PEMBAHASAN TUNTAS TENTANG ISBAL (JILID 2)

Isbal 02

PEMBAHASAN TUNTAS TENTANG ISBAL (JILID 2)

Oleh : Abu Akmal Mubarok

 

Demikian pula di masa Rasulullah s.a.w. dahulu. para raja dan bangsawan di daerah Jazirah Arabia pun demikian pula terbiasa memanjangkan kainnya, jubahnya atau selendangnya untuk menunjukkan kemegahan, kebesaran, derajatnya yang lebih tinggi dari rakyat jelata, maka jelas memanjangkan kain pada umumnya diniatkan untuk kesombongan.

Hal ini bisa kita lihat pada hadits Abu Hurairah r.a. berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Mu’adz; Telah menceritakan kepada kami Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Muhammad yaitu Ibnu Ziyad ia berkata; “Aku pernah mendengar dari Abu Hurairah, ketika dia melihat seorang lelaki yang menyeret kainnya sambil menghentakkan kakinya ke tanah dan ternyata orang tersebut adalah seorang Raja Bahrain, dia berkata; ‘Amir datang! Amir datang! Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah tidak akan melihat kepada orang yang memanjangkan kainnya karena sombong.”  (H.R. Muslim No. 3893)

Pada hadits jelas dinyatakan keharaman sadl (memanjangkan kain hingga menyeret ke tanah) dikarenakan adanya illat kesombongan dan yang dilihat Abu Hurairah r.a. memanjangkan kainnya adalah Raja Bahrain. Bahkan ia tak hanya memanjankan kainnya melainkan juga sengaja berjalan dengan menghentakkan kaki agar diketahui kedatangannya. Maka jelas ini adalah sebuah kesombongan.

Perkataan Hadits Yang Terpotong

Ada beberapa fakta hadits dan atsar mengenai masalah isbal yang tidak secara jujur dikemukakan di hadapan publik (khususnya oleh orang-orang yang memutlakkan keharaman isbal). Dan beberapa hadits dan atsar juga terpotong (atau sengaja dipotong) pada bagian lanjutannya yang menunjukkan tidak haramnya isbal jika tidak ada niat karena sombong.

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Musa bin ‘Uqbah dari Salim bin Abdullah dari Ayahnya r.a.dari Nabi s.a.w.beliau bersabda: “Siapa yang menjulurkan pakaiannya (hingga ke bawah mata kaki) dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat kelak.” Lalu Abu Bakar berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah satu dari sarungku terkadang turun sendiri, kecuali jika aku selalu menjaganya?” lalu Nabi s.a.w.bersabda: “Engkau bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.” (H.R. Bukhari Kitab Al Libas Bab Man Jarra Izarahu min Ghairi Khuyala’ Juz. 18, Hal. 84 No. 5338, Ahmad, Juz. 12, Hal. 464, No. 5927)

Telah menceritakan kepada kami An Nufail berkata, telah menceritakan kepada kami Zuhair berkata, telah menceritakan kepada kami Musa bin Uqbah dari Salim bin Abdullah dari Bapaknya ia berkata, “Rasulullah s.a.w.bersabda: “Barangsiapa menjulurkan kainnya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya salah satu ujung pakaianku ada yang menjulur, padahal aku telah berjanji untuk tidak melakukannya!” beliau bersabda: ” kamu bukan termasuk orang yang melakukannya karena sombong.” (H.R. Abu Daud No. 3563) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Hujr ia berkata; telah menceritakan kepada kami Isma’il ia berkata; telah menceritakan kepada kami Musa bin Uqbah dari Salim dari Bapaknya berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa memanjangkan kainnya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, terkadang salah satu dari kainku turun, kecuali jika aku selalu menjaganya?” Lalu Nabi s.a.w.bersabda: “Engkau bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.” (An Nasa’i, Kitab Az Zinah Bab Isbal al Izar, Juz. 16, hal. 143, No. 5240.) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi telah memberitakan kepada kami Ismail yakni Ibnu Ja’far telah mengabarkan kepadaku Musa bin Uqbah dari Salim bin Abdillah bin Umar dari bapaknya, bahwa Nabi s.a.w.  bersabda: “Barangsiapa yang menjulurkan kainnya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya kelak pada hari kiamat.” Kemudian Abu Bakar berkata, “Salah satu dari ujung kainku selalu menjulur kecuali jika saya selalu mengawasinya!.” Nabi s.a.w.  lantas menjawab: “kamu bukanlah termasuk mereka yang berbuat demikian karena sombong.” (H.R. Ahmad No. 5927)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Zaid bin Aslam saya mendengar Ibnu Umar berkata, “Siapa yang menjulurkan kainnya melebihi mata kaki karena sombong, Allah tidak melihatnya pada hari kiamat.” Telah berkata Zaid, Ibnu Umar menceritakan kisah, Rasulullah s.a.w. pernah melihatnya memakai kain baru dan terdengar suara gemerisik kainnya. Kontan beliau berkata, “Siapakah ini?” Ibnu Umar menjawab, “Saya Abdullah bin Umar.” Beliau berkata, “Jika kamu benar-benar Abdullah bin Umar, angkatlah kainmu.” Ibnu Umar berkata, “Saya pun mengangkatnya.” Beliau berkata, “Tambah (angkat lagi).” Ibnu Umar berkata, “Saya pun mengangkatnya lagi hingga pertengahan betis.” Kemudian dia (Rasulullah s.a.w.) menoleh kepada Abu Bakar dan berkata, “Barangsiapa yang menjulurkan kainnya karena sombong, Allah tidak melihatnya kelak pada hari kiamat.” Lalu Abu Bakar r.a. berkata, “, kainku terkadang merosot.” Maka Nabi s.a.w.  bersabda: “Kamu tidaklah termasuk dari mereka.” (H.R. Ahmad No. 6056)

