WANITA YANG SELESAI HAID MENGQADHA SHALATNYA?

Keputihan 02

WANITA YANG SELESAI HAID MENGQADHA SHALATNYA?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

 Keputihan 02

Telah sampai pada kami pertanyaan mengenai pendapat yang mengatakan bahwa apabila haid atau nifas berakhir sebelum matahari tenggelam maka ia wajib mengadha shalat zhuhur dan ashar, sedangkan jika berakhir sebelum fajar (waktu subuh) maka ia wajib mengadha isya dan maghrib. Hal ini berdasarkan hadits dari Abdurrahman bin ‘Auf dan Abdullah bin Abbas. Demikian pula hal ini karena waktu zhuhur dan ashar dianggap satu waktu (bisa dijamak) demikian pula maghrib dan Isya. Sedangkan jika haid dan nifasnya berakhir setelah matahari terbit (lewat subuh) maka ia cukup mengqadha subuh. Saya pernah membaca hal ini dalam Fatwa An-Nisaa’ oleh  Abdullah bin Abdurrahman Bin Baz dan Ibnu Jibrin serta Tanbiihat ‘alaa ahkaam takhtashshu bil mukminat, karya Syaikh Shalih Al-Fauzan.

Namun sejauh ini kami mencoba mengecek di hadits Bukhari, Muslim, Nasa’iy, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Muwatha Imam Malik, Imam Ahmad, Ad-Darimi, namun kami belum menemukan hadits yang dimaksud. Semua hadits-hadits yang kami jumpai justru menegaskan bahwa tidak ada qadha shalat bagi wanita yang haid. Bahkan Aisyah menjuluki orang yang bersikeras berpendapat wanita haid harus menqadha shalatnya sebagai kaum Khawarij dari Haruriyah.

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dari Sa’d bin Abu ‘Arubah dari Qotadah dari Mu’adzah Al ‘Adawiyah dari Aisyah; bahwasanya ada seorang wanita yang bertanya kepadanya: “Apakah wanita haidl harus mengqadla shalat? Aisyah berkata kepada wanita tersebut; “Apakah engkau seorang Haruriyah ? (kaum khawarij yang terkenal peristiwa Haruriyah) Kami pernah mengalami haidl kemudian suci di masa Nabi s.a.w. , namun beliau tidak memerintahkan kami untuk mengqadla shalat.” (H.R. Ibnu Majah No. 623, Tirmidzi  No. Imam Ahmad No. 22908 Ad-Darimi No. 963, 968, 970 ) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits di atas shahih.

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari Bapaknya dari ‘Aisyah, Rasulullah s.a.w. bersabda : “Jika haid kamu datang maka tingalkanlah shalat, dan jika telah berlalu masa-masa haid, maka bersihkanlah darah darimu lalu shalatlah.” (H.R. Bukhari No. 295, Nasa’iy No. 218)

Telah mengabarkan kepada kami Ya’la telah menceritakan kepada Kami ‘Ubaidah bin Mu’attib dari Ibrahim dari Al `Aswad dari Aisyah raddhiallahu ‘anha berkata: “Dahulu kami pernah mengalami haid pada masa Rasulullah s.a.w. beliau tidak memerintahkan seorang (wanita pun) diantara kami untuk mengerjakan shalat (yang tertinggal ketika masa haid) “. (H.R. Ad. Darimi No. 962)

Adapun semua hadits-hadits yang menyatakan harus menjama’ shalat adalah bagi wanita yang musthadhah (yaitu yang keluar darah bukan haid melainkan karena penyakit)

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abdullah bin Yunus telah menceritakan kepada kami Abu Zubaid telah menceritakan kepad kami Hushain dari Abdullah bin Syaddad ia berkata: “Seorang wanita yang mengalami istihadhah, hendaklah ia mandi kemudian menjama’ antara shalat dhuhur dan ashr, dan jika ia melihat sesuatu (dari darah), maka ia harus mandi dan menjama’ shalat maghrib dan isya’ “. (H.R. Ad-Darimi No. 796) Husain Salim Assad Ad-Daroni mengatakan hadits di atas sanadnya shahih

