APAKAH BIJI TASBIH DAN COUNTER BID’AH?

APAKAH BIJI TASBIH DAN COUNTER  BID’AH?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Salah seorang sahabat poncur (pondok curhat) bertanya mengenai pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa berdzikir menggunakan biji tasbih adalah bid’ah. Hal ini karena Rasulullah s.a.w. tidak pernah melakukan dan mencontohkan berdzikir dengan biji tasbih.

Penggunaan Kerikil Dan Biji-Bijian Untuk Menghitung Tasbih

Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim dari Sa’id Al Jurairi dari Abu Nadhrah dari seorang lelaki dari Thufawah, ia berkata; “Aku pernah mengunjungi Abu Hurairah, dan aku belum mendapati sahabat Rasulullah s.a.w.  yang paling dermawan dan paling menghormati tamunya selain di (Abu Hurairah). Aku bersamanya Ketika dia sedang berada di atas tempat tidurnya dengan memegang kantong yang isinya kerikil dan biji-bijian, dan di bawahnya ada seorang pembantu yang berkulit hitam, Ia (Abu Hurairah) mengucapkan; “Subhanallah, subhanallah, ” hingga apa yang ada di dalam kantong itu habis,… (H.R. Ahmad No. 10554)

Hadits ini menceritakan cikal bakal biji-biji tasbih yang digunakan untuk berdzikir, hanya saja dahulu belum dirangkai dengan benang. Dalam hadits di atas ada salah satu perawi yang tidak jelas dan hanya disebutkan “seorang lelaki”.  Maka hadits ini boleh dikatakan terputus sampai di kalangan tabi’in, yaitu perkataan Abu Nadrah yang dikenal dengan Al-Mundzir bin Malik bin Qath’ah, yang tidak jelas mendengar hadits ini dari siapa? Dia adalah tabi’in generasi pertengahan yang tidak jumpa shahabat.

Penggunaan Biji Kurma Untuk Menghitung Tasbih

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Abdushshamad bin Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Hasyim yaitu ibnu Sa’id Al Kufi telah menceritakan kepadaku Kinanah mantan budak Shafiyyah, ia berkata; aku mendengar Shafiyyah berkata; Rasulullah s.a.w. menemuiku sementara di tanganku terdapat 4.000 biji kurma, yang aku gunakan untuk bertasbih. Kemudian beliau berkata: “Sungguh engkau telah bertasbih dengan ini! Maukah aku ajarkan kepadamu sesuatu yang lebih banyak pahalanya daripada apa yang engkau gunakan untuk bertasbih?” Maka aku katakan; ya, ajarkan kepadaku. kemudian beliau bersabda: “Ucapkanlah; SUBHAANALLAAH, ‘ADADA KHALQIHI (Maha suci Allah, sebanyak jumlah makhluqNya). (H.R. Tirmidzi No. 3477 Abu Ya’la dalam musnadnya Juz 4 No. 1696, Ibnu Adu dalal Al Kaamil Juz 7 No. 2574)

Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits gharib (hanya satu jalur), kami tidak mengetahuinya dari hadits Shafiyyah kecuali dari jalur ini, dari hadits Hasyim bin Sa’id Al Kufi. Salah seorang perawi hadits ini yaitu Hasyim bin Sa’id dinyatakan dla’if oleh Ibnu Hajar Asqolani dalam At-Taqriib, Adz-Dzhabi dan Abi Hatim. Ahmad bin Hanbal mengatakan tidak mengenalnya. Namun Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats-Tsiqat (berati menurut Ibnu Hibban ia termasuk perawi tsiqoh).  Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini munkar.

Ath-Thabrani meriwayatkan hadits senada dengan lafadz yang berbeda , di dalam sanadnya ada yang bernama Khudaij bin Muawiyah. Ibnu Hajar al Asqalani mengatakan: “Ia (Khudaij ) Shaduuq (jujur) hanya kadang-kadang keliru“.  Telah mafhum bahwa jarh (pencacatan perawi) dengan perkataan seperti ini adalah ringan dan tidak menyebabkan haditsnya serta merta dianggap dla’if dan tertolak.

Sebagian orang mengharamkan dan membid’ahkan tasbih berdalil dengan hadits ini dengan mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda : engkau telah bertasbih dengan ini (yaitu biji kurma) ? Maukah aku ajarkan sesuatu yang lebih banyak pahalanya dari pada apa yang engkau gunakan bertasbih? Perkataan ini seolah mempersoalkan penggunaan biji kurmanya. Namun jika memang demikian, seharusnya kalimat selanjutnya Rasulullah s.a.w. memberitahukan penggunaan sarana lain untuk menghitung tasbih. Namun kenyataannya Rasulullah s.a.w. mengajarkan ucapan Subhanallah ‘adada kholqihi..dst Maka yang dipersoalkan bukanlah biji kurma nya melainkan Rasulullah s.a.w. hendak mengajarkan doa dzikir lain yang lebih utama dan lebih banyak pahalanya.

Terlepas dari derajat hadits ini yang dla’if, hadits ini tidak sah dijadikan dalil untuk mengharamkan menghitung tasbih dengan biji kurma. Sebaliknya hadits ini justru menunjukkan bahwa pada masa sahabat / shahabiyah telah terbiasa menggunakan biji kurma untuk mempermudah menghitung dzikir tasbih, dan tak ada kata kecaman atau pelarangan dari Rasulullah s.a.w.

