NAJISKAH KHAMR?

Parfum 01

NAJISKAH KHAMR?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Marak pada kita temui penjual parfum non alkohol di masjid dan toko-toko islam. Maka terbersit pertanyaan apakah alkohol itu najis mengenai tubuh dan pakaian? Bagaimana dengan suntikan yang sebelumnya kita diolesi kapas beralkohol?

Kita sudah tahu pasti bahwa khamr atau arak itu haram dikonsumsi (dimakan). Namun perlu diketahui antara najis dan haram adalah berbeda. Najis itu adalah kotoran. Terkena najis bukanlah sebuah dosa, namun diwajibkan untuk dibersihkan. Najis sendiri dalam ilmu fiqih ada najis ringan, najis sedang (mutawasithoh) dan najis berat (mugholadhoh) .Sedangkan haram, yang dibahas di sini adalah haram dimakan. Bangkai dan darah haram dimakan dan najis jika mengenai badan. Namun apakah setiap haram dimakan itu sudah pasti najis?

Perlu dipahami bahwa sesuatu yang haram dimakan berlum tentu najis. Seperti contoh hewan buas bertaring dan berkuku haram dimakan tapi tidak najis jika tersentuh.

“Mereka berkata : Ya Rasulullah sesungguhnya itu adalah bangkai. Rasulullah berkata : “yang haram adalah memakannya” (H.R. Seluruh ahli hadits kecuali Ibnu Majah)

Demikian pula sesuatu yang haram (atau makruh) dikenakan seperti emas dan sutera bagi pria tidaklah najis jika tersentuh. Syaikh Husain bin ‘Audah Al-’Awayisyah berkata, “Demikian pula pengharaman sesuatu tidaklah mengharuskan najisnya (sesuatu yang haram itu), Namun sebaliknya sesuatu yang najis (kotor) sudah pasti haram dimakan.

Mengenai kenajisan khamr adalah masalah khilafiyah (terjadi perbedaanpendapat), Ulama-ulama yang menajiskan khamr mendasarkan diri pada perkataan “rijsun” pada ayat Al-Qur’an “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khar berjudi dan (berqurban) untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah rijsun min ‘amali syaithon(kekejian dari amal setan) (Q.S. Al-maidah :90)

Sayid Sabiq “Perkataan “rijsun” disini maknanya adalah najis secara maknawi bukan najis ketika menyentuhnya” (Kitab Fiqhu Sunnah) Hal ini juga ditegaskan dengan diikuti pensifatan kata “amali syaithon”. Jadi rijsu min amali syaithon artinya adalah kenajisan dari amal2 setan, oleh karena itu dalam terjemahan Depag hanya diterjemahan perbuatan keji termasuk dari amal setan.

Demikian pula kalau kita cermati yang bahwa khamr di situ disejajarkan dengan maisir (berjudi), berqurban untuk berhala dan mengundai dengan anak panah, nah keempatnya itulah rijsun minamali syaithon. Kalau memang perkataan rijsun itu adalah najis menyentuhnya maka keempatnya pun najis menyentuhnya. Sehingga menyentuh berhala pun menjadi najis. Maka sudah jelaslah bahwa perkataan rijsun perbuatan setan itulah yang najis (yaitu najis maknawi).

Perlu dipahami bahwa tidak semua perkataan najis dalam Al-Qur’an berarti benar-benar najis secara hakiki. Melainkan maksudnya adalah najis secara maknawi atau kiasan. Misalnya ayat berikut ini :

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini” (Q.S. At-Taubah [9] : 28)

Sebagian orang memahami secara tekstual sesuai zhahir dalil bahwa orang musyrik itu najis, sehingga mereka melarang orang musyrik memasuki masjid. Lalu jika demikian, apakah jika kita bergesekan dan bersentuhan atau bersalaman dengan orang kafir musyrik harus dicuci? Apakah jika kedatangan tamu orang musyrik, duduk di sofa, melangkah di lantai kita harus dicuci? Sebagian kelompok Islam ekstrim beraliran neo-zhahiriyah memang melakukan hal itu.

