KONTROVERSI TEORI EVOLUSI

KONTROVERSI TEORI EVOLUSI

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Polemik dalam Harian Pikiran Rakyat  Bandung, 1994

Image

Menggejalanya semangat kaum muslimin khususnya di kalangan cendekiawan belakanan ini dalam mengkaji Islam dengan merujuk pada Al-Qur’an dan hadits shohih secara lebih intensif, ilmiah dan obyektif semakin memperkuat keyakinan bahwa Al-Qur’an selalu selaras dengan sains dan teknologi. Kenyataan itu dapat dilihat dengan semakin banyaknya buku-bukuk dan tulisan yang mengupas berbagai masalah dan ilmu pengetahuan dari sudut pandang Islam, termasuk di harian PR (Pikiran Rakyat) ini.

Semangat yang sama telah ditunjukkan dengan baik melalui tulisan Sanaya (PR 21/1) dan Wildan Yatim (PR 4/4). Sanaya dalam tulisannya yang berjudul “Islam dan Teori Evolusi” pada dasarnya mencoba mengungkapkan isyarat Qur’an bahwa segala sesuatu di alam ini terjadi secara Tajarrud (bertahap), dan  bukan dengan tiba-tiba. Inilah sebenarnya inti dari tulisan Sanaya. Dalam istilah Sanaya, dikatakan bahwa “kejadian manusia dan dunia menurut Islam adalah manifestasi evolusi,…”.

Namun agaknya istilah “evolusi” di sini membuat orang cepat teringat akan teori evolusi Darwin, dan entah mengapa, biasanya orang kebanyakan lantas mengaitkan dengan statemen kontroversial bahwa manusia berasal dari kera. Rupanya teori evolusi Darwin sendiri telah ber”evolusi”, sehingga banyak orang dengan mudah menyimpulkan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup lainnya yang lebih rendah dan pada akhirnya seluruh kehidupan ini dapat ditarik pada satu asal kehidupan yang primitif.

Agaknya inilah yang mendorong Wildan yatim menulis artikel yang berjudul “Adam dan Teori Evolusi manusia”. Tulisan tersebut mengesankan bahwa tulisan Sanaya, khususnya yang berkaitan dengan teori evolusi menurut Islam “seolah-olah” sesuai dengan apa yang telah diungkapkan Wildan.

Atas dasar kedua tulisan itu, kami menganggap perlu mendudukkan persoalan ini, sampai dimana sebetulnya Islam memberikan isyarat mengenai evolusi manusia.

Sanaya sendiri telah menyatakan dalam tulisannya, bahwa teori evolusi Darwin hanya mengungkapkan satu aspek saja dari makna evolusi, tanpa penjelasan bagaimana hal itu dapat dan dimungkinkan terjadi. Pembatasan seperti ini kurang lengkap dalam menggambarkan teori Darwin. Sebetulnya Charles Robert Darwin hanya mengungkapkan masalah “seleksi spesies”, sedangkan istilah “evolusi” sendiri menurut J. Rodgers seperti dikutip oleh Dr. Maurice Bucaille (ilmuwan Perancis yang sudah menjadi muslim) dalam “What is the Origin of Man” bukanlah terminologi yang berasal dari Darwin.

Sekitar lima puluh tahun sebelum Darwin menulis buku “Origin of Species”, ujar Bucaille, Jean Baptise Lamarc telah mengungkapkan kerangka teori evolusi dalam bukunya “La Philosphie Zoologique”. Sepanjang hayatnya, Lamarck telah mengumpulkan berbagai bukti mengenai adanya evolusi pada hewan. Mungkin inilah yang menyebabkan Bucaille menyebut Lamarck sebagai “Bapak Evoluesi”. Sebagai contoh, gigi-gigi hewan yang tidak digunakan untuk mengunyah makanan, cenderung berhenti tumbuh atau bahkan tidak muncul sama sekali. Teori ini disebut “Acquired Characteristic” yakni karakter yang terbentuk karena tuntutan alam.