Demikian pula hadits yang dimaksud berasal dari Abdurrahman bin ‘Auf karena salah satu yang mengalami istihadhah adalah istri Abduraahman bin ‘Auf. Sebagaimana hadits berikut ini :

Telah mengabarkan kepada kami Ar Rabi’ bin Sulaiman bin Daud dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata; Telah menceritakan kepada kami Al Haitsam bin Humaid telah mengabarkan kepadaku An-Nu’man dan Al Auzai dan Abu Mu’aid yaitu Hafs bin Ghailan dari Az-Zuhri berkata; Telah mengabarkan kepadaku ‘Urwan bin Zubair dan Amrah binti Abdurrahman dari Aisyah dia berkata: ” Ummu Habibah binti Jahsy -istri Abdurrahman bin Auf, saudari Zainab binti Jahsy- mengalami istihadah, maka ia meminta fatwa kepada Rasulullah s.a.w. tentang hal tersebut. Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda kepadanya, ” Ini bukan haid, tetapi darah penyakit. Apabila selesai haid maka mandi dan kerjakanlah shalat, dan jika datang haid maka tinggalkanlah shalat.” Aisyah berkata, Dia (Ummu Habibah) selalu mandi untuk setiap shalat, lalu dia shalat. Kadang dia mandi di tempat mencuci pakaian di dalam kamar saudaranya (Zainab), dan dia tinggal bersama Rasulullah s.a.w. , hingga merahnya darah mengalahkan air. Dia keluar untuk shalat bersama Rasulullah s.a.w. , dan beliau s.a.w. tidak mencegahnya untuk melaksanakan shalat karena hal itu.” (H.R. Nasa’i No. 204) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits di atas shahih.

Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Yahya telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Muhammad bin Ishaq dari Abdurrahman bin Al-Qasim dari Ayahnya dari Aisyah bahwasanya Sahlah binti Suhail mengeluarkan darah penyakit, lalu dia mendatangi Nabi s.a.w., maka beliau memerintahkannya untuk mandi pada setiap kali shalat. Tatkala hal itu dirasa berat baginya, beliau memerintahkannya untuk menjamak antara shalat Zhuhur dengan Ashar dan antara shalat Maghrib dan shalat Isya dengan satu kali mandi, dan satu kali mandi untuk shalat Shubuh.  (H.R.Abu Daud No. 253)

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu’adz telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdurrahman bin Al-Qasim dari Ayahnya dari Aisyah dia berkata: “Ada seorang wanita pada masa Rasulullah s.a.w. yang mengeluarkan darah penyakit, maka dia diperintahkan untuk mendahulukan shalat Ashar dan mengakhirkan shalat Zhuhur, dengan satu kali mandi untuk kedua shalat itu, dan diperintahakan juga untuk mengakhirkan shalat Maghrib, mendahulukan shalat Isya dengan satu kali mandi untuk keduanya. Dan untuk shalat Subuh, hendaknya dia mandi sekali. Kemudian saya bertanya kepada Abdurrahman; (Apakah cara ini) bersumber dari Nabi s.a.w.? Abdurrahman menjawab; Saya tidak menceritakan sesuatu (Hadits) pun melainkan berasal dari Nabi s.a.w.. (H.R. Abu Daud No. 252)

Telah mengabarkan kepada kami Isa bin Hammad dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid bin Abu Habib dari Bukair bin Abdullah dari Al Mundziri bin Al Mughirah dari ‘Urwah bahwa Fatimah binti Hubaisy menceritakan dirinya pernah datang kepada Rasulullah s.a.w. untuk mengadukan pendarahannya. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda kepadanya: ” Itu darah penyakit. Perhatikan waktu kebiasaan haidmu, jika datang maka jangan shalat dan jika Telah berlalu maka bersuci dan shalatlah antara waktu haid yang satu ke waktu haid yang lain.” (H.R. Nasa’i No. 211) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits di atas shahih.

