UNTUK APA KITA PERLU BERAGAMA?

UNTUK APA KITA PERLU BERAGAMA?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

KECENDERUNGAN RELIJIUS DALAM DIRI MANUSIA

Dalam kitab Muqadimmah yang ditulis oleh Ibnu Kholdun, diceritakan bahwa ia telah menjelajahi dunia, dan menjumpai kota-kota yang tidak memiliki pasar, negeri-negeri yang tidak memiliki benteng, namun tidak ada satupun negeri yang tidak memiliki tempat ibadah. Ini adalah salah satu bukti bahwa di dalam setiap diri manusia ada kecenderungan untuk merasakan adanya suatu dzat yang menguasai kehidupannya.

Kecenderungan relijius dan magis di dalam diri manusia telah dirasakan oleh manusia sejak dahulu kala. Adanya perasaan relijius dan magis inilah yang menjadi salah satu perbedaan signifikan antara manusia dengan binatang. Segala tingkah laku binatang adalah rasional. Tidak ada pertimbangan-pertimbangan yang bersifat spiritual. Namun lain halnya dengan manusia, yang sejak awal keberadaannya telah menunjukkan kecenderuangan spiritual.

Kita mengetahui bahwa para ahli antropologi menemukan banyak sekali lukisan-lukisan binatang di gua-gua tempat tinggal manusia purba. Dari hasil studi yang seksama dipahami bahwa orang-orang primitif tersebut selalu menggambarkan binatang-binatang buruannya sambil melakukan upacara-upacara ritual tertentu sebelum pergi berburu. Mereka meyakini bahwa hal ini akan mempengaruhi keberhasilan perburuan mereka. Kita tidak menemui kecenderungan spiritual seperti ini pada binatang.

Para ahli telah mengamati dan mengetahui bahwa pada kalangan nematoda, seperti semut dan rayap, terdapat sebuah struktur pembagian tugas yang mirip dengan konsep masyarakat dan kerajaan di kalangan manusia. Tapi tidak satupun dari kerajaan  hewan yang menyerupai, bahkan dalam bentuknya yang paling sederhanapun, yaitu adanya agama, magic, drama, tabu, seni, larangan moral dan sejenisnya yang mengelilingi kehidupan manusia sejak zaman prasejarah hingga manusia beradab )[1].

Bagi hewan, benda-benda dipahami sebagaimana tampaknya. Sedangkan bagi manusia, selain apa yang nampak,  benda-benda juga memiliki makna imajiner, yang kadang-kadang justru lebih penting daripada benda itu sendiri )[2]. Oleh karena itu manusia mengenal adanya lambang-lambang imajiner. Misalnya matahari adalah lambang kekuasaan, bunga mawar adalah lambang cinta. Warna putih adalah lambang kesucian, sedangkan warna merah adalah lambang keberanian.

Kecenderungan relijius dalam  diri seseorang akan terasa ketika manusia berada dalam ketidakberdayaan. Misalnya ketika ia sakit keras, dan terpikir bahwa mungkin ia akan mati, tiba-tiba ia bertanya dalam dirinya apa yang akan terjadi setelah setelah mati. Begitu  juga ketika manusia merasa kecil di tengah alam, maka perasaaan relijius tersebut akan  timbul. Misalnya ketika terombang-ambing di  lautan akibat diserang badai, atau ketika mengalami gempa dahsyat atau letusan gunung berapi.

Fenomena inilah yang oleh kalangan materialis seperti Karl Marx dijadikan dalil untuk menolak adanya Tuhan (atheis). Menurut Karl Marx, ide adanya Tuhan disebabkan karena manusia tidak berdaya menghadapi kesulitan dan kesedihan. Dengan kata lain, Tuhan itu hanyalah sebuah angan-angan kosong yang dijadikan sebagai kambing hitam ketika manusia tidak dapat menemukan penjelasan atas kesulitan yang dihadapinya.

