MEMOTONG RAMBUT DAN KUKU SEBELUM QURBAN

cut-nail

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Menjelang Hari Raya ‘Idul Adha, ada khotib jum’at yang mewanti-wanti (mengingatkan) agar jangan memotong rambut dan kuku sebelum memotong hewan qurban. Berdosakah jika kita memotong rambut dan kuku sebelum shalat ‘Idul Adha? Demikian sebagian pertanyaan yang muncul.

Permasalahan di atas bermula dari adanya hadits Nabi s.a.w. dari Ummu Salamah :

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi s.a.w. bersabda : “man kaana ‘indahu dzabhan yuriidu an yadzbahahu faroo-a hilaal dzilhijjah (Barang siapa memiliki hewan sembelihan yang hendak disembelih, lalu ia melihat hilal bulan dzulhijjah),  falaa yamussa min sya’rihi wa laa min adzfarihi hatta yudlohha (janganlah ia mencukur rambutnya dan jangan menggunting kukunya sampai ia berqurban)”  (H.R. Muslim)

Hadits dari Ummu Salamah ini diterima dengan beberapa jalur dengan redaksi yang sedikit berbeda. dalam hadits Ummu Salamah dari jalur yang  lain:

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi s.a.w. bersabda : “idzaa dakholati ‘asyru wa aroo da ahadukum an yudhohha (Apabila telah masuk tanggal 10 sedangkan kalian bermaksud menyembelih udh-hiyah (hewan qurban) ,falaa yamussa min sya’rihi  syaian (maka  janganlah ia mencukur sebagian rambutnya dan jangan menggunting kukunya seluruhnya)”  (H.R. Muslim)

Dalam redaksi yang lain :

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi s.a.w. bersabda : “Apabila telah masuk tanggal 10 Dzulhijjah sedangkan kalian bermaksud menyembelih udh-hiyah (hewan qurban) ,maka  falaa yamussa min sya’rihi syai’an (janganlah kalian menyentuh bulunya seluruhnya / sedikitpun) ; dan dalam riwayat yang  lain : falaa ta’khudzanna sya’ran wa laa yaq lumanna zhufron (janganlah kalian mengambil bulunya jangan menggunting kukunya )”  (H.R. Muslim)

Maka walaupun dalam redaksi sebelumnya dinyatakan jika masuk hilal Bulan Dzulhijjah (kesannya dari awal Dzulhijjah) namun maksudnya adalah 10 Dzulhijjah.

Perbedaan pendapat timbul dalam perkataan : “sya’rihi” (rambutnya) dan “adzfarihi”  (kukunya). Kata ganti “nya” pada hadits tersebut bisa menunjuk kepada orang yang berkurban (mudlohhi), bisa juga menunjuk kepada hewan yang dikurbankan (mudlohha).

Pendapat pertama mengatakan bahwa yang tidak boleh dipotong sebelum disembelih hewan qurban adalah “bulu dan kuku” hewan yang hendak diqurbankan. Hal ini demi kesempurnaan hewan qurban tersebut. Ini adalah pendapat Ibnul Malak dan Ustadz Ali Mustafa Ya’qub.

Alasannya karena ada hadits :

Dari “Aisyah r.ah Rasulullah s.a.w. bersabda : “Tidak ada amalan anak adam yang dicintai Allah pada hari Idhul Adha kecuali berqurban.  Karena ia  akan datang pada hari kiamat bersama tanduk, bulu, dan kukunya.”  (H.R. Ibnu Majah).

Rasulullah s.a.w. bersabda : “Bagi orang yang berkurban, setiap helai rambut (bulu hewan kurban) adalah kebaikan” (H.R. Tirmidzi).

Sehingga tanduk, bulu dan kuku hean qurban tidak boleh cacat sampai ia disembelih. Namun pendapat ini gharib (asing / sendirian) dan dianggap nyeleneh. Karena tidak ada  Imam Madzhab yang berpendapat seperti ini.

Pendapat kedua , yang tidak boleh dipotong (sebelum disembelih hewan qurban) adalah “rambut dan kuku orang yang ber-qurban. Hal ini dikarenakan ibadah qurban saat sholat ‘Idul Adha adalah meniru (tasyabuh) atau menyamakan (qiyas) atau menghormati ibadah haji yang berlangsung di Makkah.

Memang Hari Raya ‘Idul Adha bersamaan dengan Ritual / Ibadah Haji di Makkah. Salah satu urutan (rukun) dalam melaksanakan ibadah Haji, adalah wuquf di Arafah, menginap di muzdalilfah, melakukan thawaf (mengelilingi Ka’bah) kemudian melakukan Sa’i (menempuh bukit Shofa), melempar jumroh,  lalu qurban dan diahiri  dengan ber-tahalul (memotong rambut).

Allah berfirman yang artinya :

Janganlah kamu mencukur (rambut) kepalamu sebelum hewan kurban sampai pada tempat penyembelihannya“ (Al-Baqarah [2] : 196)

Rasulullah s.a.w. bersabda yang artinya :

Dari Anas bin Malik r.a. berkata : “Setelah Rasulullah s.a.w. melempar jumroh dan menyembelih hewan qurbannya, kemudan beliau mencukur rambutnya dengan menyodorkan bagian kanan rambutnya kepada tukang cukur lalu dicukur oleh tukang cukur” (H.R. Bukhari & Muslim)

Dari Jabir r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda : “Akhirilah ihram kalian dengan melakukan Sa’i antara Shifa dan Marwa lalu potonglah rambut kalian” (H.R. Bukhari Muslim)

Jadi mencukur rambut (tahalul) dilakukan setelah memotong hewan qurban (Hadyu). Orang yang melaksanakan haji, harus memakai pakaian ihram. Orang yang sudah memakai pakaian ihram, disebut muhrim (bedakan dengan istilah mahram, yaitu yang haram dinikahi).

Selama berihram, ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan, yaitu bersetubuh, menikah, membunuh binatang (kecuali ikan), memakai wangi-wangian, memotong rambut dan memotong kuku, dan menjaga tidak ada bagian tubuh lain yang hilang/terpotong  hingga ibadah ini diakhiri dengan tahalul (memotong rambut).

Walaupun di dalam Al-Qur’an dinyatakan dengan kalimat larangan (jangan mencukur rambut), namun maksudnya adalah makruh, bukan haram. Artinya jika larangan ini dipenuhi, ia akan mendapatkan pahala, namun jika dilanggar  tidak terkena dosa. Hal ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah s.a.w. :

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash r.a. bahwa ia melihat Nabi s.a.w. ditanya orang-orang pada Hari Haji saat Haji Wada’ (Haji perpisahan). Ada seorang laki-laki bertanya : “Wahai Rasulullah aku belum paham sehingga aku mencukur rambut sebelum menyembelih hewan qurban”. Nabi s.a.w. bersabda : “Sembelilhlah hewan qurban mu dan kamu tidak berdosa” (H.R. Bukhari & Muslim)

Walaupun demikian Ar-Riffa’i dan Ad-Darimi yang berpendapat harus membayar dam (denda) apabila telah mencukur rambut sebelum menyembelih hadyu (hewan qurban untuk haji).

Nah, oleh karena sholat Idul Adha dan ber-qurban pada dasarnya adalah meniru, disamakan (tasyabuh) atau menghormati orang-orang yang melaksanakan ibadah haji di Makkah, maka ketentuan dan batasan-batasan orang yang berhaji pun “di-copy-paste. Maka orang yang tidak pergi haji pun disunnahkan untuk menjaga diri tidak memotong rambut dan kuku sebelum menyembelih udh-hiyah (hewan qurban untuk ‘Idul Adha). Menahan diri tidak memotong rambut dan kuku ini dilakukan sejak masuk tanggal 10 Dzulhijjah (Saat yang berhaji mulai  wuquf di Arafah) sampai akhirnya menyembelih hewan qurban.

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi s.a.w. bersabda : “Barang siapa memiliki dzibhun (hewan sembelihan) yang hendak disembelih, lalu ia melihat hilal bulan dzulhijjah,  janganlah ia mencukur rambutnya dan jangan menggunting kukunya sampai ia berqurban”  (H.R. Muslim)

Walaupun dinyatakan jika masuk hilal Bulan Dzulhijjah (kesannya dari tanggal 1 Dzulhijjah) namun maksudnya adalah 10 Dzulhijjah sebagaimana dinyatakan dalam hadits Ummu Salamah dari jalur yang  lain:

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi s.a.w. bersabda : “Apabila telah masuk tanggal 10 Dzulhijjah sedangkan kalian bermaksud menyembelih udh-hiyah (hewan qurban) ,maka  janganlah ia mencukur sebagian rambutnya dan jangan menggunting kukunya seluruhnya”  (H.R. Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, Sa’id bin Musayyab, Rabi’ah, Imam Ahmad, Ishaq dan Abu Daud serta Abu Al-Hasan Al-Abbadi menyatakan hukumnya haram menggunting rambutnya dan memotong kuku. Ad-Darimi menyatakan haram jika sembelihan sunnah (untuk qurban) namun tidak haram untuk sembelihan wajib (qurban yang telah dinadzarkan). Jika hal ini dilanggar maka ada fidyahnya (denda berupa shodaqoh).

Hal ini karena meniru orang yang berhaji dan umroh harus menjaga anggota tubuhnya sesuai firman Allah yang artinya :

Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (rontok rambutnya), maka wajiblah atasnya membayar fidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 196)

Demikian pula dalam hadits ada lafdz “ta’khudzanna” dan “yaqlumanna” terdapat “nun taukid” nun yang berfungsi memberikan penekanan yang artinya “jangan sekali-kali” sehingga disimpulkan hukumnya “haram”.

