JAMA’ DAN QOSHOR (Jilid 1)

Sebuah Keringanan (Rukhshoh) bagi Status Musafir

Oleh : Abu Akmal Mubarok

 Image

Definisi Jama’

Yang dimaksud dengan men-jama’ sholat ialah menyatukan dua sholat atau mengerjakan dua sholat ke dalam satu waktu.

Sholat Yang Boleh Dijama’

Sholat yang boleh disatukan atau dijama’ ialah sholat dzuhur dengan ashar serta sholat maghrib dengan Isya. Tidak boleh menyatukan sholat shubuh dengan dzuhur atau menyatukan sholat ashar dengan maghrib atau sholat isya’ dengan shubuh.

Jama’ Taqdim dan Jama’ Takhir

Jama’ taqdim ialah mengerjakan dua sholat pada satu waktu, dimana sholat yang waktunya belakangan, dikerjakan dengan sholat yang waktunya lebih dulu, misalnya jika sholat dzuhur dan ashar dikerjakan di waktu zhuhur atau sholat maghrib dengan isya dikerjakan di waktu maghrib.

Sedangkan jama’ takhir ialah mengerjakan dua sholat pada satu waktu dimana sholat yang waktunya lebih dulu dikerjakan pada saat sholat yang waktunya kemudian, misalnya sholat dzuhur dengan ashar dikerjakan di waktu ashar atau sholat maghrib dengan isya dikerjakan di waktu isya’.

Definisi Qoshor

Menurut Jumhur ulama (kesepakatan ulama) arti qoshor ialah meringkas sholat yang semula 4 roka’at menjadi 2 rokaat [1]. Misalnya sholat Dzuhur atau Ashar yang seharusnya 4 roka’at, hanya dikerjakan 2 roka’at saja.

Sholat yang Boleh Diqoshor

Sholat yang boleh diqoshor adalah sholat yang 4 rokaat. Sedangkan sholat maghrib yang 3 rokaat tidak boleh diqoshor menjadi 2 rokaat. Jadi keringanan qoshor ini hanya berlaku bagi sholat yang 4 rokaat.

Dari ‘Aisyah ra berkata: “Diwajibkan salat 2 rakaat kemudian Nabi hijrah, maka diwajibkan 4 rakaat dan dibiarkan salat safar seperti semula (2 rakaat yaitu boleh di-qoshor).”(H.R Bukhari)

: “Dari ‘Aisyah ra berkata: “Diwajibkan salat 2 rakaat kemudian Nabi hijrah, maka diwajibkan 4 rakaat dan dibiarkan salat safar seperti semula (2 rakaat yaitu boleh di-qoshor) kecuali Maghrib, karena Maghrib adalah salat witir di siang hari dan salat Subuh agar memanjangkan bacaan di dua rakaat tersebut.” (H.R. Imam Ahmad)

Syarat Berlakunya Jama’ dan Qoshor

Sholat Jama’ dan qoshor boleh dilakukan apabila :

1. Anda dalam status bepergian (musafir) dalam keadaan aman

2. Dalam keadaan sibuk berperang.

3. Dalam urusan yang yang amat sangat penting / tidak dapat ditinggalkan.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam ayat berikut :

“Apabila kamu berjalan di muka bumi, maka tidak ada halangan bagi mu untuk meng-qoshor sholat, jika kamu takut diserang oleh orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagi mu (Q.S. An-Nisaa’ : 101)

Sedangkan dalam keadaan takut diserang atau berperang, selain boleh juga meng-qoshor sholatnya, juga ada keringanan-keringanan lainnya. Untuk kondisi perang, ada tata cara sholat tersendiri yang sering disebut sebagai sholat khauf, yang tercantum dalam Q.S. Al-Baqoroh : 238-239 dan Q.S. An-Nisaa’ : 102

Syarat berlakunya sholat jama’ dan qoshor adalah :

  1. Perjalanan yang dilakukannya bukan dalam rangka maksiyat
  2. Perjalanannya berjarak jauh.
  3. Bukan dalam rangka meng-qodho sholat (menebus sholat yang terlupa / terlewat)
  4. Berniat sholat qoshor ketika takbirotul ihrom.

Salah Paham Dengan Pengertian Musafir

Sebagian orang menyangka bahwa yang dimaksud dengan musafir itu ialah berada di atas kendaraan, atau sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat. Sedangkan bila telah mencapai tempat yang dituju, maka tidak lagi disebut musafir. Berdasarkan pemahaman seperti ini, banyak orang yang menyangka bahwa menjama’ sholat dan meng-qoshor sholat hanya boleh dilakukan apabila kita berada di perjalanan dan belum mencapai tempat tujuan.

Sebagai contoh, seseorang yang bermuqim di Jakarta, sedang bepergian ke Bandung. Ketika tiba waktu sholat Dzuhur, ia sedang berada di Puncak. Maka ia sholat dzuhur dijama’ dengan sholat ashar di Puncak. Ketika tiba waktu maghrib, ia sudah berada di Bandung, maka ia kembali melaksanakan sholat seperti biasa. Yaitu tidak dijama’ dengan sholat Isya’. Ia berpikir bahwa setelah tiba di tempat tujuan, tidak boleh lagi menjama’ sholatnya.