Yang dimaksud waktu haid satu ke waktu haid berikutnya ialah, karena wanita yang pendarahan karena penyakit (bukan karena haid) keluar darahnya tidak teratur. Maka ia shalat ketika tidak keluar darah. Dan tidak shalat ketika keluar darah. Maka ia hendaknya melakukan shalat antara waktu haid ke waktu haid berikutnya. Keluarnya darah karena penyakit itu disebut haid juga namun tanggalnya tidak menentu dan bisa datang sewaktu waktu.

Namun jika istihadhahnya ini parah dan keluar TERUS MENERUS KELUAR DARAH sebagaimana kasus Ummu Habibah binti Jahsy -istri Abdurrahman bin Auf yang mengalami hal ini selama 7 tahun maka ia harus mandi pada setiap kali hendak shalat. Dan oleh karena repot sekali (jika harus mandi tiap mau shalat) maka diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w. ia menjamak shalatnya sehingga ia hanya mandi 3X dalam sehari.

Telah mengabarkan kepada kami Ya’la telah menceritakan kepada kami Abdul Malik dari ‘Atha` tentang seorang wanita yang mengalami istihadhah, ia berkata: “(Hendaknya) ia meninggalkan shalat sehari atau dua hari (setelah) kebiasaan haidnya, kemudian ia (haruslah) mandi, apabila pada waktu yang pertama (dhuhur) ia melihat sesuatu berupa at tariyyah, hendaknya ia berwudhu dan shalat, tetapi jika ia melihat darah, hendaknya ia mengakhirkan waktu dhuhur dan menyegerakan ashr, kemudian ia shalat dua waktu tersebut dengan satu kali mandi, dan apabila matahari tenggelam, hendaknya ia periksa kembali, jika ia melihat at tariyyah, hendaknya ia berwudhu dan shalat, tetapi jika ia melihat darah, hendaknya ia mengakhirkan waktu maghrib dan menyegerakan isya, kemudian ia shalat dua waktu tersebut dengan satu kali mandi, dan apabila fajar telah terbit, hendaknya ia memeriksa kembali, jika ia melihat at tariyyah, hendaknya berwudhu dan shalat, dan apabila ia melihat darah, hendaknya ia mandi dan shalat subuh. Ia mengucapkannya secara berulang tiga kali”. Abu Muhammad berkata: “Panjang masa yang biasa seorang wanita mengalami haid, aku anggap itu adalah masa haid“. (Ad-Darimi No. 865)

Maka kemungkinan inilah yang dimaksud bahwa setelah selesai haid lalu mandi, maka wanita itu harus menjamak shalatnya dengan mengakhirkan dzuhur dan menggabungkan ashar (jamak takhir) lalu pada waktu matahari terbenam ia lihat lagi jika masih keluar darah lagi, maka ia mandi lalu menjamak taqdim maghrib dengan isya.

Telah mengabarkan kepada kami Suwaid bin Nashr dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdullah dari Sufyan dari Abdurrahman bin Al Qasim dari Al Qasim dari Zainab binti Jahsy, dia berkata; “Aku berkata kepada Rasulullah s.a.w. bahwa aku sedang istihadhah, lalu beliau bersabda: “Hendaknya kamu duduk (menunggu) pada hari-hari biasa haidl, kemudian mandi dan akhirkanlah shalat Zhuhur dan memajukan shalat Ashar. Mandi dan shalat, juga untuk mengakhirkan Maghrib dan memajukan shalat Isya, serta mandi satu kali untuk dua shalat, kemudian mandi sekali untuk shalat Subuh.” (H.R. Nasa’i No. 358)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah berkata; telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Ibnu Syihab dari Urwah dari ‘Aisyah bahwasanya ia berkata; “Ummu Habibah binti Jahsy meminta fatwa Rasulullah s.a.w., ia berkata; “Sesungguhnya aku mengalami istihadlah, sehingga aku menjadi tidak suci, maka apakah aku harus meninggalkan shalat?” beliau bersabda: “Tidak, itu hanyalah darah penyakit, hendaklah engkau mandi dan shalat.” (H.R. Tirmidzi No. 119)

