APAKAH SHALAWAT NARIYAH BID’AH?

APAKAH SHALAWAT NARIYAH BID’AH?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

 Image

Dalam sebuah tulisan di dunia maya, ada orang mempertanyakan jawaban seorang penceramah di salah satu studio tv yang membolehkan pembacaan shalawat nariyah. Penceramah itu menganjurkan tetap membaca shalawat Nariyah, karena dipandang bagus untuk menghilangkan kesedihan.

Lalu orang tersebut dengan semangat berapi-api menguraikan masalah bid’ah dan seperti biasanya dengan logika bahwa karena di zaman Nabi s.a.w. shalawat nariyah itu belum ada maka hal itu adalah bid’ah”. Tentu saja maksudnya di sini adalah bid’ah yang dlolalah (sesat). Karena bagi si penulis istilah bid’ah itu sudah pasti sesat. Apakah benar demikian?

Pembahasan masalah bid’ah atau tidak, hal ini telah kami bahas dalam tulisan bersambung (10 jilid atau lebih tergantug memenggal tulisannya) dan pernah dimuat di forum poncur (Pondok Curhat) dan disimpan di menu berkas/doc/file. Sehingga tidak perlu kami membahasnya lagi di sini.

Adapun mengenai shalawat nariyah sendiri jelas memang ini belum ada di jaman Nabi s.a.w. Namun sebagaimana kami jelaskan panjang lebar pada pembahasan kami mengenai bid’ah, bahwa tidak setiap sesuatu yang baru / inovasi (dalam bahasa hadits sering disebut muhdats) adalah bid’ah yang dlolalah (bid’ah yang sesat).

Apakah Mengarang Redaksi Shalawat Di Luar Apa Yang Dicontohkan Nabi s.a.w Adalah Bid’ah?

Dalam berbagai hadits dan atsar kita jumpai bahwa sejak dahulu kala baik ketika Rasulullah s.a.w. masih hidup maupun sepeninggal beliau, para sahabat memahami bahwa boleh mengarang shalawat sendiri asakan isi redaksinya adalah hal-hal yang baik, menyerukan kepada tauhid, memuji dan mendoakan Rasulullah s.a.w. dan tidak mengandung hal yang berlebihan seperti menganggap Rasul adalah pengatur alam, pemberi rejeki dll, dan juga tidak disisipi hal-hal yang musyrik dan kebatilan seperti penyebutan dewa dewa dan nama raja jin, memohon pada arwah orang yang mati, mengajak kepada kemaksiatan dll.

Beberapa contoh shalawat karangan para sahabat adalah sebagai berikut :

Shalawat Karangan Abdullah bin Mas’ud r.a.

Dalam sebuah atsar sahabat diceritakan susunan doa shalawat karangan Abdullah bin Mas’ud r.a.

Telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Bayan berkata, telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Abdullah berkata, telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi dari Aun bin Abdullah dari Abu Fakhitah dari Al Aswad bin Yazid dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; “Jika kalian membaca shalawat kepada Rasulullah s.a.w. maka baguskanlah, sebab kalian tidak tahu, bisa jadi shalawat itu dihadirkan di hadapannya (Rasulullah). ” Al Aswad berkata; “Orang-orang pun berkata Abdullah bin Mas’ud,Ajarkanlah kepada kami, ” Abdullah bin Mas’ud berkata; “Bacalah; ALLAHUMMA IJ’AL SHALAATAKA WA RAHMATAKA WA BARAKA’ATIKA ‘ALA SAYYIDIL MURSALIIN WA IMAAMIL MUTTAQIIN WA KHAATAMIN NABIYYIN MUHAMMADIN ‘ABDIKA WA RASUULIKA IMAAMIL KHAIRI WA QAA`IDIL KHAIRI WA RASUULIR RAHMAH. ALLAHUMMAB’ATSHU MAQAAMAN MAHMUUDAN YAGHBITHUHU BIHIL AWWALIIN WAL AKHIRIIN. ALLAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMADIN WA ‘ALA ALI MUHAMMADIN KAMAA SHALLAITA ‘ALA IBRAHIM WA ‘ALA ALI IBRAHIM INNAKA HAMIIDUN MAJIIDUN. ALLAHUMMA BAARIK ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA ALI MUHAMMADIN KAMAA BAARAKTA ‘ALA IBRAHIM WA ‘ALA ALI IBRAHIM INNAKA HAMIIDUN MAJIIDUN (Ya Allah, jadikanlah shalawat, rahmat dan berkah-Mu kepada pemimpin para Nabi yang diutus, imam orang-orang yang bertakwa dan penutup para Nabi, Muhammad, hamba dan rasul-Mu. Seorang imam dan pemimpin kebaikan, serta rasul pembawa rahmat. Ya Allah, bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji, kedudukan yang menjadikan iri orang-orang terdahulu dan yang akan datang. Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. ” (Atsar .R.  Ibnu Majah No. 896 Thabrani dalam Mu’jam Kabir Juz 9 Hal 115, Imam Abdurrazzaq No. 3109, Imam Abu Ya’la No. 5267)

