PEMBAHASAN MASALAH BID’AH (JILID 5)

Belajar Qur'an 06

APA YANG DIMAKSUD MENYERUPAI SYARIAT ?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Pada takhshish ke-2 kita menyimpulkan bahwa suatu perkara baru (muhdats) akan disebut sebagai bid’ah jika menyerupai syari’at. Namun apa yang dimaksud menyerupai syariat?

Berdasarkan batasan dari Imam Asy-Syathibiy dalam kitab Al-I’tishaam mendefinisikan bid’ah sebagai berikut; “Suatu jalan baru (thariqah) di dalam agama yang dibuat-buat serupa dengan syariat, dimana, tujuan melakukan perbuatan itu adalah berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah swt“.

Walaupun makna bid’ah secara istilah menurut Imam Syatibi di atas dianggap definisi yang terbaik, namun ternyata masing-masing orang masih memiliki penafsiran yang berbeda-beda tentang maksud “menyerupai syari’at” di sini.

Jika Diyakini Sebagai Ibadah Mahdhoh (Ritual), Maka Itu Menyerupai Syari’at

Jika sebuah perkara baru diyakini merupakan bagian dari ibadah mahdhoh (ritual), maka hal itu termasuk perkara agama, sehingga menjadi obyek penelitian apakah termasuk bid’ah yang dlolal atau tidak.

Apa cirinya hal itu dianggap ibadah mahdhoh (ritual) ?

  1. Menganggap hal itu disyariatkan dan diperintahkan Allah atau NabiNya
  2. Menganggap hal itu untuk menyembah atau mengabdi pada Allah
  3. Menganggap hal itu merupakan cara pendekatan diri (taqarub) kepada Allah
  4. Menganggap hal itu berdosa jika tidak melakukannya
  5. Menganggap hal  itu mempengaruhi hidup mati dirinya
  6. Menganggap hal itu akan mendatangkan sial jika tidak melakukannya

Apa cirinya hal itu dianggap bukan ibadah mahdhoh (ritual) ?

  1. Menganggap hal itu tradisi saja dan tidak disyariatkan dan diperintahkan Allah atau NabiNya
  2. Menganggap hal itu bukan bentuk penyembahan atau pengabdian pada Allah
  3. Menganggap hal itu bukan bentuk pendekatan diri (taqarub) kepada Allah
  4. Tidak Menganggap hal itu berdosa jika tidak melakukannya
  5. Tidak Menganggap hal  itu mempengaruhi hidup mati dirinya
  6. Tidak Menganggap sial jika hal itu tidak dilakukan

Sebagai contoh : Seseorang dalam melakukan pernikahan mengadakan upacara injak telor. Tentu saja para sesepuh dengan panjang lebar menjelaskan makna simbol di dalamnya. Untuk menjawab hal ini bid’ah yang dlolal atau tidak, pertanyaannya apakah hal ini termasuk perkara agama? Jawabnya : ya, menikah adalah perkara agama karena disitu terdapat perintah atau kewajiban. Hal yang ada perintah dan larangan adalah perkara agama. Lalu dalam proses menikah juga terdapat petunjuk Rasulullah s.a.w. dalam ijab qabul, bagaimana lafadz ijabnya, apa saja syarat sah nikahnya, siapa yang berhak jadi walinya dll. Maka jelas apa-apa yang terdapat ketentuan Allah dan RasulNya merupakan bagian dari syariat.  Lalu, apakah injak telor tidak ada pada jaman Rasulullah s.a.w.? Jawabnya : Jelas tidak ada, apalagi telor ayam, di padang pasir jarang ada ayam. Maka kita menginjak pada pertanyaan uji terakhir. Apakah ada dalilnya dari Qur’an dan sunnah? Jawabnya : tidak ada. Jika kita berhenti sampai di sini kesimpulannya tentu ini adalah bid’ah.

