HIJAB SAMA DENGAN JILBAB?

HIJAB SAMA DENGAN JILBAB?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Apakah Jilbab Itu?

Jilbab berasal dari akar kata “jalaba”, jamaknya adalah “jalaabiib” yang berarti menghimpun dan membawa. Orang Arab berkata “tajalbab” yang artinya membajui. Namun secara istilah dalam Kamus Mu’jam al Wasith hal 128,  jilbab diartikan sebagai pakaian yang menutupi seluruh tubuh atau pakaian luar yang dikenakan diatas pakaian rumah seperti mantel. Imam Suyuthi dalam Tafsir Jalalain (jilid 3 hal 1803) memberikan arti jilbab sebagai kain yang dipakai seorang wanita untuk menutupi tubuhnya. Jauhari dalam Ash Shihah mengatakan jilbab adalah kain penutup tubuh wanita dari atas sampai bawah. Khaththath Usman Thaha dalam Tafsir wa Bayan menjelaskan jilbab adalah apa-apa yang dapat menutupi seperti sprei atas tubuh wanita hingga mendekati tanah. Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah Jilid 7 menerangkan jilbab adalah baju mantel.

Di Arab kata jalabiyyah bermakna pakaian luar yang menutupi segenap anggota badan dari kepala hingga kaki perempuan dewasa.  Namun dalam pembicaraan sehari-hari di Indonesia, kata “jilbab” diiartikan kerudung yang hanya menutupi kepala.

Namun sesungguhnya pada masa Nabi s.a.w. jilbab itu adalah kain lebar yang meliputi seluruh tubuh (tidak hanya kepala) sebagai lapisan paling luar, dan biasanya hanya dipakai pada waktu keluar rumah. Lebarnya bisa selebar sprei atau taplak meja.

Ibnu Hazm mengatakan, “Jilbab menurut bahasa Arab yang disebutkan oleh Rasulullah s.a.w. adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, bukan hanya sebagiannya.” Sedangkan Ibnu Katsir mengatakan, “Jilbab adalah semacam selendang yang dikenakan di atas khimar yang sekarang ini sama fungsinya seperti izaar (kain penutup).”

Mungkin kita bisa melihat sebagaimana dilakukan oleh sebagian perempuan Arab dan Iran di masa kini, dimana mereka telah menggunakan pakaian qoomish (long dress ) di dalam, lengkap dengan (khimar) kerudungnya namun ketika keluar rumah mereka biasa memakai lagi semacam kain sangat lebar (selebar selimut atau sprei) yang menyelimuti seluruh tubuh dari kepala hingga kaki.

Oleh karena itu dalam Al-Qur’an dikatakan agar mengulurkan jilbab itu ke seluruh tubuh (bukan hanya kepala)

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu,anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin hendaklah mereka mengulurkan jalabihina (jilbabnya)  keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (Q.S. Al Ahzab [33] : 59)

Apakah Jilbab Sama Dengan Kerudung?

Sedangkan kerudung,  dalam Al-Qur’an dikatakan dengan istilah “khimar” yang artinya penutup kepala. Namun di indonesia, khimar inilah yang sering disebut sebagai “jilbab” atau “kerudung”. Oleh karena itu dalam Al-Qur’an kata “khimar” dikatakan akan menjulurkan khimar sampai ke dada (bukan ke seluruh tubuh)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘… (yadlribna bi khumurihina) dan hendaklah mereka menutupkan khimarnya (kain kudung) ke dadanya, …” (Q.S. An-Nuur [24] : 31)

Seperti Apa Lebarnya Kain Jalaba?

Selimut atau mantel luar berupa kain lebar seperti taplak meja atau sprei, adalah sesuatu yang umum pada masa Nabi s.a.w. fungsinya memang sebagai mantel luar dan umumnya berwarna hitam. Hal ini tidak hanya biasa dilakukan oleh kaum wanita namun juga oleh kaum pria.

