ANGGOTA SUJUD YANG MENEMPEL TANAH

shalat-penyembah-batu

ANGGOTA SUJUD YANG MENEMPEL TANAH

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Telah sampai kepada kami pertanyaan apakah benar dahi harus menyentuh tanah dan tidak sah shalatnya jika terhalan oleh rambut atau kain mukena? Jika kita lihat zhahir teks hadits yang menyatakan larangan dahi terhalang kain secara letterledge atau saklek, maka seolah menyiratkan hal itu dengan bahasa yang keras. Bagaimana sebenarnya yang dimaksud menempel tanah itu? Apakah ada masjid yang benar-benar beralaskan tanah pada hari ini sebagaimana masjid Rasulullah s.a.w. dahulu kala? Sebagian kelompok malah ada yang berlebihan membawa-bawa gumpalan tanah untuk ditempelkan di dahi karena terpaku pada zhahir-nya teks hadits.

Dalam hadits, Rasulullah s.a.w. menerangkan bagian tubuh yang harus “diletakkan” atau “menempel bumi” seperti berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar Bundar berkata; telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir Al ‘Aqdi berkata; telah menceritakan kepada kami Fulaih bin Sulaiman berkata; telah menceritakan kepadaku Abbas bin Sahl dari Abu Humaid As Sa’idi berkata; “Ketika sujud Nabi s.a.w. menekankan hidung dan dahinya ke bumi, menjauhkan dua tangan dari lambungnya, dan meletakkan dua telapak tangannya sejajar dengan dua bahu (menempel tanah).”(H.R. Tirmidzi No. 250)

Ia (Tirmidzi) berkata; “Dalam bab ini juga ada riwayat dari Ibnu Abbas, Wa`il bin Hujr dan Abu Sa’id.” Abu Isa berkata; “Nashirudddin Al-Albani menshahihkan hadits ini. Hadits Abu Humaid derajatnya hasan shahih. Para ahli ilmu mengamalkan hadits ini, yakni seseorang hendaknya menempelkan hidung dan dahinya. Jika ia hanya menempelkan dahi dan tidak menempelkan hidung, maka sebagian ulama mengatakan bahwa hal itu telah mencukupi. Sedangkan sebagian yang lain mengatakan bahwa hal itu tidak mencukupi hingga ia sujud di atas hidung dan dahinya.”

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir dari ‘Atha` bin As Sa`ib dari Salim Al Barrad dia berkata; aku menemui ‘Uqbah bin ‘Amru Al Anshari yaitu Abu Mas’ud maka kau berkata kepadanya; “Jelaskanlah kepada kami tata cara shalat Rasulullah s.a.w!.” maka dia berdiri di depan kami di masjid, lalu bertakbir. Ketika ruku’, dia meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya dan meletakkan jemarinya lebih rendah dari itu, sedangkan kedua sikunya di renggangkan, sehingga semua anggota tubuhnya tenang (thuma’ninah), kemudian bertakbir dan sujud, setelah itu ia (nabi) meletakkan kedua telapak tangannya ke tanah, dan merenggangkan antara kedua sikunya sampai semua anggota tubuhnya tenang (thuma’ninah). Dia mengerjakan yang demikian itu, dan shalat empat raka’at sebagaimana raka’at ini, setelah mengerjakan shalatnya, dia berkata; “Demikianlah kami pernah melihat Rasulullah s.a.w. mengerjakan shalat.” (H.R. Abu Daud No. 732)

Telah menceritakan kepada kami Ar Rabi’ah’ bin Nafi’ Abu Taubah telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abu Ishaq dia berkata; Al Barra` bin ‘Azib menjelaskan sujud kepada kami, maka ia meletakkan kedua tangannya dan mengangkat perutnya dari menempel tanah. Al Barra berkata; Beginilah Rasulullah s.a.w. sujud.” (H.R. Abu Daud No. 761)

BENARKAH DAHI HARUS MENEMPEL TIDAK BOLEH TERTUTUP?

Sebagian orang mengatakan bahwa dahi harus menempel tanah dan tidak boleh tertutup kain atau mukena sama sekali. Hal ini berdasarkan hadits berikut ini :

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: “Nabi s.a.w. memerintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota badan dan dilarang menutup dahinya dengan rambut dan pakaian. (H.R. Muslim No.755)

Namun hal ini tidaklah mutlak di semua kondisi. Karena dalam hadits lain disebutkan bahwa suatu ketika sahabat meletakkan kain sebagai alas shalat dan tidak sanggup menempel tanah karena sedang musim panas

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al-Mufadldlal telah menceritakan kepada kami Ghalib dari Bakr bin Abdullah dari Anas bin Malik dia berkata; Kami pernah shalat bersama Rasulullah s.a.w. di waktu yang sangat panas, apabila salah seorang dari kami tidak sanggup menempelkan dahinya di tanah, dia menghamparkan kainnya lalu bersujud di atasnya. (H.R. Abu Daud No. 564) Nashirudddin Al-Albani menshahihkan hadits di atas.