Namun jika kita menggunakan batu uji rincian dari apa yang dianggap syariat (rincian takhshih ke-2)  Apakah mereka (yang melaksanakan prosesi injak telor itu) menganggap hal itu disyari’atkan oleh Allah ? Apakah mereka merasa berdosa jika tidak menjalankan hal ini?  Apakah mereka meyakini ini sebagai bentuk peribadatan, penyembahan dan pengabdian kepada Allah? Atau pengabdian pada kekuatan lain yang dianggap Tuhan selain Allah? Apakah mereka menganggap akan sial jika tidak melakukan hal ini? Maka semua jawaban itu tergantung niat dan keyakinan dalam hati.

Jika mereka tidak meyakini ini semua dan menganggap tidak apa-apa jika tidak melakukannya, tidak meyakini adanya dosa dan sial jika tidak melakukannya, hanya saja mereka mempertimbangkan menghormati budaya, maka mereka menganggap hal ini sebagai tradisi dan bukan ritual atau syari’at. Maka apakah hal ini termasuk bid’ah yang dlolal, atau bid’ah yang masih mubah (boleh2 saja) tergantung dari niatnya. Kalaupun ini adalah bid’ah (dalam arti bahasa yaitu tak ada pada masa Nabi s.a.w.) maka tidak termasuk bid’ah yang dlolal (sesat) juga tidak termasuk yang mahmudah (terpuji) karena jika terpuji akan ada pahala di dalamnya. Ini adalah termasuk yang mubah (boleh saja) dan tak ada pahala jika melakukannya dan tak ada dosa jika meninggalkannya, juga tak ada pahala jika meninggalkannya. Hanya saja kebetulan dalam contoh ini sebaiknya telornya jangan dibuang karena merupakan mubadzir. Dan mubadzir itu dosa.

Namun jika mereka ada keyakinan bahwa hal ini dilakukan agar langgeng pernikahan mereka, agar lancar rezekinya (padahal rezeki itu dilapangkan dan disempitkan atas kuasa Allah) maka hal ini bisa menjadi bid’ah yang dlolalah (sesat). Hal ini sesuai dengan perkataan imam Syatibi :

Imam Syatibi mengatakan : “Jika  penyamaan  itu  adalah  dengan  perkara-perkara  yang  tidak disyariatkan maka  ia bukan bid‘ah.  Ia  termasuk dalam perbuatan-perbuatan adat kebiasaan. (lihat  Al-Syatibi, Al-I’tishom  hal 28)

Jika Diyakini Mendatangkan Pahalanya, Belum Tentu Menunjukkan Menyerupai Syari’at

Pada penjelasan di atas dijelaskan bahwa jika seseorang menganggap sebuah perbuatan itu jika tidak dilakukan mendapatkan dosa, maka dia telah menganggap perbuatan itu menyerupai syariat. Namun hal ini tidak berlaku sebaliknya. Jika seseorang meyakini sebuah perbuatan itu mendatangkan pahala, belum tentu hal itu termasuk menyerupai syari’at. Kecuali hadir di dalamnya perintah atau kewajiban dari Allah dan RasulNya. Karena berbuat baik apa saja secara umum mendatangkan manfaat bagi orang dan bisa mendatangkan pahala. Maka sah saja jika ia menganggap hal itu mendatangkan pahala. Namun itu tidak otomatis tindakannya menyerupai syariat. Sehingga ini di luar willayah pembahasan bid’ah. Atau bisa bisa jadi sebenarnya orang itu meyakini perbuatannya mendapat pahala padahal itu termasuk perkara mubah (yang boleh boleh saja). Jika dilakukan tidak mendapat pahala dan jika ditinggalkan pun tidak mendapat dosa. Namun tidak ada salahnya orang itu mengira perbuatan mubah itu mendatangkan pahala. Dan itu tetap bukan menyerupai syari’at.

