PUASA SYAWAL DAN QODHO PUASA WAJIB

PUASA SYAWAL DAN QODHO PUASA WAJIB

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Telah sampai kepada kami pertanyaan mengenai apakah benar puasa sunnah bulan Syawal tidak boleh dilakukan sebelum dibayar hutang puasa ramadhannya? Dengan pertimbangan bahwa yang wajib lebih utama untuk dilaksanakan sebelum melaksanakan yang sunnah.

Sebagaimana sama-sama diketahui bahwa puasa sunnah bulan syawal itu memiliki keutamaan yang luar biasa, dimana orang yang berpuasa ramadhan kemudian dilanjutkan dengan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal sama pahalanya dengan puasa setahun penuh

Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ja’far telah mengabarkan kepadaku Sa’d bin Sa’id bin Qais dari Umar bin Tsabit bin Harits Al Khazraji dari Abu Ayyub Al Anshari radliallahu ‘anhu, bahwa ia telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Siapa yang berpuasa Ramadlan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa sepanjang masa” (H.R. Muslim No. 1984 Abu Daud No. 2078, Tirmidzi No. 690, Ibnu Majah No. 1706 Ad-Darimi No.1689 dan Ahmad)

Ibnu Al-Mubarak mengatakan : “Telah diriwayatkan di sebagian hadits, bahwa puasa ini lanjutan dari puasa Ramadlan, Ibnu Mubarak memilih dan lebih menyukai berpuasa enam hari di awal bulan berturut-turut namun tidak mengapa jika ingin berpuasa enam hari tidak berurutan”. 

Sementara itu ada orang yang mengatakan tidak sah puasa sunnah jika belum mengqadha puasa ramahdhannya adalah berdasarkan hadits ini :

Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Abu Al Aswad dari Abdullah bin Rofi’ dari Abu Hurairah dari Rasulullah s.a.w., beliau bersabda: “Barangsiapa mendapati ramadhan sedangkan ia masih memilki tanggungan ramadhan yang belum ia qadha`, maka Allah tidak akan menerima puasa ramadhannya, dan barangsiapa berpuasa sunnah padahal ia masih memiliki tanggungan ramadhan yang belum ia qadha`, maka Allah tidak akan menerima puasanya sehingga ia meng-qadha-nya.” (H.R. Ahmad No. 8267) 

Salah seorang perawinya adalah Ibnu Lahi’ah dimana Muhammad bin Sa’d dan Adz-Dzahabi mengatakan ia adalah perawi dla’if. Sedangkan Abu Zur’ah mengatakan ia laa yadlbuth (tidak kuat) sedangkan Al-Hakim mengatakan dzahibul hadits. Walaupun demikian Abu Lahi’ah dikatakan oleh Ibnu Hajar Asqolani sebagai orang yang shaduuq (jujur) dan ia adalah salah seorang perawi hadits muslim.

Namun hadits di atas bertentangan dengan hadits yang lebih kuat mengenai qadha puasa ramadhan kita jumpai riwayat dari Aisyah yang menyatakan :

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Yahya dari Abu Salamah berkata; Aku mendengar ‘Aisyah r.ah. berkata: “Aku berhutang puasa Ramadhan dan aku tidak bisa mengqadha’nya kecuali pada bulan Sya’ban”. (H.R. Bukhari No. 1814)

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sa’d bin Al Hakam dia berkata; pamanku telah menceritakan kepada kami, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Yazid, Ibnul Had menceritakan kepadanya, bahwasanya Muhammad bin Ibrahim menceritakan kepadanya dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dari ‘Aisyah dia berkata : “Sungguh salah seorang dari kami (istri Nabi s.a.w. ) pernah berbuka pada bulan Ramadlan, kemudian tidak sanggup untuk mengqadhanya hingga masuk bulan Sya’ban”. (H.R. Nasa’i No. 2149)

Pada hadits di atas Aisyah menyatakan bahwa ia tidak biasa mengqadha puasa ramadhannya kecuali pada bulan Sya’ban. Sementara kita tidak yakin bahwa gara-gara baru dapat mengqadha hutang puasa wajibnya pada bulan Sya’ban, lantas pada tahun itu Aisyah tidak melaksanakan puasa sunnah bulan syawal, mengingat puasa sunnah bulan di syawal itu sangat besar. Demikian pula rasanya tidak mungkin gara-gara belum bisa meng-qadha puasa ramadahannya sampai bulan Sya’ban maka sepanjang tahun Aisyah r.ah. tidak melaksanakan puasa sunnah lainnya seperti ayyamul bidh dan puasa senin kamis.

Maka pendapat yang lebih kuat adalah hal ini tidak mengapa jika melaksanakan puasa sunnah sementara hutang puasa ramadhan belum di-qadha. Adapun jika memang hutang puasa ramadhannya hanya sedikiit (misal 3 hari saja) sementara bulan syawal masih panjang, memang alangkah baiknya jika dibayar hutang puasa ramadhannya dulu. Namun jika baru sempat berpuasa di akhir bulan syawal , maka boleh puasa syawal dulu dan meng-qadha ramadhan setelah syawal. Karena jika tidak, momentum puasa syawal itu akan lewat.

Wallahua’lam

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s