BOLEHKAH BERDOA DENGAN REDAKSI KARANGAN SENDIRI?

Berdoa Mengangkat Tangan 02

BOLEHKAH BERDOA DENGAN REDAKSI KARANGAN SENDIRI?

 Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Kita menjumpai tulisan di dunia maya berbagai tulisan dari orang-orang yang mengatakan bahwa doa ini dan itu yang selama ini diamalkan oleg kaum muslimin adalah bid’ah, demikian pula dzikir ini dan itu karena haditsnya dla’if atau bahkan tidak ada dasar haditsnya sama sekali lalu memvonis orang yang melaalkan doa tersebut telah melakukan ke-bid’ah-an.

Salah satunya yang termasuk dalam perkara ini adalah pada bulan Ramadhan lalu kami dapati pertanyan terkait  orang yang mengatakan bahwa doa berbuka puasa yang biasa dilafalkan kaum muslimin selama ini adalah bid’ah. Lalu ada juga pertanyaan apakah penambahan “sayyidina” pada lafal shalawat adalah bid’ah?”

Memang sebagian dari yang mereka sampaikan itu benar adanya bahwa beberapa doa yang selama ini diamalkan oleh umat Islam adalah berlandaskan hadits yag dla’if atau bahkan beberapa diantaranya tidak ada landasaan shadits nya sama sekali. Yang jadi masalah adalah apakah bila seseorang melafalkan doa yang tidak ada dasarnya dari nash Al-Qur’an atau hadits itu lantas telah melakukan bid’ah? Secara makna bahasa, bid’ah artinya adalah perkara baru, maka dalam hal ini adalah hal itu bisa dikatakan bid’ah. Namun jika yang dimaksud adalah makna bid’ah yang spesifik secara istilah yaitu yang sesat karena hal itu perkara baru dalam agama yang tidak ada landasannya dalam nash Al-Qur’an maupun hadits, nanti dulu, benarkah demikian?

Apa yang dimaksud tidak ada landasannya dalam Al-Qur’an dan Hadits? Bagaimana jika Al-Qur’an dan Hadits Nabi s.a.w. menyiratkan kebolehan mengarang redaksi doa sendiri tanpa meninggalkan doa yang telah dicontohkan Rasulullah s.a.w.? Apakah hal itu masih dikatakan tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits Nabi s.a.w?? Maka kami sepakat jika memang tidak ada landasannya sama sekali walau hanya sekadar qiyas (analogi) dalam Al-Qur’an maupun hadits, maka hal itu jelas merupakan bid’ah yang dlolal (sesat).

Namun sebelum kita sampai pada vonis bahwa hal itu adalah bid’ah yang dlolal (sesat) ada baiknya kita tinjau uraian berikut ini :

Isyarat Umum Dibolehkannya Berdoa Dengan Redaksi Karangan Sendiri

Secara umum Allah SWT memerintahkan kita untuk berdoa dan memohon kepadaNya :

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. (Q.S. Ghafir [40] : 60)

“..dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.. ”. (Q.S. An-Nisaa’ [4]: 32)

Ayat di atas bersifat umum dan tidak memerinci apakah redaksi doa itu harus terbatas yang sudah dicontohkan dalam Al-Qur’an ataukah yang dicontohkan oleh Nabi s.a.w.  Kalaupun ada petunjuk tentang susunan redaksi doa, maka Allah menyuruh kita untuk memohon menggunakan Asma Allah (Asmaul Husna)

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya (Q.S. Al-A’raaf [7]: 180)

Demikian pula dalam hadits Rasulullah s.a.w. memerintahkan umatnya agar berdoa meminta kepada Allah

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Ayyasy dari ‘Ashim dari Zirr dari Abdullah dia berkata, saya pernah shalat bersama Rasulullah s.a.w. sedangkan Abu bakar dan Umar sedang bersamanya, tatkala saya duduk dan mulai memuji kepada Allah serta shalawat atas Nabi s.a.w., kemudian saya berdo’a untuk diriku, maka Nabi s.a.w. bersabda: “Mintalah kepada Allah niscaya kamu akan diberi, mintalah kepada Allah niscaya kamu akan diberi.” (H.R. Tirmidzi No. 541)

Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits di atas hasan shahih.

Dalam tata cara berdoa, Rasulullah s.a.w. memberi petunjuk untuk terlebih dahulu memuja dan memuji Allah (tentu salah satunya dengan menyebut Asma’ul Husna) lalu bershalawat kepada Rasulullah s.a.w. baru setelah itu berdoa dengan karangan redaksi sendiri.

