JAMA’ DAN QOSHOR (JILID 2)

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Tidak Menjama’ Sholat Karena Punya Banyak Waktu

Salah satu pendapat orang yang menolak keringanan menjama’ sholat, walaupun dalam status sebagai musafir adalah karena merasa banyak waktu, sehingga masih sempat melaksanakan sholat pada waktunya, tanpa perlu menjama’.

Sebelumnya perlu dipahami, bahwa dalam ilmu fiqih ada istilah “‘illat”’ yaitu hal yang menjadi latar belakang atau sebab berlakunya suatu hukum atau suatu perintah. Dalam hadits-hadits yang menjelaskan masalah kebolehan menjama’ dan meng-qoshor sholat, dapat kita lihat bahwa tidak ada satu pun kalimat yang menunjukkan bahwa yang menjadi ‘illat atau latar belakang Allah membolehkan menjama’ sholat adalah karena kekurangan waktu.

Salah satu hal yang menjadi ‘illat atau sebab berlakunya menjama’ sholat adalah karena bepergian itu sendiri tanpa meninjau apakah ia punya waktu atau tidak. Dalam hal ini Dr. Yusuf Qordhowi berkata sebagai berikut :

“Kita juga tahu bahwa bepergian pada jaman sekarang tidak seperti bepergian pada abad 14 yang silam, sehingga faktor yang mendorong dibuatnya aturan sholat khusus bagi seorang musafir, kini sudah tidak perlu ada lagi”)[1].

Lebih lanjut Dr. Yusuf Qordhowi berkata :

Yang menjadi alasan dan sebab berlakunya rukhshoh adalah bepergian itu sendiri dan bukannya akibat yang dihasilkannya, yakni beban berat yang sebenarnya hanyalah hikmah dari diadakannya rukhsosh. Lampu merah pada trafic light adalah illat atau sebab semua kendaraan wajib berhenti, hikmahnya adalah untuk menghindari tabrakan, tapi hikmah ini kemudian tidak dijadikan indikator, misalnya kalau tidak ada kendaraan lain lalu boleh lewat. Tidak. Melainkan wajib berhenti sampai kemudian lampu hijau, ini adalah mengikuti sebab (illat) dan bukannya hikmah. )[2]

Apa yang dikemukakan di atas, juga dengan tegas dinyatakan dalam hadits shohih berikut ini )[3] :

“Haritsah bin Wahb Al-Khuza’i Ra. berkata : Nabi SAW telah sholat bersama kami di Mina, sedangkan kami sebenarnya punya waktu sebanyak-banyaknya serta dalam keadaan aman, (namun) hanya sholat dua rokaat saja (qoshor)” (H.R. Bukhari Muslim)

Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata; Aku melakukan shalat bersama Nabi s.a.w. delapan rakaat sekaligus (jamak dhuhur asar) dan tujuh rakaat sekaligus (jamak maghrib isya). Aku bertanya kepada Ibnu Abbas; Mengapa beliau mengerjakan seperti itu? ia menjawab; Beliau ingin tidak memberatkan umatnya. (H.R. Ahmad No. 3095)

Dari hadits ini kita tahu bahwa persangkaan orang bahwa jama’ sholat tidak perlu diambil jika kita punya banyak waktu, adalah sebuah persangkaan yang salah. Karena illat sesungguhnya dalam masalah ini adalah karena status safar / musafir itu sendiri. Jadi jamak dan qoshor disunnahkan karena adanya status safar itu sendiri dan keinginan untuk tidak memberatkan umatnya.

Bukti lain bahwa jamak dan qoshor ini bukan soal ada waktu atau tidak dan bukan karena dalam ketakutan atau tidak, sedangkan hal ini semata-mata keringanan yang Allah sedekahkan pada hambaNya dan Allah menyukai jika sedekahNya ini diterima.