Aisyah r.ah mengatakan : “Suatu pagi Nabi s.a.w. keluar rumah membawa sepotong kain hitam tanpa dijahit terbuat dari wol. Lalu datang Hasan bin Ali. Lalu beliau memasukkan Hasan ke dalam kain tersebut, kemudian datang Husein yang juga dimasukkannya, datang lagi fathimah juga dimasukkannya, dan kemudian datang juga Ali maka juga dimasukkannya. Setelah itu beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” (H.R. Muslim Jilid VII hal 130)

Jadi kain ini memang sangat lebar hinga muat 3 orang dewasa dan 2 anak kecil.

Kapan Memakai Jilbab Dan Kapan Memakai Kerudung

Jadi sebenarnya jilbab tidak sama dengan kerudung. Jika kain kerudung (khimar) itu hanya menutup dari kepala sampai ke dada. Sedangkan wanita pada waktu itu dikatakan minimal menggunakan kain panjang (qoomish) dan kerudung (khimar). Ini adalah standar pakaian ketika sehari-hari di dalam rumah dan ketika shalat.

Mengenai kapan mengenakan jilbab dan kapan mengenakan kerudung, dapat digambarkan pada beberapa hadits berikut ini :

Dari Ummu Athiyah berkata : “Kami diperintahkan untuk menyuruh keluar wanita-wanita yang sedang haid dan gadis-gadis pingitan pada hari raya agar menghadiri jamaah kaum muslimin dan dakwah mereka, dan agar wanita-wanita yang sedang haid menjauhkan diri dari tempat shalat. Salah seorang wanita berkata, wahai Rasulullah salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab. Beliau bersabda : “Hendaklah temannya memakaikan jilbab kepadanya” (H.R. Bukhari Juz 2 Hal 12 dan Muslim Juz 3 Hal 20)

Al-Kasymiri ketika menjelaskan hadits ini mengatakan : “dari sabda Rasul ini diketahui bahwa jilbab dituntut dipakai ketika wanita keluar rumah.  Maka aku katakan, mengulurkan jilbab itu ketika dia keluar rumah untuk suatu keperluan, sedangkan memakai kerudung (khimar) adalah dalam semua keadaan pada umumnya. Perkataan Ummu Athiiyah bahwa “salah seorang diantara kami tidak memiliki jilbab” itu menunjukkan bahwa jilbab (sebagai selubung luar) bukan merupakan pakaian pokok untuk menutup aurat karena wanita hanya memerlukannya ketika keluar rumah. (Faidhul Bari, oleh Al-Kasymiri, Juz 1 Hal. 388)

Sedangkan ketika melaksanakan shalat di rumah (dan wanita lebih utama shalat di rumah) tidak perlu menggunakan jilbab melainkan cukup kain panjang dan kerudung saja.

Dari Muhammad bin Zain bin Qunfudz dari ibunya bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah istri Nabi s.a.w. : “Pakaian apa yang harus dikenakan wanita ketika menunaikan shalat ?” Ummu Salamah menjawab : “Wanita shalat dengan memakai kerudung dan baju panjang yang menutup kedua punggung dan tumitnya” (H.R. Imam Malik)

Dari Ubaidillah bin Aswad Al-Khaulani (saat itu dipelihara oleh Maimunah) bahwa “Maimunah istri Nabi s.a.w. shalat dengan memakai bau panjang (dar’i) dan kerudung (khimari) dengan tidak mengenakan sarung” (H.R. Imam Malik)

“Aisyah istri Nabi s.a.w. melakukan shalat dengan mengenakan baju panjang (dar’i) dan kerudung (khimari)” (H.R. Malik dalam Al Muwatha Juz 1 Hal 141-142)

Maka berdasarkan hal ini Imam Malik berkata : “Untuk wanita dua helai pakaian yang berupa baju kurung dan kerudung dan ini merupakan pakaian minimal yang mencukupi masing-masing mereka untuk shalat” (Muwatha’ Imam Malik Juz 2 Hal 480)

Ibnu Taimiyah berkata : “Dan sesudah wanita diperintahkan untuk mengulurkan jilbabnya (kain panjang ke seluruh tubuh), maka penguluran jilbab ini dilakukan bila hendak keluar rumah. Adapun jika di dalam rumah maka tidak diperintahkan yang demikian itu” (Daqaiqut Tafsir Al Jami’ li Tafsir oleh Ibnu Taimiyah Juz 3 Hal 429)

Apakah Mengulurkan Jilbab Ke Seluruh Tubuh Ini Wajib Ataukah Mustahab (Lebih Disukai) ?