Sebagai contoh : seseorang membuat nasi tumpeng untuk merayakan pindah rumah baru, atau naik pangkat. Lalu nasi tumpeng itu dibagikan kepada tetangganya. Ia meyakini dengan cara demikian akan mendatangkan pahala dan wujud dari rasa syukur dia. Apakah hal ini bid’ah yang dlolalah? Mari kita uji. Apakah hal ini termasuk perkara agama? Jawab : Hmm.. mungkin. Karena masih ragu, maka kita perinci dengan takhshish ke-2. Agar kita tahu ini termasuk perkara agama atau tidak, maka apakah hal ini menyerupai syari’at? Jawab : Tergantung, apakah ia meyakini ini disyari’atkan? Jawab : Tidak. Apakah ia meyakini ini sebagai bentuk taqorub pada Allah? Jawab : bisa jadi karena ini wujud rasa syukur. Apakah ia meyakini jika ini tidak dikerjakan akan berdosa? Jawabnya : Tidak, tapi ia meyakini jika ini dilaksanakan akan mendatangkan pahala dan rezeki dia akan lebih banyak. Hal ini ada benarnya, karena tumpeng yang dimakan orang banyak Insya Allah merupakan shodaqoh dan ada pahalanya. Maka kesimpulannya ini bukan termasuk perbuatan menyerupai syari’at sehingga di luar lingkup pembahasan bid’ah.

Jika kita tanya : Apakah hal ini adal di masa Rasulullah s.a.w.? Jawabnya : Jelas tidak. Apakah ini ada landasan dalil dari Kitabullah dan Sunnah? Jawab : bisa saja jika ini dianggap sebagai shodaqoh. Walaupun bukan pada fakir miskin (karena tetangganya komplek elit dan kaya semua) namun tetap saja apapun itu bernilai shodaqoh. Sedangkan memberi makan anak istri dan nasi yang tercecer dimakan seranggapun ada nilai shodaqohnya. Namun pertanyaan ini sebenaranya tidak relevan karena memasuki takhshih ke-3 dan ke-4. Sedangkan pada takhshish ke-2 saja sudah gugur dan dinyatakan tidak memenuhi syarat sebagai tindakan menyerupai syari’at. Maka tak perlu dilanjutkan pada batu uji takhshish ke-3 dan ke-4

Mengubah Perincian Ibadah, Tidak Selau Menunjukkan Menyerupai Syari’at

Sebagian ulama mengatakan bahwa bid’ah dalam ibadah itu cirinya apabila menambah-nambah terhadap ibadah yang disyariatkan. Contohnya menambah shalat Dhuhur atau shalat ashar menjadi 5 rakaat. Dalam contoh kasus ini kami setuju.

Ada juga ulama yang membagi bahwa bid’ah dalam ibadah itu terbagi menjadi bid’ah terhadap ibadah mutlak,  yaitu  suatu  ibadah  yang  tidak  ditentukan  secara  khusus  oleh Rasulullah kaifiyatnya (cara teknis pelaksanaannya), jumlahnya, waktunya, tempatnya, maupun sifatnya. Contohnya adalah menebar salam dan tersenyum. Dan ada juga bid’ah terhadap ibadah muqoyyad yaitu suatu  ibadah  yang  ditentukan  secara  khusus  oleh Rasulullah kaifiyatnya (cara teknis pelaksanaannya), jumlahnya, waktunya, tempatnya, maupun sifatnya secara khusus dan terperinci. Maka menambahi dan mengurangi dari perincian ini semua merupakan tindakan bid’ah yang dlolalah.

Sebagai contoh : Syaikh ‘Utsaimin misalnya memerinci komponen dari ibadah mahdhoh yang apabila diubah dari bisa menjerumuskan seseorang  pada bid’ah yaitu meliputi 6 hal : asbab-nya, jenisnya, kadar atau jumlah bilangannya, kaifiyat (caranya), waktunya dan tempatnya (kitab Al-Ibtida’ fi kamal Asy-Syar’i)

Namun kami katakan di sini bahwa jika demikian yang syaikh katakan, niscaya semua sahabat Nabi s.a.w. adalah mubtadi (pelaku bid’ah) karena semua Khulafa’ur Rasyidin dan sahabat yang lainnya pernah mengubah perincian ibadah entah dengan pertimbangan situasional, dengan pertimbangan maslahat dan mafsadat, dengan pertimbangan skala prioritas, dengan pertimbangan strategi dakwah dan lain halnya yang tidak kita ketahui.