Umar r.a. bertanya kepada Nabi s.a.w. : “Kenapa kita meng-qoshor padahal kita dalam keadaan aman? Maka Rasulullah s.a.w. bersabda kepadanya : “Ini adalah sedekah yang Allah Ta’la sedekahkan kepada kalian, maka terimalah sedekahNya ini” (Atsar R. Nasa’i Juz 3 No. 118 dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa’i. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah No. 1064 dan Imam Ahmad)

Menjama’ Sholat Karena Kesibukan

Dari Abdullah bin Umar r.a. “Aku melihat Rasulullah s.a.w. jika beliau tergesa-gesa dalam perjalanan, beliau menangguhkan shalat maghrib dan menggabungkannya bersama shalat isya”.Salim (anak Ibnu Umar) berkata, “Dan Abdullah bin Umar r.a.  juga mengerjakannya seperti itu bila beliau tergesa-gesa dalam perjalanan. Beliau mengumandangkan iqamah untuk shalat maghrib lalu mengerjakannya sebanyak tiga raka’at kemudian salam. Kemudian beliau diam sejenak lalu segera mengumandangkan iqamah untuk shalat isya, kemudian beliau mengerjakannya sebanyak dua rakaat kemudian salam. Beliau tidak menyelingi di antara keduanya (kedua shalat yang dijamak) dengan shalat sunnah satu rakaatpun, dan beliau juga tidak shalat sunnah satu rakaatpun setelah isya hingga beliau bangun di pertengahan malam (untuk shalat malam).” (H.R. Al-Bukhari no. 1109)

Telah mengabarkan kepada kami Amr bin Utsman dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah dari Ibnu Abu Hamzah dan Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Al Mughirah dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Utsman dan lafazh ini darinya, dari Syu’aib dari Az Zuhri dia berkata; Telah mengabarkan kepadaku Salim dari Bapaknya dia berkata; “Aku melihat s.a.w. bila tergesa-gesa dalam perjalanannya, beliau mengakhirkan shalat Maghrib hingga menjama’ antara Maghrib dan Isya’.” (H.R. Nasa’i No. 588)

Telah mengabarkan kepada kami Amr bin Sawwad bin Al Aswad bin Amr dia berkata; Telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahab dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Jabir bin Ismail dari Uqail dari Ibnu Syihab dari Anas dari Rasulullah s.a.w. bahwa apabila Beliau s.a.w. sedang tergesa-gesa dalam perjalanannya maka beliau mengakhirkan Zhuhur sampai waktu shalat Ashar, lalu menjama’ keduanya. Beliau juga mengakhirkan shalat Maghrib hingga beliau menjama’ antara Maghrib dan Isya’ hingga mega merah menghilang. (H.R. Nasa’i No. 590)

Dari Abdullah bin Syaqiq r.a., dia berkata : “Ibnu Abbas berkhutbah kepada kami, pada hari setelah ‘ashar sampai matahari terbenam, hingga nampak bintang-bintang, sehingga manusia berteriak: “shalat .. shalat ..!” Lalu datang laki-laki dari Bani Tamim yang tidak hentinya berteriak: shalat.. shalat!. Maka Ibnu Abbas berkata: “Apa-apaan kamu, apakah kamu hendak mengajari saya sunah?”, lalu dia berkata: “Saya telah melihat Rasulullah SAW menjamak antara zhuhur dan ashar, serta maghrib dan isya.” Berkata Abdullah bin Syaqiq: “Masih terngiang dalam dada saya hal itu, maka aku datang kepada Abu Hurairah, aku tanyakan dia tentang hal itu, dia membenarkan keterangan Ibnu ‘Abbas tersebut.” (H.R. Muslim No. 705 atau 1154)

“Berkata Ibnu Taimiyah: “Madzhab yang paling luas dalam masalah jamak adalah madzhab Imam Ahmad, dia membolehkan jamak karena kesibukkan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam An  Nasa’i, sampai-sampai dibolehkan jamak juga bagi juru masak dan pembuat roti karena kesibukannya dan semisalnya, dan juga orang yang ketakutan hartanya menjadi rusak (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 291)