Cerita di atas adalah salah satu contoh kesalahpahaman mengenai definisi musafir.  Status musafir adalah kondisi dimana seseorang tidak berada pada daerah tempat ia bermuqim, baik sedang dalam perjalanan, di atas kendaraan, maupun telah sampai di tempat tujuan. Jadi, apabila kita menyatakan bahwa diri kita bermuqim di Jakarta, maka ketika kita berada di kota lain selain Jakarta, maka status kita adalah musafir, dan berhak menjama’ qoshor sholat kita. Pendapat ini berdasarkan hadits berikut )[2] :

“Anas r.a. berkata : Kami bepergian bersama Nabi s.a.w. dari Madinah menuju Mekkah, maka beliau selalu sholat qoshor dua rokaat sehingga kembali ke Madinah. (H.R.  Bukhori Muslim dalam Alu’lu wal Marjan Jilid 1 No 401)

Dalam riwayat lain lebih lanjut Yahya bin Abi Ishaq bertanya kepada Anas : “Berapa lama kamu tinggal di Mekkah ?” Dijawab : “sepuluh hari”.

Dari riwayat hadits di atas dapat kita pahami bahwa Rasulullah setelah hijrah ke Madinah menyatakan diri berstatus muqim di Madinah. Oleh karenanya ketika Rasulullah pergi ke Mekkah selama 10 hari, beliau berstatus musafir, Sehingga selama beliau di Mekkah, tetap melakukan sholat qoshor.

Berkata Ibnul Qoyyim: “Rasulullah SAW tinggal di Tabuk 20 hari dan terus  mengqashar salat nya.”

Dari  Ibnu Abbas r.a.: “Rasulullah SAW melaksanakan salat safarnya 19 hari, yaitu salat dua rakaat. Dan kami jika safar 19 hari, salat dua rakaat, tetapi jika lebih dari 19 hari, maka kami salat dengan sempurna.” (H.R. Bukhari)

Hal ini berbeda dengan pendapat kebanyakan orang jaman sekarang ini yang memahami safar adalah kondisi di atas kendaraan saja dan ketika sudah sampai di tempat tujuan tidak boleh menjama’ dan meng-qoshor sholat. Jelas ini adalah kesalahpahaman umat akan makna dari istilah “safar” yang sering diterjemahkan dalam bahasa indonesia sebagai “sedang bepergian” atau “sedang dalam perjalanan”.

Kapan Seseorang Berstatus Muqim ?

Seseorang disebut muqim atau tidak itu diserahkan kepada masing-masing individu. Rasulullah menyatakan muqim di Madinah semenjak beliau hijrah ke Medinah. Sedangkan Utsman walaupun ikut hijrah ke Medinah tapi juga menyatakan Muqim di Mekkah, alasannya karena ia dulu menikah di Mekkah, sebagaimana diceritakan dalam hadits berikut :

Dari Jabir bin Abdullah r.a. katanya: “Nabi SAW bermukim di Tabuk selama dua puluh hari dan beliau senantiasa mengqashar shalatnya”. (H.R.  Ahmad  No. 14172.  Abu Daud No. 1235.  Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 5260, Abdu bin Humaid dalam Musnadnya No. 1139, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 4335. Ibnu Hibban No. 546, Mawarid Azh Zham’an. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih sesuai syarat Bukhari Muslim. (Tahqiq Musnad Ahmad No. 14172)

Dari Ibnu Abbas r.a., “Nabi s.a.w. bermukim dalam salah satu perjalanan selama sembilan belas hari dan selalu mengerjakan shalat dua rakaat.” (H.R. Bukhari No. 1080. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 5244)

“Abdullah bin Umar Ra. beerkata : “Saya sholat di Mina bersama Nabi SAW dua rokaat (qoshor) juga bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tapi kemudian Utsman sholat empat rokaat. (H.R. Bukhari Muslim dalam Alu’lu wal Marjan Jilid 1 No 402).

Selanjutnya ada keterangan bahwa Utsman tidak qoshor karena merasa bukan musafir dengan alasan beliau kawin di Mekkah.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Ala` dan Utsman bin Abu Syaibah dengan maksud yang sama, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hafsh dari ‘Ashim dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah s.a.w. bermukim di Makkah selama tujuh belas hari, dan selalu mengqashar shalat.” Ibnu Abbas berkata; “Barangsiapa bermukim selama tujuh belas hari, maka ia boleh mengqashar shalat, dan barangsiapa bermukim lebih dari itu, dia harus menyempurnakan shalat.” Abu Daud mengatakan; Abbad bin Manshur berkata dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dia berkata; “Beliau bermukim selama sembilan belas hari.” (H.R. Abu Daud No. 1041)

Hafsh bin Ubaidillah mengatakan bahwa Anas bin Malik bermukim di Syam selama dua tahun dan terus mengerjakan qashar sebagaimana shalatnya musafir.

Menurut Anas bin Malik, para sahabat Nabi bermukim di daerah Ramhurmuz selama tujuh bulan dan tetap mengqashar shalat.

Berkata Al-Hasan, “Aku pernah bermukim bersama Adurrahman bin Samurah di kota Kabul selama dua tahun, dan dia terus mengqashar shalatnya.”

Ibrahim An-Nakha’iy. juga pernah mengatakan bahwa para sahabat pernah bermukim di Ray selama satu tahun atau lebih dan di Sijistan selama dua tahun, tetap mengqashar shalat.

Ibnu Umar  r.a. pernah tinggal di Azarbaijan selama enam bulan dan tetap mengqahar sebab terhalang oleh salju

Jadi seseorang berstatus muqim atau tidak, silakan ditetapkan oleh pribadi masing-masing. Misalnya boleh saja seseorang menyatakan diri muqim berdasarkan KTP yang dimiliki. Atau seseorang menyatakan diri muqim di sebuah kota ketika ia sudah tinggal di kota itu selama lebih dari 1 bulan. Atau dia menyatakan diri muqim di kota itu karena banyak sanak keluarganya di kota itu atau alasan-alasan lainnya.