Hadits Yang Dianggap Melarang Tasbih

Sebuah tulisan di dunia maya ada yang mengatakan bahwa dalil tertolaknya penggunaan biji tasbih berdasarkan hadits berikut ini :

“Diriwayatkan dari Aisyah binti Sa’d bin Abi Waqash dari ayahnya bahwa dia bersama Rasulullah s.a.w. pernah masuk ke rumah seorang perempuan. Perempuan itu memegang biji-bijian atau kerikil yang digunakan untuk menghitung bacaan tasbih. Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: Aku akan memberitahu dirimu hal-hal yang lebih mudah kamu kerjakan atau lebih utama dari menggunakan kerikil ini. Bacalah “Maha Suci Allah” …..” (H.R. Tirmidzi)

Maka terjemahan hadits ini di-pas-kan dengan fikiran orang yang hendak membid’ahkan tasbih, seolah Rasulullah s.a.w. mengatakan “maukah aku tunjukkan yang lebih utama daripada mengunakan kerikil ini.., padahal hadits ini tidak berkata seperti itu. Melainkan sebagai berikut :

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al Hasan telah menceritakan kepada kami Ashbagh bin Al Faraj telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Wahb dari ‘Amr bin Al Harits bahwa ia telah mengabarkan kepadanya dari Sa’id bin Abu Hilal dari Khuzaimah dari Aisyah binti Sa’d bin Abu Waqqash dari ayahnya bahwa ia bersama Rasulullah s.a.w. menemui seorang wanita dan di hadapannya terdapat biji kurma, atau kerikil yang ia gunakan untuk bertasbih. Kemudian beliau berkata: “Maukah aku beritahukan kepadamu mengenai apa yang lebih mudah bagimu atau lebih afdhol (utama)? Yaitu mengucapkan; SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA FIS SAMAA’I, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA FIL ARDHI, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA BAINA DZALIK, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA HUWA KHALIQUN. ALLAAHU AKBAR MITSLA DZALIK, WAL HAMDULILLAAHI MITSLA DZAALIK, WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHI MITSLA DZAALIK. (Maha Suci Allah sebanyak apa yang Dia ciptakan di langit, Maha Suci Allah sebanyak apa yang Dia ciptaan di bumi, Maha Suci Allah sebanyak apa yang ada diantara hal itu, Maha Suci Allah sebanyak apa yang Dia ciptakan, Allah Maha Besar sebanyak itu, segala puji bagi Allah sebanyak itu, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah sebanyak itu). (H.R. Tirmidzi No. 3491 dan Ibnu Hibban No. 837)

Telah menceritakan kepada Kami Ahmad bin Shalih telah menceritakan kepada Kami Abdullah bin Wahb, telah mengabarkan kepadaku ‘Amr bahwa Sa’id  bin Abu Hilal telah menceritakan kepadanya dari Khuzaimah dari Aisyah binti Sa’d bin Abu Waqqash dari ayahnya bahwa ia bersama Rasulullah s.a.w.  menemui seorang wanita sementara dihadapannya terdapat biji-bijian atau kerikil yang dipergunakan untuk bertasbih. Kemudian Nabi s.a.w. berkata: “Aku akan memberitahukan kepadamu sesuatu yang lebih mudah bagimu dari pada ini dan lebih utama!” Lalu beliau mengucapkan: “SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA FIS SAMAAI WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA FIL ARDHI WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA BAINA DZAALIKA WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA HUWA KHAALIQUN, WALLAAHU AKBARU MITSLU DZAALIKA, WAL HAMDU LILLAAHI MITSLU DZAALIKA WA LAA ILAAHA ILLALLAAHU MITSLU DZAALIKA WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHI MITSLU DZAALIKA” (Maha Suci Allah sebanyak makhluk yang Dia ciptakan dilangit, dan Maha Suci Allah sebanyak makhluk yang Dia ciptakan di bumi, dan Maha Suci Allah sebanyak makhluk yang Dia ciptakan diantara keduanya dan Maha Suci Allah sebanyak apa yang Dia ciptakan, dan Allah Maha Besar seperti itu, segala puji bagi Allah seperti itu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah seperti itu, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali karena Allah seperti itu) (H.R. Abu Daud No. 1282)

Kedua Hadits di atas (baik riwayat Abu Daud maupun Tirmidzi) diriwayatkan dari Khuzaimah dan Said bin Abi Hilal. Abu Isa (Tirmidzi) berkata; hadits ini adalah berderajat hasan dan gharib yaitu hasan (satu tahap di bawah shahih) sedangkan dari banyaknya jalur Tirmidzi hanya meriwayatkan dari Sa’d. Namun Nashiruddin Al-Albani memgatakan hadits ini munkar karena lemah di dua tempat yaitu Khuzaimah tidak dikenal (majhul). Sedangkan Ibnu Hajar Asqolani mengomentari Sa’id bin Abi Hilal: “Ia shaduq, aku belum pernah mengetahui ulama yang melemahkannya kecuali Ibnu Hazm menyatakan laisa bi qowi (tidak kuat), dan As Saji yang menceritakan dari Ahmad bahwasanya beliau mengatakan “Dia itu ikhtilath (pikun hafalannya setelah tua).

Maka pendla’ifan ini masih bisa didiskusikan karena Ibnu Hibban mengenal Khuzaimah dan menyatakan Khuzaimah tsiqoh (dipercaya) maka tidak mungkin tanpa dasar. Adapun mengenai Sa’id bin Abi Hilal, dikatakan oleh Ibnu Sa’d, Ibnu Khuzaimah, Al-Ajli, Ibnu Hibban bahwa ia perawi tsiqoh. Sedangkan walaupun As-Saji mengutip dari Imam Ahmad bahwa dia iktilath, namun As-Saji sendiri menilainya shaduuq (jujur) mengikuti pendapat Ibnu Hajar Asqolani yang menilainya shaduuq. Walaupun dalam ilmu hadits dikenal kaidah al-jarh taqaddam alla ta’dl (mencacat / mendiskriditkan lebih didulukan daripada menganggapnya kredibel) namun mesti dilihat dulu alasan jarh-nya apakah ringan atau berat. Jika tertuduh zindiq atau rafidhah maka itu tergolong cacat berat. Sedangkan tuduhan muktalith (berubah hafalan setelah tua) tidak otomatis menolak hadits ini jika diriwayatkan sebelum mukhtalith, atau alasan bahwa seorang ahli hadits tidak mengenalnya namun ahli hadits lain mengenalnya, seorang menganggap laisa bi qowi (tidak kuat) namun banyak orang lain men-tsiqoh-kan nya maka jarh-nya ringan.