Telah menceritakan kepada kami ‘Attab telah menceritakan kepada kami Abdullah -yakni Ibnu Al Mubarak- telah mengabarkan kepada kami Musa bin ‘Uqbah dari Salim bin Abdullah dari Abdullah bin Umar ia berkata, “Rasulullah s.a.w.  bersabda: “Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, niscaya Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Abu lalu Bakar berkata, “Salah satu ikatan bajuku sering terlepas kecuali aku mengikatnya lagi? ‘ Maka Rasulullah s.a.w.bersabda: “Sesungguhnya engkau tidak termasuk orang yang melakukannya karena sombong.” Musa berkata, “Aku bertanya kepada Salim, “Apakah Abdullah menyebutkan, ‘Barangsiapa menjulurkan kain sarungnya? ‘ Salim menjawab, “Aku tidak mendengarnya menyebutkan kecuali ‘pakaiannya’.”  (H.R. Ahmad No. 5098)

Pada hadits-hadits di atas jelas sekali dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w. bahwa jika isbal itu tidak dilakukan karena niat sombong maka hal itu tidaklah mengapa. Namun hadits-hadits ini jarang ditampilkan kepada publik, dan jarang dikutip pada pembahasan masalah isbal. Kalaupun dikutip maka dipotong hanya sampai pada “Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat”. Sedangkan kelanjutannya pertanyaan Abu Bakar r.a. yang memanjangkan kain, maka itu tidak dikutip.

Hal ini sekaligus membantah sebagian kalangan yang mengatakan bahwa penyebutan “karena sombong” itu bukanlah menunjukkan illat (alasan / latar belakang diberlakukan hukum itu) melainkan karena isbal itu bersifat sombong. Padahal bagi orang yang jernih akalnya perkataan “karena sombong” jelas sekali menunjukkan “sebab” dan bukan menunjukkan “sifat”. Perkataan “karena” jelas merupakan jawaban dari pertanyaan “mengapa”. Maka “karena” jelas menunjukkan “sebab” dilarangnya isbal.

Pendapat Orang Yang Mengatakan Bahwa Sombong Di Situ Bukan illat Tapi Sifat

Sebagian orang mengatakan bahwa penyebutan “karena sombong” di situ bukanlah menunjukkan illat (alasan / latar belakang diberlakukan hukum) melainkan menunjukkan “sifat”. Maka mereka mengatakan memanjangkan kain itu dilarang karena dianggap bersifat sombong. Maka menurut mereka, perkataan “karena sombong” di sini bermaksud memberikan keterangan dan penekanan bahwa memanjangkan kain itu menunjukkan kesombongan

Ibnu Hajar Asqolani mengutip perkataan Ibnul ‘Arabi (termasuk ulama madzhab Maliki) berkata: “Tidak boleh bagi seorang laki-laki membiarkan pakaiannya hingga mata kakinya lalu berkata: “Saya  menjulurkannya dengan tidak sombong.” Karena secara lafaz, sesungguhnya larangan tersebut telah  mencukupi, dan tidak  boleh juga lafaz yang telah memadai itu ada yang menyelisihinya secara hukum, lalu berkata: “Tidak ada perintahnya,” karena ‘illat (alasannya) itu  tidak ada. Sesungguhnya itu adalah klaim yang tidak benar, bahkan memanjangkan ujung pakaian justru itu menunjukkan kesombongan sendiri. Selesai.”   (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Kitab Al Libas Bab Man Jarra Tsaubahu min Al Khuyala, Juz. 16, Hal. 336, No hadits. 5354. Lihat juga Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, Kitab Al Libas Bab Ar Rukhshah fi Al Libas Al Hamil …, Juz. 2, Hal. 114. Maktabah Ad Da’wah)

Jadi Ibnu ‘Arabi berpendapat sombong adalah sifat yang melekat pada isbal dan bukan merupakan illat (penyebab diberlakukannya hukum) larangan isbal.

Mereka yang menunjukkan bahwa sombong ini merupakan sifat dan bukan illat juga berdalil dengan hadits ini :

Telah menceritakan kepada kami Yazid, telah mengabarkan kepada kami Sallam bin Miskin dari ‘Aqil bin Thalhah, telah menceritakan kepada kami Abu Jurai Al Hujaimi ia berkata; Aku datang kepada Rasulullah s.a.w., lalu aku bertanya; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah satu kaum dari penduduk dusun, maka ajarkanlah pada kami sesuatu yang Allah Tabaraka wa Ta’ala akan memberikan manfaat buat kami!.” Beliau bersabda: “Janganlah meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun hanya dengan menuangkan ember airmu ke bejana orang yang membutuhkan air, dan sekalipun kamu berbicara dengan saudaramu dengan wajah berseri-seri, dan janganlah engkau menurunkan kain di bawah mata kaki (isbal) karena ia bagian dari sifat sombong, sementara Allah ‘azza wajalla tidak menyukai menyukai sifat sombong,.” (H.R. Ahmad No. 19716)

Maka sebenarnya hadits di atas adalah hadits dla’if, karena salah satu perawinya didiskriditkan (dijarh). Ibnu Hajar Asqolani mengatakan bahwa salah satu perawinya yaitu Salam bin Miskin bin Rabi’ah tertuduh beraliran qodariyah dan tertolak haditsnya.

Telah menceritakan kepada kami ‘Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami ‘Abidah Al Hujaimi dari Abu Tamimah Al Hujaimi dari Abu Jurai Jabir bin Sulaim ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Janganlah kamu sekali-kali mencaci seseorang, dan jauhilah olehmu isbal (menurunkan kain dibawah mata kaki), karena isbal adalah bagian dari kesombongan, karena Allah Azza wa Jalla sangat membencinya….” (H.R. Ahmad No. 19717)

Pada hadits di atas disebutkan karena isbal itu bagian dari kesombongan maka di sini sombong adalah kesan / sifat yang melekat pada isbal dan bukan sebab dilarangnya isbal. Namun hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah karena Ibnu Hajar Asqolani dan Adz Dzahabi mengatakan ‘Abidah Al Hujaimi atau Ubaidah adalah perawi majhul (tidak dikenal) ada pula yang mengatakan ia tabi’in yang tidak jumpa sahabat jadi sanadnya terputus.