Nashiruddin Al-Albani  menyatakan hadits ini dla’if karena Ziyad bin Abdullah bin Ath-Thufail dikatakan dla’if oleh Nasa’i serta Abu Hatim mengatakan hadits Ziyad tidak bisa dijadikan hujah. Namun atsar Ibnu Mas’ud ini dijadikan hujjah oleh Ibnul Qoyyim (murid Ibnu Taimiyyah) dan disebutkan dalam Kitab Jada’ Al-Afham Hal 36 dan Hal 72.

Shalawat Karangan Abdullah bin Abbas r.a.

Dari Ibnu Abbas r.a. : “Apabila membaca shalawat kepada Nabi s.a.w. beliau berkata : ‘Ya Allah kabulkanlah syafaat Muhammad yang agung, tinggikan derajatnya yang luhur, dan berilah permohonannya di dunia dan di akhirat sebagaimana Engkau kabulkan permohonan Ibrahim dan Musa” (Atsar Riwayat Abdullah bin Humaid, Imam Abdurrazzaq dalam Mushannaf No. 3104, Ismail Al Qadhi, Atsar ini juga disebutkan oleh Ibnul Qoyyim dalam Kitab Jada’ Al-Afham Hal 76)

Shalawat Karangan Imam Syafi’i

Imam Syafi’i telah menyusun doa shalawat tersendiri seperti ini : “Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada Muhammad sejumlah ingatan orang-orang yang berdzikir kepadaNya dan sejumlah kelalaian orang-orang yang lalai kepadaNya” (Riwayat Imam Sakhawi dalam Qaul Al-Badi’ hal 254, dan Ibnul Qoyyim dalam Kitab Jada’ Al-Afham Hal 230)

Sebagian orang yang terlalu semangat dalam membid’ahkan ada yang langsung membid’ah kan karena menganggap isinya tidak sesuai dengan conth shalawat dari Rasulullah s.a.w. Ada yang mengatakan dengan retorika : “Apakah tidak cukup shalawat yang dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w.?”

Jika memang demikian, maka para shahabat nabi s.a.w. seperti Ibnu Mas’ud dan Abdullah bin Abbas r.a. juga melakukan bid’ah? Siapakah yang lebih paham tentang Islam, para sahabat yang berguru langsung pada Rasulullah s.a.w. ? Atau kah kita sebagai pewaris jauh yang hidup 1.400 tahun lebih sepeninggal beliau?

Lalu apakah puluhan ulama seperti Imam Syafi’I dan lain-lain semuanya melakukan bid’ah dan merasa tidak cukup dengan shalawat yang diajarkan Rasulullah s.a.w? Bahkan Ibnu Hajar Asqolani mengatakan : Hadits hadits ini adalah dalil yang menunjukkan akan kebolehan menyusun bacaan dzikir sendiri (yang tidak dicontohkan Rasulullah s.a.w.) di dalam shalat yang tidak ma’tsur, selama dzikir tersebut tidak menyalahi yang ma’tsur” (Fathul Bari, Juz. 2, Hal. 287).