Terlepas dari persoalan apakah hadits di atas dla’if atau tidak, yang jelas tidaklah tepat menggunakan hadits di atas sebagai dalil untuk menolak penggunaan biji tasbih terlebih membid’ahkannya. Justru sebaliknya hadits di atas menunjukkan cikal bakal tasbih yaitu biji-biji kerikil, dan Rasulullah s.a.w. tidak mengecam, tidak menyuruh membuang, tidak menyuruh meninggalkannya, dan tidak mengharamkannya. Adapun Rasululllah s.a.w. bersabda : Aku beritahukan yang lebih baik dan lebih utama bukan masalah kerikilnya melainkan bacaan tasbihnya dimana Rasulullah s.a.w. hendak mengajarkan bacaan tasbih yang lain yaitu : SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA FIS SAMAAI WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA FIL ARDHI…dst

Kedua hadits ini tidak bisa digunakan sebagai dalil untuk membid’ahkan biji tasbih. Justru sebaliknya hadits ini menunjukkan Rasulullah s.a.w. mendiamkan dan tidak membahas mengenai sarana menghitung dzikir apakah menggunakan tangan, kerikil, biji kurma, lidi atau alat counter (pada jaman sekarang). Rasulullah s.a.w. lebih membahas masalah doa yang dibacanya daripada sarana menghitung dzikirnya.

Adapun sabda Nabi s.a.w. maukah aku tunjukkan yang lebih baik atau lebih utama daripada ini,maksudnya bukan soal penggunaan kerikilnya melainkan Rasulullah s.a.w. hendak mengajarkan doa atau bacaan dzikir yang lebih utama yaitu

Mengomentari hadits ini Abi al-Hasanat Abdul Hayyi bin Muhammad Abdul Halim al-Luknawi dalam Nuzhah Al-Fikri fii Sabhah Adz-Dzikr mengatakan, Rasulullah s.a.w. tidak mengingkari apa yang dilakukan wanita itu. Hanya saja beliau bermaksud untuk memudahkan dan meringankan wanita itu serta memberi tuntutan bacaan yang umum dalam tasbih yang memiliki keutamaan yang besar.

Maka dari hadits di atas justru dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masa Rasulullah s.a.w. para sahabat telah biasa menggunakan biji-bijian (kurma atau buah lainnya) atau biji kerikil untuk mempermudah di dalam menghitung dzikir-dzikir yang dibaca sehari-hari. Dan hal itu tidak pernah dikecam, disuruh meninggalkan atau diharamkan oleh Rasulullah s.a.w. Walaupun tidak sama dengan bji tasbih pada masa sekarang namun ini merupakan cikal bakal biji tasbih yang kita kenal pada jaman sekarang.

Hadits Hadits Yang Menyuruh Bertasbih Dengan Jari-Jari

Dalam beberapa hadits diceritakan Rasulullah s.a.w. menghitung bacaan tasbih dengan jari-jari di tangan kanannya.

Telah menceritakan kepada Kami ‘Ubaidullah bin Umar bin Maisarah dan Muhammad bin Qudamah diantara orang-orang yang lain, mereka berkata; “Telah menceritakan kepada Kami ‘Atstsam dari Al A’masy dari ‘Atho` bin As Saib dari ayahnya dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata : “Aku melihat Rasulullah s.a.w. menghitung tasbih. Ibnu Qudamah berkata: yaitu dengan tangan kanannya”. (H.R. Abu Daud No. 1284 Tirmidzi No. 3333 dan 3408 Al Hakim Juz 1 Hal 547 dan Baihaqi Juz 2 Hal 253) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Habib bin ‘Arabi dia berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad dari ‘Atha bin As Saib dari bapaknya dari ‘Abdullah bin ‘Amru dia berkata : “Rasulullah s.a.w. bersabda, “Ada dua perkara yang jika dilakukan oleh orang muslim maka ia masuk surga. Kedua perkara tersebut ringan, namun jarang yang mengamalkannya.” Abdullah bin ‘Amru melanjutkan, “Rasulullah s.a.w. bersabda lagi: ‘Shalat lima waktu lalu setiap selesai shalat bertasbih sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali, dan bertakbir sepuluh kali. Semua hal tersebut bernilai seratus lima puluh di lisan dan seribu lima ratus di mizan (timbangan amal di akhirat). Aku melihat Rasulullah s.a.w. menghitung dzikir dengan jari-jarinya, lalu bersabda: ‘Jika kalian hendak menuju kasur atau tempat tidur, hendaklah bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, serta bertakbir tiga puluh empat kali, maka hal itu bernilai seratus kali di lisan dan seribu di mizan.”  (H.R. Nasa’i No. 1331) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Beberapa hadits mengungkapkan Rasulullah s.a.w. pernah menyuruh para wanita menghitung dzikir menggunakan jari:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr berkata, telah menceritakan kepada kami Hani’ bin Utsman Al Juhani dari ibunya Humaidlah binti Yasir dari neneknya Yusairah (Ummu Yasir) dia adalah seorang wanita muhajirin, dia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda kepada kami: “Wahai kaum wanita yang beriman, bertahlillah, bertasbihlah, dan bertaqdislah (mensucikan Allah) dan janganlah kalian lalai, sehingga kalian lupa akan rahmat (Allah). Dan ikatlah pada ujung jari-jari, karena hal itu akan ditanya dan akan menjawab.” (H.R. Ahmad No. 25841)

Telah menceritakan kepada Kami Musaddad, telah menceritakan kepada Kami Abdullah bin Daud dari Hani` bin Utsman dari Humaidhah binti Yasir dari Yusairah r.a. (ummu Yasir) telah mengabarkan kepadanya bahwa Nabi s.a.w. memerintahkan mereka (para wanita) agar menjaga takbir, pensucian Allah, serta tahlil, dan menghitung dzikir menggunakan ruas-ruas jari, karena ruas-ruas tersebut akan ditanya dan diminta untuk berbicara. (H.R. Abu Daud No. 1283) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini hasan

