APAKAH IKHLASH ITU

APAKAH IKHLASH ITU

 Oleh : Abu Akmal Mubarok

 Image

Iklash Adalah Amalan Hati

Sebelum kita membahas masalah “ikhlash” lebih dalam, perlu dipahami bahwa ikhlash adalah perkara amalan hati. Sedangkan hati manusia itu hanya Allah yang tahu. Terkadang manusia yang bersangkutan pun belum tentu tahu kondisi hatinya sendiri. Oleh karena itu walaupun kita membahas masalah ikhlash di sini bukan berarti nantinya kita serta merta akan tahu apakah kita telah ikhlash atau belum. Yang kita tahu adalah kita berusaha untuk memurnikan keikhlashan kita sedangkan hasilnya tetap kita pasrahkan pada Allah SWT.

Allah Menilai Proses Bukan Hasil

Satu hal lagi yang perlu dipahami, sesungguhnya Allah SWT itu menilai proses usahanya dan tidak menilai hasilnya.

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. At-Taubah [9] : 105)

Definisi Ikhlash

Said Hawa mengatakan : “Manakala sesuatu sudah bersih dari campuran dan menjadi murni maka dapat kita katakan “khalis” yakni bersih dan murni” (Al Mustaklash fii Tazkiyatin Nafs Hal 830) Hal ini sebagaimana istilah “kholis” ini dipakai pada ayat berikut ini :

Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang kholishon (murni) tidak bercampur tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (Q.S. An Nahl [16] : 66).

Ikhlash juga artinya “pengkhususan” sebagaimana kosa kata ini dipakai pada ayat :

Dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai kholishoh (pengkhususan) bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. (Q.S. Al-Ahzab [33] : 50)

Secara istilah (terminologi), Yusuf Qardhawi mengatakan “iklash adalah menghendaki keridhaan Allah dengan suatu amal, membersihkannya dari segala noda individual maupun dunia, tak ada yang melatarbelakangi suatu amal kecuali karena Allah dan demi hari akhirat (Fith Tahriq ilaa Allah niyah wal ikhlash Hal 17)

Diantara mereka ada yang mendefenisikan bahwa ikhlas adalah “menjadikan tujuan hanyalah untuk Allah tatkala beribadah”, yaitu jika engkau sedang beribadah maka hatimu dan wajahmu engkau arahkan kepada Allah bukan kepada manusia. Ada yang mengatakan juga bahwa ikhlas adalah “membersihkan amalan dari komentar manusia”. Ada juga yang mendefinisikan ikhlash adalah “samanya amalan-amalan seorang hamba antara yang shohir (nampak) dengan yang ada di batin”.

Ada juga yang mengatakan bahwa ikhlas adalah, “melupakan pandangan manusia dengan selalu memandang kepada Allah”, (Ahmad Farid dalam Tazkiyatun Nufus Hal 13)

Berkata Syaikh Abdul Malik, “Ikhlas itu bukan hanya terbatas pada urusan amalan-amalan ibadah bahkan ia juga berkaitan dengan dakwah kepada Allah. Rasulullah S.A.W. saja (tetap) diperintahkan oleh Allah untuk ikhlas dalam dakwahnya”.

Katakanlah, “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Q.S. Yusuf [12] : 108).

 

Riya’ Adalah Syirik Kecil (Syirkul Ashghor)

Rasulullah s.a.w. bersabda : Riya menggugurkan amal sebagaimana syirik menyia-nyiakannya (H.R. Ar-Rabi’i)

Rasululah s.a.w. bersabda : Sesungguhnya riya adalah syirkul ashghor (syirik kecil) (H.R. Ahmad & Al Hakim)

Rasululah s.a.w. bersabda : Barangsiapa yang beramal karena sum’ah, Allah akan menjadikannya dikenal sum’ah, sebaliknya barangsiapa yang beramal karena riya’, Allah akan menjadikannya dikenal riya.” (H.R. Bukhari No. 6018)

Telah bercerita kepada kami Yunus telah bercerita kepada kami Laits dari Yazid bin Al Had dari ‘Amru dari Mahmud bin Labid bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya: Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah s.a.w.? Rasulullah s.a.w.menjawab: “Riya`, Allah ‘azza wajalla berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka: Temuilah orang-orang yang dulu kau perlihat-lihatkan (dipamerkan amalnya) di dunia lalu lihatlah apakah kalian menemukan balasan disisi mereka?”  (H.R. Ahmad No. 22523 dan No. 22528)


Lawan Dari Ikhlash Adalah Syirik?

Orang kebanyakan mengetahui bahwa lawan dari ikhlash adalah riya’. Namun Al Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddiin berkata bahwa Ikhlash itu adalah lawan dari isyrok atau menyekutukan. Krena riya itu untuk mendapat pujian dari manusia sedangkan banyak kemungkinan bercampurnya niat selain dari ingin mendapat pujian manusia. Misalnya puasa dalam rangka untuk diet atau kesehatan semata, walaupun ini bukan tergolong riya’ namun termasuk katagori tidak ikhlash karena ada tujuan lain selain Allah.

Ikhlash adalah memurnikan tujuan hanya pada Allah, sedangkan riya itu menyekutukan tujuan dengan selain Allah, maka Alm. Ustad Said Hawwa mengatakan : “Ikhlash adalah lawan dari isyrok (menyekutukan) oleh sebab itu seseorang yang bukan mukhlish atau tidak berhati ikhlash dapat dikatakan sebagai orang yang musyrik, namun perlu dimaklumi bahwa musyrik itu memiliki beberapa derajat dan tingkatan” (Al Mustaklash fii Tazkiyatin Nafs Hal 831)

Dari Mahmud bin Labid dari Jabir r.a. dia berkata : Rasulullah S.A.W. bersabda : “Wahai manusia jauhilah syirik khafi (tersembunyi)”. Mereka bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah syirik khafi itu?” Beliau menjawab : “Seseorang berdiri lalu shalat dan menghiasi shalatnya dengan maksud agar pandangan manusia tertuju padanya. Demikian itulah syirik khafi” (H.R. Ibnu Khuzaimah No 937 dan Baihaqi No. 298)

Tatkala sampai berita kepada Imam Ahmad bahwasanya manusia mendoakannya dia berkata: “Aku berharap semoga hal ini bukanlah istidroj”. (As-Siyar 11/211).

