TANDA-TANDA KE-IKHLASH-AN

TANDA-TANDA KE-IKHLASH-AN

 Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Ikhlash adalah perkara hati, dan sulit dilihat oleh orang lain. Orang lain bisa menduga namun bisa juga salah paham. Dari luar bisa jadi perilakunya nampak ikhlas, namun bisa jadi perilakuk ikhlash itu ternyata sengaja dinampakkan agar disangka sebagai orang yang ikhlash. Sebaliknya, bisa jadi perillaku zhahirnya seolah seperti tidak ikhlash namun ternyata orang itu hatinya sangat ikhlash. Hanya diri sendiri dan Allah saja yang mengetahui apakah dirinya ikhlash atau tidak. Namun bukan berarti ikhlash itu sama sekali tidak ada tanda-tandanya dan berikut ini adalah tanda-tandanya :

1.       Tidak Terkecoh Dengan Pujian

Orang yang ikhlash tidak akan berusaha mencari pujian bahkan menghindari pujian karena khawatir akan mengotori hatinya dan merusak amal-amalnya.

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata : “Berbuatlah baik bukan kaena ingin dipuji, sebab siapa saja yang berbuat sesuatu selain untuk Allah, maka Allah akan menyerahkan nasibnya kepada apa atau siapa yang diharapkan pujian darinya”. (Nahjul Balaghoh Hal 45)

Oleh karena itu Rasulullah SAW memperingatkan agar kita tidak berlebihan memuji seoseorang  karena hal itu dapat merusak keikhlasan orang yang dipuji. Ini artinya kita menjerumuskan saudara kita ke dalam keburukan

Berhati-hatilah dalam memuji (yang berlebihan) sesungguhnya itu adalah penyembelihan (H.R. Bukhari)

Abu Bakar r.a. ketika mendapat pujian , ia menjadi takut akan apa yag dikatakan orang tentang dirinya. Lalu  ia pun segera berkata : “Aku lebih mengerti mengenai diriku dan Tuhanku lebih mengerti akan hal itu daripada diriku. Ya Allah, Ya Tuhanku jangan kau hukum aku disebabkan apa ya mereka katakan tentang diriku.Jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka sangka, dan ampunilah aku dari segala yang mereka tidak ketahui” (Atsar Riwayat Imam Ahmad Hal 40)

Ali bin Abi Thalib r.a. ketika mendapat pujian maka beliau berkata : “Sesungguhnya diriku berada di bawah apa yang Anda katakan dan di atas apa yang Anda sembunyikan dalam hati Anda “ (Nahjul Balaghoh Hal 126)

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih (Q.S. Al-Insaan [76] : 9)

2.       Menjauhi Ketenaran

Para sahabat dan tabiin pada jaman dahulu sangat membenci ketenaran dan berusaha menghindar dari situasi yang bisa memberi peluang setan untuk meniupkan rasa ujub dan sombong.

Ibnu Mas’ud r.a. berkata : “Jadilah kalian nara sumber ilmu, pelita petunjuk, penerang rumah, obor di waktu malam dan pembaharu hati yang diketahui penduduk langit namun tidak dikenal penduduk bumi”.

Ibnu Muhairiz berkata : “Jika bisa hendaklah engkau mengenal tapi tidak dikenal, berjalan sendiri dan jangan mau diikuti, bertanyalah (menegur duluan) dan jangan ditanya (ditegur duluan)”.

Demikianlah para sahabat Rasulullah jaman dahulu lebih menyukai terkenal di kalangan penduduk langit ketimbang terkenal di kalangan penduduk bumi .

Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakan di hadapan para ulama dan untuk diperdebatkan di kalanganorang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majleis dan untuk menarik perhatian orang kepadamu. Barang siapa seperti itu maka baginya neraka.. neraka” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ayyub As-Sakhtiyani melakukan suatu perjalanan, lalu ada beberapa orang yang mengelu-elukannya, maka Ayyub pun berkata : “seseorang tidak berniat secara benar karena Allah kecuali jika dia suka tidak merasakan kedudukan menjadi terkenal”.

Bisyr Al Hafy berkata : “Saya tidak mengenal orang yang suka ketenaran melainkan agama menjadi sirna dan dia menjadi hina

Berkata Imam Ahmad bin Hambal : “Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Jika tidak maka aku akan ditimpa musibah ketenaran”. (As-Siyar 11/210).