Sedangkan Madzhab Syafi’i menyatakan hal ini bukan haram melainkan makruh. Imam Nawawi menyatakan bahwa madzhab kami (yaitu Madzhab Syafi’i) berpendapat bahwa memotong rambut dan kuku pada tanggal 10 Dzulhijjah, bagi orang yang hendak berqurban hukumnya makruh, sampai ia menyembelih hewan qurban . Asy-Syirazi berkata apabila telah masuk tanggal 10 Dzulhijjah sementara orang hendak menyembelih udh-hiyah disunnahkan tidak menggunting rambutnya dan tidak memotong kuku sampai menyembelih hewan qurban.Ar-Rafi’i (ulama Madzhab Syafi’i) juga meriwayatka pendapat Imam Syafi’i bahwa tidak makruh (tidak mengapa)  jika menggunting kuku, namun Imam Nawawi menyatakan pendapat ini lemah. Yang benar adalah makruh mencukur rambut dan menggunting kuku jika telah masuk 10 Dzullhijjah. (Majmu’ Syarah Muhadzdzab Jilid 9 hal 554)

Sedangkan Madzhab Maliki dan Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) berpendapat tidak mengapa (tidak makruh) memotong rambut dan kuku sebelum menyembelih qurban. Hal ini berdasarkan hadits Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash r.a mengenai orang yang memotong rambut sebelum menyembelih hadyu (qurban untuk haji) dan Rasulullah s.a.w. bersabda : “tidak berdosa”.

Juga berdasarkan hadits dari ‘Aisyah r.ah. : “Aku (‘Aisyah) pernah menganyam kalung untuk hadyu (qurban untuk haji) lalu Beliau s.a.w. mengalunginya dan mengirimnya. Dan tida haram bagi Beliau s.a.w. melakukan hal-hal  yang dihalalkan Allah sampai Beliau s.a.w. menyembelih hadyu nya”. (H.R. Bukhari & Muslim)

Hal-hal yang dihalalkan Allah sehari-harinya adalah termasuk memotong rambut dan kuku.

Mengenai hadits Ummu Salamah Al-Laith bin Sa’d berkata: “(Hadits) ini telah diriwayatkan, namun orang-orang mempraktekkan selain yang terkandung dalam hadits ini (artinya memotong rambut dan kuku tidak mengapa).

‘Ikrimah (generasi tabi’in murid dan mantan hamba Ibnu Abbas r.a.) seorang ulama besar Makkah,  ketika disampaikan hadits Ummu Salamah, mengatakan: “Tidakkah sebaiknya orang-orang itu meninggalkan berhubungan badan dan wewangian? (juga) (yaitu sebagaimana orang yang haji)?”.

Maksudnya, seandainya memotong rambut dan memotong kuku itu diharamkan (sebelum memotong qurban), tentu berhubungan badan juga diharamkan (sebelum memotong qurban), karena bersetubuh itu lebih berat daripada memotong rambut dan kuku. Logika ini diamini oleh Ibnu ‘Abdil Barr, Ulama Madzhab Maliki, beliau berkata: “Semua ulama’ telah berijma’ (konsensus), bahwa bersetubuh dengan istri di sepuluh awal Dzulhijjah bagi yang ingin berqurban diperbolehkan, maka perbuatan yang kurang dari itu (seperti memotong rambut dan kuku) hukumnya mubah (boleh)”.

Artinya, walaupun shalat ‘Idul Adha dan qurban ‘Idul Adha itu menyamai ibadah orang yang berhaji, tetap saja tidak sama-sama banget. Karena orang yang berhaji, selama memakai kain ihram sebelum menyembelih qur’bannya, bukan hanya dilarang memotong rambut dan kuku, melainkan dilarang memotong seluruh anggota tubuh yang lain, juga dilarang bersetubuh, melakukan akad nikah, berburu hewan, memakai wewangian yang berbekas dan lain-lain. Sementara larangan ini tidak diterapkan kepada orang yang ‘Idul Adha di negeri masing-masing.

Wallahua’lam

BOLEHKAH SHOLAT JUM’AT DILAKSANAKAN DUA SHIFT ?

sholat jum'at dua shift

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Dalam nusanews.com diberitakan bawha Direktur Utama P.D. Dharma Jaya (Sebuah BUMD Pemda DKI), bernama Marina Ratna Dwi Kusuma Jati mengusulkan kebijakan agar shalat jumat dua shift. Perkara ini menjadi semakin panas ketika dikaitkan dengan isu politik, dimana disinyalir Ibu Marina adalah pendukung Ahok, (karena ia memimpin BUMD milik Pemda DKI). Sehingga muncul statemen bahwa ini adalah agenda untuk menghancurkan Islam.

Pemikir Islam bernama Ibnu Masduki kepada Suara Nasional menyatakan.“Kalau untuk efektifitas kerja biar tidak ada yang kosong, sangat tidak masuk akal, karena ada karyawan yang non-muslim bisa mengerjakan tugas lainnya. Ini ada agenda tersembunyi ingin hancurkan Islam”

Terlepas dari soal politik, sholat jum’at dua shift atau dua gelombang pada satu masjid yang sama bukanlah hal yang asing. Faktanya di Kanada dan Perancis, sholat jum’at diadakan dua kali atau dua shift. Hal ini karena masjid di sana tempatnya terbatas. Selain itu masjid di negara non-muslim sangat jarang / sedikit (misal di beberapa negara non-muslim kadang orang harus menempuh puluhan bahkan ratusan kilometer untuk melaksanakan sholat jum’at. Sehingga kadang terjadi sekelompok orang datang terlambat ke masjid.

Bagaimanakah status hukum melaksanakan sholat jum’at dua kali / dua shift di masjid yang sama?
Pada dasarnya rumus awalnya adalah : Apabila dikumandangkan adzan panggilan untuk sholat jum’at maka wajib bagi laki-laki meninggalkan semua pekerjaan dan bergegas pergi sholat jum’at. Kecuali bagi yang sakit, musafir atau ada alasan udzur syar’i. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah perniagaan (pekerjaan) Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.(Q.S. Al-Jumuah [62] : 9)

Oleh karena itu menyelenggarakan sholat berjamaah dua kali pada satu masjid yang sama tidak pernah dilakukan pada zaman Rasulullah s.a.w. Sama saja permasalahannya berjamaah untuk sholat fardhu maupun sholat jum’at.

Imam Nawawi mengatakan : “Nabi s.a.w, para khulafau rasyidin dan generasi setelahnya tidak pernah melaksanakan sholat jum’at lebih dari satu kali pada satu tempat yang sama padahal mereka melaksanakan sholat di tanah lapang dan negeri yang kecil” (Majmu Syarah Muhadzdzab Jilid IV Hal 1014)

Namun para fuqaha berbeda pendapat ketika membahas jika tidak sampai panggilan adzan dan jarak terjauh gugurnya kewajiban shalat jum’at. Artinya jika di suatu negeri masjid sangat jarang (seperti di negeri non-muslim) maka orang boleh shalat dzuhur saja jika jarak ke masjid yang menyelenggarakan shalat jum’at sangat jauh. Hal ini dibahas dalam tulisan tersendiri.

Rasulullah s.a.w. ketika menjumpai di masjid namun sholat jamaah sudah selesai, maka Beliau akan melaksanakan sholat berjamaah bersama keluarga beliau di rumah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam hadits :

Dari Abu Bakrah r.a.: bahwa Rasulullah s.a.w. pergi ke perkampungan di luar kota Madinah dan menuju masjid hendak sholat, namun ternyata penduduk setempat telah selesai sholat berjamaah. Maka Rasulullah s.a.w. pulang ke rumahnya dan mengumpulkan keluarganya untuk melaksanakan sholat berjamaah.(H.R Thabrani No. 3601 dalam Majma’ Al Ausath).
Imam Haitami mengatakan para perawi hadits di atas terpercaya (Majma’u Zawaid Jilid Hal 135)

Sebagian sahabat juga melakukan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah s.a.w. Imam Ath-Thabari dalam kitabnya Mu’jam Al-Kabir dengan sanad yang bagus dari shahabat Ibnu Mas’ud r.a. Yaitu suatu saat Ibnu Mas’ud bersama dua temanya keluar dari rumah menuju masjid untuk mengikuti shalat jama’ah. Saat itu ia melihat orang-orang keluar masjid, karena sudah selesai melakukan shalat jama’ah. Maka Ibnu Mas’ud pun kembali ke rumah bersama dua temannya. Ia shalat berjama’ah bersama mereka di rumahnya.

Namun Ibnu Abbas r.a. berpendapat boleh melaksanakan sholat jum’at di beberapa tempat (di masjid yang berbeda) dalam suatu negeri. Karena ia melihat Baghdad sebagai negeri yang luas dan sulit bagi orang untuk berkumpul di satu tempat saja. Namun tidak ada keterangan untuk sholat jum’at dua kali di masjid yang sama.

Sebagian generasi tabi’in juga tidak pernah melaksanakan sholat berjamaah dua kali di masjid yang sama. Al-Hafidzh Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah mengaitkannya dalam kitabnya yang masyhur Al-Mushannaf. Riwayatnya berdasarkan sanad yang kuat dari Hasan Al-Bashri, bahwa sesungguhnya para shahabat apabila ketinggalan shalat berjama’ah mereka shalat sendiri-sendiri.