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdur Rahman Al Muqri` Telah menceritakan kepada kami Haiwah berkata: Telah mengkhabarkan kepadaku Abu Hani` Humaid bin Hani` dari ‘Amru bin Malik Al Janbi telah menceritakan kepadaku, ia mendengar Fadlalah Al Anshari, sahabat Rasulullah s.a.w. berkata: Rasulullah s.a.w. mendengar seseorang berdoa sementara itu ia tidak menyebut Allah ‘azza wajalla dan tidak membaca shalawat untuk Nabi s.a.w. , lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ia terburu-buru.” Beliau lalu mendoakannya, setelah itu beliau bersabda kepadanya dan yang lain: “Bila salah seorang dari kalian berdoa, hendaklah dimulai dengan memuja dan memuji Allah kemudian hendaklah membaca shalawat untuk Nabi s.a.w, setelah itu silahkan berdoa sekehendaknya.” (H.R. Imam Ahmad No. 22811)

Pada hadits di atas jelas sekali ada isyarat umum susunan redaksi doa adalah memuja dan memuji Allah (tentu salah satunya dengan menyebut Asma’ul Husna) lalu bershalawat kepada Rasulullah s.a.w. baru setelah itu berdoa dengan karangan redaksi sendiri. Dalam hadits ini tidak disebutkan ketentuan doa seperti ini hanya dilakukan pada saat tertentu misal sehabis shalat saja atau di luar sahalat saja, artinya dalil ini bersifat umum, kapanpun berdoa itu rumus umumnya adalah memuja dan memuji Allah lalu bershalawat kepada Rasulullah s.a.w. baru setelah itu berdoa dengan karangan redaksi sendiri.

Rasulullah s.a.w. juga tidak menyebutkan rumus umum berdoa adalah harus terlebih dahulu berdoa dengan doa yang beliau ajarkan baru setelah itu silakan berdoa dengan karangan sendiri. Tidak namun jelas sekali Rasulullah s.a.w. mengatakan “hendaklah dimulai dengan memuja dan memuji Allah kemudian hendaklah membaca shalawat untuk Nabi s.a.w, setelah itu silahkan berdoa sekehendaknya”

Doa Karangan Sendiri Di Dalam Shalat

Sebagian mengatakan boleh berdoa dengan redaksi karangan sendiri jika di luar shalat. Namun tidak boleh doa dalam shalat itu diubah dan dikarang sendiri karena tata cara shalat bersifat tauqifiy (hanya sesuai apa yang dicontohkan dan diajarkan Nabi s.a.w.). Jika ada bacaan di dalam shalat yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi s.a.w. maka itu adalah bid’ah. Benarkah demikian ?

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Abu Ats Tsalj yang merupakan penduduk Baghdad berkunyah Abu Abdullah, sahabat Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Zarbi dari Ashim Al Ahwas dan Tsabit dari Anas ia berkata : “Nabi s.a.w. memasuki masjid dan terdapat seorang laki-laki yang melakukan shalat dan berdoa dengan mengucapkan: ALLAAHUMMA LAA ILAAHA ILLAA ANTA Al MANNAAN, BADII’US SAMAAWAATI WAL ARDHI DZAL JALAALI WAL IKRAAM (Ya Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Maha Memberi, Pencipta langit dan bumi, Dzat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan). Kemudian Nabi s.a.w. berkata: “Tahukah kalian, dengan apakah orang tersebut berdoa kepada Allah? Ia telah berdoa kepada Allah dengan namaNya yang paling agung, yang apabila Dia dimintai doa maka Dia akan mengabulkannya. Dan apabila diminta maka Dia akan memberi.” (H.R. Tirmidzi No. 3467)

Abu Isa (tirmidzi) berkata; hadits ini adalah hadits gharib (hanya satu jalur yang diriwayatkan oleh Tirmidzi) dari jalur ini.

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Adi dan Suhail bin Yusuf secara makna, dari Humaid dari Anas ia berkata; “Iqamah shalat sudah dikumandangkan, kemudian ada seseorang yang baru datang dan berusaha untuk masuk ke dalam barisan- jiwanya sangat bersemangat-, ketika sampai di shaf, dia berucap, “ALHAMDULILLAAHI HAMDAN KATSIIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIH (segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh keberkahan di dalamnya).” Setelah Rasulullah s.a.w. selesai melaksanakan shalat, beliau bersabda: “Siapakah di antara kalian yang tadi berbicara?” orang-orang semuanya diam. Beliau bertanya lagi: “Siapakah di antara kalian yang tadi berbicara? Sesungguhnya ia mengucapkan yang baik, atau beliau mengatakan, “ia mengucapkan sesuatu yang tidak salah.” Orang tersebut berkata; “Aku ya Rasulullah, aku mempercepat jalanku agar aku dapat masuk ke dalam barisan, maka aku ucapkan apa yang aku ucapkan tadi, ” Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sungguh aku melihat dua belas malaikat saling berlomba-lomba agar dapat menjadi yang pertama kali membawa perkataan tersebut.”  (H.R. Ahmad No. 11593 dan No. 12492)

Pada dua hadits di atas Rasulullah s.a.w. mendengar doa seseorang dalam shalatnya (tidak disebutkan ketika posisi apa ia melantunkan doa ini) Namun dalam jalur lain diriwayatkan dari Rifa’ah ibn Rafi’ disebutkan bahwa orang itu berkata ketika Rasulullah s.a.w bangkit dari ruku

