ISLAM DIINUL SYAMIL

ISLAM ADALAH SISTEM BAGI ALAM SEMESTA

 Oleh : Abu Akmal Mubarok

 

Mungkin kita semua sudah mengetahui bahwa setiap benda di alam ini, baik itu benda mati atau benda hidup, tumbuhan atau binatang, masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Batu itu keras, buah-buahan itu lunak. Air bisa mengikuti bentuk wadahnya, dan mendidih pada suhu 100 derajat celcius. Orang menyebutnya hal itu hukum alam. Apa sebenarnya hukum alam itu ? Hukum alam itu pada hakekatnya adalah hukum Tuhan.

Maka kita memahami jika dikatakan bahwa setiap benda di alam ini, baik itu benda mati atau benda hidup, tumbuhan atau binatang, masing-masing tunduk pada apa yang telah ditetapkan oleh Allah baginya. Allah menetapkan sifat masing-masing makhluq-Nya sesuai dengan kehendaknya. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa mereka semua dalam keadaan Islam (tunduk).

Sehingga mengertikah Anda sekarang bahwa tunduk dan pasrah yang terkandung dalam makna kata “islam” itu bukanlah berlaku untuk manusia saja. Tunduk dan pasrah yang terkandung dalam makna kata “islam” itu sembarang tunduk atau pasrah, melainkan tunduk dan berserah diri kepada aturan Allah

Tunduk dan pasrah pada segala yang telah digariskan oleh Allah. Pasrah, berarti kita rela dan lapang dada menerima aturan Allah dan mengakui bahwa Allah-lah yang berhak mengatur diri kita. Bukan pikiran atau kemauan kita sendiri. Bukan pula sesama makhluk yang mangatur kita. Ibarat seorang anak yang rela hatinya dididik oleh ayahnya. Sebab ayahnyalah yang membesarkannya. Begitu pula kita rela Allah yang mengatur kita, karena Allah-lah yang telah menciptakan kita. Karena Allah-lah yang menghidupkan kita. Karena Allah-lah yang memberi rizki kita. Pasrah, tunduk dan berserah diri sepenuhnya seperti itulah yang disebut dengan istilah “Islam”.

Sekarang dapatlah Anda mengerti jika dikatakan bahwa semua makhluk dari yang terkecil sampai yang terbesar semuanya dalam keadaan Islam. Oleh karena semua makhluk dari yang terkecil sampai terbesar tunduk kepada aturan Allah. Aturan Allah itu wujud berupa hukum hukum fisika, hukum kimia dll. Bukankah kita pernah mempelajari sifat-sifat zat cair, sifat-sifat zat padat atau gas? Bagi yang pernah mempelajari kimia pasti tahu tabel unsur. Di situ ada titik didih, jumlah elektron dan sebagainya.

Maka sifat-sifat itu yang menentukan adalah Allah. Sehingga dapat dikatakan bahwa Islam itu adalah sistem kehidupan ini sendiri. Islam adalah sistem bagi alam semesta.

Apa rahasia dibalik pemberian nama Islam ? Mengapa nama ajaran ini adalah Islam ? Bukan nama lainnya ? Allah memberi nama Islam, bukan nama-nama lainnya karena itulah inti atau hakekat dari kehidupan di alam ini. Yaitu : ketundukan. Sebab agama Allah ini pada hakekatnya untuk semua makhluk. Jika agama ini diberi nama dengan “Muhammadinisme”, maka batu-batu itu tidak kenal Muhammad. Tumbuh-tumbuhan tidak kenal Muhammad. Akan tetapi jika diberi nama “Islam”, maka keseluruhan alam ini, pada hakekatnya dalam keadaan tunduk (Islam).

Lebih jauh lagi, ke-Islam-an semua makhluk itu, bukan semata-mata tunduk saja. Melainkan mereka semua juga berdzikir, mengagungkan asma Allah, mereka semua juga sholat sebagaimana manusia disuruh untuk sholat. Hal ini digambarkan pada ayat berikut:

“Ruang angkasa yang berlapis tujuh, bumi dan segala isinya bertasbih memujiNya. Akan tetapi kamu tidak mengerti bagaimana cara tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Q.S. 17 : 44)

Hal ini mungkin sulit dipahami oleh logika semata. Boleh jadi Anda berpikir bahwa yang dimaksud oleh ayat ini ialah bahwa setiap benda tunduk kepada hukum alam. Yang Anda sebut dengan hukum alam ini sebenarnya adalah hukum Allah. Anda mungkin menyebut bahwa bertasbihnya mereka ialah dengan tunduk kepada hukum-hukum fisika. Maka yang Anda sebut dengan hukum fisika ini pada hakekatnya adalah sunatullah (ketetapan Allah).

