APAKAH NABI ISA (YESUS) MASIH HIDUP ATAU WAFAT?

APAKAH NABI ISA (YESUS) MASIH HIDUP ATAU WAFAT?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Yesus Hidup Atau Wafat 02

Umat Islam dan seluruh ulama muslim sepakat bahwa Nabi Isa alaihis salam (Yesus) tidak disalib. Keyakinan ini bersumber dari ayat Al-Qur’an sebagai berikut :

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 157)

Sesungguhnya yang disalib adalah salah satu muridnya yang berkhianat bernama Yudas Iskariot, yang diserupakan wajahnya oleh Allah menyerupai wajah Nabi Isa a.s. Sejarawan Ibnu Ishaq mengisahkan sebuah kisah bahwa yang diserupakan adalah orang bernama Sarjis. Sedangkan Yudas Iskariot adalah murid Nabi Isa a.s. yang menjual informasi kepada tentara Romawi dan menunjukkan rumah tempat berkumpulnya Nabi Isa a.s. (Yesus) bersama 12 orang muridnya.

Adapun Umat Nasrani modern pada saat ini memiliki keyakinan bahwa Nabi Isa a.s. (Yesus) telah wafat di kayu salib. Namun sesungguhnya dalam sejarah keyakinan kristiani, masalah penyaliban Nabi Isa a.s. (Yesus) ini mengalami proses selisih paham dan keragu-raguan. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Al-Qur’an :

Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 157)

Mengenai kontroversi seputar penyaliban Nabi Isa a.s. (Yesus) ini akan kita bahas pada tulisan yang lain. Insya Allah.

Jika Nabi Isa a.s. tidak wafat di tiang salib, lantas kemana kah beliau? Dalam Al-Qur’an dijelaskan :

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya (rafa’ahullah ilaihi). Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 158)

Berdasarkan ayat di atas ulama tafsir mengatakan bahwa Nabi Isa a.s. (Yesus) tidak wafat di kayu salib melainkan diangkat oleh Allah ke sidratul muntaha (langit ke tujuh). Perkataan “raf’u” bisa berarti mengangkat secara fisik dapat pula secara non-fisik. Oleh karena itulah sebagian ulama memahami nya bahwa Nabi Isa a.s. (Yesus) diangkat dalam bersama fisiknya dan sebagian lagi berpendapat yang diangkat adalah ruh nya saja. Jika Yang diangkat adalah bersama fisiknya, berarti Beliau diangkat dalam keadaan hidup-hidup. Sedangkan jika yang diangkat adalah ruh nya saja, berarti sudah pasti Beliau diwafatkan terlebih dahulu. Namun Al-Maraghi berpendapat bahwa yang diangkat bukan ruhnya, melainkan yang dimaksud adalah diangkat derajatnya.

Persoalannya adalah dalam ayat Al-Qur’an yang lain, Allah berfirman yang artinya :

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mutawaffika) dan mengangkat kamu kepada-Ku (waroofi’uka) (Q.S. Ali Imran [3] : 55)

Oleh karena ada ayat di atas menyebutkan “mutawaffika” yang artinya akan Kami wafatkan kamu, maka berarti Nabi Isa a.s. telah di-wafat-kan. Sedangkan pada Q.S. An-Nisaa’ [4] : 158 dikatakan “rafa’ahullah ilaihi” yang artinya Kami telah mengangkatnya (isa) kepada Nya (Allah). Jadi sebagian ulama berpendapat Nabi Isa a.s. diangkat ke langit dalam keadaan telah diwafatkan terlebih dahulu dan yang naik ke langit adalah ruhnya. Adapun kelak Allah akan menghidupkannya kembali dan diturunkan ke bumi.

Pendapat Bahwa Nabi Isa Sempat Diwafatkan Sebelum Diangkat ke Langit

Ali ibnu Abu Thalhah meriwayatkan bahwa Ibnu Abba r.a. menyatakan arti dari “mutawaafika” dalam ayat ini adalah “mematikan / mewafatkan kamu”. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 hal 388)

Al-Alusi dalam Ruhul Ma’ani mengatakan bahwa “mutawaafika” dalam ayat ini artinya adalah “mustaufi ajalika” yaitu menyempurnakan ajal mu agar tidak sampai dikuasai atau tertangkap oleh musuh.

Muhammad Ibnu Ishaq menafsirkan ayat meriwayatkan dari Wahb Ibnu Munabih bahwa Allah mewafatkan Nabi Isa a.s. selama 3 jam (saat peristiwa penyaliban) dan setelah itu Allah mengangkatnya ke langit. Sedangkan Ishaq ibnu Bisyir meriwayatkan dari Idris dari Wahb Ibnu Munabih bahwa Allah mewafatkan Nabi Isa a.s. selama 3 hari dan setelah itu Allah mengangkatnya ke langit.

Ibnu Jarir mengungkapkan sebuah atsar telah menceritakan kepada kami Ishaq telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abdul Karim, telah mencertakan kepada kami Abdush Shomad bin Ma’qal, ia pernah mendengar Wahb menceritakan bahwa Isa Ibnu Maryam ketika diberitahu oleh Allah akan diangkat dari dunia ini, maka gelisahlah hatinya akan kematian dan berita itu teraa berat baginya (Tafsir Ibnu Katsir Juz 6 Hal 26)

Dari atsar ini diketahui bahwa ketika Allah memberitahukan kepada Nabi Isa a.s. : Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mutawaffik) dan mengangkat kamu kepada-Ku (waroofi’uk) (Q.S. Ali Imran [3] : 55) Maka Nabi Isa a.s. memahami bahwa dirinya akan diwafatkan namun mengetahui rencana Allah bahwa yang disalib bukanlah Nabi Isa a.s. melainkan seseorang yang akan diserupakan dengan Beliau.

Pada Q.S. An-Nisaa’ Allah memberitahukan bahwa orang Romawi tidak membunuh dan tidak menyalib Nabi Isa a.s. Ayat ini tidak menunjukkan bahwa Nabi Isa a.s. kemudian tidak pernah wafat. Mungkin timbul kerancuan seolah perkataan “tidak membunuhnya” ini menunjukkan bahwa Nabi Isa a.s. tidak pernah diwafatkan sama sekali sampai ketika Beliau diangkat ke langit oleh Allah.

Pendapat Bahwa Nabi Isa Tidak Diwafatkan Dan Diangkat ke Langit Dalam Keadaan Hidup

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid bahwa mereka (Kaum Yahudi) telah menyalib orang yang diserupakan dengan wajah Nabi Isa a.s. sedangkan Nabi Isa a.s. telah diangkat ke langit oleh Allah dalam keadaan hidup. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 6 Hal 31)

Ibnu Katsir termasuk orang yang membenarkan pendapat ini : “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Isa a.s. kepadaNya dan kini ia masih dalam keadaan hidup dan kelak sebelum kiamat terjadi ia akan diturunkan” (Tafsir Ibnu Katsir Juz 6 hal 36).

Pendapat bahwa Nabi Isa a.s. diangkat ke langit dalam keadaan masih hidup karena Beliau kelak akan diturunkan sebelum akhir zaman dan baru benar-benar diwafatkan.

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya.. (Q.S. An-Nisaa [4] : 159)

Dan Nabi Isa a.s. baru akan benar-benar wafat setelah turun ke bumi, kemudian memecahkan salib dan membunuh babi, serta menjadi hakim selama 40 tahun, di bawah pemerintahan Imam Mahdi, baru kemudian Beliau wafat dan disholatkan oleh kaum muslimin. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits :
Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda “…Isa akan tinggal (di bumi) selama 40 tahun, kemudian ia wafat dan dishalatkan oleh kaum muslimin” (H.R. Ahmad)

Qatadah mengatakan bahwa ungkapan dalam ayat ini (Q.S. Ali Imran [3] : 55) adalah ungkapan muqaddam sekaligus muakhkhar yaitu lebih dahulu mengungkapkan peristiwa yang akhir dan baru mengungkapkan peristiwa yang sebelumnya. Maksud sebenarnya adalah “Sesungguhnya Aku (Allah) akan mengangkatmu kepadaKu setelah itu Aku akan mewafatkanmu yaitu setelah diangkat. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 Hal 388)

Sedangkan Matar Al-Waraq menjelaskan bahwa istilah mutawaafika” dalam ayat ini artinya adalah “mengangkat” sama dengan perkataan “rafa’a”. Sehingga Nabi Isa a.s. sama sekali belum pernah diwafatkan oleh Allah dan langsung diangkat oleh Allah dalam keadaan hidup.