Baiklah mari kita ambil contoh satu persatu.

Mengubah Perincian Ibadah, Dari Sisi Asbab (Sebab Melakukan Ibadah)

Syaikh ‘Utsaimin mencontohkan,  jika  suatu ibadah  dilakukan dengan  sebab  yang  tidak disyari’atkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan mardud (tertolak).  Contoh : seseorang

yang melakukan sholat tahajjud pada malam 27 Rajab, dengan alasan bahwa malam tersebut

adalah malam mi’raj Rasulullah s.a.w., maka itu adalah bid’ah, dikarenakan sholat tahajjudnya  dikaitkan  dengan  sebab  yang  tidak  ditetapkan  dengan  syari’at, walaupun  sholat tahajjud  itu sendiri adalah sunnah. Namun karena dikaitkan dengan sebab yang  tidak syar’i, sholatnya menjadi bid’ah.

Hal ini benar demikian sepanjang terdapat dalil yang qoth’iy  jelas menunjukkan kemutlakan asbabnya. Adapun hal ini tidak dapat diterapkan pada hal-hal yang khilafiyah (masih bisa berbeda pendapat) karena pemahaman dan penafsiran seseorang bisa saja berbeda. Misalnya dalam perdebatan tentang asbab atau illat dibolehkannya men-jamak shalat. Dalam Al-Qur’an mengatakan Apabila kamu berjalan di muka bumi, maka tidak ada halangan bagi mu untuk meng-qoshor sholat, (Q.S. An-Nisaa’ : 101) Sebagian orang menganggap safar lah yang menjadi asbab dibolehkannya jamak dan qoshor.

Namun dalam hadits Ibnu Abbas Ra. berkata : ‘Rasulullah s.a.w.  pernah menjama’ sholat dzuhur dengan ashar dan maghrib dengan isya’ di Madinah tanpa disebabkan faktor takut diserang (khauf) atau hujan. Beliau ditanya apa sebabnya, lalu beliau menjawab : “agar tidak menyulitkan umatnya” (H.R. Muslim).

Maka tidak boleh men-jamak shalat pada asbab lain selain safar. Sedangkan yang lainnya mengatakan sebagaimana diisyaratkan dalam hadits bahwa asbab dibolehkannya men-jamak  shalat adalah “agar tidak menyulitkan umat ku”. Maka yang menjadi asbab adalah “kesulitannya”. Maka men-jamak  shalat dibolehkan jika timbul kesulitan seperti kesibukan misalnya operasi pasien, peperangan yang dahsyat, cuaca sangat dingin, dll. Hal ini sebenarnya dibuktikan dengan adanya hadits-hadits mengenai hal ini. Namun tetap saja ada pro dan kontra dengan alasannya masing-masing. Maka kita tidak boleh membid’ahkan pihak lain yang tidak setuju dengan asbab dari sebuah ibadah, karena masing-masing boleh dikatakan memiliki pijakan dalil.

Mengubah Perincian Ibadah, Dari Sisi Jenisnya, Belum Tentu Bid’ah Dlolalah

Syaikh ‘Utsaimin mencontohkan ibadah harus sesuai dengan syari’at dalam jenisnya, jika tidak, maka termasuk bid’ah (maksudnya bid’ah dlolalah).    Contoh  :  seseorang  menyembelih  kuda  untuk  kurban  adalah  tidak  sah,  karena menyelisihi  syari’at  dalam  ketentuan  jenis  hewan  kurban,  yang  disyari’atkan  hanyalah  unta, sapi dan kambing.