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid Hisyam bin ‘Abdul Malik berkata, telah menceritakan kepada kami Bisyir bin Al Mufadlal berkata, telah menceritakan kepadaku Ghalib Al Qaththan dari Bakar bin ‘Abdullah dari Anas bin Malik berkata, “Kami shalat bersama Nabi s.a.w., lalu salah seorang dari kami meletakkan salah satu dari ujung bajunya di tempat sujudnya karena panasnya tempat sujud.” (H.R. Bukhari No. 372)

Maka apakah ini khsusus berlaku di musim panas saja? Kenyataannya Nabi s.a.w. menggunakan khumroh (tikar atau sajadah) sebagai alas shalat.

Dari Maimunah r.ah. berkata : “Beliau s.a.w sholat sedangkan aku berada di sampingnya sedang haid. Terkadang pakaian beliau s.a.w. mengenaiku saat sedang bersujud. Beliau s.a.w. sholat di atas khumroh” (H.R. Bukhari No. 381 Muslim No. 270, 513 Abu Daud No. 656 An-Nasa’i No. 738 Ibnu Majah No. 1028 Ahmad Jilid 1 No. 269 Tirmidzi No. 331 derajat hadits hasan shahih )

Dari Aisyah r.ah. berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda : “Ambilkan aku khumroh di masjid” Aku (Aisyah) berkata : “Sesungguhnya aku sedang haid” Nabi s.a.w. bersabda : “Sesungguhnya haidmu bukan di tangan mu” (H.R. Muslim No. 298, Abu Daud No. 261, Tirmidzi No. 134, Nasa’i No. 271, Ad-Darimi Jilid 1 No. 248, Ahmad Jilid 1 hal 70)

Maka dari hadits di atas diriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w  pernah sholat dengan anggota sujud tidak terhalang khumroh (sajadah) sehingga tidak benar-benar menempel tanah.

Dalam atsar dari tabi’in diriwayatkan bahwa sahabat Rasulullah s.a.w. pernah sholat dengan anggota sujud tidak menempel tanah karena tertutup kain :

Dari Anas bin Malik r.a. dia berkata : “Kami shalat bersama Rasulullah s.a.w. dalam cuaca yang sangat panas. Jika salah seorang di antara kami tidak sanggup meletakkan dahinya di atas tanah maka kamu menggelar kain kemudian shalat di atasnya” (H.R. Bukhari No. 1207 dan Muslim No. 546)

Ibnu Abbas r.a. berkata : “Rasulullah s.a.w sholat di atas alas” (H.R. Ibnu Majah No. 1030 an Ahmad Jilid 1 hal 232)

Hisyam menceritakan dari Hasan Al-Bashri bahwa “Para sahabat Rasullulah s.a.w. sujud sembari tangan mereka memegangi pakaian mereka ada juga yang bersujud di atas sorban mereka” (Atsar Riwayat Baihaqi Jilid 2 hal 105)

Hasan Al-Bashri berkata : “Ada suatu jamaah yang berujud di atas sorban dan peci mereka sedangkan kedua tangan mereka berada di dalam lengan baju mereka”  (Atsar Riwayat Bukhari dicantumkan dalam Fathul Bari Jilid 1 Hal 492)

Maka dari hadits dan atsar di atas, dapat disimpulkan bahwa suatu ketika anggota sujud tidak menempel tanah karena terhalang surban, peci, kain baju (atau jika wanita mukenah) atau khumroh (sajadah) sehingga tidak benar-benar menempel tanah pun tidak mengapa.