Bahkan dalam sebuah hadits diceritakan bahwa Rasulullah s.a.w. pernah menjamak shalat dzuhur dan ashar, juga maghrib dengan isya sedangkan Beliau s.a.w. berada di Madinah (muqim)

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amr dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas dia berkata; “Aku shalat bersama Nabi s.a.w. di Madinah delapan rakaat dengan menjama’nya, dan tujuh rakaat dengan menjama’nya, menyegerakan Ashar dan mengakhirkan Maghrib, serta menyegerakan Isya’.” (H.R. Nasa’i No. 585)

Maka inilah sikap dari Ibnu Abbas r.a.  bahwa ketika sibuk ia menjamak sholatnya

mengabarkan kepadaku Abu ‘Ashim Khusyaisy bin Ashram dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Habban bin Hilal Telah menceritakan kepada kami Habib yaitu Ibnu Abu Habib dari Amr bin Haram dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas r.a. , bahwa dia (Ibnu Abbas r.a.) shalat Zhuhur dan Ashar di Bashrah tanpa ada sesuatupun diantara keduanya, juga shalat Maghrib dan Isya tanpa ada sesuatupun diantara keduanya. Dia melakukan hal tersebut karena sibuk. (Atsar R. Nasa’i No. 586) Atsar ini dinyatakan shahih oleh Nashiruddin Al-Albani

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dari Malik dari Abu Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas r.a. dia berkata; “Pernah Rasulullah s.a.w. menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar, serta menjama’ shalat Maghrib dan Isya’ bukan karena alasan takut (peperangan) dan bukan karena alasan perjalanan.” (H.R. Nasa’i No. 597) Hadits ini dinyatakan shahih oleh Nashiruddin Al-Albani

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul ‘Aziz bin Abu Rizmah Ghazwan dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Al Fadhl bin Musa dari Al A’masy dari Habib bin Abu Tsabit dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. pernah shalat di Madinah dengan menjama’ Zhuhur dan Ashar, serta Maghrib dan Isya’ bukan karena rasa takut (peperangan) dan bukan karena hujan. Ibnu Abbas ditanya, “Kenapa demikian?” maka dia menjawab, “Agar tidak memberatkan umatnya.” (H.R. Nasa’i No. 598) Hadits ini dinyatakan shahih oleh Nashiruddin Al-Albani

Abdullah bin Umar Menjama’ Sholat Karena Menolong Istrinya Yang Sakit

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya Salim dari ‘Abdullah bin ‘Umar r.a. berkata: “Aku melihat Rasulullah s.a.w. jika perjalanan mendesak, Beliau menangguhkan shalat Maghrib dan menggabungkannya bersama shalat ‘Isya'”. Berkata, Salim: “Dan ‘Abdullah bin ‘Umar r.a. mengerjakannya juga bila terdesak (tergesa-gesa) dalam perjalanan”. Al Laits menambahkan dan berkata, telah menceritakan kepada saya Yunus dari Ibnu Syihab; Salim berkata: Ibnu ‘Umar r.a. menggabungkan antara shalat Maghrib dan ‘Isya’ saat berada di Muzdalifah. Salim berkata, lagi; “Ibnu ‘Umar r.a. mengakhirkan shalat Maghrib karena hendak menolong isterinya Shafiyah binti Abu ‘Ubaid (yang sedang sakit). Aku katakan kepadanya; “Mari kita dirikan shalat?!”. Dia menjawab: “Terus saja berjalan”. Aku katakan lagi; ” Mari kita dirikan shalat?!”. Dia menjawab: “Terus saja berjalan”. Hingga ketika perjalanan sudah mencapai dua atau tiga mil, dia turun lalu mendirikan shalat. Setelah selesai dia berkata: “Beginilah, aku pernah melihat Nabi s.a.w. melaksanakan shalat bila dalam keadaan terdesak dalam perjalanannya”. Dan berkata, ‘Abdullah bin ‘Umar r.a. : “Aku melihat Nabi s.a.w. jika perjalanan mendesak, Beliau menangguhkan shalat Maghrib, kemudian Beliau mengerjakan tiga raka’at lalu salam. Kemudian diam sejenak lalu mengerjakan shalat ‘Isya’ dengan dua raka’at lalu salam. Beliau tidak bertasbih (mengerjakan shalat sunnah) setelah shalat ‘Isya’ hingga Beliau bangun di penghujung malam“. (H.R. Bukhari No. 1029)

