BINATANG PELIHARAAN

BINATANG PELIHARAAN

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Kita mengetahui bahwa binatang seperti kucing itu mandinya adalah dengan menjilati badannya. Sedangkan jika ia kencing atau buang air besar tidak lantas menjilati bekas kencingnya. Kadang di saat lain barulah ia menjilati seluruh badannya termasuk kemaluannya. Adapun kita sebagai manusia diajari untuk membersihkan najis dengan cara membasuh dengan air. Padahal kita tahu binatang membersihkan diri dari kencing hanya dengan menjilati badannya dan kemaluannya. Maka apakah itu bisa dikatakan bersih dari najis? Dan bagaimana jika binatang itu berlalu lalang di lantai rumah kita? Atau bahkan ke atas kursi dan melewati sajadah tempat kita shalat?

Maka khusus untuk binatang peliharaan berupa kucing, mereka tidaklah najis, karena kucing termasuk binatang yang lazim berkeliaran di dekat manusia dan di dalam rumah.

Dari Abu Qatadah r.a. Rasulullah saw bersabda perihal kucing -bahwa kucing itu tidaklah najis, ia adalah termasuk hewan berkeliaran di sekitarmu. (H.R. Imam Empat dan dianggap shahih oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)

Sebagian ulama berpendapat air liur kucing dan bekas jilatan kucing tidaklah najis berdasarkan hadits berikut ini :

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dari Malik dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah dari Humaidah binti ‘Ubaid bin Rifa’ah dari Kabsyah binti Ka’ab bin Malik bahwa Abu Qatadah menemuinya -kemudian menyebutkan suatu kalimat yang maknanya- aku menuangkan air wudlu kepada beliau, lalu datang seekor kucing yang menjilati atau meminum air wudlu tadi. Beliau lalu mendekatkan bejana tadi kepada kucing tersebut hingga kucing itu meminumnya. Kabsyah berkata, “Dia melihatku sedang memperhatikannya, maka ia berkata, ‘Apakah kamu takjub wahai anak perempuan saudaraku? ‘ Aku menjawab, ‘Ya’. Kabsyah berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda; Kucing itu tidak najis, ia adalah hewan yang ada di sekeliling kalian. (H.R. Nasa’i No. 67 dan 338)

Namun bagaimana dengan anjing? Kita tahu bahwa pada masa kini anjing juga banak yang dijadikan binatang peliharaan dan kesayangan, terlebih jenis anjing hias, dan anjing mini yang kecil dan lucu. Maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat. Umumnya pendapat umat Islam menganggap anjing adalah binatang yang najis, dan air liurnya pun najis. Berdasarkan hadits berikut ini :

Dari Abu Hurairah r.a. berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda : “Jika anjing minum dalam bejanamu maka harus dibasuh tujuh kali (H.R. Bukhari)

Dari Abu Hurairah r.a. berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda : “Jika anjing telah menjilat bejanamu maka harus dibasuh tujuh kali, salah satunya dengan tanah saat pertamanya atau terakhirnya (H.R. Muslim).

Namun ada yang berpendapat bahwa anjing tidaklah najis berdasarkan hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab telah menceritakan kepadaku Hamzah bin Abdullah bin Umar dia berkata; Ibnu Umar berkata; Saya pernah bermalam di masjid pada masa Rasulullah s.a.w., ketika itu saya masih muda belia dan bujangan. Sementara anjing-anjing kencing mondar mandir dalam masjid. Dan mereka (para sahabat) tidak ada yang memercikkan air sedikit pun terhadapnya. (H.R. Abu Daud No. 325) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Adapun yang dijelaskan pada hadits mencuci bejana itu adalah karena bejana itu adalah untuk minum dan makan, jika terkena jilatan anjing adalah najis mugholadoh (najis berat) sehingga harus dicuci dengan air tujuh kali bilas, dimana salah satunya disapu dengan tanah yaitu pada bilasan pertama atau terakhir. Sedangkan jika anjing itu menjilati benda lainnya yang bukan perangkat makan dan minum maka bisa ditolerir. Namun jika mau dibersihkan juga lebih baik.