Namun bukan tidak mungkin bahwa yang dimaksud dengan bertasbih itu adalah benar-benar bertasbih sebagaimana manusia melantunkan asma-asma Allah. Dalam tafsir Jalalain dikatakan bahwa benda-benda tersebut melantunkan kalimat “Subhanallah wa bihamdihi” sebagaimana lafal ayat di atas. Tidaklah mustahil bagi Allah membuat benda-benda mati tersebut sebenarnya berkata-kata berdzikir menyebut asma Allah. Hal ini lebih jelas lagi disebutkan dalam ayat berikut ini :

“Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa bertasbih kepada Allah semua makhluk yang ada di ruang angkasa dan di bumi. Begitu juga burung-burung yang terbang di udara. Masing-masing mengetahui cara ia sholat dan bertasbih. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka lakukan”. (Q.S. 24 : 41)

Mungkin perlu Anda renungkan sebuah fakta mengenai kehidupan burung yang diungkapkan oleh Prof. Yamoto Hirosuke, seorang ornitolog (ahli mengenai burung) dari Jepang :

“Dulu orang mengira bahwa kawanan burung yang sedang berpindah ke sebuah daerah yang lebih hangat dipimpin oleh burung-burung yang lebih tua dan berpengalaman. Tapi kepercayaan ini tidak didukung oleh fakta. Kenyataannya burung itu tidak memiliki pimpinan. Jika kebetulan dalam rombongan burung itu ada burung yang terbang di depan, tidak berarti bahwa ia adalah si pemimpin. Sebab kadang-kadang burung yang sangat muda dan bahkan belum memiliki bulu yang terbang paling depan. Jelaslah bahwa burung itu tidak mengetahui rute yang harus ditempuh dan tidak dapat membimbing yang lainnya. Jadi siapakah yang membimbing burung-burung itu ?”

Siapakah yang membimbing burung-burung itu ? Mungkinkah ada keterlibatan akal yang maha tinggi memberikan ilham kepada burung-burung itu ? Salah satu jenis burung di benua Amerika ada yang memiliki kebiasaan aneh. Ketika musin dingin tiba, mereka melakukan perjalanan jauh beribu-ribu kilometer melewati lautan Atlantik mencari daerah yang lebih hangat. Tapi di suatu daerah tertentu di tengah laut, mereka sejenak berputar-putar dengan gerakan membentuk angka delapan. Tidak ada orang tahu, untuk apa dan mengapa mereka berbuat demikian. Mungkinkah itu merupakan cara mereka beribadah kepada Tuhannya ? Wallahualam. Hanya Allah-lah yang tahu.

HUKUM TUHAN DALAM SETIAP MAKHLUQ-NYA

Sekali lagi ditegaskan di sini, bahwa Tuhan telah menetapkan sifat dan karakteristik makhluq-makhluq-Nya. Pada benda-benda mati, ketetapan-ketetapan Tuhan diwujudkan dalam bentuk hukum-hukum fisika dan kimia, atau yang sering disebut hukum alam. Begitu pula untuk tumbuh-tumbuhan, Tuhan telah menetapkan  sifat dan perilaku masing-masing dalam gen-gen tumbuhan. Gen-gen itulah yang akan menentukan bagaimana bentuk fisiologi tumbuhan tersebut, bentuk daunnya, bentuk buahnya, warna bunganya dan lain sebagainya.

Dalam dunia binatang, orang mengenal apa yang disebut dengan insting. Insting itu bisa dikatakan sebagai sebuah pola perilaku yang telah diprogram ke dalam otak binatang tersebut. Pertanyaannya adalah : dari manakah datangnya insting ?. Siapakah yang memprogramnya dalam otak binatang tersebut ? Jika kita renungkan, bukankah insting dalam otak binatang itu pada hakekatnya adalah sebuah himpunan ketentuan Tuhan mengenai sifat dan perilaku yang harus dijalankan oleh binatang tersebut ?