Apakah Redaksi Shalawat Nariyah Mengandung Hal-Hal Yang Menyimpang?

Setelah kita mengetahui bahwa boleh menyusun doa karangan sendiri baik itu berupa shalawat atau doa lainnya, terlebih hal ini dilakukan di luar shalat maka kita harus mengetahui terlebih dahulu apa isi doa shalawat nariyah tersebut.

Shalawat Nariyah konon disusun oleh seorang ulama magribi (sekarang disebut negara Maroko) bernama Ibrahim Attaziy Al-Maghribiy, shalawat inipun dikenal dengan nama shalawat Ta’ziyah Attafrijiyyah,namun orang Maroko sering menyebutnya shalawat nariyah.

Redaksi shalawat nariyah adalah sebagai berikut:

 Image

Allohumma sholli shollatan kamilah wa sallim salaman. Taman ‘ala sayyidina Muhammad alladzi tanhallu bihil ‘uqod, wa tanfariju bihil kurob. Wa tuqdho bihil hawaa-i-ju wa tunna lu bihi rogho‘i-b wa husnul khowatim wa yustaqol ghomamu  biwaj hihil kariim wa ‘ala aalihi washosbihi fii kulli lamhatin wa nafasim bi’adadi kulli ma’luu mi laka ya robbal ‘aalamiin”

Artinya :

“Ya Allah Tuhan Kami, limpahkanlah kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna atas junjungan kami Nabi Muhammad s.a.w. sesungguhnya terurai denganmu segala ikatan,  dilepaskan denganmu segala kesusahan, ditunaikan denganmu segala macam hajat, tercapai dengamu segala keinginan dan husnul khotimah (diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah), dan dicurahkan hujan (rahmat) dengan wajah mu yang mulia. Kesejahteraan dan keselamatan yang sempurnah itu semoga Engkau limpahkan juga kepada para keluarga dan sahabatnya setiap kedipan mata dan hembusan nafas, bahkan sebanyak pengetahuan Engkau, Ya Tuhan semesta alam”

Analisa Isi Shalawat Nariyah

Sebagian orang yang terlalu bersemangat mempersoalkan kata ganti bihi (dengannya) pada redaksi shalawat nariyah di atas ditujukan kepada Rasulullah Muhammad s.a.w. maka hal itu adalah sebuah kesyirikan karena tidak boleh Rasulullah s.a.w. bukanlah penyebab terurai segala ikatan dan kesulitan dan hilangnya segala kesedihan, serta dipenuhinya segala kebutuhan. Mereka mengatakan jika kata ganti “bihi” diganti dengan “biha” yang artinya melalui shalawat itu sendiri maka Allah akan mengurai segala ikatan dan kesulitan dan hilang segala kesedihan, serta dipenuhinya segala kebutuhan maka hal ini menjadi benar.

Maka kepada saudara se-aqidah sesama muslim kita harus berusaha untuk husnudzon (berprasangka baik). Di dalam kaidah peradilan saja ketika mengadili orang, dikenal istilah praduga tak bersalah (presumption of innocence), walaupun ia jelas-jelas penjahat tetap harus didampingi pembela dan dijunjung tinggi kaidah ini. Lha apalagi ini dalam masalah agama kepada saudara sesama muslim, kok mudah sekali mengatakan sesat dan kafir.

Kata ganti “bi hi” di sini masih ada ruang penafsiran tergantung niat orang yang mengucapkannya. Jika ia benar-benar meyakini dan bermaksud Rasulullah-lah yang menguraikan kesulitan, menghilangkan segala kesedihan, memenuhi segala kebutuhan, maka tentu orang itu telah tergelincir dalam kesesatan dan kemusyrikan.