Namun Abu Thayib As-Salamah berpendapat setiap penjuru negeri boleh dilaksanakan sholat jum’at (di masjid yang berbeda) karena Baghdad sama seperti dua negeri, namun tidak boleh lebih dari itu (4 masjid saja). Adapun mengenai sholat jum’at dua kali di masjid yang sama, maka hal itu tidak dikenal pada masanya.

Muhammad bin Al-Hasan berpendapat pelaksanaan dua shalat jumat dalam satu negeri (di beberapa masjid) boleh, baik negeri yang memiliki dua sisi (seperti Baghdad yang dibelah oleh sungai) maupun yang tidak. Atha’ dan Daud Az-Zhahiri berpendapat melaksanakan beberapa sholat jumat boleh dalam satu negeri (di beberapa masjid bukan beberapa sholat jum’at di satu masjid).

Bagaimana pendapat para Imam Madzhab?

Madzhab Hanafi

Abdari menjelaskan tidak ada riwayat yang jelas mengenai pendapat Abu Hanifah. Namun As-Saji mengatakan bahwa pendapat Abu Hanifah sama seperti pendapat Muhammad bin Al-Hasan, yaitu pelaksanaan dua shalat jum’at boleh di suatu negeri yang memiliki dua sisi atau tidak.

Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) berpendapat jika hal itu diadakan di masjid lokal suatu kampung dimana yang sholat adalah penduduk kampung tersebut dengan jadwal yang telah diketahui penduduk kampung tersebut, dengan imam dan muadzin tertentu, serta dihadiri jamaah penduduk kampung tersebut, maka hukumnya makruh tanzih mengadakan sholat berjamaah dua kali termasuk sholat jum’ah dua kali.

Namun sholat berjamaah dua kali atau sholat jum’ah dua kali boleh dilakukan jika sholat jum’ah yang kedua (shift kedua) dilakukan tanpa adzan dan iqamah yang dikeraskan. Atau jika sholat jum’ah yang pertama dilakukan dengan adzan dan iqamah tidak dikeraskan sehingga tidak terdengar keluar. Atau jika sholat jum’ah yang pertama dilakukan dengan adzan dan iqamah namun tidak dipimpin imam dan jamaah dari penduduk lokal. Abu Hanifah berdalil dengan hadits dari Abu Bakrah di atas.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa pendapat yang masyhur dari Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) adalah shalat jum’at boleh diselenggarakan di beberapa masjid apabila suatu negeri memiliki dua sisi atau lebih dan ini tidak khusus untuk Baghdad saja. (Majmu Syarah Muhadzdzab Jilid IV Hal 1013)
Dalam kitab lain dijelaskan pendapat Abu Yusuf bahwa melakukan shalat berjamaah atau shalat jum’ah dua kali (dalam satu masjid) dibolehkan asalkan tidak menyamai shalat jum;ah yang pertama Yaitu misalkan khatib dan imam tidak berdiri di tempat yang sama dengan imam pada shalat jum’ah yang pertama. Jika shalat jum’ah tersebut dilaksanakan di jalanan atau di ruang lain, maka dibolehkan dilakukan dua kali atau dua shift. (Raddul Mukhtar Jilid 1 Hal 553)

Madzhab Maliki

Madzhab Maliki berpendapat mengenai boleh tidaknya membuat shalat jum’at gelombang kedua bergantung apakah di masjid itu sehari-harinya ada orang yang resmi ditunjuk sebagai imam? Jika ada, maka hukumnya makruh membuat shalat jamaah atau sholat jum’at gelombang kedua. Jika seseorang atau sekelompok orang ketinggalan shalat jamaah atau sholat jum’at, maka ada beberapa alternatif : ia sholat munfarid (sendiri), atau mencari masjid lain yang masih menyelenggarakan sholat berjamaah, atau silakan membuat sholat jum’at tersendiri di tempat lain asalkan bukan di masjid itu. Hal ini dikecualikan untuk Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha, diutamakan tetap sholat di masjid itu secara munfarid. (Al-Mudawanatul Kubro Jilid 1 hal 89-90)
Diriwayatkan dari Imam Malik, dari Abdurrahman bin Mujbir, yang mangatakan : “Saya memasuki masjid Juhfah dengan Salim bin Abdullah (cucu Umar Bin Khattab r.a.) namun orang di masjid itu telah selesai melaksanakan sholat berjamaah. Mereka bertanya kepada Salim bin Abdullah ketika hendak melaksanakan sholat munfarid : “Tidakkah kamu hendak mengadakan sholat berjamaah?” Salim menjawab : “Tidak bisa dilaksanakan sholat berjamaah dua kali dalam satu masjidKecuali jika masjid itu tidak ada orang yang resmi ditunjuk sebagai imam, maka di situ boleh dilaksanakan sholat berjamaah beberapa kali”. (Al-Mudawanatul Kubro Jilid 1 hal 89-90)

Madzhab Hambali
Imam Ahmad bin Hambal (Madzhab Hambali ) berpendapat jika negerinya luas seperti Baghdad dan Bashrahm pelaksanaan dua shalat jum’at atau lebih boleh bila diperlukan (Majmu Syarah Muhadzdzab Jilid IV hal 1014)

Madzhab Hambali juga memboleh secara mutlak pelaksanaan shalat berjamaah (termasuk shalat jum’at) beberapa kali (beberapa gelombang) di satu masjid yang sama. Hal berdasarkan atsar sahabat Anas bin Malik r.a. :

Anas r.a. datang ke masjid dan menjumpai orang-orang telah selesai melaksanakan shalat berjamaah. Maka Anas mengumandangkan adzan dan iqamah kemudian melaksanakan shalat berjamaah (lagi dengan orang lain di masjid itu) (H.R. Bukhari)

Jika orang datang ke masjid dan ternyata shalat berjamaah telah selesai, maka ia boleh mengadakan shalat berjamaah lagi bersama orang lain atau jamaah setempat tanpa syarat apapun, tidak perlu izin dari imam masjid. Ini juga merupakan pendapat dari Ataa bin Abi Rabaah, Ibrahim An-Nakha’i, Qathadah, Ishaq bin Rawahi dan Hasan Al-Bashri.(Al-Mughni Jilid I Hal 331)

Madzhab Syafi’i

Imam Syafi’i mengatakan : “Tidak diadakan sholat jum’at pada suatu negeri walaupun banyak jumlah penduduknya banyak pekerjanya dan banyak masjidnya, selain di masjid yang terbesar (masjid agung). Kalau diadakan sholat jum’at di masjid lain sesudahnya, maka tidaklah dihitung itu sebagai sholat jum’at dan haruslah (yang sholat di masjid lain) mengulang sholat dhuhur empat rakaat” (Al-Umm Jilid 2 Hal 11)

Asy-Syirazi mengatakan “Syafi’i semoga Allah merahmati, mengatakan orang-orang dalam satu perkotaan tidak dikumpulkan (untuk sholat jumat) kecuali di satu masjid, dalilnya karena Rasulullah s.a.w. dan Khalifah sepeninggal beliau tidak pernah melaksanakan sholat jum’at di lebih dari satu tempat. (Majmuu’ Syarah Muhadzdzab Jilid IV Hal.1002)

Nawawi mengatakan : Syafi’i dan sahabat-sahabat kami menyatakan salah satu persyaratan sahnya shalat jum’at adalah tidak adanya shalat jum’at lain yang mendahului pelaksanaannya di suatu negeri pada waktu yang sama. Namun Syafi’i pernah mengunjungi kota Baghdad dimana sholat jum’at dilaksanakan di 2 atau 3 tempat, namun Syafi’i tidak memungkirinya. (Majmuu’ Syarah Muhadzdzab Jilid IV Hal.1004)

Namun Imam Syafi’i merubah pendapatnya ketika mengunjungi kota-kota besar seperti Baghdad. Imam Nawawi menjelaskan : “Sahabat-sahabat kami menjelaskan berdasarkan hal itu boleh hukumnya melaksanakan sholat jum’at lebih dari satu tempat di suatu negeri yang banyak penduduknya dan sulit dikumpulkan di suatu tempat. Pendapat ini diikuti oleh Abu Ishaq Al-marwazi dan Abu Abbas bin Suraij”. (Majmuu’ Syarah Muhadzdzab Jilid IV Hal.1005)

Ar-Rafi’i berkata pendapat di atas diikuti oleh Ibnu Kajj, Hanathi, Al Qadhi Abu Thayyib, Rauyani, Al-Ghazali. Al-Mawardi mengatakan pendapat ini juga diikuti oleh Al-Muzanni.

Terkait shalat jum’at diselenggarakan dua kali di masjid yang sama Madzhab Syafi’i memiliki pendapat : Jika sholat berjamaah itu dilaksanakan di masjid yang resmi dan di situ ada imam yang resmi ditunjuk, maka makruh melaksanakan shalat berjamaah (termasuk sholat jum’at) gelombang kedua di masjid yang sama. Maka shalat berjamaah harus menunggu imam yang resmi ditunjuk. Dan tidak boleh menyelenggarakan shalat berjamaah lagi setelah itu tanpa izin darinya. Namun jika imam mengizinkan boleh dilaksanakan shalat berjamaah (termasuk sholat jum’at) gelombang kedua. Jika orang yang datang terlambat itu hanya sendiri, atau sedikit, maka lebih disukai (mustahab) jika jamaah masjid itu ikut shalat lagi sebagai shalat shodaqoh. Jika atas seizin imam masjid, maka boleh melaksanakan shalat berjamaah lagi di masjid itu.