Dari Rifa’ah ibn Rafi’, r.a. berkata: “Suatu hari kami shalat berjama’ah di belakang Rasulullah s.a.w.. Ketika beliau bangun setelah ruku’, beliau membaca: “Sami’allahu Lima Hamidah”. Tiba-tiba salah seorang makmum berkata: Rabbana walakalhamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih.  Setelah selesai shalat, Rasulullah bertanya: “Siapakah tadi yang mengatakan kalimat-kalimat itu?”. Orang yang yang dimaksud menjawab: “Saya Wahai Rasulullah” Lalu Rasulullah berkata: “Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berlomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya”.(H.R. Bukhari No. 799 Nasa’i No 1016, Abu Daud No. 770, Ahmad No. 19018, Ibnu Khuzaimah No. 614)

Pada hadits di atas Rasulullah s.a.w. mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya dan terdapat isyarat bahwa doa ini belum pernah diajarkan atau dicontohkan Rasulullah s.a.w. sebelumnya, terbukti dari perkataan pada hadits ini bahwa Nabi s.a.w. bertanya  “ siapa di antara kalian tadi yang berbicara begitu?” Bila hal itu sesuatu yang diketahi orang banyak dan telah diajarkan Nabi s.a.w. maka pasti Nabi tidak perlu bertanya apa-apa padad orang  orang. Dan ternyata Nabi s.a.w. membenarkan bahkan memuji doa itu karena redaksinya memang baik.

Ini menunjukkan bukti bahwa mengarang redaksi doa sendiri dibolehkan sepanjang redaksinya dan susunan kalimatnya baik, mengagungkan Allah, ditujukan pada Allah dan bukan ditujukan pada selain Allah serta tidak mengandung kemusyrikan. Bahkan di dalam shalat sekalipun yang jelas-jelas ada perintah Rasulullah s.a.w. untuk melakukan shalat sebagaimana aku (Rasulullah s.a.w.) shalat ternyata tidak mengapa jika ditambahi dengan doa-doa karangan sendiri asalkan redaksinya baik.

Mengomentari hadits-hadits dia tas  Ibnu Hajar Asqolani dalam Fath al-Bari mengatakan: “Hadits hadits ini adalah dalil yang menunjukkan akan kebolehan menyusun bacaan dzikir sendiri (yang tidak dicontohkan Rasulullah s.a.w.) di dalam shalat yang tidak ma’tsur, selama dzikir tersebut tidak menyalahi yang ma’tsur” (Fathul Bari, Juz. 2, Hal. 287).

Doa Karangan Sendiri Ketika Tasyahud

Dari Abdullah bin Masud ra. dia berkata:  “Ketika kami bermakmum di belakang Rasulullah saw., kami membaca: “Keselamatan tetap pada Allah, keselamatan tetap pada si fulan”. Suatu hari Rasulullah saw. bersabda kepada kami: Sesungguhnya Allah adalah keselamatan itu sendiri. Jadi, apabila salah seorang di antara engkau duduk (membaca tasyahud) hendaknya membaca: “Segala kehormatan, semua rahmat dan semua yang baik itu milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkat-Nya dilimpahkan kepadamu, wahai Nabi. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada kami dan kepada para hamba-Nya yang saleh. Apabila dia telah membacanya, maka keselamatan itu akan menyebar kepada semua hamba Allah yang saleh”, baik yang di langit maupun yang di bumi. “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, kemudian berdoalah sesukamu”. (H.R. Muslim No.609)

Pada hadits di atas terdapat isyarat dibolehkan berdoa sesuka kita (artinya dengan redaksi karangan sendiri terserah kita) yaitu setelah membaca doa tasyahud yang diajarkan Rasulullah s.a.w.

Oleh karena itu Dalam hadits riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn al-Khaththab menambahkan kalimat Tasyahhud terhadap kalimat-kalimat Tasyahhud yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Dalam Tasayahhud-nya ‘Abdullah ibn ‘Umar menambahkan doa Lahu syarika laa wahdahullah laa ilaha illa anta asyhadu  Lalu ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Wa Ana Zidtuha…”, (Saya sendiri menambahkannya  kalimat tersebut)

Hal in lebih memperkuat lagi bahwa berdoa karangan sendiri itu dimungkinkan di dalam shalat (karena sehabis tasyahud berarti masih dalam posisi shalat). Namun doa karangan sendiri ini diletakkan di belakang atau setelah melantunkan doa yang diajarkan Rasulullah s.a.w.

Nah jika di dalam shalat saja dibolehkan memanjatkan doa dengan redaksi karangan sendiri, tentu di luar shalat lebih boleh lagi misalkan sehabis shalat atau saat lainnya yang tidak terkait shalat. Hanya saja, isyarat pada hadits di atas yaitu prioritasnya adalah doa karangan sendiri ini diucapkan di belakang atau setelah doa yang diajarkan Rasulullah s.a.w.

