IMAM BUKHARI

 Oleh : Abu Akmal Mubarok

Imam Bukhari

Jika kita berbicara mengenai hadits, maka hadits yang paling shahih adalah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Siapakah Imam Bukhari? Nama aslinya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari. Dinamakan Al-Bukhai karena berasal dari kota Bukhara. Pada zaman sekarang kota Bukhara terletak di negara Uzbekistan. Dulu Uzbekitsan dijajah Imperium Rusia dan berada dalam konfederasi Uni Soviet. Tapi setelah revoluesi perestroika oleh Gorbachev, maka imperium Uni  Soviet terpecah dan Uzbekistan memerdekakan diri menjadi negara yang berdaulat sendiri.

Imam Bukhari lahir pada tahun 13 Syawal 194 H (809 M atau 810 M ) dan memiliki kuniyah (julukan) Abu Abdullah. Sejak kecil Muhammad bin Ismail Al Bukhari memiliki ingatan yang sangat kuat dan sangat perhatian pada ilmu hadits. Sekali mendengar orang menceritaan tentang hadits Rasulullah s.a.w. maka seumur hidupnya ia akan ingat.

Beliau berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits  yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun ia memutuskan untuk berguru dan menjadi Imam Ahmad bin Hanbal di Madinah. Karena Imam Ahmad dikenal telah mengumpulkan dan menghapal 1 juta hadits. Ia juga bertukar pikiran dengan sejumlah pencatat hadits yaitu Ibnu Mubarok dan Wuqay. Otaknya yang jenius membuat ia menjadi murid Imam Ahmad yang paling menonjol. Beliau hafal kitab-kitab hadits karya Ibnu Mubarok dan Waki bin Jarrah bin Malik.  Pada usia 18 tahun dia menerbitkan kitab pertama Kazaya Shahabah wa Tabi’in, Dalam usia 25 tahun ia telah menulis dua kitab sejarah (tarikh) At-Tariikh Al-Kabir. Konon Imam Bukhari menulis At-Tariikh Al Kabir sambil duduk di samping makam Rasulullah s.a.w.

Setelah itu Imam Bukhari melanjutkan pengembaraannya untuk melacak orang-orang yang memiliki hadits. Setiap kali mendengar ada orang yang menyampaikan hadits, ia akan berusaha menemuinya untuk mengecek kebenarannya dari sumbernya langsung tanpa mempedulikan berapa jauh dan sulitnya perjalanan itu. Beliau pergi ke Basrah dan Kufah di Irak dan juga ke Damaskus di Syiria bahkan sampai ke Mesir untuk bertemu dengan orang-orang yang pernah mendengar hadits Rasulullah s.a.w. Imam Bukhari berkata, “Saya telah mengunjungi Syam, Mesir, dan Jazirah Arab, masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali, menetap di Hijaz selama enam tahun, dan tidak dapat dihitung lagi berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Bagdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.”

Perlu diketahui beliau memang bukan orang yang pertama kali mengumpulkan hadits. Sebelum itu sudah ada Imam Malik bin Anas dan Imam Ahmad bin Hanbal dengan sejuta haditsnya. Ia juga berguru pada li Ibnu Al-Madani, Yahya bin Ma’in, Ibnu Ruhawaih Muhammad ibnu Yusuf Al-Faryabi, Maki ibnu Ibrahim Al-Bakhi, Muhammad bin Yahya As-Zihli dan Muhammad ibnu Yusuf Al-Baykandi. Namun saat itu metoda pengumpulan hadits menggunakan manhaj taqmisiy, yaitu mengumpulkan hadits tanpe memilah mana yang shahih dan mana yang dla’if juga masih tercampur antara perkataan Rasulullah s.a.w. dengan perkataan sahabat, bahkan perkataan tabi’in. Sedangkan Imam Bukhari adalah orang pertama yang menyaring dan mengelompokkan hadits-hadits yang shahih.

Imam Bukhari menghabiskan waktu lebih dari 40 tahun untuk mengumpulkan dan mengecek keshahihan hadits. Ia berguru dan duduk bersama 1080 orang yang meriwayatkan hadits. Tidak hanya itu, untuk setiap periwayat hadits, Imam Bukhari selalu menyempatkan tinggal bersama mereka, mengamati ibadah dan akhlaq mereka, sehingga bisa menentukan apakah hadits yang dikemukakan oleh orang tersebut bisa dipercaya atau tidak.  Metodanya dalam meneliti keshahihan perawi dikenal sangat ketat. Pernah ia menempuh perjalanan ratusan mil hanya untuk menemui seorang perawi hadits dan ternyata ketika bertemu ia menyaksikan orang itu sedang menjinakkan kuda dengan cara menipu kuda tersebut dengan kantung makanan yang kosong. Maka orang tersebut langsung dianggap tidak bisa dipercaya.