Hal ini sebagaimana hadits Nabi s.a.w. :
Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata; “Seorang laki-laki masuk ke dalam masjid sedang Rasulullah s.a.w dan para sahabatnya telah melakukan shalat, maka Rasulullah saw pun bersabda: “Barangsiapa ingin bersedekah kepada orang ini hendaklah ia shalat bersamanya, ” lalu berdirilah seorang laki-laki dan shalat bersamanya”. (H.R. Ahmad)
Dari Jabir bin Yazid bin Al-Aswad dari Ayahnya : “Bahwa dia pernah shalat bersama Rasulullah s.a.w sementara ketika itu dia masih muda. Tatkala shalat telah selesai dilaksanakan, ada dua orang laki-laki yang berada di salah satu sudut masjid tidak melaksanakan shalat, maka beliau memanggil keduanya dan keduanya pun didatangkan dalam kondisi merinding bulu kuduknya, lalu beliau bersabda: “Apakah yang menghalangi kalian berdua untuk melaksanakan shalat bersama kami?” Mereka menjawab; Kami sudah melaksanakannya di rumah kami. Beliau bersabda: “Janganlah kalian melakukannya lagi, apabila seseorang di antara kalian sudah melaksanakan shalat di rumahnya, lalu mendapatkan imam sedang shalat, maka shalatlah bersamanya, karena yang ini baginya adalah nafilah (sholat sunnah)” (H.R. Abu Daud & Tirmidzi)

Didalam hadits di atas terdapat pemahaman bahwa barangsiapa yang telah melaksanakan shalat di rumahnya (secara munfarid) lalu dia mendapati jamaah tengah melaksanakan shalat berjamaah di masjid, maka hendaklah dia melaksanakan shalat lagi berjamaah bersama mereka, Inilah pendapat Syafi’i, Imam Ahmad dan Ishaq, Al Hasan dan Az-Zuhri. (Aunul Ma’bud Juz II hal 100)

Demikian pula bagi orang yang telah melaksanakan shalat berjamaah di masjid kemudian datang orang yang terlambat / tidak kebagian shalat berjamaah, dapat diminta mendampingi lagi shalat berjamaah kedua kalinya di masjid. Dan shalat nya dianggap shalat sunnah (disebut shalat shodaqoh). Tentu saja pelaksanaannya di masjid yang sama.

Namun jika di masjid itu tidak ada imam dan muadzin yang resmi ditunjuk, maka baik itu masjid resmi atau ruangan yang dijadikan masjid, boleh dilakukan shalat berjamaah (termasuk shalat jum’at) beberapa kali (Majmuu’ Syarah Muhadzdzab Jilid IV Hal.193-194)

Bagaimana pendapat ulama masa kini ?

Syaikh Utsaimin berkata : Berdasarkan pendapat Ibnu Hazm dan ulama yang sependapat dengannya, mengatakan jika seseorang yang ketinggalan shalat jum’at dan mendapati orang lain yang bisa shalat berjamaah dengannya walau hanya satu orang, maka mereka berdua boleh shalat jum’at berjamaah. Jika ia tidak mendapati satu orang pun yang bisa shalat berjamaah dengannya, hendaknya ia shalat dhuhur munfarid (sendirian). Namun jumhur ulama mengatakan pendapat di atas tidak benar. Tidak boleh mengadakan shalat jum’at dua kali di satu masjid yang sama tanpa adanya alasan. Karena jika hal ini dibolehkan, akan menghilangkan tujuan shalat jum’at yaitu berkumpulnya umat Islam untuk satu tujuan di satu tempat dipimpin satu imam (Majmu Fatawa wa Rasail Jilid XVI Hal 29)

Jadi kesimpulannya : pada dasarnya tergantung situasi dan keperluannya. Di kota metropolitan yang amat luas,dan jika hanya ada sedikit tempat yang menyelenggarakan sholat jum’at (seperti di negeri non-muslim) maka dibolehkan mengadakan sholat jum’at beberapa gelombang. Namun untuk negeri muslim seperti indonesia, tidak ada alasan untuk melaksanakan sholat jum’at dua gelombang di masjid yang sama, karena tempat yang menyelenggarakan sholat jum’at banyak sekali, dan jaraknya tidak berjauhan. Wallahua’lam.

APAKAH NABI ISA (YESUS) MASIH HIDUP ATAU WAFAT?

APAKAH NABI ISA (YESUS) MASIH HIDUP ATAU WAFAT?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Yesus Hidup Atau Wafat 02

Umat Islam dan seluruh ulama muslim sepakat bahwa Nabi Isa alaihis salam (Yesus) tidak disalib. Keyakinan ini bersumber dari ayat Al-Qur’an sebagai berikut :

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 157)

Sesungguhnya yang disalib adalah salah satu muridnya yang berkhianat bernama Yudas Iskariot, yang diserupakan wajahnya oleh Allah menyerupai wajah Nabi Isa a.s. Sejarawan Ibnu Ishaq mengisahkan sebuah kisah bahwa yang diserupakan adalah orang bernama Sarjis. Sedangkan Yudas Iskariot adalah murid Nabi Isa a.s. yang menjual informasi kepada tentara Romawi dan menunjukkan rumah tempat berkumpulnya Nabi Isa a.s. (Yesus) bersama 12 orang muridnya.

Adapun Umat Nasrani modern pada saat ini memiliki keyakinan bahwa Nabi Isa a.s. (Yesus) telah wafat di kayu salib. Namun sesungguhnya dalam sejarah keyakinan kristiani, masalah penyaliban Nabi Isa a.s. (Yesus) ini mengalami proses selisih paham dan keragu-raguan. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Al-Qur’an :

Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 157)

Mengenai kontroversi seputar penyaliban Nabi Isa a.s. (Yesus) ini akan kita bahas pada tulisan yang lain. Insya Allah.

Jika Nabi Isa a.s. tidak wafat di tiang salib, lantas kemana kah beliau? Dalam Al-Qur’an dijelaskan :

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya (rafa’ahullah ilaihi). Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 158)

Berdasarkan ayat di atas ulama tafsir mengatakan bahwa Nabi Isa a.s. (Yesus) tidak wafat di kayu salib melainkan diangkat oleh Allah ke sidratul muntaha (langit ke tujuh). Perkataan “raf’u” bisa berarti mengangkat secara fisik dapat pula secara non-fisik. Oleh karena itulah sebagian ulama memahami nya bahwa Nabi Isa a.s. (Yesus) diangkat dalam bersama fisiknya dan sebagian lagi berpendapat yang diangkat adalah ruh nya saja. Jika Yang diangkat adalah bersama fisiknya, berarti Beliau diangkat dalam keadaan hidup-hidup. Sedangkan jika yang diangkat adalah ruh nya saja, berarti sudah pasti Beliau diwafatkan terlebih dahulu. Namun Al-Maraghi berpendapat bahwa yang diangkat bukan ruhnya, melainkan yang dimaksud adalah diangkat derajatnya.

Persoalannya adalah dalam ayat Al-Qur’an yang lain, Allah berfirman yang artinya :

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mutawaffika) dan mengangkat kamu kepada-Ku (waroofi’uka) (Q.S. Ali Imran [3] : 55)

Oleh karena ada ayat di atas menyebutkan “mutawaffika” yang artinya akan Kami wafatkan kamu, maka berarti Nabi Isa a.s. telah di-wafat-kan. Sedangkan pada Q.S. An-Nisaa’ [4] : 158 dikatakan “rafa’ahullah ilaihi” yang artinya Kami telah mengangkatnya (isa) kepada Nya (Allah). Jadi sebagian ulama berpendapat Nabi Isa a.s. diangkat ke langit dalam keadaan telah diwafatkan terlebih dahulu dan yang naik ke langit adalah ruhnya. Adapun kelak Allah akan menghidupkannya kembali dan diturunkan ke bumi.

Pendapat Bahwa Nabi Isa Sempat Diwafatkan Sebelum Diangkat ke Langit

Ali ibnu Abu Thalhah meriwayatkan bahwa Ibnu Abba r.a. menyatakan arti dari “mutawaafika” dalam ayat ini adalah “mematikan / mewafatkan kamu”. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 hal 388)

Al-Alusi dalam Ruhul Ma’ani mengatakan bahwa “mutawaafika” dalam ayat ini artinya adalah “mustaufi ajalika” yaitu menyempurnakan ajal mu agar tidak sampai dikuasai atau tertangkap oleh musuh.

Muhammad Ibnu Ishaq menafsirkan ayat meriwayatkan dari Wahb Ibnu Munabih bahwa Allah mewafatkan Nabi Isa a.s. selama 3 jam (saat peristiwa penyaliban) dan setelah itu Allah mengangkatnya ke langit. Sedangkan Ishaq ibnu Bisyir meriwayatkan dari Idris dari Wahb Ibnu Munabih bahwa Allah mewafatkan Nabi Isa a.s. selama 3 hari dan setelah itu Allah mengangkatnya ke langit.

Ibnu Jarir mengungkapkan sebuah atsar telah menceritakan kepada kami Ishaq telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abdul Karim, telah mencertakan kepada kami Abdush Shomad bin Ma’qal, ia pernah mendengar Wahb menceritakan bahwa Isa Ibnu Maryam ketika diberitahu oleh Allah akan diangkat dari dunia ini, maka gelisahlah hatinya akan kematian dan berita itu teraa berat baginya (Tafsir Ibnu Katsir Juz 6 Hal 26)

Dari atsar ini diketahui bahwa ketika Allah memberitahukan kepada Nabi Isa a.s. : Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mutawaffik) dan mengangkat kamu kepada-Ku (waroofi’uk) (Q.S. Ali Imran [3] : 55) Maka Nabi Isa a.s. memahami bahwa dirinya akan diwafatkan namun mengetahui rencana Allah bahwa yang disalib bukanlah Nabi Isa a.s. melainkan seseorang yang akan diserupakan dengan Beliau.