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul A’la Bashri telah menceritakan kepada kami ‘Atstsam bin Ali dari Al A’masy dari ‘Atho` bin As Saib dari ayahnya dari Abdullah bin ‘Amr ia berkata ; “Aku melihat Nabi s.a.w. menghitung tasbih menggunakan tangannya. (H.R. Tirmidzi No. 3408)

Abu Isa (Tirmidzi) berkata; hadits ini adalah hadits hasan gharib dari jalur ini dari hadits Al A’masy dari ‘Atho` bin As Saib. Dan Syu’bah serta Ats Tsauri telah meriwayatkan hadits ini dari ‘Atho` bin As Saib secara panjang. Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Namun demikian hadits-hadits di atas tidak mengecam atau melarang penggunaan biji tasbih selain telah dikemukakan sebelumnya bahwa hadits-hadits yang menyebutkan adanya biji-bijian, kurma, kerikil untuk menghitung dzikir tasbih, ternyata ditaqrir (didiamkan) oleh Rasulullah s.a.w. dan tak terdapat kecaman di dalamnya. Maka walaupun menghitung menggunakan jari jemari lebih utama karena meneladani Rasulullah s.a.w. namun orang yang membid’ahkan atau mengharamkan penggunaan biji tasbih jelas telah bersikap berlebihan.

Atsar Yang Dijadikan Dalil Pelarangan Biji Tasbih

Sebagian orang yang terlalu bersemangat mengatakan pengharaman penggunaan biji tasbih berdasarkan pendapat Ibnu Mas’ud dan ummul mukminin Aisyah r.ah sebagai berikut :

Telah mengabarkan kepada kami Al Hakam bin Al Mubarak telah memberitakan kepada kami ‘Amr bin Yahya ia berkata: “Aku mendengar ayahku menceritakan dari ayahnya, ia berkata: ‘Dahulu kami pernah duduk di depan pintu Abdullah bin Mas’ud r.a. sebelum shalat subuh, ketika ia keluar kami berjalan bersamanya menuju masjid. Kemudian Abu Musa Al ‘Asy’ari r.a. datang menemui kami dan bertanya: ‘Apakah Abu Abdur Rahman telah datang menemui kalian? ‘, kami menjawab: ‘belum’, lalu beliau duduk bersama kami hingga (Abu Abdur Rahman) datang. Tatkala ia datang, kami semua berdiri dan menghampirinya, Abu Musa berkata kepadanya: ‘Wahai Abu Abdur Rahman, baru saja di masjid aku melihat satu kejadian baru yang tidak aku sukai. Setahuku, Alhamdulillah, sekali pun itu diniyati kebaikan. Ia bertanya: ‘apakah itu gerangan? ‘, ‘Jika kamu masih hidup kamu akan melihatnya’, Kata Abu Musa. Abu Musa melanjutkan: ‘Aku melihat di masjid, sekelompok orang yang (duduk) melingkar sambil menunggu shalat, setiap lingkaran ada seorang (pemandu) nya dan tangan-tangan mereka membawa kerikil, lalu si (pemandu) berkata: ‘ucapkanlah takbir seratus kali’ dan mereka bertakbir seratus kali, ‘dan ucapkanlah tahlil seratus kali’ lalu mereka bertahlil seratus kali, ‘dan ucapkanlah tasbih seratus kali’ lalu mereka mengucapkan tasbih seratus kali. Abu Abdurrahman bertanya: ‘Lantas apa yang telah kau katakan kepada mereka? ‘ Abu Musa menjawab: ‘Aku belum berkata apa pun kepada mereka, karena aku menunggu pendapatmu atau perintahmu’. Abu Abdurrahman berkata: ‘Tidak sebaiknyakah kamu perintahkan saja mereka untuk menghitung dosa-dosa mereka, serta kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan hilang?. Kemudian Abu Abdurrahman beranjak dan kami pun beranjak bersamanya, hingga ia sampai di lokasi jama’ah dzikir yang diceritakannya. Ia berdiri di hadapan mereka, dan berkata: ‘Apa yang sedang kalian lakukan? ‘, mereka menjawab: ‘Wahai Abu Abdur Rahman, ini adalah batu-batu kerikil untuk menghitung takbir, tahlil dan tasbih’. Ia berkata: ‘Hendaklah kalian menghitung dosa-dosa kalian (saja), aku menjamin amal kebaikan kalian tidak akan hilang, celakalah kalian umat Muhammad s.a.w. , alangkah cepatnya masa kehancuran kalian, padahal mereka para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih banyak, dan baju mereka belum basah, juga periuknya belum pecah, demi Dzat yang jiwaku berada di genggaman tangannya, sesungguhnya kalian seakan-akan memiliki agama yang lebih baik dari agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, atau kalian sengaja hendak membuka pintu kesesatan?, mereka menjawab: ‘Demi Allah wahai Abu Abdur rahman kami tidak menginginkan kecuali kebaikan’. Abu Abdurrahman menjawab: ‘Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi ia tidak dapat mencapainya, sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah menceritakan kepada kami bahwa ada satu kaum yang membaca Al-Qur`an namun tidak melampaui tenggorokan mereka, demi Allah, aku tidak tahu siapa tahu mayoritas mereka adalah dari kalian”, Abu Abdurrahman lantas berpaling dari mereka. ‘Amr bin Salamah berkata: ‘Kami melihat kebanyakan dari yang berada di kelompok jama’ah dzikir tersebut dihari selanjutnya mencaci-maki kami pada hari (perang) Nahrawan bersama orang-orang khawarij” (Atsar R. Ad-Darimi 206) Juga disebutkan dlm Tarikh Wasith, Aslam bin Sahl Ar Razzaz Al Wasithi. Nashiruddin Al Albani menshahihkan sanad atsar ini dalam As-Silsilah Ash Shahihah, Hadits No. 2005 dan Husain Salim Assad Ad-Daroni mengatakan sanadnya jayyid.

