AJARAN SEMUA NABI HAKIKATNYA SAMA

AJARAN SEMUA NABI HAKIKATNYA SAMA

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Doa Berbagai Agama

Orang-orang di masa Adam hingga Nuh Alaihissalam semuanya mentauhidkan atau meng-Esakan Allah. Tak ada Nabi yang mengajar Allah lebih dari satu. Tak ada Nabi yang  mendakwahkan Allah memiliki anak atau diperanakkan

Sesunguhnya agama (tauhid)  ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu maka bertakwalah kamu kepadaKu (Q.S. 23:52)

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama[1340] dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Q.S. Asy Syuura [42] : 13)

Dari Abu Hurairah radiyallahuanhu bahwasannya Rasulullah Saw bersabda:

 نحن معاشر الأنبياء إخوة لعلات ديننتا واحد

 “Kami semua para nabi bersaudara dan agama kami satu“.  (HR. Bukhari-Muslim)

Lalu mengapa kenyataannya kini terdapat berbagai agama yang memiliki konsep ke-Tuhan-an yang berbeda? Maka jawabannya : hal itu dikarenakan sebagian mereka menolak ajaran yang dibawa para Nabi dan lebih suka mengikuti konsep yang mereka bikin-bikin sendiri, bahkan tidak jarang mereka membunuh para Nabi itu.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (beberapa rasul) sebelum kamu kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tidak datang seorang rasulpun kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya” (Q.S. Al-Hijr : 10-11)

Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (Q.S. Az Zukhruf : 6 – 7)

Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga saja (Q.S. 2:78)

Ada juga sebagian yang karena kedengkian atau kemunafikan dalam hatinya berpura pura mengikuti ajaran para Nabi dan Rasul namun kemudian mereka mengubah ubah isi kitab Allah sekehendak hatinya. Inilah yang menyebabkan tak sampai ratusan tahun setelah Nabi / Rasul wafat, ajaran-ajaran para Nabiyullah yang lurus itu telah mengalami distorsi yang jauh.

 Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:”Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka mengubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di ubah-ubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah.” Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar (Q.S. Al-Maidah : 41)

Sementara orang yang awam  terhadap agama mengikut  saja perkataan ulamanya, pendetanya atau rahib nya. Mereka mengatakan bahwa pendeta dan rahib mereka adalah maksum (bebas dari kesalahan), sehingga mereka membenarkan setiap perkataan walaupun sesat dari ajaran yang asli.

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah (Q.S. At-Taubah : 31)

Maka sebagian dari umat sepeninggal para Nabi itu ada yang berlebihan (ghuluw) dalam beragama dengan menuhankan Nabinya, atau meanggap Nabinya itu adalah titisan Tuhan. Kemudian mereka memasukkan konsep jahiliyah dan paganisme dengan menjadikan malaikat atau orang sholeh (seperti Uzair) sebagai anak Allah.

 Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?(Q.S. At-Taubah : 30)

 Maka Rasulullah Muhammad s.a.w. sudah memperingatkan agar kita tidak berlaku ghuluw dalam mengkultuskan Nabi sehingga terseret pada kesesatan seperti umat-umat terdahulu.

“Janganlah kalian berbuat ghuluw (berlebihan) kepadaku sebagaimana Nashara telah berbuat ghuluw kepada Ibnu Maryam. Aku ini hanyalah seorang hamba, maka katakanlah Abdullah dan Rasul-Nya”. (H.R. Muttafaqun ‘Alaihi)

Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat) (Q.S. Al-Maidah : 13)

Kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya (Q.S. Al-An’aam : 91)

Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu (Q.S. Al-Maidah : 63)

Inilah yang terjadi pada syariat dan kitab kitab Nabi terdahulu. Sepeninggal Nabi Nabi itu pengikutnya mencampur adukkan ajaran para Nabi itu dengan cerita cerita dan legenda hasil tangan manusia, sebagian ayat Allah yang tidak cocok dengan selera manusia disembunyikan dan diubah ubah

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?(Q.S. Ali Imran : 71)

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya.” Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang mem bakar.”  (Q.S. Ali Imran : 181)

Sesungguhnya di antara mereka (ahli kitab) ada satu golongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Alkitab supaya kamu mengira itu sebagian dari Alkitab padahal ia bukan dari Alkitab dan mereka mengatakan itu adalah dari sisi Allah padahal ia bukan Dari sisi allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedangkan mereka mengetahuinya” (Q.S. Ali Imran : 78)

Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri lalu mengatakan ini adalah dari Allah untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatannya itu…” (Q.S. Al-Baqarah :79)


Demikianlah duduk masalah sebenarnya mengapa dari Tuhan yang satu bisa timbul berbagai agama yang berbeda seperti sekarang ini.  Bukan sebagaimana yang disangkakan oleh orang  yang menduga-duga dan meyusun teori sendiri, bahwa seolah para Nabi itu mendekati kebenaran hakiki dengan pikirannya masing-masing.