Pada Q.S. An-Nisaa’ Allah memberitahukan bahwa orang Romawi tidak membunuh dan tidak menyalib Nabi Isa a.s. Ayat ini tidak menunjukkan bahwa Nabi Isa a.s. kemudian tidak pernah wafat. Mungkin timbul kerancuan seolah perkataan “tidak membunuhnya” ini menunjukkan bahwa Nabi Isa a.s. tidak pernah diwafatkan sama sekali sampai ketika Beliau diangkat ke langit oleh Allah.

Pendapat Bahwa Nabi Isa Tidak Diwafatkan Dan Diangkat ke Langit Dalam Keadaan Hidup

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid bahwa mereka (Kaum Yahudi) telah menyalib orang yang diserupakan dengan wajah Nabi Isa a.s. sedangkan Nabi Isa a.s. telah diangkat ke langit oleh Allah dalam keadaan hidup. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 6 Hal 31)

Ibnu Katsir termasuk orang yang membenarkan pendapat ini : “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Isa a.s. kepadaNya dan kini ia masih dalam keadaan hidup dan kelak sebelum kiamat terjadi ia akan diturunkan” (Tafsir Ibnu Katsir Juz 6 hal 36).

Pendapat bahwa Nabi Isa a.s. diangkat ke langit dalam keadaan masih hidup karena Beliau kelak akan diturunkan sebelum akhir zaman dan baru benar-benar diwafatkan.

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya.. (Q.S. An-Nisaa [4] : 159)

Dan Nabi Isa a.s. baru akan benar-benar wafat setelah turun ke bumi, kemudian memecahkan salib dan membunuh babi, serta menjadi hakim selama 40 tahun, di bawah pemerintahan Imam Mahdi, baru kemudian Beliau wafat dan disholatkan oleh kaum muslimin. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits :
Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda “…Isa akan tinggal (di bumi) selama 40 tahun, kemudian ia wafat dan dishalatkan oleh kaum muslimin” (H.R. Ahmad)

Qatadah mengatakan bahwa ungkapan dalam ayat ini (Q.S. Ali Imran [3] : 55) adalah ungkapan muqaddam sekaligus muakhkhar yaitu lebih dahulu mengungkapkan peristiwa yang akhir dan baru mengungkapkan peristiwa yang sebelumnya. Maksud sebenarnya adalah “Sesungguhnya Aku (Allah) akan mengangkatmu kepadaKu setelah itu Aku akan mewafatkanmu yaitu setelah diangkat. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 Hal 388)

Sedangkan Matar Al-Waraq menjelaskan bahwa istilah mutawaafika” dalam ayat ini artinya adalah “mengangkat” sama dengan perkataan “rafa’a”. Sehingga Nabi Isa a.s. sama sekali belum pernah diwafatkan oleh Allah dan langsung diangkat oleh Allah dalam keadaan hidup.

Adapun Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kebanyakan ulama mengatakan bahwa istilah mutawaafika” berasal dari kata “yatawaffa” yang artinya membuat tidur. Hal ini berdasarkan kata yatawafa dalam ayat lain yang bermakna tidur

dan Dialah yang menidurkan kamu (yatawaffakum) di malam hari ….”(QS. Al An’am [6] : 60)

Kata “yatawaffa” juga berarti memegang atau mengambil jiwa seseorang

Allah memegang jiwa orang (Allahu yatawaffa al- anfusahiina) ketika matinya….”(QS. Al Zumar [39] : 42)

Ibnu Abi Hatim meriawayatkan dari Ayahnya yang berkata : Telah menceritakan kepada kami Ahmad Ibnu Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnu Abu Ja’far dari ayahnya, dari Ar-Ra’bi ibnu Anas dari Al Hasan bahwa sehubungan dengan firman Allah : Sesungguhnya Kami akan mewafatkan kamu (Q.S. Ali Imran [3] : 55) maksudnya adalah wafat dalam pengertian tidur. Dan Allah mengangkatnya dalam keadaaan tertidur. Kemudian Al-Hasan mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada orang Yahudi “Sesungguhnya Isa itu belum mati dan sesungguhnya ia akan kembali kepada kalian sebelum kiamat”.

Di sini diambil kesimpulan bahwa pendapat yang rajih (kuat) terkait tafsir Q.S. Ali Imran [3]:55 (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyelamatkan kamu dengan menidurkan kamu (mutawaffika) kemudian mengangkat mu ke langit…

Ialah Allah menidurkan atau membuat pingsan Nabi Isa a.s. kemudian Allah mengangkatnya ke langit (dalam keadaan hidup) untuk menyelamatkan dari tentara Romawi yang hendak menangkapnya. Maka ketika tentara Romawi hendak menangkapnya yang ditemukan adalah 12 orang hawariyyun (murid / sahabat Nabi Isa .a.s) dan salah satunya di situ ada yang diserupakan wajahnya dengan Nabi Isa (mungkin Yudas atau Sarjis).

Dan menuru keyakinan para ulama, kini Nabi Isa a.s. masih dalam keadaan hidup di sidratul muntaha (langit ke tujuh) dengan mendapatkan rezeki dari sisi Allah dan kelak akan diturunkan kembali ke bumi sebelum kiamat besar (qiyamah kubro). Setelah itu Nabi Isa akan mematahkan salib dan membunuh babi dan akan hidup selama 40 tahun sampai kemudian Allah mewafatkannya dan disholatkan oleh umat Islam sebagaimana dijelaskan oleh ayat berikut :

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab (Nasrani dan Yahudi), kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya(qobla mautihi) ….”(QS. An-Nisaa’ [4] : 159)

Perkataan qobla mautihi pada ayat di atas adalah Nabi Isa a.s. baru benar-benar diwafatkan oleh Allah nanti setelah turun kembali ke bumi dan hidup 40 tahun di bumi sebagaimana telah dijelaskan pada hadits sebelumnya.

Wallahua’lam bi showab.

Artikel terkait :

Apakah Nabi Isa (Yesus) Mengetahui Datangnya Hari Kiamat

APAKAH NABI ISA (YESUS) MENGETAHUI DATANGNYA HARI KIAMAT?

APAKAH NABI ISA (YESUS) MENGETAHUI DATANGNYA HARI KIAMAT?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Yesus Akan Datang

Salah satu ayat yang menjadi  ujian bagi umat Islam adalah Q.S. Az-Zukhruf [43] : 61. Arti ayat ini sering diplesetkan sebagai berikut : “Dan sesungguhnya Isa (Yesus) itu benar-benar mengetahui tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu (dengan Yesus)  dan ikutilah Aku (Yesus). Inilah shirothol mustaqim (jalan yang lurus)”.

Dikatakan menjadi ujian karena ayat ini sering digunakan sebagian misionaris untuk memurtadkan umat Islam. Menjadi ujian karena bimbang lah hati umat Islam yang awam. Kalau benar Nabi Isa (Yesus) itu mengetahui tentang kapan datangnya kiamat, maka sungguh luar biasa Yesus itu, karena Nabi Muhammad s.a,w, saja mengatakan tidak tahu mengenai kapan datangnya kiamat.

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. (Q.S. Al-A’raf [7] : 187)

Benarkah arti ayat itu demikian ? Jika benar seperti itu berarti Allah SWT tidak konsisten, karena pada surat yang sama pada ayat yang lain Allah menyatakan hanya Allah sajalah yang mengetahui kapan kiamat tiba.

di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan (Q.S. Az-Zukhruf [43] : 85)

Maka para misionaris pun membantah : “Ooh tidak bertentangan kok”. Mengapa Yesus mengetahui kapan datangnya kiamat? Tentu saja, karena Yesus itu adalah Tuhan itu sendiri. Sehingga ia mengetahui kapan datangnya kiamat. Maka ayat di atas sering dipakai sebagai hujjah bagi non-muslim untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an pun meng-amini konsep ketuhanan Yesus.

Lebih celaka lagi bunyi ayat selanjutnya diplintir seolah artinya adalah : jangan ragu-ragu mengikuti Yesus dan ikutilah dia. Kemudian Yesus lah sesungguhnya shiroothol mustaqim (jalan yang lurus). Padahal selama ini umat Islam selalu membaca Surah Al-Fatihah dalam sholatnya yang mengatakan bahwa kita harus mengikuti shiroothol mustaqim (jalan yang lurus).

Maka seolah-olah ayat ini sangat telak mengugkapkan bahwa Yesus mengetahui kapan datangnya hari kiamat karena ia adalah Tuhan itu sendiri, dan janganlah ragu dengan Yesus, maka ikutilah Yesus karena dia lah yang dimaksud sebagai shiroothol mustaqiim (jalan yang lurus) dimana umat Islam selama ini selalu menyebutnya di dalam shalat.

Tidak seperti yang disangkakan oleh sebagian orang yangs sengaja memelintir ayat  Al-Qur’an Arti yang benar dari Q.S. Az-Zukhruf [43] : 61 adalah “Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberi pengetahuan (mengajarkan keimanan )tentang saa’ah (hari kiamat). Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku (Allah). Inilah shiroothol mustaqim jalan yang lurus

Sahabat Nabi s.a.w. yaitu Ibnu Abbas r.a. ketika menafsirkan ayat di atas mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “saa’ah”  adalah saat sebelum kiamat besar dimana Nabi Isa a.s. akan turun ke muka bumi.

