BENARKAH BAJU WANITA HARUS POLOS DAN TIDAK BOLEH BERCORAK BUNGA-BUNGA?

Abaya Sulam

BENARKAH BAJU WANITA HARUS POLOS DAN TIDAK BOLEH BERCORAK BUNGA-BUNGA?

Oleh : Abu Akmal Mubarok
Image

Sebagian kelompok kaum muslimin ada yang berkeyakinan bahwa baju muslimah yang beriman haruslah bermotif polos dan berwarna gelap. Kalau pun mereka tidak menganggapnya wajib, paling tidak ada anggapan bahwa busana polos dan berwana gelap itu lebih Islami, lebih tinggi derajat ke-Islam-an nya. Maka merea beranggapan wanita muslimah yang memakai baju warna warni atau kain bercorak atau bermotif menunjukkan dangkalnya keimanan dan sifat yang genit atau berusaha menarik perhatian lawan jenis.

Saya pribadi pernah mendapat pertentangan dan dikecam ketika memimpin bisnis busana muslimah kemudian mempelopori pembuatan busana muslimah dengan motif bunga kecil-kecil. Pada masa itu memang belum marak busana muslimah seperti sekarang ini, dan kalaupun ada yang mengenakan busana muslimah memang rata-rata polos tanpa motif dan berwarna gelap bahkan hitam.

Walhasil kami berbagai tudingan pun terlontar. Dari mulai tudingan tidak islami, tabaruj jahiliyah, busana seperti itu menggoda lelaki, dan lain sebagainya. Lalu apakah benar Islam melarang busana muslimah dibuat dari kain bermotif?

Maka dalam kesempatan ini kami hendak menyampaikan hadits-hadits yang menceritakan bahwa busana wanita muslimah tidaklah wajib polos dan tidak haram memakai motif bunga-bunga.

Dan berkata, kepadaku ‘Amru bin ‘Ali telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim berkata, Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada kami, berkata,, telah mengabarkan kepada saya ‘Atho’ ketika Ibnu Hisyam melarang para wanita untuk thawaf bersama kaum lelaki, ia (‘Atho’) berkata : “Dan aku bersama ‘Ubaid bin ‘Umair pernah menemui ‘Aisyah r.ah. yang sedang berada disisi gunung Tsabir. Aku bertanya: “Hijabnya apa? Ia menjawab: “Ia berada di dalam tenda kecil buatan Turki. Tenda itu memiliki penutup yang tipis dan tidak ada pembatas antara kami dan beliau selain tenda itu, dan aku melihat beliau mengenakan gamis bermotif mawar“. (H.R. Bukhari No. 1513)

Hadits di atas adalah hadits shahih riwayat Bukhari. Dan dalam hadits tersebut diceritakan bahwa ummul mukminin (istri Rasulullah s.a.w.) yaitu Aisyah r.ah. mengenakan pakaian gamis bermotif bunga mawar. Dari sini kita mengetahui bahwa pakaian muslimah tidak wajib polos dan boleh bermotif bunga.

Dalam hadits lain diceritakan bahwa puteri Rasulullah s.a.w. dari hasil perkawinannya dengan Khadijah r.a.h yaitu Ummu Kultsum r.ah. pernah mengenakan kain yang bersulam.

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa dia pernah melihat Ummu Kultsum r.ah. puteri Rasulullah s.a.w. mengenakan kain yang bersulam sutera.” (H.R. Bukhari No. 5394)

Adanya sulaman ini menunjukkan bahwa kain tersebut tidak polos. Dalam hadits yang lain Rasulullah s.a.w. juga menghadiahkan dan mengenakan pakaian berrenda sutera serta berwarna hijau atau kuning kepada Ummu Khalid.