Dalam ilmu ushul fiqih semua kalimat perintah (fi’il amr) pada asalnya bermakna wajib. Namun para ulama berbeda pendapat mengenai kalimat perintah yang diikuti dengan penjelasan faedahnya atau alasan dikeluarkannya perintah itu (‘illat), kebanyakan ulama mengatakan jika kalimat perintah diikuti dengan alasan dikeluarkannya perintah itu (‘illat), maka hal itu merupakan indikasi (qarinah) yang mengubah hukum wajib menjadi anjuran, demikian pula mengubah larangan (nahiy) menjadi makruh.

Ibnu Rusyd mengatakan bahwa : “Hukum-hukum yang dapat dipahami maknanya di dalam syara kebanyakan termasuk mahasinul akhlaq (membaguskan akhlaq) aau termasuk kemaslahatan. Yang demikian itu kebanyakan menunjukkan mandub (disukai)” (Bidayatul Mujtahid Juz I Hal 54)

Jilbab Abaya Jalan Tengah Antara Jalaba dan Khimar

Bagaimana dengan jilbab abaya yang kebanyakan dipakai oleh aktifis dakwah masa kini? Yaitu kerudung yang menutup kepala namun dijulurkan lebar sampai ke perut atau bahkan ada yag sampai lutut. Maka ini adalah pertengahan antara pengertian asli jalaba dan khimar (kerudung).

Sebagaimana dijelaskan bahwa busana minimal sehari-hari di rumah dan ketika shalat adalah qomish (gamis) yaitu pakaian panjang sampai ke tumit dan khimar (kerudung) yang dijulurkan sampai dada. Lalu ketika keluar rumah, masih ditambahkan jalaba (yaitu selimut luar) berupa kain panjang yang menutupi kepala sampai kaki (seluruh tubuh). Paka busana wanita arab dan Iran yang sering kita saksikan itulah busana yang generik sesuai skema asal yang sebenarnya.

Namun karena hal ini tidak lazim di Indonesia sedangkan jalaba ini sifatnya mustahab (sunnah) dan bukannya wajib,  sedangkan yang wajib adalah kriteria minimal tadi, maka model busana dengan istilah jilbab abaya yang dipakai kebanyakan akhwat di Indonesia adalah sifat pertengahan dari masalah ini. Adapun mukena, adalah ijtihad para wali ketika menyebarkan Islam di Indonesia ketika itu karena kebanyakan orang Indonesia sehari-harinya belum berjilbab, maka mukena merupakan toleransi dan solusi sementara bagi orang yang belum berjilbab.

Lalu apakah orang yang telah mengenakan jilbab abaya masih harus mengenakan mukena ketika shalat? Hal itu sebenarnya tidak perlu, namun jika dipandang hal itu lebih baik dan lebih bersih, maka boleh-boleh saja. Ada juga pertimbangan dari segi fiqhu dakwah, dimana agar menjaga agar tidak timbul fitnah (yaitu dianggap aneh dan tidak lazim sehingga malah dianggap aliran sesat dan dakwah yang hendak kita sampaikan malah tidak diterima masyarakat) maka tidak ada salahnya akhwat yang memakai jilbab abaya tetap mengenakan mukena ketika shalat.

Apakah Hijab Sama Dengan Jilbab?

