APAKAH WANITA HARAM MENGGUNAKAN WEWANGIAN ?

Parfum 02

APAKAH WANITA HARAM MENGGUNAKAN WEWANGIAN ?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Telah sampai pada kami pertanyaan mengenai mukena yang dicuci menggunakan molto atau pengharum pakaian apakah haram diapakai untuk shalat? Orang yang berpendapat tidak boleh wanita memakai wewangian biasanya berdasarkan dari hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya berkata, telah mengabarkan kepada kami Tsabit bin Umarah berkata, telah menceritakan kepadaku Ghunaim bin Qais dari Abu Musa dari Nabi s.a.w., beliau bersabda: “Jika seorang wanita memakai wewangian (ista’tharat), lalu sengaja melewati suatu kaum agar mereka mencium baunya, maka ia adalah begini dan begini.” Beliau mengatakan itu dengan nada yang keras.” (H.R. Abu Daud No. 3642 Kitab At-Tarajjul Bab Fil Mar’ah Tathayyabu lil Khuruj) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini hasan.

Telah mengabarkan kepada kami Isma’il bin Mas’ud ia berkata; telah menceritakan kepada kami Khalid ia berkata; telah menceritakan kepada kami Tsabit -Yaitu Ibnu Umarah- dari Ghunaim bin Qais dari Al Asy’ari ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Wanita mana saja yang memakai minyak wangi kemudian melintas pada suatu kaum agar mereka mencium baunya, maka ia adalah pezina.” (H.R. Nasa’i No. 5036)

Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Ashim dari Tsabit bin Umarah dari Ghunaim bin Qais dari Abu Musa; “Wanita manapun yang memakai wewangian, lalu keluar rumah agar tercium wewangiannya, maka ia adalah wanita pezina dan setiap mata (yang memandang) adalah penyakit.” (Atsar R. Darimi No. 2532) Abu ‘Ashim berkata; Sebagian sahabat kami memarfu’kannya. Husain Salim Assad Ad-Daroni mengatakan sanadnya mursal.

Dengan adanya hadits di atas, ada sebagian golongan umat Islam yang berpendapat mengharamkan wewangian pada wanita secara mutlak, dalam semua waktu dan semua kondisi. Pendapat ini jelas salah. Karena sesungguhnya semua hadits yang melarang wanita menggunakan wanita, secara jelas menyebutkan illat (alasan atau latar belakang diberlakukannya hukum) pelarangan memakai wewangian itu, yaitu adanya kesengajaan diniatkan atau dimaksudkan untuk menarik perhatian kaum laki-laki. Perkataan setiap mata yang memandang menunjukkan adanya maksud menggoda kaum lelaki dan si wanita senang diperhatikan laki-laki.

Sedangkan dalam kondisi lain terdapat dalil dibolehkannya wewangian pada wanita asalkan hal itu tidak ditujukan untuk menarik perhatian kaum laki-laki. Bukti bahwa wewangian bagi wanita bukanlah sesuatu yang diharamkan jika sekadar untuk melawan bau tidak sedap dan jika tidak dimaksudkan untuk menggoda lelaki adalah :

1. Disebutkan Adanya Wewangian Wanita

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Hanafi dari Sa’id dari Qatadah dari Al Hasan dari ‘Imran bin Hushain ia berkata; Nabi s.a.w. bersabda kepadaku: “Sesungguhnya wewangian lelaki yang terbaik adalah baunya semerbak namun warnanya tidak terlihat, sedangkan wewangian wanita yang terbaik adalah yang nampak warnanya namun baunya tidak tercium / samar baunya.” (H.R. Tirmidzi No. 2712) Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan gharib melalui sanad ini.

Dalam hadits lain juga disebutkan adanya wewangian milik istri

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Aqil dan Muhamamd bin Salamah keduanya dari Mesir, mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, berkata Ibnu Abu Aqil; Telah mengabarkan kepadaku Usamah bin Zaid dari Amru bin Syu’aib dari Ayahnya dari Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash dari Nabi s.a.w., bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang mandi untuk melaksanakan shalat Jum’at dan mengenakan wewangian istrinya … (H.R. Abu Daud No. 293) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini hasan.