Syariat Yang Dibawa Sama Hanya Berbeda Detil Teknisnya

Apa yang diserukan oleh para Nabi dari paling awal sampai Nabi paling akhir adalah sama yaitu kalimat Laa ilaaha illa Allah agar menyembah hanya kepada Allah yang esa

 ياأهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم ألا نعبد إلا الله ولا نشرك به شيئا ولا يتخذ بعضنا بعض أربابا من دون الله فإن تولوا فقولوا اشهدوا بأن مسلمون

Artinya:”Wahai ahli kitab marilah kalian menuju satu kalimat yang sama diantara kita yaitu tidak menyembah selain Allah serta tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun, dan tidak boleh diantara kita menjadikan tuhan yang disembah selain Allah swt, bilamana kalian mau maka katakanlah oleh kalian kami bersaksi bahwa kami orang-orang muslim“. (Qs.Ali Imran(3):64)

 ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوط

 Artinya: “Dan kami telah mengutus bagi setiap umat seorang Rasul dimana mereka berseru:”Beribadahlah kalian pada Allah dan jauhilah thaghut”. (Q.S. An Nahl(16):36)

Allah Swt telah menjelaskan bahwa setiap para Nabi dan Rasul yang di utus-Nya, semuanya menyerukan untuk beribadah pada Allah semata, adapun cara dan bagaimana bentuk peribadatan itu sesuai dengan risalah yang dibawakan oleh Nabi tersebut

لكل جعلنا منكم شرعة ومنهاجا ولوشاء الله لجعلكم أمة واحدا ولكن ليبلوكم في ما آتاكم فالستبقوا الخيرات

“Kami telah jadikan bagi tiap-tiap kalian sya’riat dan jalan, seandainya Allah berkehendak  tentu akan menjadikan kalian umat yang satu akan tetapi untuk mencoba kalian maka berlomba-lombalah menuju kebaikan.”( Q.S.. Al Maidah(4):48)

Ibnu Abbas radiyallahuanhu berkata: yang dimaksud syari’at dan minhaj adalah jalan dan sunnah.

Tiap Rasul diutus sesuai dengan budaya kaumnya, dan kondisi peradaban kaum tersebut saat itu Maka mereka memiliki syari’at yang berbeda-beda seperti ibadah, perintah dan larangan, penghalalan dan pengharaman dan lain sebagainya.

 Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (Q.S. Ibrahim : 4)

Sebenarnya dari sejak jaman Nabi Adam alaihissalam sampai Nabi Muhammad Shalallahu alaihissalam inti syariat juga sama, yaitu ada sholat, ada puasa, ada zakat, ada haji (tawaf mengelilingi ka’bah) Cobalah kita perhatikan catatan sejarah yang bisa kita lihat dari kisahnya Sahabat Salman Al-Farisi dalam mencari dan membandingkan agama-agama yang ada pada zaman itu