Bagaimana dengan manusia ? Manusia sebagai makhluq yang paling sempurna tentunya mendapat perlakuan yang berbeda dengan makhluq-makhluq Tuhan yang lainnya. Ketetapan Tuhan dalam diri manusia, sebagian berbentuk apa yang terdapat dalam makhluq-makhluq lainnya. Dalam diri manusia juga berlaku hukum fisika dan kimia atau hukum alam lainnya. Dalam manusia juga terdapat gen-gen dan kromosom. Gen-gen itulah yang akan menentukan bentuk muka, mata, telinga, warna rambut, warna kulit, bahkan sebagian sifat juga dipengaruhi oleh gen ini. Dalam diri manusia juga terdapat sedikit insting sebagaimana terdapat dalam hewan.

Namun karena manusia dianugerahi otak oleh Tuhan, sehingga dapat berpikir dan memahami sesuatu, sehingga dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan, maka sebagian ketentuan perilaku yang ditetapkan Tuhan untuk manusia,  dituangkan dalam bentuk buku yang disebut Kitab Suci. Dan Kitab Suci yang berlaku untuk periode abad ke-20 sampai akhir jaman nanti adalah Al-Qur’an. Maka untuk ketetapan yang satu ini, manusia diperbolehkan memilih, untuk tunduk atau tidak tunduk dengan ketetapan Tuhan.

SEMUANYA BERPUTAR

Salah satu ibadah ritual yang diperintahkan di dalam Islam ialah menunaikan ibadah haji, jika mampu. Salah satu ritual yang terpenting dalam ibadah haji ialah thawaf yaitu berjalan berputar tujuh kali mengelilingi Ka’bah. Jika Anda pernah pergi haji atau melihat suasana thawaf melalui televisi, Anda akan menyaksikan bagaimana ribuan manusia berputar mengelilingi Ka’bah selama 24 jam tiada hentinya.

Ibadah thawaf mengelilingi Ka’bah ini telah diperintahkan oleh Allah sejak dahulu kala. Apa rahasia dibalik perintah ini ? Salah satu hikmah ibadah haji adalah napak tilas sejarah perjuangan Nabi Ibrahim, Isma’il dan lain-lain.

Namun mengapa mesti berputar mengelilingi Ka’bah ? Dan mengapa 7 kali ? Jawaban pertanyaan-pertanyaan ini mungkin hanya Allah yang tahu.

Namun ada satu fenomena menarik di sini. Bahwa gerakan berputar merupakan salah satu sistem gerakan yang paling universal di alam raya ini. Renungkanlah bahwa segala yang ada di alam ini, semua benda,  dari yang paling kecil sampai yang paling besar semuanya melakukan gerakan berputar.

Mungkin Anda sudah mengetahui bahwa bagian yang terkecil dari benda adalah atom. Sedangkan atom terdiri dari inti atom yang dikelilingi secara terus menerus oleh elektron. Artinya di  dalam tubuh semua benda di alam ini terdapat bagian terkecil dimana elektron-elektron berputar mengelilingi inti atom. Sedangkan bulan berputar mengelilingi bumi. Dan bumi berputar mengelilingi matahari. Semua benda yang ada di atas bumi, otomatis bergerak bersama-sama mengelilingi matahari. Apakah berhenti sampai di sini ? Ternyata tidak. Matahari bersama planet-planetnya, ternyata merupakan salah satu bagian dari kumpulan bintang-bintang yang membentuk galaksi Bima Sakti (Milky Way). Dan ternyata semua bintang-bintang dalam galaksi Bima Sakti ini berputar mengelilingi inti galaksi. Jadi gerakan berputar adalah gerakan yang universal, dari yang paling kecil sampai paling besar.

APAKAH ANDA TELAH TUNDUK ( ISLAM ) ?

Sekarang renungkanlah oleh Anda. Jika semua benda di alam ini tunduk ( Islam ) pada ketentuan yang telah Allah tetapkan, mereka semuanya tunduk kepada hukum-hukum Allah, mereka semuanya bertasbih memuji Allah dan mereka semuanya sholat, mengapa manusia yang katanya makhluk yang paling mulia ini tidak mau tunduk ? Tidak mau sholat ?

Jika setiap benda di ruang angkasa dan di bumi rela diatur oleh hukum Allah. Mereka satu sama lain tidak saling meniru dan keluar dari yang digariskan Allah. Mengapa manusia tidak rela berhukum dengan hukum Allah ? Mengapa manusia masih berhukum kepada hukum buatan sesama manusia sendiri ? Bahkan menganggap bahwa hukum buatan manusia lebih sempurna daripada hukum buatan Allah ?