Adapun Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kebanyakan ulama mengatakan bahwa istilah mutawaafika” berasal dari kata “yatawaffa” yang artinya membuat tidur. Hal ini berdasarkan kata yatawafa dalam ayat lain yang bermakna tidur

dan Dialah yang menidurkan kamu (yatawaffakum) di malam hari ….”(QS. Al An’am [6] : 60)

Kata “yatawaffa” juga berarti memegang atau mengambil jiwa seseorang

Allah memegang jiwa orang (Allahu yatawaffa al- anfusahiina) ketika matinya….”(QS. Al Zumar [39] : 42)

Ibnu Abi Hatim meriawayatkan dari Ayahnya yang berkata : Telah menceritakan kepada kami Ahmad Ibnu Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnu Abu Ja’far dari ayahnya, dari Ar-Ra’bi ibnu Anas dari Al Hasan bahwa sehubungan dengan firman Allah : Sesungguhnya Kami akan mewafatkan kamu (Q.S. Ali Imran [3] : 55) maksudnya adalah wafat dalam pengertian tidur. Dan Allah mengangkatnya dalam keadaaan tertidur. Kemudian Al-Hasan mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada orang Yahudi “Sesungguhnya Isa itu belum mati dan sesungguhnya ia akan kembali kepada kalian sebelum kiamat”.

Di sini diambil kesimpulan bahwa pendapat yang rajih (kuat) terkait tafsir Q.S. Ali Imran [3]:55 (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyelamatkan kamu dengan menidurkan kamu (mutawaffika) kemudian mengangkat mu ke langit…

Ialah Allah menidurkan atau membuat pingsan Nabi Isa a.s. kemudian Allah mengangkatnya ke langit (dalam keadaan hidup) untuk menyelamatkan dari tentara Romawi yang hendak menangkapnya. Maka ketika tentara Romawi hendak menangkapnya yang ditemukan adalah 12 orang hawariyyun (murid / sahabat Nabi Isa .a.s) dan salah satunya di situ ada yang diserupakan wajahnya dengan Nabi Isa (mungkin Yudas atau Sarjis).

Dan menuru keyakinan para ulama, kini Nabi Isa a.s. masih dalam keadaan hidup di sidratul muntaha (langit ke tujuh) dengan mendapatkan rezeki dari sisi Allah dan kelak akan diturunkan kembali ke bumi sebelum kiamat besar (qiyamah kubro). Setelah itu Nabi Isa akan mematahkan salib dan membunuh babi dan akan hidup selama 40 tahun sampai kemudian Allah mewafatkannya dan disholatkan oleh umat Islam sebagaimana dijelaskan oleh ayat berikut :

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab (Nasrani dan Yahudi), kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya(qobla mautihi) ….”(QS. An-Nisaa’ [4] : 159)

Perkataan qobla mautihi pada ayat di atas adalah Nabi Isa a.s. baru benar-benar diwafatkan oleh Allah nanti setelah turun kembali ke bumi dan hidup 40 tahun di bumi sebagaimana telah dijelaskan pada hadits sebelumnya.

Wallahua’lam bi showab.

Artikel terkait :

Apakah Nabi Isa (Yesus) Mengetahui Datangnya Hari Kiamat

APAKAH NABI ISA (YESUS) MENGETAHUI DATANGNYA HARI KIAMAT?

APAKAH NABI ISA (YESUS) MENGETAHUI DATANGNYA HARI KIAMAT?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Yesus Akan Datang

Salah satu ayat yang menjadi  ujian bagi umat Islam adalah Q.S. Az-Zukhruf [43] : 61. Arti ayat ini sering diplesetkan sebagai berikut : “Dan sesungguhnya Isa (Yesus) itu benar-benar mengetahui tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu (dengan Yesus)  dan ikutilah Aku (Yesus). Inilah shirothol mustaqim (jalan yang lurus)”.

Dikatakan menjadi ujian karena ayat ini sering digunakan sebagian misionaris untuk memurtadkan umat Islam. Menjadi ujian karena bimbang lah hati umat Islam yang awam. Kalau benar Nabi Isa (Yesus) itu mengetahui tentang kapan datangnya kiamat, maka sungguh luar biasa Yesus itu, karena Nabi Muhammad s.a,w, saja mengatakan tidak tahu mengenai kapan datangnya kiamat.

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. (Q.S. Al-A’raf [7] : 187)

Benarkah arti ayat itu demikian ? Jika benar seperti itu berarti Allah SWT tidak konsisten, karena pada surat yang sama pada ayat yang lain Allah menyatakan hanya Allah sajalah yang mengetahui kapan kiamat tiba.

di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan (Q.S. Az-Zukhruf [43] : 85)

Maka para misionaris pun membantah : “Ooh tidak bertentangan kok”. Mengapa Yesus mengetahui kapan datangnya kiamat? Tentu saja, karena Yesus itu adalah Tuhan itu sendiri. Sehingga ia mengetahui kapan datangnya kiamat. Maka ayat di atas sering dipakai sebagai hujjah bagi non-muslim untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an pun meng-amini konsep ketuhanan Yesus.

Lebih celaka lagi bunyi ayat selanjutnya diplintir seolah artinya adalah : jangan ragu-ragu mengikuti Yesus dan ikutilah dia. Kemudian Yesus lah sesungguhnya shiroothol mustaqim (jalan yang lurus). Padahal selama ini umat Islam selalu membaca Surah Al-Fatihah dalam sholatnya yang mengatakan bahwa kita harus mengikuti shiroothol mustaqim (jalan yang lurus).

Maka seolah-olah ayat ini sangat telak mengugkapkan bahwa Yesus mengetahui kapan datangnya hari kiamat karena ia adalah Tuhan itu sendiri, dan janganlah ragu dengan Yesus, maka ikutilah Yesus karena dia lah yang dimaksud sebagai shiroothol mustaqiim (jalan yang lurus) dimana umat Islam selama ini selalu menyebutnya di dalam shalat.

Tidak seperti yang disangkakan oleh sebagian orang yangs sengaja memelintir ayat  Al-Qur’an Arti yang benar dari Q.S. Az-Zukhruf [43] : 61 adalah “Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberi pengetahuan (mengajarkan keimanan )tentang saa’ah (hari kiamat). Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku (Allah). Inilah shiroothol mustaqim jalan yang lurus

Sahabat Nabi s.a.w. yaitu Ibnu Abbas r.a. ketika menafsirkan ayat di atas mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “saa’ah”  adalah saat sebelum kiamat besar dimana Nabi Isa a.s. akan turun ke muka bumi.

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat di atas menjelaskan : bahwa yang dimaksud “karena itu janganlah kalian ragu tentangnya”, maksudnya adalah ragu tentang peristiwa diturunkannya Nabi Isa a.s. saat sebelum kiamat, karena peristiwa itu pasti terjadi. (Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Juz 25 hal 281)

Dalam hadits Nabi s.a.w. dikatakan bahwa Nabi Isa a.s. akan diturunkan ke muka bumi ini untuk kedua kalinya yaitu sebelum hari kiamat untuk membunuh Dajjal.

“Akan muncul Dajjal di tengah-tengah umatku…. Lalu Allah SWT mengutus Isa ibnu Maryam, seolah-olah dia itu Urwah bin Mas’ud, lalu mencari Dajjal, lantas membunuhnya.” (H.R. Muslim)

Al-Qur’an pun menyatakan bahwa Isa akan turun ke muka bumi sebelum kiamat :

Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (Q.S. An-Nisaa [4] : 159

Ayat yang menyatakan bahwa “Isa (Yesus) akan menjadi saksi pada hari kiamat” juga sering dipelintir oleh sebagian misionaris dengan mengatakan bahwa Yesus akan turun pada hari Pantekosta untuk menuai (memanen) yaitu memilih orang-orang yang percaya pada Yesus (sebagai Tuhan). Maka pada hari itu, siapa yang tidak percaya pada Yesus akan celaka.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan menjadi saksi ialapada waktu kiamat adalah seperti dijelaskan pada Q.S. Az-Zukhruf [43] : 63:

Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: “Sesungguhnya aku (Isa) datang (turun ke bumi) kepadamu dengan membawa hikmat

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “hikmat” pada ayat tsb yaitu nikmat kenabian dan untuk menjelaskan apa-apa yang selama ini kamu perselisihkan”. Ibnu Jarir menjelaskan : “hikmata yaitu perkara-perkara agama dan bukan perkara keduniawian”. (Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Juz 25 hal 282)

Dalam hadits dijelaskan bahwa maksud turunnya Isa bin Maryam a.s. ke bumi adalah :

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kemudian Isa bin Maryam akan menjadi seorang hakim yang adil dikalangan ummatku dan seorang pemimpin yang bijaksana, ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah dan menyuburkan sedekah,… (H.R. Ibnu Majah No. 4067)

Al-Qur’an menjelaskan bahwa setelah penjelasan Nabi Isa a.s maka akan menjadi jelaslah keyakinan yang salah dan keyakinan yang benar. Kaum Nasrani semua nya akan beriman masuk Islam sebelum kiamat, karena Nabi Isa (Yesus) akan menjelaskan kesalahan dari aqidah Nasrani yang menganggap dirinya sebagai Tuhan yang mati di tiang salib

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya.. (Q.S. An-Nisaa [4] : 159)

Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “ikutilah jalan Ku yaitu Shiroothol Mustaqiim (jalan yang lurus)” sebagai berikut : Jalan yang lurus maksudnya adalah peribadatan semata kepada Allah, dan janganlah mengikuti persangkaan orang Nasrani yang mempertuhankan Yesus. Hal ini sebagaimana pada ayat selanjutnya :

Sesungguhnya Allah, Dialah (yaitu Allah) Tuhanku (Tuhannya Yesus) dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia (Allah), ini lah shirothool mustaqim (jalan yang lurus). (Q.S. Az-Zukhruf [43] : 64)

Ayat ini menjelaskan orang yang ingin memelesetkan dan mempelintir ayat sebelumnya (Q.S. Az-Zukhruf [43] : 61) bahwa yang dimaksud dengan shiroothol mustaqim adalah Isa (Yesus). Maka Allah telah memperingatkan pada satu ayat sebelumnya :

Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu(Q.S. Az-Zukhruf [43] : 63)

Maka orang yang mengikuti persangkaan yang dibisikkan setan berselisih dan mengungkapkan teori-teori ke-tuhan-an yang menyimpang karena mengira bahwa Isa (Yesus) itu Tuhan itu sendiri yang menjelma menjadi anak manusia.

“Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka “ (Q.S. Az-Zukhruf [43] : 65)

Hal ini lah yang terjadi pada abad pertengahan, ketika Kaisar Agustinus melalui konsili Nicea memaksakan doktrin “ketuhanan Yesus”. Maka sebagan dari kaum Nasrani mempertahankan ke-esa-an Allah dan tidak mau menuhankan Yesus. Mereka ini disebut golongan Unitarian. Mereka kemudian dicap sebagai kelompok yang sesat, karena berlawanan dengan doktrin Kristen versi Pemerintah Romawi ketika itu. Kebanyakan dari mereka kemudian melarikan diri ke Timur Tengah dan Afrika. Mereka ini kemudian dikejar dan dibunuh oleh tentara Romawi dan apabila tertangkap dijadikan makana singa dalam ajang Gladiator di Roma. Untuk melindungi aqidahnya yang masih murni meng-esakan Allah, mereka menyembunyikan salinan-salinan Taurat dan Injil yang asli. Dokumen inilah yang kemudian ditemukan oleh para arkeolog pada masa kini. Salah satunya adalah manuskrip yang ditemukan di Wadi Qumran.

Wallahua’lam

 

SHALAT ‘ID DI MASJID ATAU LAPANGAN? (JILID 2)

SHALAT ‘ID DI MASJID ATAU LAPANGAN? (JILID 2)

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

PERIHAL JAUHKANLAH WANITA HAID DARI MUSHOLLA (TEMPAT SHOLAT)

Sebagian orang yang berpendapat shalat hari raya harus di masjid berdalil dengan mengatakan bahwa terbukti shalat hari Raya tidak boleh dihadiri oleh wanita yang sedang haid, sehingga ini menunjukkan bahwa shalat waktu itu bukan di lapangan melainkan di masjid sebagaimana hadits berikut :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah berkata, telah memberitakan kepada kami Sufyan dari Ayyub dari Ibnu Sirin dari Ummu Athiah ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Keluarkanlah para wanita-wanita belia (gadis) dan wanita berhijab untuk menghadiri shalat ied dan do`a kaum muslimin. Dan jauhkanlah wanita haid dari musholla. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1298)

Maka perkataan “jauhkan wanita haid dari tempat shalat” sama sekali tidak menunjukkan bahwa shalat tersebut dilaksanakan di masjid. Karena dalam hadits lain jelas disebutkan bahwa termasuk wanita haid diminta hadir untuk mendengar khutbah, menyaksikan perayaan, namun mereka tidak ikut shalat karena wanita haid dalam keadaan hadats besar, dan dilarang ikut melaksanakan shalat.

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ayyub, Yunus, Habib, Yahya bin ‘Atiq dan Hisyam di riwayat yang lain, dari Muhammad bahwa Ummu ‘Athiyah berkata : “Rasulullah s.a.w. memerintahkan kami menyuruh keluar para wanita yang terpingit dalam rumah untuk keluar pada hari raya ‘Id, lalu di tanyakan; “Bagaimana dengan wanita haid?” beliau bersabda; “Hendaknya ia menyaksikan kebaikan pada hari itu dan juga do’a dari kaum Muslimin.” (H.R. Abu Daud No. 961)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Muhammad dari Ummu ‘Athiyah seperti hadits ini, katanya; “Hendaklah wanita haidh agak menjauh dari tempat shalat kaum Muslimin…”

Telah menceritakan kepada kami An Nufaili telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami ‘Ashim Al Ahwal dari Hafshah binti Sirin dari Ummu ‘Athiyah dia berkata; “Kami di perintah …” seperti hadits ini, katanya; “Hendaknya wanita-wanita berada di belakang orang-orang dan bertakbir bersama mereka.”

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid yaitu Ath Thayalisi dan Muslim keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ishaq bin ‘Utsman telah menceritakan kepadaku Isma’il bin Abdurrahman bin ‘Athiyah dari neneknya yaitu Ummu ‘Athiyah lalu dia berkata; “Aku adalah utusan Rasulullah s.a.w. kepada kalian, beliau memerintahkan kami untuk menyuruh keluar wanita yang sedang haidh dan para hamba sahaya pada dua hari raya” (H.R. Abu Daud No. 962)

Maka perintah agar wanita menjauhi tempat shalat maksudnya adalah sekadar menjauh saja dan berada di tepi orang yang shalat, namun dibolehkan hadir di situ. Maka hal ini menunjukkan bahwa shalat ‘Id tidak dilaksanakan di masjid, karena seandainya shalat dilaksanakan di masjid, tentu wanita haid tidak diminta hadir.

Perintah bahwa wanita yang haid hendaklah menjauh dari musholla, maka sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya di atas, bahwa istilah musholla di sini bukanlah bangunan tempat sholat atau masjid, melainkan adalah tanah lapang yang dipakai untuk sholat. Hal ini sebagaimana dijelaskan pada hadits yang telah kami sebutkan sebelumnya :

Nafi’ dari Ibnu Umar berkata, “Di pagi menjelang siang Rasulullah s.a.w. keluar saat hari shalat id, membawa tombak kecil (untuk sutrah). Ketika sampai di tempat musholla, tombak kecil itu ditancapkan di antara beliau dan hadapannya lalu beliau shalat ke hadapannya. Dan itu karena tanah musholla adalah tempat yang terbuka dan tidak ada apapun yang menutupinya (atau untuk dijadikan sutroh). ” (H.R. Ibnu Majah No. 1294)

Maka perkataan musholla (tempat sholat) di sini bukanlah masjid melainkan lapangan karena ada keterangan bahwa ia adalah tempat terbuka yang tidak tertutup apapun.
Maka perkataan Dan jauhkanlah wanita haid dari musholla. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1298) maksudnya adalah agar agak menjauh dari lapangan yang dipakai sebagai tempat shalat ‘Id.

HADITS YANG MENGISYARATKAN SHALAT DI LAPANGAN

Kelompok yang berpendapat bahwa shalat hari raya harus di lapangan berdalil berdasarkan hadits-hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. bersama kaum muslimin melaksanakan shalat hari raya di lapangan :

Dari Al-Baraa’ r.a. berkata : “Nabi s.a.w. keluar pada hari ‘Idul Adha menuju Baqi’. Lalu beliau shalat ‘id dua rakaat. Kemudian beliau menghadapkan wajahnya kepada kami seraya bersabda, “Sesungguhnya awal kurban kita adalah pada hari kita ini. Kita mulai dengan shalat, lalu kita kembali untuk menyembelih hewan kurban. Barang siapa yang melakukan hal itu, maka sungguh ia telah mencocoki sunnah kita. Barangsiapa yang menyembelih sebelum itu (sebelum shalat), maka dia (sembelihannya) adalah sesuatu yang ia segerakan untuk keluarganya, bukan hewan kurban sedikitpun“.(H.R. Bukhari No. 933)

Baqi adalah tanah luas di sebelah Timur masjid Rasulullah s.a.w. yang belakangan dijadikan sebagai kuburan kaum muslimin.

Telah menceritakan kepada kami Hamzah bin Nushair telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Suwaid telah mengabarkan kepadaku Unais bin Abu Yahya telah mengabarkan kepadaku Ishaq bin Salim bekas budak Naufal bin ‘Adi telah mengabarkan kepadaku Bakr bin Mubasyir Al Anshari dia berkata; “Aku berangkat untuk melaksanakan shalat Idul Fithri dan Idul Adha bersama sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. Ketika pergi, kami melewati lembah Bathhan hingga sampai di musholla, lalu kami shalat bersama Rasulullah s.a.w., ketika kami pulang ke rumah masing-masing, kami juga lewat lembah Bathhan.” (H.R. Abu Daud No. 978)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah s.a.w. shalat ke musholla namun musholla tersebut adalah sebuah tempat yang melewati lembah bathan. Maka jelas musholla di sini bukanlah masjid. Walaupun demikian hadits ini dla’if karena mauquf (terputus) sampai pada perkataan Bakr bin Mubasyir dan ia tidak tsiqoh karena Mubasyir hanya meriwayatkan 1 hadits ini saja.