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sa’id dari ayahnya Sa’id bin Fulan yaitu ‘Amru bin Sa’id bin Al ‘Ash dari Ummu Khalid binti Khalid bahwa Nabi s.a.w. pernah diberi kain kecil yang ada renda suteranya. Lalu beliau bertanya: “Menurut kalian siapa yang paling berhak untuk mendapat kain ini?”, orang-orang pun diam. Beliau lalu bersabda: “Datangkanlah Ummu Khalid kepadaku.” Beliau lantas memberikan kain tersebut dan memakaikannya kepadanya. Setelah itu beliau bersabda: ‘Semoga tahan lama hingga Allah menggantinya dengan yang baru (panjang umur).’ Beliau kemudian melihat corak berwarna hijau atau kuning yang ada pada kain bersulam sutera tersebut, beliau bersabda: “Wahai Ummu Khalid, ini sanah, sanah.” Sanah adalah perkataan bahasa Habasyah yang berarti bagus.” (H.R. Bukhari No. 5375)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdurrahim bin Sulaiman dari Yazid bin Abu Ziyad dari Abu Fakhitah telah menceritakan kepadaku Hubairah bin Yarim dari Ali, bahwa telah di hadiahkan pakaian yang terbuat dari sutera kepada Rasulullah s.a.w., yaitu yang panjang atau lebar kainnya dan bersulamkan sutera. Kemudian beliau mengirimnya kembali kepadaku, lantas kudatangi beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kuperbuat dengannya? Apakah aku boleh mengenakannya?” beliau menjawab: “Tidak, akan tetapi buatlah kerudung untuk Fatimah.” (H.R. Ibnu Majah No.3586)

Perkataan kain bersulam dan berenda menunjukkan bahwa kain itu tidak polos saja melainkan ada jahitan atau bordiran atau sulaman sebagai hiasan. Demikian pula kalimat bahwa kain itu berwarna hijau atau kuning menunjukkan kebolehan pakaian wanita muslimah berwarna lain selain hitam.

Ada yang mengemukakan dalil haramnya wanita memakai baju berwarna dan bercorak berdasarkan hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Al Fadllu bin Dukain Telah menceritakan kepada kami Abdus Salam bin Harb dari Hisyam dari Hafshah dari Ummu ‘Athiyah ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepadaku: “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berkabung lebih dari tiga hari kecuali terhadap suaminya. Maka ia tidak boleh bercelak, tidak boleh memakai pakaian yang berwarna (bercorak) kecuali pakaian yang terbuat dari bahan dedaunan.” (H.R. Bukhari No. 4924)

Maka hadits di atas sama sekali tidak menunjukkan keharaman wanita mengenakan pakaian berwarna dan bercorak. Hadits di atas menceritakan masa ihdad atau berkabung dimana selama masa berkabung itu wanita memang tidak boleh mengenakan pakaian berwarna atau bermotif, lalu memakai celak (berhias) dan memakai wewangian. Dan masa berkabung itu maksimal adalah 3 hari. Kecuali jika yang meninggal itu adalah suaminya, maka dibolehkan selama 40 hari. Adapun setelah lewat masa berkabung, wanita boleh mengenakan pakaian berwarna, mengenakan celak mata dan menggunakan wewangian.

Walaupun demikian kami tetap menghormati kelompok yang berpendapat wajibnya wanita muslimah mengenakan busana polos tanpa motif karena toh tidak ada larangan untuk mengenakan busana dari kain polos tanpa motif. Hanya saja jika hal ini mereka yakini sebagai kewajiban dan menganggap bahwa muslimah yang berbusana dengan kain bermotif adalah kurang imannya, dan mereka yang berbusana dengan kain polos itu lebih Islami, maka kami katakan keyakinan seperti ini tidak tepat. Adapun jika ada wanita yang lebih menyukai busana polos tanpa motif, maka hal itu sah saja.

Wallahua’lam

About these ads

7 thoughts on “BENARKAH BAJU WANITA HARUS POLOS DAN TIDAK BOLEH BERCORAK BUNGA-BUNGA?

  1. Maaf.. saya berterus terang … walaupun saya kurang bersetuju dengan awak…
    tapi saya akui… pendapat awak memang logik dan pos
    nih memang menarik..

  2. Saya rasa… kita tak boleh nak kira pendapat kita ajer… pendapat org lain patut juga di beri keutamaan. Tahniah admin atas pos yg bermanafaat.

  3. Saya ada pengalaman mengenai hal ini.. time sekolah dulu2… saya faham maksud awak… teruskan usaha… penulisan dan gaya bahasa yg baik.. tahniah…

  4. Sarah Amin says:

    Thank you for sharing great knowledge. I also questions myself these questions. Nothing wrong to be fashionable/ plain as long they follow Islamic cloth code as long they may afford it.