Al Hasan Al Bashri pernah menceritakan mengenai Ibnul Mubarok. Suatu saat Ibnul Mubarok pernah datang ke tempat sumber air di mana orang-orang banyak yang menggunakannya untuk minum. Tatkala itu orang-orang pun tidak ada yang mengenal siapa Ibnul Mubarok. Orang-orang pun akhirnya saling berdesakan dengan beliau dan saling mendorong untuk mendapatkan air tersebut. Tatkala selesai dari  mendapatkan minuman, Ibnul Mubarok pun mengatakan pada Al Hasan Al Bashri, “Kehidupan memang seperti ini. Inilah yang terjadi jika kita tidak terkenal dan tidak dihormati.” Lihatlah Ibnul Mubarok, dia lebih senang kondisinya tidak tenar dan tidak menganggap hal itu sebagai masalah.( Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 284 dan 288)

3.       Melihat Diri Sendiri Ketimbang Melihat Orang Lain

Rasulullah SAW bersabda : “Alangkah baiknya orang yang sibuk meneliti aibnya sendiri dan tidak mengurusi aib-aib orang lain” (H.R. Dailami)

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata : Hai manusia, bahagialah mereka yang menyibukkan oleh kekurangan dirinya daripada memikirkan kekurangan orang lain (Nahjul Balaghoh Hal 48)

Allah juga menyuruh kita untuk menjauhi prasangka buruk dan mencari-cari kesalahan orang lain

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (Q.S. Al-Hujuraat [49] : 12)

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa mengintai-intai keburukan saudaranya semuslim, maka Allah akan mengintai-intai keburukannya. Barang siapa diintai keburukannya oleh Allah maka Allah akan membongkarnya walaupun dia melakukan itu di dalam rumahnya” (H.R. Ahmad)

Jika kita ikhlash pada Allah, maka apabila ada orang yang membeberkan aib atau keburukan kita janganlah membalas dengan membeberkan aib orang tersebut

Rasulullah SAW bersabda : “Apabila ada orang yang mencaci maki kamu tentang apa yang dia ketahui tentang dirimu, maka janganlah kamu kamu mencaci maki dia tentang apa yang kamu ketahui akan dirinya karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk dia” (H.R. Ad-Dailami)

Termasuk dalam perkara ini, Islam menyuruh kita untuk mulai dari diri kita sendiri dan keluarga sendiri sebelum memperbaiki orang lain

Ali bin Abi Thalib r.a. juga berkata : “Barang siapa mengangkat dirinya menjadi pemimpin, hendaknya ia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lidahnya. Orang yang menjadi pendidik bagi dirinya sendiri lebih patut dihormati” (Nahjul Balaghoh Hal 125)

Ali bin Abi Thalib r.a. juga berkata : “Hai manusia berbahagilah mereka yang disibukkan dengan kekurangan dirinya daripada memikirkan kekurangan orang lain. Ketahuilah wahai hamba Allah seorang mukmun selalu meragukan dirinya sepanjang hari, mengecam kelalaiannya sehingga mendorongnya agar menambah amalnya (Nahjul Balaghoh Hal 48)

4.       Dawam Atau Istimrar Dalam Beramal

Salah satu ciri orang mukhlish ialah konsisten dalam amal. Ia tetap konsisten beramal baik dilihat orang maupun tidak dilihat orang. Ia tetap beramal baik ketika bersama orang ramai maupun ketika sendirian.

Masruq berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah, ‘Apakah amal yang paling disukai Nabi?’ Ia menjawab, ‘Amal yang dilakukan secara terus-menerus (H.R. Bukhari)

Rasulullah SAW bersabda : amal yang paling disukai Allah ialah yang dawam (langgeng) walaupun hanya sedikit (H.R. Bukhari)

Termasuk juga tanda orang yang ikhlash adalah tetap bershodaqoh baik dalam keadaan lapang (banyak uang) atau sempit (miskin).

Lebih baik melaksanakan ibadah sedikit yaitu sesuai kemampuan kita namun hal itu dijadikan kebiasaan atau rutinitas ketimbang melaksanakan secara angin-anginan atau anget anget tahi ayam

Rasulullah SAW bersabda : Laksanakan ibadah sesuai kemampuanmu, jangan membiasakan ibadah lalu meninggalkannya (H.R. Ad-Dailami)

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, (Q.S. Ali-Imran [3] : 134)

Hasan Al Basri berkata : ”Jika syaithon melihatmu kontinu dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaithon melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka syaithan pun akan semakin tamak untuk menggodamu.” (Al Mahjah fii Sayrid Duljah, Ibnu Rajab, hal. 71. Dinukil dari Tajriidul Ittiba’ fii Bayaani Asbaabi Tafadhulil A’mal, Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, Daar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, 1428 H, hal. 86.)