Menjama’ Sholat Karena Hujan

Salah satu dalil penguat lainnya bahwa illat dari menjamak sholat bukanlah karena kepayahan dalam perjalanan adalah adanya riwayat bahwa Rasulullah SAW pernah menjamak shalat maghrib dengan isya karena dingin di waktu hujan.

“Al Atsram meriwayatkan dalam Sunan-nya, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, bahwa dia berkata: “Termasuk sunah jika turun hujan menjamak antara Maghrib dan Isya’.” Bukhari telah meriwayatkan bahwa Nabi s.a.w. menjamak antara maghrib dan isya’ pada malam hujan

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Abu Az Zubair Al-Makki dari Sa’id bin Jubair dari Abdullah bin ‘Abbas dia berkata, “Rasulullah s.a.w. mengerjakan shalat zhuhur dengan asar secara jamak, dan maghrib dengan isya secara jamak, bukan karena ada ketakutan atau karena perjalanan.” Malik berkata, “Saya melihatnya bahwa hal itu terjadi karena hujan.” (H.R. Imam Malik dalam Muwatha Hadits No. 300)

Kesimpulan ‘illat Menjama’ Sholat Karena Meringankan Hambanya

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tidak sebagaimana dipersangkakan oleh sebagian orang yang berargumen bahwa tidak boleh menjamak sholat karena di jaman modern ini perjalanan sudah nyaman, tidaklah beralasan. Karena yang menjadi ‘illat atau latar belakang disediakannya keringanan menjama’ sholat adalah semata-mata karena Allah hendak meringankan hambanya :

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (Q.S. Al-Baqarah : 185)

“Dan dia sekali-sekali tidak menjadikan untukmu dalam agama ini suatu kesempitan” (Q.S. Al-Hajj : 78)

Inilah maksud Rasulullah dalam hadits berikut )[4] :

“Rasulullah s.a.w. ditanya apa sebabnya beliau menjama’ sholatnya, beliau menjawab : “agar tidak menyulitkan umatku’.” (H.R. Muslim).

Imam Nawawi berkata : “Sekelompok para imam, membolehkan jamak ketika tidak bepergian apabila ia memiliki keperluan, namun hal itu tidak dijadikan sebagai kebiasaan. Demikianlah pendapat dari Ibnu Sirin, Asyhab dari golongan Malikiyah. Al Khathabi menceritakan dari Al Qaffal dan Asy Syasyil kabir dari madzhab Syafi’i, dari Abu Ishaq al Marwazi dan dari jamaah ahli hadits. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir, yang didukung oleh zhahir ucapan Ibnu Abbas, bahwa yang dikehendaki dari jamak adalah ‘agar umatnya keluar dari kesulitan.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Juz.3, Hal. 17)

Sikap Orang Yang Tidak Mau Mengambil Rukhsoh

Sebagian orang bersikap tidak mau mengambil rukhsoh (keringanan) yag disediakan oleh Allah. Dengan kata lain, mereka tetap melaksanakan sholat seperti biasanya walaupun mereka dalam keadaan musafir. Hal ini disebabkan sebagian dari mereka belum tahu mengenai tata cara men-jama’ sholat atau meng-qoshor sholat.