Telah bercerita kepada kami Ya’qub telah bercerita kepada kami ayahku dari Ibnu Ishaq telah bercerita kepadaku ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah Al Anshari dari Mahmud bin Labid dari ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata: telah bercerita kepadaku Salman Al Farisi haditsnya dari mulutnya berkata: Aku adalah orang Persia dari Asbahan dari penduduk salah satu perkampungannya yang bernama Jai dan ayahku adalah pemimpin kampungnya, aku adalah orang yang paling ia sayangi, ia tetap mencintaiku hingga ia menahanku dirumahnnya, yaitu terus menjaga perapian layaknya anak perempuan ditanah dirumah, aku lelah menjalankan agama majusi hingga aku menjadi pelayan api yang dinyalakan dan tidak pernah ditinggalkan barang sesaat. Ayahku memiliki pekarang besar dan pada suatu hari ia tidak sempat mengutus bangunannya lalu ia berkata kepadaku: Wahai anakku! Sesungguhnya aku tidak sempat mengurus bangunan hari ini karena aku sibuk dengan pekaranganku, pergi dan lihatlah. Ia memerintahkanku sebagaian hal yang ia inginkan lalu aku pun pergi menuju pekarangan ayahku, aku melewati sebuah gereja nasrani, aku mendengar suara-suara mereka, aku masuk dan melihat yang mereka lakukan, saat melihat mereka aku mengagumi shalat mereka dan aku menyukai hal mereka, aku berkata: Demi Allah ini lebih baik dari agama kami, demi Allah aku tidak meninggalkan mereka hingga matahari terbenam dan aku meninggalkan pekarangan ayahku, aku tidak mendatanginya, aku berkata kepada mereka: Dari mana agama ini berasal? Mereka menjawab: Dari Syam. Lalu aku kembali menemui ayahku dan ia telah mengirim orang untuk mencariku dan aku tidak sempat melakukan pekerjaannya secara keseluruhan. Berkata Salman Al Farisi: Saat aku mendatangi ayahku, ia berkata: Wahai anakku! Kamu dari mana, bukankah kau aku perintahkan sesuatu? Aku berkata: Wahai ayahku, aku melintasi suatu kaum, mereka shalat di gereja mereka, dan agama mereka membuatku kagum, demi Allah aku tetap berada didekat mereka hiungga matahari terbenam. Ayahku berkata: Wahai anakku! Tidak ada kebaikan pada agama itu, agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik darinya. Aku berkata: Tidak, agama itu lebih baik dari agama kita. Ayahku mengkhawatirkanku lalu ia mengikat kakiku dan menahanku di rumah. Kaum nasrani mengirim utusan menemuiku, aku berkata kepada mereka: Bila rombongan dagang dari Syam mendatangi kalian, beritahu aku. Lalu kafilah dagang dari Syam dari kalangan Nasrani tiba lalu mereka memberitahukan kedatangan mereka kepadaku. Aku berkata kepada mereka: Bila urusan mereka usai dan mereka ingin kembali ke negara mereka, beritahu aku. Saat mereka hendak kembali ke negara mereka, mereka memberitahukan hal itu kepadaku lalu aku melemparkan rantai besi dari kakiku lalu aku keluar bersama mereka hingga aku tiba di Syam, saat tiba di Syam, aku bertanya: Siapa pemeluk agama ini yang terbaik? Mereka menjawab: Uskup di gereja. Lalu aku mendatanginya, aku berkata: Aku mulai simpai dengan agama ini dan aku ingin bersamamu, aku akan melayanimu di gerejamu, aku belajar darimu dan shalat bersamamu. Uskup itu berkata: Silahkan masuk. Aku masuk bersamanya, ternyata ia adalah orang yang tidak baik, ia memerintahkan mereka untuk bersedekah dan menganjurkannya, bila mereka mengumpulkan banyak uang untuknya, uskup itu menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak diberikan kepada kaum fakir miskin hingga ia mengumpulkan tujuh tempayan emas dan perak. Aku pun sangat membencinya karena perbuatannya yang aku lihat, kemudian orang itu mati dan orang-orang Nasrani mendatanginya untuk menguburnya. Aku berkata kepada mereka: Dia adalah orang yang tidak baik, ia memerintahkan kalian bersedekah dan menganjurkannya, bila kalian datang membawa sedekah, ia menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak diberikan kepada kaum fakir miskin sama sekali. Mereka bertanya: Bagaimana kau tahu? Aku menjawab: Aku akan menunjukkan harta simpanannya pada kalian. Mereka bertanya: Tunjukkan. Lalu aku