Telah menceritakan kepada kami Abu Nadlr berkata; telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Fudlail dari Khalid Al Hadza` (bin Mihram) dari Abu Tamimah (Tharif bin Mujalad) dari seorang laki-laki dari kaumnya sesungguhnya dia mendatangi Rasulullah s.a.w. atau berkata; saya melihat Rasulullah s.a.w. didatangi oleh seorang laki-laki ….lalu orang itu masuk Islam, lalu berkata; ‘Berilah wasiat kepadaku Wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda kepadanya, ” Hindarilah isbal (menurunkan pakaian sampai menutupi mata kaki) dalam pakaian sesungguhnya itu merupakan bagian dari kesombongan. Sedang Allah Tabaroka Wa Ta’ala tidak menyukai orang yang sombong.” (H.R. Ahmad No. 16021)

Abu Tamimah adalah julukan bagi Tharif bin Mujalad, seorang tabi’in yang hidup di Basrah (Iraq). Hadits ini terputus pada  bagi Tharif bin Mujalad dan tidak jelas ia mendapat hadits ini dari siapa. Maka hadits ini tidak bersambung sampai pada Rasulullah s.a.w. Maka hadits ini jelas dla’if. Dan ulama sepakat bahwa hadits dla’if tidak bisa dijadikan dalil dalam perkara penetapan halal haram.

Maka dapat kita simpulkan bahwa hadits yan dijadikan dalil orang yang berpendapat bahwa perkataan “karena sombong” adalah merupakan sifat dari menurunkan kain adalah tidak kuat.

Jika sombong merupakan sifat dari isbal dan bukannya illat (alasan penyebab diberlakukannya larangan isbal), itu berarti menurunkan kain (isbal) itu adalah ciri adanya kesombongan. Maka  kapan pun dimanapun, isbal itu sudah pasti sombong. Namun hadits-hadits lainnya menyatakan bahwa ada beberapa kondisi isbal yang ternyata dibolehkan. Ini menunjukkan tertolaknya anggapan bahwa sombong adalah sifat yang melekat pada isbal.

Dibolehkan Isbal Pada Wanita ?

Semua hadits-hadits yang membicarakan pelarangan Isbal di atas bersifat umum dan tidak khusus ditujukan pada kaum laki-laki saja,walaupun konteks peristiwanya saat itu yang berbicara adalah Rasulullah s.a.w. dengan para sahabat yang notabene laki-laki.

Maka ketika Rasulullah s.a.w. berhadapan dengan kaum wanita, nampak jelas bahwa dibolehkan memanjangkan kain, karena jika mengikuti ketentuan memendekkan kain seperti laki-laki akan menyebabkan betis dan mata kaki mereka nampak.

Telah mengabarkan kepada kami Nuh bin Habib ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq ia berkata; telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa memanjangkan kainnya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya.” Ummu Salamah bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus dilakukan oleh para wanita dengan kain mereka?” Beliau menjawab: “Kalian boleh memanjangkannya sejengkal.” Ummu Salamah bertanya lagi, “Jika begitu, maka kaki mereka akan terbuka!” Beliau menjawab: “Kalian boleh menambahkan satu hasta dan jangan lebih.” (H.R. Nasa’i No. 5241)

Maka ada yang mengatakan bahwa kebolehan ini hanya khusus wanita saja. Namun kami mengatakan di sini sekali lagi bahwa hal ini menunjukkan kebolehan isbal itu karena tidak adanya kesombongan. Jika kesombongan itu bukanlah illat (sebab diberlakukannya hukum dilaranganya isbal) melaikan keterangan sifat yang melekat pada isbal maka itu berarti setiap isbal itu adalah sombong.

Kenyataannya pada mulanya Rasulullah s.a.w. melarang isbal pada wanita namun ketika para wanita keberatan terlihat mata kakinya, maka dibolehkan isbal. Hal ini menunjukkan bahwa tidak setiap isbal itu pasti kesombongan. Maka jika isbal tidak karena sombong dibolehka dan tidaklah mengapa. Sedangkan jika isbal itu diniatkan karena kesombongan, baik wanita maupun pria tetap tidak boleh.

Larangan Isbal Karena Pertimbangan Kebersihan Bukan Kesombongan

Telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Qurm dari Al Asy’ats dari bibinya, Ruhm dari pamannya, ‘Ubaidah bin Khalaf berkata; Aku tiba di Madinah, aku adalah pemuda yang bersarung dengan kain selimut kelabu, aku menyeretnya, seseorang menemuiku dan mencelaku dengan tongkatnya, ia berkata; “Ingat, bila kau angkat bajumu itu lebih membuatnya awet dan bersih.” Lalu aku menoleh ternyata dia adalah Rasulullah s.a.w.. Aku berkata; Wahai Rasulullah! ini hanya selimut kelabu. Beliau bersabda: “Meski hanya selimut kelabu, bukankah aku sebagai teladanmu.” Lalu aku melihat sarung beliau, ternyata sarung beliau berada diatas dua mata kaki, di bawah otot betis.” (H.R. Ahmad No. 22008)

Jika kita lihat hadits di atas menunjukkan bahwa isbal dilarang bukan lantaran kesombongan melainkan karena pertimbangan kebersihan. Pada mulanya Ubaidah bin Khalaf membantah : Ya Rasulullah ini hanyalah kain selimut kelabu (maksudnya tidak mungkin hal ini menunjukkan kesombongan). Namun Rasulullah s.a.w. mengajukan pertimbangan lain bahwa hal itu lebih membuat awet dan bersih. Maka sekali lagi ini menunjukkan tertolaknya anggapan bahwa sombong adalah sesuatu yang sudah pasti melekat pada isbal. Dan keberatan sahabat menyatakan bahwa ini hanyalah selimut kelabu menunjukkan kepahaman sahabat bahwa isbal pada dilarang karena sombong. Namun kali ini Rasulullah s.a.w. mengangkat kain sebagai hal mustahab (lebih disukai) bukan soal haram atau dosa, karena lebih awet dan lebih bersih.