Tapi yang kami persoalkan di sini, bukanlah orang yang memang belum tahu. Melainkan orang yang sudah tahu mengenai keringanan yang disediakan Allah ini namun sengaja tidak mau melaksanakannya. Sebagian dari mereka karena merasa tidak terbiasa sehingga merasa tidak afdhol melaksanakan sholat seperti itu.

Memang keringanan men-jama’ sholat atau meng-qoshor sholat bukanlah sebuah kewajiban atau keharusan, melainkan sebuah keringanan yang disediakan oleh Allah untuk memudahkan umatnya. Namun kepada mereka yang tidak mengambil keringanan ini, kami  perlu menyampaikan bahwa Allah dan Rasulnya sebenarnya lebih suka jika keringanan tersebut diambil atau dilaksanakan.

Salah satu karakteristik hukum Islam ialah mengutamakan kemudahan daripada kesukaran dan mengutamakan keringanan daripada kekerasan )[5]. Hal inis esuai dengan firman Allah :

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (Q.S. Al-Baqarah : 185)

“Dan dia sekali-sekali tidak menjadikan untukmu dalam agama ini suatu kesempitan” (Q.S. Al-Hajj : 78)

Begitu juga sikap Rasulullah dalam menghadapi masalah agama, bila terdapat beberapa pilihan atau alternatif dalam urusan agama, maka beliau selalu memilih yang termudah, sepanjang hal tersebut tidak keluar dari tuntunan syari’at atau bukan merupakan sebuah dosa. Hal ini diungkapkan dalam hadits berikut :

“Rasulullah selalu memilih yang termudah dalam urusan agama, sepanjang hal tersebut bukan merupakan dosa” (H.R. Muslim )

“Jabir berkata : Rasulullah adalah orang yang suka memudahkan persoalan, jika Aisyah menghendaki sesuatu, beliau meluluskannya.” (H.R. Muslim & Baihaqi)

Mana Yang Lebih Utama?

Umar bin Abdul Aziz ketika ditanya mengenai mana yang lebih utama, tetap menjalankan ibadah sebagai mana biasanya, atau mengambil rukshoh (keringanan) yang disediakan Allah, maka ia menjawab : “Mana yang lebih mudah bagi seseorang, maka itulah yang lebih utama.”)[6]

Pendapat Tabi’in Umar bin Abdul Aziz ini didukung dengan dalil hadits-hadits yang banyak diantaranya hadits-hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Abu Adh Dhuha dari Masruq dari ‘Aisyah ia berkata: “Rasulullah s.a.w. memberikan suatu keringanan pada salah satu perintah beliau. Lalu hal itu sampai kepada sebagian sahabatnya dan mereka pun seperti kurang suka dan berlepas dari dari hal itu. maka sampailah kabar mengenai sikap mereka itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga beliau pun berdiri dan berkhutbah: “Kenapa ada orang yang telah sampai kepada mereka suatu urusan dariku yang aku mendapatkan keringanan karenanya lalu mereka membencinya dan berlepas darinya?! Demi Allah, sungguh aku adalah orang yang lebih mengenal Allah daripada mereka dan aku adalah orang yang paling takut kepadaNya“. (H.R. Muslim No. 4345)

Allah lebih menyukai rukhshoh-rukhshohNya diterima dan diamalkan sebagaimana seorang hamba menyukai pengampunanNya.” (H.R. Ath Thobari)[7]

Allah lebih menyukai rukhshoh-rukhshohNya dilaksanakan sebagaimana Dia membenci dilanggar laranganNya.” (H.R. Ahmad)[8]

Sesungguhnya Allah Ta’ala lebih suka jika rukhsohNya diambil sebagaimana Ia suka jika kewajibanNya dilaksanakan” (H.R. Thabrani & Al-Bazaar)

Maka walaupun kita tidak kepayahan dan mampu sholat seperti biasanya namun adalah sebuah kesombongan jika kita tidak mengambil rukhshoh (keringanan) yang telah disediakan Allah bagi manusia.