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Nafi’ dari Aslam mantan budak ‘Umar bin Khattab, bahwa Umar bin al Khatthab r.a. mencium bau wangi saat dia berteduh di bawah pohon. Dia lalu bertanya; “Dari siapa bau wangi ini?” Mu’awiyah bin Abu Sufyan menjawab; “Dariku, wahai Amirul Mukminin.” Umar bin Khattab berkata; “Darimu, demi Allah! ” Mu’awiyah berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Ummu Habibah yang memberiku wewangian ini! .” Atsar R. Imam Malik Dalam Al-Muwatha’ No. 637)

Hadits-hadits di atas jelas menunjukkan adanya wewangian untuk wanita. Sehingga hal ini menolak anggapan sebagian kelompok yang mengharamkan total adanya wewangian bagi wanita. Jika wewangian bagi wanita itu sama sekali haram maka tidak mungkin ada wewangian milik istrinya yang boleh dipakai suaminya ketika shalat Jum’at. Nah, jika wewangian istrinya itu ada, tentu ada saat-saat dimana wewangian itu boleh dipakai oleh istrinya tersebut.

Adapun pada hadits sebelumnya, dikatakan wewangian (parfum) untuk wanita adalah yang nampak warnanya namun tidak tercium atau samar baunya menunjukkan bahwa masih dibolehkan adanya wewangian untuk wanita namun tidak boleh terlalu mencolok baunya sehingga tercium dari jarak yang jauh.

Makanan tradisional seperti daun kemangi dan kunyit yang berkhasiat membuat keringat dan badan tidak berbau adalah lebih dianjurkan bagi wanita.

2. Dibolehkan wewangian untuk bagian vital wanita setelah haid

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdul Wahhab berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Hafshah dari Ummu ‘Athiyah dari Nabi s.a.w., ia (Ummu Athiyyah) berkata : “Kami diberi keringanan bila hendak mandi seusai haid untuk menggunakan sebatang kayu wangi..” (H.R. Bukhari No. 302)

Abu ‘Abdullah (Bukhari) berkata, Hisyam bin Hassan juga meriwayatkan hadits serupa dari Hafshah dari Ummu ‘Athiyah dari Nabi s.a.w..”

Telah menceritakan kepada kami Amr bin Muhammad an-Naqid dan Ibnu Abi Umar semuanya meriwayatkan dari Ibnu Uyainah berkata Amru, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Manshur bin Shafiyyah dari Ibunya dari Aisyah dia berkata, “Seorang perempuan bertanya Nabi s.a.w., ‘Bagaimanakah cara orang perempuan mandi dari haidnya?” Perawi Hadits berkata, “Kemudian Aisyah menyebutkan bahwa beliau mengajarkan cara mandi kepada perempuan tersebut. Kemudian beliau bersabda, ‘Kamu ambil kapas misik (minyak kasturi), lalu kamu bersucilah dengannya’. (H.R. Muslim No. 499)

Dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sa’id Ad-Darimi telah menceritakan kepada kami Habban telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Manshur dari ibunya dari Aisyah bahwa seorang perempuan bertanya kepada Nabi s.a.w. , “Bagaimana (cara) aku mandi ketika bersuci?” Maka beliau bersabda, “Ambillah kapas yang telah diberi minyak misik (kesturi), lalu berwudhulah dengannya.” (H.R. Ad-Darimi) Hussain Salim Assad Ad Daroni mengatakan sanadnya shahih.

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Sufyan berkata, telah menceritakan kepadaku Tsabit Abu Miqdam berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Ady bin Dinar berkata kepadaku, dia berkata, “Aku mendengar Ummi Qais binti Mihshan berkata, “Aku mendengar Rasulullah s.a.w. tentang pakaian yang terkena darah haid, beliau bersabda:Keriklah ia dengan kayu dan cucilah dengan air, wewangian dan daun bidara.” (H.R. Ahmad No. 25758)

Dari hadits-hadits di atas kita memahami bahwa memakai wewangian seperti akar wangi, minyak misik (minyak kesturi) dan kayu wangi seperti gaharu masih dibolehkan untuk wewangian bagi wanita.