Namun yang benar adalah bahwa perkataan najis di situ adalah secara maknawi, dimana jiwa orang musyrik itu najis karena kotor. Dikotori oleh keyakinan yang salah perihal Allah. Adapun dilarangnya memasuki masjidil haram, karena Rasulullah s.a.w. diperintahkan Allah agar wilayah masjidil haram menjadi wilayah tanah suci yang terlarang dimasuki orang kafir. Dan ini tidak berarti orang kafir najis memasuki semua masjid.

Hadits dari Anas bin Malik dalam Shahih- Kitabul Mazhalim Bab Shubbil Khamri fi Ath-Thariq no. 2464 bahwa para sahahabat menumpahkan khamr mereka di jalan-jalan ketika diharamkan khamr (H.R. Bukhari) . Juga disebutkan hal yang sama hadits dari Abu Sa’id Al- Khudri bahwa para shabat membuang khamr di jalanan (H.R. Muslim dalam Shahihnya Bab Tahrimi Bai’il Khamr no. 1578). Kedua hadits  ini menunjukkan bahwa khamr bukan najis karena jalan-jalan itu dilewati kaum muslimin. Jika khamr najis maka pasti Rasulullah melarang membuangnya di jalan karena khawatir terinjak dan terkena pakaian.

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah dari Anas bin Malik berkata; “Aku menyuguhkan air minum dari perasan kurma muda dan kurma matang kepada Abu Ubaidah bin Al Jarrah, Abu Thalhah Al Anshari dan Ubay bin Ka’ab.” Anas berkata; “Maka datang seseorang dan mengatakan bahwa arak telah diharamkan, Abu Thalhah berkata; “Wahai Anas, berdiri dan hancurkanlah bejana-bejana ini.” Anas berkata; “Maka aku berdiri menuju gentong milik kami dan memukulnya dari bagian bawahnya sampai pecah.” (Atsar .R. Malik dalam Al-Muwatha’ No. 1335)

Dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang laki-laki menghadiahkan sebuah wadah berisi khamr kepada Rasulullah Rasulullah s.a.w., lalu beliau berkata: “Tidakkah engkau mengetahui bahwa khamr telah diharamkan?” Kemudian ada seseorang yg membisiki laki2 tersebut utk menjualnya. Maka Rasulullah bersabda: Sesungguh Dzat Yang mengharamkan untuk meminum juga mengharamkan utk menjualnya.” Kemudian Ibnu ‘Abbas berkata:  “Maka lelaki itu membuka wadah khamr tersebut dan menumpahkan isi nya hingga habis.” Kejadian ini disaksikan oleh Rasulullah dan beliau tdk memerintahkan kepada kami  utk mencuci wadah tersebut.”  (H.R. Muslim ) Ini menunjukkan bahwa khamr tidaklah najis.

Ada sebagian ulama dan sebagian kelompok kaum muslimin yang meyakini khamr itu najis berdasarkan hadits-hadits yang memerintahkan mencuci bejana / wadah milik kaum ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) sebelum dipergunakan oleh kaum muslimin. Hadits-hadits itu adalah sebagai berikut :

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid berkata, telah menceritakan kepada kami Haiwah ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Rabi’ah bin Yazid Ad Dimasyqi dari Abu Idris dari Tsa’labah Al Khusyani ia berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kami tinggal di daerah ahli kitab, apakah kami boleh makan dengan bejana mereka? …. Beliau menjawab: “Berkenaan dengan ahli kitab sebagaimana yang kamu sebutkan, jika kamu bisa mendapatkan bejana yang lain maka jangan kamu gunakan bejana mereka. Namun jika kamu tidak mendapatkan yang lainnya, maka cucilah dan makanlah dengannya…” (H.R. Bukhari No. 5056 dan Muslim No. 3567)

Dari Abi Tsa’labah r.a.“Kami bertetangga dengan ahli kitab. Mereka memasak babi dalam panci mereka dan minum khamar dalam wadah mereka. Rasulullah s.a.w. bersabda, ”Jika kalian punya yang selain dari milik mereka, makan dan minum bukan dari panci dan bejana mereka. Tapi jika tidak ada lainnya, cucilah dengan air, baru boleh dimakan dan diminum.” (H.R. Ad-Daruquthuni).