Kata “hijab” artinya “penghalang”, atau “tabir” namun memiliki makna sangat luas tidak hanya dipakai dalam urusan pakaian saja. Dalam berbagai ayat kata “hijab” dipakai dalam urusan aqidah misalnya dikatakan bahwa hati orang kafir ada dinding (hiijab) penghalang dalam memahami kebenaran  (Q.S. Fushshilat 41 ayat 5, Q.S.  Al-Muthaffifiin [83] : 15)

Sedangkan kata hijab juga digunakan untuk menjelaskan bahwa manusia tidak mungkin melihat Allah langsung kecuali melalui hijab / tabir / dinding penghalang  (Q.S. Asysyuura [42] : 51) dan orang kafir kelak di akhirat akan hidup terpisah dengan orang beriman di antara mereka ada hijab (dinding) yang memisahannya (Q.S. Al-A’raaf [7] : 46, Q.S. Al-Israa’ [17] : 45) Kata “hijab” juga berarti menghilang dari pandangan  seperti pada ayat Q.S. Shaad [38] : 32

Dalam hukum waris dikenal istilah “al hujub bil washfy” yaitu orang-orang yang terhalang untuk mendapatkan harta warisan secara keseluruhan, misalnya karena murtad atau anak angkat. Sedangkan “al-hujub bil syakhshi” adalah orang yang terhalang mendapatkan harta waris karena ada orang lain yang lebih berhak (skala prioritasnya) dibandingkan dirinya.

Maka ditinjau secara mendalam, makna hijab lebih luas dari makna Jilbab. Jilbab merupakan salah satu bentuk saja dari hijab. Namun dalam pembicaraan sehari-hari, hijab sering di-persama-kan dengan jilbab.

Hijab dalam konteks tirai dari kain hanya ada pada di Q.S. Maryam [19] : 17, dimana Maryam berkhidmat di dalam masjid dalam mihrab / ruangan yang tertutup tirai dan istri-istri Nabi s.a.w. harus berbicara dari balik tirai (Q.S. Al-Ahzab [33] : 53)

Nah dalam perkembangan selanjutnya ilmu fiqih, istilah hijab berarti keseluruhan aturan kesopanan untuk menutup aurat secara keseluruhan, termasuk menutup aurat, gadhul bashor (menundukkan pandangan), tidak menampakkan perhiasan kecuali pada mahramnya, tidak berkata genit sehingga menggoda lawan jenisnya, tidak bercampur baur (ikhtilath), serta tidak berdu-duaan (khalwat). Wanita (dan juga laki2) yang melakukan hal ini maka ia telah meng-hijab-dirinya. Maka jilbab dan khimar (kerudung) hanya salah satu saja dari bentuk hijab.

Khusus untuk perintah agar berbicara dari balik tirai yaitu pada Q.S. Al-Ahzab [33]:53 adalah perintah yang dikhususkan untuk para istri Nabi s.a.w. sebagaimana kelanjutan kalimat pada ayat tersebut yang melarang janda-janda istri Nabi s.a.w. dinikahi oleh orang lain setelah Nabi s.a.w. wafat.

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah”. (Q.S. Al-Ahzab [33] : 53)

Ayat di atas adalah khusus untuk istri-istri Nabi saja. Sebagian kelompok yang terlalu bersemangat dalam ittiba’ (mengikuti perilaku) Nabi s.a.w. mempraktekkan hal ini (saya sendiri pernah mengalami masa-masa seperti itu dimana saya menyampaikan materi pengajian kepada akhwat dari balik tirai bahkan dari balik tembok, lalu cukup menyodorkan white board yang sudah saya tulisi ke ruangan sebelah), namun sesungguhnya perilaku ini berlebihan (ghuluw) karena aturan ini hanya khusus bagi istri Nabi s.a.w.