Memang ketika manusia mampu melakukan sesuatu, ia kurang merasakan adanya campur tangan Tuhan atas hasil karyanya. Tapi ketika manusia merasa tidak berdaya atau berada di ujung kematian, maka ia merasakan ada suatu kekuatan di luar dirinya yang mengendalikan kehidupan ini. Tapi fenomena ini tidak selalu demikian dan tidak dapat dijadikan dalil bahwa ide adanya Tuhan itu hanyalah angan-angan kosong akibat ketidak berdayaan manusia.

Buktinya para filsuf Yunani, sampai kepada pemikiran akan adanya Tuhan, walaupun tidak dalam keadaan ditimpa musibah atau kesulitan. Diantaranya adalah Descrates yang merenungi dirinya, kemudian mengatakan bahwa ia tidak menjadikan dirinya sendiri. Sebab kalau ia yang menciptakan dirinya sendiri, tentu ia akan memberikan segala sifat kesempurnaan sesuai dengan yang diinginkannya. Itulah tandanya bahwa bukan dia yang menjadikan dirinya. Artinya ada dzat lain  yang menjadikan dirinya. Dan dzat itu sudah tentu memiliki sifat-sifat kesempurnaan )[3]. Para filsuf tersebut mencapai kesimpulan akan adanya Tuhan dengan memperhatikan alam dan memperhatikan dirinya sendiri.

PERTANYAAN ASASI

Dengan adanya kecenderungan relijius dalam diri manusia, dari sejak awal pertama kehadirannya, manusia selalu dalam pengembaraan spiritual. Pikirannya selalu diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan asasi seperti : apakah Tuhan itu ada ?  Siapakah Tuhan itu ? seperti apakah dia ? Untuk apa Tuhan mencipatakan alam ini ? Untuk apa manusia hadir di alam ini ? Kemanakah akhir dari perjalanan ini ? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Dengan pikirannya sendiri, manusia selama berabad-abad mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Para filsuf Mesir, dan Yunani mencoba menjawabnya dengan menggunakan pikirannya sendiri. Namun kebanyakan dari mereka gagal menemukan jawabannya.

Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah mengatakan bahwa mempergunakan akal untuk memikirkan mengenai ketuhanan, atau hidup di akhirat kelak, atau hakekat kenabian atau hakikat sifat-sifat ketuhanan adalah ibarat mencoba menggunakan timbangan tukang emas untuk menimbang gunung. Ini bukan berarti bahwa timbangan itu sendiri tidak boleh dpercaya. Melainkan akal itu memiliki keterbatasan , oleh karena itu tidak dapat diharapkaan untuk memahami Tuhan dan sifat-sifat-Nya, karena otak hanyalah beberapa atom yang diciptakan Tuhan…)[4]

HIDUP TANPA AGAMA ?

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa dalam diri manusia terdapat kecenderungan spiritual yang kuat. Manusia sejak jaman dahulu kala selalu mencari-cari sesuatu untuk disembah. Karena dalam diri manusia ada kesadaran bahwa di luar dirinya terdapat suatu kekuatan yang mempengaruhi hidupnya. Oleh karena itu, manusia sangat memerlukan agama untuk memenuhi dahaga rohaninya.

Selain itu manusia juga mendambakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan asasi yang di luar jangkauan akal manusia. Dan manusia tidak dapat mengehentikan pertanyaan-pertanyaan itu, karena akan selalu muncul dan mengganggu jiwa. Jawaban dari pertanyaan tersebut sangat penting bagi eksistensi manusia itu sendiri. Karena salah satu pertanyaan mendasar yang selalu muncul adalah pertanyaan akan diri manusia sendiri. Siapakah sebenarnya saya ? Mengapa saya ada di sini ? Mau kemanakah tujuan saya ? Apabila pertanyaan tersebut tidak terjawab, akan membuat hidup menjadi tidak berarti, hampa dan tanpa tujuan.