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat di atas menjelaskan : bahwa yang dimaksud “karena itu janganlah kalian ragu tentangnya”, maksudnya adalah ragu tentang peristiwa diturunkannya Nabi Isa a.s. saat sebelum kiamat, karena peristiwa itu pasti terjadi. (Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Juz 25 hal 281)

Dalam hadits Nabi s.a.w. dikatakan bahwa Nabi Isa a.s. akan diturunkan ke muka bumi ini untuk kedua kalinya yaitu sebelum hari kiamat untuk membunuh Dajjal.

“Akan muncul Dajjal di tengah-tengah umatku…. Lalu Allah SWT mengutus Isa ibnu Maryam, seolah-olah dia itu Urwah bin Mas’ud, lalu mencari Dajjal, lantas membunuhnya.” (H.R. Muslim)

Al-Qur’an pun menyatakan bahwa Isa akan turun ke muka bumi sebelum kiamat :

Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (Q.S. An-Nisaa [4] : 159

Ayat yang menyatakan bahwa “Isa (Yesus) akan menjadi saksi pada hari kiamat” juga sering dipelintir oleh sebagian misionaris dengan mengatakan bahwa Yesus akan turun pada hari Pantekosta untuk menuai (memanen) yaitu memilih orang-orang yang percaya pada Yesus (sebagai Tuhan). Maka pada hari itu, siapa yang tidak percaya pada Yesus akan celaka.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan menjadi saksi ialapada waktu kiamat adalah seperti dijelaskan pada Q.S. Az-Zukhruf [43] : 63:

Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: “Sesungguhnya aku (Isa) datang (turun ke bumi) kepadamu dengan membawa hikmat

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “hikmat” pada ayat tsb yaitu nikmat kenabian dan untuk menjelaskan apa-apa yang selama ini kamu perselisihkan”. Ibnu Jarir menjelaskan : “hikmata yaitu perkara-perkara agama dan bukan perkara keduniawian”. (Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Juz 25 hal 282)

Dalam hadits dijelaskan bahwa maksud turunnya Isa bin Maryam a.s. ke bumi adalah :

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kemudian Isa bin Maryam akan menjadi seorang hakim yang adil dikalangan ummatku dan seorang pemimpin yang bijaksana, ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah dan menyuburkan sedekah,… (H.R. Ibnu Majah No. 4067)

Al-Qur’an menjelaskan bahwa setelah penjelasan Nabi Isa a.s maka akan menjadi jelaslah keyakinan yang salah dan keyakinan yang benar. Kaum Nasrani semua nya akan beriman masuk Islam sebelum kiamat, karena Nabi Isa (Yesus) akan menjelaskan kesalahan dari aqidah Nasrani yang menganggap dirinya sebagai Tuhan yang mati di tiang salib

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya.. (Q.S. An-Nisaa [4] : 159)

Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “ikutilah jalan Ku yaitu Shiroothol Mustaqiim (jalan yang lurus)” sebagai berikut : Jalan yang lurus maksudnya adalah peribadatan semata kepada Allah, dan janganlah mengikuti persangkaan orang Nasrani yang mempertuhankan Yesus. Hal ini sebagaimana pada ayat selanjutnya :

Sesungguhnya Allah, Dialah (yaitu Allah) Tuhanku (Tuhannya Yesus) dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia (Allah), ini lah shirothool mustaqim (jalan yang lurus). (Q.S. Az-Zukhruf [43] : 64)

Ayat ini menjelaskan orang yang ingin memelesetkan dan mempelintir ayat sebelumnya (Q.S. Az-Zukhruf [43] : 61) bahwa yang dimaksud dengan shiroothol mustaqim adalah Isa (Yesus). Maka Allah telah memperingatkan pada satu ayat sebelumnya :

Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu(Q.S. Az-Zukhruf [43] : 63)

Maka orang yang mengikuti persangkaan yang dibisikkan setan berselisih dan mengungkapkan teori-teori ke-tuhan-an yang menyimpang karena mengira bahwa Isa (Yesus) itu Tuhan itu sendiri yang menjelma menjadi anak manusia.

“Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka “ (Q.S. Az-Zukhruf [43] : 65)

Hal ini lah yang terjadi pada abad pertengahan, ketika Kaisar Agustinus melalui konsili Nicea memaksakan doktrin “ketuhanan Yesus”. Maka sebagan dari kaum Nasrani mempertahankan ke-esa-an Allah dan tidak mau menuhankan Yesus. Mereka ini disebut golongan Unitarian. Mereka kemudian dicap sebagai kelompok yang sesat, karena berlawanan dengan doktrin Kristen versi Pemerintah Romawi ketika itu. Kebanyakan dari mereka kemudian melarikan diri ke Timur Tengah dan Afrika. Mereka ini kemudian dikejar dan dibunuh oleh tentara Romawi dan apabila tertangkap dijadikan makana singa dalam ajang Gladiator di Roma. Untuk melindungi aqidahnya yang masih murni meng-esakan Allah, mereka menyembunyikan salinan-salinan Taurat dan Injil yang asli. Dokumen inilah yang kemudian ditemukan oleh para arkeolog pada masa kini. Salah satunya adalah manuskrip yang ditemukan di Wadi Qumran.

Wallahua’lam

 

SHALAT ‘ID DI MASJID ATAU LAPANGAN? (JILID 2)

SHALAT ‘ID DI MASJID ATAU LAPANGAN? (JILID 2)

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

PERIHAL JAUHKANLAH WANITA HAID DARI MUSHOLLA (TEMPAT SHOLAT)

Sebagian orang yang berpendapat shalat hari raya harus di masjid berdalil dengan mengatakan bahwa terbukti shalat hari Raya tidak boleh dihadiri oleh wanita yang sedang haid, sehingga ini menunjukkan bahwa shalat waktu itu bukan di lapangan melainkan di masjid sebagaimana hadits berikut :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah berkata, telah memberitakan kepada kami Sufyan dari Ayyub dari Ibnu Sirin dari Ummu Athiah ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Keluarkanlah para wanita-wanita belia (gadis) dan wanita berhijab untuk menghadiri shalat ied dan do`a kaum muslimin. Dan jauhkanlah wanita haid dari musholla. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1298)

Maka perkataan “jauhkan wanita haid dari tempat shalat” sama sekali tidak menunjukkan bahwa shalat tersebut dilaksanakan di masjid. Karena dalam hadits lain jelas disebutkan bahwa termasuk wanita haid diminta hadir untuk mendengar khutbah, menyaksikan perayaan, namun mereka tidak ikut shalat karena wanita haid dalam keadaan hadats besar, dan dilarang ikut melaksanakan shalat.

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ayyub, Yunus, Habib, Yahya bin ‘Atiq dan Hisyam di riwayat yang lain, dari Muhammad bahwa Ummu ‘Athiyah berkata : “Rasulullah s.a.w. memerintahkan kami menyuruh keluar para wanita yang terpingit dalam rumah untuk keluar pada hari raya ‘Id, lalu di tanyakan; “Bagaimana dengan wanita haid?” beliau bersabda; “Hendaknya ia menyaksikan kebaikan pada hari itu dan juga do’a dari kaum Muslimin.” (H.R. Abu Daud No. 961)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Muhammad dari Ummu ‘Athiyah seperti hadits ini, katanya; “Hendaklah wanita haidh agak menjauh dari tempat shalat kaum Muslimin…”

Telah menceritakan kepada kami An Nufaili telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami ‘Ashim Al Ahwal dari Hafshah binti Sirin dari Ummu ‘Athiyah dia berkata; “Kami di perintah …” seperti hadits ini, katanya; “Hendaknya wanita-wanita berada di belakang orang-orang dan bertakbir bersama mereka.”

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid yaitu Ath Thayalisi dan Muslim keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ishaq bin ‘Utsman telah menceritakan kepadaku Isma’il bin Abdurrahman bin ‘Athiyah dari neneknya yaitu Ummu ‘Athiyah lalu dia berkata; “Aku adalah utusan Rasulullah s.a.w. kepada kalian, beliau memerintahkan kami untuk menyuruh keluar wanita yang sedang haidh dan para hamba sahaya pada dua hari raya” (H.R. Abu Daud No. 962)

Maka perintah agar wanita menjauhi tempat shalat maksudnya adalah sekadar menjauh saja dan berada di tepi orang yang shalat, namun dibolehkan hadir di situ. Maka hal ini menunjukkan bahwa shalat ‘Id tidak dilaksanakan di masjid, karena seandainya shalat dilaksanakan di masjid, tentu wanita haid tidak diminta hadir.

Perintah bahwa wanita yang haid hendaklah menjauh dari musholla, maka sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya di atas, bahwa istilah musholla di sini bukanlah bangunan tempat sholat atau masjid, melainkan adalah tanah lapang yang dipakai untuk sholat. Hal ini sebagaimana dijelaskan pada hadits yang telah kami sebutkan sebelumnya :

Nafi’ dari Ibnu Umar berkata, “Di pagi menjelang siang Rasulullah s.a.w. keluar saat hari shalat id, membawa tombak kecil (untuk sutrah). Ketika sampai di tempat musholla, tombak kecil itu ditancapkan di antara beliau dan hadapannya lalu beliau shalat ke hadapannya. Dan itu karena tanah musholla adalah tempat yang terbuka dan tidak ada apapun yang menutupinya (atau untuk dijadikan sutroh). ” (H.R. Ibnu Majah No. 1294)

Maka perkataan musholla (tempat sholat) di sini bukanlah masjid melainkan lapangan karena ada keterangan bahwa ia adalah tempat terbuka yang tidak tertutup apapun.
Maka perkataan Dan jauhkanlah wanita haid dari musholla. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1298) maksudnya adalah agar agak menjauh dari lapangan yang dipakai sebagai tempat shalat ‘Id.

