TAK MAU BERDAKWAH KARENA KHAWATIR RIYA

TAK MAU BERDAKWAH KARENA KHAWATIR RIYA

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Iklash adalah perkara amalan hati yang sangat sulit sekali dideteksi, bahkan terkadang diri kita sendiri tidak yakin sudahkah ikhalsh atau belum.Seking samar dan sulitnya terkadang memilah iklash dengan riya adalah ibarat rambut dibelah tujuh.

Misalnya saja kita sudah menyangka diri kita ikhlash, pada saat yang sama berarti kita merasa ujub dengan diri kita. Saat kita merasa diri kita ini sudah murni karena Allah, saat itu pula setan membisiki bahwa diri ini sudah suci. Maka tidak jarang ikhlash dan riya ini saling bercampur silih berganti.

Maka terkadang setan pun mencari jalan yang lain, yaitu agar kita menahan diri dan urung beramal karena khawatir tidak ikhalsh. Atau setan membisiki agar kita tidak usah berdakwah karena khawatir nanti riya’. Maka apa yang sesungguhnya diminta adalah kita tetap beramal walaupun harus riya. Dan ketika kita sedang beramal, disitulah saatnya kita diminta untuk ikhlash. Bukankah tak ada urusan ikhlash dan tidak ikhlash kalau kita sama sekali tidak beramal?

Ibnu Rajab Al-Hambali berkata : “ketahuilah bahwa amal karena selain Allah bisa dibagi menjadi beberapa macam, kadang karena riya’ semata, tidak dimaksudkan kecuali untuk pamer pada manusia, yang ini jelas tidak diterima amalnya. Namun ada juga niat karena Allah namun bercampur dengan niat lainnya

Dari Ibnu Abbas r.a. berkata ada seseorang berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku melakukan sesuatu karena aku menghendaki keridhaan Allah dan juga agar kampungku dikenal”. Maka Rasulullah tidak menanggapi hingga turun ayat  “Barang siapa menghendaki perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya” (Q.S. Al-Kahfi [18] : 110) (H.R. Al-Hakim)

Maka inilah pendapat Ubadah bin Shamit, Abu Darbda Al Hasan, Sa’ib bin Al Musayyab dll bahwa jika amal itu bercampur dengan tujuan lain maka akan gugurlah pahala amal itu.

Rasulullah S.A.W. bersabda : Allah tidak menerima amal sekalipun di dalamnya ada riya’ seberat biji s.a.w.it (H.R. Abu Na’im)

Dari Abu Hurairah r.a. seorang laki-laki bertanya pada Rasulullah S.A.W. : “Wahai Rasulullah, ada seorang laki-laki berjihad karena mencari sebagian harta dunia..” Maka Rasulullah S.A.W. menjawab : “Tak ada pahala baginya” (H.R. Abu Daud)

Dari Abu Umamah r.a. ada seorang lelaki bertanya pada Rasulullah S.A.W.: “Apa pendapatmu tentang seorang laki-laki yang berperang karena hendak mendapatkan ketenaran apa yang dia peroleh?” Beliau S.A.W. menjawab : “dia tidak memperoleh apa-apa”. Orang itu mengulangi pertanyaannya sampai 3X dan beliau tetap menjawab : “Dia tidak memperoleh apa-apa”. (H.R. Nasa’i)

Dari Abdullah bin Amr dari Nabi S.A.W. bersabda : Sesungguhnya apabila orang-orang berperang itu memperoleh ghonimah (harta rampasan) maka mereka mendapatkan dua pertiga balasan (di dunia) dan jika tidak memperoleh ghonimah, maka balasannya menjadi utuh di akhirat (H.R. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’I dan Ibnu Majah)

Bagaimana Jika Riya Berupa Lintasan Pikiran Saja?

Jika di tengah pelaksanaan amal tiba-tiba terlintas pikiran niat selain dari Allah maka ada beberapa pendapat :

Imam Ahmad, Ibnu Jarir Ath-Thaobari, dan Hasan Al-Bashri berpendapat bahwa amalnya tidak gugur dan niatnya kembali pada niatnya yang awal.  Imam Ahmad berkata : “orang yang mendapatkan upah karena keterlibatannya dalam jihad, jika dia keluar berperang tidak hanya untuk mendapatkan uang, maka bolehlah ia mengambil upah itu dan niatnya seakan sama dengan yang berperagn karena agama.

Abdullah bin Amr menegaskan : “Jika salah seorang di antara kalian sudah berbulat tekad untuk berperang lalu Allah menggantinya dengan rezeki maka hal itu tidak mengapa. Namun jika salah seorang di anatara kalian mau berperang hanya jika setelah diberi uang dan jika tidak diberi uang tidak mau berperang maka tak ada pahala untuk amalnya”

Atha Al-Khurasani berkata : jika seseorang melakukan amal karena Allah, lalu Allah memasukkan pujian ke dalam hati orang mukmin karena amalnya itu, lalu ia pun gembira karena karunia dan rahmat Allah ini maka hal ini termasuk pahala yang didahulukan di dunia.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa perbedaan pendapat ini karena suatu amal yang permulaanya terkait dengan kesudahannya, seperti sholat, puasa, haji, maka untuk niat itu berdasarkan awalnya. Sedangkan untuk amal yang permulaan dan kesudahannya tidak terkait seperti membaca Al-Qur’an, dizikir, menyebarkan ilmu dll, maka amal itu bisa terputus karena lintasan riya’ dan diperlukan niat baru untuk meluruskannya.

Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin berkata : Ketahuilah jika suatu amal tidak ikhlash karena Allah semata melainkan bercampur dengan noda riya atau pertimbangan pribadi, maka orang berpeda pendapat apakah akan memperoleh pahala atau siksa, ataukah ia tidak dihukumi sama sekali tidak mendapat pahala dan juga tidak mendapat siksa.

Maka yang bisa saya katakan tentang masalah ini sedangkan pengetahuan tentangnya hanya ada di sisi Allah bisa dilihat berdasarkan kadar niatnya. Jika niat karena agama sejajar dengan niat pribadi, maka amal itu tidak mendatangkan pahala juga tidak dosa. Jika niat riya lebih dominan dan lebih kuat maka amal itu tidak bermanfaat bahkan bisa mendatangkan siksa. Namun siksa ini lebih ringan daripada amal yagn semata karena riya tanpa dicampuri maksud taqorub pada Allah. Jika tujuan taqorub pada Allah lebih dominan daripada niat lainnya maka pahalanya sebesar bagian niatnya pada Allah.

Ada juga yang berpendapat berdasarkan Q.S. Al-Zalzalah : 7-8 dimana kebaikan sebesar dzarahpun akan mendapat balasan, maka jika niat riya lebih dominan maka bagian amal yang dikotori oleh riya itu akan gugur dan dia tetap mendapat pahala sesuai dengan sisa bagian yang diniatkan karena Allah.

Hal ini dikuatkan dengan ijma ulama bahwa orang yang berhaji sambil berniaga, hajinya tetap sah dan mendapat pahala. Padahal hajinya bercampur dengan tujuan berdagang. Dalam kondisi ini dia tetap bisa disebut orang yang mukhlish. Dia tidak disebut mukhlish jika 100% niatnya hanya untuk berdagang. Pendapat ini dikuatkan Mujahid yang berkata tentang hajinya pedagang onta bahwa hajinya tetap sempurna.

Bagaimana Jika Mengurungkan Beramal Karena takut Riya’ ?

DR Yusuf Qardhawi berkata : “Tidak boleh meninggalkan amal karena takut riya, hal ini merupakan bisikan setan. Karena yang diminta adalah jangan sampai kehilangan ikhlash. Jika ia tidak beramal maka memang ia tidak riya namun di saat yang sama ia juga kehilangan ikhlash, karena tidak mungkin ikhlash itu tanpa amal” (Fit Thariq Ilallah An-Niyah wal Ikhlash Hal 94)

Fudhail bin Iyadh berkata : “tidak mau beramal karena khawatir orang lain adalah riya juga,  dan beramal karena orang lain adalah syirik, maka ikhlash adalah apabila Allah menyelamatkan kamu dari keduanya

Abu Sa’id Al-Kharraz berkata : “Jangan begitu, perkara ikhlash tidak menghalangi perbuatan. Tekunlah dalam bekerja dan berusahalah mendapatkan ikhlash. Saya tidak pernah mengatakan engkau tidak perlu bekerja, namun yang saya katakan iklashlah dalam bekerja”.

Seseorang memang diminta beramal sholeh sebanyak-banyaknya dengan semata dengan tujuan menggapai ridhol Allah maka itulah ikhlash.. amal yang ikhlash lah yang mendapat ganjaran pahala.. dan pahala ini akan menjadi jalan menuju surga.. Namun…seseorang dilarang untuk semata mengandalkan amal-amalnya.. krn kita tak pernah tahu kualitas amal kita.. termasuk sejauh mana kita ikhlash dlm beramal.. jangan2 amalnya tidak ikhlash.. jangan2..amalnya terkotori oleh niat2 lain

maka di sini setelah beramal kita diminta utk berharap pada rahmat Allah, karena sesungguhnya pada akhirnya ini semua terserah Allah. Bisa jadi kita banyak dosa tapi entah bagaimana Allah merahmati diri kita.. sedangkan bisa jadi kita banyak amal tapi tanpa kita sadari ternyata terkotori oleh riya’ .. maka ujung2nya kita hanya bermohon pada rahmat Allah karena inilah yg bisa kita persembahkan. Inilah yg dimaksud dengan hadits  diatas

Amal seseorang tidak dapat menyelamatkannya. Seorang sahabat lantas bertanya tentang sabda tersebut, “Termasuk engkau juga, ya Rasulullah?” Rasulullah lalu menjawab, “Ya, aku juga, kecuali dikarunia Allah dengan rahmat-Nya. Walaupun demikian kamu harus berbuat yang benar (baik).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat (Q.S. Al-baqarah [2] : 265)

Sedangkan orang yang tidak ikhlash dalam beramal diibaratkan dengan orang yang terbakar kebunnya sementara ia meninggalkan anak-anak yang masih kecil-kecil

Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya (Q.S. Al-Baqarah [2] : 266)

Orang yang tidak ikhlas atau riya juga diumpamakan dengan tanah di atas batu yang terhapus karena diguyur air hujan

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (Q.S. Al-Baqarah [2] : 264)

Wallahua’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s