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’ telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengkhabarkan kepada kami Yahya bin Abu Ishaq Al Hadlrami telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik r.a. dia berkata :  kami keluar bersama Nabi shalallhu ‘alaihi wa salam dari Madinah menuju Makkah, kemudian beliau melaksanakan shalat dua raka’at. Dia (Yahya r.a.) berkata, saya bertanya kepada Anas r.a., berapa lama Rasulullah s.a.w.  tinggal di Makkah?, Anas menjawab, sepuluh hari. (Atsar.R. Tirmidzi No. 503) Abu Isa berkata, hadits Anas adalah hadits hasan shahih. Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih.

Tirmidzi berkata, dalam bab ini (ada juga riwayat) dari Ibnu Abbas dan Jabir. Sebagai berikut :

Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. dari Nabi s.a.w., bahwa beliau menetap dalam safarnya (bepergiannya) selama sembilan belas hari dengan melaksanakan shalat dua raka’at. Ibnu Abbas berkata, “Apabila kami menetap antara sembilan belas hari, maka kami melaksanakan shalat dua raka’at dan jika lebih dari itu, maka kami menyempurnakan shalat.

Telah diriwayatkan dari Ali bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang menetap selama sepuluh hari, maka ia harus menyempurnakan shalatnya.” Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang menetap selama lima belas hari, maka ia harus menyempurnakan shalatnya.” Dan telah diriwayatkan darinya dua belas (hari).

Telah diriwayatkan dari Sa’id Bin Al Musayyib bahwa beliau bersabda: “Jika menetap selama empat hari maka shalatlah empat hari.” Qatadah dan Atha’ Al Khurasani telah meriwayatkan darinya mengenai masalah itu,

Daud bin Abu Hind telah meriwayatkan darinya (Ibnul Musayyib r.a.) dengan riwayat yang berbeda. Para ahli ilmu berbeda pendapat dalam hal ini, Sufyan Ats Tsauri dan penduduk Kufah berpendapat, mereka membatasi waktunya dengan lima belas hari, mereka mengatakan jika sepakat untuk menetap selama lima belas hari maka shalatnya harus sempurna, sedangkan Al Auza’I berkata jika sepakat untuk menetap selama dua belas hari maka shalatnya harus sempurna, adapun Imam Malik bin Anas, Syafi’i dan Ahmad berkata, apabila sepakat untuk menetap selama empat hari maka shalatnya harus sempurna, sedangkan Ishaq berpendapat bahwa madzhab yang paling kuat dalam masalah ini adalah hadits Ibnu Abbas, dia berkata, karena dia telah meriwayatkan dari Nabi s.a.w., lalu dia menta’wilnya setelah Nabi s.a.w.  bahwa, jika sepakat untuk menetap sembilan belas hari maka shalatnya harus sempurna, kemudian ahli ilmu sepakat bahwa seorang musafir boleh mengqashar shalatnya selagi tidak ada keinginan untuk menetap, sekalipun dia tinggal bertahun tahun. (Tirmidzi)

Kapan Seseorang Disebut Musafir ?

Seseorang berstatus musafir itu bukan ketika sedang di atas kendaraan. Seseorang disebut musafir apabila berjalan meninggalkan daerah tempat ia menyatakan diri  muqim. Mengenai jauhnya jarak bepergian, agar memenuhi syarat dinyatakan berstatus musafir, ada berbagai pendapat ulama sbb :

Pendapat Pertama

Apabila sudah keluar dari batas kota, ini adalah pendapat Ibnu Mundzir

Berkata Imam Ibnul Mundzir, “Aku tidak menemukan sebuah keterangan pun bahwa Nabi s.a.w. mengqashar dalam bepergian, kecuali setelah keluar dari (batas kota) Madinah.”

Pendapat Kedua,

Apabila jauhnya perjalanan 3 mil atau 1 farsakh atau sekitar 5,5 Km maka sudah boleh menjamak qoshor sholat jika bepergian lebih dari 5,5 Km

Yahya bin Yazid bertanya kepada Anas bin Malik mengenai mengqashar shalat. Ia menjawab,”Rasulullah mengerjakan shalat dua rakaat (qashar) jika sudah berjalan sejauh tiga mil atau satu farsakh. (H.R Muslim)

Pendapat Ketiga,

Apabila jauhnya perjalanan 3 farsakh (= 25,92 Km)[3]. Pendapat ini berdasarkan hadits berikut :

Dari Syu’bah, katanya : “Saya telah bertanya kepada Anas tentang meng-qoshor sholat, jawabnya : ‘apabila Rasulullah SAW berjalan sejauh tiga farsakh, ia meng-qoshor sholat sholatnya menjadi dua rokaat’.” (H.R. Ahmad & Muslim)

Pendapat keempat

yaitu apabila telah melakukan perjalanan sejauh 60 – 80 km. Pendapat ini berdasarkan pada hadits :

“Tidak dijinkan seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari kemudian untuk bepergian sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahramnya” (H.R. Jama’ah kecuali Nasa’i)

Menurut sebagian orang, hadits di atas lah yang menjadi batasan yang disebut bepergian jauh, yaitu jika berjalan sehari semalam, sehingga kurang lebih 60 – 80 km yaitu sejauh perjalanan naik unta sehari semalam.

Tapi pendapat ini kurang beralasan, karena hadits di atas tidak berhubungan dengan masalah menjama’ atau meng-qoshor sholat melainkan berkaitan dengan keharusan wanita bepergian didampingi dengan mahramnya.

Pendapat kelima

yaitu apabila telah melakukan perjalanan sejauh 4 burd atau 86 km. Ibnu Umar dan Ibnu Abbas mengqashar shalat dan berbuka puasa jika jarak tempuh sudah empat burd (16 farsakh = 88,656 Km).