Namun jika kita cermati pada atsar di atas terdapat Amru bin Yahya bin Amru dan ayahnya yaitu Yahya bin Amru bin Salamah bin Al-Harits. Keduanya tidak pernah meriwayatkan hadits atau atsar lain kecuali atsar ini saja dan hanya diriwayatkan oleh Ad-Darimi. Sedangkan Bukhari dan Abi Hatim tidak berkomentar tentang kedua orang ini. Meminjam istilah Bukhari maka perawi seperti ini tergolong laisa bi syai’in yaitu tidak ada apa-apanya, artinya perawi tsb tidak mempunyai banyak hadits yang diriwayatkan darinya. Sedangkan Hakam bin Mubarak dikatakan oleh Ibnu Hajar Asqolani shaduuq (jujur) namun suka ragu. Maka penshahihan oleh Al-Albani masih bisa didiskusikan.

Ibnu Waddhah berkata dalam kitabnya Al Bid’u wan Nahyu Anha hal. 11: mengutip sebuah atsar dari Ibrahim berkata : “Dahulu ‘Abdullah (Sahabat Ibnu Mas’ud r.a.) membenci berdzikir dengan tasbih seraya bertanya : “Apakah kebaikan-kebaikannya telah diberikan kepada Allah?” (Atsar R. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf No. 7667) Dikatakan sanad atsar ini shohih.

Ibnu Waddhah berkata dalam kitabnya Al Bid’u wan Nahyu Anha: mengutip sebuah atsar dari Sayar bin Al-Hakam bahwa Ibnu Mas’ud menemui jamaah di Kufah dan menaruh kerikil di kantong lalu mengatakan bahwa kalian telah melakukan bid’ah. Namun salah seorang perawinya Sayar membantah tidak pernah berjumpa dengan Ibnu Mas’ud

Dalam kitabnya juga,  Ibnu Waddhah  mengutip atsar Ibnu Mas’ud dari Ash-Shalt bin Bahram berkata : “Ibnu Mas’ud r.a. melewati seorang wanita yang berdzikir dengan tasbih, maka segera beliau potong tasbih lalu membuangnya. Kemudian beliau melewati seorang lai-laki berdzikir dengan kerikil, maka beliau menendangnya, kemudian berkata : “Sungguh kalian telah mendahului Rasulullah, kalian melakukan bid’ah dengan zhalim dan ilmu kalian telah melebihi ilmu Sahabat-Sahabat Muhammad.. (Al Bida’ wa An Nahyu ‘Anha, hal. 12) Tetapi Ash Shalt bin Bahram membantah tak pernah mendengar dari Ibnu Mas’ud

Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Said Al Qatthani dari At- Taimi dari Abi Tamimiyah dari seorang perempuan bani Kulaib yang berkata bahwa ia dilihat oleh Aisyah sedang berdzikir dengan biji-biji tasbih, maka Aisayah berkata: Mana Syawahid? yang dimaksud adalah jari jemari.  (Atsar R. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf ) Dalam atsar ini ada rawi yang misterius, dan hanya disebutkan seorang perempuan. Maka atsar ini adalah dla’if jiddan.

Namun Adz-Dzahabi menyebutkan biografi Ibnu Waddhah dalam Siyar An Nubala Juz 13 hal 445 : Berkata Ibnu Al Fardhi : “Dia banyak mengklaim sabda-sabda Nabi s.a.w. padahal itu merupakan kata-katanya sendiri, dia banyak melakukan kesalahan yang telah diketahui berasal darinya, keliru, dan melakukan tashif, serta tidak memiliki ilmu dalam bahasa arab dan juga fiqh”

Maka atsar di atas yang dijadikan sandaran untuk mengharamkan dan membid’ahkan penggunaan biji tasbih untuk menghitung dzikir adalah kurang kuat. Kecuali atsar Ibnu Mas’ud melalui jalur Amru bin Salamah bin Al Harits yang dishahihkan oleh Nashiruddin Al-Albani, namun Amru dan Ayahnya tidak banyak meriwayatkan hadits maupun atsar, hanya satu yang dimuat oleh Ad-Darimi. Dalam ilmu hadits perawi seperti ini dianggap kurang kuat walaupun bisa diambil haditsnya.

Katakanlah atsar Ibnu Mas’ud ini dijadikan dalil, maka bisa jadi ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud dan Abu Musa sedangkan sahabat lain dan shahabiyah menggunakan kerikil dan biji-bijian untuk menghitung tasbih dan didiamkan oleh Rasulullah s.a.w. (hadits taqrir).

Ulama Yang Berpendapat Penggunaan Biji Tasbih Lebih Utama dan Lebih Mudah

Ibnu Nujaim Al-Hanafi dalam kitab Al-Bahri Ar-Raaiq terhadap hadits tentang berdzikir dengan biji-biji tasbih berkomentar : Nabi tidak melarangnya. Beliau hanyalah menunjukkan cara yang lebih mudah dan utama, seandainya makruh tentu Beliau akan menjelaskan hal itu kepada wanita tersebut. Dari kandungan hadits ini, dapat kita pahami bahwa subhah  (biji tasbih) tidak lebih dari kumpulan bijian yang dirangkai dengan benang. Masalah seperti ini tidak berdampak pada pelarangan. Maka, bukan pula kesalahan jika ikut menggunakannya sebagaimana sekelompok kaum sufi yang baik dan selain mereka. Kecuali jika di dalamnya tercampur muatan riya dan sum’ah, tetapi kami tidak membahas hal ini  (Ibnu ‘Abidin, Raddul Muhtar, Juz 5 hal. 54)