Ibnu Umar r.a. Menambahkan Doa Karangan Sendiri Saat Talbiyah

Ibnu Umar r.a. meriwayatkan doa talbiyah yang diajarkan Rasulullah s.a.w. adalah “Labaikallahumma labaik, Labaika Laa Syarika laka labaik, Innal Hamda wa ni’mata laka wal mulk laa syarikalak” Lalu Ibnu Umar berdoa : “Labaikalabaika wa saidaika wal khairu biyadaik labaik warraghba’u ilaika wal ‘amal” (Atsar.R.  Bukhari Juz 2 Hal 170, Muslim No. 1184, Abu Daud No. 1812)

Dalam atsar Ibnu Umar r.a. di atas jelas bahwa Ibnu Umar menambahkan doa karangan sendiri setelah doa talbiyah yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w. tentu saja doa ini tidak ada pada masa Rasulullah s.a.w. Hal ini menunjukkan dibolehkannya doa tambahan dari susunan sendiri, setelah doa  yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w.

Tambahan Pada Doa Qunut Yang Diajarkan Nabi

Secara umum doa qunut yang diajarkan Rasulullah s.a.w. adalah sebagaimana dalam hadits sbb :

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash dari Abu Ishaq dari Buraid bin Abu Maryam dari Abu Al Khaura’ As Sa’di dia berkata, Al Hasan bin Ali r.a. berkata, Rasulullah S.a.w.mengajariku beberapa kalimat yang saya ucapkan dalam shalat witir, yaitu ALLAHUMMAHDINI FIIMAN HADAIT, WA’AAFINI FIIMAN ‘AFAIT, WATAWALLANII FIIMAN TAWALLAIT, WABAARIK LII FIIMA A’THAIT, WAQINII SYARRAMA QADLAIT, FAINNAKA TAQDLI WALAA YUQDLA ‘ALAIK, WAINNAHU LAA YADZILLU MAN WAALAIT, TABAARAKTA RABBANA WATA’AALAIT. (H.R. Tirmidzi No. 426)  Nashiruddin Al-Albani mengatakan bahwa ini adalah hadits shahih.

Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dari Buraid bin Abu Maryam dari Abu Al Haura` dari Al Hasan bin Ali r.a. ia berkata, “Kakekku, Rasulullah s.a.w. mengajariku beberapa kalimat yang aku baca ketika qunut dalam shalat witir; ALLAHUMMA ‘AAFANI FIIMAN ‘AAFAITA WA TAWALLANII FIIMAN TAWALLAITA WAH DINII FIIMAN HADAITA WAQINII MAA QADLAITA WA BAARIKLII FIIMAA A’THAITA INNAKA TAQDLII WA LAA YUQDLAA ‘ALAIKA INNAHU LAA YADZILLU MAN WAA LAITA SUBHAANAKA RABBANAA TABAARAKTA WA TA’AALAIKA”. (H.R. Ibnu Majah No. 1168) Nashiruddin Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil mengatakan hadits ini shahih.

Namun Imam An-Nawawi, dalam kitab Raudlah Ath-Thalibin, tentang doa Qunut, beliau menuliskan sebagai berikut : “Para ulama menambahkan kalimat: “Wa Laa Ya’izzu Man ‘Adaita” sebelum “Tabarakta Wa Ta’alaita”. Mereka juga menambahkan setelahnya, kalimat “Fa Laka al-Hamdu ‘Ala Ma Qadlaita, Astaghfiruka Wa Atubu Ilaika”. Saya (An-Nawawi) katakan : Ulama madzhab Asy-Syafi’i mengatakan: “Tidak masalah (boleh) dengan adanya tambahan ini”. Bahkan Abu Hamid, dan Al-Bandanijiyy serta beberapa ulama yang lain mengatakan bahwa bacaan tersebut adalah termasuk sunnah” (Raudlah Ath-Thalibin, Juz. 1, Hal. 253-254).

Sahabat Mencampur Surat Ini dan Itu Dalam Shalat

Ali r.a. berkata : “Abu Bakar bila membaca Al-Qur’an dengan suara lirih sedangkan Umar dengan suara keras. Dan Ammar bila membaca Al-Qur’an mencampur surat ini dan itu. Kemudian hal itu dilaporkan kepada Nabi s.a.w. sehingga beliau bertanya kepada Abu Bakar : “Mengapa kamu membaca dengan suara lirih?” Ia menjawab : “Allah dapat mendengar suaraku walaupun lirih”. Lalu beliau bertanya kepada Umar: “Mengapa kamu membaca dengan suara keras ?” Umar menjawab : “Aku mengusir setan dan menghilangkan kantuk”. Lalu beliau bertanya pada Ammar : “Mengapa kamu mencampur surat ini dengan surat itu?” Ammar menjawab : “Apakah engkau pernah mendengar aku mencampurnya dengan selain Al-Qur’an?” Beliau s.a.w. menjawab : “Tidak” Lalu beliau bersabda : “Semua itu baik” (H.R. Ahmad No. 865 ) Al-Haistami berkata isnad hadits ini tsiqat / terpercaya (Majma’u Zawaid Juz 2 hal 544)

