BOLEHKAH TIDUR DI DALAM MASJID?

Tidur Di Masjid 03

BOLEHKAH TIDUR DI DALAM MASJID?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Dalam bulan puasa ini kita sering menjumpai orang tidur-tiduran di dalam masjid. Sementara pada zaman sekarang ini banyak masjid yang memasang pengumuman dilarang tidur di masjid. Sebagian orang juga mengatakan bahwa tidur di masjid membuat pemandangan tidak indah dan menampakkan Islam itu loyo dan lemah. Bagiamana sebenarnya hukum masalah ini? Apakah memang  tidur di masjid di larang dalam Islam?

Telah menceritakan kepada kami Sa’id? bin Al Mughirah telah menceritakan kepada kami Mu’tamir dari Daud bin Abu Hindun dari Abu Harb bin Abu Asad Ad Dili dari Pamannya dari Abu Dzar ia berkata, “Nabi s.a.w. datang kepadaku sementara saya sedang tidur di masjid, kemudian beliau mengoyang-goyangku menggunakan kakinya. Beliau berkata: “Kenapa aku melihat kamu tidur dalam masjid?” Aku lalu menjawab, “Aku terkalahkan oleh rasa kantuk.” (H.R. Darimi No. 1363)

Hadits di atas seolah mengisyaratkan bahwa Rasulullah s.a.w. melarang seseorang tidur di masjid

Beberapa sahabat pernah melarang seseorang untuk tidur-tiduran di masjid :

Dari Ibnu Abbas r.a. berkata; “Jangan kalian jadikan ia (masjid) sebagai tempat untuk tidur siang atau tidur malam.”

Abu Isa (Tirmidzi) berkata : “Sebagian ahli ilmu melarang orang tidur di masjid berdasarkan ucapan Ibnu Abbas tersebut “

Namun kita jumpai dalam berbagai hadits bahwa Rasulullah s.a.w. pernah tidur di masjid :

Telah bercerita kepada kami Isma’il berkata telah bercerita kepadaku saudaraku dari Sulaiman dari Syarik bin Abdullah bin Abu Namir, aku mendengar Anas bin Malik bercerita kepada kami tentang perjalanan malam isra’ Nabi s.a.w. dari masjid Kabah (Al Haram). Ketika itu, beliau didatangi oleh tiga orang (malaikat) sebelum beliau diberi wahyu, saat sedang tertidur di Masjidil Haram. (H.R. Bukhari No. 3305)

Beberapa sahabat juga pernah tidur di masjid, misalnya Ali bin Abi Thalib r.a. :

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abu Hazim dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa’d dia berkata; “Tidak ada nama (julukan) yang paling disukai Ali selain Abu Turab, dan dia sangat senang bila dipanggil dengan nama tersebut, suatu ketika Rasulullah s.a.w. datang ke rumah Fatimah, namun beliau tidak menjumpai Ali di rumahnya. Maka beliau bertanya; ‘Di manakah anak pamanmu? ‘ Fatimah menjawab; ‘Sebenarnya antara saya dan dia ada permasalahan, malah dia memarahiku. Setelah itu, ia keluar dan enggan beristirahat siang di sini.’ Lalu Rasulullah s.a.w  bersabda kepada seseorang; ‘Lihatlah, di manakah dia berada! ‘ Tidak lama kemudian, orang tersebut datang dan berkata; ‘Wahai Rasulullah, sekarang dia tengah tidur di masjid. (H.R. Bukhari No. 5808)

Demikian pula Ibnu Umar r.a. juga pernah tidur di masjid

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Salim dari Ibnu Umar ia berkata : “Pada masa Rasulullah s.a.w. kami tidur di masjid, sedang waktu itu kami masih muda.” (H.R. Tirmidzi No. 295 dan Ibnu Majah No. 473)

Abu Isa (Tirmidzi) berkata : “Hadits dari Ibnu Umar ini derajatnya hasan shahih. Sebagian ahli ilmu memberi keringanan untuk dibolehkannya tidur di masjid.”