Mazhab Hambali (Imam Ahmad bin Hanbal) menyebutkan bahwa air kencing dan kotoran hewan yang halal dagingnya, atau halal air susunya, tidak termasuk najis. Misalnya kotoran ayam, dalam pandangan mazhab ini tidak najis, karena daging ayam itu halal. Demikian juga kotoran kambing, sapi, kerbau, rusa, kelinci, bebek, angsa yang biasa dimakan oleh sebuah kaum dan secara syari’at memang halal dagingnya, maka air kencing dan kotorannya tidak najis. Sedankan anjing karena tidak halal dagingnya maka kencing dan kotorannya juga najis.

Imam Ahmad bin Hanbali mendasarkan diri pada hadits-hadits berikut :

Dulu, sebelum dibangun Masjid Nabawi, Nabi s.a.w. mendirikan shalat di kandang kambing.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Selain itu juga diriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. mengizinkan seorang shahabatnya minum air kencing unta sebagai obat untuk penyembuhan.

Beberapa orang dari kabilah ‘Ukel dan Urainah singgah di kota Madinah. Tidak berapa lama perut mereka menjadi kembung dan bengkak karena tak tahan dengan cuaca Madinah. Menyaksikan tamunya mengalami hal itu, Nabi s.a.w. memerintahkan mereka untuk mendatangi unta-unta milik Nabi yang digembalakan di luar kota Madinah, lalu minum dari air kencing dan susu unta-unta tersebut. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Mazhab Asy Syafi’iyah dan Al Hanafiyah menegaskan bahwa semua benda yang keluar dari tubuh hewan lewat kemaluan depan atau belakang adalah benda najis. Tidak perduli apakah hewan itu halal dagingnya, atau kah hewan itu tidak halal.

Maka dalam pandangan kedua mazhab ini, air kencing dan kotoran hewan, hukumnya najis. Dasarnya kenajisan air kencing dan kotoran hewan adalah sabda Rasulullah s.a.w. :

Nabi s.a.w. meminta kepada Ibnu Mas’ud sebuah batu untuk istinja’, namun diberikan dua batu dan sebuah lagi yang terbuat dari kotoran (tahi). Maka beliau mengambil kedua batu itu dan membuang tahi dan berkata,”Yang ini najis.” (H.R. Bukhari)

Madzhab Syafi’I dan Hanafi juga mendasarkan diri pada keumuman makna dari hadits ini :

Baju itu dicuci dari kotoran, kencing, muntah, darah, dan mani.” (H.R. Baihaqi dan Ad-Daruquthni)

Madzhab Syafi’I dan Hanafi berpendapat kalau pun ada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. pernah shalat di dalam kandang kambing, tidak berarti beliau shalat di atas tumpukan najis, melainkan menggunakan alas, sehingga tetap tidak terkena najis dan itupun dalam kondisi darurat di awal masa belum dibangun masjid.

Demikian pula mengenai hadits meminum kencing unta itu karena darurat di musim kemarau saja dimana mungkin saat itu di Madinah sedang mengalami kekeringan, dan seperti dimaklumi di padang pasir, pada musim biasa saja,  air sangat sulit didapat terlebih di musim kemarau.

Maka hal ini terserah pada kecenderungan hati kita saja untuk mengikuti pendapat salah satu madzhab di atas. Manapun yang Anda ikuti insya Allah termasuk tegak di atas sunnah karena masing-masing memiliki pijakan dan metodologi sendiri dalam mengambil keputusan fiqih. Secara pribadi, menurut kami, pendapat madzhab Syafi’I dan Hanafi  lebih bersih dan higienis jika diukur dengan standar kehidupan modern saat ini. Hanya saja jika mengikuti Madzhab Syafi’I dan Hanafi, semua kencing dan kotoran binatang adalah najis termasuk kucing, ajing pudel, kelinci, ayam dan binatang peliharaan lain yang biasa disayang-sayang dan digendong-gendong. Wallahua’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s