Jika darah Anda, jantung Anda, setiap rambut yang ada pada tubuh Anda, setiap sel yang ada dalam tubuh Anda, semuanya tunduk kepada hukum alam yang pada hakekatnya adalah hukum Allah, maka pantaskah bahwa Anda menyuruh diri Anda menentang Allah? Masihkah Anda enggan mengerjakan sholat ? Pantaskah jika Anda sesak dadanya ketika diminta untuk mengikuti aturan Allah ? Masihkan Anda merasa tidak berguna mempelajari agama Allah ? Coba renungkan sekali lagi ayat di bawah ini :

“Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. 61 : 1)

HANYA DUA PILIHAN : TERTINGGI ATAU TERENDAH

Jika Anda  telah memahami penjelasan di atas, maka mengertilah kita bahwa bagi makhluq bernama manusia hanya terdapat dua pilihan yaitu menjadi makhluq tertinggi atau menjadi makhluq terendah. Manusia yang tidak tunduk kepada hukum Allah dianggap lebih rendah dari binatang ternak, seperti dikatakan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raaf :

“Dan sesungguhnya Kami jadikan isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai qulub (hati), tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kebesaran Allah), dan mereka memiliki telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengar. Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan lebih rendah lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.(ghofiluun)” (Q.S. 7 : 179)

Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluq yang paling mulia. Mengapa paling mulia ? Karena manusia dianugerahi sebagian dari sifat ke-Tuhan-an, yaitu kehendak (iradat). Untuk itu, berbeda dengan makhluq-makhluq lainnya, manusia dibekali perangkat yang disebut qulub )[1]. Atau dalam ayat lainnya Allah menyebutkan bahwa manusia diberi “afidah”. Sesuai dengan ayat di atas, qulub atau afidah tersebut dapat dipergunakan untuk memahami sesuatu. Berarti qulub atau afidah ini juga berkait dengan akal pikiran. Dengan pemahaman itu, manusia dapat memilih dan berkehendak. Inilah yang menjadikan manusia menjadi makhluq paling mulia. Karena memilih dan berkehendak adalah salah satu sifat ketuhanan.

Walaupun demikian, jika manusia tidak tunduk kepada aturan Allah, maka seketika ia menjadi kalah oleh binatang. Karena binatang itu tunduk kepada hukum Allah. Begitu pula burung-burung, semut dan bahkan semua benda di alam semesta ini, tunduk kepada hukum Allah. Sehingga sangat keterlaluan jika manusia yang diberi kemampuan memahami sesuatu itu masih salah pilih. Dibanding debu pun, manusia yang kafir itu lebih rendah derajatnya.

Oleh karena itu, pilihan bagi manusia itu hanya ada dua tak ada yang ketiga. Yaitu menjadi makhluq yang paling mulia, atau menjadi makhluq yang paling rendah. Tidak ada peluang menjadi makhluq pertengahan. Inilah yang dijelaskan dalam surat At-Tiin :

“Demi buah tiin dan zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekkah) yang aman. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”. (Q.S. 95 : 4 – 5)

Inilah indahnya perumpamaan dalam Al-Qur’an. Kondisi manusia oleh Al-Qur’an diibaratkan dengan buah tiin. Konon, buah tiin adalah buah yang tumbuh di daerah yang sekarang dikenal dengan negeri Syiria, pada jaman Nabi Nuh. Buah tersebut sangat enak rasanya, mengalahkan buah-buah lainnya.

Tapi jika buah tersebut terkoyak sedikit, maka tak lama kemudian seluruh buah tersebut menjadi berasa tidak enak.

Jika darah yang mengalir ditubuh kita, jantung yang berdenyut di dada kita, setiap helai rambut dan bulu di badan kita, setiap potong daging dan kulit di tubuh kita semuanya tunduk kepada hukum Allah yang sering disebut dengan hukum alam, maka pantaskah jika kita masih berkeras membawa diri kita untuk tidak tunduk kepada hukum Allah ?

Setelah memahami ini, terserah kepada Anda menentukan pilihan, apakah akan semata-mata tunduk kepada Allah, ataukah akan tunduk kepada selain Allah. Yang jelas, setiap pilihan mengandung konsekuensi. Oleh karena itu, pahami dulu sebelum memilih.


[1] Penjelasan mengenai qulub ini akan lebih panjang lebar dibahas pada materi mengenai  ma’rifatul insan (pengenalan tentang diri manusia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s