memperlihatkan tempatnya lalu mereka mengeluarkan tujuh tempayan penuh dengan emas dan perak. Saat melihatnya, mereka berkata: Demi Allah kami tidak akan menguburnya selama-lamanya. Lalu mereka menyalibnya dan merajamnya dengan batu. Setelah itu mereka mendatangkan orang lain untuk menggantikan posisinya. Berkata Salman Al Farisi: Tidaklah aku melihat seesorang yang tidak shalat lima waktu melainkan menurutku ia pasti lebih baik dari orang itu, tidak lebih zuhud terhadap dunia, tidak lebih menginginkan akhirat dan tidak lebih membiasakan beribadah pada malam dan siang melebihinya. Aku sangat mencintai orang itu dengan suatu cinta yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, aku tinggal bersamanya selang berapa lama lalu ia sekarat, aku berkata padanya: Hai Fulan, aku sudah hidup bersamamu dan aku sangat mencintaimu dengan cinta yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dan telah tiba urusan Allah seperti yang telah kau lihat, apa yang kau wasiatkan padaku dan apa gerangan yang kau perintahkan padaku? Orang itu berkata: Wahai anakku, demi Allah saat ini aku tidak melihat seorang pun seperti aku dulu, orang-orang sudah tiada, mereka sekarang merubah (agama) dan meninggalkan lebih banyak dari yang pernah mereka lakukan kecuali seseorang yang ada di Mushil, dia adalah si fulan, dia seperti aku, temuilah dia. Saat orang itu meninggal dan disemayamkan, aku menemui orang Mushil itu lalu aku berkata: Hai fulan, sesungguhnya si fulan berwasiat kepadaku saat sekarat agar aku bertemu denganmu, ia memberitahuku bahwa kau seperti dia. Orang itu berkata: Tinggallah di tempatku. Aku tinggal di tempatnya dan ternyata ia adalah orang terbaik berdasarkan urusan temannya. Tidak lama kemudian orang itu meninggal dunia, saat sekarat aku berkata kepadanya: Hai fulan, sesungguhnya si fulan berwasait kepadaku agar menememuimu dan kini urusan Allah ‘azza wajalla telah tiba mengenaimu seperti yang kau lihat, lantas kepada siapa kau mewasiatkanku dan apa yang kau perintakan padaku? Orang itu berkata: Wahai anakku! Aku tidak mengetahui seorang pun seperti itu kecuali seseorang di daerah Nashiyyin, dia adalah si fulan, temuilah dia. Saat ia meninggal dunia dan disemayamkan, aku menemui orang Nashiyyin, aku mendatanginya dan memberitahukan beritanya serta perintah yang diberikan padaku. Orang itu berkata: Tinggallah bersamaku. Aku pun tinggal ditempatnya ternyata ia sama seperti kedua temannya. Aku tinggal bersama orang terbaik, demi Allah tidak lama kemudian kematian datang menjemputnya. Saat sekarat, aku berkata padanya: Hai fulan, sesungguhnya si fulan berwasiat kepadaku untuk menemui seseorang, ia berwasiat untuk menemuimu, lantas kepada siapa engkau mewasiatkanku untuk menemuinya dan apa yang kau perintahkan padaku. Ia berkata: Wahai anakku! Demi Allah kami tidak mengetahui seorang pun yang tetap seperti agama kami yang aku perintahkan padamu agar menemuinya kecuali seseorang di Amuriyah, ia seperti kami, bila kau masih hidup, temuilah dia karena ia sama seperti kami. Saat orang itu meninggal dan disemayamkan, aku menemui orang Amuriyah dan aku memberitahukan kisahnya pada orang itu. Orang itu berkata: Tinggallah di tempatku. Lalu aku tinggal bersama seseorang sesuai ajaran para sahabat-sahabatnya dan urusan mereka. Berkata Salman Al Farisi: Aku bekerja hingga aku punya banyak sapi dan kambing lalu kematian menjelang orang itu, saat sekarang aku berkata padanya: Hai fulan, dulu aku pernah bersama seseorang, ia berwasiat kepadaku agar memenuhi si fulan kemudian ia berwasiat kepadaku agar memenuhi seseorang, lalu ia berwasiat kepadaku agar mememuimu, kepada siapakah gerangan engkau berwasiat kepadaku untuk aku temui dan apa yang kau perintahkan padaku? Ia berkata: Wahai anakku! Demi Allah aku tidak mengetahui seorang pun seperti kami dulu yang aku perintahkan agar kau datangi tapi kau telah dinaungi oleh masa seorang nabi yang diutus membawa agama Ibrahim, ia muncul di tanah arab, ia berhijrah ke suatu kawasan di antara dua padang pasir, di antara keduanya