Mengenai maksud dari musholla ini maka dikatakan dalam kitab Subulus Salam membedakan istilah masjid dan musholla :

“Bahwasanya Rasulullah s.a.w. pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adlha keluar ke mushalla.. Hadits ini sebagai dalil disyari’atkannya keluar ke mushalla. Dari hadits ini pula dengan mudah difahami bahwa keluarnya Nabi itu ke sebuah tempat yang “bukan masjid” dan memang benar demikian, karena sesungguhnya mushallanya Nabi itu berupa suatu tempat yang telah diketahui oleh banyak orang yang mana jarak antara mushalla dan pintu masjidnya Rasulullah s.a.w. adalah seribu dzira’ (± 500 m.) (Subulus Salam Juz 2 Hal 67)

“Bahwasanya ketika hari raya, Rasulullah menempuh jalan yang bebeda, yakni kembali dari mushallanya melewati arah yang tidak beliau lewati sewaktu berangkat menuju mushalla”. (Subulus Salam Juz 2 Hal 69)

Jika musholla yaitu maksudnya adalah masjid Nabi s.a.w., niscaya tidak disebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. menempuh jalan yang berbeda antara ketika menuju mushola dan kembali dari musholla, karena masjid Rasulullah s.a.w. menempel dengan kamar beliau.

KETIKA HUJAN, SHALAT DILAKSANAKAN DI DALAM MASJID

Dari Abu Hurairah r.a. berkata : bahwa kami pernah kehujanan pada waktu pelaksanaan shalat Ied, maka Nabi s.a.w.melaksanakannya di masjid.” (H.R. Abu Daud 980, Ibnu Majah No. 1303)

Telah menceritakan kepada kami Al ‘Abbas bin Utsman Ad Dimasyqi berkata, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim berkata, telah menceritakan kepada kami Isa bin Abdul A’la bin Abu Farwah ia berkata; Aku mendengar Abu Yahya Ubaidullah At Taimi menceritakan hadits dari Abu Hurairah ia berkata, “Pada masa Rasulullah s.a.w.orang-orang diguyur hujan di hari raya, maka beliau pun shalat bersama mereka di masjid. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1303)

Dari hadits-hadits di atas diketahui apabila shalat ‘Id memang dilaksanakan di dalam masjid, niscaya tidak disebutkan bahwa “karena hujan maka shalat dilaksanakan di masjid”. Jika sejak awal shalat memang dilaksanakan di dalam masjid, maka tidak jadi masalah hujan atau tidak hujan sehingga tidak perlu diceritakan dalam hadits. Maka penceritaan masalah hujan menunjukkan bahwa semula shalat dilaksanakan di luar masjid / lapangan, dan ketika hujan baru dilaksanakan di dalam masjid.

BERSAMBUNG..

SHALAT ‘ID DI MASJID ATAU LAPANGAN? (JILID 1)

SHALAT ‘ID DI MASJID ATAU LAPANGAN? (JILID 1)

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Esok hari Insya Allah umat Islam akan melaksanakan shalat ‘Idul Adha. Melaksanakan shalat hari raya ‘Idul adha atau idul fitri sendiri hukumnya adalah sunnah muakkad yaitu sunnah yang sangat ditekankan pelaksanaannya karena Rasulullah s.a.w. tidak pernah meninggalkannya. Sebagian dari umat Islam akan melaksanakannya di lapangan sedangkan bagi sebagian yang lain melaksanakan di masjid. Baik yang melaksanakan di lapangan maupun melaksanakan di dalam masjid, keduanya sama-sama sah shalatnya.

Namun sangat disayangkan ada sebagian orang yang bersikap berlebihan dengan mengatakan bahwa yang melaksanakan shalat di masjid adalah bid’ah dan tidak sesuai dengan sunnah. Sikap ini dibalas tidak kalah sengitnya dengan pihak yang shalat di masjid dengan mengatakan bahwa yang shalat di lapangan itu tidak sah shalatnya, karena di lapangan banyak najis dan tahi binatang. Sedangkan tidak sah shalat orang di tempat najis.

Masalah ini termasuk masalah khilafiyah (yang memungkinkan terjadi perbedaan pendapat). Baik yang melaksanakan shalat di lapangan maupun di masjid, keduanya mengikuti salah satu pendapat imam madzhab, sehingga tidak boleh pendapat madzhab yang satu menganggap sesat madzhab yang lain karena tiap-tiap imam madzhab memiliki kapasitas sebagai mujtahid (berhak melakukan ijtihad).

Sebenarnya inti dari perbedaan pendapat masalah ini adalah seputar istilah “mushola” dalam hadits-hadits yang menjelaskan tentang shalat hari raya. Secara kamus mushola artinya memang tempat sholat. Mendengar kata musholla kita langsung terbayang masjid kecil tempat sholat. Sehingga sebagain berpendapat bahwa mushola di sini maksudnya adalah masjid. Namun sebagian lain berpendapat istilah musholla maksudnya adalah lapangan.

Kami menjumpai beberapa tulisan sebagian orang yang bersikap berat sebelah dan tidak adil dalam rangka membenarkan pendapatnya. Maka dalam kesempatan ini ada baiknya kita mengetahui duduk masalahnya secara adil. Yang dimaksud adil di sini adalah kita harus sampaikan semua dalil yang tersedia terkait permasalahan ini tanpa menutup-nutupi dalam rangka membenarkan salah satu pendapat. Demikian pula berbagai alasan dan penafsiran masing-masing kelompok harus dibahas secara adil kelebihan dan kekurangannya.

KELOMPOK YANG BERPENDAPAT SHALAT ‘ID HARUS DI MASJID

Kelompok yang berpendapat bahwa shalat hari raya harus di masjid berkata bahwa
dalam hadits disebutkan “musholla” (tempat sholat) ” atau “musmaliin” (tempat sholatnya kaum muslimin) dan tidak pernah menyebut lapangan, sebagaimana hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Maryam berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far berkata, telah menceritakan kepadaku Zaid bin Aslam dari ‘Iyadl bin ‘Abdullah bin Abu Sarah dari Abu Sa’id Al Khudri berkata, “Pada hari raya Idul Fitri dan Adlha Rasulullah s.a.w. keluar menuju musholla dan pertama kali yang beliau kerjakan adalah shalat hingga selesai..” (H.R. Bukhari No. 903)

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz dari Dawud dari ‘Iyadh bin ‘Abdullah dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah s.a.w. pada hari Idul Fitri dan Idul Adha ke Musholla lalu Beliau shalat bersama manusia. (H.R. Nasa’i No. 1558)

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Sa’id Al Aili berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb berkata, telah mengabarkan kepadaku Sulaiman bin Bilal dari Yahya bin Sa’id dari Anas bin Malik berkata, “Rasulullah s.a.w. melaksanakan shalat ‘ied di musholla dengan menjadikan tombak sebagai satirnya (sutrohnya). ” (H.R. Ibnu Majah No. 1296) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin ‘Abdurrahman dari Amru bin Abu Amru dari Al Muthallib dari Jabir bin Abdullah ia berkata : “Aku pernah mengikuti shalat ‘idul adhha bersama Nabi s.a.w. di musholla, maka ketika selesai berkhutbah beliau turun dari mimbar. (H.R. Tirmidzi No. 1441) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Nafi’ bahwa Abdullah bin Umar mandi pada Hari Raya Idul Fitri sebelum pergi ke musholla.” (Atsar .R. Imam Malik dalam Al-Muwatha’ No. 384)

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, serta Khalaf bin Hisyam Al Muqri`, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Manshur dari Rib’i bin Hirasy dari seorang sahabat Nabi s.a.w, ia berkata : “Orang-orang berselisih mengenai akhir hari Ramadhan. Kemudian terdapat dua orang badui yang datang dan memberikan persaksian di hadapan Nabi s.a.w. dengan nama Allah, sungguh mereka telah menyaksikan Hilal kemarin sore. Kemudian Rasulullah s.a.w. memerintahkan orang-orang agar berbuka. Khalaf menambahkan dalam haditsnya; dan agar mereka pergi ke musholla mereka. (H.R. Abu Daud No. 1992)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Ya’qub Al Iskandari, dari ‘Amr dari Al Muththalib dari Jabir bin Abdullah, ia berkata : “Saya menyaksikan bersama Rasulullah s.a.w. Shalat Adha di musholla, kemudian tatkala menyelesaikan khutbahnya beliau turun dari mimbarnya, dan beliau diberi satu ekor domba kemudian Rasulullah s.a.w. menyembelihnya, dan mengucapkan: “BISMILLAAHI WALLAAHU AKBAR, HAADZA ‘ANNII WA ‘AN MAN LAM YUDHAHHI MIN UMMATI” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, ini (kurban) dariku dan orang-orang yang belum berkurban dari umatku). (H.R. Abu Daud No. 2427)

KELOMPOK YANG BERPENDAPAT SHALAT ‘ID HARUS DI LAPANGAN

Jika kita mengartikan musholla seperti pada bahasa Indonesia maka yang terbayang memang sebuah bangunan atau ruangan kecil yang digunakan untuk sholat. Namun dalam hadits yang lain dijelaskan bahwa yang dimaksud musholla adalah tanah yang lapang dan bukan bangunan tempat shalat sebagaimana hadits berikut :

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Al Auza’i berkata, telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar berkata, “Di pagi menjelang siang Rasulullah s.a.w. keluar saat hari shalat id, membawa tombak kecil (untuk sutrah). Ketika sampai di tempat musholla, tombak kecil itu ditancapkan di antara beliau dan hadapannya lalu beliau shalat ke hadapannya. Dan itu karena tanah musholla adalah tempat yang terbuka dan tidak ada apapun yang menutupinya. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1294) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih.