Jika kita perhatikan dan renungkan hadits di atas secara mendalam, kita akan memahami bahwa tentu saja bejana milik ahlul kitab (yang suka makan babi dan khamr) harus dicuci sebelum dipakai oleh kaum muslimin karena khawatir termakan sisa-sisa lemak babi dan khamr yang menempel di bejana tersebut.

Andaikan kita bertanya kira-kira bejana itu akan dipakai atau dipinjam (oleh kaum muslimin) itu untuk apa? Tentu adalah untuk perlatan makan atau memasak. Tidak mungkin meminjam bejana untuk dijadikan alat tabuhan atau dijadikan tempat duduk atau penutup kepala. Pasti dalam konteks hadits di atas dipinjamnya bejana ahlul kitab itu untuk alat  makan atau alat memasak. Maka wajar jika harus dicuci karena khawatir ada sisa dzat haram yang TERMAKAN dan bukan karena khawatir TERSENTUH atau terkena pakaian. Pada hadits riwayat Daruquthni juga disebutkan bersamaan antara babi dan khamr hal itu karena daging daging babi dan khamr itu haram dimakan oleh kaum muslimin. Antara haram dimakan dan najis adalah perkara yang berbeda. Tidak setiap dzat yang haram dimakan serta merta najis jika tersentuh atau terkena pakaian. Maka hadits ini sama sekali tidak menunjukkan kenajisan khamr.

Selain itu dalam hadits lain juga diceritakan ketika memerintahkan membuang khamr dari sebuah bejana,  Rasulullah s.a.w. tidak memerintahkan untuk mencucinya.

Maka lelaki itu membuka wadah khamr tersebut dan menumpahkan isi nya hingga habis.” Kejadian ini disaksikan oleh Rasulullah dan beliau tdk memerintahkan kepada kami  utk mencuci wadah tersebut.”  (H.R. Muslim )

Mengapa hal ini berbeda dengan riwayat mengenai bejana milik ahlul kitab? Kemungkinan karena bejana itu tidak dipakai lagi untuk tempat minum atau tempat memasak sehingga tidak dikhawatirkan termakan atau tertelan dzat yang diharamkan.

Ulama salaf (terdahulu) seperti Rabi’ah guru Imam Malik (salaf generasi tabiut tabi’in) juga berpendapat tidak najisnya khamr. Juga generasi ke-5 dan ke-6 seperti seperti Asy Syaukani, Ash-Shan’ani bependapat khamr tidak najis.

Dalam kitab Subulus Salam dikatakan bahwa pada dasarnya hukum asal semua benda adalah suci kecuali ada dalil yang tegas-tegas menyatakan kenajisannya. Al-Imam Asy-Syaukaniyrahimahullah- berkata, “Tak ada dalil yang cocok dipegangi tentang najisnya khamr (As-Sail Al-Jarror  I/137)  Maka Yusuf Qardhawi mengatakan : “maka haramnya arak yang ditunjukkan oleh nash tidaklah menunjukkan bahwa arak itu najis, melainkan harus ada dalil lain yang menunjukkan hal itu. Jika tidak,maka tetap pada hukum asalnya yaitu suci” (Halal Haram Yusuf Qardhawi)

Ulama Hijaz seperti Rabi’ah Al-Laits bin Sa’d Al-Mishri Al-Muzani dan Dawud Azh-Zhahiri,  Al-Imam Asy-Syaukani serta ulama Saudi seperti Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani dan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berpendapat khamr tidak najis.

Oleh karena itu di kalangan ulama yang menajiskan khamr pun tidak terdapat keterangan yang jelas termasuk najis ringankah, mutawasithoh (pertengahan) atau mugholadhoh (najis berat)? Sehingga tidak terdapat keterangan yang jelas bagaimana cara mencuci najis dari khamr. Karena juga tidak ditemukan hadits dari Rasulullah mengenai cara mencuci bejana atau gelas yang terkena najis khamr. Seandainya khamr adalah najis, maka pasti Rasulullah menjelaskan cara mencuci dari najis tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s