Maka Ummu Habibah pun selalu mandi ketika akan shalat.” Qutaibah berkata; “Al Laits berkata; “Ibnu Syihab tidak menyebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. memerintahkan Ummu Habibah untuk mandi setiap kali akan shalat, namun itu adalah sesuatu yang biasa ia lakukan.”.  Abu Isa berkata; “Hadits ini juga diriwayatkan dari Az Zuhri, dari Amrah, dari ‘Aisyah, ia berkata; “Ummu Habibah binti Jahasy meminta fatwa Rasulullah s.a.w..” Dan sebagian ulama mengatakan bahwa wanita yang mengalami istihadlah hendaknya mandi pada setiap kali akan shalat.” Al Auza’i meriwayatkan dari Az Zuhri dari Urwah dan Amrah dari ‘Aisyah

Telah mengabarkan kepada kami Al Hasan bin Ar Rabi’ telah menceritakan kepada kami Abu Al `Ahwash dari Abdul Aziz bin Rufai’ dari ‘Atha` ia berkata: ” Ibnu Abbas r.a. pernah berkata tentang wanita yang mengalami istihadhah: Hendaknya ia mandi dengan sekali mandi untuk shalat zhuhur dan ashr, dan sekali mandi untuk shalat maghrib dan isya’ ‘, dan ia juga mengatakan: ‘Shalat zhuhur diakhirkan dan shalat ‘ashr disegerakan, shalat maghrib diakhirkan, serta shalat isya’ disegerakan.” (H.R. Ad-Darimi No. 793) Husain Salim Assad Ad-Daroni mengatakan hadits di atas sanadnya shahih

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar berkata; telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir Al Aqadi berkata; telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Muhammad dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil dari Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah dari pamannya Imran bin Thalhah dari ibunya Hamnah binti Jahsy ia berkata; “Aku banyak mengeluarkan darah haid yang banyak dan deras, maka aku mendatangi Nabi s.a.w. untuk memberi kabar dan meminta fatwa kepadanya. Aku mendapati beliau di rumah saudara perempuanku, Zainab binti Jahsy, lalu aku berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mengeluarkan darah haid yang banyak dan deras, hal ini telah menghalangiku untuk shalat dan puasa, lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku dalam hal ini?” beliau bersabda: “Berilah kapas, karena itu akan menghilangkan darah, ” ia berkata; “Darahnya lebih banyak dari itu?” beliau bersabda: “Sumbatlah ia dengan sesuatu yang dapat menghalangi keluarnya darah, ” ia berkata; “Darahnya sangat deras.” Beliau bersabda: “Ambillah kain, ” ia berkata; “Darahnya lebih banyak dan deras, ” maka Nabi s.a.w. pun bersabda: “Akan aku perintahkan kepadamu dengan dua hal, manapun yang engkau lakukan maka itu telah cukup. Dan jika engkau mampu atas keduanya maka engkau lebih tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya itu adalah pukulan setan, maka berhaidlah selama enam atau tujuh hari dalam hitungan ilmu Allah, setelah itu mandilah. Jika engkau merasa bahwa engkau telah suci dan bersih maka shalatlah dua puluh empat malam atau dua puluh tiga siang dan malamnya, puasa dan shalatlah karena itu telah cukup bagimu. Seperti itu pula, lakukanlah sebagaimana wanita haid dan bersuci untuk waktu-waktu haid dan suci mereka. Jika kamu kuat mengakhirkan shalat zhuhur dan mensegerakan shalat asar, kemudian kalian mandi ketika kalian telah suci, lalu engkau shalat zhuhur dan asar. Setelah itu engkau akhirkan shalat maghrib dan mensegerakan shalat isya, lalu mandi dan menjamak antara dua shalat maka lakukanlah. Engkau mandi di waktu subuh maka kerjakanlah. Demikianlah, maka lakukanlah. Dan puasalah engkau jika kuat.” Setelah itu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Itulah dua hal yang paling aku sukai.” (H.R. Tirmidzi No. 118)