5.       Selalu Khawatir Dengan Amalnya

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi (Q.S. Al-A’raaf [7] : 99)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun (Q.S. An-Nisaa [4] : 49)

Aisyah r.a. ketika menanyakan maksud dari ayat : “orang-orang yang mengerjakan apa yang mereka kerjakan sedang hati mereka takut” (Q.S. Al Mu’min : 60) Nabi SAW bersabda : Tidak, wahai anak perempuan Ash-Shidiq, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa dan bersedekah sedang mereka takut tidak diterima amal mereka, mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan” (H.R. Ahmad No. 24523)

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata :  “Tiada pernah ia merasa senang dengan amal-amalanya yang hanya sedikit dantidak pernah pula berpuas hati dengan amal yang banyak. Selalu ia mencurigai dirinya sendiri dan selalu mencemaskan amal pengabdian yang mereka lakukan” (Mutiara Nahjul Balaghoh Hal 40)

Jubair bin Muth’im berkata : “Mereka mengatakan padaku bahwa pada diriku ada kesombogan, padahal aku telah mengendarai keledai aku memakai jubah dan aku memerah kambing”. Padahal Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa melakukan hal ini maka pada dirinya tidak ada sedikitpun kesombongan” (H.R. Tirmidzi)

Ibnu Abi Malikah berkata : “Aku mendapati 30 orang sahabat yang mengikuti perang badar, mereka semua mengkhawatirkan kemunafikan atas diri mereka, dan tidak merasa aman terhadap tipu daya dalam hal agamanya. Tidak seorang pun di anatara mereka yang mengatakan bahwa dirinya seperti imannya Jibrik dan Mikail” (H.R. Bukhari)

Berkata Abu ‘Abdillah Al-Anthoki, “Fudhail bin ‘Iyadh bertemu dengan Sufyan Ats-Tsauri lalu mereka berdua saling mengingat (Allah) maka luluhlah hati Sufyan atau ia menangis. Kemudian Sufyan berkata kepada Fudhail, “Wahai Abu ‘Ali sesungguhnya aku sangat berharap majelis (pertemuan) kita ini rahmat dan berkah bagi kita”, lalu Fudhail berkata kepadanya, “Namun aku, wahai Abu Abdillah, takut jangan sampai majelis kita ini adalah suatu mejelis yang mencelakakan kita “, Sufyan berkata, “Kenapa wahai Abu Ali?”, Fudhail berkata, “Bukankah engkau telah memilih perkataanmu yang terbaik lalu engkau menyampaikannya kepadaku, dan akupun telah memilih perkataanku yang terbaik lalu aku sampaikan kepadamu, berarti engkau telah berhias untuk aku dan aku pun telah berhias untukmu”, lalu Sufyan pun menangis dengan lebih keras daripada tangisannya yang pertama dan berkata, “Engkau telah menghidupkan aku semoga Allah menghidupkanmu”. (Tarikh Ad-Dimasyq 48/404).

6.       Beramal Secara Diam Diam

“Jika kalian menampakkan sedekah kalian maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka menyembunyikanya itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan” (Q.S. Al-Baqoroh [2] : 271).

Berkata Ibnu Kasir dalam Tafsirnya, ”Asalnya isror (amalan secara tersembunyi tanpa diketahui orang lain) adalah lebih afdol dengan dalil ayat ini

Berkata Rasulullah SAW : ”Tujuh golongan yang berada dibawah naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah, Imam yang adil, dan seorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya”(H.R.Bukhori  No. 1423 dan Muslim No. 2377).

 

7.       Bersahaja Ketika Di Depan Orang Banyak, Istimewa Ketika Sendirian

Salah satu ciri orang yang ikhlas ialah ia bersahaja baik dalam perilaku maupun penampilan ketika di hadapan orang banyak, sementara ia melebihkan baik kualitas maupun kuantitas ketika sendirian atau berdua saja dengan Allah.

Rasulullah SAW bersabda : “Orang yang riya berciri tiga : yakni apabila di hadapan orang ia giat tapi bila sendirian ia malas, dan selalu ingin mendapat pujian dakan segala urusan”  (H.R. Ibnu Babawaih)

Contoh, kita terkadang menjumpai orang yang ketika menjadi imam di hadapan orang banyak ia membaca surat yang panjang-panjang karena ingin dilihat banyak hafalannya dan tinggi ilmu agamanya. Sementara ketika shalat sendirian, membaca surat yang pendek-pendek dan cepat-cepat.

Padahal Rasulullah SAW melakukan sebaliknya. Rasulullah SAW melarang kita membaca surat yang panjang-panjang karena khawatir ada orang yang tidak kuat.