Ada yang membantah bahwa minyak misik (kesturi) bukanlah tergolong wewangian yang harum menyolok baunya. Hal ini jelas salah, karena dalam hadits lain kita dapati bahwa wangi minyak misik (kesturi) ini sangat lah harum.

Telah mengabarkan kepada kami Mahmud bin Ghailan dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Dawud dan Syababah mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Khulaid bin Ja’far dia mendengar Abu Nadlrah dari Abu Sa’id dia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda: “Parfum yang paling harum adalah minyak misik.” (H.R. Nasa’i No. 1879) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

3. Dibolehkan wewangian sekadarnya untuk menghilangkan bau keringat

Dari Aisyah r.ah berkata : “Kami pernah keluar bersama Rasulullah s.a.w. maka kami mengikatkan pada dahi kami pembalut yang diberi wewangian ketika kami berihram. Dan apabila salah seorang dari kami berkeringat mengalirlah keringat di wajahnya. Lalu Nabi s.a.w. melihat hal ini namun beliau tidak mengingkarinya” (H.R. Ibnu Qudamah disebutkan dalam Al-Mughni Juz 3 Hal. 296)

Adalah dibolehkan memakai wewangian untuk menghilangkan atau melawan bau keringat. Sebagaimana sebaliknya dimakruhkan bau badan untuk shalat di dalam masjid karena mengganggu orang lain.

Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Ufair berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dari Yunus dari Ibnu Syihab bahwa ‘Atha menyakini bahwa Jabir bin ‘Abdullah meyakini bahwa Nabi s.a.w. bersabda: “Barangsiapa memakan bawang putih atau bawang merah hendaklah dia menjauhi kami.” Atau beliau mengatakan: “Hendaklah dia menjauhi masjid kami (H.R. Bukhari No. 808)

Maka sebagaimana tidak disukai bau badan bagi orang yang shalat di masjid maka disukai orang berbau wangi di masjid. Maka sekadar menghilangkan bau badan dengan wewangian adalah dibolehkan.

4. Dibolehkan wewangian wanita ketika bersama suaminya

Telah menceritakan kepada kami Makhlad bin Khalid berkata, telah menceritakan kepada kami Rauh berkata, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Arubah dari Qatadah dari Al Hasan dari Imran bin Hushain bahwa Nabi Allah s.a.w. bersabda: “Aku tidak akan memakai alas pelana yang berwarna merah, dan tidak pula kain yang dicelup dengan warna kuning serta tidak akan memakai kain yang bersulam sutera (pada lengannya).” Imran berkata, “Lalu Hasan berisyarat pada saku bajunya.” Imran berkata, “beliau lalu bersabda: “Ketahuilah, minyak wangi bagi laki-laki itu beraroma tetapi tidak berwarna, sedangkan minyak wangi bagi wanita itu berwarna tetapi tidak beraroma.” Sa’id berkata, “Menurutku bahwa ucapan beliau tentang minyak wangi wanita itu dipahami dalam kondisi saat ia keluar rumah, adapaun jika wanita itu sedang bersama suaminya, maka ia boleh mengenakan wewangian sesuka hatinya.” (H.R. Abu Daud No. 3527) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih

Telah menceritakan kepada kami Ma’mar bin Sulaiman Ar Raqqi berkata, telah menceritakan kepada kami Khushaif dari Atha’ dari Ummu Salamah isteri Nabi s.a.w., bahwa dirinya bertanya kepada Rasulullah s.a.w. tentang emas yang diberi wewangian dengan minyak misik, atau dicampur (dengan misik), beliau bersabda: “Jadikanlah ia dari perak dan campurlah dengan sesuatu dari minyak Za’faran.” (H.R. Ahmad No. 25509)

Hadits-hadits di atas menunjukkan kebolehan wewangian wanita yang digunakan untuk keharmonisan rumah tangga dan menyenangkan suaminya.