HADITS YANG MENGISYARATKAN SHALAT DI LAPANGAN

Kelompok yang berpendapat bahwa shalat hari raya harus di lapangan berdalil berdasarkan hadits-hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. bersama kaum muslimin melaksanakan shalat hari raya di lapangan :

Dari Al-Baraa’ r.a. berkata : “Nabi s.a.w. keluar pada hari ‘Idul Adha menuju Baqi’. Lalu beliau shalat ‘id dua rakaat. Kemudian beliau menghadapkan wajahnya kepada kami seraya bersabda, “Sesungguhnya awal kurban kita adalah pada hari kita ini. Kita mulai dengan shalat, lalu kita kembali untuk menyembelih hewan kurban. Barang siapa yang melakukan hal itu, maka sungguh ia telah mencocoki sunnah kita. Barangsiapa yang menyembelih sebelum itu (sebelum shalat), maka dia (sembelihannya) adalah sesuatu yang ia segerakan untuk keluarganya, bukan hewan kurban sedikitpun“.(H.R. Bukhari No. 933)

Baqi adalah tanah luas di sebelah Timur masjid Rasulullah s.a.w. yang belakangan dijadikan sebagai kuburan kaum muslimin.

Telah menceritakan kepada kami Hamzah bin Nushair telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Suwaid telah mengabarkan kepadaku Unais bin Abu Yahya telah mengabarkan kepadaku Ishaq bin Salim bekas budak Naufal bin ‘Adi telah mengabarkan kepadaku Bakr bin Mubasyir Al Anshari dia berkata; “Aku berangkat untuk melaksanakan shalat Idul Fithri dan Idul Adha bersama sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. Ketika pergi, kami melewati lembah Bathhan hingga sampai di musholla, lalu kami shalat bersama Rasulullah s.a.w., ketika kami pulang ke rumah masing-masing, kami juga lewat lembah Bathhan.” (H.R. Abu Daud No. 978)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah s.a.w. shalat ke musholla namun musholla tersebut adalah sebuah tempat yang melewati lembah bathan. Maka jelas musholla di sini bukanlah masjid. Walaupun demikian hadits ini dla’if karena mauquf (terputus) sampai pada perkataan Bakr bin Mubasyir dan ia tidak tsiqoh karena Mubasyir hanya meriwayatkan 1 hadits ini saja.

Mengenai maksud dari musholla ini maka dikatakan dalam kitab Subulus Salam membedakan istilah masjid dan musholla :

“Bahwasanya Rasulullah s.a.w. pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adlha keluar ke mushalla.. Hadits ini sebagai dalil disyari’atkannya keluar ke mushalla. Dari hadits ini pula dengan mudah difahami bahwa keluarnya Nabi itu ke sebuah tempat yang “bukan masjid” dan memang benar demikian, karena sesungguhnya mushallanya Nabi itu berupa suatu tempat yang telah diketahui oleh banyak orang yang mana jarak antara mushalla dan pintu masjidnya Rasulullah s.a.w. adalah seribu dzira’ (± 500 m.) (Subulus Salam Juz 2 Hal 67)

“Bahwasanya ketika hari raya, Rasulullah menempuh jalan yang bebeda, yakni kembali dari mushallanya melewati arah yang tidak beliau lewati sewaktu berangkat menuju mushalla”. (Subulus Salam Juz 2 Hal 69)

Jika musholla yaitu maksudnya adalah masjid Nabi s.a.w., niscaya tidak disebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. menempuh jalan yang berbeda antara ketika menuju mushola dan kembali dari musholla, karena masjid Rasulullah s.a.w. menempel dengan kamar beliau.

KETIKA HUJAN, SHALAT DILAKSANAKAN DI DALAM MASJID

Dari Abu Hurairah r.a. berkata : bahwa kami pernah kehujanan pada waktu pelaksanaan shalat Ied, maka Nabi s.a.w.melaksanakannya di masjid.” (H.R. Abu Daud 980, Ibnu Majah No. 1303)

Telah menceritakan kepada kami Al ‘Abbas bin Utsman Ad Dimasyqi berkata, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim berkata, telah menceritakan kepada kami Isa bin Abdul A’la bin Abu Farwah ia berkata; Aku mendengar Abu Yahya Ubaidullah At Taimi menceritakan hadits dari Abu Hurairah ia berkata, “Pada masa Rasulullah s.a.w.orang-orang diguyur hujan di hari raya, maka beliau pun shalat bersama mereka di masjid. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1303)

Dari hadits-hadits di atas diketahui apabila shalat ‘Id memang dilaksanakan di dalam masjid, niscaya tidak disebutkan bahwa “karena hujan maka shalat dilaksanakan di masjid”. Jika sejak awal shalat memang dilaksanakan di dalam masjid, maka tidak jadi masalah hujan atau tidak hujan sehingga tidak perlu diceritakan dalam hadits. Maka penceritaan masalah hujan menunjukkan bahwa semula shalat dilaksanakan di luar masjid / lapangan, dan ketika hujan baru dilaksanakan di dalam masjid.

BERSAMBUNG..

SHALAT ‘ID DI MASJID ATAU LAPANGAN? (JILID 1)

SHALAT ‘ID DI MASJID ATAU LAPANGAN? (JILID 1)

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Esok hari Insya Allah umat Islam akan melaksanakan shalat ‘Idul Adha. Melaksanakan shalat hari raya ‘Idul adha atau idul fitri sendiri hukumnya adalah sunnah muakkad yaitu sunnah yang sangat ditekankan pelaksanaannya karena Rasulullah s.a.w. tidak pernah meninggalkannya. Sebagian dari umat Islam akan melaksanakannya di lapangan sedangkan bagi sebagian yang lain melaksanakan di masjid. Baik yang melaksanakan di lapangan maupun melaksanakan di dalam masjid, keduanya sama-sama sah shalatnya.

Namun sangat disayangkan ada sebagian orang yang bersikap berlebihan dengan mengatakan bahwa yang melaksanakan shalat di masjid adalah bid’ah dan tidak sesuai dengan sunnah. Sikap ini dibalas tidak kalah sengitnya dengan pihak yang shalat di masjid dengan mengatakan bahwa yang shalat di lapangan itu tidak sah shalatnya, karena di lapangan banyak najis dan tahi binatang. Sedangkan tidak sah shalat orang di tempat najis.

Masalah ini termasuk masalah khilafiyah (yang memungkinkan terjadi perbedaan pendapat). Baik yang melaksanakan shalat di lapangan maupun di masjid, keduanya mengikuti salah satu pendapat imam madzhab, sehingga tidak boleh pendapat madzhab yang satu menganggap sesat madzhab yang lain karena tiap-tiap imam madzhab memiliki kapasitas sebagai mujtahid (berhak melakukan ijtihad).

Sebenarnya inti dari perbedaan pendapat masalah ini adalah seputar istilah “mushola” dalam hadits-hadits yang menjelaskan tentang shalat hari raya. Secara kamus mushola artinya memang tempat sholat. Mendengar kata musholla kita langsung terbayang masjid kecil tempat sholat. Sehingga sebagain berpendapat bahwa mushola di sini maksudnya adalah masjid. Namun sebagian lain berpendapat istilah musholla maksudnya adalah lapangan.

Kami menjumpai beberapa tulisan sebagian orang yang bersikap berat sebelah dan tidak adil dalam rangka membenarkan pendapatnya. Maka dalam kesempatan ini ada baiknya kita mengetahui duduk masalahnya secara adil. Yang dimaksud adil di sini adalah kita harus sampaikan semua dalil yang tersedia terkait permasalahan ini tanpa menutup-nutupi dalam rangka membenarkan salah satu pendapat. Demikian pula berbagai alasan dan penafsiran masing-masing kelompok harus dibahas secara adil kelebihan dan kekurangannya.

KELOMPOK YANG BERPENDAPAT SHALAT ‘ID HARUS DI MASJID

Kelompok yang berpendapat bahwa shalat hari raya harus di masjid berkata bahwa
dalam hadits disebutkan “musholla” (tempat sholat) ” atau “musmaliin” (tempat sholatnya kaum muslimin) dan tidak pernah menyebut lapangan, sebagaimana hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Maryam berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far berkata, telah menceritakan kepadaku Zaid bin Aslam dari ‘Iyadl bin ‘Abdullah bin Abu Sarah dari Abu Sa’id Al Khudri berkata, “Pada hari raya Idul Fitri dan Adlha Rasulullah s.a.w. keluar menuju musholla dan pertama kali yang beliau kerjakan adalah shalat hingga selesai..” (H.R. Bukhari No. 903)

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz dari Dawud dari ‘Iyadh bin ‘Abdullah dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah s.a.w. pada hari Idul Fitri dan Idul Adha ke Musholla lalu Beliau shalat bersama manusia. (H.R. Nasa’i No. 1558)

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Sa’id Al Aili berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb berkata, telah mengabarkan kepadaku Sulaiman bin Bilal dari Yahya bin Sa’id dari Anas bin Malik berkata, “Rasulullah s.a.w. melaksanakan shalat ‘ied di musholla dengan menjadikan tombak sebagai satirnya (sutrohnya). ” (H.R. Ibnu Majah No. 1296) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin ‘Abdurrahman dari Amru bin Abu Amru dari Al Muthallib dari Jabir bin Abdullah ia berkata : “Aku pernah mengikuti shalat ‘idul adhha bersama Nabi s.a.w. di musholla, maka ketika selesai berkhutbah beliau turun dari mimbar. (H.R. Tirmidzi No. 1441) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Nafi’ bahwa Abdullah bin Umar mandi pada Hari Raya Idul Fitri sebelum pergi ke musholla.” (Atsar .R. Imam Malik dalam Al-Muwatha’ No. 384)