Abu Mas’ud Al-Anshari r.a. mengatakan, bahwa dia tidak pernah melihat Nabi sangat marah seperti hari itu. Nabi bersabda, “ Wahai sekalian manusia, sesungguhnya di antara kalian ada yang senang membuat orang lari dari agama. Oleh karena itu, siapa pun di antara kalian yang menjadi imam shalat, maka hendaknya ia memperingan shalatnya. Sebab di belakangnya ada orang tua, anak kecil, dan orang yang mempunyai keperluan! (H.R.Muslim No. 713)

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata : Jika kamu mengimami jagalah shalatmu agartidak menjemukan atau merugikan (orang banyak) ingatlah bahwa di antara mereka ada yang menderita sakit atau dikejar suatu keperluan (Nahjul Balaghah Hal 108)

Mughirah bin Syu’bah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah bangun untuk shalat sehingga kedua telapak kaki atau kedua betis beliau bengkak. Lalu dikatakan kepada beliau, ‘Allah mengampuni dosa-dosamu terdahulu dan yang kemudian, mengapa engkau masih shalat seperti itu?’ Lalu, beliau menjawab, ‘Apakah tidak sepantasnya bagiku menjadi hamba yang bersyukur?’ (H.R. Bukhari)

Rasulullah SAW bersabda : “Ada beberapa kelompok manusia dari ummatku pada hari kiamat datang membawa kebaikan laksana gunung tinggi yang berkilau. Tapi Allah menjadikannya seperti debu yang berterbangan. Mereka itu adalah saudara-saudara kalian, dan berasal dari keturunan kalian. Mereka mengerjalan amalan pada waktu malam sebagaimana kalian mengerjakannya. Namun mereka adalah kaum yang jika tidak bersama orang lain, mereka melanggar larangan-larangan Allah.” (H.R. Ibnu Majah)

 

8.       Tidak Memikirkan Lagi Amalan Yang telah Dilakukan

Salah satu tanda orang yang ikhlash dalam beramal adalah tidak memikirkan lagi amal sholeh yang telah dia lakukan, tidak mengingatnya, tidak menyebutnya, tidak terlintas dalam pikirannya, seolah seperti membuang ludah di jalan. Ia tak mau memikirkan dan menyebut-nyebutnya karena khawatir menimbulkan ujub atau rasa sombong, merasa suci, padahal kebaikan yang dilakukannya belum seberapa

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya (Q.S. Al-Baqarah : 262)

“Hai orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan pahala shodaqoh kalian dengan menyebut-nyebutnya…” (Q.S. Al-Baqarah : 264)

Ibnu Athoilah As Sakandari dalam Kitab Al-Hikam mengatakan : Boleh jadi Allah membuka pintu ketaatan bagimu tetapi tidak membuka pintu penerimaan amal bagimu. Boleh jadi Allah menakdirkan kedurhakaan atas dirimu namun kedurhakaan ini menjadi sebab yang menghantarkanmu ke tujuan. Kedurhakaan yang membuahkan ketundukan dan kepasrahan lebih baik daripada ketaatan yang membuahkan ujub dan kesombongan.

Abu Hazim Salamah bin Dinar berkata : “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu”

“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)”. (H.R. Baihaqi  no. 6500)

Seseorang bertanya pada Tamim Ad-Dari ”Bagaimana sholat malam engkau”, maka marahlah Tamim, sangat marah, kemudian berkata, “Demi Allah, satu rakaat saja sholatku ditengah malam, tanpa diketahui (orang lain), lebih aku sukai daripada aku sholat semalam penuh kemudian aku ceritakan pada manusia” (Dinukil dari kitab Az- Zuhud, Imam Ahmad).

9.    Menyandarkan Pertolongan Hanya Dari Allah SWT

Orang yang ikhlash hanya menyandarkan pertolongan dari Allah semata. Ia menyadari, andaikanpun ada pertolongan dari manusia, atau binatang atau cuaca atau apa saja yang menjadi pasukan Allah, maka hal itu adalah Allah yang menggerakkan mereka.

Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati (Q.S. Ali Imran [3] : 13)

10.   Menyerahkan Hasil Usaha Kepada Allah

Orang yang ikhlash senantiasa berusaha maksimal dan melakukan yang terbaik tanpa menimbang-nimbang hasil yang akan diperoleh, karena hasil usaha diserahkan kepada Allah.