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Dulu pada zaman Rasulullah s.a.w., kami biasa tidur dan istirahat di masjid, saat itu kami masih remaja.” (H.R. Ahmad No. 4378)

Demikian pula ketika Rasulullah s.a.w. mengakhirkan sholat Isya hingga tengah malam, para sahabat pun menungguh sholat Isya berjamaah sambil tidur di masjid :

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada saya Nafi’ telah menceritakan kepada saya Abdullah bin Umar bahwasanya pada suatu malam Rasulullah s.a.w. disibukkan dari Shalat Isya (karena persiapan perang), oleh karena itu beliau mengakhirkan pelaksanaannya, sehingga kami tidur di masjid, kemudian bangun, lalu tidur kembali, kemudian bangun, lalu tidur kembali, kemudian beliau keluar menemui kami seraya bersabda: “Tidak ada seorang pun yang menunggu shalat selain kalian.” (H.R. Abu Daud No. 171)

Bahkan telah termasyhur di kalangan ahli sejarah bahwa pada masa itu, di teras masjid Rasulullah s.a.w. terdapat sekelompok orang-orang miskin yang tidak memiliki tempat tinggal dan mereka tinggal serta tidur di teras masjid. Mereka dikenal dengan sebutan “ahlu shufah” yang kemudian sekarang disebut dengan “sufi”.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad Ibnul Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam ia berkata; telah menceritakan kepadaku Bapakku dari Yahya bin Abu Katsir ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dari Ya’isy bin Thakhfah bin Qais Al Ghifari ia berkata, “Bapakku termasuk ahli suffah.” Rasulullah s.a.w.lalu bersabda: “Jika kalian mau silahkan menginap (di sini), dan jika mau silahkan tidur di dalam masjid.” Perawai berkata, “Ketika aku tidur dalam masjid dengan telungkup, tiba-tiba di waktu sahur seseorang membangunkan aku dengan kakinya. Laki-laki itu berkata, “Ini adalah cara tidur yang dibenci oleh Allah.” Aku lalu melihatnya, dan ternyata laki-laki itu adalah Rasulullah s.a.w.” (H.R. Abu Daud No. 4383) Abu Daud menyatakan hadits ini shahih.

Hadits di atas menceritakan bapaknya Abu Salamah bin ‘Abdurrahman (Abdurrahman bin ‘Auf) yaitu Thakhfah bin Qais Al Ghifari r.a. termasuk ahlu shufah yang tinggal dan tidur di masjid.

Dan Abu Hurairah adalah salah satu dari “ahlu shufah” yang tinggal dan tidur di masjid :

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah menceritakan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya Sa’id bin Al Musayyab dan Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwa Abu Hurairah r.a. berkata; “ saudara-saudaraku dari kalangan Anshar mereka disibukkan dengan pekerjaan mereka dalam mengurus harta mereka, sedangkan aku (Abu Hurairah) saat itu adalah salah satu orang miskin dari kalangan orang-orang miskin Ahlush Shuffah sehingga aku dapat mengingat hadits saat mereka lupa, (H.R. Bukhari No. 1906)

Telah menceritakan kepada kami Hannad telah menceritakan kepada kami Yunus bin Bukair telah menceritakan kepadaku Umar bin Dzarr telah menceritakan kepada kami Mujahid dari Abu Hurairah berkata: Ahlush shuffah adalah tamu-tamu orang Islam, mereka tidak punya tempat untuk menempatkan keluarga dan harta mereka. Demi Allah yang tidak ada Ilah selainNya, dulu pernah kubungkukkan badanku sambil duduk di atas tanah karena lapar dan aku mengikatkan batu diperutku.. (H.R. Tirmidzi No. 2401) Berkata Abu Isa (Tirmidzi) : Hadits ini hasan shahih.

Pada masa remaja dan belum menikah, Ibnu Umar tinggal di masjid Rasulullah s.a.w.

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari ‘Ubaidullah berkata, telah menceritakan kepadaku Nafi’ berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Abdullah bin ‘Umar, bahwa ia pernah tidur di masjid Nabiss.a.w.saat dia masih pemuda lajang dan belum punya keluarga.”(H.R. Bukhari No. 421 Nasa’i No. 714 Darimi No. 1364)

Shafwan bin Umayyah ia berkata, “Aku tidur di dalam masjid  (H.R. Abu Daud No. 3819 Ahmad No. 14771)

Telah menceritakan kepadaku Farwah bin Abu Al Maghra’ telah mengabarkan kepada kami ‘Ali bin Mushir dari Hisyam dari bapaknya dari ‘Aisyah r.ah. berkata : “Sejak saat itu hamba sahaya itu mendapat tempat tinggal berupa kemah atau gubuk di masjid”. Ia (Aisyah) berkata : “Maka ia biasa mendatangiku dan berbicara denganku”. (H.R. Bukhari No. 3548)