Tambahan Pada Shalawat Yang Diajarkan Nabi

Salah satu pertanyaan yang sering timbul dalam diskusi dalam masalah ini adalah bolehkah tambahan “sayidina” pada shalawat ? Maka perlu dipahami bahwa shalawat termasuk salah satu doa yaitu doa, maka jawaban atas persoalan ini adalah sebagaimana hadits yang dikutip sebelumnya di atas yaitu :

Dari Abdullah bin Masud ra. dia berkata:  “Ketika kami bermakmum di belakang Rasulullah saw., kami membaca: “Keselamatan tetap pada Allah, keselamatan tetap pada si fulan”. Suatu hari Rasulullah saw. bersabda kepada kami: Sesungguhnya Allah adalah keselamatan itu sendiri. Jadi, apabila salah seorang di antara engkau duduk (membaca tasyahud) hendaknya membaca: “Segala kehormatan, semua rahmat dan semua yang baik itu milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkat-Nya dilimpahkan kepadamu, wahai Nabi. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada kami dan kepada para hamba-Nya yang saleh. Apabila dia telah membacanya, maka keselamatan itu akan menyebar kepada semua hamba Allah yang saleh”, baik yang di langit maupun yang di bumi. “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, kemudian berdoalah sesukamu”. (H.R. Muslim No.609)

Jika kita perhatikan hadits di atas, Rasulullah s.a.w. mengajarkan doa pada posisi tasyahud (baik tasyahud awal maupun akhir) yaitu berdoa sebagaimana diajarkan Rasulullah s.a.w. di atas sampai kepada ucapan doa wa’alaa ibadillahishalihin , lalu mengucapkan syahadat dan setelah itu “berdoalah sesukamu”. Rasulullah s.a.w. bersabda “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, kemudian berdoalah sesukamu”. Dari sini kita mengetahui bahwa posisi “shalawat  kepada Rasulullah s.a.w.” termasuk pada wilayah “berdoalah sesukamu” setelah mengucap syahadat.  Sehingga penambahan atau modifikasi pada shalawat dibolehkan walaupun ada hadits yang menceritakan ketika orang bertanya bagaimana cara shalawat kepadamu? Maka Rasulullah s.a.w. mengajarkan doa shalawat sebagai berikut :

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya at-Tamimi dia berkata, saya membaca di hadapan Malik dari Nu’aim bin Abdullah al-Mujmir bahwa Muhammad bin Abdullah bin Zaid al-Anshari dan Abdullah bin Zaid yang dia adalah orang yang diberi petunjuk dalam hal panggilan untuk shalat (adzan), dia telah menceritakannya dari Abu Mas’ud al-Anshari dia berkata, “Rasulullah s.a.w. mendatangi kami sedangkan kami berada dalam majlis Sa’d bin Ubadah, maka Basyir bin Sa’ad berkata kepadanya, ‘Allah memerintahkan kami untuk mengucapkan shalawat atasmu wahai Rasulullah, lalu bagaimana cara bershalawat atasmu? ‘ Perawi berkata, “Lalu Rasulullah s.a.w. diam hingga kami berangan-angan bahwa dia tidak menanyakannya kepada beliau. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda, “Katakanlah, ‘ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAA MUHAMMAD WA’ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA SHALLAITA ‘ALAA AALI IBRAAHIIMA WABAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA’ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BAARAKTA ‘ALAA AALI IBRAAHIIMA FIL’AALAMIINA INNAKA HAMIIDUN MAJIID.” (Artinya : Ya Allah, berilah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberi shalawat atas keluarga Ibrahim, dan berilah berkah atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberi berkah kepada keluarga Ibrahim di dunia. Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.’ Dan salam sebagaimana yang telah kamu ketahui).” (H.R. Muslim No. 613, Nasa’i No. 1268)

Rasulullah s.a.w. juga mengajarkan variasi bacaan shalawat lain selain yang diajarkan di atas yaitu :

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik bin Anas dari ‘Abdullah bin Abi Bakr bin Muhammad bin ‘Amru bin Hazm dari bapaknya dari ‘Amru bin Sulaim Az Zuraqiy telah mengabarkan kepadaku Abu Humaid as-Sa’idiy r.a. bahwa mereka berkata; “Wahai Rasulullah, bagaimana caranya kami bershalawat kepada baginda?”. Maka Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ucapkanlah; Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa azwaajihi wa dzurriyyatihii kamaa shollaita ‘alaa aali Ibrahim wa baarik ‘alaa Muhammadin wa azwaajihi wa dzurriyyatihii kamaa baarakta ‘alaa aali Ibrahim innaka hamiidun majiid” (Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad, istri-istrinya dan anak keturunannya sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim dan berilah barakah kepada Muhammad, istri-istrinya dan anak keturunannya sebagaimana Engkau telah memberi barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkah Maha Terpuji dan Maha Mulia) “. (H.R. Bukhari No. 3118, 5883)