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (Q.S. At-Taubah [9] : 105)

11.   Cinta dan Benci Karena Allah Bukan Karena Pribadi

Barang siapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya (H.R. Abu Daud)

Tali hubungan keimanan yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah (H.R. Athabrani)

Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi harta karena Allah dan menahan harta karena Allah, maka imannya sempurna (H.R. Abu Daud)

12.   Mementingkan Ridha Allah Dan Tidak Mencari Ridha Manusia

Barang siapa membuat murka Allah untuk meraih keridhaan manusia maka Allah  murka kepadanya dan menjadikan orang yang semula meridhoinya menjadi murka kepadanya. Namun barangsiapa membuat ridho Allah meskipun dalam kemurkaan manusia maka Allah akan meridhoinya dan membuat orang yang pernah memurkainya rihdo kepadanya sehingga Allah memperindahnya, memperindah ucapannya dan perbuatannya dalam pandanganNya (H.R. Athabrani)

Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah hendaklah dia mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya, sesungguhnya Allah menempatkan hambaNya dalam kedudukan sebagai mana dia menempatkan kedudukan Allah dalam dirinya (H.R. Al-Hakim)

13.   Mau Mendengar Nasehat Dan Kritik Walau Menjadi Pembesar Atau Ulama

Rasulullah SAW bersabda : “Agama adalah nasehat”. Kami bertanya : “Bagi siapa ya Rasul?”. Jawabnya : “Bagi Allah, kitabNya, Rasul dan para tokoh umat serta umat Islam umumnya” (H.R. Muslim).

Di antara akhlak seorang mukmin adalah berbicara dengan baik, dan apabila mendengarkan pembicaraan orang lain ia mendengar dengan seksama, dan bila berjumpa orang dia menyambut dengan wajah ceria dan bila berjanji ditepati (H.R. Ad-Dailami)

Ali Bin Abi Thalib r.a. pernah berkata : ”Barang siapa tak bermanfaat baginya segala cobaan dan ujian maka takkan bermanfaat pula baginya segala nasihat dan ucapan” (Nahjul Balaghoh Hal 48)

Suatu Hari Al-Imam Hasan Al-Bashrirahimahullah berkata :Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya. Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya. Namun dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan. Maka terus meneruslah berada pada majelis-majelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni kalian. Bisa jadi ada satu kata yang terdengar dan kata itu merendahkan diri kita namun sangat bermanfaat bagi kita. Bertaqwalah kalian semua kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Mawai’zh lilImam Al-Hasan Al-Bashri, hal.185-187)

 

14.   Tidak terlalu gembira Jika Mendapat Sesuatu Dan Tidak Kecewa Jika Kehilangan Sesuatu

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.  (Q.S. Al Hadid [57] : 22)

Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu (Q.S. Al Hadid [57] : 23)

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata : Seringkali manusia merasa gembira karena ia memperoleh sesuatu yang sebenarnya sudah pasti takkan luput darinya. Dan ia bersedih hati atas luputnya sesuatu yang sebenarnya memang sudah pasti tidak akan mencapainya. Maka jadikanlah kegembiraanmu hanya pada apa sajayang kau peroleh untuk kehidupan akhiratmu. Dan jadikanlah kesedihanmu hanya atas kehilangan bagianmu dari akhiratmu pula. (Nahjul Balaghoh Hal 42)

15.   Tidak Berkecil Hati Jika Tidak Ada Pengikut Atau Pendukung

Wahai Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kepada kaumku malam dan siang, tapi seruanku hanyalah menambah mereka lari. (Q.S. Nuh [71]: 5-6)

Dalam sejarah diriwayatkan bahwa Nabi Nuh yang berumur sampai 900 tahun hanya berhasli memperoleh 9 orang pengikut. Bahkan Istri dan anaknya sendiri pun murtad tidak mau diajak Islam.

16.   Merasa Senang Jika Ada Yang Lebih Baik dari Dirinya

Pernah disebut-sebut tentang tawadhu` di hadapan Al-Hasan Al-Bashri, namun beliau diam saja. Ketika orang-orang mendesaknya berbicara ia berkata kepada mereka: “Saya lihat kalian banyak bercerita tentang tawadhu`!” Mereka berkata: “Apa itu tawadhu` wahai Abu Sa`id?” Beliau menjawab: “Yaitu setiap kali ia keluar rumah dan bertemu seorang muslim ia selalu menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya

17.   Menghindari Ujub

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata : Janganlah sekali-kali merasa bangga akan dirimu atau merasa yakin akan apa saja yang kau banggakan tentang dirimu. Jangan menjadikan dirimu sebagai penggemar puji-pujian yang berlebihan. Yang demikian itu merupakan kesempatan terbaik bagi setan untuk menghancur luluhkan hasil kebajikan orang yang berbuat baik. (Nahjul Balaghoh Hal 111)

Wallahua’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s