ada kebun kurma, pada dirinya ada tanda-tanda yang tidak samar, ia memakan hadiah dan tidak memakan sedekah, di antara kedua pundaknya ada tanda kenabian, bila kau bisa pergi ke negeri itu lakukanlah. Setelah itu ia meninggal lalu aku tinggal selang berapa lama di Amuriyah kemudian sekelompok pedagang dari Bani Kalb melintasiku, aku berkata kepada mereka: Bawalah aku ke negeri arab dan aku akan memberi kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini. Mereka berkata: Baik. Aku memberikan semua itu pada mereka hingga mereka membawaku ke Wadil Qura, mereka menzhalimi aku dan menjualku pada seorang Yahudi sebagai seorang budak, aku tinggal di tempat orang itu dan aku melihat kebun kurma dan aku berharap semoga itulah negeri yang disebutkan oleh temanku. Saat aku berada ditempatnya, seorang keponakannya datang dari Madinah dari Bani Quraizhah, ia membeliku dari orang itu dan ia membawaku ke Madinah. Demi Allah tempat itu kini telah aku lihat persis seperti ciri-ciri yang disebutkan temanku. Aku tinggal ditempat itu dan Allah mengutus rasulNya, beliau tinggal di Makkah selama waktu ia tinggal disana. Aku sama sekali tidak mendengar khabar mengenai beliau karena aku sibuk sebagai seorang budak lalu beliau berhijrah ke Madinah, demi Allah aku sungguh tengah mengurus pelepah kurma milik tuanku, aku melakukan beberapa pekerjaan ditempat itu sementara tuanku tengah duduk, tiba-tiba seorang keponakannya datang dan berdiri dihadapannya, ia berkata: Allah membinasakan Bani Qailah, demi Allah mereka sekarang berkumpul di Quba` dengan dipimpin oleh seseorang yang datang dari Makkah hari ini, mereka mengiranya nabi. Berkata Salman Al Farisi: Saat mendengarnya, aku gemetaran hingga aku kira akan jatuh mengenai tuanku. Aku turun dari pohon kurma lalu aku berkata kepada keponakan tuanku: Apa kau bilang, apa kau bilang? Lalu tuanku marah lalu memukulku dengan kerasnya kemudian berkata: Apa urusanmu dengan hal ini, sana kerja. Aku berkata: Bukan apa-apa, aku hanya ingin mempertegas yang ia katakana. Berkata Salman Al Farisi: Saya memiliki sesuatu yang telah saya kumpulkan, saat sore hari aku mengambilnya lalu aku pergi menemui Rasulullah s.a.w. saat beliau berada di Quba`, aku masuk menemui beliau lalu aku berkata kepada beliau: Aku dengar Tuan adalah orang shalih, Tuan bersama para sahabat asing yang memiliki suatu keperluan, ini sedikit punyaku aku berikan sebagai sedekah, menurutku kalian lebih berhak mendapatkannya dari pada yang lain. Lalu aku mendekatkannya lalu Rasulullah s.a.w. bersabda kepada para sahabat beliau: “Makanlah” sementara beliau menahan tangan dan tidak makan. Aku berkata dalam hati: Ini tanda pertama. Lalu aku pergi meninggalkan beliau, aku mengumpulkan sesuatu kemudian Rasulullah s.a.w. pindah ke Madinah, aku mendatangi beliau lalu aku berkata: Aku melihat Tuan tidak memakan barang sedekah, ini hadiah, dengannya aku memuliakan Tuan. Lalu Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallammemakan dan memerintahkan para sahabat beliau untuk makan, mereka pun makan bersama beliau. Aku berkata dalam hati: Ini tanda kedua. Setelah itu aku mendatangi Rasulullah s.a.w. saat beliau di Baqi’ Al Gharqad, beliau tengah mengiring jenazah salah seorang sahabat beliau, beliau mengenakan dua selimut milik beliau, beliau duduk ditengah-tengah para sahabat, aku mengucapkan salam kepada beliau lalu aku berputar untuk melihat punggung beliau, aku melihat tanda seperti yang disebutkan oleh temanku, saat Rasulullah s.a.w. meliahtku mengitari beliau, beliau tahu bahwa aku mencari bukti tentang sesuatu yang dijelaskan padaku. Beliau melepas selendang beliau dari punggung beliau lalu aku melihat tanda, aku mengenalinya lalu aku tertelungkup dihadapan beliau, aku mencium beliau dan aku menangis. Rasulullah s.a.w. bersabda kepadaku: “Pindahlah.” Aku pun pindah lalu aku mengisahkan ceritaku pada beliau seperti yang aku kisahkan padamu wahai Ibnu ‘Abbas. Para sahabat beliau mendengar kisahku, hal itu membuat Rasulullah s.a.w. kagum. (H.R. Ahmad No.22620)