  5. kalau menurut penjelasan para ulama yang saya baca..bahwa pakaian motif mawar yg dikenakan aisyah itu ketika beliau di dalam tenda..dan yang melihat masih kecil..maka ketika di dalam rumah..silahkan saja bermotif atau berwarna2 atau berhias2 di bajunya..

    ttg hadits ummu khalid yg pakai baju bermotif..tentu saja anak kecil belm terkena beban syariat..maka utk anak kecil dibolehkan mengenakan baju yang berhias-hias spt itu..

    bukankah pernah ummu athiyah bilang saudara kami tdk py hijab(utk keluar rumah)..kalau saja pakaiannya sdh cukup sesuai syarat boleh keluar rumah tentunya saudari ummu athiyah ini tdk perlu lagi repot2 mencari hijab yg syar’i utk dikenakan keluar rumah dlm artian yang menutup dirinya jg tdk berhias-hias sbgmn yg dipahami dari pengertian jilbab/hijab utk muslimah.

    • Syukron wa jazakillah ummu Muhammad. Ketika kita menerima sebuah perkataan hadits, maka niscaya disitu timbul ruang persepsi dalam menangkap makna berdasarkan apa yang diyakininya. Di sinilah ada kemungkinan berbeda pendapat. Orang cenderung menangkap maksud atau makna teks berdasarkan kecenderungan yang sudah ada dalam hatinya sebelumnya. Namun, sesungguhnya yang paling mengetahui tentang apa yang terjadi dan apa yang dimaksud dengan sabda Rasulullah s.a.w. tsb adalah mereka yang hadir pada peristiwa saat Sabda tsb diucapkan. Oleh karena itu jika kita temukan hadits lain yang menjelaskan atau atsar sahabat yang menjelaskan maksud sebuah hadits maka itu dapat dijadikan pegangan untuk memahami maksud dan konteks sebuah hadits. Jika tidak ada (hadits lain yang menjelaskan atau atsar sahabat), maka kita mencari ucapan atau praktek yang dilaksanakan oleh tabi’in dan tabi’ut tabi’in, karena mungkin mereka menimba ilmu dari para sahabat radliyallahuanh.

      Sebagai contoh ketika ketika hadits yang mengatakan bahwa mereka mengenakan pakaian seperti burung gagak

      Ummu Salamah –r.a. ia berkata “Ketika turun firman Allah (Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka) maka keluarlah para wanita dari kaum Anshar, seakan-akan di atas kepala-kepala mereka ada pakaian seperti burung-burung gagak” (H.R Abu Dawud no 4101)

      Maka orang yang cenderung berpendapat bahwa pakaian muslimah itu harus hitam akan menjadikan hadits di atas sebagai dalil. Karena mereka mempersepsikan kata kata “seperti burung gagak” itu adalah isyarat keharusan pakaian berwarna hitam. Di sini ada dua persoalan, apakah maksud Ummu Salamah menggunakan istilah seperti burung gagak itu untuk menggambarkn warnanya? Ataukah menggambarkan kerucut kerudung yang lancip seperti paruh burung? Ataukah menggambarkan sikap duduk para muslimah yang membungkuk seperti barisan burung gagak?

      Kita mendapati dalam siroh misalnya istilah “seperti burung gagak” itu untuk menggambarkan sikap duduk Atha’ bin Rabiah bukan menekankan pada warna bajunya. “Dia adalah seorang tua Habsyi yang berkulit hitam, keriting rambutnya dan pesek hidungnya. Apabila duduk laksana burung gagak yang berwarna hitam. Demikian diceritakan dalam siroh bahwa beliau orang Habsyi / Ethiopia yang berkulit hitam dan sering duduk membungkuk bertafakur sehingga dikatakan seperti gagak berwarna hitam.