Dr. Yusuf Qardhawi menyebutkan dalam fatwanya :

Menurut sebagian besar Mazhab, jarak perjalanan yang membolehkan seseorang mengqoshor sholat dan berbuka puasa adalah 84 km )[4]

Menurut Dr. Salim Segaf Al-Djufri, pendapat ini berdasarkan hadits berikut :

“Dari Ibnu Abbas berkata dari Rasulullah s.a.w. bersabda : Wahai penduduk Mekah janganlah kalian mengqoshor sholat kurang dari 4 burd yaitu jarak dari Mekah ke Asfaan” (H.R. Thabrani dan Daruqutni)

Mengenai jarak 4 burd terdapat keterangan dari Atsar sahabat :

Adalah Ibnu Umar ra. Dan Ibnu Abbas ra. Mengqoshor sholat dan berbuka puasa (karena musafir) pada perjalanannya yang menempuh jarak 4 burd yaitu 16 farsakh)[5]

Jadi mereka yang menganut pendapat mengq-soshor sholat pada jarak 80 km megikuti sahabat Ibnu Umar dan Abbas ra. Mereka meng-qoshor sholat dan berbuka puasa jika berada dalam radius jarak 4 burd yaitu 16 farsakh (1 farsakh = 5541 m = 5,5 Km,  maka 1 burd = 16 farsakh = 88,656 km)

Pendapat Ketujuh

Apabila perjalanan lebih dari 498 km. Hal ini berdasarkan hadits yang mengisahkan bahwa Nabi selalu mengqoshor sholatnya selama berada di Mekkah. Sedangkan jarak Madinah ke Mekkah adalah 498 km.

Anas r.a. berkata : Kami pergi bersama Nabi dari Madinah ke Mekkah, maka beliau selalu sholat qoshor dua rakaat dua rakaat hingga kembali ke Madinah” (H.R. Bukhari Muslim dalam Alu’lu wal Marjan No. 401)

Abdullah bin Umar ra. berkata : Saya pernah sembahyang di Mina bersama Nabi SAW dua rakaat (qoshor) pernah juga bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman pada permulaan khilafahnya”.(H.R. Bukhari Muslim dalam Alu’lu wal Marjan No. 402)

Catatan : Jarak Madinah ke Mina 502 km.

Pendapat Kedelapan

Apabila melalui 4 pos atau 2 marhalah. Pendapat ini dikemukakan oleh Jalalluddiin As-Suyuthi dalam tafsir Jalallain. Mungkin pada jaman Imam Suyuthi hidup, jalur perjalanan itu pada jarak tertentu dijaga oleh pos-pos. Sedangkan tidak ada penjelasan berapa jarak antar pos tersebut.

Mereka yang mendasarkan diri pada pendapat ini, akan meng-qoshor sholat jika telah melewati batas kota. Tapi pendapat ini kurang kuat, karena jika batas kota yang menjadi patokan, maka range nya sangat variatif. Karena ada kota yang sangat kecil dengan radius hanya beberapa kilometer saja, ada pula kota yang sangat besar seperti misalnya London yang radiusnya seperti jarak dari Jakarta ke Bandung.

Jarak Musafir Diukur Dari Mana ?

Terlepas dari jarak 5 km, 15km atau 25 km,atau 80 km atau lebih, ada orang yang menanyakan dari patokan manakah jarak tersebut diukur. Dari rumah kita ? dari masjid terdekat ? atau dari batas kota ?

Ada yang berpendapat bahwa jarak tersebut diukur dari batas kota, bukan dari lokasi rumah kita. Karena yang dimaksud dengan tempat muqim adalah desa atau kota tempat kita tinggal bukan rumah kita. Sebagaimana Utsman memilih tidak mengqoshor sholatnya selama di Mekkah karena kawin dengan penduduk Mekkah. Sedangkan batas tempat muqimnya adalah seluruh kota Mekkah.

Menurut hemat kami, pendapat bahwa batas muqim adalah desa atau kota tidaklah tepat. Karena Bila batas kota yang dijadikan batas wilayah muqim, maka selama seseorang belum keluar dari batas kota tersebut, tidak boleh mengqoshor sholatnya. Sedangkan pada masa sekarang ini sebuah kota panjangnya bisa ratusan kilometer sebagaimana kota London yang garis tengahnya sama dengan jarak dari Jakarta ke Bandung.

Demikian pula ada yang mempertanyakan apakah jarak tersebut dihitung secara garis radius ditarik secara garis lurus dari rumah kita ataukah berdasarkan jarak perjalanan yang telah kita tempuh tanpa memperhitungkan radius.

Apabila jarak radius yang menjadi patokan, maka apabila seseorang telah bepergian sejauh 15 Km atau 25 km atau lebih, namun pada saat tiba waktu sholat dia berada pada posisi kurang dari 25 km (dihitung secara radius garis lurus ke rumahnya) maka dia tidak boleh mengqoshor sholatnya.

Demikian sebaliknya, bila jarak tempuh perjalanan yang menjadi ukuran, maka ekstrimnya, apabila orang melakukan perjalanan sejauh 5 km saja namun bolak-balik lebih dari 5 kali, maka jarak tempuh perjalanannya telah melebihi 25 km, sehingga boleh melakukan qoshor (walaupun masih dalam radius kurang dari 25 km dari rumahnya)

Dalam hal ketentuan mana yang akan diikuti, terserah kepada kecenderungan pribadi masing-masing. Namun menurut hemat kami yang paling fair adalah berdasarkan radius dari rumah kita.