Ilmu pengetahuan jelas tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan asasi. Sedangkan filsafat hanya dapat menduga-duga tanpa dapat memberikan penjelasan yang tuntas. Tujuan dari ilmu pengetahuan dan filsafat pada dasarnya adalah sama, yaitu kebenaran. Namun kebenaran ilmu pengetahuan dan filsafat bersifat nisbi atau relatif. Buktinya setiap filsuf dan ilmuwan mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Bahkan orang yang sama pun dapat memiliki pendapat yang berubah-ubah. Maka hanya Tuhan sendirilah yang dapat memberikan penjelasan yang tuntas, karena Tuhan-lah yang menciptakan manusia. Hanya Tuhanlah yang mengatahui kebenaran yang mutlak. Karena semuanya itu berasal dari Dia. Dan hal itu dilakukan melalui apa yang kita sebut dengan agama.

Dari sini kita simpulkan bahwa tidak mungkin kita hidup tanpa agama, karena manusia memerlukan agama untuk menjelaskan hal-hal yang diluar jangkauan pikirannya. Manusia membutuhkan agama untuk menjelaskan keberadaan dirinya dan menunjukkan tujuan hidupnya. Manusia tanpa agama akan berada pada persimpangan jalan. Thomas Aquino mengatakan bahwa sekiranya pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dihentikan dengan suatu jawaban yang pasti, sehingga semuanya dapat dipahamkan, maka manusia akan terdampar pada suatu putaran air)[5].

TUHAN YANG MANA ?

Sejak jaman purbakala, sesungguhnya manusia terus mencari siapa Tuhannya. Dalam alam pikiran orang yang masih primitif, manusia menyangka bahwa Tuhannya itu pasti berasal dari alam sekitarnya. Sebagian berpikir bahwa apa-apa yang membantu kehidupan ini adalah Tuhan. Banyak kebudayaan purba seperti kebudayaan Mesir, Mesopotamia dll berpikir bahwa matahari ini adalah Tuhan, karena matahari memberikan kehidupan melalui  sinarnya. Atau air, karena tanpa air manusia tidak dapat hidup seperti pikiran Thales, seorang filsuf Yunani. Mereka beranggapan yang disebut Tuhan itu adalah “sesuatu” yang tanpa “sesuatu” tersebut kehidupan tidak akan berjalan.

Seorang yang cerdas atau jenius, pasti dapat merenung dan berpikir bahwa Tuhan itu ada, dan dia akan berusaha mencari siapa Tuhan itu. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim yang memang sejak muda usia sudah memiliki pikiran yang cemerlang.

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan kami   di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin” (Q.S. 6 : 75)

Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang, lalu ia berkata ‘Inilah Tuhanku’ tetapi tatkala bintang itu tenggelam ia berkata :’Saya tidak suka kepada  yang tenggelam’.” (Q.S. 6 : 76)

“Kemudian ketika dia melihat bulan terbit dia berkata : ‘Inilah Tuhanku’ Tetapi setelah bulan itu terbenam, ia berkata : ‘Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat’.” (Q.S. 6 : 77)

Kemudian ketika dia melihat matahari terbit dia berkata : ‘Inilah Tuhanku, yang ini lebih besar’ Tetapi setelah matahari itu terbenam, ia berkata : ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan’.” (Q.S. 6 : 78)

Pencarian Tuhan adalah hakekat agama. Tetapi tidak setiap pencarian berujung pada penemuan)[6]. Seperti digambarkan pada ayat-ayat di atas, pemuda yang jeniuspun seperti Ibrahim, hanya dapat mengambil kesimpulan bahwa tidak mungkin bulan itu adalah Tuhan, tidak mungkin bintang-bintang itu Tuhan, juga tidak mungkin matahari itu Tuhan, namun ia tetap tidak tahu siapa Tuhan yang sebenarnya jika tidak Tuhan sendiri yang memberitahukan diriNya.