Dalam hadits di atas dikatakan bahwa yang dimaksud musholla (tempat sholat) di sini adalah tanah terbuka yang tidak ada sesuatu menutupinya. Maka jelas musholla ini bukan bangunan masjid kecil atau musholla seperti istilah dalam bahasa Indonesia. Maka tidak salah jika penerjemah sering langsung saja menerjemahkan musholla ini adalah tanah lapang atau lapangan.

Dan memang istilah mushollah sering dipakai untuk mengistilahkan lapangan seperti misalnya pada hadits ini :

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah, bahwa Abu Usamah telah menceritakan kepada mereka dari Usamah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi s.a.w. menyembelih kurbannya di musholla dan Ibnu Umar melakukan hal tersebut. (H.R. Abu Daud No. 2428)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad dan saya mendengarnya dari Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Usamah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, dia menyembelih udhiyah (hewan kurban) -nya di musholla pada hari Nahr dan dia menuturkan bahwa Nabi s.a.w. melakukan seperti itu. (H.R. Ahmad No. 5609)

Telah mengabarkan kepadaku seorang yang telah mendengar Jabir bin Abdullah Al Anshari berkata : “Aku termasuk diantara orang yang merajamnya. Maka kami merajamnya di musholla di Madinah” (H.R. Bukhari No. 4866)

Jika musholla di situ diartikan bangunan tempat sholat atau masjid maka tidak mungkin menyembelih hewan di dalam masjid. Bahkan hukuman rajam juga disebutkan dilaksanakan di musholla. Rasanya tidak mungkin jika hukuman rajam dilaksanakan di dalam masjid.

BERSAMBUNG..

MENGHILANGKAN RASA IRI

MENGHILANGKAN RASA IRI

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Iri ialah menginginkan hal yang sama seperti yang diperoleh atau dialami orang lain karena menganggap yang diperoleh atau dialami orang lain itu lebih baik dari pada apa yang diperoleh atau dialami dirinya.

Jadi intinya iri itu karena ada sesuatu pada diri orang lain yang kita pandang atau kita anggap lebih baik. Dan intinya iri itu karena menganggap apa yang diperoleh atau dialami pada diri kita itu lebih buruk daripada orang lain alami.

Nah jadi menekan rasa iri berkisar pada 2 hal itu, yaitu : 1. menganggap lebih baik (yaitu yang ada pada orang lain) dan 2. menganggap lebih buruk (yaitu yang ada pada orang lain). Jadi intinya adalah merasa oran lain lebih dan merasa driri kurang. Jika kita telah berhasil menekan 2 hal ini maka Anda akan berhasil menekan rasa iri

Maka jika 2 hal di atas dipersempit lagi ternyata keduanya sama-sama bermuara pada yang namanya ANGGAPAN dan ini berasal dari CARA PANDANG. Jika berhasil mengubah cara pandang maka Anda akan berhasil menekan rasa iri

Contoh, wanita yang bertubuh gemuk, merasa iri dengan temannya wanita yang bertubuh langsing. Hal ini karena adanya ANGGAPAN bahwa tubuh langsing itu lebih sexy lebih dikagumi singkat kata lebih baik daripada tubuh yang gemuk. Jika ANGGAPAN dan PANDANGAN terhadap tubuh gemuk dan langsing ini bisa diubah misal bahwa ternyata ada lho yang seleranya justru dengan wanita gemuk, ada lho ras dan bangsa tertentu justru menganggap wanita gemuk itu sexy (misal di ras polynesia, india dan arab) dan ada lho pria yang menganggap kurus itu tidak menarik, maka Anda tidak akan iri lagi karena ANGGAPAN merasa orang lain lebih dan merasa diri kurang itu telah berubah.

Nah cara-cara mengubah ANGGAPAN dan CARA PANDANG terhadap perbandingan diri sendiri dengan orang lain diantaranya sebagai berikut :

1. Percayalah bahwa setiap orang itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Maka tak ada orang yang melulu hanya memiliki kelebihan dan melulu hanya memiliki kekurangan. Ada sih memang segelintir orang yang sepintas full dengan kekurangan namun prosentasenya sedikit sekali dan ada hikmah lain di balik kekurangannya dan mungkin ia tidak dimintai pertanggung jawaban penuh sebagaimana orang lain.

2. Maka tugas kita adalah mengalihkan perhatian dari kekurangan diri kita dan kelebihan orang lain dokus pada kelebihan diri kita saja.

3. Maka tugas kita adalah menemukan apa kelebihan diri kita dan pupuk kelebihan itu secara maksimal. Arahkan kelebihan itu sehingga berguna bagi orang banyak. Karena tak ada gunanya kelebihan itu jika tidak bermanfaat bagi orang lain.

4. Cara menemukan kelebihan diri kita adalah banyak mencoba berbagai hal dan mengamati diri kita sendiri. Satu-satu nya cara menemukan bakat diri kita adalah rajin mencoba berbagai hal dan menggali potensi diri kita sendiri. Sekali bakat itu ditemukan pupuk habis-habisan hingga menjadi nomor satu dalam bidang tersebut.

5. Carilah lingkungan yang mendukung mencuatnya bakat kita. Carilah lingkungan yang menghargai bakat kita. Terkadang lebih baik menjadi ikan paling besar di kolam yang kecil ketimbang menjadi ikan kecil atau biasa saja di kolam yang besar. Jadi kadang potensi diri kita tidak terlihat karena kita berada di kolam yang penuh dengan potensi potensi lain yang menonjol. Maka sejenak menyepi di lingkungan yang lebih terbatas kadang ada gunanya agar nampak bakat dan potensi diri kita

6. Jangan mencoba meniru atau mengejar kelebihan orang lain karena setiap orang memiliki kelebihannya sendiri-sendiri. Jadilah diri sendiri dan tak ada gunanya menjadi orang lain karena itu menipu diri dan menyiksa diri.

7. Setiap orang akan dimudahkan Allah untuk apa yang telah menjadi jatahnya (bagiannya) maka temukanlah apa yang telah menjadi bagian kita dan tak ada gunanya menyibukkan diri memikirkan apa yang menjadi jatah orang lain.

8. Orang lain bahagia tapi pasti punya masalah dan diri kita mungkin punya masalah namun pasti bisa bahagia.

9. Orang lain beruntung tapi bisa jadi itu awal musibah bagi dirinya sedangkan diri kita mengalami musibah namun bisa jadi adalah awal keberuntungan kita.

10. Orang lain beruntung namun bisa jadi ia tidak bersyukur dan itu adalah musibah bagi dia, sedangkan kita mungkin mengalami musibah namun jika bersyukur maka itu adalah awal keberuntungan kita. Karena jika kita bersyukur Allah akan menambahkan kenikmatan pada diri kita.

11. Berhentilah menganggap diri orang lain besar dan belajarlah untuk lebih menghargai apa yang ada dalam diri sendiri. Karena orang lain tak akan menghargai apa yang ada pada diri kita jika kita sendiri tidak menghargai nya.

NIKAH MUT’AH ATAU KAWIN KONTRAK

NIKAH MUT’AH ATAU KAWIN KONTRAK

Oleh : Abu Akmal Mubarok
Image

Nikah mut’ah disebut juga nikah kontrak atau kawin kontrak dimana kedua pasangan yang menikah sepakat untuk bercerai setelah jatuh tempo waktu tertentu. Misalnya sepakat bahwa pernikahan ini hanya berjalan 1 bulan atau 1 minggu bahkan 1 hari. Dan setelah mencapai waktu yang disepakati otomatis keduanya bercerai.

Biasanya pernikahan seperti ini disertai dengan ketidak jelasan lainnya seperti cerainya itu talak satu kah atau sekaligus talak tiga? Lalu jika dari pernikahan itu timbul anak maka bagaimana status anak tersebut?  Dan bagaimana status warisnya jika misalnya bapaknya meninggal?