Imam Ahmad juga pernah berkata tatkala tahu bahwa manusia mendoakan beliau: “Aku mohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang riya”. (As-Siyar 11/211).

Oleh karena itu dalam beberapa ayat Al-Qur’an, perkara mengikhlashkan ketaatan ini disandingkan dengan perkara menyekutukan Allah

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (Q.S. Al-Ankabut [29] : 65)

Contoh lain tidak ikhlash yang tidak tergolong riya adalah orang-orang kafir melakukan ibadat bukan karena ingin mendapat pujian orang, melainkan mempersembahkan amal untuk Tuhan mereka. Namun ini tetap saja bukan termasuk ikhlash, karena ikhlash adalah melakukan amal untuk Allah, dan segala sesuatu yang bukan untuk Allah bukanlah ikhlash. Maka amalan orang kafir tidaklah diterima walaupun bukan mencari pujian manusia.

Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka (Q.S. Ar-Ra’d [13] : 14)

Perhatikanlah ayat di berikut ini, dimana pemahaman tentang aqidah, yaitu tidak percaya akan perjumpaan dengan Allah dan hari akhirat akan menyebabkan termasuk katagori tidak ikhlash sehingga sia-sialah amalannya.

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (Q.S. Al-Kahfi [18] : 104)

Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat (Q.S. Al-Kahfi [18] : 105)

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (Q.S. Al-An’aam [6] : 162)

 

Kita Disuruh Untuk Ikhlash

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (Q.S. Az-Zumar [39] : 2)

Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama (Q.S. Az-Zumar [39] : 11)

Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.” (Q.S. Az-Zumar [39] : 14)

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (Q.S. Al-Mu’min [40] : 14)

Maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam (Q.S. Al-Mu’min [40] : 65)

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Q.S. Al-Bayyinah [98] : 5)

 

Apakah Ikhlash Mempengaruhi Diterima Tidaknya Amal?

Benar. Ikhlash sangat menentukan diterima tidaknya amal.

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan, Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (Q.S. Huud [11]:16)

Dari ayat di atas jelas diisyaratkan bahwa orang yang berjuang dan bekerja keras untuk memperoleh dunia niscaya akan dibukakan oleh Allah dunia sesuai dengan kadar kerja keras mereka, namun kelak di akhirat mereka tidak memperoleh apa-apa kecuali neraka. Hal ini karena mereka hanya sibuk mengejar dunia dan melupakan akhirat.

Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya adalah tidak ikhlash. Karena orang yang ikhlash adalah menjadikan akhirat dan Allah sebagai tujuan hidupnya.

Rasulullah S.A.W. bersabda : “Barang siapa melakukan amal akhirat dengan niat untuk dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian apa-apa di akhirat” (H.R. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim)

Rasulullah S.A.W. bersabda : “Sampaikanlah kabar gembira kepada umat ini dengan kemudahan, keluhuran, keunggulan dengan agama, kekuatan di negeri dan pertolongan. Barang siapa di anatara mereka melakukan amal akhirat untuk dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian di akhirat (H.R. Baihaqi)

Demikian pula orang yang beribadah karena riya’ tidak akan diterima amalnya

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan merek. aDan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (Q.S. An-Nisaa [4]:142)

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan  (Q.S. Al-Furqon[25]: 23)

Bahkan orang yang shalat masih bisa disebut celaka, jika shalatnya itu karena riya’.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya (yaitu ) orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna (Q.S. An-Maun [107]: 5-7)

Demikian pula dalam sebuah Hadits Qudsi yang panjang dapat kita temukan kisah pengadilan akhirat atas orang-orang yang tidak ikhlash selama beramal di dunia :

Dari Abu Hurairah r.a. berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah S.A.W. bersabda : Sesungguhnya orang yang pertama-tama diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia didatangkan ke pengadilan, diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya : “Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?” Dia menjawab : “Aku berperang karena Engkau hingga aku mati syahid”. Allah berfirman : “Engkau dusta, engkau berperang supaya dikatakan dia adalah orang yang gagah berani. Dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu). Kemudian diperintah agar dia diseret dengan muka tertelungkup dan dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya adalah orang yang mempelajari ilmu, dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Dia didatangkan ke pengadilan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka diapun mengakuinya. Allah bertanya : “Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?”. Dia menjawab : “Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca Al-Qur’an karenaMu”. Allah berfirman : “Engkau berdusta, engkau mempelajari ilmu agar dikatakan dia adalah orang yang berilmu dan engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan dia adalah qori dan memang begitulah yang dikatakan”. Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup dan dimasukkan ke dalam neraka. Berikutnya adalah orang yang diberi kelapangan oleh Allah dan juga diberi berbagai macam harta. Lalu didatangkan ke pengadilan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka diapun mengakuinya. Allah bertanya : “Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?”. Dia menjawab : “Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau suka agar dinafkahkan harta melainkan akupun menafkahkannya karenaMu”. Allah berfirman : “Engkau berdusta, engkau melakuakn itu agar dikatakan dia adalah orang yang dermawan dan memang begitulah yang dikatakan”. Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup dan dimasukkan ke dalam neraka. (H.R. Muslim, An-Nasa’I, Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s