ADIL DALAM MENYAMPAIKAN TINJAUAN FIQIH

Madrasah1
ADIL DALAM MENYAMPAIKAN TINJAUAN FIQIH
Oleh : Abu Akmal Mubarok
Image

Dunia maya dewasa ini ibarat sebuah perpustakan raksasa dimana kita bisa mencari jawaban atas segala masalah apa saja. Termasuk dalam hal ini adalah masalah masalah agama. Dan orang biasanya mencari jawaban sesuatu dimulai dari “googling” (bertanya pada mbah google). Dari sanalah orang kemudian menemukan website (situs) yang membahas topik yang ia tanyakan.

Namun sayangnya, kita banyak menjumpai tulisan tulisan masalah agama di dunia maya ini yang tidak adil dalam menyampaikan tinjauan fiqih. Tidak adil di sini maknanya adalah tidak mendudukkan sesuatu pada tempatnya. Kebanyakn tulisan hanya menyampaikan secara instant fatwa akhir (kesimpulan akhir) saja tanpa menjelaskan duduk masalah sebenarnya. Demikian pula tidak jarang kupasan fiqih di dunia maya ini hanya menyampaikan pendapat dari satu pihak saja, pandangan satu kelompok tertentu, satu warna tertentu.

Kemudian mereka meng-klaim bahwa pandangan kelompoknya sajalah yang paling benar berjalan di atas sunnah. Mereka menamakan dirinya sebagai pecinta sunnah. Lalu orang yang memiliki pandangan fiqih berbeda dengan pandangan mereka disebut sebagai ahlul bid’ah (maksunya bid’ah yang sesat). Tentu saja mereka hanya menampilkan dalil-dalil yang mendukung pendapatnya saja. Sehingga pembaca awam digiring untuk melihat dalil-dalil yang mendukung satu pendapat ini saja. Bahkan ada yang bersikap ghuluw (berlebihan) memvobis kafir dan murtad bagi yang berbeda pandangan dengan mereka. (Sebenarnya dengan mencap bid’ah saja otomatis sudah menganggap kafir dan murtad karena bid’ah dlolalah itu masuk neraka).

Tentu saja pihak lain yang berbeda padangan fiqihnya dengan mereka ini menjadi kebakaran jenggot, dan membalas sikap ghuluw dengan sikap ghuluw pula. Mereka menamakan dirinya dengan bendera yang tidak kalah wibawanya misalkan saja pecinta Rasulullah s.a.w. (yah siapa sih yang tidak cinta Rasulullah s.a.w.?) Kelompok ini juga membalas menulis kupasan fiqih yang dengan dalil-dalil yang mendukung pendapatnya pula. Dan kesimpulan akhirnya juga sama. Bahwa pandangan fiqih yang benar adalah kelompok ini dan mereka yang tidak melakukan sesuai dengan fiqih warna ini adalah kafir.

Akhirnya semua kelompok terseret pada sikap ghuluw (berlebihan). Masing-masing pihak meng-klaim amalan-nya adalah wajib sehingga yang tidak melaksanakannya adalah kafir. Padahal duduk masalah sebenarnya amalan yang mereka ributkan itu bersifat mustahab (lebih disukai) atau Rasulullah s.a.w. pernah melakukannya namun pernah pula meninggalkannya. Jadi tidak benar jika hal itu menjadi diwajibkan, sama saja tidak benarnya dengan kelompok yang menyatakan bahwa hal itu sama sekali tidak ada contohnya dari Rasulullah s.a.w. sehingga mencap bid’ah bagi orang yang melakukannya.

Adapun mengenai dalil-dalil yang mendukungnya, tentu saja masing-masing kelompok memiliki dalil pendukung. Karena dalam masalah fiqih, kadang kala kebenaran itu bukan lah satu. Sehingga boleh begini dan boleh begitu. Karena Rasulullah s.a.w. pernah melakukan begini dan pernah melakukan begitu.

Sejak dahulu kala pun (kadang sejak zaman sahabat Nabi s.a.w. pun) perbedaan fiqih telah terjadi. Sehingga jika Anda mencari dalil yang “pro” dengan pendapat Anda pasti ketemu. Demikian pula jika Anda mencari dalil yang “kontra” dengan pendapat Anda juga pasti ketemu. Jadi jangan heran jika semua kelompok pasti berhasil mengumpulkan dalil yang mendukung pendapatnya.

Ketahuilah bahwa hampir semua masalah fiqih terjadi perbedaan pendapat, tidak hanya satu, dua bahkan kadang mencapai belasan pendapat yang berbeda. Sebagai contoh masalah batasan aurat wanita jika dirinci secara detail mencapai 7 pendapat.

Kita ambil contoh masalah lain, seperti masalah membaca qunut dalam shalat, bisa terdapat 4 atau 5 pendapat : ada yang membolehkan pada saat shalat witir saja, ada yang membolehkan di shalat witir dan subuh, ada yang membolehkan di semua jenis shalat baik fardlu maupun sunnah, ada yang membolehkan hanya ketika situasi umat Islam genting atau mendapat musibah saja. Namun ada 2 kelompok yang sama-sama ghuluw (berlebihan) yaitu yang mewajibkan qunut di semua situasi, atau mewajibkan qunut pada saat shalat subuh dan mengkafirkan yang tidak melakukan qunut. Lalu 1 lagi yang juga ghuluw adalah yang mengatakan bahwa semua hadits tentang qunut adalah dla’if, atau mengatakan Rasulullah s.a.w. tidak pernah melakukan sama sekali, sehingga siapa yang melakukannya adalah bid’ah.