Namun dalam masalah anggota sujud tidak menempel tanah ini para ulama berbeda pendapat. Ada yang menganggap sah saja sholatnya, ada juga yang bersikap keras dengan mengatakan tidak sah sholatnya. Ada juga yang mengambil sikap pertengahan yaitu boleh dan sah sholatnya asalkan ada alasannya (misal karena panas), ada juga yang membolehkan dan sah sholatnya asalkan tidak diniatkan ditutup dari awal, karena sholat tidak sah jika dari awal menggunakan cadar. Dalam hal ini ada hadits yang melarang sholat menggunakan cadar.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata : “Rasulullah s.a.w. melarang seseorang menutup mulutnya (dengan kain) ketika sholat” (H.R. Ibnu Majah)

Ibnu Abdil Barr berkata : “Mereka telah bersepakat bahwa wanita wajib membuka wajahnya ketika sholat dan ihram” (Kassyafu Al-Qina ‘an Matni Al Iqna Jilid 2 hal 256)

ORANG YANG BERLEBIHAN DENGAN MELETAKKAN GUMPALAN TANAH ATAU KERIKIL DI DAHI

Sebagian orang bersikap terlalu bersemangat atau berlebih-lebihan (ghuluw) dengan meletakkan gumpalan tanah atau kerikil di dahinya ketika sujud dalam shalat. Hal ini karena mereka meyakini bahwa dahi harus menempel tanah atau kerikil sebagaimana dicontohkan Rasulullah s.a.w. Dan oleh karena shalat kita menggunakan sajadah maka khusus dahi harus diletakkan gumpalan tanah agar dianggap sah menempel tanah.

Selain itu mereka ada juga yang menggunakan batu kerikil. Dasarnya adalah bahwa hal ini pernah dilakukan oleh Jabir bin Abdullah :

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Abbad dari Muhammad bin ‘Amr dari Sa’id bin Al Harits dari Jabir bin ‘Abdullah dia berkata; “Kami pernah shalat Zhuhur bersama Rasulullah s.a.w,lalu aku mengambil segenggam kerikil di telapak tanganku untuk kudinginkan. Kemudian aku pindahkan ke telapak tanganku yang lain, dan jika aku sujud maka aku letakkan kerikil itu pada dahiku.” (H.R. Nasa’i 1071) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini hasan.

Salah satu yang berpendapat demikian adalah sekte Syi’ah atau mereka mengaku sebagai madzhab Ja’fari. Walaupun benar terdapat beberapa hadits yang meriwayatkan Rasulullah s.a.w. sholat menempel kerikil namun menjadi janggal jika pada masa kini sholat dengan lantai masjid terbuat dari keramik kemudian sengaja diletakkan tanah atau kerikil di dahi. Namun kita tetap harus menghargai perbedaan pendapat dan semangat sebagian orang dalam meniru (ittiba) Rasulullah s.a.w dengan sepersis-persisnya atau seakurat mungkin.

BUKAN HANYA DAHI MELAINKAN TUJUH ANGGOTA SUJUD

Jika kita hendak mempersoalkan tidak boleh terhalang rambut dan pakaian maka tidak hanya dahi. Dalamhadits yang lain dikatakan bahwa tujuh anggota sujud atau tujuh titik tidak boleh terhalang sesuatu dan harus menempel tanah

Telah menceritakan kepada kami Mu’alla bin Asad berkata, telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari ‘Abdullah bin Thawus dari Bapaknya dari Ibnu ‘Abbas r.a., ia berkata, “Nabi s.a.w. bersabda: “Aku diperintahkan untuk melaksanakan sujud dengan tujuh tulang (anggota sujud); kening -beliau lantas memberi isyarat dengan tangannya menunjuk hidung- kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung jari dari kedua kaki dan tidak boleh terhalang rambut atau pakaian.” (H.R. Bukhari No. 770)

Maka pada hadits di atas dijelaskan bahwa kening, hidung kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung jari kaki tidak boleh terhalang rambut atau pakaian. Cobalah kita telaah secara kritis, jika lutut pun tidak boleh terhalang berarti sarung dan pakaian wanita pun harus dilubangi agar bagian lutut langsung menyentuh tanah.

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Manshur Al Makki dan ‘Abdullah Muhammad bin ‘Abdurrahman Az Zuhri mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Thawus dari bapaknya dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi s.a.w. diperintahkan sujud di atas tujuh anggota badan -dan dilarang mengikat rambut dan melipat baju- yaitu kedua tangan, kedua lutut, dan ujung jari-jemari (kaki). Sufyan berkata; “Ibnu Thawus berkata kepada kami; ‘la meletakkan kedua tangannya di atas dahi dan hidungnya, lalu berkata, “Ini adalah satu bagian.” Lafazh ini dari Muhammad. (H.R. Nasa’i No. 1086) Nahiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih

Lalu apakah ada yang benar-benar tujuh anggota sujud itu menempel tanah? Jika benar demikian maka bagian lutut pun harus dilubangi agar benar-benar menyentuh tanah. Tentu saja walaupun dikatakan tidak boleh terhalang rambut dan pakaian maka maksudnya tidak demikian.