Namun seandainya yang dimaksud adalah bahwa melalui Rasulullah Muhammad s.a.w. kita mengenal agama ini, lalu dari situ kita jadi memahami agama ini, meyakini tentang Allah dan segala sifat dan kekuasaanNya maka dari situlah segala kesulitan kita menjadi terurai, segala kesedihan kita menjadi sirna, dan segala keinginan kita dikabulkan oleh Allah, maka hal ini adalah aqidah yang benar. Inilah mungkin yang dimaksud dengan perkataan alladzi tanhallu bihil ‘uqod (terurai melalui mu segala ikatan) tanfariju bihil kurob (dilepaskan / dihilangkan melalui mu segala kesedihan) dan seterusnya.

Terkadang makna dari kata-kata sangat relatif maksudnya dan bergantung pada prasangka yang ada di dalam otak. Jika prasangkanya sudah buruk apa yang diucapkan orang pun selalu nampak buruk dan salah. Terlebih dalam memandang kata-kata pujian yang disampaikan melalui puisi, lebih sering maknanya adalah majazi (bukan makna sesungguhnya). Sebagaimana orang yang jatuh cinta mengatakan “wajahmu rembulan”, tentu jika dipahami apa adanya bisa dikatakan syirik. Namun maksudnya adalah wajahmu sangat cantik dan bercahaya seperti rembulan. Demikian pula ketika mengartikan wa yustaqol ghomamu  biwaj hihil kariim (dan dicurahkan hujan dengan wajahmu yang mulia)

Pengagungan Berlebihan Terhadap Shalawat Nariyah

Adapun sikap sebagian orang yang terlalu berlebihan dalam meyakini keagungan shalawat nariyah sama buruk nya dengan sikap orang yang berlebihan dalam menyatakan nya sebagai syirik dan bid’ah. Situasi ini mirip seperti perkataan Ali bin Abi Thalib r.a. yang berkata :

“Dua orang yang akan binasa, yaitu yang membenciku berlebihan dan mencintaiku berlebihan”

Maka sebagian orang mengatakan dengan mengucapkan sekian ribu kali shalawat nariyah akan dihilangkan segala kesusahan dan terpenuhi segala keinginan. Mereka beranggapan, barangsiapa membacanya sebanyak 4.444 kali dengan niat agar kesusahan dihilangkan, niscaya akan terpenuhi.

Justru mengucapkan shalawat nariyah ini kita memuji Rasulullah s.a.w. yang memalui beliau lah kita memahami hakikat kekuasaan Allah yang dapat menghilangkan kesulitan dan mengangkat kesedihan. Melalui baginda Rasululillah ini sampailah pada kita firman Allah :

Katakanlah, ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmatNya dan takut akan siksa-Nya; sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (Q.S. Al-Isra’[17] : 56-57)

Melalui ajaran beliau pula kita mengetahui aqidah yang benar bahwa Rasulullah s.a.w tidak mampu mengangkat kemudharatan dan musibah yang menimba kita dan hanya kepada Allah-lah kita bermohon untuk diangkat kemudharatan dan musibah yang menimpa kita.

Katakanlah, ‘Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-A’raf [7] : 188)

Maka kita harus mengembalikan maksud dari shalawat itu kepada kedudukannya yang sebenarnya. Walaupun tidak terlarang menyusun dan membaca shalawat karangan orang sholeh atau ulama, namun keyakinan atas perkataan di dalamnya haruslah tetap lurus dan benar. Bisa jadi maksud ulama yang menyusun shalawat itu tidaklah demikian, sementara orang-orang yang mengkultuskan dan terlalu berlebihan dalam mengidolakan ulama tersebut memelencengkan maksud shalawat tersebut dan menambah-nambahinya dengan pengagungan yang berlebihan.

Wallahua’alam.

13 thoughts on “APAKAH SHALAWAT NARIYAH BID’AH?

