BOLEHKAH BUANG HAJAT MENGAHADAP KIBLAT?

Desert Toilet

PERNAH BEGINI PERNAH BEGITU (JILID 2)
Episode : BUANG HAJAT MENGAHADAP KIBLAT

Oleh : Abu Abuakmal Mubarok

Dalam sebuah permasalahan fiqih terkadang kita selama ini hanya mengetahui satu sisi pendapat saja, berdasarkan satu dalil yang mendukung pendapat tersebut. Padahal jika kita teliti lagi hadits-hadits Rasulullah s.a.w. ternyata duduk perkaranya tidaklah seperti itu.

Terkadang sahabat menjumpai suatu ketika Rasulullah s.a.w. melakukan begini namun di saat lain sahabat yang lain bersaksi menyaksikan hal yang lain lagi. Dimana kedua hadits ini saling bertentangan dan sama-sama shahih. Maka dalam hal ini perlu dicari penjelasan duduk perkara sebenarnya dari dua hadits yang saling bertentangan itu, salah satunya adalah dalam masalah buang air menghadap atau membelakangi kiblat.

Secara umum selama ini kita mengetahui bahwa buang hajat tidak boleh menghadap atau membelakangi kiblat. Hal ini berdasarkan riwayat beberapa hadits berikut ini :

Suatu ketika kita jumpai anjuran sunnah Nabi SAW untuk memuliakan arah kiblat baik itu kiblat yang awal ke arah Baitul Maqdis, maupun Kiblat yang saat ini yaitu ke arah Ka’bah dengan cara tidak buang air besar menghadap kiblat atau membelakanginya.

Dari Ayyub Al-Anshori r.a. berkata : “Nabi SAW bersabda : “Jika kalian buang air maka jangan menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya, tetapi hendaklah ke arah selatan atau utara” (H.R. Bukhari Muslim dalam Alu’lu wal Marjan Jilid 1 No 148)

Telah menceritakan kepada kami Rouh dan Abdurrozaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Qais telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata; telah menceritakan kepadaku Abdul Karim bin Abu Al Muhariq Al Walid bin Malik bin Abdul Qais mengabarinya. Dan Abdurrazzaq berkata; dari Abdul Qais Muhammad bin Qais mengabarinya Sahal mengabarinya, Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mengutusnya dan bersabda: “Engkau adalah utusanku kepada penduduk Makkah, katakan, Rasulullah s.a.w. telah mengutusku untuk menyampaikan salam dan menyuruh kalian tiga hal yaitu: Janganlah kalian bersumpah dengan selain Allah. Jika kalian menunaikan hajatnya, janganlah menghadap atau membelakangi kiblat. Janganlah bercebok menggunakan tulang ataupun bekas kotoran unta“. (H.R. Ahmad No. 15415) Hadits ini adalah dla’if karena dalam sanad hadits ini terdapat Abdul Karim bin Abu Al Muhariq Al Walid bin Malik bin Abdul Qais, dimana Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Ma’in mengatakan laisa bi tsiqah (tidak terpercaya). An-Nasa’i dan daruquthni mengatakan ia matruk (haditsnya ditinggalkan).

Telah mengabarkan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami ibnu ‘Uyainah dari Az zuhri dari ‘Atha` bin Yazid dari Abu Ayyub dari Nabi s.a.w. beliau bersabda; “Apabila kamu datang untuk buang hajat, janganlah kalian menghadap atau membelakangi kiblat”. Lalu ia berkata: Abu Ayyub r.a. berkata: “Kami datang ke negeri Syam, dan kami dapati toilet disana dibangun menghadap kiblat, lalu kami ubah dan kami memohon ampun kepada Allah subhanallahu wa ta’ala“. (H.R. Darimi No. 663) Husain Salim Assad Ad-Daroni mengatakan sanad hadits ini shahih.

Irak bin Malik berkata; “Telah menceritakan kepadaku Aisyah; ‘Tatkala obrolan tersebut sampai kepada Rasullah s.a.w., beliau memerintahkan untuk merubah tempat duduk (kloset) yang telah manghadap kiblat.” (H.R. Ahmad No. 24336)

Namun dalam hadits lainnya sahabat Abdullah Al-Anshari melihat Rasulullah s.a.w. buang air menghadap kiblat :

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub Telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq Telah menceritakan kepada ku Aban bin Sholih dari Mujahid bin Jabr dari Jabir bin Abdullah Al Anshari berkata : “Rasulullah s.a.w. telah melarang membelakangi kiblat atau menghadapnya dengan kemaluan kami, ketika kami mengucurkan air (kencing).”Namun di kemudian hari saya melihat beliau s.a.w. setahun sebelum wafatnya kencing menghadap kiblat“. (H.R. Ahmad No. 14343) Semua perawi dalam sanad hadits ini tsiqah bahkan Adz-Dzahabi mengatakan Bapaknya Ya’qub adalah Ibrahim bin Sa’ad ulama besar dari kalangan tabiut tabi’in

Dan di saat lainnya Rasulullah s.a.w. pernah buang air membelakangi kiblat.