Aturan yang khusus bagi Nabi s.a.w. itu banyak misalnya keluarga Nabi s.a.w. tidak boleh menerima shodaqoh namun boleh  menerima 1/ harta ghonimah, sedangkan terkait hijab istri Nabi harus berbicara dari balik tabir, dan kalau naik Unta harus menggunakan sekedup (kotak yang dlapisi tiraii di sekelilingnya),  namun di sisi lain Nabi s.a.w. diijinkan tetap beristri 9 orang Namun 9 orang itu adalah final bagi Nabi s.a.w., beliau tak bisa menikai wanita yang lain lagi, demikian pula jika menceraikan istrinya, jandanya tak boleh dinikahi oleh oranhg lain. Hal ini merupakan hukum khusus untuk Nabi s.a.w. (berbeda dengan hukum umum bagi kaum muslimin yang dibolehkan maksimal 4 orang).

Demikian pula sebagian orang yang terlalu bersemangat dalam berislam yang menerapkan pemisahan total laki-laki dan wanita, dengan menggunakan penghalang baik berupa tirai kain, bahkan sketsel (pemisah ruangan) terbuat dari triplek, yang dilaksanakan di masjid, dalam resepsi pernikahan atau peristiwa lainnya, hal ini bukan merupakan sesuatu yang diminta oleh Islam sebagai makna dari “hijab” karena masyarakat Islam pada Nabi s.a.w pun tidak mempraktekkan demikian, kecuali khusus istri Nabi s.a.w. saja. Namun, jika ada yang mau melakukan hal itu silakan saja tak ada larangan, hanya saja jangantimbul salah persepsi bahwa hal itu diwajibkan dan menganggap lebih Islami serta orang yang tidak mempraktekkan hal itu dianggap jahiliyah.

Jilbab Dalam Pembicaraan Sehari-Hari

Nah apa yang dijelaskan di atas itu adalah duduk masalah sebenarnya. Namun dalam bahasa sehari-hari, maka kata jilbab, sering disamakan juga dengan hijab. Kata jilbab juga dipersamakan dengan khimar (kerudung), juga disamakan dengan qoomish (dalam dialek Mesir huruf qoof dibaca ghiin, sehingga menjadi gamis) dan juga istilah—istilah pakaian wanita lainnya seperti milhafah (mantel luar), mula’ah (Long dress) , izaar (pakaian bagian atas) dan .

Maka kamus-kamus mengatakan bahwa semua istilah ini saling dipertukarkan dan saling dipersamakan. Fairuz Abady dalam kamus Al Muhiith mengatakan jilbab atau jalaba adalah al qomiish(gamis) pakaian yang luas, tapi selain selubung/selimut (al-mihafah), atau sesuatu yang dipakai olehnya untuk menyelimuti pakaiannya mulai dari atas seperti selubung/selimut (al-mihafah). Atau, dia adalah al khimar (penutup kepala). Al-Jauhari dalam Kamus Ash-Shihaah mengatakan jilbab adalah “a- milhafah

Dalam kamus Lisanul Arab dikatakan al-jilbab = al-qomish (baju panjang). Dan al jilbab = pakaian luas, lebih luas dari khimar (penutup kepala), selain ar-ridaa (mantel), yang digunakan oleh wanita untuk menutupi kepala dan dadanya. Dikatakan juga bahwa dia adalah pakaian luas yang digunakan oleh wanita, selain milhafah (selimut/selubung badan). Dikatakan juga bahwa dia adalah apa yang digunakan oleh wanita untuk menyelimuti pakaian rumahnya mulai dari atas. Dikatakan juga bahwa dia adalah milhafah (selubung/selimut)… Ibnus Sikkiit berkata bahwa Al Amiriyah telah berkata: “al jilbab” adalah “a- khimar” (penutup kepala)… Ibnul ‘Arobi berkata: al jilbab adalah al izaar (selubung/seperti jubah). Begitu juga dalam Kamus Al Munawwir) dan Kamus Al Mawridh serta Mu’jam Lughotil Fuqohaa kta jilbab sering dipersamakan dengan qoomish, khimar, al-mihafah dan al-izaar.

One thought on “HIJAB SAMA DENGAN JILBAB?

  1. Admin… pohon share kat fb boleh ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s