Inilah peranan agama. Yang dimaksud dengan agama di sini adalah wahyu dari Tuhan kepada manusia untuk menjelaskan hal ihwal ke-Tuhan-an yang patut diketahui manusia. Sebab tanpa itu, manusia hanya dapat meraba-raba. Maksimal, manusia hanya dapat mengetahui bahwa tidak mungkin salah satu benda-benda di alam sekelilingnya itu adalah Tuhan.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa tujuan awal dari beragama adalah bertuhan. Artinya, permasalahan pertama yang dijawab oleh agama adalah penjelasan mengenai siapa tuhan yang sebenarnya, bagaimana sifat-sifatnya. Lebih jauh agama menjelaskan apa yang dikehendaki oleh Tuhan kepada manusia, dan bagaimana seharusnya manusia bertingkah laku di muka bumi ini.

BAGAIMANA TUHAN MEMPERKENALKAN DIRINYA ?

Pertanyaannya berkembang menjadi : “Bagaimana cara Tuhan memberi tahu manusia?”. Sebagian orang menganalogikan jika kita hendak memberitahu seekor semut bahwa di suatu tempat ada butiran gula, maka kita harus menjelma menjadi semut, agar kita dapat berbicara dengan bahasa semut. Perlukah Tuhan menjadi manusia atau memasuki jasad manusia untuk bebicara pada manusia ?

Kita tentu mengetahui bahwa para pawang binatang di kebun binatang atau di sirkus tidak pernah menjadi binatang agar binatang tersebut mau melakukan sesuatu sesuai yang diinginkan. Melainkan para pawang binatang itu menggunakan bahasa isyarat yang dapat diingat oleh binatang. Lebih jauh lagi, komputer sebagai alat yang terdiri dari rangkaian komponen elektronik, hanya mengenal bahasa biner, yaitu sinyal positif dan negatif. Maka manusia dengan kecerdasan otaknya mampu menciptakan bahasa-bahasa pemrograman yang berjenjang, dari mulai bahasa tingkat rendah seperti bahasa assembler, lalu bahasa tingkat menengah seperti bahasa C, sampai bahasa tingkat tinggi seperti bahasa basic. Dengan cara itu, manusia berhasil memanipulasi alat-alat elektronik untuk belaku sesuai dengan keinginan kita.

Kesimpulan dari ini semua adalah diperlukan sebuah perantara yang menjembatani antara satu bahasa dengan bahasa lainnya. Perantara ini bisa disebut sebagai penerjemah atau interpreter. Yang jelas, satu pihak tidak perlu menjelma menjadi pihak lainnya agar pihak lain itu mengerti apa yang kita inginkan. Jika manusia saja dengan kecerdasannya mampu berbuat demikian, bagaimana dengan Tuhan yang Maha Cerdas ?

APAKAH SEMUA AGAMA SAMA ?

Adalah Shri Kresna Saksena dari India yang mencentuskan ide bahwa semua agama  adalah sama dan semua agama adalah baik. Paham ini disebut dengan  sinkritisme. Selama ini di sekolah-sekolah juga  diajarkan bahwa semua agama  adalah sama dan semua agama adalah baik.

Apa alasannya bahwa semua agama  itu sama saja  ? Salah satu alasannya adalah karena semua agama mengajarkan manusia untuk percaya adanya Tuhan. Hanya saja pada setiap agama menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda-beda. Misalnya dalam Islam disebut dengan Allah, dalam agama Yahudi disebut Yahweh atau Yehova, dalam Katolik dan Kristen disebut dengan Allah Tuhan Bapa, dalam bahasa Inggris disebut dengan God atau Lord, dalam agama Hindu disebut dengan Sang Hyang Widhi dan lain sebagainya.

Marilah kita kaji pendapat di atas. Jika kita  sama-sama percaya bahwa Tuhan itu satu saja. Maka, Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan, pastilah sama bagi semua orang. Tuhan yang menciptakan orang Islam pasti sama dengan Tuhan yang menciptakan orang Yahudi. Tuhan yang memberi rezeki orang Kristen dan yang memberi rezeki orang Budha, adalah Tuhan yang itu-itu juga. Namun apakah memang tidak menjadi masalah apabila setiap umat memiliki panggilan yang berbeda-beda untuk Tuhan yang sama ? Apalah artinya sebuah nama ? Demikian kata pujangga Inggris William Shakespeare.