“Rasulullah selalu memilih yang termudah dalam urusan agama, sepanjang hal tersebut bukan merupakan dosa” (H.R. Muslim )

Sebaik-baik umatku ialah apabila dia safar (bepergian) dia berbuka puasa dan meng-qoshor sholatnya, dan jika berbuat kebaikan merasa gembira tetapi bila melakukan keburukan beristighfar” (H.R. Athabrani)

Dari Ashim Al-Asy’ari Ia berkata : Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : “Tidaklah termasuk kebaikan berpuasa ketika dalam safar” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Daud, An-Nasa’i,Imam Malik dalam Al-Muwatho’, Imam Ahmad dalam Musnadnya, Al-Khatib Al Baghdadi Al-Kifayah hal 183)

Tidak sedikit para sahabat Nabi yang menyatakan bahwa qashar hukumnya wajib. Mereka yang berpendapat wajib adalah Umar bin Khathab r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdullah bin Mas’ud r.a., Abdullah bin Umar r.a., Abdullah bin Abbas r.a., dan Jabir bin Abdullah r.a. Kalangan madzhab Hanafi menguatkan pendapat ini.

Abdullah bin Amr r.a. berkata : “Menerima rukhshoh Rasulullah s.a.w. lebih aku sukai daripada apapun yang sebanding dengannya akan tetapi aku berpisah dengan beliau (wafat) dalam keadaan melakukan hal yag saya tidak suka menyalahinya (yaitu Rasulullah s.a.w. dulu pernah membolehkan puasa beberapa hari setiap bulannya namun kini ia tidak mampu) (H. R. Imam Ahmad Juz 9 hal 240 hadits No. 6477)

Adapun kalangan Maliki mengatakan bahwa qashar adalah sunnah mu’akkadah (sangat dianjurkan), makruh hukumnya shalat secara sempurna. Sedangkan kalangan Madzhab Hambali mengatakan qashar itu mubah (boleh) tetapi lebih utama dilaksanakan dibanding shalat sempurna. Demikian juga pendapat kalangan imam Syafi’i. Ini semua jika sudah pada jarak dibolehkannya qashar.

Telah menceritakan kepada kami Abu Mua’wiyah Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy dari Muslim dari Masruq dari Aisyah berkata; “Suatu saat Rasulullah s.a.w. memberi rukhsah (keringanan) pada suatu perkara, tapi ada sekelompok orang yang meninggalkannya. Kemudian hal itu sampai kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, beliau pun marah hingga wajahnya tampak memerah seraya bersabda: ‘Bila ada suatu kaum yang membenci terhadap apa yang telah aku beri keringanan, maka demi Allah, sungguh aku lebih mengetahui tentang Allah Azzawajalla dari pada mereka dan aku adalah orang yang paling takut kepada-Nya dari pada mereka.'” (H.R. Ahmad No 23050)

Wallahua’lam


[1] Dr. Yusuf Qordhowi. Reformasi Pemikiran Islam Abad 21. PT. Bina Ilmu. Hal 89

[2] Ibid. Hal 90

[3] Hadits No. 403. Kitab Alu’lu wal Marjan. Jilid I

[4] Dr. Muh. Faiz Al-Math. 1100 Hadits Pilihan. Gema Insani Pers. Hal 94

[5] Yusuf Qordhowi. Ijtihad Kontemporer. Risalah Gusti. Surabaya. 1995.  Hal 76

[6] Dr. Yusuf Qardhawi. Fatwa Fatwa Kontemporer Jilid 1. Gema Insani Press Ed.1 1995 Hal 429.

[7] Dr. Muh. Faiz Al-Math. 1100 Hadits Pilihan. Gema Insani Pers. Hal 25

[8] Dr. Muh. Faiz Al-Math. 1100 Hadits Pilihan. Gema Insani Pers. Hal 134

JAMA’ DAN QOSHOR (JILID 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s