Sedangkan apa yang dikemukakan oleh Darwin bermula dari pengalamannya berlayar dengan kapal HMS Beagle dan melihat fenomena di Kepulauan Galapagos. Menurut Geofrey Grant Pope, di situlah Darwin terkesan dengan pengaruh batas-batas geografis terhadap perubahan sifat-sifat morfologis. Tetapi menurit Bucaille, bukanlah keanekaragaman morfologi itu sendiri yang ditekankan Darwin, melainkan bagaimana proses tersebut dapat terjadi secara alamiah. Darwin mencoba membandingkan proses alamiah ini dengan proses persilangan yang dilakukan manusia untuk memperoleh keanekaragaman morfologi. Tampaknya hal ini adalah kebalikan dari pembatasan teori Darwin dalam tulisan Sanaya.

Darwin menjelaskanbahwa perkembangan morfologi ini dilakukan oleh alam dengan konsep “struggle for existence” yang terjadi pada spesies sejenis. Dalam origin of species, Darwin menyatakan : “Jika ada banyak mistletoe (sejenis tanaman) tumbuh bersama-sama pada cabang yang sama, maka dikatakan mereka saling bersaing. Karena mistletoe disemaikan oleh burung, maka eksistensi mereka bergantung pada burung, secara metodis berarti bersaing dengan tanaman biji lain dalam menarik burung untuk menyemaikannya. Contoh tersebut sekadar untuk menerangkan istilah “struggle for existence”. Menurut P.P. Grasse dalam “L’home en acussation”, pandangan ini dipengaruhi oleh teori Robert Malthus.

Darwin juga mengemukakan, bahwa seleksi itu dilakukan alam melalui seleksi seksual. Sebab salah satu penyebab persaiangan adalah kesempatan untuk berkawin. Maka biasanya seleksi seleksi seksual terjadi pada anggota spesies yang sama jenis kelaminnya.

Darwin juga memandang, bahwa seleksi alam dilakukan alam melalui isolasi geografis. Batas geografis samudra dan gunung dapat memisahkan makhluk hidup yang semula bersatu dan akhirnya masing-masing beradaptasi pada perubahan kondisi geografis setempat. Pemikiran ini baru diungkapkan Darwin setelah mendapat dukungan Alfred Russel Wallace.

Dari ini jelaslah, bahwa Darwin tidak telalu menekankan masalah perubahan morfologi. Justru Lamarck-lah yang mengemukakan teori transfromasi morfologi. Darwin sama sekali tidak mengembangkan teorinya kepada asal usul manusia, apalagi menyatakan bahwa manusia berasal dari kera. Adalah Thomas Huxley yang menggunakan teori Darwin ini untuk membahas asal usul manusia.

Begitu pula Darwin tidak membahas masalah asal mula kehidupan. Baru pada tahun 1893 ilmuwan dari Amerika Harold Urey yang mengeluarkan teori bahwa dahulu kala bumi kaya akan senyawa CH4, NH3, H2 dan H2O. Senyawa-senyawa inilah yang kemudian menghasilkan “zat hidup” saat disambar kilat.  Tepri ini selanjutnya dibuktikan melalui percobaan Stanley Miller di Universitas Chichago yang menghasilkan senyawa “asam amino” yang merupakan senyawa dasar pembentuk protein. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kita harus berhati hati dengan istilah “evolusi” karena tidak semua teori evolusi adalah teori Darwin.

Selanjutnya teori-teori di atas harus kita tempatkan proporsinya sebagai teori yang bersifat relatif. Seangkan Al-Qur’an walau bagaimanapun bersifat mutlak kebenarannya karena Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah. Dan apapun kata teori-teori itu, Al-Qur’an memiliki teori dan sikap tersendiri mengenai asal muasal manusia dan kehidupan, sebatas yang ia isyaratkan. Yang dikhawatirkan adalah apabila Al-Qur’an diapakai untuk melegitimasi teori sains yang bersifat relatif, bisa jadi suatu saat Al-Qur’an ikut terseret disalahkan jika ternyata fakta membuktikan bahwa teori sains itu salah.

Salah satu bukti evolusi manusia yang sering dikemukakan oleh para ilmuwan adalah tahapan perkembangan embrio manusia. Diyakini bahwa pada tahap awal perkembangan embrio manusia mirip dengan morfologi hewan reptilia yang memiliki insang. Bahkan bagian otak manusia pun ada otak reptilia yang mengatur masalah insting.