Andaikan ada orang bernama Yanto, apakah ia akan menengok jika Anda panggil dengan nama Robert ? Walaupun Anda beralasan bahwa yang Anda maksud Robert itu sesungguhnya adalah Yanto, tetap saja Yanto tidak mau dipanggil dengan nama Robert.

Mungkin Anda menjawab bahwa Tuhan berbeda dengan manusia. Tuhan itu Maha Tahu. Walaupun manusia  memanggil-Nya dengan berbagai macam nama, tapi Tuhan tahu bahwa yang dimaksud adalah Dia. Baiklah kalau perbedaannya hanya soal nama, mudah-mudahan Tuhan tidak keberatan.

Tapi betulkah perbedaannya hanya soal nama  ? Bagaimana dengan sifat dan ciri-ciri Tuhan  dari masing-masing agama, apakah sama ? Katolik berpandangan bahwa Tuhan mereka terdiri dari tiga unsur, yaitu Tuhan  Bapa, Tuhan Putera dan Roh Kudus, yang dikenal dengan konsep Trinitas. Walaupun penjelasan kontemporer dari konsep ini menyatakan bahwa ketiganya pada hakekatnya adalah oknum yang sama, tetapi tetap tidak menghapuskan konsep ke-Tuhan-an yang terdiri dari tiga unsur. Tuhan orang Yahudi yang disebut Yahweh itu memiliki sifat benar-benar seperti manusia)[7]. Sedangkan dalam kepercayaan orang Hindu, setiap unsur di alam ini ada penguasanya, dimana bertindak sebagai dewa tertinggi ini digilir bergantian di  antara para  dewa)[8].

Masihkah Anda menganggap bahwa perbedaan ini hanya soal nama saja ? Mari kita kembali kepada analogi di atas. Jika ketika ditanya seperti apakah Robert itu ? Lalu  dijawab bahwa Robert itu berbadan gemuk, berkulit putih, bermata biru, berambut  pirang dan berhidung mancung, padahal sebenarnya Yanto itu  berbadan kurus, kulit coklat, mata coklat,  rambut  hitam , hidung pesek, pastilah dapat disimpulkan bahwa yang Anda maksud Robert  itu bukanlah Yanto. Begitu pula jika Yanto  memiliki sifat ramah, suka  bercanda sedangkan yang bernama Robert itu digambarkan bersifat pendiam dan tidak suka bercanda, pastilah Robert dan Yanto bukanlah orang yang sama.

Mungkin saja Yanto tidak keberatan jika dipanggil  dengan  nama Robert. Tapi  jika ciri-cirinya, dan sifat-sifat yang digambarkannya berlainan bahkan bertentangan, maka Yanto pasti  menolak dianggap sama dengan Robert. Walaupun Anda bersikeras bahwa  yang  dimaksud  dengan  Robert itu adalah Yanto. Begitu pula mungkin saja Tuhan tidak mempermasalahkan penamaan diri-Nya yang berbeda-beda oleh berbagai macam agama,  tetapi ketika karakteristik Yahweh, konsep Tuhan Bapa, sifat Sang Hyang Widhi  itu berbeda dengan konsep ketuhanan Allah, maka pastilah Yahweh bukanlah Allah, Tuhan Bapa juga tidak sama dengan Allah, dan Sang Hyang Widhi juga berbeda dengan Allah.

Maka gugurlah  alasan orang yang menyatakan bahwa perbedaan antara Yahweh, Tuhan Yesus, Sang Hyang Widhi dan sebagainya itu hanyalah soal nama. Dan bahwa yang dimaksud dengan  semua nama-nama itu adalah Tuhan yang sama.  Karena kenyataannya setiap  nama itu memiliki ciri-ciri, karakter, sifat dan konsep yang  berbeda-beda.

Begitu pula sebagian  orang mengatakan bahwa semua agama adalah baik, karena semua agama mengajarkan umatnya untuk berbakti pada orang tua, pada guru, pada sesama manusia, menganjurkan bersedekah, tidak boleh mencuri, tidak boleh berzina, dan lain sebagainya.