      Kedua, andaikan Ummu Salamah menggunakan istilah seperti burung gagak itu untuk menggambarkn warna hitam, apakah kemudian maksudnya itu wajib? Sehingga terlarang warna lainnya? Ataukah itu hanya kebetulan saja atau tradisi yang ada saat itu? Dimana indikasi wajibnya? Jika diceritakan misalkan Rasulullah s.a.w. mengenakan pakaian putih atau merah apakah kemudian itu menunjukkan wajibnya warna tersebut? Di sini diperukan analisa yang mendalam.

      Ini sekadar contoh bahwa sebenarnya yang paling paham adalah mereka yang hadir langsung saat peristiwa itu terjadi. Sedangkan manusia manusia masa kini yang tidak hadir langsung, pendapatnya tidak dijamin kebenarannya termasuk saya Anda dan lainnya. Maka kami berusaha mengutip pendapat pendapat para ulama

      Kembali pada masalah pakaian Aisyah r.a. bermotif mawar memang itu disebutkan di dalam tenda (sebagaimana kutipan hadits) namun tidak ada perkataan yang menjelaskan bahwa itu juga tidak dikenakan diluar tenda. Kecuali jika kita cenderung memahaminya demikian.

      Mengenai Hadits :
      Bahwa Nabi s.a.w. pernah diberi kain kecil yang ada renda suteranya. Lalu beliau bertanya: “Menurut kalian siapa yang paling berhak untuk mendapat kain ini?”, orang-orang pun diam. Beliau lalu bersabda: “Datangkanlah Ummu Khalid kepadaku.” Beliau lantas memberikan kain tersebut dan memakaikannya kepadanya. Setelah itu beliau bersabda: ‘Semoga tahan lama hingga Allah menggantinya dengan yang baru (panjang umur).’ Beliau kemudian melihat corak berwarna hijau atau kuning yang ada pada kain bersulam sutera tersebut, beliau bersabda: “Wahai Ummu Khalid, ini sanah, sanah.” Sanah adalah perkataan bahasa Habasyah yang berarti bagus.” (H.R. Bukhari No. 5375)

      Dikatakan bahwa Ummu Khalid saat itu masih kecil. Hal ini memang betul. Namun apakah kemudian ada indikasi larangan jika setelah dewasa kemudian menjadi terlarang mengenakan kain yang bersulam/bermotif??

      Dalam hadits lain :
      Anas bin Malik bahwa dia pernah melihat Ummu Kultsum r.ah. puteri Rasulullah s.a.w. mengenakan kain yang bersulam sutera.” (H.R. Bukhari No. 5394)

      Di sini Anas bin Malik yang melihatnya. Lagi-lagi bisa saja bagi yang cenderung menolak kain bersulam/bermotif akan mengatakan bahwa ketika itu Ummu Kultsum masih kecil. Saya belum mendapati ada keterangan dalam hadits maupun para sahabat yang hadir ketika itu menjelaskan mengenai tanggal atau tahun kapan Sabda ini diucapkan apakah benar saat Ummu Kultsum masih kecil?
      Mengenai Hadits :
      Telah menceritakan kepadaku Hubairah bin Yarim dari Ali, bahwa telah di hadiahkan pakaian yang terbuat dari sutera kepada Rasulullah s.a.w., yaitu yang panjang atau lebar kainnya dan bersulamkan sutera. Kemudian beliau mengirimnya kembali kepadaku, lantas kudatangi beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kuperbuat dengannya? Apakah aku boleh mengenakannya?” beliau menjawab: “Tidak, akan tetapi buatlah kerudung untuk Fatimah.” (H.R. Ibnu Majah No.3586)

      Di sini jelas Fatimah r.ah yang sudah menikah dengan Ali abi Abi Thalib yang mengenakan kain berenda sutera. Tapi bisa saja orang mempersepsikan bahwa itu hanya dikenakan Fatimah r.ah saat di dalam rumah saja atau di dalam tenda saja. Sekali pertanyaannya dari mana Anda memastikan itu hanya dipakai di dalam rumah saja dan di dalam tenda saja? Seakan akan ia hadir dan hidup menyaksikan suasana kehidupan di masa lalu? Sekali lagi, di sini ada ruang untuk berbeda pendapat. Dan sepanjang memiliki argumen dan dalil, masing-masing sah saja memahami makna dan maksud kata-kata berdasarkan keyakinan yang ada dalam dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s