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, serta Khalaf bin Hisyam Al Muqri`, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Manshur dari Rib’i bin Hirasy dari seorang sahabat Nabi s.a.w, ia berkata : “Orang-orang berselisih mengenai akhir hari Ramadhan. Kemudian terdapat dua orang badui yang datang dan memberikan persaksian di hadapan Nabi s.a.w. dengan nama Allah, sungguh mereka telah menyaksikan Hilal kemarin sore. Kemudian Rasulullah s.a.w. memerintahkan orang-orang agar berbuka. Khalaf menambahkan dalam haditsnya; dan agar mereka pergi ke musholla mereka. (H.R. Abu Daud No. 1992)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Ya’qub Al Iskandari, dari ‘Amr dari Al Muththalib dari Jabir bin Abdullah, ia berkata : “Saya menyaksikan bersama Rasulullah s.a.w. Shalat Adha di musholla, kemudian tatkala menyelesaikan khutbahnya beliau turun dari mimbarnya, dan beliau diberi satu ekor domba kemudian Rasulullah s.a.w. menyembelihnya, dan mengucapkan: “BISMILLAAHI WALLAAHU AKBAR, HAADZA ‘ANNII WA ‘AN MAN LAM YUDHAHHI MIN UMMATI” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, ini (kurban) dariku dan orang-orang yang belum berkurban dari umatku). (H.R. Abu Daud No. 2427)

KELOMPOK YANG BERPENDAPAT SHALAT ‘ID HARUS DI LAPANGAN

Jika kita mengartikan musholla seperti pada bahasa Indonesia maka yang terbayang memang sebuah bangunan atau ruangan kecil yang digunakan untuk sholat. Namun dalam hadits yang lain dijelaskan bahwa yang dimaksud musholla adalah tanah yang lapang dan bukan bangunan tempat shalat sebagaimana hadits berikut :

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Al Auza’i berkata, telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar berkata, “Di pagi menjelang siang Rasulullah s.a.w. keluar saat hari shalat id, membawa tombak kecil (untuk sutrah). Ketika sampai di tempat musholla, tombak kecil itu ditancapkan di antara beliau dan hadapannya lalu beliau shalat ke hadapannya. Dan itu karena tanah musholla adalah tempat yang terbuka dan tidak ada apapun yang menutupinya. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1294) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih.

Dalam hadits di atas dikatakan bahwa yang dimaksud musholla (tempat sholat) di sini adalah tanah terbuka yang tidak ada sesuatu menutupinya. Maka jelas musholla ini bukan bangunan masjid kecil atau musholla seperti istilah dalam bahasa Indonesia. Maka tidak salah jika penerjemah sering langsung saja menerjemahkan musholla ini adalah tanah lapang atau lapangan.

Dan memang istilah mushollah sering dipakai untuk mengistilahkan lapangan seperti misalnya pada hadits ini :

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah, bahwa Abu Usamah telah menceritakan kepada mereka dari Usamah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Nabi s.a.w. menyembelih kurbannya di musholla dan Ibnu Umar melakukan hal tersebut. (H.R. Abu Daud No. 2428)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad dan saya mendengarnya dari Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Usamah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, dia menyembelih udhiyah (hewan kurban) -nya di musholla pada hari Nahr dan dia menuturkan bahwa Nabi s.a.w. melakukan seperti itu. (H.R. Ahmad No. 5609)

Telah mengabarkan kepadaku seorang yang telah mendengar Jabir bin Abdullah Al Anshari berkata : “Aku termasuk diantara orang yang merajamnya. Maka kami merajamnya di musholla di Madinah” (H.R. Bukhari No. 4866)

Jika musholla di situ diartikan bangunan tempat sholat atau masjid maka tidak mungkin menyembelih hewan di dalam masjid. Bahkan hukuman rajam juga disebutkan dilaksanakan di musholla. Rasanya tidak mungkin jika hukuman rajam dilaksanakan di dalam masjid.

BERSAMBUNG..

MENGHILANGKAN RASA IRI

MENGHILANGKAN RASA IRI

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Iri ialah menginginkan hal yang sama seperti yang diperoleh atau dialami orang lain karena menganggap yang diperoleh atau dialami orang lain itu lebih baik dari pada apa yang diperoleh atau dialami dirinya.

Jadi intinya iri itu karena ada sesuatu pada diri orang lain yang kita pandang atau kita anggap lebih baik. Dan intinya iri itu karena menganggap apa yang diperoleh atau dialami pada diri kita itu lebih buruk daripada orang lain alami.

Nah jadi menekan rasa iri berkisar pada 2 hal itu, yaitu : 1. menganggap lebih baik (yaitu yang ada pada orang lain) dan 2. menganggap lebih buruk (yaitu yang ada pada orang lain). Jadi intinya adalah merasa oran lain lebih dan merasa driri kurang. Jika kita telah berhasil menekan 2 hal ini maka Anda akan berhasil menekan rasa iri

Maka jika 2 hal di atas dipersempit lagi ternyata keduanya sama-sama bermuara pada yang namanya ANGGAPAN dan ini berasal dari CARA PANDANG. Jika berhasil mengubah cara pandang maka Anda akan berhasil menekan rasa iri

Contoh, wanita yang bertubuh gemuk, merasa iri dengan temannya wanita yang bertubuh langsing. Hal ini karena adanya ANGGAPAN bahwa tubuh langsing itu lebih sexy lebih dikagumi singkat kata lebih baik daripada tubuh yang gemuk. Jika ANGGAPAN dan PANDANGAN terhadap tubuh gemuk dan langsing ini bisa diubah misal bahwa ternyata ada lho yang seleranya justru dengan wanita gemuk, ada lho ras dan bangsa tertentu justru menganggap wanita gemuk itu sexy (misal di ras polynesia, india dan arab) dan ada lho pria yang menganggap kurus itu tidak menarik, maka Anda tidak akan iri lagi karena ANGGAPAN merasa orang lain lebih dan merasa diri kurang itu telah berubah.

Nah cara-cara mengubah ANGGAPAN dan CARA PANDANG terhadap perbandingan diri sendiri dengan orang lain diantaranya sebagai berikut :

1. Percayalah bahwa setiap orang itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Maka tak ada orang yang melulu hanya memiliki kelebihan dan melulu hanya memiliki kekurangan. Ada sih memang segelintir orang yang sepintas full dengan kekurangan namun prosentasenya sedikit sekali dan ada hikmah lain di balik kekurangannya dan mungkin ia tidak dimintai pertanggung jawaban penuh sebagaimana orang lain.

2. Maka tugas kita adalah mengalihkan perhatian dari kekurangan diri kita dan kelebihan orang lain dokus pada kelebihan diri kita saja.

3. Maka tugas kita adalah menemukan apa kelebihan diri kita dan pupuk kelebihan itu secara maksimal. Arahkan kelebihan itu sehingga berguna bagi orang banyak. Karena tak ada gunanya kelebihan itu jika tidak bermanfaat bagi orang lain.

4. Cara menemukan kelebihan diri kita adalah banyak mencoba berbagai hal dan mengamati diri kita sendiri. Satu-satu nya cara menemukan bakat diri kita adalah rajin mencoba berbagai hal dan menggali potensi diri kita sendiri. Sekali bakat itu ditemukan pupuk habis-habisan hingga menjadi nomor satu dalam bidang tersebut.

5. Carilah lingkungan yang mendukung mencuatnya bakat kita. Carilah lingkungan yang menghargai bakat kita. Terkadang lebih baik menjadi ikan paling besar di kolam yang kecil ketimbang menjadi ikan kecil atau biasa saja di kolam yang besar. Jadi kadang potensi diri kita tidak terlihat karena kita berada di kolam yang penuh dengan potensi potensi lain yang menonjol. Maka sejenak menyepi di lingkungan yang lebih terbatas kadang ada gunanya agar nampak bakat dan potensi diri kita

6. Jangan mencoba meniru atau mengejar kelebihan orang lain karena setiap orang memiliki kelebihannya sendiri-sendiri. Jadilah diri sendiri dan tak ada gunanya menjadi orang lain karena itu menipu diri dan menyiksa diri.

7. Setiap orang akan dimudahkan Allah untuk apa yang telah menjadi jatahnya (bagiannya) maka temukanlah apa yang telah menjadi bagian kita dan tak ada gunanya menyibukkan diri memikirkan apa yang menjadi jatah orang lain.

8. Orang lain bahagia tapi pasti punya masalah dan diri kita mungkin punya masalah namun pasti bisa bahagia.

9. Orang lain beruntung tapi bisa jadi itu awal musibah bagi dirinya sedangkan diri kita mengalami musibah namun bisa jadi adalah awal keberuntungan kita.

10. Orang lain beruntung namun bisa jadi ia tidak bersyukur dan itu adalah musibah bagi dia, sedangkan kita mungkin mengalami musibah namun jika bersyukur maka itu adalah awal keberuntungan kita. Karena jika kita bersyukur Allah akan menambahkan kenikmatan pada diri kita.

11. Berhentilah menganggap diri orang lain besar dan belajarlah untuk lebih menghargai apa yang ada dalam diri sendiri. Karena orang lain tak akan menghargai apa yang ada pada diri kita jika kita sendiri tidak menghargai nya.