5. Dibolehkan wewangian sekadarnya asal bukan bertujuan menarik perhatian / menggoda laki-laki

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Sallam ia berkata; telah menceritakan kepada kami Syababah ia berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Khulaid bin Ja’far dari Abu Nadlrah dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ada seorang wanita bani Isra’il memaki cincin yang diolesi minyak wangi.” Beliau melanjutkan: “Dan itu adalah minyak yang paling bagus.” (H.R. Nasa’i No. 5030)

Dalam hadits yang lain bahkan diisyaratkan bahwa secara umum sehari-hari wanita itu mengenakan wewangian, dan ketika suasana berkabung karena kematian wanita tidak menggunakan wewangian. Dan oleh karena tidak boleh berkabung lebih dari 3 hari, maka disuruhnyalah setelah tiga hari itu wanita kembali mengenakan wewangian seperti biasaya, sebagai tanda sudah tidak bersedih lagi.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir dari Sufyan dari Abdullah bin Abu Bakr bin Amru bin Hazm Telah menceritakan kepadaku Humaid bin Nafi’ dari Zainab binti Ummu Salamah dari Ummu Habibah binti Abu Sufyan r.ah. bahwa ketika berita kematian bapaknya sampai padanya, ia minta diambilnya wewangian dan berkata, “Aku tak berhajat untuk memakai wewangian sekiranya aku tak mendengar Nabi s.a.w. bersabda: ‘Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berkabung lebih dari tiga hari kecuali terhadap suaminya, maka ia berkabung selama empat bulan sepuluh hari.'” (H.R. Bukhari No. 4926 dan Muslim No. 2731)

Humaid bin Nafi’ mengatakan; Saya bertanya kepada Zainab; Kenapa dia melemparkan kotoran di penghujung tahun?.” Maka Zainab menjawab; “Dulu seorang perempuan apabila suaminya meninggal, dia tidak keluar rumah dan mengenakan pakaian yang jelek-jelek serta tidak memakai wewangian ataupun perhiasan apapun sampai setahun lamanya. Setelah itu, perempuan tersebut diberi seekor hewan-keledai, kambing atau burung- lalu dia menjatuhkan sesuatu pada hewan tersebut sampai hewan tersebut kebanyakan mati, setelah itu perempuan tersebut diberi kotoran hewan, kemudian dia melemparkannya. Setelah itu dia diperkenankan memakai wewangian yang ia suka atau selainnya”. (H.R. Muslim No. 2732)

Ini adalah salah satu bukti bahwa dalam kondisi sehari-hari (normal tidak bersedih) wanita biasa memakai wewangian. Hal ini dibolehkan asalkan tidak berlebihan (aromanya lebay) karena jika aromanya sangat semerbak tercium dari jarak yang jauh itu termasuk dalam katagori  ista’tharat (memakai wewangian untuk menarik perhatian laki-laki)

Wewangian Ketika Shalat

Ada segolongan umat Islam yang berpendapat bahwa wewangian diharamkan pada wanita, khusus ketika melaknsanakan shalat saja. Hal ini kemungkinan berdasarkan pada hadits-hadits sebagai berikut :

Apabila salah seorang di antara kamu pergi ke masjid janganlah menyentuh wewangian” (H.R. Muslim Juz 2 Hal 33)

Telah menceritakan kepada kami An nufaili dan Sa’id bin Manshur keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Abu Alqamah ia berkata; telah menceritakan kepadaku Yazid bin Khushaifah dari Busr bin Sa’id dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Wanita mana saja yang terkena bakhur (wewangian), maka jangan sekali-kali ia shalat isya bersama kami.” Ia (perawi) berkata, “Maksudnya adalah shalat isya yang akhir (larut malam).” (H.R. Abu Daud No. 3644) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Telah mengabarkan kepada kami Ishaq bin Ibrahim ia berkata; telah memberitakan kepada kami Jarir dari Ibnu ‘Ajlan dari Bukair. (dalam jalur lain disebutkan) Telah memberitakan kepada kami Ubaidullah bin Sa’id ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu ‘Ajlan ia berkata; telah menceritakan kepadaku Bukair bin Abdullah bin Al Asyaj dari Busr bin Sa’id dari Zainab isteri Abdullah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian (kaum wanita) ikut menghadiri shalat isya, maka janganlah memakai minyak wangi.” (H.R. Nasa’i No. 5165)