Menjama’ Sholat Bukan dalam Status Musafir

Dalam penjelasan sebelumnya di atas, dijelaskan bahwa sholat jama’ dan qoshor boleh dilakukan apabila kita dalam status sebagai musafir. Namun Rasulullah s.a.w. pernah menjama’ sholat dalam status muqim (di Madinah), tidak dalam status musafir. Ketika itu Rasulullah menjama’ sholat karena ada urusan yang sangat penting / genting. Seperti diungkapkan dalam hadits berikut)[6]:

“Ibnu Abbas r.a. berkata : ‘Rasulullah s.a.w. pernah menjama’ sholat dzuhur dengan ashar dan maghrib dengan isya’ di Madinah tanpa disebabkan faktor takut diserang (khauf) atau hujan. Beliau ditanya apa sebabnya, lalu beliau menjawab : “agar tidak menyulitkan umatnya” (H.R. Muslim).

Berdasarkan hadits Ibnu Abbas ini maka Mazhab Imam Ahmad bin Malik (Maliki) dan ulama-ulama mazhab Hambali membolehkan orang yang sangat sibuk dengan sebuah urusan yang mendesak dan sangat penting untuk menjama’ sholatnya. Tapi tidak boleh meng-qoshor. (Jadi jama’ saja bukan jama’ qoshor, karena jama’ qoshor hanya dibolehkan dalam status musafir). Jadi misalnya sholat dzuhur dengan ashar dilakukan dalam dalam satu waktu yaitu ketika waktu sholat ashar. tapi keduanya tetap dilaksanakan masing-masing 4 rokaat.

Hanya saja Dr. Yusuf Qardhowi memberikan catatan bahwa hal ini tidak boleh dijadikan kebiasaan. Hal ini hanya dilakukan jika benar-benar urusannya sangat penting dan tidak dapat ditinggalkan. Dr. Yusuf Qardhowi memberikan contoh apabila seorang dokter sedang menjalankan operasi, dan ternyata operasinya sangat rumit dan memakan waktu lama sehingga melewati waktu sholat. Dokter tersebut tidak boleh meninggalkan pasien dalam keadaan operasinya belum selesai, karena akan membahayakan jiwa si pasien. Dalam situasi demikian, maka si-dokter boleh menjama’ sholatnya.

Hukum Jama’ dan Qoshor

Hukum sholat qoshor dalam Mazhab syafi’i adalah harus bahkan lebih baik dilaksanakan bagi orang yang dalam perjalanan serta cukup syarat-syaratnya )[7]. Dalam tafsir Jalallain dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kata “tak ada halangan bagimu” atau “tidak ada salahnya bagimu” dalam surat An-Nisaa’ ayat 101 di atas adalah bahwa ketentuan sholat qoshor tersebut merupakan keringanan (rukhshoh) tapi bukan kewajiban.

Walaupun demikian Allah dan Rasulnya lebih menyukai jika keringanan (rukhshoh) yang telah disediakan oleh Allah tersebut dilaksanakan. Hal ini sesuai dengan dalil-dalil sebagai berikut :

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”

(Q.S. Al-Baqarah : 185)

“Dan dia sekali-sekali tidak menjadikan untukmu dalam agama ini suatu kesempitan”

(Q.S. Al-Hajj : 78)

“Rasulullah selalu memilih yang termudah dalam urusan agama, sepanjang hal tersebut bukan merupakan dosa” (H.R. Muslim )

Sebaik-baik umatku ialah apabila dia safar (bepergian) dia berbuka puasa dan meng-qoshor sholatnya, dan jika berbuat kebaikan merasa gembira tetapi bila melakukan keburukan beristighfar” (H.R. Athabrani)

Jama’ Takdim atau Jama’ Takhir

Untuk menentukan apakah sebaiknya kita melakukan jama’ taqdim atau jama’ takhir, pada dasarnya terserah kita dan tergantung kepada situasinya.  Salah satu contoh yang pernah dikerjakan oleh Rasulullah ialah jika berangkat sebelum masuk waktu dzuhur, maka sholat dzuhurnya diakhirkan (dijama’ takhir) dengan ashar. Seperti dalam hadits berikut ini :

Anas bin Malik Ra. berkata : Rasulullah SAW jika berangkat sebelum tergelincir matahari (berangkat sebelum masuk waktu dzuhur) akan mengakhirkan dzuhurnya hingga ashar, kemudian turun dan menyatukan dzuhur dengan ashar (jama’ takhir) sedangkan jika berangkat setelah tergelincir matahari (sudah masuk waktu dzuhur) maka sebelum berangkat sholat dzuhur dahulu lalu berangkat” (H.R. Bukhari Muslim).

Syaikh Sayyid Sabiq dalam fighu sunnah mengatakan “Menjamak dua shalat dalam safar, pada waktu  salah satu dari dua shalat itu, adalah boleh menurut mayoritas para ulama, baik ketika masih dalam perjalanannya atau ketika sudah turun (berhenti).” (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jild I, hal. 243)

Namun yang perlu diperhatikan adalah tidak boleh menjama’ sholat selagi kita masih berada di daerah tempat kita muqim, walaupun pada saat itu kita hendak berangkat bepergian. Contohnya : ketika kita hendak berangkat, ternyata telah masuk waktu dzuhur. Kemudian kita memutuskan untuk sholat dzuhur dahulu sebelum berangkat. Maka saat itu tidak boleh kita menjama’ taqdim sholat ashar dengan sholat dzuhur. Karena kita belum keluar dari daerah tempat kita muqim. Sehingga sholat asharnya nanti dilakukan di perjalanan dan boleh secara qoshor.

Cara Melakukan Jama’

Cara melakukan jama’ baik itu jama’ taqdim maupun jama’ takhir, ialah dengan cara didahului dengan adzan dan iqomat, lalu sholat seperti biasa (atau qoshor 2 roka’at), setelah selesai satu sholat, kemudian langsung iqomat lagi, disambung dengan sholat berikutnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah :

Telah mengabarkan kepadaku Ibrahim bin Harun dia berkata; telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma’il dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad dari bapaknya bahwasanya Jabir bin ‘Abdullah berkata; “Rasulullah s.a.w.  berangkat hingga ke Muzdalifah, lalu shalat Maghrib dan Isya’ dengan satu kali adzan dan dua iqamah tanpa ada shalat apapun di antara keduanya.” (H.R. Nasa’i 650) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih.