  1. erty says:

    semoga anda mendapat petunjuk dan diberi hidayah oleh Allah swt

    • Terima kasih. Semoga terutama saya yang masih faqir ilmu dan juga Anda dan kita semua mendapat petunjuk dan hidayah dari Allah salah satunya dengan bertambah banyak yang dibaca.. bertambah hadits yang dibaca.. bertambah wawasan siroh (sejarah) akan praktek agama yang dilakukan oleh Para Khulafa; Ar Rasyidah, para sahabat lainnya, juga sikap dan praktek keagamaan para Tabi’in, para tabiut tabi’in, pendapat dan praktek yang dilakukan ulama ulama salaf (tidak hanya ulama salaf tertentu yang sesuai dengan pendapat kita saja). Merekalah para pewaris dekat yang mewarisi ilmu agama ini dari Rasulullah s.a.w. yang masih bening, sedangkan kita adalah pewaris jauh yang terpaut 1400 tahun dengan beliau, sehingga kita berendah diri dalam memandang diri kita sendiri dan tidak memandang besar diri kita sehigga menyeret kita dalam sikap berlebih lebihan dan merasa paling paham dengan agama ini. Amin.

  2. erty says:

    banyak lafal shalawat yang TELAH DICONTOHKAN oleh Nabi saw,mengapa selalu merasa kurang dan masih mencari yang lain?kita ada perbedaan tapi persatuan dan kesatuan umat Islam harus lebih kita utamakan.🙂

    • Banyak lafadz shalawat yang telah dicontohkan oleh Nabi s.a.w. maka hal yang lebih utama adalah mengikuti apa yang dicontohkan dari Nabi s.a.w. Namun shalawat itu termasuk dalam katagori doa.. walaupun doa itu untuk mendoakan Nabi kita manusia paling utama, manusia yang paling dikasihi Allah, dan manusia yang sudah dipastikan masuk Surga. Maka dalam masalah berdoa.. tidak ada larangan menyusun redaksi doa sendiri.. sebagaimana hal itu dilakukan oleh para Khulafa’ ar-rasyidin, para sahabat lainnya, para tabi’in dan ulama-ulama salaf.. silakan hal itu bisa Anda baca pembahasan ini pada https://seteteshidayah.wordpress.com/2012/11/01/bolehkah-berdoa-dengan-redaksi-karangan-sendiri/

      Khulafa’ Ar Rasyidah adalah 4 orang dari 10 orang yang dijamin masuk surga. Bahkan pendapat dan tindakan mereka merupakan bagian dari sunnah dan bagian dari dalil dalam syariat. Maka jika mereka pun melakukan doa karangan sendiri dan sebagian ada susunan shalawat sendiri maka tanyakanlah pada mereka apakah mereka tidak puas dengan lafadz doa dan shalawat dari Rasulullah s.a.w.?? Apakah mereka orang yang tidak mendapat petunjuk padahal mereka digelari rasyidah sebagai orang yang mendapat petunjuk?

      Jangankan shalawat..bahkan dalam shalat pun sahabat menambahkan dan menyusun doa sendiri.. padaha jelas-jelas doa dalam shalat itu jelas contohnya dari Rasulullah s.a.w. dan beliau pun memerintahkan untuk mengikuti cara beliau shalat. Sebagai contoh Ibnu Umar r.a. menyusun doa sendiri dalam shalat

      Doa-doa yang dilafalkan selama sholat adalah telah jelas ketentuan dan petunjuknya dari Rasulullah s.a.w. Sebagian ulama masa kini mengatakan bahwa perubahan pada kaifiyat ibadah mahdhoh merupakan bid’ah yang terlarang. Namun kenyataannya Ibnu Umar r.a. pernah menambahkan doa tasyahud yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w

      Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali telah menceritakan kepadaku ayahku telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Bisyr aku mendengar Mujahid menceritakan dari Ibnu Umar r.a. dari Rasulullah s.a.w. tentang tasyahud, yaitu: “Attahiyyatu lillah Asshalawatut-thayyibat Assalamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakatuh” Ibnu Umar berkata bahwa ana zidtuha (aku menambahkan) “wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu warasuluh”(tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah).” (H.R. Abu Daud No. 826)

      Maka demikian pula dalam lafadz sholawat Ibnu Mas’ud r.a. pun menambahkan lafadz versinya sendiri sebagaimana diceritakan dalam hadits berikut ini :

      Telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Bayan berkata, telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Abdullah berkata, telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi dari Aun bin Abdullah dari Abu Fakhitah dari Al Aswad bin Yazid dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; “Jika kalian membaca shalawat kepada Rasulullah s.a.w. maka baguskanlah, sebab kalian tidak tahu, bisa jadi shalawat itu dihadirkan di hadapannya (Rasulullah). ” Al Aswad berkata; “Orang-orang pun berkata Abdullah bin Mas’ud, “Ajarkanlah kepada kami, ” Abdullah bin Mas’ud berkata; “Bacalah; ALLAHUMMA IJ’AL SHALAATAKA WA RAHMATAKA WA BARAKA’ATIKA ‘ALA SAYYIDIL MURSALIIN WA IMAAMIL MUTTAQIIN WA KHAATAMIN NABIYYIN MUHAMMADIN ‘ABDIKA WA RASUULIKA IMAAMIL KHAIRI WA QAA`IDIL KHAIRI WA RASUULIR RAHMAH. ALLAHUMMAB’ATSHU MAQAAMAN MAHMUUDAN YAGHBITHUHU BIHIL AWWALIIN WAL AKHIRIIN. ALLAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMADIN WA ‘ALA ALI MUHAMMADIN KAMAA SHALLAITA ‘ALA IBRAHIM WA ‘ALA ALI IBRAHIM INNAKA HAMIIDUN MAJIIDUN. ALLAHUMMA BAARIK ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA ALI MUHAMMADIN KAMAA BAARAKTA ‘ALA IBRAHIM WA ‘ALA ALI IBRAHIM INNAKA HAMIIDUN MAJIIDUN (Ya Allah, jadikanlah shalawat, rahmat dan berkah-Mu kepada pemimpin para Nabi yang diutus, imam orang-orang yang bertakwa dan penutup para Nabi, Muhammad, hamba dan rasul-Mu. Seorang imam dan pemimpin kebaikan, serta rasul pembawa rahmat. Ya Allah, bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji, kedudukan yang menjadikan iri orang-orang terdahulu dan yang akan datang. Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. ” (Atsar .R. Ibnu Majah No. 896 Thabrani dalam Mu’jam Kabir Juz 9 Hal 115, Imam Abdurrazzaq No. 3109, Imam Abu Ya’la No. 5267)

      Atau shalawat dari Ibnu Abbas r.a. yang membaca shalawat versi beliau sendiri sebagai berikut :

      Dari Ibnu Abbas r.a. : “Apabila membaca shalawat kepada Nabi s.a.w. beliau berkata : ‘Ya Allah kabulkanlah syafaat Muhammad yang agung, tinggikan derajatnya yang luhur, dan berilah permohonannya di dunia dan di akhirat sebagaimana Engkau kabulkan permohonan Ibrahim dan Musa” (Atsar Riwayat Abdullah bin Humaid, Imam Abdurrazzaq dalam Mushannaf No. 3104, Ismail Al Qadhi, Atsar ini juga disebutkan oleh Ibnul Qoyyim dalam Kitab Jada’ Al-Afham Hal 76)

      Maka Ibnu Qoyyim pun yang merupakan murid Ibnu Taimiyah mencantumkan riwayat ini dalam kitabnya. Maka masalah kebolehan menyusun redaksi doa sendiri (disamping doa yang sudah dicontohkan Rasulullah s.a.w.) termasuk juga dalam hal ini redaksi shalawat merupakan sesuatu yang tidak dipungkiri oleh para ulama salaf.

      • blog ini masih baru ya ustadz???
        apa sy yg baru tahu,
        wahabi memang meresahkan,
        kurang promo ustadz, sy promo in ya, agar lebih banyak yg mengambil manfaat,?
        tp aqidahnya apa ini??
        sy ingin tau pendapat anda tentang Sayyid Muhammad bin ‘Alawy Al Maliki?

      • Blog ini sebenarnya adalah tempat penyimpanan tulisan dan bahasan yang pernah di bahas dalam page di facebook yaitu forum poncur (pondok curhat) http://www.facebook.com/groups/305579689614/
        RDM Sakinah dan Setetes Hidayah..http://www.facebook.com/groups/seteteshidayah/ yang telah muncul sejak 2011.