Dari Abdullah bin Umar r.a. berkata : “Sungguh saya telah naik di atas sebuah rumah tiba-tiba (tidak sengaja) saya melihat Nabi saw duduk di atas dua bata (jamban) menghadap baitul maqdis” (H.R. Bukhari Muslim dalam Alu’lu wal Marjan Jilid 1 No 149)

Abdullah bin Umar r.a. berkata: “Suatu hari saya naik di atas rumah Hafshah untuk suatu keperluan tiba-tiba saya(tidak sengaja)  melihat Rasulullah SAW buang air membelakangi kiblat menghadap Syam (arah baitul maqdis)” (H.R. Bukhari Muslim dalam Alu’lu wal Marjan Jilid 1 No 150)

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al Mundzir berkata, telah menceritakan kepada kami Anas bin ‘Iyadl dari ‘Ubaidullah dari Muhammad bin Yahya bin Hibban dari Wasi’ bin Hibban dari ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Aku pernah naik di rumah Hafshah karena suatu urusanku. Maka aku melihat (tidak sengaja) Rasulullah s.a.w. buang hajat membelakangi kiblat menghadap Syam.” (H.R. Bukhari 144 dan Muslim No. 391, Ahmad No. 4377)

Jadi bagaimana sebenarnya apakah boleh buang hajat dengan menghadap atau membelakangi kiblat? Penjelelasannya mungkin bisa kita peroleh dari Sahabat Ibnu Umar r.a. yang memahami agama ini dari pancaran mata air pertama :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faris telah menceritakan kepada kami Shafwan bin Isa dari Al Hasan bin Dzakwan dari Marwan Al Ashfar dia berkata; Saya pernah melihat Ibnu Umar menderumkan untanya menghadap kiblat, lalu dia duduk dan buang air kecil dalam keadaan menghadapnya, lalu saya bertanya; “wahai Abu Abdurrahman, bukankah hal ini telah dilarang?” Dia menjawab; “Benar, akan tetapi hal itu dilarang jika dilakukan di tempat terbuka, apabila antara dirimu dan kiblat ada sesuatu yang menutupimu, maka itu tidaklah mengapa.” (H.R. Abu Daud No. 10)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya berkata, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Musa dari Isa Al Hannath dari Nafi’ dari Ibnu Umar berkata; “Aku melihat Rasulullah s.a.w. menghadap kiblat di dalam WC nya.” Isa berkata; Aku sampaikan hal itu kepada Asy Sya’bi, maka ia pun berkata; “Benar apa yang dikatakan oleh Ibnu Umar dan Abu Hurairah.” Adapun Abu Hurairah r.a., ia berkata; “Di padang pasir janganlah engkau menghadap kiblat atau membelakanginya.” Sedangkan perkataan Ibnu Umar; “Sesungguhnya WC tidak ada kiblatnya, maka menghadaplah sesukamu.” (H.R.  Ibnu Majah No. 318)

Dari Isa al Khayyath, ia berkata : Aku bertanya kepada As-Sya’bi “Sesungguhnya aku heran atas perbedaan Abi Hurairah dan Ibnu Umar, , Nafi berkata dari Ibnu Umar, Aku masuk kerumah hafsah lalu ada kesempatan menoleh, tiba-tiba aku mengetahui bahwa jamban Nabi s.a.w. menghadap kiblat, dan Abu Hurairah berkata : “Apabila salah seorang diantara kamu duduk untuk hajatnya, maka janganlah menghadap kiblat dan janganlah membelakanginya.” As Sya’bi menjawab : Semuanya benar, Adapun perkataan Abu Hurairah itu, adalah di tanah lapang karena sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yaitu malaikat-malaikat dan jin-jin yang sedang shalat, oleh karena itu janganlah seseorang menghadap mereka diwaktu buang air kecil maupun besar, dan jangan membelakangi. Adapun jamban-jambanmu adalah bentuk rumah yang didirikan tanpa kiblat didalamnya. (Atsar R. Baihaqi)

Maka kesimpulannya adalah bahwa larangan buang air menghadap kiblat itu adalah ketika di tanah lapang, padang pasir atau hutan. Sedangkan di dalam WC  larangan itupun tidak berlaku. Selain itu ulama pun menyimpulkan bahwa larangan ini bersifat makruh dan bukan haram.

Namun jika ada yang tetap tidak sreg dan tidak mantap  hatinya jika toilet menghadap kiblat hal itu tidaklah mengapa sebagaimana sikap Sahabat Abu Ayyub dan Umar bin Abdul Aziz

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ashim telah berkata Khalid Al Hadza’ telah mengabarkan kepadaku dari Khalid bin Abi Ash Shalt berkata; “Saya pernah berada di sisi Umar bin Abdul Aziz pada masa kekhilafahannya, dia berkata sedangkan di sisinya ada Iraq bin Malik. Umar bin Abdul Aziz berkata; “Saya tidak pernah menghadap dan membelakangi kiblat tatkala buang hajat semenjak begini dan begini.” (H.R. Ahmad No. 24336)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s