“Bilal Adzan dengan satu kali adzan, kemudian iqamah lalu sholat dzuhur, dilanjutkan dengan iqamah lalu sholat ashar. Dan beliau tidak mengerjakan sholat apapun di antara kedua sholat tersebut” (H.R. Ibnu Madjah, Ad-Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi)

“Tatkala sampai di Muzdalifah, Rasulullah sholat dengan menjama’ maghrib dan isya’ dengan cara satu kali adzan dan dua kali iqomah. Beliau tidak bertasbih di antara kedua sholat tersebut lalu Rasulullah tertidur lelap hingga fajar”

(H.R. Abu Dawud & Ibnu Jarud)

Namun dalam hadits lain diceritakan bahwa Rasulullah s.a.w. menjamak dengan satu iqomah saja

Telah mengabarkan kepada kami ‘Ali bin Hujr dia berkata; telah memberitakan kepada kami Syarik dari Salamah bin Kuhail dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Umar dia berkata; “Kami bersama Nabi s.a.w. di Muzdalifah, kemudian beliau mengumandangkan adzan lalu iqamah dan shalat Maghrib bersama kami, lalu beliau berkata, ‘Shalat’ (tanpa iqomah). Kemudian beliaupun shalat Isya’ dua rakaat bersama kami.” Aku bertanya kepada Ibnu Umar, “Shalat apa ini?” dia menjawab “Beginilah dahulu kami shalat bersama Rasulullah s.a.w., di tempat ini. (H.R. Nasa’i No. 651) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna dia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman dia berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al-Hakam dan Salamah bin Kuhail dari Sa’id bin Jubair bahwasanya dia Shalat Maghrib dan Isya di Muzdalifah dengan satu iqomah. Kemudian dia berkata; dari Ibnu Umar r.a.  bahwa dia mengerjakan seperti itu juga. Dan Ibnu Umar berkata; Bahwa Rasulullah s.a.w. juga melakukan seperti itu. (H.R. Nasa’i No. 652) Nahiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini syadz (ganjil)

Dari hadits di atas kita ketahui bahwa di antara dua sholat tersebut tidak boleh diselingi sholat sunnah apapun.

Hafesh bin Aashim berkata : Ibnu Umar r.a. berkata saya telah mengikuti Nabi s.a.w. maka tidak pernah aku melihat Nabi s.a.w. sembahyang sunnat selama safar dan Allah telah berfirman : Sungguh telah ada bagimu dalam pribadi Rasulullah contoh tauladan yang sangat baik.” (H.R. Bukhari Muslim No. 399 dalam Alu’lu wal Marjan).

Jama’ dan Qoshor, Jama’ saja atau Qoshor saja ?

Salah satu pertanyaan yang sering terlontar adalah kapankah kita boleh melakukan jama’ qoshor (yaitu menyatukan dua sholat dalam satu waktu sekaligus meringkasnya masing-masing 2 rokaat). Ataukah kita hanya boleh menjama’ saja tanpa qoshor ? Ataukah kita hanya meng-qoshor saja tanpa di-jama’.

Dalam masalah ini kita harus membagi  persoalan dalam 3 kondisi :

a. Ketika Tidak Bepergian (tidak berstatus musafir)

Berdasarkan hadits berikut )[8] :

“Ibnu Abbas r.a. berkata : Saya pernah sholat bersama Rasulullah SAW delapan rokaat jama’ (dzuhur dengan ashar) dan tujuh rokaat jama’ (maghrib dengan isya’)” (H.R. Bukhari Muslim) Di lain riwayat disebutkan di kota Madinah tanpa ketakutan dan bepergian.

Kita  memahami bahwa apabila berada di daerah tempat kita muqim, jadi bukan dalam status musafir, pada dasarnya kita harus sholat pada waktunya masing-masing. Hanya jika keadaan memaksa, karena ada urusan yang sangat penting atau tidak dapat ditinggalkan, maka boleh menjama’ sholat, baik itu jama’ taqdim maupun jama’ takhir, tapi tidak boleh meng-qoshor. Ini pun dengan catatan tidak boleh dijadikan kebiasaan dan bersifat menggampangkan.

b. Ketika Hendak  Bepergian (belum berstatus musafir)

Ketika hendak berangkat, berarti kita masih berada di daerah di mana kita muqim.

Anas bin Malik Ra. berkata : Rasulullah SAW jika berangkat sebelum tergelincir matahari (sebelum masuk waktu dzuhur) mengakhirkan dzuhurnya hingga ashar, kemudian turun dan menyatukan dzuhur dengan ashar (jama’ takhir) sedangkan jika berangkat setelah tergelincir matahari (sudah masuk waktu dzuhur) maka sebelum berangkat sholat dzuhur dahulu lalu berangkat” (H.R. Bukhari Muslim).