Isbal Tidak Hanya Pada Celana Saja

Kebanyakan dari kita hanya mengetahui bahwa persoalan isbal (memanjangkan kain) hanya pada celana saja. Padahal ketika membicarakan masalah isbal, juga termasuk kain sarung, baju dan surban.

Telah menceritakan kepada kami Hannad bin As Sari berkata, telah menceritakan kepada kami Husain Al Ju’fi dari Abdul Aziz bin Abu Rawwad dari Salim bin Abdullah dari Bapaknya dari Nabi s.a.w., beliau bersabda: “Isbal (menjulurkan kain) itu ada pada sarung, baju dan surban. Barang siapa yang memanjangkan salah satu darinya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya kelak pada hari kiamat.” (H.R. Abu Daud No. 3571) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih

Telah menceritakan kepada kami Hannad berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak dari Abu Ash Shabbah dari Yazid bin Abu Sumayyah ia berkata; Aku mendengar Ibnu Umar r.a. berkata, “Apa yang Rasulullah s.a.w. sabdakan dalam (isbalnya) sarung maka juga berlaku pada gamis.” (H.R. Abu Daud No. 3572) Nashiruddin Al-Albani mengatakan sanadnya shahih

Perhatikanlah bahwa masalah isbal tidak pernah terlepas dari penyebutan illat (alasan diberlakukan hukum) pelarangan isbal yaitu karena ada kesombongan di dalamnya. Maka disebutkan dalam hadits di atas bahwa persoalan isbal tidak hanya masalah celana, melainkan juga kain sarung, selendang, baju bahkan surban. Oleh karena itu Imam Abu Hanifah (pendiri Madzhab Hanafi) dipersoalkan mantelnya bukan celananya

Berkata pengarang Al Muhith dari kalangan Hanafiyah,  dan diriwayatkan bahwa Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) memakai mantel mahal seharga empat ratus dinar, yang menjulur hingga sampai tanah. Maka ada yang berkata kepadanya: “Bukankah kita dilarang melakukan itu?” Abu Hanifah menjawab: “Sesungguhnya larangan itu hanyalah untuk yang berlaku sombong, sedangkan kita bukan golongan mereka.” (Imam Ibnu Muflih, Al Adab Asy Syar’iyyah, Juz. 4, Hal. 226. Mawqi’ Al Islam)

Namun Abu Hanifah lebih memahami agama dan mewarisi ilmu dari kalangan tabi’in sehingga memahami bahwa dilarangnya isbal karena adanya illat kesombongan sehingga beliau mengatakan bahwa ia memakainya bukan karena sombong.

Sedangkan dalam hadits-hadits tentang kainnya Abu Bakar r.a. yang isbal menjadi bukti bahwa yang dipersoalkan sebenarnya bukan soal melebihi mata kaki nya, melainkan selama di situ terdapat kesombongan maka hal itu menjadi haram. Dan Rasulullah s.a.w. tidak menganggap Abu Bakar kainnya melebihi mata kaki itu karena sombong.

Dari sini kita dapat melakukan qiyas, analogi pada masalah lainnya bahwa memanjangkan lengan baju, seperti kebiasaan raja-raja dan kaisar serta bangsawan Tiongkok, atau pembesar Sikh dan India dengan surbannya yang lebay, atau bagian kain lainnya jika didasari niat karena bermegahan dan kesombongan (sebagaimana tradisi kaum bangsawan dan raja-raja jahiliyah pada umumnya) maka hal itu adalah haram atau minimal makruh.

Imam Qadhi ‘Iyadh  berkata :Berkata para ulama: “Secara umumnya memakruhkan setiap hal yang melebihi dari kebutuhan dan berlebihan (isrof) dalam pakaian, baik berupa panjangnya  dan lebarnya. Wallahu A’lam.” (Al Minhaj Syarh  Shahih Muslim,  Kitab Al Libas Waz Zinah Bab Tahrim Jarr ats Tsaub wa Bayan Haddi maa Yajuz …, Juz. 7, Hal. 168)

Perkataan Sahabat Yang Membolehkan Isbal

Pada sebuah atsar dari Umar bin Khattab r.a. yang diriwayatkan oleh Bukhari kita dapati isyarat bahwa memakai kain di bawah lutut itu boleh :

Bertanya pula seorang laki-laki kepada Umar Ibnul Khaththab r.a. mengenai shalat dengan sehelai pakaian. Umar bin Khattab r.a. berkata, “Kalau Allah memberi kamu kelapangan (kekayaan), manfaatkanlah kelapangan itu dengan memakai pakaian yang layak. Shalatlah dengan memakai sarung dan baju, memakai sarung dan kemeja, celana dan mantel, atau celana agak pendek dan kemeja.” Aku kira beliau juga mengatakan, “Boleh mengenakan kain di bawah lutut dan selendang” (Atsar Riwayat Bukhari)

Pendapat Ulama Yang Membolehkan Isbal Jika Bukan Karena Sombong

Tirmidzi berkata : “Para ulama berselisih pendapat tentang hukum sadl (menurunkan kain hingga menyentuh bumi) dalam shalat, sebagian mereka memakruhkannya, mereka mengatakan, “Itu adalah perbuatan orang-orang yahudi.” Sedangkan sebagian ulama yang lain hanya memakruhkan hal itu (tidak mengharamkan) jika ia tidak mempunyai kain kecuali hanya satu. Adapun jika ia melakukan sadl di atas kemeja maka tidak apa-apa.” Ini adalah pendapat yang diambil oleh Imam Ahmad. Sedangkan bin Al Mubarak memakruhkan sadl dalam shalat.”