Jadi agama Nasrani jaman dahulu pun aslinya ada ibadah shalat. Namun mengapa orang Nasrani saat ini tidak melaksanakan shalat? Siapa bilang? Kalau kita mengatakan Nasrani pada zaman ini pasti diwakili oleh Katolik Roma yang berpusat di Vatican, serta Kristen Protestan. Karena media barat adalah yang mendominasi dunia pada har ini. Padahal orang Nasrani dari Ortodox Syiria, Gereja Nestorian Nasrani Ortodox Ethiopia, Koptik di Mesir atau Maronit di Libanon, masih bisa kita saksikan sisa sisa ajaran shalat dari Nabi Isa. Namun orang orang Barat mengatakan bahwa mereka adalah kristen Timur Tengah yang terpengaruh ajaran Islam. Sebuah tuduhan palsu yang memutar balikkan kenyataan sejarah.

Jadi sebenarnya ajaran para Nabi dari dulu itu sama. Namun detil rinciannya yang berbeda. Misalnya jika pada jaman Nabi Adam pernikahan boleh dengan saudara sekandung namun pada masa selanjutnya tidak boleh.

Pada umat Nabi Daud puasa itu sehari puasa sehari berbuka (dikenal dengan puasa Nabi Daud) lalu pada umat Nabi Isa puasa itu adalah 40 hari (sekarang masih ada sisa-sisa umat Katolik yang berpuasa 40 hari sebelum Hari Raya Paskah), sedangkan pada umat Muhammad puasa adalah 30 hari.

Nabi Adam dari sejak pertama diturunkan di bumi sudah diturunkan batu Hajar Aswad sebagai penanda Ka’bah dan Nabi Adam diminta bertawaf mengelilinginya. Baru pada masa Nabi Ibrahimlah bangunan Ka’bah itu dibangun (ditinggikan) dengan batu-batu membentuk bangunan kotak dan Hajar Aswad disimpan di dalamnya.

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun (untuk ibadah) manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah)” (Q.S. 3:96)

Guru Besar Studi Islam Universitas Al-Azhar, Dr Ablah Muhammad al-Kahlawi, menyatakan, Ka’bah pertama kali dibangun oleh malaikat sekitar 2.000 tahun sebelum Nabi Adam diciptakan. Mereka berhaji ke sana yang kemudian diikuti oleh Nabi Adam. Hal ini berdasarkan riwayat Imam Azraqy

Ibnu Abbas RA menceritakan bahwa nabi Adam AS pernah melaksanakan Ibadah haji dan bertawaf keliling Ka’bah dengan tujuh kali putaran. Kemudian para malaikat menemuinya dan berkata : “Semoga hajimu mabrur wahai Adam. Sesungguhnya kami telah melaksanakan Ibadah Haji di Baitullah ini sejak 2000 tahun sebelum kamu.” Adam bertanya : “Pada zaman dahulu, apakah yang kalian baca pada saat tawaf  ? ” Mereka menjawab :

“Dahulu kami mengucapkan ; Subhanallah wal hamdu lillah wa la illaha illa Allah wallahu akbar” Adam berkata: “tambahkanlah dengan ucapan “Wa la haula wa la quwwata illa billah” Maka selanjutnya para malaikatpun menambahkan ucapan itu. (lihat Imam Al-Azraqy I/45)

 Berapa Banyak Nabi dan Rasul

Jumlah Nabi dan Rasul ada banyak tapi yang diceritakan kepada kita di Al-Qur’an hanyalah 25 orang

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, diantara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu” (Q.S. 40 : 78)

Adapun jumlah dari nabi dan rasul amatlah banyak, firman Allah swt :

Artinya : “Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS. Fathir : 24)

 وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ

Artinya : “Dan Sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Ghafir : 78)

Dari Abu Dzar al Ghifary berkata,”Aku bertanya kepada Rasulullah saw berapakah jumlah para nabi?” beliau saw bersabda,”124.000.” lalu aku bertanya berapa jumlah para rasul?” maka beliau saw bersabda.” (H.R. Ibnu Hibban)

Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) Yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. semuanya Termasuk orang-orang yang shaleh. Dan Ismail, Ilyasa’, Yunus dan Luth. masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).” (Q.S. Al An’am : 83 – 86)

