18 [31] Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat-istirahat yang indah;

  2. sutera says:

    bagi pria Barangsiapa mengenakan kain sutera di dunia, maka ia tidak akan memakainya di Akhirat kelak :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s