Para ulama terbagi menjadi tiga kelompok dalam memaknai hadits-hadits di atas. Ada yang mengharamkan isbal secara mutlak, baik dengan sombong atau tidak. Ada yang memakruhkan. Ada pula yang membolehkan jika tanpa kesombongan.

Berkata Syaikh Shalih Al-Munajid:   “Dan Jumhur (mayoritas) Ulama dari kalangan empat madzhab tidak mengharamkannya.”

Berkata pengarang Al Muhith dari kalangan Hanafiyah,  dan diriwayatkan bahwa Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) memakai mantel mahal seharga empat ratus dinar, yang menjulur hingga sampai tanah. Maka ada yang berkata kepadanya: “Bukankah kita dilarang melakukan itu?” Abu Hanifah menjawab: “Sesungguhnya larangan itu hanyalah untuk yang berlaku sombong, sedangkan kita bukan golongan mereka.” (Imam Ibnu Muflih, Al Adab Asy Syar’iyyah, Juz. 4, Hal. 226. Mauqi’ Al Islam)

Kemudian Abu Hasan Al-Maliki (Madzhab Maliki) mengatakan : “Berkata Al-Mushannif (penyusun kitab Kifayatutj Thalib, yaitu Ali bin Ahmad Ash Sha’idi Al ‘Adawi) menunjukkan kebolehan bagi laki-laki menjulurkan pakaiannya atau kain sarungnya jika dia tidak bermaksud sombong atau ‘ujub. (Hasyiyah Al ‘Adawi, 8/111. Mawqi’ Al Islam)

Imam Ahmad bin Hambal (Mandzhab Hambali) berkata: “Menjulurkan kain sarung, dan memanjangkan selendang (sorban) di dalam shalat, jika tidak ada maksud sombong, maka tidak mengapa.” (Imam Al Bahuti, dalam Kasysyaf Al-Qina’,  Juz 2 hal 304 dan Imam Ar-Rahibani, dalam Mathalib Ulin Nuha, Juz 2 hal 363)

Dalam kesempatan lain Madzhab Hambali mengatakan : “Maka, sesungguhnya menjulurkan pakaian karena ada kebutuhan seperti menutupi betis yang buruk, tanpa adanya sombong, maka itu mubah (boleh).” (Al-Iqna’ fii Fiqh Al Imam Ahmad bin Hambal, Juz 1 hal 91. Darul Ma’rifah, Beirut, Libanon)

Sedangkan dari Madzhab Syafi’I berkata Imam Nawawi : “Tidak boleh isbal di bawah mata kaki jika sombong, jika tidak sombong maka makruh (dibenci). Secara zhahir hadits-hadits yang ada memiliki pembatasan (taqyid) jika menjulurkan dengan sombong, itu menunjukkan bahwa pengharaman hanya khusus bagi yang sombong.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Juz. 7, Hal. 168)

Di tempat lain Ibnu Hajar Asqolani mengutip perkataan Imam Nawawi berkata : “Isbal dibawah mata kaki dengan sombong (haram hukumnya), jika tidak sombong maka makruh. Demikian itu merupakan pendapat Asy Syafi’i tentang perbedaan antara menjulurkan pakaian dengan sombong dan tidak dengan sombong. Dia berkata: Disukai memakai kain sarung sampai setengah betis, dan boleh saja tanpa dimakruhkan jika dibawah betis sampai mata kaki, sedangkan di bawah mata kaki adalah dilarang dengan pelarangan haram jika karena sombong,  jika tidak sombong maka itu tanzih (makruh). Karena hadits-hadits yang ada yang menyebutkan dosa besar bagi pelaku isbal adalah hadits yang maknanya mutlak/umum  (lafadz ‘am), maka wajib mentaqyidkan (membatasi) hadits yang umum tersebut bahwa isbal yang dimaksud adalah haram jika  disertai khuyala (sombong). Selesai.” (Imam Ibnu Hajar Asqolani, dalam Fathul Bari, Kitab Al Libas Bab Man Jarra Tsaubahu min Al Khuyala, Juz. 10, Hal. 263. Darul Fikr. Lihat juga Imam Ash Shan’ani, Subulus Salam, Kitab Al Jami’ Bab Laa Yanzhurullah ila man Jarra Tsaubahu Khuyala’, Juz. 4, Hal. 158. Cet. 4, 1960M-1379H. Maktabah Mushtafa Al Baabi Al Halabi. Lihat juga Imam Asy-Syaukani, Nailul Authar, Juz. 2, Hal. 114. Maktabah Ad Da’wah )

Ibnu Hajar Asqolani juga mengutip perkataan Ibnu Abdil Barr: “Bisa difahami bahwa menjulurkan pakaian bukan karena sombong tidaklah termasuk dalam ancaman hadits tersebut, hanya saja memang menjulurkan gamis dan pakaian lainnya, adalah tercela di segala keadaan.”  (Ibnu Hajar Asqolani dalam Fathul Bari, Juz. 10, Hal. 263. Darul Fikr)  

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa soal isbal haram atau tidak itu bergantung niat orang yang melakukannya :