Dari hasil pengembaraan selama 40 tahun tersebut, Imam Bukhari berhasil mengumpulkan tidak kurang dari 600.000 hadits, separuh diantaranya ia hafal. Dari situ 100.000 hadits diantaranya sahih, 200.000 lainnya tidak sahih dan meninggalkan 10.000 hadits yang yang masih dalam pertimbangan.  Namun dai sejumlah itu Imam Bukhari bukhari hanya mencantumkan sekitar 7.000 hadits shahih dalam kitab Jami’ Shahih Bukhari dan . Kitab ini merupakan kitab hadits paling terpercaya sepanjang zaman. Ratusan orang membuat penjelasan (syarah) atas kitab beliau. Diantaranya yang paling terkenal adalah kitab Faathul Baari oleh Ibnu Hajar Asqolani, dan KAwakib Ad-Darari oleh Syamsudin Muhammad Yusuf Al-Kimani, serta Al-Umadat Al-Qaari oleh Badruddin Al-Ayni.

Ulama sepakat bahwa Shahih Bukhari adalah kitab hadits paling shahih dan isinya adalah hadits-hadits shahih. Ibnu Hajar Asqolani mengatakan dalam Fathul Bari bahwa Jami’ Sahih Bukhari memuat 7.397 hadits shahih. Namun jika dikeluarkan hadits-hadits yang redaksinya sama (namun jalur periwayatannya berbeda) akan terdapat 2.602 hadits shahih. Selain itu masih ada 259hadits mu’allaq (yang tidak disebutkan sanadnya). Namun menurut Al-Allamah Ibnu Shalah dalam kitab Mukaddimah, “Sahih Bukhari itu memuat 7.275 buah hadits, dan jika dikeluarkan hadits-hadits yang redaksinya sama, ada 4.000 hadits shahih yang dimuat utuh tanpa pengulangan. Ada juga yang mengatakan Imam Bukhari menuliskan 9082 hadits shahih. Perbedaan jumlah ini mungkin termasuk hadits shahih dalam Kitab Adabul Mufrod.

Selama hayatnya Imam Bukhari banyak menghasilkan karya karya besar diantaranya adalah kitab Al-Adabul Al-Mufrad, Al-Shahabah wal Tabi’un Al-Tarikh Ash-Shaghir, Al-Tarikh Al-Ausat, Al-Tarikh Al-Kabir, At-Tafsir Al-Kabir, Al-Musnad Al-Kabir, Kitab Al-ilal, Raful Yadain fish Shalah, Birrul Walidain, Kitab Al-Asyribah, Al-Qira’ah Khalf al-Imam, kitab Ad-Du’afa, Asami Ash-Shahabah, Al-Hibah Khalq Af’al al-Ibad, Al-Kuna, Al-Qira’ah Khalf al-Imam, dan lain-lain. Banyak para ahli hadits setelah beliau yang berguru kepadanya seperti Imam Muslim, Tirmidzi, Abi Hatim,  Abu Zahrah, dam Muhammad Ibn Nasr.

Kita harus berhati-hati dengan usaha sebagian orang atau golongan yang mencoba menebarkan keragu-raguan kepada umat tentang ke-shahih-an hadits-hadits riwayat Bukhari. Misalnya golongan Syiah Imamiyah Rafidhah (yang mencaci para sahabat) yangs sering menebarkan syubhat (keraguan) tentang keshahihan hadits Bukhari dengan mengatakan bahwa hadits-haditsnya disusupi kisah-kisah Israiliyat (legenda dari Israel atau Yahudi) yaitu khususnya hadits-hadits yang ditengarai memuliakan Nabi Musa a.s. seperti hadits-hadits tentang Isra Mi’raj, atau hadits-hadits yang menceritakan bahwa ketika Nabi Muhammad s.a.w. tersadar dari tiupan sangsakala hari kiamat Malaikat Isrofil ternyata Nabi Musa a.s. telah lebih dahulu sadar.