Abu Isa berkata; “Hadits ini derajatnya hasan shahih. Nashiruddin Al-Albani juga mengatakan hadits ini shahih. Demikian juga dengan Ahmad bin Hanbal, ia mengatakan, “Hadits ini derajatnya hasan shahih.” Imam Ahmad berkata tentang wanita yang mustahadlah, “Jika ia mengetahui haidnya……….maka hukumnya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Fatimah binti Abu Hubaisy. Jika wanita yang mengalami istihadlah itu mempunyai hari-hari yang diketahui sebelum istihadlah, maka hendaklah ia meninggalkan shalat sesuai kebiasaan hari-hari haidnya (misal biasanya haid 7 hari maka ia tidak shalat 7 hari lebih dari itu dianggap penyakit dan ia tetap shalat).

Lebih lanjut Imam Ahmad berkata : Apabila darah itu masih keluar dan ia tidak mempunyai hari-hari yang  tidak diketahui (tidak menantu) maka hukum yang sesuai baginya adalah hadits Hamnah binti Jahsy.

Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat  : “Apabila wanita yang mengalami istihadlah, darahnya selalu mengalir pada awal mula ia melihat dan terus-menerus seperti itu, maka ia harus meninggalkan shalat di antara waktu itu selama lima belas hari. Namun jika ia dalam keadaan suci dalam jangka waktu lima belas hari atau sebelum itu, maka itu termasuk hari-hari haid. Apabila wanita itu melihat darah lebih dari lima belas hari, maka ia harus mengqadla shalat selama empat belas hari. Kemudian setelah itu ia meninggalkan shalat selama masa haid yang paling sebentar untuk ukuran wanita, yaitu sehari semalam.”

Abu Isa (Tirmidzi) berkata; “Ulama berpeda pendapat tentang masa haid yang paling sebentar dan paling lama. Sebagian ulama berkata; “Masa haid yang paling cepat adalah tiga hari dan yang paling lama adalah sepuluh hari.” Ini adalah pendapat Sufyan Ats Tsauri, bin Al Mubarak dan penduduk Kufah. Dan sebagian ulama yang lain seperti ‘Atha bin Abu Rabah mengatakan, “Masa cepat yang paling cepat adalah sehari semalam, dan yang paling lama adalah lima belas hari. Ini adalah pendapat Malik, Al Auza’I, Syafi’i, Ahmad, Ishaq dan Abu Ubaid.”

Telah mengabarkan kepada kami Ya’la telah menceritakan kepada kami Abdul Malik dari ‘Atha` tentang seorang wanita yang mengalami istihadhah, ia berkata: “(Hendaknya) ia meninggalkan shalat sehari atau dua hari (setelah) kebiasaan haidnya, kemudian ia (haruslah) mandi, apabila pada waktu yang pertama (dhuhur) ia melihat sesuatu berupa at tariyyah, hendaknya ia berwudhu dan shalat, tetapi jika ia melihat darah, hendaknya ia mengakhirkan waktu dhuhur dan menyegerakan ashr, kemudian ia shalat dua waktu tersebut dengan satu kali mandi, dan apabila matahari tenggelam, hendaknya ia periksa kembali, jika ia melihat at tariyyah, hendaknya ia berwudhu dan shalat, tetapi jika ia melihat darah, hendaknya ia mengakhirkan waktu maghrib dan menyegerakan isya, kemudian ia shalat dua waktu tersebut dengan satu kali mandi, dan apabila fajar telah terbit, hendaknya ia memeriksa kembali, jika ia melihat at tariyyah, hendaknya berwudhu dan shalat, dan apabila ia melihat darah, hendaknya ia mandi dan shalat subuh. Ia mengucapkannya secara berulang tiga kali”. Abu Muhammad berkata: “Panjang masa yang biasa seorang wanita mengalami haid, aku anggap itu adalah masa haid“. (H.R. Ad-Darimi No. 865) Husain Salim Assad Ad-Daroni mengatakan hadits di atas sanadnya shahih