 Imam Thabrani meriwayatkan dari Abu Umamah bahwa seorang laki-laki bertanya,”Wahai Rasulullah, apakah Adam adalah seorang nabi?” Beliau saw menjawab,”Ya.” Kemudian orang itu bertanya,”Berapa masa antara dia dengan Nuh?” Beliau saw menjawab,”10 abad.” Lelaki itu bertanya lagi,”Berapa masa antar Nuh dengan Ibrahim?” Beliau saw menjawab,”10 abad.” Lelaki itu bertanya lagi,”Wahai Rasulullah berapakah jumlah para rasul?” Beliau saw menjawab,””.

Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan nabi-nabi sebelumku adalah sama dengan seseorang yang membuat sebuah rumah, diperindah dang diperbagusnya kecuali tempat untuk sebuah batu bata disudut rumah itu. Maka orang-orangpun mengelilingi rumah itu dan mengaguminya, dan berkata: Mengapa engkau belum memasang batu bata itu? Nabipun berkata: Sayalah batu bata terakhir itu, sayalah penutup para nabi.(Ibn Hajar al-’Atsqalani, Fathu al-Bari bi Sharh al-Bukhari, Juz VII

Dari sini kita bisa menyimpulkan janganlah kita menghujat dan mencaci maki tokoh-tokoh Nabi dari agama-agama non-muslim  karena tidak mustahil bahwa pada setiap bangsa dan setiap umat di setiap masa, Allah telah mengutus seorang nabi atau orang sholeh yang memberikan peringatan. Bisa jadi yang disebut Khong Hu Cu di Cina, Shinto di Jepang, atau Budha Gautama di India atau lain-lainnya itu tadinya adalah para Nabi atau orang sholeh. Hanya saja ajaran mereka setelah ribuan tahun mengalami perubahan dan penyelewengan dari bentuk aslinya.

3 thoughts on “AJARAN SEMUA NABI HAKIKATNYA SAMA

  1. hasan says:

    that’s dan help me, thanks…..

  2. Aisha Aiz says:

    pak budi, sya mau nanya terkait jumlah rasul,
    waktu di liqo, ad teman sya yg bertanya bgini “sebnrnya jumlah rasul yg sebnrnya brpa sih? kt ny rasul dimulai dari nuh, sdgkan adam dan idris hanyalah nabi, bkn rasul, lalu knpa jumlah ny jd 25? trus, di dlm Al qur’an, yg byk itu jumlah nabi atau rasul ?”
    mohon dijwb ya pak, soal ny kami blum dpt jawaban yg memuaskan
    afwan qobla wa ba’da

    • Dari Abu Dzar al Ghifary berkata,”Aku bertanya kepada Rasulullah saw berapakah jumlah para nabi?” beliau saw bersabda,”124.000.” lalu aku bertanya berapa jumlah para rasul?” maka beliau saw bersabda 315.” (H.R. Ibnu Hibban)

      Telah bercerita kepada kami Abu Mughirah telah bercerita kepada kami Mu’an bin Rifa’ah telah bercerita kepadaku ‘Ali bin Yazid dari Al Qasim Abu ‘Abdur Rahman dari Abu Umamah berkata; Rasulullah s.a.w. duduk di masjid, mereka mengira wahyu turun pada beliau lalu mereka mengerumuni beliau hingga Abu Dzarr datang dan masuk kemudian duduk didekat Rasulullah s.a.w. Saya berkata : ”Wahai Nabi Allah! Apakah Adam seorang nabi? Rasulullah s.a.w. bersabda; “Ya, nabi yang diajak bicara, diciptakan Allah dengan tanganNya kemudian ditiupkan ruhNya lalu berfirman padanya; Hai Adam! Majulah.” Ia berkata; Wahai Nabi Allah! Berapa jumlah para nabi? Rasulullah s.a.w. bersabda; “124.000, rasul berjumlah 315, sangat banyak.” (H.R. Ahmad No. 21257)

      Dari Abu Dzar Al-Ghifary berkata,”Aku bertanya kepada Rasulullah saw berapakah jumlah para nabi?” beliau saw bersabda,”124.000.” lalu aku bertanya berapa jumlah para rasul?” maka beliau saw bersabda 315.” (H.R. Ibnu Hibban)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s