Dan adapun suatu perbuatan secara dzohirnya, maka d beri pahala melakukannya ketika disertai niat yang baik dan diberi siksa dengan melakukannya ketika di barengi niat yg jelek, begitu juga berpakaian,“Siapa saja yang memakai pakaian yang indah dalam rangka menampakkan nikmat Allah yang dia dapatkan dan dalam rangka memanfaatkan pakaian untuk taat kepada Allah maka orang seperti ini mendapat pahala. Sedangkan orang yang memakai pakaian karena niat membanggakan dan menyombongkan diri maka dia berdosa. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. Oleh karena itu Allah mengharamkan perbuatan memanjangkan ujung kain dengan niat semisal ini (yakni menyombongkan diri). Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda, “Barang siapa yang menyeret ujung kainnya karena sombong maka Allah tidak akan memandangnya pada hari Kiamat nanti”Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, salah satu sisi sarungku itu melorot jika tidak aku ikat dengan baik”. Nabi bersabda, “Wahai Abu Bakar, engkau bukan termasuk orang yang melakukannya karena kesombongan”. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim Nabi bersabda, “Ada seorang lelaki yang kainnya terseret di tanah karena kesombongan, Allah menenggelamkannya ke dalam bumi. Dia meronta tersiksa di dalam bumi hingga hari Kiamat terjadi”. (Majmu Fatawa Juz 22 Hal 138)

Syaikh As-Safaroini berkata : “Tak ada keberatan dengan hal itu (yaitu isbal)” (Gidzaul Al-Bab Juz 2 hal 215)

Syaikh Syamsuddin Ibnu Muflih berkata : Tak adan pengharaman dan juga tidak tidak ada keberatan dan penafikan (pada  ibnu taimiyah dalam masalah isbal)(Al-Adab As-sariyah Juz 3 hal 493)

Ibnu Qudamah berkata: “Dimakruhkan isbal (memanjangkan) gamis, izar (sarung), dan celana panjang, karena Nabi s.a.w. memerintahkan menaikannya. Tetapi jika isbal dengan sombong maka hal itu adalah haram.” (Imam Ibnu Qudamah, Al Mughni, Al Fashlu Ats Tsalits Maa Yakrahu fi Ash Shalah, Juz. 3, hal. 21)

Imam Az Zarqani berpendapat : Disebutkan dalam Al Mawahib: “Apa saja dalam hal ini yang termasuk dilakukan dengan cara  sombong maka tak ragu lagi haramnya, dan apa saja yang dilakukan karena itu adalah hal yang telah menjadi adat maka tidak haram, selama tidak sampai menjulurkan ujung yang dilarang. Al Qadhi ‘Iyadh menukil dari para ulama bahwa dimakruhkan setiap tambahan yang melebihi kebiasaan dalam pakaian, semisal pakaian yang melebihi dalam panjang dan lebarnya.” (Imam Az Zarqani, Syarh ‘Ala Al Muwaththa, 1/273)

Jadi, makruhnya itu adalah jika ‘lebih’ dan ‘tambahan’ itu diluar kebiasaan (ghoiru ma’yang terjadi lazimnya di masyarakat dan cenderung menarik perhatian (. Nah, zaman ini dan dibanyak negeri muslim,   umat Islam  terbiasa dengan isbal sebatas mata kaki lebih sedikit. Bisa jadi ini juga telah menjadi bagian dari kebiasan yang dimaksud, dan makruh jika melewati kebiasaan itu.

Namun ada pula yang mengatakan bahwa standar kebiasaan tersebut hanyalah kebiasaan yang terjadi masa Nabi s.a.w.,bukan selainnya.

Pendapat Ulama Yang Mengharamkan Atau Memakruhkan Isbal Secara Mutlak

Walaupun demikian, sebagian ulama yang berpendapat mengharamkan isbal secara umum dan tidak menolak ketiadaan kesombongan untuk membolehkan isbal diantaranya yaitu :

Ulama Saudi Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berfatwa : Banyak hadits-hadits yang semakna dengan ini, yang menunjukkan haramnya isbal secara mutlak, walaupun pemakainya mengira bahwa dia tidak bermaksud untuk sombong, karena hal itu menjadi sarana menuju kepada kesombongan, selain memang hal itu merupakan israf (berlebihan), dapat mengantarkan pakaian kepada najis dan kotoran. Ada pun jika memakainya dengan maksud sombong perkaranya lebih berat lagi dan dosanya lebih besar. (Al Buhuts Al islamiyah, 33/113)

Ulama Kuwait memakruhkan isbal secara mutlak di semua kondisi baik sombong maupun tidak :

Maka, menjulurkan pakaian dalam shalat –dengan makna dijulurkan begitu saja tanpa dipakai- adalah makruh menurut mayoritas ahli fiqih secara mutlak, sama saja baik yang dengan sombong atau tidak. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 3/144)

Sedangkan ulama India mengatakan dalam Fatawa Al Hindiyah mengatakan :

 “Isbal-nya kain seorang laki-laki di bawah mata kaki, jika dia tidak sombong, maka hukumnya makruh tanzih demikian di sebut dalam Al Gharaib.” (Fatawa Al Hindiyah, Juz. 43, Hal. 183)

Demikian pula Ulama Pakistan seperti Abul Hasan Muhammad bin Abdil Hadi As Sindi juga memakruhkan baik sombong maupun tidak, hanya saja beliau membedakan jika ada kesombongan maka larangannya lebih keras. Terhadap makna hadits, “tidak ada hak bagi kain terhadap dua mata kaki”:  “Yaitu kedua mata kaki tidak boleh tertutup dengan kain, dan zahirnya kalimat ini merupakan pembatasan, jika melakukannya dengan tidak sombong. Ya, jika sampai lebih bawah dari tempatnya (mata kaki) dengan sombong maka perintah menaikannya lebih keras, dan jika tidak dengan sombong maka perintahnya lebih ringan.” (Imam Abul Hasan As-Sindi, Syarh Sunan An Nasa’i, Kitab Az Zinah Bab Maudhi’ Al Izar, Juz. 7, Hal. 68, Hadits. No 5234. Dan juga dalam Hasyiah As Sindi ‘Ala Ibni Majah, Kitab Al Libas bab Maudhi’ al Izar Aina Huwa, Juz. 6, Hal. 493, No hadits. 3562.)