Tentu  saja tidak ada agama yang menganjurkan umatnya untuk mencuri, tidak ada  agama yang menganjurkan umatnya untuk berzina. Tapi bagaimana dengan perintah selibat (tidak kawin) di kalangan pastur Katholik sementara Islam melarang praktek  selibat. Bagaimana jika satu agama menganut monogami dan melarang perceraian, sedangkan agama lainnya membolehkan adanya poligami dan perceraian sebagai  pintu darurat ? Bagaimana jika satu agama tidak mengenal hukum waris sedangkan agama lainnya mengenal hukum waris. Bagaimana pula jika satu agama mewajibkan bersunat, sementara agama lainnya tidak menganjurkan bersunat ? Apakah semuanya sama-sama baik ? Bagaimana sesuatu yang saling bertentangan bisa dianggap sama-sama baik ?

Ada juga yang mencoba menyamakan semua agama dan menyatakan bahwa semua agama itu benar. Namun bagaimana halnya dengan agama Islam yang melarang riba sedangkan agama Yahudi membolehkan riba. Begitu pula agama Nasrani  membolehkan  daging babi dan anggur sedangkan agama Islam melarangnya.  Apakah semuanya sama-sama benar ? Pasti Anda sepakat bahwa mungkin salah satunya benar,  atau semuanya salah, tapi tidak mungkin semuanya  benar.

AGAMA YANG MANA ?

Dari pembicaraan di atas, jelaslah bahwa pemikiran yang menganggap bahwa semua agama baik, semua agama benar, atau semua agama sama saja, adalah tidak masuk akal. Bagaimana mungkin Anda menganggap Tuhan tidak beranak dan diperanakkan, sekaligus pada saat yang bersamaan Anda menganggap benar Tuhan beranak dan diperanakkan ?

Yang mungkin adalah : semua konsep tersebut salah, atau salah satunya adalah benar. Mungkinkah yang benar itu lebih dari satu ? Dalam konteks agama, karena beragama itu hakekatnya adalah bertuhan, maka jawabannya adalah mungkin saja jika Tuhan lebih dari satu. Tetapi logika mengatakan bahwa tidak mungkin Tuhan lebih dari satu. Oleh karenanya, tidak mungkin agama yang benar-benar dari Tuhan yang benar itu lebih dari satu.

Logika ini paling tidak berlaku pada satu waktu. Sebab tidak mungkin Tuhan membolehkan suatu hal, dan dalam waktu bersamaan melarangnya. Tuhan tidak mungkin mencla-mencle atau plin-plan. Pasti hanya salah satunya yang benar, atau semuanya salah. Kecuali jika hal tersebut terjadi dalam kurun waktu yang berbeda. Misalnya dahulu dilarang sekarang dibolehkan, atau sebaliknya. Tetapi dalam  satu waktu yang sama, tidak mungkin ada dua kebenaran padahal keduanya saling bertentangan.

Maka tibalah Anda pada suatu situasi memilih dan mengambil keputusan. Sebab tidak masuk akal jika Anda membenarkan semua agama. Dan bukanlah suatu hal yang salah jika Anda menganggap benar satu agama dan menganggap salah agama-agama lainnya. Yang penting, kita tetap menghormati pilihan masing-masing. Sepanjang proses memilih tersebut dijalankan dengan benar, tanpa rekayasa, tanpa tipuan, intimidasi dan paksaan.

Proses pemilihan ini harus mengacu kepada tujuan semula. Tujuan semula manusia beragama adalah bertuhan. Yaitu untuk memenuhi kebutuhan spiritual manusia. Dan untuk memperoleh kebenaran jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang asasi. Oleh karena itu, dasar yang benar dalam memiilih agama adalah berdasarkan konsep ketuhanannya.