Imam Muhammad Abdurrauf Al Munawi Rahimahullah menjelaskan dalam kitab Faidhul Qadir Syarh Al Jami’ Ash Shaghir, ketika menerangkan hadits Yusairah : Hadits ini merupakan dasar terhadap sunahnya subhah (untaian biji tasbih) yang sudah dikenal. Hal itu dikenal pada masa sahabat, Abdullah bin Ahmad telah meriwayatkan bahwa Abu Hurairah memiliki benang yang memiliki seribu himpunan, beliau tidaklah tidur sampai dia bertasbih dengannya. Dalam riwayat Ad Dailami: “Sebaik-baiknya dzikir adalah subhah.” Tetapi mu’allif (yakni Imam As Suyuthi) mengutip dari sebagian ulama belakangan, Al Jalal Al Bulqini, dari sebagian mereka bahwa menghitung tasbih dengan jari jemari adalah lebih utama sesuai zhahir hadits (Faidhul Qadir, Juz 4 hal. 468. Cet. Ke-1, 1415H-1994M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut )

Ulama Yang Berpendapat Penggunaan Jari Lebih Utama Namun Biji Tasbih Tidaklah Haram

Beberapa ulama yang berpendapat menghitung dzikir dengan menggunakan jari lebih utama sedangkan menggunakan biji tasbih tidaklah haram dan boleh (mubah)

Imam Syaukani ketika ditanya mengenai biji-bijian tasbih berkata sebagai berikut :

 “ … sesungguhnya ujung jari jemari akan ditanyakan dan diajak bicara, yakni mereka akan menjadi saksi hal itu. Maka, menghimpun (menghitung) tasbih dengan jari adalah lebih utama dibanding dengan untaian biji tasbih dan kerikil. Dua hadits yang lainnya, menunjukkan bolehnya menghitung tasbih dengan biji, kerikil, dan juga dengan untaian biji tasbih karena tidak ada bedanya, dan ini perbuatan yang ditaqrirkan (didiamkan/disetujui) oleh Rasulullah s.a.w. terhadap dua wanita tersebut atas perbuatan itu. Dan, hal yang menunjukkan dan mengarahkan kepada hukum yang lebih utama tidak berarti menghilangkan hukum boleh.”(Nailul Authar, Juz 2 Hal 316-317. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

Abu Al ‘Ala Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarakfuri berkata dalam Tuhfah Al-Ahwadzi, ketika menjelaskan hadits Ibnu Amr dan Yusairah binti Yasir, berkomentar sebagai berikut:

“Hadits ini menunjukkan disyariatkannya bertasbih menggunakan ujung jari jemari, alasan hal ini adalah Rasulullah s.a.w. dalam hadits Yusairah yang diisyaratkan oleh At Tirmidzi bahwa ujung jari jemari akan ditanyakan dan diajak bicara, yakni mereka akan menjadi saksi hal itu. Dalam hal ini, menghitung tasbih dengan menggunakan ujung jari adalah lebih utama dibanding dengan subhah (untaian biji tasbih) dan kerikil.  Dalil yang menunjukkan kebolehan menghitung tasbih dengan kerikil dan biji-bijian adalah hadits Sa’ad bin Abi Waqqash, bahwa beliau bersama Rasulullah s.a.w. masuk menemui seorang wanita yang dihadapannya terdapat biji-biji atau kerikil yang digunakannya  untuk bertasbih (Al Hadits). Dan juga hadits Shafiyah bin Huyai, dia berkata: “Rasulullah s.a.w. masuk menemuiku dan dihadapanku ada 4000 biji-bijian yang aku gunakan untuk bertasbih. (Tuhfah al Ahwâdzi, Juz 9 Hal 458. Cet. Ke-2, 1383H-1963M. Al Maktabah As Salafiyah, Madinah. Tahqiq: Abdul Wahhab bin Abdul Lathif)

Ibnu Taimiyah berkata :Menghitung tasbih dengan jari jemari adalah sunah, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada kaum wanita: “Bertasbihlah dan menghitunglah dengan jari jemari, karena jari jemari itu akan ditanya dan diajak bicara. Adapun menghitung tasbih dengan biji-bijian dan batu-batu kecil (semacam kerikil) dan semisalnya, maka hal itu perbuatan baik (hasan). Dahulu sebagian sahabatpun ada yang memakainya dan Nabi s.a.w. telah melihat ummul mukminin bertasbih dengan batu-batu kecil dan beliau menyetujuinya. Diriwayatkan pula bahwa Abu Hurairah pernah bertasbih dengan batu-batu kecil tersebut . Hukum menggunakan tasbih sebagai alat untuk berdzikir adalah boleh dan mubah bukan bid’ah, inilah yang masyhur dari pendapat para ulama mazhab dan juga ulama-ulama salaf  serta sesuai dengan kaidah bahwa asal sesuatu adalah m Mubah selama tidak ada dalil yang melarang. Adapun jika ada kesan menganggapnya hasan maka hal tersebut adalah kelaziman dari hukum mubah yang diniatkan untuk kebaikan (Majmu Fatawa Juz 22 Hal 506)

Walaupun ketiga ulama di atas menyatakan ujung jari lebih utama digunakan untuk bertasbih, namun mereka tidak melarang dan membid’ahkan pemakaian biji tasbih. Bahkan mereka mengemukakan hadits yang menceritakan bahwa penggunaan biji bijian atau kerikil untuk menghitung tasbih telah digunakan oleh para sahabat / shahabiyah semenjak masa Rasulullah s.a.w.

