PERSOALAN GAYA BAHASA ARAB

PERSOALAN GAYA BAHASA ARAB

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Salah satu penyebab kesalah pahaman bagi sebagian pemuda yang terlalu bersemangat dan kemudian membawa pada sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam bertindak adalah berawal dari kesalahpahaman  akan gaya dan sifat budaya Arab.

Setiap bangasa dan ras tentu memiliki gaya kebiasaan tersendiri. Misalnya kita sama-sama mengetahui bahwa dalam pandangan atau cita rasa suku Sunda, maka suku Madura dari Jawa Timur tentu dianggap cara bicaranya lebih keras atau kasar. Namun jika dibandingkan dengan orang Batak, tentu gaya bahasanya lebih kasar lagi. Bagi orang Sunda yang tidak paham budaya Madura dan Batak, bisa-bisa tersinggung ketika mendengar berbicara dengan mereka. Sementara orang Madura pun yang bagi orang Sunda sudah dianggap kasar, bahkan bisa juga masih tersinggung dengan sikap suku lain yang lebih keras lagi gaya bicaranya.

Demikian pula bangsa Arab memiliki gaya dan tradisi sendiri dalam bersikap dan berbicara termasuk dalam susunan kata dan gaya bahasa yang sering dipakai. Bagi bangsa Arab hal ini tidak masalah karena mereka tahu maksudnya. Namun bagi bangsa non-Arab bisa jadi hal ini membawa kesalah pahaman. Salah satu gaya bahasa Arab yang bisa jadi menimbulkan kesan yang salah pada orang Non-Arab adalah gayanya yang hiperbola (berlebihan). Orang-orang Arab sering kali menggunakan kata-kata dan istilah yang “tinggi” atau “dilebihkan” dalam menyanjung atau mengecam sesuatu.

Kita jangan heran jika sering mendengar digunakan kata-kata “Yang paling ini adalah ini” padahal maksudnya tidak seperti itu. Istilah “yang paling” atau “yang  ter..”  dalam bahasa Inggris disebut “superlatif” tentunya hanya ada satu saja yang menempati kedudukan tertinggi. Sebagai contoh : “Gunung tertinggi di dunia adalah Gunung Himalaya”. Kita bisa memahami bahwa gunung yang tertinggi tentulah hanya satu yaitu Himalaya. Kita akan bingung jika mendengar pernyataan : “Gunung yang tertinggi di dunia adalah Gunung Himalaya, Gunung Alpen dan Gunung Jayawijaya”. Tentu kita akan berkomentar “ yang tertinggi kok lebih dari satu, apakah mereka sama tingginya? Tapi tentunya pasti ada yang paling tinggi di antara ketiganya”

Namun kenyataannya dalam gaya bahasa Arab bisa jadi “yang paling” dan “yang ter” itu tidak satu melainkan banyak. Semua hal menduduki posisi “yang paling” atau “yang ter” karena maksudnya adalah sama-sama utamanya atau sama-sama baiknya.

Salah satu contohnya adalah :

Dari Abu Dzar : perkataan yang paling disukai Allah adalah seorang hamba yang mengatakan “Subhanallah wa bihamdihi” (H.R. Muslim, Ahmad dan Tirmidzi)

Dari Samurah bin Jundub perkataan yang paling disukai Allah ada 4 yaitu : “Subhanallah, wal hamdulillah, walaa ilaaha illa Allah, dan wallahu akbar” (H.R. Muslim dan Ahmad)

Contoh lainnya:

Dari Abu Said : Rasulullah SAW bersabda : “Sedekah yang paling afdhol adalah sedekah kepada famili yang memusuhinya” (H.R. Abu Daud, Tirmidzi, Thabrani, dihasankan oleh Imam Suyuthi, disahihkan oleh Albani)

Dari Sa’ad bin Ubadah,Rasulullah SAW bersabda :  “Sedekah yang paling afdhol adalah memberi minum air” (H.R. Ahmad, Abu Daud, Nasa’I Ibnu Majah, shaih oleh Imam Suyuthi Hasan oleh Albani)

Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW bersabda : “Sedekah yang paling afdhol adalah kesungguhan orang yang punya sedikit (harta) dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu” (H.R. Abu Daud dan Al Hakim disahihkan oleh Imam Suyuthi)

Dari Abu Hurairah seorang sahabat bertanya : Shodaqoh apa yang paling besar balasannya? Nabi SAW menjawab : “Kamu bershodaqoh saat keadaan sehat, merasa kikir dan takut melarat, mengharap kaya dan takut miskin” (H.R. Bukhari)

Pada kedua hadits di atas kita jumpai bahwa 4 hal yang berbeda semuanya diberi status “sedekah yang paling afdhol (paling utama)”. Maka pada dasarnya semua hal yang disebutkan termasuk sedekah yang paling afdhol.

Contoh lainnya lagi :

Dari shuhaib Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik kamu adalah orang yang memberi makanan dan membalas salam” (H.R. Abu Ya’la dan Al-Hakim disahihkan oleh Imam Suyuthi dan hasan oleh Albani)

Dari Irbad, Rasulullah SAW bersabda : “sebaik-baik kamu adalah yang paling baik membayar (hutang)” (H.R. Nasa’i)

Dari Ali bin Abi Thalib Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Qur’an dan mengajarkannya” (H.R. Bukhari dan Tirmidzi)

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain”

Jadi semua hal yang baik-baik dikatakan dengan istilah “sebaik-baik kamu” atau “yang terbaik” padahal maksudnya adalah semuanya itu sama baiknya dan sama utamanya.

Dapat kita lihat kecenderungan gaya bahasa dalam perkataan bangsa Arab bahwa mereka sering berkata dengan gaya bahasa hiperbola. Jika kita hanya membaca satu hadits saja dan meyakininya sedemikian rupa secara harfiah dan dengan nilai rasa budaya yang berbeda, maka kita akan terdorong bertindak berlebihan karena kita meyakini yang kita dengar itu “sesuatu yang paling” atau “sesuatu yang sangat”.

Tidak Setiap Kecaman Kafir Bermakna Kafir

Demikian pula jika ada kalimat Arab yang menyatakan bahwa “jika tidak begini maka ia kafir” atau “jika tidak mau berbuat begitu, maka ia zhalim atau fasik” maka pada kenyataannya atau dalam aplikasinya “tidak begitu-begitu amat”.

Contoh : Abu Dzar r.a. telah mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda : Tiada seorang yang bernasab kepada orang yang bukan ayahnya padahal ia mengetahui bahwa itu bukan ayahnya, melainkan ia telah kafir (H.R. Bukhari Muslim)

Demikianlah hadits di atas jika kita pahami secara harfiah bahwa orang yang melakukan hal di atas pastilah keluar dari agama dan dihukumo kafir. Namun pada kenyataannya penerapan orang yang mengaku-ngaku bernasab pada seseorang yang bukan ayahnya tidak lah dicap kafir oleh Rasulullah s.a.w. dan para sahabat. Karena memang mereka (orang Arab) paham bahwa maksud dari ucapan Rasulullah tidaklah “begitu-begitu amat”. Melainkan cara pengucapan seperti itu dimaksudkan untuk menegaskan bahwa perbuatan seperti itu adalah benar-benar buruk, menyerupai kekufuran namun tidak sampai membuat orang murtad atau keluar dari Islam.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata : Nabi SAW bersabda : Barang siapa yang tidak sudi bernasab pada ayah kandungnya itu adalah suatu kekufuran (H.R. Bukhari Muslim)

Contoh kecaman yang serupa dapat kita jumpai pada kecaman menyetubuhi wanita yang sedang haid

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ali bin Muhammad keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Waki’ berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Hakim Al Atsari dari Abu Tamimah Al Hujaimi dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa menyetubuhi wanita haid, atau menyetubuhi wanita dari duburnya, atau mendatangi dukun lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka ia telah kafir dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad.” (H.R. Ibnu Majah No. 631) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih

Jika kita pahami makna secara harfiah hadits di atas maka kita akan langsung berkesimpulan bahwa orang  yang menyetubuhi wanita yang sedang haid akan murtad dan keluar dari agama sehigga jatuh dalam kekafiran. Namun kenyataannya pada hadits-hadits lainnya disebutkan bahwa orang yang melakukan hal di atas dikenai kafarat (denda/penalty) bersedekah dengan 1 atau ½ dirham (mata uang emas)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dan Muhammad bin Ja’far dan Ibnu Abu ‘Adi dari Syu’bah dari Al Hakam dari Abdul Hamid dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi ss.a.w.  tentang seseorang yang mendatangi isterinya yang sedang haidl, beliau mengatakan: “Hendaknya ia bersedekah dengan satu dinar atau setengahnya.” (H.R. Ibnu Majah No. 632)Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah dan yang lainnya, dari Sa’id, telah menceritakan kepadaku Al Hakam, dari Abdul Hamid bin Abdurrahman dari Miqsam dari Ibnu Abbas r.a., dari Nabi s.a.w. mengenai orang yang mendatangi isterinya dalam keadaan sedang haid: “Ia harus bersedekah satu dinar atau setengah dinar.” (H.R. Abu Daud No. 1853) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih

Bahkan kasus ini pun pernah menimpa Umar bin Khatab r.a. karena tidak sengaja,

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Al ‘Auza’i dari Yazid bin Abu malik dari Abdul Hamid bin Zaid bin Al Khaththab ia berkata: “Umar bin Khaththab r.a. memiliki seorang isteri yang tidak suka bersenggama, maka jika ia hendak menggaulinya ia berpura-pura sedang haid, ia tetap menggaulinya dan ternyata ia jujur (waktu itu benar-benar haid), maka ia menemui Nabi s.a.w, beliau memerintahkan kepadanya untuk bersedekah dengan seperlima dinar“. (H.R. Ad-Darimi No. 1090)

Karena kasus Umar bin Khatab r.a. ini dikarenakan tidak sengaja dan tidak tahu maka hukumannya lebih ringan yaitu bersedekah dengan 1/5 dinar saja.

Maka ternyata, perkataan “kafir” di sini tidaklah benar-benar kafir melainkan untuk menunjukkan sesuatu yang amat tidak disukai atau dibenci oleh Rasulullah s.a.w. Hal ini mengingat Al-Qur’an pun melarang laki-laki menyetubuhi wanita yang sedang haid

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri  dari wanita di waktu haidh, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 222)

Bagi orang yang condong untuk menelan mentah-mentah dzahir teks, maka serta merta ia akan mengafirkan dan menganggap murtad orang yang menyetubuhi istrinya ketika haid. Bahkan dari Q.S. 2 : 222 orang yang berpegang pada dzahir teks akan menjauhi wanita yang haid karena Al-Qur’an memerintahkannya. Sedangkan Rasulullah s.a.w. tidur satu selimut, makan bersama, tidur di pangkuan istrinya, dan mencumbunya, walaupun istrinya sedang haid. Jadi makna menjauhi di sini adalah agar tidak bersenggama.

Persoalan inilah yang sering muncul ketika memahami sebuah teks ayat atau hadits dengan apa adanya tanpa meninjau siroh (sejarah) bagaimana aplikasi atau penerapan dari ayat atau hadits tersebut pada oleh Rasulullah sendiri atau oleh para sahabat, demikian juga praktek yang dilakukan oleh Tabi’in dan generasi setelahnya. Terkadang kita perlu  juga meninjau penjelasan atau tafsir atas ayat atau hadits tersebut oleh para sahabat maupun tabi’in. Hal ini diperlukan karena generasi terdahululah yang lebih mengerti dalam hal apa ayat atau hadits tersebut muncul dan merekalah yang berguru langsung dari Rasulullah SAW.

Wallahua’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s