Kesimpulan : Apakah Pakaian Masa Kini Jika Isbal Merupakan Kesombongan?

Kami berpendapat : Jika pada di Madinah kala itu masih banyak kaum muslimin yang miskin yang hanya memiliki satu kain sarung sehingga memakai pakaian dengan cara mengikatkan pada leher atau pundaknya hingga hanya menutupi sampai lutut atau di atas lutut, maka wajar jika menjulurkan kain di bawah mata kaki dikhawatirkan terselip kesombongan, disamping menimbulkan kesenjangan sosial dengan si miskin.

Adapun pada masa kini, memakai celana panjang sampai mata kaki atau lebih, adalah sesuatu yang umum dan dipakai kebanyakan orang dewasa. Hanya anak-anak yang memakai celana pendek. Bahkan pengemis dan orang miskin sekalipun pada masa kini tidak ada yang memakai celana hanya sampai lutut disebabkan karena kemiskinannya. Maka tak ada kekhawatiran terselip kesombongan pada celana yang melewati mata kaki.

Sebagaimana Imam Abu Hanifah yang ditanya mengenai 2 hal yang bersifat lebih : yaitu harga mantelnya yang mahal serta panjangnya yang lebih, namun beliau berkata tidak masalah jika tidak karena sombong. Menurut hemat kami, karena situasi pada masa Imam Abu Hanifah berbeda dengan masa Rasulullah s.a.w dimana penduduk Madinah ketika itu mayoritas miskin. Jika dalam kondisi sosial seperti itu, maka mantel yang mahal menjadi masalah. Namun pada masa selanjutnya peradaban kekhalifahan Islam telah berkembang dan kemakmuran mulai merambah kehidupan masyarakat muslim, maka mantel mahal yang dikenakan Abu Hanifah tidak lah menjadi masalah.

Dengan cara berfikir yang serupa, kita bisa membedakan situasi di Indonesia dengan di New York atau Kota-Kota di Eropa misalnya, dimana di sana mantel musim dingin yang tebal dan mahal adalah hal yang lazim. Bahkan pengemis dan gelandangan di jalanan pun memakai mantel panjang yang tebal. Jika diukur dengan harga di Indonesia, mantel seperti itu pasti harganya mahal. Namun di negara-negara yang mengalami 4 musim, mantel tebal dan panjang adalah busana mutlak,karena dalam musim salju, Anda bisa mati kedinginan jika tidak mengenakan mantel seperti itu. Tentu saja dalam masyarakat yang demikian,mantel yang mahal dan panjang bukanlah sesuatu yang berlebihan (isrof).

Namun kami menghormati pendapat ulama yang mengharamkan (atau memakruhkan) isbal secara mutlak. Telah mafhum dikalangan ulama fiqih bahwa ijtihad seorang ulama tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad ulama lainnya sepanjang ia menempuh metoda istinbath yang bisa dipertanggung jawabkan. Demikian pula kita sebagai orang awam yang belum mampu berijtihad maka kita boleh memilih untuk taqlid (mengikut) pada salah satu ijtihad ulama tadi, maka taqlidnya seorang muqolid tak bisa dibatalkan atau disalahkan oleh taqlidnya seorang muqolid lain yang melakukan taqlid pada ulama yang berbeda pendapatnya.

Tidak Hanya Celana, Semua Busana Kesombongan Adalah Haram

Walaupun demikian, kami sepakat memakruhkan (bahkan karlau perlu mengharamkan) busana berlebihan dan bermegahan yang masih bisa kita saksikan dilakukan oleh para para bangsawan dan raja-raja (terutama di pemerintahan bercorak monarki) misalnya dengan memanjangkan ekor baju (walaupun bukan celana). Atau misalnya kita dengar ucapan salah satu selebritis Indonesia yang berniat membuat pakaian pengantin yang memiliki ekor sepanjang 60 meter (walaupun akhirnya tidak jadi).

Hampir dipastikan tujuan mode pakaian seperti ini untuk menunjukkan kemegahan dan kemewahan. Demikian pula memakai jubah dan kain belakang yang diikat ke leher, (seperi batman, zorro, dan superman) menunjukkan kehebatan, kesaktian, kedigdayaan. Demikian pula pakaian pengantin barat (dan orang timur yang ke-barat-barat-an) Tidak dipungkiri lagi hal ini ditujukan untuk kesombongan, kemegahan dan kemewahan.

Dari Salim bin Abdullah dari Bapaknya dari Nabi s.a.w., beliau bersabda: “Isbal (menjulurkan kain) itu ada pada sarung, baju dan surban. Barang siapa yang memanjangkan salah satu darinya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya kelak pada hari kiamat.” (H.R. Abu Daud No. 3571) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih

Telah menceritakan kepada kami Hannad berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak dari Abu Ash Shabbah dari Yazid bin Abu Sumayyah ia berkata; Aku mendengar Ibnu Umar r.a. berkata, “Apa yang Rasulullah s.a.w. sabdakan dalam (isbalnya) sarung maka juga berlaku pada gamis.” (H.R. Abu Daud No. 3572) Nashiruddin Al-Albani mengatakan sanadnya shahih

Maka menurut kami, hal seperti di atas pada masa sekarang masih haram (atau makruh) ditiru oleh kaum muslimin karena termasuk isrof (berlebihan) dan mubadzir disamping juga menciptakan kesenjanga sosial karena masyarakat kita banyak yang miskin dan kekurangan pakaian layak. Mala menurut kami isbal bukanlah masalah di bawah mata kaki atau di atas mata kaki, melainkan dimana di situ terselip tujuan kesombongan baik pada surban, mantel, selendang, gamis, lengan baju, jubah, ekor gaun, dll yang sengaja dipanjangkan melebihi kebiasaan masyarakat umum, bersifat tidak perlu, dan mubadzir. Wallahua’lam.