Inilah masalah pada gaya bahasa Arab dimana seringkali perkataan yang bersifat keras, bombastis dan hiperbola namun tidak sungguh-sungguh bermaksud demikian.  Lihat tulisan kami berjudul persoalan gaya bahasa arab.

YANG DIMAKSUD MENYENTUH TANAH

Yang dimaksud dengan harus menyentuh tanah adalah tidak boleh mengawang atau mengambang dan harus benar-benar diletakkan di atas lantai atau alas sholat. Adapun pada masa sekarang ini pun jika mau dipersoalkan secara mendetil dan teliti maka tak ada masjid masa kini yang benar-benar ber-alaskan tanah seperti pada masa Rasulullah s.a.w. Masjid pada jaman sekarang semuanya beralaskan lantai keramik. Sedangkan sebelum dipasang keramik terlebih dahulu ditaburi pasir dan semen baru dipasang keramik di atasnya.

Ada juga yang berlantaikan parquette (baca : parkit) yaitu alas lantai terbuat dari kayu. Maka parquette ini dilem di atas keramik atau semen. Belum lagi masjid jaman sekarang ada yang dilapisi karpet di atas lantainya. Lalu orang jamaah yang shalat pun terkadang masih membawa sajadah sendiri dan menggelar sajadah lagi di atas karpet tersebut. Maka ada berapa lapiskah yang menghalangi anggota sujud dari tanah yang sebenar-benarnya tanah?

Maka yang dimaksud menyentuh tanah adalah meletakkan dan menempel pada alas masjid, dan tidak mengambang atau tertahan oleh tangan seperti orang push up. Inilah isyarat yang dimaksud sebagaimana hadits berikut ini :, kemudian bertakbir dan sujud, setelah itu ia (nabi) meletakkan kedua telapak tangannya ke tanah, dan merenggangkan antara kedua sikunya sampai semua anggota tubuhnya tenang (thuma’ninah).(H.R. Abu Daud No. 732)

BOLEH TERHALANG ALAS YANG BERSIFAT TANAH

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah termasuk ulama  yang mengambil sikap mengikuti perbuatan Rasulullah s.a.w. (ittiba) se-akurat mungkin dan se-persis-persis-nya. Sehingga Ibnu Tamiyah berpendapat anggota sujud harus menempel tanah atau kerikil dan bahkan tidak boleh mengusap kerikil atau tanah yang menempel di dahi sebagaimana Rasulullah s.a.w. pernah melarang sahabat mengusap kerikil / tanah yang menempel di dahi. Maka termasuk juga menggunakan sajadah adalah tidak boleh dan bid’ah. Hal ini merupakan pendapat Madzhab Maliki.

Namun terkait dengan khumroh (sajadah) dan tikar, Ibnu Taimiyah masih membolehkan. Beliau menyatakan : “Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama tentang kebolehan sholat dan sujud di atas  alas jika ia masih bersifat sejenis tanah seoerti khumroh , tikar atau sejenisnya. Mereka (para ulama) hanya berbeda pendapat mengenai makruhnya sholat di atas alas yang tidak sejenis tanah seperti alas terbuat dari kulit serta karpet woll. Hal ini dibolehkan oleh Madzhab Syafi’i, Ahmad dan ulama Kufah seperti Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) (Majmu Fatawa Jilid 19 hal 116)

Walaupun sebagian ulama memakruhkan alas dari kulit, sebenarnya terdapat dalil hadits dari sahabat :

Dari Abu ‘Aun Muhammad bin Abdullah dari ayahnya dari Mughirah bin Syu’bah berkata : “Nabi pernah sholat di atas tikar dan di atas kulit yang disamak” (H.R. Ahmad Jilid 4 hal 254 dan Abu Daud No. 660)

Namun Abu Hatim Ar-Razi berkata Abu Abdullah majhul (tidak dikenal)

Jika khumroh (sajadah) dan tikar disebut alas bersifat tanah apalagi acian semen, keramik, granit, parquete (lantai kayu) insya Allah dibolehkan. Kesimpulannya bahwa yang dimaksud menempel tanah bisa saja tidak benar-benar menempel tanah melainkan boleh terhalang alas sesuatu. Adapun terhalang kain yang dikenakan maka terjadi perbedaan pendapat ada yang membolehkan ada yang tidak membolehkan dan ada yang membolehkan jika ada alasannya. Wallahua’lam.