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub Telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq berkata; dan Telah menceritakan kepadaku tentang shalawat atas Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam jika ada seorag muslim bershalawat tatkala dalam shalatnya, Muhammad bin Ibrahim bin Al Harits At-Taimi dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid bin Abdu Rabbihi Al Anshari saudara Balharits bin Al Khajraj, dari Abu Mas’ud, Uqbah bin ‘Amr Al Anshari berkata; ada seorang laki-laki yang datang sehingga dia duduk di depan Rasulullah s.a.w., dan kami pada saat sedang berada di samping beliau. Lalu orang itu berkata; “Wahai Rasulullah, berkenaan ucapan salam terhadap anda kami telah mengetahuinya, lalu bagaimana kami harus mengucapkan shalawat atas anda saat kami shalat?.” (Abu Mas’ud, Uqbah bin ‘Amr Al Anshari r.a.) berkata; “Lalu Rasulullah s.a.w. diam sampai kami berandai-andai jika si laki-laki tadi tidak menanyakannya.” Lalu beliau bersabda: “Jika kalian hendak mengucapkan shalawat atasku, maka bacalah: ALLAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMAD AN-NABIYIL UMI WA ‘ALA ALI MUHAMMAD. KAMA SHALLAITA ‘ALA IBRAHIM. WA BARIK ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA ALI MUHAMMAD AN-NABIYIL UMI KAMA BARAKTA ‘ALA IBRAHIM WA ‘ALA ALI IBRAHIM FIL ‘ALAMIN INNAKA HAMIDUN MAJID (ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad, Nabi yang tidak bisa membaca dan menulis dan keluarganya. Dan berilah berkah kepada Muhammad Nabi yang tidak bisa membaca dan menulis, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya engkau Maha Terpuji dan Maha Agung), (H.R. Ahmad No. 16455)

Shalawat yang diajarkan Rasulullah s.a.w. pada hadits di atas bersifat umum dan tidak membatasi bahwa itu adalah ucapan shalawat ketika duduk tasyahud dalam shalat saja. Maka sebagian ulama ada yang tidak mewajibkan membaca doa shalawat setelah syahadat. Hal ini sesuai dengan rumus umum doa ketika tasyahud adalah :

Rasulullah s.a.w. bersabda : “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, kemudian berdoalah sesukamu”. (H.R. Muslim No.609)

Namun ulama yang berkeyakinan bahwa maksud pertanyaan shalwat pda hadits di atas adalah shalawat ketika shalat, yaitu berdasarkan hadits :

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. daro Nabi s.a.w. : “Apabila salah seorang dari kamu membaca tasyahud dalam shalat hendaklah membaca : Allahumma shalli ‘alaa … (sampai akhir doa shalwat)” (H.R. Baihaqi dan Al Hakim)

“Allah telah menyuruh kami supaya membaca shalawat atas engkau, bagaimana cara kai bershalawat kepadamu, bila kami bershalawat dalam shalat kami? Rasulullah s.a.w. bersabda : “Katakanlah Allahumma shalli ‘alaa…(dst hingga akhir doa shalawat)” (H.R. Daruquthni, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah).

Maka ada dua pendapat di sini pertama, bahwa “berdoalah sesukamu” ini salah satunya diisi dengan doa shalawat kepada Rasulullah s.a.w. maka berarti di sini dibolehkan adanya tambahan yang baik dan variasi doa shalawat asalkan yang baik, tidak mengandung penyimpangan dan kesyirikan. Maka sekadar tambahan “sayidina” di depan nama Nabi (Muhammad s.a.w. maupun Nabi Ibrahim a.s.) tentu masih dalam batas kewajaran yang baik. Hal ini juga diperkuat dengan berbagai riwayat adanya doa shalawat karangan para sahabat yang akan kami sebutkan kemudian.

Pendapat kedua, ada yang membantah dengan mengatakan bahwa berdoalah “sesukamu” itu maksudnya diucapkan setelah doa shalawat, sehingga shalawat itu sendiri harus mengikuti ketentuan sebagaimana yang diajarkan Rasulullah s.a.w. Hal ini berdasarkan hadits yang menceritakan bahwa adanya doa tambahan setelah tasyahud akhir sebagai berikut :

“Allahumma inni ‘audzubika min adzaabi jahannam wa min adzaabi qabri wa min fitnatin mahya wa mamat wa min syahrii fitnatin mahsyihil dajjaal”  “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam dan siksa kubur, dan fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Masihid Dajjal.” (H.R. Muslim No. 924)

Pendapat ini bisa saja demikian, namun juga tidak bisa disalahkan jika ada yang mengambil pendapat pertama.

Shalawat Susunan Abdullah bin Mas’ud r.a.

Dalam sebuah atsar sahabat diceritakan susunan doa shalawat karangan Abdullah bin Mas’ud r.a.

Telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Bayan berkata, telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Abdullah berkata, telah menceritakan kepada kami Al Mas’udi dari Aun bin Abdullah dari Abu Fakhitah dari Al Aswad bin Yazid dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; “Jika kalian membaca shalawat kepada Rasulullah s.a.w. maka baguskanlah, sebab kalian tidak tahu, bisa jadi shalawat itu dihadirkan di hadapannya (Rasulullah). ” Al Aswad berkata; “Orang-orang pun berkata Abdullah bin Mas’ud,Ajarkanlah kepada kami, ” Abdullah bin Mas’ud berkata; “Bacalah; ALLAHUMMA IJ’AL SHALAATAKA WA RAHMATAKA WA BARAKA’ATIKA ‘ALA SAYYIDIL MURSALIIN WA IMAAMIL MUTTAQIIN WA KHAATAMIN NABIYYIN MUHAMMADIN ‘ABDIKA WA RASUULIKA IMAAMIL KHAIRI WA QAA`IDIL KHAIRI WA RASUULIR RAHMAH. ALLAHUMMAB’ATSHU MAQAAMAN MAHMUUDAN YAGHBITHUHU BIHIL AWWALIIN WAL AKHIRIIN. ALLAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMADIN WA ‘ALA ALI MUHAMMADIN KAMAA SHALLAITA ‘ALA IBRAHIM WA ‘ALA ALI IBRAHIM INNAKA HAMIIDUN MAJIIDUN. ALLAHUMMA BAARIK ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA ALI MUHAMMADIN KAMAA BAARAKTA ‘ALA IBRAHIM WA ‘ALA ALI IBRAHIM INNAKA HAMIIDUN MAJIIDUN (Ya Allah, jadikanlah shalawat, rahmat dan berkah-Mu kepada pemimpin para Nabi yang diutus, imam orang-orang yang bertakwa dan penutup para Nabi, Muhammad, hamba dan rasul-Mu. Seorang imam dan pemimpin kebaikan, serta rasul pembawa rahmat. Ya Allah, bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji, kedudukan yang menjadikan iri orang-orang terdahulu dan yang akan datang. Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. ” (Atsar .R.  Ibnu Majah No. 896 Thabrani dalam Mu’jam Kabir Juz 9 Hal 115, Imam Abdurrazzaq No. 3109, Imam Abu Ya’la No. 5267)

Nashiruddin Al-Albani  menyatakan hadits ini dla’if karena Ziyad bin Abdullah bin Ath-Thufail dikatakan dla’if oleh Nasa’i serta Abu Hatim mengatakan hadits Ziyad tidak bisa dijadikan hujah. Namun atsar Ibnu Mas’ud ini dijadikan hujjah oleh Ibnul Qoyyim (murid Ibnu Taimiyyah) dan disebutkan dalam Kitab Jada’ Al-Afham Hal 36 dan Hal 72.

Shalawat Susunan Abdullah bin Abbas r.a.

Dari Ibnu Abbas r.a. : “Apabila membaca shalawat kepada Nabi s.a.w. beliau berkata : ‘Ya Allah kabulkanlah syafaat Muhammad yang agung, tinggikan derajatnya yang luhur, dan berilah permohonannya di dunia dan di akhirat sebagaimana Engkau kabulkan permohonan Ibrahim dan Musa” (Atsar Riwayat Abdullah bin Humaid, Imam Abdurrazzaq dalam Mushannaf No. 3104, Ismail Al Qadhi, Atsar ini juga disebutkan oleh Ibnul Qoyyim dalam Kitab Jada’ Al-Afham Hal 76)

Shalawat Karangan Imam Syafi’i

Imam Syafi’i telah menyusun doa shalawat tersendiri seperti ini : “Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada Muhammad sejumlah ingatan orang-orang yang berdzikir kepadaNya dan sejumlah kelalaian orang-orang yang lalai kepadaNya” (Riwayat Imam Sakhawi dalam Qaul Al-Badi’ hal 254, dan Ibnul Qoyyim dalam Kitab Jada’ Al-Afham Hal 230)

