BENARKAH MENCIUM TANGAN DAN SUNGKEMAN BID’AH? (JILID 1)

Cium Tangan 01

BENARKAH MENCIUM TANGAN DAN SUNGKEMAN BID’AH? (JILID 1)

 Oleh : Abu Akmal Mubarok

 Image

Sebagian sahabat Pondok Curhat (http://www.facebook.com/groups/305579689614/) bertanya apakah benar mencium tangan guru atau kyai adalah syirik atau bid’ah? Karena dijumpai sebuah tulisan di dunia maya dikutip perkataan Seorang Ustad yang mengatakan, “Kini, saya tidak mau lagi mencium tangan guru-guru saya lagi, karena saya tidak pernah melihat para sahabat mencium tangan Nabi s.a.w.”

Saya takjub dengan sebagian sikap orang yang terlalu bersemangat dalam menyalahkan perbuatan kaum muslimin, apakah mereka menyangka bahwa kaum muslimin dan para ulama itu melakukan suatu hal tanpa landasan? Jika kita negative thinking dengan imej bahwa dunia ini telah dipenuhi khurafat dan bid’ah maka belum apa-apa kita akan cenderung berprasangka bahwa perbuatan sebagian saudara kita adalah bid’ah. Namun jika kita positive thinking dan berprasangka baik, maka kita akan berusaha mengetahui lebih dahulu apa yang menjadi landasan perilaku mereka dan berprasangka baik bahwa tindakan itu mungkin saja ada dasarnya.

Firman Allah Tentang Penghormatan Kepada Nabi Atau Orang Yang Sholeh

Di dalam Al-Qur’an diceritakan bagaimana kedua orang tua Nabi Yusuf a.s. merebahkan diri seraya bersujud kepada Nabi Yusuf a.s. Ketika itu Nabi Yusuf a.s. menduduki jabatan sebagai menteri keuangan negeri Mesir setelah sebelumnya dibohongi dan dimasukkan sumur oleh saudara-saudaranya, lalu dilaporkan telah meninggal kepada Bapaknya yaitu Nabi Ya’qub a.s.

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf (khorrulahu sujjadan). Dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu. (Q.S. Yusuf [12] : 100)

Maka karena hormat dan takjub dengan takdir Allah yang telah menyelamatkan Nabi Yusuf a.s. dari segala tipu daya, kedua orangtuanya merebahkan diri (khorrulahu sujjadan). Padahal bapaknya Nabi Yusuf a.s. juga seorang Nabi, yaitu Nabi Ya’qub a.s. anak Nabi Ishaq a.s. cucu Nabi Ibrahim a.s. Maka jangankan mencium tangan dan membungkukkan badan, bahkan tersungkur dan bersujud pun boleh karena hal itu bukan dimaksudkan untuk menyembah makhluk melainkan sujud penghormatan.

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini tidak menafikkan makna merebahkan diri dan bersujud itu. Ibnu Katsir berkata : maksud khorrulahu sujjadan yaitu bersujud kepada Yusuf kedua orangtuanya dan semua saudara kandungnya yang jumlahnya ada sebelas orang (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 13 hal 58)

Hal ini untuk membantah sebagian kaum muslimin yang terlalu bersemangat dalam ghiroh Islam kemudian secara berlebihan menganggap cara penghormatan dengan mencium tangan dan membungkuk adalah sebagai pebuatan bid’ah bahkan syirik. Kita tidak bisa memvonis dan menyimpulkan suatu perbuatan hanya dari melihat perilaku lahiriyah atau tampak luarnya saja. Apakah setiap orang yang membungkuk, atau bahkan tersungkur di hadapan sesuatu lantas dipastikan maksud tujuannya adalah menyembah sesuatu tersebut? Tentu saja tidak. Hanya orang bodoh yang secara serampangan mengambil kesimpulan seperti itu. Semestinya kita tanyakan dulu apa maksud Anda membungkuk atau bersujud itu? Apakah menyembahnya?

Di hari raya Lebaran orang Jawa dan sebagian Sunda memiliki tradisi “sungkeman”, yaitu memohon maaf pada orang tua dengan cara mencium lutut orang tua dan kakek nenek. Sebagian kalangan muda Islam yang baru getol getolnya belajar agama dengan serta merta menolak hal itu dan menganggap hal ini sebagai bid’ah atau pengkultusan pada orang tua. Memang, kadang kala semangat seperti ini bagi sebagian darah muda terasa heroik karena nyata benar bedanya antara kondisi dia setelah “mengaji” dengan ketika belum kenal “pengajian”. Namun apakah benar Islam mengharamkan hal ini??