Contoh lainnya satu kelompok menganggap praktek tawasul adalah syirik, tanpa memerinci tawasul itu apa dan tawasul yang bagaimana, sedangkan kelompok lainnya juga sama-sama ghuluw dengan mengatakan bahwa berdoa melalui tawasul adalah wajib, dan yang tidak melakukannya adalah kafir. Jangan heran jika kedua kelompok ini memiliki dalil-dalil yang mendukungnya. Padahal duduk masalah sebenarnya tawasul itu ada yang boleh dan ada yang terlarang, dan tawasul itu bukanlah sesuatu yang wajib, melainkan sesuatu yang boleh.

Maka justru yang bid’ah itu adalah kelompok yang tidak adil dan tidak jujur dalam menyampaikan tinjauan fiqih. Ia hanya menampilkan dalil dan pendapat ulama yang mendukung pendapatnya saja.

Al- Imam Abdurrahman bin Mahdi pernah berkata:

“Ahlussunnah akan menulis apa saja, baik menguntungkam maupun merugikan pendapatnya. Tetapi ahli bid’ah hanya akan menulis apa yang menguntungkan baginya saja.”

Maka kita harus bersikap hati-hati dan kritis dalam mengambil tulisan-tulisan dari dunia maya (sebenarnya sikap yang sama juga harus dilakukan di kajian dunia nyata) agar tidak menelan mentah-mentah semua informasi. Karena zaman sekarang ini orang tidak berilmu pun, atau yang baru ikut kajian setahun dua tahun atau baru ketemu satu dua hadits sudah berani menyimpulkan dan menulis di dunia maya, sembari menuduh bid’ah pihak lain.

Maka selayaknya kita bersikap adil dalam menyampaikan tinjauan fiqih baik yang pro maupun kontra. Kita juga harus jujur menyampaikan berbagai pendapat ulama dalam suatu permasalahan dan tidak boleh menutup-nutupi sembari hanya memilih dalil yang sesuai dengan pendapatnya saja. Penulis yang jujur boleh mengupas kesalahan pada salah satu pendapat, namun tetap menyerahkan penilaian pada pembaca. Ada pun setelah itu si penulis mengungkapkan bahwa dirinya lebih memilih salah satu pendapat itu boleh-boleh saja, namun tidak boleh menggiring pembaca pada salah satu pendapat, sembari menyalahkan, mengharamkan atau membid’ahkan pendapat lain sepanjang hal itu ada landasannya.

Ibnu Taimiyah pernah berkata : “Orang yang mengamalkan pendapat ulama maka tidak boleh diingkari dan tidak boleh ditinggalkan (dimusuhi) dan barang siapa yag mengambil salah satu pendapat juga tidak boleh diingkari dan apabila dalam suatu masalah ada dua pendapat, maka jika pada seseorang tampak pendapat yang lebih kuast, maka hendaknya ia mengambil pendapat yang kuat itu, jika tidak, maka taqlidlah pada sebagian ulama yang dianggap terpercaya dalam menentukan suatu pendapat yang lebih kuat” (Majmu Fatawa Juz 20 Ha; 207)

Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan : “Saya tidak merasa lega jika para sahabat Rasulullah s.a.w. tidak berbeda pendapat. Sebab jika mereka sepakat hanya pada satu pendapat saja, maka jika suatu saat ada orang yang berbeda pendapat dari kesepakatan tersebut, maka ia akan menjadi dianggap sesat. Sedangkan jika sahabat ada beberapa pendapat, maka orang bisa memilih mengambil pendapat yang satu dan orang yang lain mengambil pendapat yang lain lagi dan kedua orang tersebut tidak sesat”

Demikianlah sikap para ulama salaf dan imam madzhab, walaupun mereka berbeda pendapat dalam masalah fiqih namun tidak pernah saling membid’ahkan dan tidak pernah menganggap dirinya yang paling mengikuti sunnah.

Imam Syafi’i pernah shalat di belakang Imam kota Madinah yang bermadzhab Maliki, walaupun Imam ketika membaca Al-Fatihah tidak membaca basmalah baik keras maupun pelan dan juga tidak membaca qunut. Padahal madzhab Syafi’i berpendapat bacaan basmalah dalam Al-fatihah harus dibaca dan termasuk yang dikeraskan bacaannya, dan juga selalu membaca qunut.

Demikian pula Abu Yusuf pernah shalat di belakang Ar Rasyid yang baru berbekam dan tidak mengulang wudlunya. Padahal Abu Yusuf adalah murid Imam Abu Hanifah (madzhab Hanafi) yang berpendapat berbekam dan mimisan membatalkan wudlu sehingga harus diulang wudlunya. Ar Rasyid mengikuti madzhab Maliki, yang berpendapat berbekam dan mimisan tidak membatalkan wudlu. Abu Yusuf bertindak demikian karena ia orang yang paham, bahwa pendapat Madzhab Maliki adalah pendapat salah seorang tabi’in yang dikenal sholeh dan wara’. Maka ketika Abu Yusuf ditanya ia menjawab : “Bagaimana mungkin Anda tidak mau shalat di belakang Sa’d bin Al Musayyib?”

Perbedaan pendapat dalam masalah fiqih i ni adalah sebuah keniscayaan sehingga Imam Malik mengatakan kepada Abu Ja’far : “Sesungguhnya sahabat-sahabat Nabi s.a.w. telah berpencar ke berbegai pelosok negeri, pada setiap mereka terdapat suatu ilmu, maka jika Anda ingin menggiring pada satu pendapat saja, niscaya akan terjadi fitnah yang besar”. Wallahua’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s