Dari Mua’dz bin Jabal r.a. “Rasulullah s.a.w. pada perang Tabuk, ketika matahari telah tergelincir sebelum beliau berangkat (sudah masuk waktu dzuhur), maka beliau menjamak antara shalat zuhur dan ashar (jamak taqdim). Dan jika beliau berangkat sebelum matahari tergelincir (belum masuk dzuhur), maka beliau mengundurkan shalat zuhur sehingga beliau singgah untuk shalat Ashar (lalu mengerjakan keduanya dengan jamak ta`khir). Demikian pula ketika shalat maghrib, apabila matahari terbenam sebelum beliau berangkat (sudah masuk maghrib), maka beliau menjamak antara maghrib dan isya (dengan jamak taqdim), dan jika beliau berangkat sebelum matahari terbenam (belum masuk maghrib) maka beliau mengakhirkan shalat maghrib hingga beliau singgah pada untuk shalat isya, kemudian beliau menjamak keduanya (dengan jamak ta`khir).” (H.R. Abu Daud no. 1220, At-Tirmizi no. 553, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Misykah no. 1344)

Maka berdasarkan hadits di atas, jika kita belum berangkat, tidak boleh menjama’ sholat. Misalnya Anda bermuqim di Jakarta. Ketika hendak berangkat ke Bandung, telah masuk waktu dzuhur. Kemudian Anda memutuskan untuk sholat dzuhur lebih dahulu, maka tidak boleh sholat dzuhur-nya di jama’ dengan sholat ashar. Jadi sholat dzuhur-nya tetap seperti biasa ( 4 roka’at), sedangkan sholat ashar-nya nanti di Puncak secara qoshor.

Namun ada yang berpendapat jika Anda sudah keluar dari rumah, namun belum sampai di tempat tujuan, maka boleh menjamak sholat. Misalnya hendak berangkat ke Bandung, lalu mampir dulu di Kantor. Maka Anda boleh menjama’ sholat dzuhur dan ashar di kantor tersebut, walaupun belum keluar dari kota Jakarta.

c. Ketika Dalam Perjalanan Atau Selama di Kota Tujuan (berstatus musafir)

Berdasarkan hadits berikut :

Anas bin Malik Ra. berkata : Rasulullah s.a.w. jika berangkat sebelum tergelincir matahari (sebelum masuk waktu dzuhur) mengakhirkan dzuhurnya hingga ashar, kemudian turun dan menyatukan dzuhur dengan ashar (jama’ takhir) sedangkan jika berangkat setelah tergelincir matahari (sudah masuk waktu dzuhur) maka sebelum berangkat sholat dzuhur dahulu lalu berangkat” (H.R. Bukhari Muslim).

Jelas bahwa jika kita bepergian (berstatus musafir) maka kita boleh menjama’ sholat kita, baik jama’ taqdim maupun jama’ takhir, tergantung situasinya. Namun dalam hadits di atas tidak dijelaskan apakah Rasulullah disamping menjama’ juga meng-qoshor sholatnya ?

“Bilal Adzan dengan satu kali adzan, kemudian iqamah lalu sholat dzuhur, dilanjutkan dengan iqamah lalu sholat ashar. Dan beliau tidak mengerjakan sholat apapun di antara kedua sholat tersebut” (H.R. Ibnu Madjah, Ad-Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi)

“Tatkala sampai di Muzdalifah, Rasulullah sholat dengan menjama’ maghrib dan isya’ dengan cara satu kali adzan dan dua kali iqomah. Beliau tidak bertasbih di antara kedua sholat tersebut lalu Rasulullah tertidur lelap hingga fajar” (H.R. Abu Dawud & Ibnu Jarud)

Begitu juga dua buah hadits yang menerangkan sholat jama’ selama wuquf di arofah serta di Muzdalifah, tidak menyebutkan apakah Rasulullah disamping menjama’ juga meng-qoshor ?

Baiklah kita tinjau  hadits lainnya :

“Haritsah bin Wahb Al-Khuza’i Ra. berkata : Nabi SAW telah sholat bersama kami di Mina, sedangkan kami sebenarnya punya waktu sebanyak-banyaknya serta dalam keadaan aman, (namun) hanya sholat dua rokaat saja (qoshor)” (H.R. Bukhari Muslim)

“Anas Ra. berkata : Kami bepergian bersama Nabi s.a.w. dari Madinah menuju Mekkah, maka beliau selalu sholat qoshor dua rokaat sehingga kembali ke Madinah. lebih lanjut Yahya bin Abi Ishaq bertanya kepada Anas : “Berapa lama kamu tinggal di Mekkah ?” Dijawab : “sepuluh hari”.  (H.R.  Bukhori Muslim)

Sebaliknya dua hadits di atas menjelaskan bahwa selama Rasulullah di Mina atau selama di Mekkah Rasulullah meng-qoshor sholatnya karena berstatus musafir. Namun tidak dijelaskan apakah disamping meng-qoshor juga menjama’ sholatnya.

Jadi kita menghadapi suatu situasi dimana ada hadits yang menerangkan bahwa ketika Rasulullah berstatus musafir, beliau menjama’ sholatnya tapi tidak dijelaskan apakah juga meng-qoshor, di sisi lain ada juga hadits yang menerangkan ketika Rasulullah berstatus musafir, beliau meng-qoshor sholatnya tapi tidak dijelaskan apakah pada saat itu beliau juga menjama’ sholatnya.

Tapi marilah kita berpikir, jelas dua macam hadits di atas sama-sama menceritakan kondisi ketika Rasulullah dalam keadaan musafir. Apabila dalam keadaan musafir tersebut, Rasulullah s.a.w. menjama’ sholatnya tapi tidak meng-qoshor, sementara di saat yang lain Rasulullah meng-qoshor tapi tidak menjama’ sholatnya, tentu kita akan bertanya, apa perbedaan status musafir Rasulullah s.a.w. yang satu dengan musafir yang lainnya ?

Maka kesimpulannya, yang paling mungkin dari fenomena di atas adalah : bahwa selama dalam status musafir, baik itu masih dalam perjalanan atau sudah sampai di tempat tujuan, Rasulullah s.a.w. sesungguhnya menjama’ sholatnya sekaligus meng-qoshornya. Hanya saja pada hadits yang satu, ditekankan cerita masalah menjama’ sholat, sedangkan di hadits yang lain, ditekankan cerita masalah meng-qoshor sholat. Tapi sebenarnya yang dilakukan adalah jama’ qoshor.