Ada sebagian orang yang mendasari pilihannya dipengaruhi oleh  sifat manusia yang malas dan ingin mudahnya saja. Hanya segelintir manusia yang memilih alternatif yang berat, jika ada alternatif yang lebih mudah. Ketika orang berpikir bahwa semua agama adalah sama saja, karena semuanya sama-sama benar dan semuanya sama-sama baik, maka wajar saja jika orang kemudian memilih yang paling praktis dan paling mudah. “Jika semua agama sama saja, untuk apa kita memilih yang repot-repot ?”. “Untuk apa kita harus berdoa sehari lima kali jika berdoa seminggu sekali itu sama saja baiknya ?”.

Jika Anda berpikir seperti ini, maka yang lebih ekstrim lagi, tentunya agama yang sama sekali tidak membebani manusia dengan tetek bengek kewajiban adalah agama yang paling praktis. Atau bahkan kalau perlu, tidak beragama itu jauh lebih praktis dari pada beragama. Tapi jika Anda berpikir seperti ini, maka Anda telah terlepas dari tujuan semula beragama.

Sebagian lainnya, ada yang menjatuhkan pilihan dilandasi oleh motif ekonomi. Misalnya dengan bergabung dengan kelompok agama tertentu akan mengangkat dirinya yang selama ini dihimpit kemiskinan. Ada juga yang terpesona dengan kegemerlapan dan kemewahan suasana perayaan hari besar sebuah agama, sehingga memberi kesan bahwa pengikut agama tersebut berada dalam kemakmuran dan kebahagiaan.

Anda tidak boleh terkecoh dengan motivasi-motivasi yang salah dalam beragama. Ingatlah bahwa beragama itu intinya adalah bertuhan. Jadi bukan soal praktis atau tidak praktis. Bukan pula soal gemerlap atau tidak gemerlap. Persoalan pertama yang harus Anda kaji ketika meninjau sebuah agama adalah konsep ketuhanannya. Sedangkan cara Tuhan memberitahu manusia adalah melalui perantara yaitu para Nabi. Para Nabi itu diberi kitab suci yang berisi wahyu-wahyu Tuhan kepada manusia.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsep ketuhanan dan kitab suci adalah inti dari agama itu sendiri. Maka dari sinilah seharusnya kita bermula. Untuk menentukan mana agama yang benar, adalah dengan menguji konsep ketuhanannya dan menguji kesucian dari kitab sucinya. Adalah tidak relevan menilai agama berdasarkan praktis atau tidak praktisnya, atau berdasarkan gemerlapnya perilaku pengikutnya, atau karena motif-motif ekonomi, sebab memang bukan itu tujuan Anda beragama.

Apabila Anda telah meyakini kebenaran dari konsep ketuhanan yang ditawarkan sebuah agama, dibandingkan dengan agama lainnya, kemudian Anda juga telah meyakini secara penuh akan kesucian kitab suci agama tersebut dibandingkan agama lainnya, berarti itulah Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan, dan itulah kitab suci yang diwahyukan oleh Tuhan yang sebenarnya tadi. Maka betapapun repotnya, atau betapapun anehnya cara ibadah yang diajarkannya, itu tidak lagi menjadi soal. Karena bisa jadi kita menganggap aneh cara ibadah tersebut karena kita belum terbiasa.


[1] Alija Izetbegovic. Membangun Jalan Tengah. Mizan. 1992. Hal. 43

[2] Ibid.

[3] K.H. Zainal Arifin Abbas. Perkembangan Pikiran Terhadap Agama. Pustaka Al-Husna. 1984. Hal 27

[4] H. Endang Saiffuddin Anshari, MA. Ilmu Filsafat dan Agama. Bina Ilmu. 1987. Hal 153

[5] R.F. Beerling. Filsafat Dewasa Ini. Jakarta. 1966. Hal 10

[6] Alija Izetbegovic. Membangun Jalan Tengah. Mizan. 1992. Hal. 97

[7] Prof. Dr. Ahmad Shalaby. Agama Yahudi. Bumi Aksara. Semarang. 1991. Hal. 174

[8] Drs. H. Abu Ahmadi. Perbandingan Agama. Rineka Cipta. Solo. 1991. Hal 105

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s