Baik Al-Qur’an maupun sains, mengakui fakta fenomena pertumbuhan embrio manusia. Tetapi penafsiran proses ini adalah sebagai bukti adanya evolusi, belum merupakan sesuatu yang baku. Wildan mengungkapkan argumen bahwa pada umur sebulan, embrio manusia tidak dapat dibedakan dengan embrio sapi atau orang utan pada umur yang sama. Bukti selanjutnya pada umur tertentu, semua embrio pernah memiliki insang dan ekor. Demikian pula sampai saat ini manusia memiliki tulang ekor yang tidak diketahui apa gunanya, dan diyakini sebagai pertanda manusia ber-evolusi dari reptilia. Pada kedua bukti ini, tanpaknya kesimpulan mengenai adanya evolusi berasal dari homologi (kemiripan bentuk) dan analogi komparatif yang diterapkan pada ontogeni berbagai klas vertebrata (binatang bertulang belakang).

Menurut DR. Maurice Bucaille, transfirmasi makhluk hidup sangat dipengaruhi oleh informasi baru yang diberikan oleh warisan genetik. Kerja gen ini mungkin saja pada tahap embrionik membentuk morfologi (bentuk fisik) yang mirip, namun gen yang terlibat tidaklah sama. Secara fisiologis juga tidak sama, baik pada tingkat embrionik maupun pada perkembangan selanjutnya.

Pada tahap selanjutnya Al-Qur’an menyatakan “Allah ciptakan ia menjadi bentuk yang lain” (Q.S. Al-Mukminuun : 14). Suatu isyarat adanya transformasi morfologi pada manusia, namun secara anatomis pada dasarnya manusia dahulu dan sekarang tetap sama. Pembentukan morfologi ini merupakan hasil kerja gen yang telah berlangsung sejak tingkat embrionik. Inilah yang akhirnya menjadikan manusia berbeda warna kulit dan berbangsa-bangsa (Q.S. Al-Hujuraat : 13) Sebatas ini Al-Qur’an mengakui adanya transformasi morfologi. Namun untuk terjadinya suatu transformasi evolutif yang melibatkan antar klas, masih merupakan hal yang diperdebatkan.

Al-Qur’an berbeda sikap tatkala teori Darwin dikembangkan oleh pengikutnya yang berkesimpulan bahwa manusia berevolusi dari kera. Tidak ada satu dalil pun  dalam Al-Qur’an yang mengisyaratkan manusia berasal dari kera. Yang ada justru kebalikannya yaitu Bani Israil dikutuk menjadi kera (Q.S. Al-Baqarah : 65)

Mengenai asal mula kehidupan, Al-Qur’an hanya menyatakan, bahwa seluruh kehidupan diciptakan dari air (Q.S. Al-Anbiya :30). Sedangkan secara umum telah dikenal konsep Islam yang menyatakan bahwa manusia berasal dari tanah. Mengenai istilah yang lantas diterjemahkan menjadi tanah sebetulnya berasal dari istilah yang berbeda-beda seperti fakhor, thiin, shalshal, hamain, laazin dan thurob.

Almarhum K.H. Bahaudin Mudhory dalam buku “Dialog Masalah Ketuhanan Jesus” menafsirkan istilah-ostolah ini. Menurutnya, fakhor mengisyaratkan zat arang (Q.S. Ar-Rahman : 14). “Shal-shal” yang sering diterjemahkan dengan tanah kering, mengisyaratkan sifat zat pembakar atau oksigen (Q.S. Ar-Rahmaan :28-29). “Thiin” yang kerap diterjemahkan sebagai tanah liat basah mengisyaratkan zat air atau hidrogen (Q.S. As-Sajdah : 7). “Hamaain” ditafsirkan sebagai zat lemas atau nitrogen (Q.S. Al-Hijr:28-29). Sedangkan “laazib” yang sering diterjemahkan tanah hitam, mengisyaratkan zat besi atau Ferrum (Q.S. Ash-Shofaat :11). Dari sini terlihat rangkaian senyawa S-H-O-N ditambah unsur Fe sebagai unsur an-organik yang merupakan senyawa dasar protein. Senyawa inilah yang diistilahkan dengan “Thurob” (Q.S. Ali-Imran : 59). Dalam hal ini teori Harold Urey dan Stanley Miller tanpaknya selaras dengan ayat Al-Qur’an yang ditafsurkan oleh K.H. Bahaudin Mudhory. Tetapi menurut Al-Qur’an ada proses penting yang merubah suatu senyawa kimia yang mati menjadi zat yang hidup.