Walaupun demikian, kami berkeyakinan boleh saja Anda menjama’ sholat tanpa meng-qoshor, dan boleh juga meng-qoshor tapi tidak dijama’. Namun pendapat yang lebih kuat adalah menjama’ dan meng-qoshor (jama’ qoshor).

d. Bepergian Pulang (Berstatus Musafir atau Muqim)

Jika Anda hendak berangkat menuju kota tempat Anda bermukim, tapi ketika berangkat, belum masuk waktu sholat. Jika Anda sholat di tengah perjalanan pulang (belum sampai di kota tempat tinggal Anda) maka status Anda masih musafir sehingga boleh menjama’ dan meng-qoshor sholat. Tapi jika Anda menunda sholat sampai Anda tiba di kota tempat tinggal Anda, berarti status Anda bukan musafir lagi, melainkan muqim. Untuk itu Anda masih boleh menjama’ sholat, tetapi tidak boleh meng-qoshornya.

“Dari Abdullah bin Abbas r.a. berkata : “Rasulullah s.a.w. biasa menjamak antara zuhur dan ashar jika safar. Beliau juga menjamak antara maghrib dan isya.(H.R. Al-Bukhari no. 1107)

Shalat Sunnah Selama Safar

Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Usamah bin Zaid berkata; aku bertanya kepada Thawus tentang subhah (shalat tathawwu’) ketika safar, ia berkata; Al Hasan bin Muslim bin Yannaq sedang duduk, kemudian berkata sedangkan Thawus mendengar; Telah menceritakan kepada kami Thawus dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; “Rasulullah s.a.w. mewajibkan shalat ketika muqim dan safar, sebagaimana kamu ketika muqim melaksanakan shalat sunnah sebelum dan sesudahnya maka shalatlah ketika safar sebelum dan sesudahnya.” Suatu ketika Waki’ berkata; “shalatlah (shalat Sunnah) ketika safar.” (H.R. Ahmad No. 1960)

Namun dalam hadits lainnya diceritakan bahwa Rasulullah s.a.w. tidak pernah shalat sunnah selama safar

Dan berkata, ‘Abdullah bin ‘Umar r.a.: “Aku melihat Nabi s.a.w. jika perjalanan mendesak, Beliau menangguhkan shalat Maghrib, kemudian Beliau mengerjakan tiga raka’at lalu salam. Kemudian diam sejenak lalu mengerjakan shalat ‘Isya’ dengan dua raka’at lalu salam. Beliau tidak bertasbih (mengerjakan shalat sunnah) setelah shalat ‘Isya’ hingga Beliau bangun di penghujung malam“. (H.R. Bukhari No. 1029)

Dari Abdullah bin Umar r.a. “Aku melihat Rasulullah s.a.w. jika beliau tergesa-gesa dalam perjalanan, beliau menangguhkan shalat maghrib dan menggabungkannya bersama shalat isya”.Salim (anak Ibnu Umar) berkata, “Dan Abdullah bin Umar r.a.  juga mengerjakannya seperti itu bila beliau tergesa-gesa dalam perjalanan. Beliau mengumandangkan iqamah untuk shalat maghrib lalu mengerjakannya sebanyak tiga raka’at kemudian salam. Kemudian beliau diam sejenak lalu segera mengumandangkan iqamah untuk shalat isya, kemudian beliau mengerjakannya sebanyak dua rakaat kemudian salam. Beliau tidak menyelingi di antara keduanya (kedua shalat yang dijamak) dengan shalat sunnah satu rakaatpun, dan beliau juga tidak shalat sunnah satu rakaatpun setelah isya hingga beliau bangun di pertengahan malam (untuk shalat malam).” (H.R. Al-Bukhari no. 1109)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman berkata, telah menceritakan kepada saya Ibnu Wahb berkata, telah menceritakan kepada saya ‘Umar bin Muhammad bahwa Hafsh bin ‘Ashim menceritakan kepadanya berkata; “ Ibnu ‘Umar r.a. mengadakan perjalanan lalu berkata: “Aku pernah menemani Nabi s.a.w. dan aku tidak melihat Beliau melaksanakan shalat sunnah dalam safarnya”. Dan Allah subhanahu wata’ala telah berfirman: “Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”. (QS. Ahzab 21). (H.R.Bukhari No. 1037)

bersambung jilid 2…


[1] H. Sulaiman Rasjid. Fiqih Islam. Atthahiriyyah Jakarta. Cet. XVII Hal 119

[2] Hadits No. 401 dalam kitab Alu’lu wal Marjan, Jilid I

[3] Dr. Salim Segaf Al-Djufri menyatakan bahwa satu farsakh = 5541m (5,5 Km)

[4] Dr. Yusuf Qardhawi. Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 1 Gema Insani Press Edisi 1 1995. Hal. 429

[5] Dr. Salim Segaf Al Djufri berpendapat 16 farsakh = 88,656 Km karena 1 farsakh = 5,541Km

[6] Dr. Yusuf Qardhawi. Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 1 Gema Insani Press Edisi 1 1995. Hal. 429

[7] Dr. Yusuf Qardhawi. Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 1 Gema Insani Press Edisi 1 1995. Hal. 429.

[8] Hadits No. 141. Kitab Alu’lu wal Marjan. Jilid I

JAMA’ DAN QOSHOR (JILID 1)

2 thoughts on “JAMA’ DAN QOSHOR (JILID 1)

  1. Laa Tansa says:

    komplit!

    trimakasih sekali ilmunya

  2. budi says:

    Terima kasih anda sudah membagi ilmu, namun keterangan anda tidak lengkap, anda hanya menjelaskan waktu dan syarat namun tata cara tidak dijelaskan, mohon di jelaskan tata caranya. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s