Hadits-Hadits Tentang Mencium Tangan Yang Derajatnya Shahih atau Hasan

Sebenarnya hadits-hadits yang menerangkan bahwa para sahabat mencium tangan Nabi s.a.w. diriwayatkan oleh berbagai perawi hadits. Bahkan sebagian ulama ahli hadits seperti Abu Bakar Ibn Al-Muqri’ Al- Ashbihani, menulis kitab khusus membahas masalah mencium tangan berjudul Juz’ fii Taqbil Al-Yad. Berikut ini adalah  beberapa hadits shahih yang menyebutkan tentang mencium tangan dan kaki Rasulullah s.a.w.

Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali dan Ibnu Basysyar keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar berkata, telah mengabarkan kepada kami Isra’il dari Maisarah bin Habib dari Al Minhal bin Amru dari ‘Aisyah binti Thalhah dari Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a. ia berkata, “Jika Fatimah datang menemui beliau, maka beliau berdiri, meraih tangannya, mencium dan mendudukkannya di tempat duduknya. Dan jika beliau datang menemuinya, maka ia akan meraih tangan beliau, mencium dan mendudukkannya di tempat duduknya.” (H.R. Abu Daud No. 4540) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isa bin Ath-Thabba’ berkata, telah menceritakan kepada kami Mathar bin ‘Abdurrahman Al A’naq berkata, telah menceritakan kepadaku Ummu Aban bintil Wazi’ bin Zari’ dari kakeknya Zari’ saat itu ia sedang bersama rombongan utusan Abdu Qais, ia berkata, “Ketika kami tiba di Madinah, kami saling berlomba memacu kendaraan kami, lalu kami mencium tangan dan kaki beliau s.a.w.”  (H.R. Abu Daud No. 4548) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini hasan.

Dan dari hadits yang Jayyid (bagus sanadnya) adalah riwayat Azzari’ Al-’Abdi, ketika Wafd Abdulqis berkata : “kami berebutan turun dari tunggangan kami, dan kami mencium tangan Nabi s.a.w dan kaki beliau s.a.w. (H.R. Abu Daud No 2271) Hadits yang senada juga diriwayatkan dari Mazidah Al Ashrii dengan riwayat yang sama, dan dari hadits Usamah bin Syariik, berkata kami berdiri untuk mencium tangan Nabi s.a.w, dengan sanad yang  kuat.

Diriwayatkan dari Abu Jahiifah r.a. : “Kulihat para sahabat mengambil kedua tangan beliau dan mengusapkannya ke wajah mereka, maka kuambil pula tangan beliau dan kututupkan ke wajahku, maka sungguh tangan itu lebih sejuk dari es dan lebih lembut dari sutra” (H.R. Bukhari No. 3289 Bab Manaqib).

Abu Lubabah dan Ka’ab bin Malik, serta dua sahabat lainnya (yang diboikot karena tak mengikuti perang tabuk) mencium tangan Nabi s.a.w. ketika taubat mereka diterima oleh Allah. (H.R. Baihaqi)

Imam Nawawi dalam Kitab Riyadhus Shalihin mencantumkan hadits dari Ibnu ‘Umar ra. Menceritakan sebuah kisah yang di dalamnya terdapat kalimat: “Kemudian kami mendekatkan diri kepada Nabi s.a.w. dan mencium tangan beliau”. (H.R.  Abu  Daud)

Dalam hadits lainnya bahkan Nabi s.a.w. membiarkan seorang Yahudi mencium tangan dan kakinya

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dan telah menceritakannya kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Amru bin Murrah ia berkata, saya mendengar Abdullah bin Salamah menceritakan dari Shafwan bin Assal berkata, Yazid Al Muradi berkata, “Seorang Yahudi berkata kepada sahabatnya, “Berangkatlah bersama kami untuk menemui Nabi s.a.w.” ….Kemudian kedua orang Yahudi itu pun mencium tangan dan kaki beliau s.a.w.” Yazid menyebutkan, “Kedua tangan dan kedua kaki beliau, lalu keduanya berkata, “Kami bersaksi bahwa anda adalah seorang Nabi.” Nabi s.a.w. lantas bertanya: “Lalu apa yang menghalangi kalian berdua untuk mengikutiku?” Kedua orang itu berkata, “Sesungguhnya Daud a.s. pernah berdoa agar di antara keturunannya ada yang masih bisa menjadi Nabi. Jika kami masuk Islam, maka kami khawatir orang-orang Yahudi akan membunuh kami.” (H.R. Ahmad No. 17397) Semua perawi hadits ini tsiqah, sedangkan Abdullah bin Salamah dikatakan shaduuq (jujur) oleh Ibnu Hajar Asqolani dan Ibnu Adi mengatakan laa ba’sa bih (tidak masalah dengan dia).

