APA BEDA UNDIAN DAN JUDI?

Dadu 02

APA BEDA UNDIAN DAN JUDI?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Sebagian orang mengira bahwa semua bentuk undian adalah haram sebagaimana haramnya judi karena hal itu disebutkan dalam sebuah ayat :

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah kenajisan syaitan”. (Q.S. Al-Maidah [5] : 90)

Juga diayat lainnya :

“Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan”  (Q.S. Al-Maidah [5] : 3)

Kalau judi memang semuanya haram. Tak ada judi yang halal. Sedangkan tidak semua kegiatan mengundi itu adalah haram. Rasulullah s.a.w. kadang melakukan undian untuk menentukan pilihan terhadap sesuatu. Seperti ketika mengundi budak mana yang hendak dimerdekakan :

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin ‘Isa telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Khalid Al Hadzdza` dari Abu Qilabah dari Abu Zaid Al Anshari bahwa seseorang memerdekakan enam budak saat sekarat, ia tidak punya harta lain selain budak-budak itu kemudian Rasulullah s.a.w. mengundi mereka. (H.R. Ahmad No. 21820)

Demikian pula Rasulullah s.a.w. juga mengundi untuk menentukan istri-istrinya yang mana yang menyertainya pergi.

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Aiman ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Mulaikah dari Al Qasim dari Aisyah bahwasanya; Apabila Nabi s.a.w. hendak keluar mengadakan perjalanan, beliau mengadakan undian antara isteri-isterinya, lalu undian itu pun jatuh pada Aisyah dan Hafshah. (H.R. Bukhari No. 4810)

Demikian pula ketika Rasulullah s.a.w. hendak memutuskan sesuatu yang mana tidak ada dasar yang kuat untuk menetapkan salah satu pilihan maka Rasulullah s.a.w. akan memutuskan dengan cara mengundi

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Sa’id dari Qotadah dari Khilas dari Abu Rafi’ dari Abu Hurairah, bahwasanya ia menyebutkan dua orang yang mengklaim memiliki seekor hewan tunggangan, namun mereka berdua tidak memiliki bukti, maka Nabi pun memerintahkan keduanya untuk mengundi dengan bersumpah.” (H.R. Ahmad No. 10368)

Jadi mengundi itu ada yang haram dan ada yang halal. Lalu mengapa kalau judi dan riba itu tidak ada yang halal, dan semuanya haram? Untuk memahami hal ini hendaknya kita memahami filosofi umum dalam ekonomi Islam : Jika ada situasi dimana seseorang mengambil keuntungan di atas akumulasi atau sejumlah kerugian orang-orang lain maka hal itu diharamkan.

Dari filosofi ini kita bisa memahami mengapa riba itu diharamkan. Karena dengan sistem riba, jika seseorang meminjam uang untuk usaha, maka telah dipatok keuntungan tertentu yang harud ditambahkan saat mengembalikan uang kepada si pemilik uang. Jika suatu ketika usahanya bangkrut dan rugi pun, si pemilik uang tidak mau tahu, dan ia tetap  menuntut sejumlah kelebihan / keuntungan yang telah diperjanjikan. Dengan cara ini, maka telah terjadi kezhaliman, dimana pemilik uang mengambil keuntungan di atas kesialan dan kerugian orang lain. Inilah mengapa riba diharamkan.

Demikian pula judi, caranya dipasang / dikumpulkan uang taruhan dari para peserta judi kepada bandar. Maka ketika diundi, atau melalui permainan tertentu baik itu main kartu, main rollet, atau menonton sepak bola, maka pemenangnya akan memperoleh hadiah yang berasal dari penjumlahan / akumulasi uang-uang taruhan yang dipasang para peserta judi. Dengan cara ini, maka telah terjadi kezhaliman, dimana pemenang mengambil keuntungan di atas sejumlah kesialan orang lain. Uang yang diperoleh pemenang kan berasal dari penjumlahan uang-uang orang yang kalah. Inilah mengapa judi diharamkan.

Demikian pula undian yang haram adalah undian yang mana nanti pemenangnya memperoleh hadiah atau uang dari hasil penjumlahan uang orang-uang orang yang kalah. Inilah undian yang haram yaitu undian yang digunakan pada judi dan pertandingan, dimana hadiahnya adalah uang penjumlahan dari pihak yang kalah.

Jangan terjebak pada lahiriyah atau zhahiriyah. Misalnya ada pertandingan badminton antar kampung, hadiahnya kambing. Ini jelas bukan judi dan bukan undian. Namun pertandingan ini bisa haram. Jika hadiah kambing ini berasal dari iuran peserta, lalu orang yang menang mendapat hadiah dari penjumlahan uang orang-orang yang kalah, maka ini bisa haram. Karena ia mendapat keuntungan (walaupun bukan dari judi dan mengundi) dari penjumlahan pihak-pihak yang kalah atau sial. Sama saja hadiah itu mau berbentuk uang, atau dibelikan kambing atau makanan. Sedangkan jika hadiah itu berasal dari sponsor, donatur dimana tidak berasal dari iuran orang-orang yang kalah maka hal itu tidaklah haram. Adapun peserta mungkin dikenakan uang pendaftaran itu untuk biaya penyelenggaraan pertandingan, sewa lapangan dsb, hal itu boleh boleh saja.

Maka undian berhadiah untuk barang-barang yang dijual di toko itu tidaklah haram. Walaupun bentuknya undian. Karena hadiah tersebut berasal dari biaya promosi dan marketing yang sudah dianggarkan oleh perusahaan. Misalnya undian hadiah pembelian sabun atau odol. Andaikan hanya segelintir orang yang membeli sabun atau odol tersebut, maka undian tetap diadakan, dan hadiah tetap diperoleh karena bukan berasal dari penjumlahan pembelian orang-orang. Hadiah itu sudah ada dari anggaran marketing.

Namun ada juga mengundi yang haram tapi tidak berkait aktifitas ekonomi melainkan ini faktor aqidah. Yaitu mengundi nasib seperti disebutkan Q.S. Al-Maidah [5] : 90. Ini terkait pada syirik. Yaitu misal ia mengundi apakah nasibnya akan baik atau buruk di masa akan datang lalu ia melempar panah kartu tarot atau tulang (seperti kepercayaan orang Afrika) maka dari kartu atau tulang yang berserakan itu ia meramalkan nasib dan ia meyakini nasibnya berdasarkan undian atau lemparan kartu dan tulang ini maka hal ini adalah haram dan syirik.

Wallahua’lam

6 thoughts on “APA BEDA UNDIAN DAN JUDI?

  1. lanjutkan bangg.!!!
    promo nya lebih intens lg, blog yg menarik,
    yg terpenting Sunni tulen.

    • Kami berharap hidayah dan petunjuk kepada Allah atas apa-apa yang diperselisihkan manusia.. sedangkan soal tulen tidaknya tidak pernah kami mengklaim diri palig tulen atau paling apapun.. namun yang jelas aqidah kami adalah sunni, ahlu sunnah wal jama’ah

  2. Makasih keterangannya, saya masih mengumpulkan pendapat yang lain mengenai undian ini.

  3. zulkifli says:

    Semoga allah selalu menunjukkan jalan yang lurus.

  4. agus riyan solehudin says:

    Trrima ksih pnjlsan nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s