Ibnu Hajar Asqolani menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa maksudnya hamba sahaya itu tinggal menetap dalam masjid. Hadits ini menunjukkan bolehnya bermalam dan tidur siang di masjid bagi kaum muslimin yang tidak memiliki tempat tinggal baik laki-laki maupun perempuan jika aman dari fitnah. Boleh bernaung di dalam masjid dengan mendirikan kemah atau semacamnya.” (Fathul Bari Jilid 3 Hal. 178)

Pendapat Para Imam Mahzhab

Ibnu Hajar Asqolani ketika menjelaskan tentang hadits-hadits di atas menuliskan : Bab tidurnya laki-laki di masjid (pada kitab jami’ shahih bukhari) menunjukkan bolehnya perbuatan tersebut (yaitu tidur di masjid). Tapi ada pendapat Ibnu Abbas r.a. bahwa hukum perbuatan tersebut (yaitu tidur di masjid) makruh (dibenci atau tidak disukai) kecuali bagi mereka yang hendak shalat. Sedangkan Ibnu Mas’ud r.a. menyatakan makruh secara total (dalam semua kondisi). Sedangkan Imam Malik (Madzhab Maliki) membedakan antara orang yang memiliki rumah dan yang tidak. Bagi mereka yang memiliki rumah maka makruh tidur di masjid. Adapun yang tidak memiliki rumah atau tempat tinggal, boleh tidur di masjid. (Fathul Bari Jilid 3 hal 180)

Tentu saja dengan catatan semua hadits di atas mengisahkan mereka masih lajang, maka tidak boleh suami isteri tinggal di dalam masjid atau di teras masjid walaupun tidak memiliki rumah atau tempat tinggal.

Tidur Di Masjid Di Luar Waktu Tidur

Hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya tidur di masjid tidak bisa dipukul rata pada semua kondisi dan semua keadaan. Perlu dicermati bahwa hadits di atas sebagian besar menceritakan bahwa tidur di masjid itu dilakukan di waktu tidur yaitu malam. Rasulullah s.a.w. ketika tidur di masjidil haram ketika peristiwa Isra’ Mi’raj memang tidur di malam hari. Demikian pula hadits Ibnu Umar yang tidur di masjid terjadi pada malam hari.

Demikian pula kisah sahabat-sahabat yang memang tinggal di masjid sebagai ahlul shufah, mereka tidur di waktu tidur dan tidak berarti bahwa mereka tidur-tiduran terus di masjid walaupun di waktu siang yang seharusnya orang-orang bekerja atau memiliki kegiatan.

Maka tidur di waktu siang atau di saat orang seharusnya berkegiatan menunjukkan kemalasan. Sehingga tidur-tiduran di masjid pada jam-jam produktif di mana seseorang seharusnya berkeja atau memiliki kegiatan, boleh saja dilarang.

Hal ini sering terjadi di bulan ramadhan dimana para pegawai yang seharusnya bekerja pada jam-jam kerja kemudian malah tidur-tiduran di masjid. Pertama mereka telah korupsi waktu dan melalaikan amanah sebagai pegawai, karena mereka digaji untuk bekerja, dan bukan untuk tidur-tiduran.

Kecuali jika tiduran di masjid itu dilakukan pada saat jam istirahat maka itu boleh-boleh saja sebagaimana hadits tentang Ali bin Abi Thalib r.a. yang tidak menceritakan kapan kejadiannya dan kemungkinan di siang hari.

Ibnu Hajar Asqolani menambahkan dalam syarah hadits Bukhari menuliskan : “Hadits dari Sahl bin Sa’ad (yang menceritakan Ali tidur di masjid)  memuat faidah antara lain ialah bolehnya istirahat siang di masjid”  (Fathul Bari Jilid 3 hal 181)

Perlu dipahami bahwa bangsa Arab ketika itu memiliki tradisi tidur siang setelah shalat zhuhur, karena panasnya cuaca gurun pasir di siang hari. Dengan demikian cerita Ali bin Abi Thalib r.a. tidur di masjid di siang hari ini pun masih dalam konteks waktu tidur. Sedangkan di luar waktu tidur tentunya para sahabat memiliki aktifitas dan bukan tidur-tiduran santai di masjid.

Jika para pemuda Islam di pagi dan siang hari tidur-tiduran di masjid padahal seharusnya mereka bisa bekerja dan melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat maka boleh saja pengurus masjid menegur dan melarangnya bukan karena tidak boleh tidur di masjid melainkan karena bukan saat nya untuk tidur.

Wallahua’lam

About these ads

One thought on “BOLEHKAH TIDUR DI DALAM MASJID?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s