Demikian pula kita harus hati-hati dengan suara-suara yang men-dla’if-kan hadits Bukhari, atau menyatakan bahwa Imam Bukhari terpengaruh kesesatan paham Asy’ariyyah atau paham Jahmiyah. (adapun paham Asy’ariyyah itu sendiri belum tentu sesat seperti yang mereka tuduhkan). Sebagian ulama masa kini berani mendla’if kan hadits shahih Bukhari karena menyatakan salah seorang perawi adalah dla’if. Padahal Imam Bukhari telah meneliti dari ribuan perawi dan hanya memasukkan 289 perawi yang benar-benar dianggap perawi tsiqoh (terpercaya) oleh beliau. Sedangkan diketahui oleh semua ulama bahwa Imam Bukhari menyeleksi perawi tersebut dengan menemui langsung dan mengamati langsung keseharian dan akhlak para perawi tersebut, sedangkan ahli hadits masa kini jelas tidak bertemu langsung dengan mereka.

Mengenai Fitnah Pada Imam Bukhari

Keesokan harinya, Az-Zihli, bersama para Ulama dan warga kota Naisabur, menyongsong kedatangan Imam Bukhari – yang kemudian menetap di perkampungan orang-orang Bukhara untuk mengajar ilmu hadits. Az-Zihli sendiri menganjurkan kepada warga kota Naisabur untuk mengikuti pengajian muridnya yang pandai itu. “Pergilah kalian kepada orang alim yang salih itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya,” ujarnya.

Mungkin karena sangat terkenal, ada saja warga Naisabur yang kurang berkenan. Sementara sibuk mengajar, Imam Bukhari di fitnah seolah-olah telah mengajarkan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Begitu marak fitnah itu, sehingga Az-Zihli, gurunya, terpengaruh dengan isu ini. “Barang siapa berpendapat bahwa lafaz-lafaz Al-Qur’an adalah makhluk, ia adalah ahli bid’ah, ia tidak boleh diajak bicara dan majlisnya tidak boleh dihadiri. Dan barang siapa masih mengunjungi majlisnya, curigailah dia.” Karuan saja, setelah Az-Zihli menyatakan fatwanya, pengajiannya pun mulai sepi.

Suatu hari Gubernur Bukhara Khalid bin Ahmad Az-Zihli  mengirim utusan kepada Imam Bukhari, minta dua buah kitab karangannya, Al-Jami’ al-Shahih dan At-Tarikh al-Kubra, tapi Imam Bukhari keberatan memenuhi permintaan tersebut, sambil berpesan kepada sang utusan, “Saya tidak akan merendahkan ilmu dengan membawanya ke Istana. Jika hal itu tidak berkenan di hati tuan, keluarkanlah larangan supaya saya tidak menggelar majlis pengajian. Dengan begitu saya mempunyai alasan di sisi Allah kelak di hari kiamat bahwa sebenarnya saya tidak menyembunyikan ilmu.”

Mendengar jawaban seperti itu, Khalid naik pitam, ia lalu memerintahkan orang-orangnya menghasut Imam Bukhari, agar ada alasan untuk mengusirnya. Singkat cerita, Imam Bukhari pun di usir dari kampung halamannya sendiri. Ia lalu berdoa dan menyerahkan persoalan ini kepada Allah. Belum sebulan berlalu, Sultan Uzbekistan, Ibnu Tahir, memerintahkan agar Khalid dijatuhi hukuman, dipermalukan di depan umum dengan menunggang Himar (keledai) betina, dan mengakiri hidupnya dipenjara.

Tak lama kemudian warga Samarkand, sebuah negeri tetangga Uzbekistan, menulis surat agar Imam Bukhari menetap di negeri mereka. Ia pun memenuhi undangan itu. Namun saat tiba di Khartand, sebuah desa kecil sebelum Samarkand, ia singgah untuk mengunjungi beberapa familinya. Tapi di sana Imam Bukhari jatuh sakit selama beberapa hari. Dan akhirnya pada malam Idul Fitri 256 H (31 Agustus 870 M), ia wafat dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Ia berwasiat agar jenazahnya di kafani tiga helai kain tanpa baju dalam dilepas surbannya. Wasiat itu dilaksanakan dengan baik oleh warga Khartand, dan Samarkand. Jenazahnya di makamkan selepas Dhuhur pada Hari Raya I’dul Fitri.

IMAM BUKHARI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s