Mantan presiden Bosnia, Alija Ali Izetbegovic  dalam bukunya “Islam between East and West” menunjukkan bahwa persoalan hidup tidaklah sesederhana merangkaikan C-H-O-N atau membentuk asam nukleat.

Disebutkan oleh Andre Lwoff, seorang ahli biologi Perancis pemenang hadiah Nobel dalam bidang genetika mengatakan bahwa satu unsur dalam sel seperti albumin (zat putih telur), enzim atau asam nukleat, bukanlah substansi yang hidup. Hanya organisme lah yang dikatakan hidup. Dan Al-Qur’an menyatakan manusia tidak dapat menciptakan organisme hidup, dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun (Q.S. Al-Hajj : 73)

Lebih jauh lagi, fisikawan Swiss, Charles Eugene Guye membuktikan secara matematis bahwa diperlukan waktu selama 10 243 (sepuluh pangkat 243) bilyun tahun dengan frekuensi 5X101 getaran per detik untuk membentuk molekul semacam itu. Tampaknya ada loncatan sangat besar antara status hidup dan mati, dan loncatan itu dimungkinkan oleh adanya nyawa.

Wildan dalam artikelnya mengakui peran serta ruh atau nyawa. Hanya, ia juga sekilas menyatakan, bahwa DNA adalah tempat bersemayamnya nyawa kita. Beberapa penyelidikan memang telah dilakukan oleh para ilmuwan Barat yang ingin mengetahui substansi ruh. Al-Qur’an sendiri membatasi, bahwa manusia hanya diberi pengetahuan sedikit saja mengenai ruh (Q.S. Al-Israa’ : 85). Sejauh manakah sains telah mengambil jatah yang sedikit itu sehingga dapat membuktikan bahwa ruh bersemayam di dalam DNA?

Wildan juga menanyakan : “ Apakah Nabi Adam yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai asal manusia itu adalah makhluk yang masih dalam bentuk sederhana, misalkan berupa protozoa (makhluk bersel satu)?. Secara logika saja, bagaimana mungkin sebuah protozoa mendapat mandat menjadi seorang khalifah di muka bumi apalagi menjadi seorang nabi??

Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi menyebutkan dalam kitab “Al-Futuhat Al Makiyah” bahwa 40.000 tahun sebelum Nabi Adam a.s. telah diciptakan adam-adam lain. Hanya saja ulama lain semacam Sayid Qutb dalam tafsir Fii Zhilalil Qur’an menyatakan, bahwa hal ini termasuk masalah ghaib, sehingga lebih baik tidak berkomentar daripada mengikuti dugaan-dugaan yang belum tentu benar.

Dalam tulisannya, Wildan juga menghubungkan statemen “Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam” adalah suatu isyarat adanya “diferensiasi” pada makhluk hidup. Bible Perjanjian Lama, menggambarkan kejadian ini secara harfiah. Sementara literatur Islam menjelaskan istilah “tulang rusuk adam” secara majazi (kiasan). Pendapat ini berdasarkan hadits riwayat Muslim dalam Bab Ridho, Rasulullah SAW bersabda : “Berhati-hatilah dalam memperlakukan wanita, karena wanita itu dijadikan dari tulang rusuk”. Istilah bin-nisaa’ dalam hadits tsb menunjukkan perempuan secara umum, bukan hanya Hawa sebagai isteri Nabi Adam a.s.

Sayid Muhammad Thohir dalam Majma Al Bihaar Jilid I  mengulas hadits tersebut. Wanita dijadikan dari “tulang rusuk” menurutnya adalah kata kiasan, yang dimaksuid adalah tabiat atau semacam kebengkokan. Pendapat ini diperkuat dengan hadits riwayat Ath-Thahawi dimana diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya wanita itu seperti tulang rusuk, jika engkau membiarkannya ia akan tetap bengkok, dan jika kamu berkeras meluruskannya maka ia akan patah”.

Pada akhirnya, dalam kolom yang terbatas ini tidak banyak hal yang dapat kami sampaikan baik berupa fakta ilmiah maupun dalil isyarat dari Al-Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan persoalan seperti ini. Agaknya diperlukan sebuah forum ilmiah yang dihadiri oleh pakar-pakar di bidangnya masing-masing.

Wallahua’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s