Ulama Yang Berpendapat Penggunaan Biji Tasbih Adalah Makruh

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz ketika ditanya tentang berdzikir menggunakan subhah (biji tasbih), beliau menjawab:  “Berzikir dengan subhah tidak patut dilakukan, meninggalkannya adalah lebih utama dan lebih hati-hati. Tetapi boleh baginya kalau bertasbih menggunakan kerikil atau misbahah (alat tasbih) atau biji-bijian dan meninggalkan  subhah tersebut dirumahnya,  agar manusia tidak mentaklidinya. Dahulu para salaf -pun melakukannya. Masalah ini  lapang, tetapi menggunakan jari adalah lebih utama pada setiap tempat, dan utamanya dengan tangan kanan. Ada pun membawanya  ditangan ke masjid, sepatutnya jangan dilakukan, minimal hal itu makruh (Majmu’ Fatawa wa Maqallat,  Juz 29 hal 318. Mauqi’ Ruh Al-Islam)

Ulama Yang Berpendapat Penggunaan Biji Tasbih Adalah Haram Dan Bid’ah Dlolalah (sesat)

Nashiruddin Al-Albani mengatakan : berdzikir dengan biji-bijian tasbih adalah bid’ah (Silsilah Haadits Ad Dha’ifah Juz I hal 185). Pendapat ini diikuti oleh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr dan Syaikh Bakr Abu Zaid yang menulis risalah khusus yang menegaskan larangan menggunakan biji-bijian tasbih dalam menghitung dzikir.

Mereka berpendapat demikian karena meyakini bahwa ibadah itu bersifat tauqifiy (yaitu sesuai yang dicontohkan saja) dan tidak boleh mengarang cara ibadah sendiri walaupun itu baik. Sedangkan Rasulullah s.a.w. mencontohkan menghitugn dzikir menggunakan jari dan bahkan memerintahkan untuk menggunakan tangan. Maka cara lain selain yang ditunjukkan Rasulullah s.a.w. adalah terlarang dan bid’ah.

Alasan kedua, adalah karena penggunaan biji tasbih akan membuat keenakan dan lalai. Orang yang menggunakan biji tasbih tidak lagi menghitung karena akan berhenti ketika biji tasbihnya habis. Sehingga ia keenakan dan lalai melihat lihat hal lain dan tidak khusyu dalam dzikirnya

Alasan ketiga, biji tasbih itu dibawa kemana-mana kadang dijadikan gelang dan dikalungkan di leher, menyerupai orang kafir. Dan cara seperti ini dikhawatirkan membawa sikap riya dan ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah orang sholeh atau suci yang selalu berdzikir.

Menyerupai Orang Kafir dan Ahlul Kitab

Ada pula yang mengatakan bahwa berdzikir dengan biji tasbih menyerupai orang kafir. Maka perlu kami sampaikan di sini bahwa adakalanya dalam beribadah dan penampilan muslimin sedikit menyerupai kaum kafir di sana sini. Sebenarnya hal ini bukan hal yang aneh dan bukan meniru mereka.

Adapun mengenai asal muasal kemiripan ini disebabkan karena sesungguhnya pada awalnya agama ini berasal dari Allah yang satu dan tentu saja semua agama manusia ini pun satu. Tidak pernah Allah itu plin plan atau mencla mencle. Tidak benar orang yang mengatakan bahwa Allah menurunkan agama yang bermacam-macm. Hanya saja setelah wafatnya Nabi dan Rasul yang di utus ke suatu kaum dan suatu bangsa, setelah berlalu nya waktu, manusia mengubah agama Allah itu sesuai selera hawa nafsunya. Maka jadilah agama manusia ini bermacam-macam dan berbeda satu sama lain.

Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih (Q.S. Yunus [10] : 19)

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu (Q.S. Al-Mukminuun [23] : 52)

Telah kami jelaskan masalah ini pada tulisan kami ajaran semua nabi sama. Dilakan di- cek di https://seteteshidayah.wordpress.com/2011/12/03/ajaran-semua-nabi-sama/

Rasulullah  s.a.w pernah bersabda bahwa dalam sejarah manusia ini keseluruhan telah diturunkan 124.000. orang Nabi dan 312 Rasul. Dimana para Nabi dan wali Allah itu diturunkan kepada setiap suku dan bangsa di dunia ini untuk menjelaskan ajaran yang sama yaitu men-tauhid-kan atau meng-esa-kan Allah.

Demikian pula jika kita lihat agama para Nabi sejak Nabi Adam a.s. sampai Nabi Muhammad s.a.w. sebenarnya sama yaitu ada perintah ber-syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji yaitu bertawaf mengelilingi ka’bah . Hanya saja perincian dan detil teknis nya berbeda-beda antara Nabi yang satu dengan Nabi berikutnya.

Misalnya saja, syariat Allah untuk menikah dan berketurunan, telah ada sejak Nabi Adam a.s. diturunkan ke muka bumi, hanya saja pada masa Nabi Adam a.s. dibolehkan nikah dengan saudara kandung dan pada syari’at Nabi-Nabi berikutnya hal itu tidak dibolehkan. Dalam hal puasa semua Nabi diperintahkan untuk berpuasa. Oleh karenanya di dalam Al-Qur’an Allah berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 183)

Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad s.a.w. juga diperintahkan berpuasa. Untuk itulah kita tahu ada puasa Nabi Daud yang sehari puasa sehari berbuka, sepanjang tahun. Atau puasa umat Nasrani pada jaman sekarang selama 40 hari sebelum hari paskah (hanya orang Katolik yang melaksanakan ini). Kita yakin ini semua merupakan sisa-sisa syari’at para Nabi yang pernah diutus kepada mereka, hanya saja mereka mengubahnya bahkan sudah tidak melaksanakannya lagi.

Dari segi busana, tidak mustahil pula terdapat kemiripan di sana sini. Misalnya busana biarawati Nasrani pada jaman dulu sangat tertutup dan mirip dengan busana muslimah dengan kerudung. Demikian pula  kupyah haji kaum muslim yang menyerupai topi khas kaum yahudi yang berbentuk bulat menutupi ubun ubun kepala.  Lalu jika kita cermati, pakaian ihram  (haji atau umroh) muslim juga mirip dengan pakaian bhiksu budha. Hanya saja pakaian ihram muslim berwarna putih sedangkan bhiksu budha berwarna kuning. Tidak mustahil ini semua merupakan puing-puing sisa sisa ajaran para Nabi yang pernah diutus kepada mereka.