Rasulullah s.a.w. tidak mengecam orang yang mencium tangan bahkan memuji orang yang berbuat hal tersebut walaupun ia dari kalangan ahlul kitab.

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah; telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Abdul Aziz bin Umar dari Abdullah bin Mauhab berkata; Aku mendengar Tamim Ad-Dari, ia berkata; “Aku berkata; ‘Wahai Rasulullah! Perbuatan sunnah apa yang ada pada laki-laki dari ahli kitab dengan bersalaman mencium tangan orang lain? ‘ Rasulullah s.a.w. menjawab: ‘Ia (yang mau mencim tangan orang lain) adalah orang yang paling utama, di saat hidup dan matinya’.” (H.R. Ibnu Majah No. 2742) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini hasan.

Dalam hadits di atas Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa mencium tangan merupakan tindakan yang baik dan utama.

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dan Ghundar dan Abu Usamah dari Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah dari Abdullah bin Salamah dari Shafwan bin ‘Assal, bahwa sekelompok orang Yahudi mencium tangan dan kedua kakinya Nabi s.a.w.” (H.R. Ibnu Majah No. 3695)

Dalam hadits di atas Rasulullah s.a.w. membiarkan saja seorang Yahudi mencium tangan dan kaki Nabi s.a.w. Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini dla’if namun hal ini bisa diperdebatkan lagi, karena hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari 3 jalur berbeda yang mana semua perawinya tsiqah dan dinyatakan minimal shaduuq / jujur oleh berbagai ulama lain (shaduuq derajatnya di bawah tsiqoh namun masih termasuk katagori ta’dl /menganggap perawi adil / dapat dipercaya dan bukan pernyataan jarh / menganggap cacat perawi). Telah mafhum di kalangan ahli hadits kalaupun benar anggapan bahwa hadits-hadits (dari masing-masing jalur) itu dla’if, namun jika terdapat banyak jalur yang meriwayatkannya, maka akan saling menguatkan dan menaikkan derajat hadits tersebut menjadi hasan.

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al ‘Ala` dari Ibnu Idris, ia berkata; telah memberitakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amr bin Murrah dari Abdullah bin Salamah dari Shafwan bin ‘Assal ia berkata : “Seorang Yahudi berkata kepada temannya; pergilah bersama kami kepada Nabi ini. …..Lalu mereka mencium tangan dan kaki beliau s.a.w. dan berkata :  kami bersaksi bahwa engkau adalah seorang Nabi” (H.R. Nasa’i No. 4010)

Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini dla’if namun hal ini bisa ditinjau lagi, karena Yahya bin Main dan Ibnu Hajar Asqolani men-tsiqoh-kan semua perawi dalam hadits ini kecuali Abdullah bin Salamah bin Qa’nab adalah seorang Tabi’in kalangan tua dari Kufah yang dinyatakan shaduuq (jujur) oleh Ibnu Hajar Asqolani. Al Ajli dan Ya’qub bin Syaibah menyatakan ia adalah tsiqoh (terpercaya). Ibnu Adi mengatakan ia laa ba’sa bih (tidak mengapa). Ibnu Hibban menyebutkan biografinya pada kitab Ats-Tsiqaat (termasuk perawi perawi yang terpercaya). Sedang Adz-Dzahabi mengatakan suwailih (sedikit sholih / sholih kecil). Dalam Mizanul I’tidal istilah suwailih oleh Dzahabi ini setara dengan Mahalluhu ash-Shidq, Jayyid al-Hadits, Shalih al-Hadits, Syaikh Wasath, Syaikh Hasan al-Hadits, Shaduuq Insya Allah masih termasuk pada lafadz ta’dl peringkat ke-empat di bawah perkataan Shaduuq, La ba’sa bih, dan laisa bihi Ba’sun. Sehingga istilah suwailih bukanlah lafadz jarh (menganggap cacat perawi) melainkan masih termasuk katagori ta’dl (menganggap perawi adil / dapat dipercaya).

Sementara itu ada hadits lain yang diriwayatkan dari Abdullah bin Salamah bin Qa’nab, namun Nashiruddin Al-Albani men-shahih-kannya . Misalnya dalam hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Waki’ berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah dari Abdullah bin Salamah ia berkata; Aku mendengar Ali berkata; “Sebaik-baik manusia setelah Rasulullah s.a.w. adalah Abu Bakar, dan sebaik-baik manusia setelah Abu Bakar adalah Umar.” (H.R. Ibnu Majah No. 103) Hadits ini dinyatakan shahih oleh Nashiruddin Al-Albani.

(Bersambung)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s