6 thoughts on “ANGGOTA SUJUD YANG MENEMPEL TANAH

  1. abu ahmad says:

    kalau blog mantan kyai NU sholat wajib, sujudnya wajib ditanah asli tidak boleh sujud di atas keramik ubin sajadah karpet dll.bagaimana tanggapan anda?.

  2. Meyra says:

    Berarti jika tangan,dahi,dan hidung terhalang mukena sujudnya sah atau tidak?

    • Sebagaimana diuraikan dalam tulisan di atas ada bermacam pendapat dalam hal ini. Ada ulama yang berpendapat sah-sah, dan ada yang menganggapnya tidak sah, ada juga yang berpendapat sah jika tertutupnya ketika sedang sholat karena gerakan tangan menyingkap kain ketika sedang sholat tidak dibolehkan, maka sah saja jika tertutupnya tidak disengaja diniatkan dari awal. Namun jika diniatkan dari awal seperti menggunakan cadar ketika hendak sholat maka itu tidak sah. Ada juga yang berpendapat sah saja jika ada alasannya seperti sahabat Nabi s.a.w. yang menutupi dahinya dengan sorban dan tangannya masuk ke dalam lengan baju saat hari sedang panas. Ada juga yang berpendapat jika anggota sujud tertutup / terhalang kain hukumnya makruh namun sholatnya tetap sah. Wallahua’lam

  3. Meyra says:

    Karena mukena milik saya panjang dan potong 2 apakah sujudnya sah bila telapak tangan,dahi,dan hidung tertutup mukena?

    • Sebagaimana diuraikan dalam tulisan di atas, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Sebagian orang mengatakan bahwa dahi harus menempel tanah dan tidak boleh tertutup kain atau mukena sama sekali. Hal ini berdasarkan hadits berikut ini :

      Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: “Nabi s.a.w. memerintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota badan dan dilarang menutup dahinya dengan rambut dan pakaian. (H.R. Muslim No.755)

      Jika ada kain yang menutupi hendaknya disibakkan. Hal ini berdasarkan hadits :
      “Jika salah seorang diantara kalian sholat, hendaklah ia menyibak / menyingkap sorban dari dahinya” (H.R. Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra Jilid 2 Hal 105)

      Namun sebagian ulama ada yang mengatakan apabila anggota sujud tertutup kain ketika sedang sholat, maka sholatnya tetap sah. Berdasarkan Atsar tabi’in :
      Hasan (Al-Bashri) berkata : “Ada suatu jamaah yang bersujud di atas sorban dan kedua tangannya berada dalam lengan bajunya” (Atsar Riwayat Bukhari dalam Fathul Bari Jilid 1 Hal 492)

      Hiysam menceritakan dari Hasan Al-Bashri “bahwa para sahabat Rasulullah s.a.w. sujud sembari tangan mereka memegangi pakaian mereka” (Atsar Riwayat Baihaqi Dalam Sunan Al-Kubra Jiid 2 Hal 105)

      Dari Maimunah r.ah berkata : “Rasulullah s.a.w. sholat di atas khumroh (sajadah)” (H.R. Bukhari No. 381, Muslim N0. 270, 513, An-Nasai No. 738 Ibnu Majah No. 1028 Ahmad Jilid 1 hal 269) Tirmidzi No. 331

      Dari Maimunah r.ah: Beliau s.a.w. sholat sedangkan aku berada di sejajarnya (sampingnya) dalam keadaan haid terkadang beliau s.a.w. mengenaiku ketika bersujud. Beliau sholat di atas khumroh (sajadah)” (H.R. Abu Daud No. 656)

      Dari Aisyah r.ah. berkata : “Rasulullah s.a.w. bersabda : Ambilkan aku khumroh (sajadah) di masjid. Aku (Aisyah) bertanya : Ya Rasulullah s.a.w. sesungguhnya aku sedang haid. Nabi s.a.w. bersabda : Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu” (H.R. Muslim No. 298. Abu Daud No. 261 Tirmidzi No. 134, An-Nasa’i No. 271 Ad-Darimi Jilid 1 hal 248 Ahmad Jilid 1 hal 70)

      Dari hadits-hadits di atas diketahui bahwa Rasulullah s.a.w. sholat dengan khumroh (sajadah/tikar dari anyaman daun kurma) artinya anggota sujud tidak menempel tanah karena terhalang khumroh dan para sahabat terkadang sholat dengan tangan di dalam lengan baju dan dahi tertutup sorban, ini merupakan dalil bahwa walaupun diperintahkan anggota sujud menempel tanah namun sekali waktu jika tertutup sesuatu pun dibolehkan. Wallahua’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s