6 thoughts on “PEMBAHASAN TUNTAS TENTANG ISBAL (JILID 2)

  1. Abu Dihyah says:

    bismillah. mau tnya, apkh pnulis artikel ini seorang ulama mujtahid? kok mmbandingkan pndapatx yg pnuh kebodohan dg pndpat ulama besar? kami sja yg pnuntut ilmu dpt mlihat betapa lemahnya hujjah pnulis ini. smua hdits yg mnyebutkn isbal krn smbong ancamanx adl tdk akn dlihat oleh Allah & itu artix adzabx lbih keras dripada skedar msuk nraka. nah, bgaimna dg hdits yg mnyebutkn bhwa apa sja yg brada d bwh mata kaki dari kain mka tmpatnya d nraka? hdits in tdk mmpersyaratkn smbong lho…! trus, klau abu bakar rodhiyallahu ‘anhu dktakan tdk smbong mmg btul karena bliau slalu mnjagax agar tdk mnjulur kainx. nah, ut yg isbal hri ini, apkh slalu mnjaga agar tdk isbal sperti abu bakar yg mnjaga salah satu kainnya? (ingat…! hnya 1 kain bliau lho)

  2. Bismillah wal hamdulillah.. yang Anda katakan pendapat penuh kebodohan itu mudah2an adalah kami yang faqir ilmu ini. Adapun jika yang Anda katakan bodoh adalah semua orang2 yang berbeda pendapatnya dengan Anda dalam masalah fiqih isbal ini maka mudah2an Anda bisa membaca lebih teliti bahwa dalam masalah isbal ini ulama berbeda pendapat (ikhtilaf) dan para ulama tidak membagi nya menjadi pendapat yang bodoh dan pendapat yang tidak bodoh. Para ulama tidak pernah ada yang menjuluki seperti itu. Kami memang bukan ulama mujtahid oleh karena itu kami hanya menyajikan secara fair dan jujur berbagai pendapat para ulama. Dan apabila kami memilih atau cenderung pada salah satu pendapat maka berarti kami mengikuti salah satu ulama tersebut.

    Syaikh Shalih Al-Munajid: “Dan Jumhur (mayoritas) Ulama dari kalangan empat madzhab tidak mengharamkannya. Imam Abu Hanifah bahkan memakai mantel sampai ke tanah. Imam Ahmad bin Hambal (Mandzhab Hambali) berkata: “Menjulurkan kain sarung, dan memanjangkan selendang (sorban) di dalam shalat, jika tidak ada maksud sombong, maka tidak mengapa.” Ibn Taimiyah juga menjadikan adanya niat kesombongan untuk menetapkan haram atau tidaknya isbal. Itu semua bukan pendapat saya melainkan pendapat para imam mazhab yang disepakati orang sebagai mujtahid Saya rasa mereka lebih paham soal makna hadits-hadits tersebut dan tidak lalai dari teks hadits yang mengandung ancaman tidak akan dilihat Allah pada hari kiamat..mereka semua sama sekali tidak bodoh.

    Adapun perkara hadits-hadits tentang isbal coba baca lagi lebih teliti. Bila ada hadits-hadits yang bermakna umum (‘am) yaitu yang tidak menyebutkan adanya illat (alasan/sebab) kemudian ditemukan hadits-hadits lain yang bermakna khusus (khos) yang menyebutkan adanya illat, maka makna hadits yang umum tadi harus dibawa kepada makna hadits yang khas. Kaidah ini merupakah kaidah ushul fiqih yang disepakati semua ulama. Dan sekali lagi ini bukan pernyataan kami yang bodoh ini. Melainkan telah kami kutipkan di situ juga pendapat ulama ulama besar dalam masalah ini.

  3. haris says:

    abu dihyah,sebelum komen baca dg teliti dulu agar bisa lebih adil dan bijak dlm bersikap.

  4. kenapa harus menggunakan rujukan dari Al Bani dan Ibnu Taimiyyah, mereka kan sdh dikenal banyak kekeliruannya dikalangan ulama.!!
    sebenarnya anda ini berfaham apa, dibilang wahabi juga bukan wahabi, dibilang sunni tp pake pendapat albani dan ibnu taimiyyah yg sdh jelas2 banyak ditentang oleh mayoritas ulama.???
    jadi bimbang

    • Akhina Fahad, perbedaan paham dan perbedaan pendapat dalam masalah fiqih telah terjadi sejak masa sahabat Rasulullah s.a.w. selama masing-masing memiliki nalar dari dalil maka tidak ada yang bisa dipersalahkan. Adapun mereka para ulama tlah mencurahkan hidupnya untuk agama ini. Jika ada pro kontra antara ulama satu dengan yang lainnya itu adalah hal biasa. Jika ada saling kritik pedas itu adalah hal biasa dan tidak mengurangi kemuliaan mereka semua yang telah mencurahkan hidup ini untuk agama. Maka tak ada halangan untuk menukil pendapat mereka. Web ini berusaha adil dalam menampilkan pendapat berbagai golongan dan aliran sepanjang mereka adalah ahlu sunnah wal jamaah. Saya rasa sikap kita disini jelas. Adapun kita janganlah terjebak pada pengkotak-kotakkan aliran dan kelompok dan saling merasa benar sendiri karena ini adalah skenario dari Yahudi dan Zionist untuk memecah belah umat Islam. Apakah masih mau saja kita dibodohi oleh Yahudi??

  5. Dalam banyak2 hal .. saya paling suka hal nie…
    terima kasih kerana bangkitkan kenangan silam dengan
    post nih… setiap penulisan ada ceritanya.. tahniah awak..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s