Nikah mut’ah memang pernah diijinkan oleh Rasulullah s.a.w pada waktu terjadi Perang Khaibar sebagaimana dikisahkan dalam hadits berikut ini

Dan Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Amru bin Dinar ia berkata, saya mendengar Al Hasan bin Muhammad menceritakan dari Jabir bin Abdullah dan Salamah bin Al Akwa’ ia berkata; utusan Rasulullah s.a.w. datang kepada kami, lalu dia berkata, “Rasulullah s.a.w. telah mengizinkan kalian untuk nikah mut’ah.” (H.R. Muslim No. 2494)

Dan telah menceritakan kepadaku Umayyah bin Bistham Al ‘Aisi telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Rauh yakni Ibnul Qasim, dari Amru bin Dinar dari Al Hasan bin Muhammad dari Salamah bin Al Akwa’ dan Jabir bin Abdullah bahwasanya; “Rasulullah s.a.w. menemui kami, lalu beliau mengizinkan kami untuk nikah mut’ah.” (H.R. Muslim 2495)

Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari ayahnya dia pernah mengabarkan bahwa Rasulullah s.a.w. melarang nikah mut’ah di saat penaklukan kota Makkah, dan ayahnya juga pernah melakukan mut’ah dengan dua helai kain burdah berwarna merah. (H.R. Muslim No. 2507)

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Aun Telah menceritakan kepada kami Khalid dari Isma’il dari Qais dari ‘Abdullah r.a. dia berkata; Kami pernah berperang bersama Nabi s.a.w. namun tidak mengikut sertakan istri-istri kami, lalu kami berkata: Wahai Rasulullah, tidakkah kami dikebiri? Namun Nabi s.a.w. melarang kami melakukannya. tapi setelah itu beliau memberikan keringanan kepada kami untuk menikahi wanita dalam waktu tertentu (kawin kontrak). lalu beliau membacakan ayat : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Al Maidah: 87).” (H.R. Bukhari No. 4249)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Abdul Aziz bin Ar-Rabi’ bin Sabrah bin Ma’bad dia berkata; Saya telah mendengar ayahku, Ar-Rabi’ bin Sabrah menceritakan dari ayahnya, Sabrah bin Ma’bad bahwa pada saat penaklukan kota Makkah, Nabiyallah s.a.w. memerintahkan kepada para sahabatnya supaya nikah mut’ah, lantas dia (Sabrah) berkata, kemudian saya bersama temanku dari Bani Sulaim keluar sampai kami bertemu dengan seorang budak perempuan dari Bani ‘Amir, sepertinya dia adalah seorang perawan, lantas kami meminangnya sambil memperlihatkan kain burdah kami (sebagai maskawin), lalu dia memandangi kami, dia melihatku, dan ternyata wajahku lebih tampan daripada temanku, namun dia melihat kain burdah temanku lebih bagus daripada kain burdahku, setelah dia meminta izin untuk bermusyawarah beberapa saat, dia memilihku daripada temanku, lalu kami tinggal bersamanya selama tiga hari, kemudian Rasulullah s.a.w. memerintahkan kami untuk menceraikannya. (H.R. Muslim No. 2504)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Fudlail bin Husain Al Jahdari telah menceritakan kepada kami Bisyr yaitu Ibnu Mufadldlal telah menceritakan kepada kami Umarah bin Ghaziyyah dari Ar Rabi’ bin Sabrah bahwa ayahnya pernah ikut perang Fathu Makkah bersama Rasulullah s.a.w., dia berkata; Kami tinggal di Makkah selama lima belas hari dan malam, lantas Rasulullah s.a.w. memberikan izin kepada kami melakukan nikah mut’ah. Lalu saya bersama seorang dari kaumku pergi mencari seorang wanita untuk kami nikahi secara mut’ah, saya lebih tampan dari saudaraku yang memang dia agak jelek daripadaku. Masing-masing dari kami membawa kain baju (untuk mas kawin); tetapi baju telah usang, sedangkan baju sepupuku masih baru dan halus. Sesampainya kami di bawah kota Makkah atau di atasnya, kami bertemu seorang wanita muda yang cantik dan berleher panjang. Lantas kami bertanya kepadanya; “Maukah kamu menerima salah satu dari kami untuk kawin mut’ah denganmu?” Dia menjawab; “Apa ganti (maskawin) yang akan kalian berikan?” Lalu masing-masing dari kami memperlihatkan baju yang telah kami siapkan sebelumnya, sementara itu, wanita tersebut sedang memperhatikan kami berdua, saudara sepupuku melihat kepadanya sambil berkata; “Sesungguhnya baju yang ini sudah usang, sedangkan bajuku masih bagus dan halus.” Wanita tersebut berkata; “Baju usang ini juga tak masalah.” Dia mengatakannya sampai tiga kali atau dua kali. Kemudian saya nikah mut’ah dengannya. Saya tidak keluar dari (Makkah) sehingga Rasulullah s.a.w. mengharamkannya (untuk selamanya).” Dan telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Sa’id bin Shakhr Ad Darimi telah menceritakan kepada kami Abu An Nu’man telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami ‘Umarah bin Ghaziyyah telah menceritakan kepadaku Ar Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari Ayahnya dia berkata; Kami pernah keluar bersama Rasulullah s.a.w. pada hari penaklukan kota Makkah menuju Makkah, kemudian dia menyebutkan seperti haditsnya Bisyr dengan menambahkan; Gadis itu berkata; “Apakah hal itu boleh?” dan ada juga tambahan (kata sepupu Sabrah); “Sesungguhnya kain burdah yang ini sudah usang.” (H.R. Muslim 2501)

Dan telah menceritakan kepadaku Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Laits dari Ar Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari bapaknya Sabrah, bahwa ia berkata : “Rasulullah s.a.w. pernah mengizinkan kami untuk nikah mut’ah. Maka aku beserta seorang temanku mendatangi seorang wanita dari Bani Amir, sepertinya wanita itu masih gadis dan cantik jelita. Maka kami pun menyerahkan diri kami padanya, lalu wanita itu berkata, “Mahar apa yang akan kalian berikan?” Aku menjawab, “Pakaianku.” Dan temanku juga berkata, “Pakaian milikku.” Pakaian temanku sebenar lebih bagus dari pakaianku, namun usiaku lebih muda darinya. Bila wanita itu melirik pakaian milik temanku, ia pun terkagum olehnya. Dan ketika melirik kepadaku, aku pun membuatnya terkagum-kagum. Kemudian wanita itu pun berkata, “Kamu dan pakaianmu telah mencukupiku.” Maka aku pun tinggal bersamanya selama tiga hari. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang masih memiliki isteri dengan cara mut’ah, maka ceraikanlah.” (H.R. Muslim No. 2500)

Dan Telah menceritakan kepada kami Al Hasan Al Hulwani telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij ia berkata, Atha` berkata; Jabir bin Abdullah kembali dari menunaikan Umrah, lalu kami pun menemuinya di rumahnya, dan orang-orang pun bertanya kepadanya tentang berbagai persoalan. Kemudian mereka pun menyebutkan tentang nikah mut’ah, maka Jabir menjawab; “Ya, kami pernah melakukan nikah mut’ah pada masa Rasulullah s.a.w., Abu Bakar dan Umar.” (H.R. Muslim No. 2496)

Hadits-hadits yang membolehkan nikah mut’ah di atas telah dimansukh (dibatalklan) dengan hadits-hadits yang melarang nikah mut’ah berikut ini :

Dan telah menceritakan kepadaku Salamah bin Syabib telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin A’yan telah menceritakan kepada kami Ma’qil dari Ibnu Abi Ablah dari Umar bin Abdul Aziz dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ar Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah s.a.w.  melarang melakukan nikah mut’ah seraya bersabda: “Ketahuilah, bahwa (nikah mut’ah) adalah haram mulai hari ini sampai hari Kiamat, siapa yang telah memberi sesuatu kepada perempuan yang dinikahinya secara mut’ah, janganlah mengambilnya kembali.” (H.R. Muslim No. 2509)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faris, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Rabi’ bin Sabrah dari ayahnya bahwa Nabi s.a.w.  telah mengharamkan menikahi wanita secara mut’ah. (H.R. Abu Daud No. 1775) Syaikh Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Ada sebagian kaum muslimin termasuk kaum Syi’ah yang meyakini bahwa nikah mut’ah pernah dibolehkan dan pernah dilarang namun pelarangan ini tidaklah permanen artinya ketentuan nikah mut’ah ini bisa diberlakukan kembali ketika situasi masyarakat menuntut perlunya niah mut’ah (misal merajalelanya zina yang tak bisa diberantas, dalam peperangan dll) sedangkan jika situasi sudah tidak memerlukan nikah mut’ah maka ketentuan nikah mut’ah bisa kembali dilarang.