Jika kita perhatikan hadits di atas menunjukkan kondisi ketika shalat berjamaah di masjid dan bukan ketika shalat di rumah. Maka hal ini mengacu pada illat yang telah dijelaskan di awal bahwa ketidakbolehan itu berangkat dari niat menarik perhatian laki-laki. Sedangkan di masjid, wanita akan berjumpa atau berpapasan atau berdekatan dengan banyak laki-laki (karena laki-laki disunnahkan sholat di masjid)

Ibnu Qudamah berkata : “Jika dikatakan bukankah yang demikian itu (wanita memakai wewangian) dimakruhkan pada saat shalat Jum’at? Kami menjawab karena dalam shalat Jum’at mereka berdekatan dengan shaf laki-laki sehingga dikhawatirkan timbul fitnah” (Al-Mughni Juz 3 Hal 296-297)

Jadi ketidak bolehan wanita memakai wewangian bukan pada shalat secara umum melainkan pada shalat berjamaah di masjid.

Wewangian Ketika Shalat Ke Masjid

Sementara itu, ada sebagian kelompok yang membolehkan kaum wanita memakai wewangian namun tidak boleh ketika shalat ke masjid. Hal ini merupakan kaidah sa’ddudz dzara’i (preventif) yaitu mencegah suatu hal yang halal karena khawatir membawa pada suatu yang haram, karena ketika wanita pergi ke masjid, ia akan berjumpa dengan kaum laki-laki dalam jumlah yang banyak, karena laki-laki disunnahkan shalat berjamaah ke masjid.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda: “Wanita muslimah tidak boleh dilarang untuk datang ke masjid Allah, dan hendaklah mereka keluar (ke masjid) tanpa wewangian.” (H.R. Ahmad No. 10415)

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sa’id ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim ia berkata; telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Shalih dari Muhammad bin Abdullah bin Amru bin Hisyam dari Bukair bin Abdullah bin Al Asyaj dari Busr bin Sa’id berkata; telah mengabarkan kepadaku Zainab Ats Tsaqafiah isteri Abdullah, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah bersabda kepadanya: “Jika engkau keluar untuk shalat isya, maka janganlah engkau memakai wewangian.” (H.R. Nasa’i No. 5166) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Oleh karena itulah sebagian sahabat bersikap keras pada wanita yang memakai wewangian ke masjid sebagaimana Abu Hurairah yang menganggap wanita itu harus mandi junub seolah telah karena menganggap hal itu sama dengan zina

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim ia berkata; telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud bin Ali bin Abdullah bin Al Abbas Al Hasyimi ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d ia berkata; Aku mendengar Shafwan bin Sulaim -dan aku belum pernah mendengar dari Shafwan selain riwayat itu- menceritakan dari seorang laki-laki yang terpercaya dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jika seorang wanita ingin pergi ke masjid, maka hendaklah ia membersihkan wewangiannya layaknya ia mandi besar, ” (H.R. Nasa’i No. 5037) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ashim bin Ubaidullah dari Ubaid mantan budak Abu Ruhm, dari Abu Hurairah ia berkata, “Ia bertemu seorang wanita dan mencium bau harum darinya, dan ujung pakaiannya menjuntai (menyapu tanah). Ia lalu berkata, “Wahai Budak Al Jabbar, apakah engkau datang dari masjid?” wanita itu menjawab, “Ya.” Abu Hurairah bertanya lagi, “Karena ingin ke masjidkah kamu memakai wewangian?” wanita itu menjawab, “Ya.” Abu Hurairah lalu berkata, “Sesungguhnya aku mendengar kekasihku, Abu Al Qasim s.a.w. bersabda: “Tidak akan diterima shalat seorang wanita yang memakai wewangian karena ingin pergi ke masjid ini, sehingga ia kembali dan mandi sebagaimana ia mandi dari junub.” (Atsar R. Abu Daud No. 3643 Ahmad No. 7618)

Walaupun demikian pada dasarnya masjid itu harus wangi dan diberi wewangian

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Ala` telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Za`idah dari Hisyam bin Urwah dari Ayahnya dari Aisyah dia berkata :  “Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk membangun masjid di tempat yang banyak rumahnya, dan juga memerintahkan untuk membersihkan serta memberikan wewangian padanya”. (H.R. Abu Daud 384) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Oleh karena itu orang yang ke masjid (baik laki maupun wanita) tidak boleh berbau badan atau bau mulut sehingga mengganggu orang di sebelahnya. Sebagaimana illat dilarangnya orang makan bawang shalat berjamaah ke masjid.

Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’ dan ‘Abd bin Humaid ‘Abd berkata, telah mengabarkan kepada kami, sedangkan Ibnu Rafi’ berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari az-Zuhri dari Ibnu al-Musayyab dari Abu Hurairah r.a. dia berkata, Rasulullah s.a.w. telah bersabda, “Barangsiapa makan sebagian dari pohon ini, maka janganlah dia mendekati masjid kami, dan janganlah dia mengganggu kami dengan bau bawang putih.” (H.R. Muslim No. 873)

Maka bagi seseorag wanita yang merasa bau badannya dan ketiaknya tidak mengapa menghilangkan bau itu dengan deodorant anti prespirant (bau ketiak) atau bedak wewangian di badannya jika ke masjid agar tidak mengganggu orang di sebelahnya.

Pengharum Pakaian dan Sabun Mandi

Pada masa kini telah lazim orang membersihkan diri (mandi) dengan menggunakan sabun mandi, dimana tidak jarang sabun mandi itu mengandung wewangian. Sehingga wanita yang habis mandi, akan tercium bau harum dari badannya walaupun tidak menggunakan minyak wangi (parfum). Maka apakah jika wanita ini lantas tidak boleh melintas di depan umum atau shalat ke masjid?

Demikian pula telah lazim pada masa kini mencuci pakaian menggunakan deterjen dimana deterjen itu sendiri memiliki bau wangi, dan tidak jarang juga ditambahkan pelembut pakaian dan pengharum pakaian untuk melawan bau apek cucian. Maka tanpa memakai parfum pun, pakaian wanita akan berbau harum. Demikian pula jika hal ini dilakukan saat mencuci mukena dan sajadah, maka mukena dan sajadah ini akan berbau harum. Lalu apakah wanita ini tidak boleh melintas di depan umum atau shalat ke masjid? Dan apakah mukena dan sajadah yang wangi ini tidak boleh dipakai shalat di masjid?

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya di atas, bawa pelarangan wewangian pada wanita tidak terlepas dari illat (alasan / latar belakang) adanya kesengajaan niat untuk menarik perhatian kaum laki-laki. Maka jika tidak ada niat untuk itu, dan tidak dikhawatirkan adanya fitnah ketika melewati sekelompok laki-laki, maka wewangian itu dibolehkan.

Tentu saja wewangian wanita adalah sekadarnya saja. Karena jika wewangian itu menyolok baunya otomatis akan menarik perhatian siapa pun (jangankan pria, wanita pun mungkin akan menengok jika ada yang lewat dengan wewangian yang lebay). Adapun sabun mandi, deterjen dan pengharum pakaian, bau wanginya adalah sekadar menghilangkan bau saja dan tidak ada yang berbau amat menyolok. Selain itu, pemakaian wangi sabun mandi, deterjen dan pelembut pakaian tidak ditujukan untuk menarik perhatian laki-laki.

Pada jaman Nabi s.a.w. belum ada sabun mandi. Namun penggunaan wewangian pada saat mandi dengan daun bidara dan wewangian lain adalah hal yang lazim.

Deodorant dan Bedak Pengharum Pada Ketiak

Demikian pula untuk deodorant pengharum ketiak, maka hal itu jelas tidak bertujuan menarik minat laki-laki selain itu baunya juga tidak terlalu menyengat dan berlebihan. Dan sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa wanita boleh menggunakan wewangian sekadarnya untuk menghilangkan bau keringat atau bau badan.