        Dalam berdakwah dan bertutur masalah diinul Islam ini kami tidak pernah menunjuk secara terang-terangan kelompok ini dan itu, tidak menyesatkan dan mengkafirkan kelompok ini dan itu, sikap kami adalah bahwa yang sesat adalah kesesatan itu sendiri, yang salah adalah kesalahan itu sendiri, maka kesalahan dan kesesatan itu bisa terdapat pada siapa saja, dari kelompok mana saja, seseorang bisa terjatuh dan terpeleset pada sebuah kesalahan.

        Sebagaimana sikap Ali bin Abi Thalib r.a. ketika ditanya mengenai kaum khawarij yang memberontak pada kekhalifahan beliau, maka beliau menolak mengatakannya kafir beliau hanya mengatakan : “Mereka dahulu adalah saudara kita dan kini mereka durhaka kepada kita”

        Masing-masing jamaah atau kelompok ada kelebihan namun tidak mustahil ada kekurangannya, maka kelebihannya kita ambil dan kekurangannya kita tutupi sambil menasehati, maka sebisa mungkin aib saudara sesama muslim harus kita tutupi dan tidak selayaknya kelemahan dalam tubuh umat Islam dipertunjukkan di hadapan msusuh-musuh Islam. Karena kaum muslimin saat ini lebih memerlukan persatuan dalam menghadapi permusuhan yang semakin canggih, semakin terselubung dan semakin halus modusnya. Namun intinya tetap sama yaitu taktik memecah dari dalam devide et impera itu masih ampuh dilancarkan ke dalam tubuh kaum muslimin. Maka sadarilah kita semua akan hal ini dan jangan terprovokasi dengan perpecahan antar kelompok, antar aliran, antar madzhab.

      • Blog ini memang relatif masih baru. Sikap kami adalah mencoba memahami duduk masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) dan tidak menerima sikap iftiraq (perpecahan). Perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan dan telah terjadi sejak dahulu kala. Aqidah kami adalah Ahlus sunnah wal jama’ah. Kami tidak mencaci dan mengkafirkan kelompok manapun yang berbeda pendapat walau mereka mungkin mencaci dan mengkafirkan. Kami tidak membalas cacian dengan cacian. Kami tidak mau terseret pada membalas sikap ghuluw (ekstrim) walaupun terhadap kelompok yang ghuluw. Namun kami juga harus menjelaskan kesesatan pendapat yang nyeleneh dan tidak berpijak pada dalil. Adapun pertanyaan mengenai sikap kami terhadap Sayyid Muhammamad bin ‘Alawiy Al Maliki. Beliau adalah salah seorang Ulama mulia dari keturunan yang mulia yang pernah hidup di negeri yang mulia. Semoga Allah merahmati dan mengalirkan pahala terus menerus kepada beliau dikarenakan ilmu yang pernah beliau ajarkan sangat bermanfaat bagi ummmat.

  3. rahasia blog says:

    allahummasholli’alaihi…

  4. so says:

    antara adab dakwah, persaudaraan sesama muslim , khilafiyah, nasehat itu ada kaidah-2 tersendiri. Namun hendaknya yg benar katakan benar, yg bathil katakan bathil. Bukan berarti mengatakan bathil itu kita benci mereka, yg d benci adalah amalan menyimpangnya. Bukan ngambang dan manhaj lemah , memble menhadapi kebathilan. Bukan krn pingin bersatu kita mengatur demikian rupa dalil dalil umum utk kebersamaan.

  5. LUTHFI says:

    memang manusia gk ada yg sempurna. tiap org pasti pernah melakukan bid’ah, musyrik dll meski kecil kandungan nya.

  6. Akhlis says:

    Saya suka artikel ini sangat gamblang

  7. syaikh paijo says:

    para wali atau ulama ngarang shalawat. Berarti umat muslim spt saya boleh ngarang shalawat donk. Kata nya tingkah laku para wali dan ulama harus ditiru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s