Ibnu Taimiyyah Mempunyai Kebiasaan Berdoa dan Berdzikir Tersendiri

Salah seorang murid Ibnu Taimiyyah bernama Umar bin Ali Al-Bazzar berkata : “Apabila Ibnu Taimiyyah selesai shalat subuh maka ia berdzikir kepada Allah bersama jamaah dengan doa yang datang dari Nabi s.a.w. yaitu : “Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabarakta ya dzaljalali wal ikrom. Lalu beliau menghadap kepada jamaah lalu membaca tahlil-tahlil yang datang dari Nabi s.a.w. lalu tasbih, tahmid dan takbir masing-masing 33 kali, dan diakhiri dengan tahlil sebagai bacaan yang keseratus. Ia membacanya bersama jamaah yang hadir. Kemudian ia berdoa kepada Allah ta’ala untuk dirinya dan jamaah serta kaum muslimin. Kebiasaan Ibnu Taimiyyah sudah dimaklumi, ia sulit diajak bicara setelah shalat subuh kecuali terpaksa. Ia akan terus berdzikir pelan cukup didengar sendiri dan terkadang dapat didengar oleh orang yang ada di sampingnya. Di tengah-tengah dzikir itu ia sering mengarahkan pandangannya ke langit dan ini kebiasaannya hingga matahari naik dan waktu larangan shalat habis. Aku selama tinggal di Damaskus selalu bersamanya siang dan malam. Ia sering mendekatkan ku kepadanya sehingga aku duduk di sampingnya. Pada saat itu aku selalu mendengar apa yang dibacanya dan yang dijadikannya sebagai dzikir. Aku melihatnya membaca Al-Fatihah mengulang-ulangnya dan menghabiskan seluruh waktunya dengan membacanya yakni dengan mengulang-ulang Al-Fatihah sejak selesai shalat subuh hingga matahari naik. Dalam hal ini aku merenung mengapa ia hana rutin membaca Al-Fatihah dan tidak yang lainnya ? Akhirya aku tahu bahwa ia bermaksud menggabungkan antara keterangan dalam berbagai hadits dan apa yang disebutkan para ulama yaitu : “Apakah pada saat itu disunnahkan mendahulukan dzikir dzikir yang datang dari Nabi s.a.w. daripada Al-Qur’an atau sebaliknya?” Beliau berpendapat bahwa dalam membaca dan mengulang-ulang Al-Fatihah ini berarti menggabungkan antara dua pendapat dan meraih dua keutamaan, ini termasuk bukti kecerdasan dan pandangan hatinya yang jitu “ (Al-A’lam Al-‘Aliyyah fii Manaqib Ibnu Taimiyyah Hal 37-39)

Imam Ahmad bin Hanbal Mendoakan Imam Syafi’i Selama 40 Tahun

Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Saya mendoakan Imam Syafi’i dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Saya berdoa : ‘Ya Allah ampunilah aku kedua orangtuaku dan Muhammad bin Idris Al Syafi’i (Al-Baihaqi dalam Kitab Manaqib Imam Al-Syafi’i  Juz 2 Hal 254) Tidak disebutkan doa ini disisipkan dalam shalat itu pada saat posisi apa.

Kesimpulan

Jelas sekali terdapat dalil umum dibolehkannya berdoa dengan karangan sendiri maupun dalil khusus yang menceritakan saat-saat khusus dibolehkannya adanya penambahan atau doa karangan sendiri seperti hadits yang menceritakan doa karangan sendiri ketika bangkit dari ruku, tambahan redaksi doa pada doa qunut, doa karangan sendiri setelah doa tasyahud, doa karangan sendiri ketika talbiyah (ibadah haji) dan doa shalawat karangan sendiri oleh beberapa sahabat, doa karangan sendiri para Imam Madzhab dan lain-lain.

Demikian pula jelas sekali rumus umum redaksi doa adalah sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. dimulai dengan memuja dan memuji Allah lalu bershalawat kepada Rasulullah s.a.w. lalu silakan berdoa dengan redaksi karangan sendiri. Namun mengutamakan berdoa dengan doa yang dicontohkan Rasulullah s.a.w. itu lebih utama, dan wajar jika hal itu didahulukan daripada doa karangan kita sendiri. Demikian pula apabila ada doa yang dikarang atau disusun oleh sahabat maka itu lebih utama daripada doa karangan kita sendiri. Juga dibolehkan sikap mendahulukan atau mengutamakan doa karangan tabi’in atau tabi’ut tabi’in, atau ulama salaf maupun ulama khalaf  sebelum doa karangan kita sendiri. Namun melafalkan doa karangan sendiri adalah boleh dan bukan bid’ah yang dlolalah (sesat).

Maka rumus umum berdoa adalah memuja dan memuji Allah lalu bershalawat kepada Rasulullah s.a.w. lalu berdoa dengan doa-doa yang diajarkan Nabi s.a.w., lalu doa-doa lain (mungkin karangan sahabat, tabi’in, ulama salaf) baru setelah itu berdoa dengan karangan redaksi sendiri. Namun hal ini bukanlah sesuatu yang wajib sehingga menyebabkan orang yang hanya  berdoa dengan karangan sendiri itu berdosa dan tidak dikabulkan doanya. Tidak, sama sekali tidak demikian.

Orang boleh saja langsung berdoa dengan karangan sendiri terutama jika hal itu dilakukan spontan dan di luar shalat. Sedangkan di dalam shalat, karena ada pesan khsusu dari Rasulullah s.a.w. bahwa shalatlah sebagaimana aku shalat, maka lebih utama melafalkan doa yang diajarkan Rasulullah kecuali pada posisi tertentu yang ada dalil haditsnya membolehkan tambahan doa karangan sendiri,  yaitu misalnya saat iftitah, saat bangkit dari ruku, saat sujud, dan saat tasyahud, Sedangkan doa tambahan karangan sendiri itupun harus diletakkan di akhir setelah melafalkan lafal doa dalam shalat sesuai yang dicontohkan Rasulullah s.a.w. serta isinya tidak boleh mengandung kemusyrikan atau hal yang menyimpang dari syari’at Allah.

Wallahua’lam.

One thought on “BOLEHKAH BERDOA DENGAN REDAKSI KARANGAN SENDIRI?

  1. […] Sumber: BOLEHKAH BERDOA DENGAN REDAKSI KARANGAN SENDIRI? […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s