Dari Aisyah r.ah berkata : “Kami pernah keluar bersama Rasulullah s.a.w. maka kami mengikatkan pada dahi kami pembalut yang diberi wewangian ketika kami berihram. Dan apabila salah seorang dari kami berkeringat mengalirlah keringat di wajahnya. Lalu Nabi s.a.w. melihat hal ini namun beliau tidak mengingkarinya” (H.R. Ibnu Qudamah disebutkan dalam Al-Mughni Juz 3 Hal. 296)

Dan sudah lazim dibolehkan wanita memakai wewangian di luar saat berkabung

Dan telah menceritakan kepada kami Hasan bin Rabi’ telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris dari Hisyam dari Hafshah dari Ummu ‘Athiyah bahwa Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “… tidak boleh menggunakan celak mata, dan tidak boleh memakai wewangian kecuali jika masa iddahnya telah habis, maka diperbolehkan baginya memakai qusth (wewangian dari kayu gaharu) dan adzfar (sejenis pohon yang harum baunya).”  (H.R. Muslim No. 2739)

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Hafshah binti Sirin dari Ummu Athiyah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian (para wanita) berkabung atas mayit melebihi tiga hari, kecuali seorang wanita terhadap suaminya, ia boleh berkabung selama empat bulan sepuluh hari; tidak memakai pakaian yang berwarna warni melainkan dengan pakaian burdah, tidak bercelak dan wangi-wangian kecuali dengan kadar yang sedikit, baik dari kust (kayu gaharu yang berbau wangi) ataupun athfar (sejenis tanaman yang wangi).” (H.R. Ahmad No. 26041) Sanadnya shahih. Seluruh perawi nya tsiqoh bahkan Hafshah binti Sirin dikenal sebagai wanita ahli fiqih

Telah mengabarkan kepada kami Al Abbas bin Muhammad -yaitu Ad Duri- ia berkata; telah menceritakan kepada kami Al Aswad bin ‘Amir dari Zaidah dari Hisyam dari Hafshah dari Ummu ‘Athiyah dari Nabi s.a.w, “bahwa beliau memberikan keringanan bagi seorang wanita yang ditinggal mati untuk mengenakan wewangian jika telah suci.” (H.R. Nasa’i No. 3486) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Demikianlah banyak sekali hadits yang menceritakan kelaziman wanita memakai wewangian asalkan tidak berniat atau bermaksud menggoda kaum lelaki. Dan jika wewangian itu sangat menyolok baunya atau bisa tercium dari jarak yang jauh, maka hal itu akan menarik perhatian lelaki.

Adapun kadar menyolok baunya atau tidak sangat relatif. Karena seperti dinayatakan dari berbagai hadits di atas, minyak kesturi, kayu gaharu dan lain-lain itu sangat menyengat atau sangat wangi untuk ukuran orang Indonesia. Jika minyak misik dan gaharu saja diperbolehkan maka kadar yang disebut berlebihan dan menyengat itu tentu jika melebihi harumnya minyak misik dan gaharu. Demikianlah kami sampaikan agar kita tidak bersikap berlebihan dalam beragama dan melarang sesuatu yang dihalalkan Allah dan tidak menganggap lebih Islami dengan sikap yang berlebih-lebihan itu.

Wallahua’lam.

One thought on “APAKAH WANITA HARAM MENGGUNAKAN WEWANGIAN ?

  1. muhammad rusdi says:

    jangan kalian menerjemahkan islam dengan kepalamu sendiri. alangkah baiknya kita menghindari hal2 yang samar.

    jadi kesimpulannya:
    1. jangan engkau brdebat. allah berfirman yang intinya, “orang yang beruntung adalah orang yang dapat meningglakn perdebatan”. karena kelak allah pasti membuka apa yg diperdebatkan

    2. toh tidak salah klo kita ambil amannya. tidak ada yg salah kan?

    3. jgan sekali-kali kamu menerjemahkan islam dengan otakmu sendiri.

    4. jadilah seperti ali RA,. setiap berpendapat beliau selalu berhati-hati dan berpikir karena takut akan pertanggung jawaban kelah di hadapan allah.

    5. tidak ada agama yang benar selain islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s