Maka pendapat seperti di atas, tertolak dengan adanya hadits Rasulullah s.a.w. yang menyatakan  bahwa pelarangan nikah mut’ah ini berlaku sampai hari kiamat :

Beliau s.a.w. bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya dahulu aku telah mengizinkan kalian untuk menikahi para wanita secara mut’ah. Ketahuilah bahwa Allah telah mengharamkannya hingga Hari Kiamat. Barangsiapa memiliki sesuatu dari mereka, hendaknya ia melepaskannya, dan janganlah mengambil sesuatupun dari apa yang kalian berikan kepada mereka.” (H.R. Ad-Darimi No. 2098)

Husain Salim Asad Ad-Daroni mengatakan hadits ini sanadnya sahih.

Makah hadits-hadits lainnya yang berisi larangan nikah mut’ah atau kawin kontrak adalah bersifat permanen dan sampai hari kiamat walaupun tidak disebutkan demikian karena ada hadits lain yang sudah menyebutkan bahwa hal itu berlaku sampai hari kiamat :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah menceritakan kepadaku Ibnu ‘Uyainah dari Az Zuhri dari Al Hasan dan Abdullah dari ayah mereka berdua, ia berkata; aku mendengar Ali  r.a. berkata kepada Ibnu Abbas r.a. ; “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah melarang mut’ah yaitu menikahi wanita secara mut’ah, dan daging keledai jinak ketika perang Khaibar.” (H.R. Ad-Darimi No. 2100) Husain Salim Asad Ad-Daroni mengatakan hadits ini sanadnya sahih.

Telah menceritakan kepada kami Amru An Naqid dan Ibnu Numair keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Az Zuhri dari Ar Rabi’ bin Sabrah dari ayahnya bahwasannya Nabi s.a.w. telah melarang nikah mut’ah. (H.R. Muslim No. 2505)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulaiyah dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Ar Rabi’ bin Sabrah dari ayahnya bahwa pada hari Fathu Makkah Rasulullah s.a.w.melarang nikah mut’ah. (H.R. Muslim No. 2506)

Maka demikianlah para sahabat Rasulullah s.a.w. memahaminya dan tak ada yang berbeda pendapat bahwa nikah mut’ah atau kawin kontrak itu telah dilarang oleh Rasulullah s.a.w sehingga siapa yang mengerjakannya dianggap berzina. Hal ini sebagaimana dikisahkan dalam hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Zubair ia berkata, saya mendengar Jabir bin Abdullah berkata; “Kami pernah melakukan nikah mut’ah selama beberapa hari dengan mas kawin beberapa genggam kurma dan tepung, pada masa Rasulullah s.a.w.  dan Abu Bakar r.a. sampai Umar r.a. melarang nikat mut’ah dalam kasus Amru bin Huraits.” (H.R. Muslim 2497)

Telah menceritakan kepada kami Hamid bin Umar Al Bakrawi telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid yakni Ibnu Ziyad, dari Ashim dari Abu Nadlrah ia berkata; Aku pernah berada di dekat Jabir bin Abdullah, lalu ia didatangi oleh seseorang dan berkata; Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair berselisih pendapat mengenai Mut’atain (yaitu nikah mut’ah dan haji tamattu’), maka Jabir pun berkata, “Kami pernah melakukan keduanya bersama Rasulullah s.a.w., kemudian Umar melarang kami untuk melakukan keduanya dan kami tidak pernah lagi melakukannya lagi.” (Atsar riwayat Muslim No. 2498)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf Al ‘Asqalani berkata, telah menceritakan kepada kami Al Firyabi dari Aban bin Abu Hazim dari Abu Bakr bin Hafsh dari Ibnu Umar ia berkata, “Tatkala Umar bin Khaththab menjadi Khalifah, dia berkhutbah di hadapan orang banyak, ia menyampaikan, “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah mengizinkan kita untuk melakukan nikah mut’ah sebanyak tiga kali, kemudian mengharamkannya. Demi Allah, tidaklah aku mengetahui seseorang yang melakukan nikah mut’ah sementara dia sudah menikah melainkan aku akan merajamnya dengan batu. Kecuali jika dia mendatangkan kepadaku empat orang yang bersaksi bahwa Rasulullah s.a.w. menghalalkannya setelah Beliau mengharamkannya“.” (H.R. Ibnu Majah No. 1953)

Dan telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Yunus. Ibnu Syihab berkata; telah mengabarkan kepadaku ‘Urwah bin Az-Zubair bahwa Abdullah bin Az-Zubair tinggal di Makkah, lantas dia berkata : “Sesungguhnya Allah telah membutakan hati orang-orang sebagaimana Dia membutakan penglihatan mereka, karena mereka telah melakukan nikah mut’ah, tiba-tiba nampaklah seorang laki-laki sambil menyerunya; Sesungguhnya kamu orang yang bodoh, demi hidupku, sungguh nikah mut’ah telah berlaku sejak zaman imam Muttaqin, maksudnya adalah Rasulullah s.a.w.. Ibnu Umar pun berkata kepadanya; coba kamu lakukan, demi Allah jika kamu melakukannya sungguh saya akan merajammu dengan batu. Ibnu Syihab berkata; Telah mengabarkan kepadaku Khalid bin Muhajir bin Saifullah bahwa ketika dia sedang duduk-duduk bersama seorang laki-laki, tiba-tiba seorang laki-laki datang meminta fatwa kepadanya tentang nikah mut’ah. Dia (Khalid) pun membolehkannya, maka Ibnu Abi ‘Amrah Al Anshari berkata kepadanya; Tunggu dulu!, lantas dia (Khalid) berkata; kenapa? Demi Allah hal itu pernah dilakukan di masa Imamul Muttaqin (yaitu Rasulullah s.a.w.). Ibnu Abi ‘Amrah berkata kepadanya; Memang, nikah mut’ah pernah dibolehkan pada masa permulaan Islam karena terpaksa, sebagaimana bolehnya memakan bangkai, darah dan daging babi (dalam kondisi terpaksa), namun Allah telah menetapkan hukum dalam agam-Nya dan melarang melakukannya. Ibnu Syihab berkata; Telah mengabarkan kepadaku Rabi’ bin Sabrah Al Juhani bahwa ayahnya berkata; Sungguh saya pernah melakukan nikah mut’ah di masa Rasulullah s.a.w. dengan wanita dari Bani ‘Amir dengan maskawin dua kain burdah berwarna merah, kemudian Rasulullah s.a.w. melarang melakukan nikah mut’ah. Ibnu Syihab berkata; Saya mendengar Rabi’ bin Sabrah telah menceritakan hal itu kepada Umar bin Abdul Aziz sedangkan saya duduk (disampingnya). (H.R. Muslim No. 2508)

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Ibnu Syihab dari Urwah bin Zubair bahwa Khaulah binti Hakim menemui Umar bin Khattab dan berkata; “Rabi’ah bin Umayyah telah menikah secara mut’ah dengan seorang wanita, lalu wanita itu hamil! ” Umar bin Khattab kemudian keluar dengan membawa selendangnya, lalu ia berkata, ‘Ini adalah Nikah mut’ah, sekiranya aku mendapatinya, maka akan aku rajam.” (Atsar Sahabat dalam Al-Muwatha’ Imam Malik No. 995)

Telah menceritakan kepadaku Hasan Al Khulwani dan Abd bin Humaid dari Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad telah menceritakan kepada kami ayahku dari Shalih telah mengabarkan kepada kami Ibnu Syihab dari Ar

Telah mengabarkan kepada kami ‘Amr bin Ali, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya dari ‘Ubaidullah bin Umar, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Az Zuhri dari Al Hasan dan Abdullah keduanya anak Muhammad, dari ayah mereka, Ali mendapat informasi bahwa terdapat seorang laki-laki yang berpendapat nikah mut’ah tidak dilarang. Kemudian Ali berkata; Engkau sesat, Rasulullah s.a.w. telah melarang nikah mut’ah dan daging keledai jinak pada saat terjadi perang Khaibar. (H.R. Nasa’i No. 3312)

Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Umaroh bin Ghoziyyah Al Anshori berkata: telah menceritakan kepada kami Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari Bapaknya berkata : “Kami berangkat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pada Fathu Makkah. Kami tinggal selama lima belas hari dan satu malam. (Rabi’ bin Sabrah Al Juhani Radliyallahu’anhu) berkata; (Bapaknya) berkata; Rasulullah s.a.w.  mengijinkan nikah Mut’ah. Saya dan anak pamanku keluar ke daerah yang rendah di Makkah atau daerah yang tinggi, lalu kami bertemu seorang wanita muda dari Bani ‘Amir bin Sho’sho’ah, sepertinya dia adalah unta muda yang sangat bagus dan berleher panjang (maksudnya gadis belia yang berperawakan menarik). Saya orang termasuk orang buruk rupa, namun saya memakai mantel baru yang sangat bagus, sedang anak pamanku membawa mantel yang sudah usang. Kami mengatakan kepadanya, maukah kau menikah mut’ah dengan salah satu dari kami? Lalu wanita itu bertanya, apakah hal itu boleh? Ya, jawabku. Lalu dia melihat ke anak pamanku, lalu saya katakan kepadanya, mantelku ini baru dan bagus sedangkan mantel anak pamanku itu sudah usang dan lusuh. (wanita itu) berkata; mantel anak pamanmu itu tidak masalah. Lalu (anak pamannya) menikahinya secara mut’ah. Kami tidak berangkat lagi ke Makkah sampai Rasulullah s.a.w. mengharamkannya. (H.R. Imam Ahmad No. 14805)