Maka kesamaan atau kemiripan dengan orang kafir atau ahlul kitab, tidak serta merta menunjukkan hal itu adalah tasyabuh (meniru) perilaku orang kafir. Maka tidak selalu yang mirip orang kafir itu haram. Karena duduk permasalahannya bukanlah kita meniru mereka. Adapun peringatan agar tidak meniru orang kafir, karena akan dianggap bagian dari suatu kaum, maka yang dilarang adalah meniru perilaku yang ciri khas peribadatan dan simbol-simbol agama mereka yang sesat. Sedangkan sisa-sisa risalah para nabi yang pernah diutus kepada mereka maka hal itu adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dan bukan hasil dari tiru meniru.

Sebagai contoh pada mulanya kaum muslimin tidak melakukan puasa hari Asysyura’ namun ketika diceritakan kepada Rasulullah s.a.w. tentang puasa Asysyura’ maka Rasulullah s.a.w. pun mengatakan bahwa kaum muslimin lebih berhak terhadap Nabi Musa a.s. daripada kaum Yahudi. Maka diperintahkan lah kaum muslimin juga berpuasa Asy-Syuraa. Ini menunjukkan bahwa untuk hal-hal yang baik dan positif tidaklah dilarang meniru atau mengambil inspirasi dari Ahlul Kitab.

Telah menceritakan kepada kami Ziyab bin Ayyub telah menceritakan kepada kami Husyaim telah menceritakan kepada kami Abu Bisyir dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas r.a. ia berkata; “Setibanya Nabi s.a.w.  di Madinah, beliau mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Mereka ditanya tentang masalah itu, lalu mereka menjawab; “Ini adalah hari di saat Allah memenangkan Musa ‘a.s. dan Bani Isra’il atas Fir’aun. Dan kami berpuasa untuk mengagungkan hal itu.” Maka Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kami lebih berhak kepada Musa daripada kalian.” Kemudian beliau memerintahkan untuk berpuasa pada hari ‘Assyura`. (H.R. Bukhari No. 3649)

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Abu ‘Umais dari Qais bin Muslim dari Thoriq bin Sihab dari Abu Musa r.a. berkata: “Hari ‘Asyura’ telah dijadikan oleh orang-orang Yahudi sebagai hari raya mereka, maka Nabi s.a.w. bersabda: “Berpuasalah kalian pada hari itu“. (H.R. Bukhari No. 1866)

Demikian pula suatu ketika Rasulullah s.a.w. meniru strategi perang dari orang Majusi Persia yaitu menggali parit di sekeliling kota Madinah, pada perang Khandaq. Ide ini diajarkan oleh sahabat Salman Al-Farisi yang memang berasal dari Persia. Namun karena ini bukan merupakan perkara peribadatan maka Rasulullah s.a.w. tidak segan-segan menirunya.

Kesimpulan

Jelas terdapat hadits hadits yang menceritakan Rasulullah s.a.w. menghitung dzikir nya dengan jari. Rasulullah s.a.w. juga memerintahkan shahabiyah menghitung dzikir dengan jari. Namun sahabat lain ada yang menggunakan sarana lain seperti biji bijian, kurma dan kerikil. Di sini perbuatan ini ditaqrir (didiamkan) oleh Nabi s.a.w. dan Nabi mengomentari menawari bacaan dzikir yang lain yang lebih utama dan besar pahalanya. Maka tidak ada indikasi larangan dalam hal ini.

Maka menghitung dzikir dengan jari jelas lebih utama karena meneladani Rasulullah s.a.w. Namun menggunakan sarana lain seperti biji-bijian, kerikil, kurma, kacang-kacangan, lidi, biji tasbih atau alat counter mekanik dan elektronik pada jaman sekarang adalah boleh-boleh saja dan bukan hal yang haram atau bid’ah yang dlolalah (sesat). Wallahua’lam.

2 thoughts on “APAKAH BIJI TASBIH DAN COUNTER BID’AH?

  1. kalau pendapat Ustadz tentang AlBani dan Ibnu Taimiyyah bagaimana ???

    • Mereka adalah ulama, orang ‘alim yang mencurahkan hidupnya untuk mendalami agama ini, sangatlah jauh kita ini dibandingkan ulama-ulama tersebut.. walaupun demikian dari semenjak sahabat Rasulullah s.a.w. pun perbedaan pendapat telah terjadi, maka para fuqaha (ahli fiqih) sejak dahulu kala telah mengatakan bahwa barang siapa yang tidak mengetahui perbedaan pendapat para ulama maka ia belum mencium harumnya ilmu fiqih..terkadang ulama pun bisa meralat pendapatnya ketika mendapati hadits yang baru dibacanya atau baru didengarnya, demikian pula para ulama terkadang bisa mengubah pendapatnya setelah berjumpa dan berdiskusi dengan ulama lainnya..maka kita mengenal Imam Syafi’i ada qaul qodim (pendapat terdahulu) dan qaul jadid (pendapat yang baru) demikian pula misalnya dalam sejarah diketahui bahwa Abul Hasan Al-‘Asy’ari pendiri madzhab Asy’ariyyah pada awalnya berguru pada ulama yang berpaham mu’tazillah sehingga beliau pun terpegaruh paham mu’tazilah kemudian belia berpindah menjadi berpaham kullabiyaah dn kondisi terakhirnya beliau pun lebih mantap pada paham salafush sholeh dan menisbatkan dirinya pada Imam Ahmad, sebagaimana dikatakan pada kitab Al-Ibanah. Namun semua silang pendapat ini dan semua kesalahan ini (jikapun ada) tidak mengurangi kemuliaan mereka mereka yang telah mencurahkan hidupnya bagi Islam, siapapun mereka, dari aliran manapun, dari kelompok manapun, karena siapapun bisa saja salah kecuali Allah dan RasulNya, An-naas mahalul khoto wa nisyan..manusia itu tempatnya salah dan lupa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s