Sedangkan ulama-ulama Saudi seperti bin Baz dan Ibnu Jibrin berpendapat bahwa wanita yang selesai haid harus meng-qadha shalatnya itu menyamakan dengan kasus istihadhah atau menyamakan haid dengan situasi udzur (ada halangan) berdasarkan perkataan Ibnu Taimiyah.

Adapun Ibnu Taimiyyah berpendapat seperti ini karena menyamakan orang haid itu dengan udzur (berhalangan). Dan orang yang udzur harus mengqadha shalatnya sebagaimana orang yang tertidur atau lupa.

“Karena inilah! Jumhur ulama` seperti Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad menyatakan; jika wanita haid menjadi suci di akhir waktu siang, ia wajib shalat dhuhur dan ashar. Seperti yang dinukil dari Abdurrahman bin Auf  r.a, Abu Hurairah r.a.  dan Abdullah bin Abbas r.a. Karena waktu saat itu, milik shalat dhuhur dan ashar bagi orang yang ada udzur (Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa, Juz 22 Hal 434)

Namun pendapat Ibnu Taimiyyah ini tidak dijelaskan lebih rinci oleh Ibnu Taimiyyah sendiri pada tempat yang  lain dalam kitab Al-Fatawanya yaitu pendapat berikutnya :

“Pendapat yang paling dekat kepada dalil dalam masalah ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Yaitu: Wanita tidak wajib mengqadha` shalat yang ditinggalkannya. Karena qadha` hanya diwajibkan, saat ada perkara baru. Sedangkan pada kondisi seperti ini, tidak terdapat perkara baru pun yang mengharuskan wanita untuk mengqadha`. Apalagi ketika ia menunda mengerjakan shalat sampai waktu berikutnya, adalah suatu hal yang dibolehkan, jadi ia tidak sembrono dalam mengerjakan shalat” (Ibnu Taimiyah dalam Majmu` Al-Fatawa, Juz 23  Hal 335)

Demikianlah kesimpulannya menurut kami pendapat bahwa orang yang berhenti haid ketika Isya ia harus meqadha shalat maghribnya, atau jika ia berhenti haidnya ketika Ashar lalu mengqadha shalat zhuhurnya adalah pendapat yang lemah.

Namun, pendapat ini bisa dibenarkan tatkala sebenarnya haidnya selesai ketika zhuhur, atau sebelum zhuhur namun Anda menunda-nunda mandi wajib hingga tiba waktu Ashar, maka pada dasarnya Anda telah wajib shalat ketika Dzuhur. Hanya saja karena Anda lalai dan menunda waktu, hingga baru mandi pada saat Ashar. Maka tentu saja Anda harus mengqadha shalat Dzhuhur.

Bahkan jika sebenarnya Anda sudah selesai haid ketika Zhuhur namun menunda-nunda dan lalai sehingga baru mandi wajib ketika Isya, maka Anda harus meng-qadha shalat dari Zhuhur, Ashar, dan Maghrib yang telah Anda lalaikan itu karena ini adalah perkara melalaikan shalat yang harus di-qadha.

Wallahua’lam

One thought on “WANITA YANG SELESAI HAID MENGQADHA SHALATNYA?

  1. gusnar says:

    Bkankah ibnu tayniyah thu ulama yg sesat lagi mnyesatkan,,,,?????

    Knpa msti da dlm tlsan ne tntng fatwa itu,,,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s