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah saudara Qabishah bin Uqbah, telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats Tsauri dari Musa bin Ubaidah dari Muhammad bin Ka’ab dari Ibnu Abbas berkata; “Mut’ah itu pernah dibolehkan pada awal Islam. Ada seorang yang datang dari negeri yang jauh, yang belum tahu. Dia menikahi seorang wanita dengan jangka waktu tinggal di tempat tersebut. Agar wanita itu menjadi perhiasannya dan mengurusi kebutuhannya sampai turunlah ayat; “Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki.” ” Ibnu Abbas berkata; “Semua farj (kemaluan) selain dari keduanya (farj istri dan budaknya), haram hukumnya.” (Atsar Riwayat  Tirmidzi No. 1041)

Maka termasuk pada selain hal itu maksudnya adalah bentuk bentuk nikah lainnya yang dilarang. Kesimpulannya nikah mut’ah dan kawin kontrak yang banyak dilakukan sebagian kalangan umat Islam dan kaum Syi’ah jelas mutlak keharamannya sampai hari kiamat. Orang yang melakukannya dianggap berzina.

Wallahua’lam.

NIKAH SIRI DAN NIKAH DIAM-DIAM

NIKAH SIRI DAN NIKAH DIAM-DIAM

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Sir itu artinya rahasia. Sebenarnya dalam khazanah syariat islam tak ada istilah nikah siri. Jadi tidak benar bahwa ini adalah salah satu dari jenis jenis pernikahan dalam Islam. Nikah sirri itu konotasi orang berbeda-beda. Ada yang kumpul kebo tanpa akad tanpa diketahui jelas sudah menikah atau belum, maka itu bukan lah nikah tapi zina. Ada juga yang menikah diam-diam tanpa wali tanpa saksi maka itu juga bukan nikah siri tapi nikah bathil yang rusak dan tidak sah secara syariat. Adapun yang hendak kita bahas adalah nikah siri yang terpenuhi rukun2 nikah secara agama, hanya saja tidak tercatat secara administratif oleh negara atau tidak tercatat di KUA dan tidak memiliki buku nikah.

Jika rukun2 nikahnya telah terpenuhi dengan benar, maka nikahnya sah di mata Allah. Sedangkan kumpul kebo dari kaca mata agama, adalah berkumpulnya dua insan yang bukan mahram dalam satu atap / satu rumah tanpa pernah melakukan ijab qabul pernikahan sama sekali atau mungkin saja mereka mengaku melakukan akad nikah namun akad nikah yang fasad seperti nikah mut’ah, tidak memakai wali atau tidak dipenuhi mahar dan saksi. Maka kumpul kebo tidak lain adalah zina.

Jika yakin telah pernah melakukan ijab qabul pernikahan, dengan dinikahkan oleh walinya si wanita atau wali hakim, dan dipenuhi rukun2 lainnya seperti mahar, 2 orang saksi (laki2) maka di mata Allah bukanlah zina dan bukan pula kumpul kebo. Di mata Allah, sah sebagai suami istri. Namun orang di sekitar dan masyarakat siapa yang tahu kalau mereka berdua sudah menikah?

jaman Rasulullah memang  tidak  ada administratif pencatatan nikah. Karena Rasulullah adalah juga kepala negara . Beliau berhak menikahkan dan menceraikan. Agar semua orang tahu maka Rasulullah s.a.w meminta agar menikah itu diramaikan atau dibuat  resepsi walaupun hanya dengan seekor kambing.  Dengan cara ini semua orang  tahu bahwa si fulan telah menikah dengan fulananah. Jika ada masalah dalam perkawinan, maka orang akan mendatangi Rasulullah untuk meminta keputusan hukum.

Namun perlu dipahami bahwa penduduk Madinah ketika itu tidak banyak orang dan satu sama lain saling mengenal. Jika ada yang menikah, orang pasti tahu dan jika ada yang bercerai orang pun tahu. Ada kalanya mereka  cukup menceritakan saja kepada Rasulullah s.a.w. bahwa si Fulan telah menikah dengan Fulanah.

Oleh karena itu dalam beberapa kasus, Rasulullah s.a.w. pun tidak tahu jika sesorang telah menikah. Seperti pernikahan Abdurrahman bin Auf. Maka agar masyarakat tahu bahwa seseorang telah menikah, Rasulullah menyuruh umatnya untuk melakukan walimatul nikah (merayakan pernikahan) walauapun hanya dengan hidangan seekora kambing, agar khalayak tahu.

Anas bin Malik ra. bahwa: Nabi saw. melihat pada salah satu bagian tubuh Abdurrahman bin Auf terdapat warna bekas wewangian pengantin. Rasulullah saw. bertanya: Apa ini? Abdurrahman menjawab: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku baru saja menikahi seorang wanita dengan maskawin sebanyak lima dirham emas. Mendengar itu Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: Kalau begitu segera adakan walimah (pesta) walau hanya dengan memotong seekor kambing (H.R. Bukhari)

Demikianlah walaupun menikah secara siri itu sah secara agama, namun tetap disyaratkan untuk menghindari fitnah, agar diramaikan, minimal mengundang sanak saudara dan tetangga dekat agar mereka tahu bahwa kita telah menikah. Tidak dibenarkan nikah siri lalu juga dirahasiakan maka jangan salahkan masyarakat jika mereka tidak tahu dan menyangka kumpul kebo.

Namun walaupun sah secara agama, tetap dianjurkan untuk tercatat secara administrasi negara. Adapun untuk menjelaskan nikah siri VS nikah yang tercatat resmi dalam administrasi negara (alias memiliki buku nikah) maka untuk memudahkan pemahaman saya memakai contoh kasus lain.

Misalnya suatu hari teman Anda datang meminjam uang, Anda telah memberikan uangnya dan telah melakukan menerima ucapan ijab qabul teman Anda bahwa ia menyatakan berhutang. Maka mulai detik itu di mata Allah teman Anda telah berhutang. Namun Anda berdua melakukan transaksi hutang piutang tanpa memakai kwitansi dan tanpa perjanjian di hadapan notaris dll.

Pada hari yang dijanjikan, ternyata teman Anda tidak mengembalikan hutangnya, dan bahkan rumahnya telah pindah dan kabur entah kemana. Anda tidak bisa menuntut di pengadilan atau melapor ke polisi karena tidak ada bukti. Karena secara administrasi hukum positif (hukum manusia) Anda tidak terbukti memberikan hutang pada dia. Kalaupun ada bukti transfer tidak terbukti statusnya sebagai hutang, bisa saja uang itu memang Anda berikan sebagai hadiah.

Dalam kasus di atas secara agama dan dimata Allah sampai hari kiamat pun, dan diakhirat nanti teman Anda itu tetap berhutang dan Anda sebagai pihak yang menghutangi dia. Insya Allah hutang itu tetap di tagih di Mahkamah Allah kelak. Namun di dunia dan dalam urusan dengan manusia di dunia, Anda harus menerima dan mengikhlaskan uang itu hilang.

Demikian pula sama hal nya dengan nikah siri, secara agama dan di mata Allah kedua manusia  itu telah sah sebagai suami istri dan tidak berzina. Namun anda semua hidup di dunia dan berurusan sementara ini dengan sesama manusia. Maka sepanjang tidak ada apa-apa ya tidak apa-apa. Namun suatu ketika nanti jika terjadi penyimpangan agama maupun kezhaliman, siapa yang bisa menyelesaikan? Misalnya si wanita diceraikan oleh suaminya, namun tidak dikembalikan maharnya, atau suaminya tidak memberi nafkah sekian lama, nafkah lahir batin diabaikan, menghilang sekian bulan, sedangkan diceraikan juga tidak. Demikian pula ketika anaknya butuh mengurus akta kelahiran untuk sekolah, atau ketika suaminya meninggal dan istrinya dan anaknya berhak mendapatkan harta warisan, namun tidak ada yang tahu bahwa mereka sudah menikah dan sudah punya anak. Dan banyak kerepotan lain terkait muamalah dengan sesama manusia. Jika masing2 pihak sadar dengan resiko dan kerepotan ini kemudian rela atau bersedia menerima saja jika terjadi kesulitan, ya itu terserah pada masing2 pribadi yang menjalaninya.

Wallahua’lam