Kami sepakat bahwa petunjuk syariat perihal perincian jenis harus dipertahankan, sepanjang situasi memungkinkan terlaksananya hal itu. Namun bagaimana jika di suatu wilayah tidak dikenal ada unta sapi dan kambing? Andaikan ada umat Islam di wilayah kutub utara atau Alaska (memang ada umat Islam di Alaska) yang di situ hanya ada kijang? Apakah mereka harus mengimpor sapi dan kambing dulu baru bisa melaksanakan qurban?

Maka dalam situasi demikian, syari’at dituntut untuk fleksibel karena agama ini diturunkan bukan untuk menyulitkan umatnya. Kaidah ushul fiqih mengatakan : taghayyur al-ahkam bi taghayyur al-azminati wa al-amkan (perubahan hukum dimungkinkan karena perubahan tempat dan waktu)

Dan hal ini lah yang dilakukan oleh Sahabat Rasulullah yaitu Mu’adz bin Jabal r.a.

Dari Abu Namir dari ‘Atha bin Yasar dari Mu’adz bin Jabal bahwa Rasulullah s.a.w. mengutusnya ke Yaman dan bersabda kepadanya: “Ambillah biji dari biji, domba dari kambing, unta dari unta dan sapi dari sapi.” (H.R. Ibnu Majah No. 1804)

Namun pertimbangan situasi mungkin karena desa yang didatangi bukan petani dan peternak melainkan penenun. Selain itu penduduk Madinah sudah tercukupi dalam hal pangan dan ternak, namun masih kekurangan dalam sandang (pakaian). Maka Muadz bin Jabal r.a. melakukan inisiatif yang menyelisihi perintah Rasulullah s.a.w ketika mengutusnya ke Yaman. Ia memungut zakat berupa tombak dan pakaian.

Dari Thawudz dari Mu’adz bin Jabal r.a. ia berkata : “Berikan kepada saya tombak atau pakaian (yang mereka bikin sendiri) sebagai ganti jagung dan gandum yang harus saya pungut dari kalian, jarena hal itu lebih meringankan laian dan lebih bermanfaat bagi orang-orang Muhajirin di Madinah” (Atsar R. Bukhari dan Baihaqi)

Secara sepintas Mu’adz telah menyelisihi perintah Rasul. Namun Mu’adz berani melakukan modifikasi ini dengan pertimbangan bahwa maqoshid syar’i (tujuan diberlakukan hukum) dari zakat tetap terpenuhi yaitu untuk membersihkan dan mensucikan harta, walaupun bentuknya tidak persis seperti perintah Rasulullah s.a.w. Apakah hal ini ada dalilnya? Jelas tak ada dalil hadits yang memerintahkan memungut dalam bentuk tombak dan pakaian. Namun apakah ini bid’ah yang dlolal? Tentu saja bukan bid’ah. Apakah ini tetap tegak di atas sunnah? Tentu saja hal ini termasuk tetap tegak di atas sunnah walaupun menyelisihi perintah Rasululllah s.a.w.

Orang yang gagal memahami hal ini akan serta merta menuduh bid’ah jika ada hal baru dari segi jenis. Misalnya saja ada yang menganggap bid’ah zakat memakai uang kertas karena uang kertas baru ada setelah kekhilafahan Utsmani runtuh dan tidak ada contohnya pada zaman Nabi s.a.w. maupun zaman Khulafaur Rasyidin dan Tabi’in

Mengubah Perincian Ibadah, Dari Sisi Kadar Bilangannya Belum Tentu Bid’ah Dlolalah

Syaikh Utsaimin memberi contoh bahwa kadar (bilangan) ibadah harus sesuai dengan bilangan / kadarnya yang ditunjukkan oleh nash syariat, jika menyelisihinya maka  termasuk  bid’ah.  Contoh  :  seseorang  sholat  dhuhur  5  rakaat,  dengan  menambah  bilangan sholat tersebut. Dalam contoh kasus shalat memang harus demikian adanya.

Namun untuk masalah lain, seperti misalnya masalah jarak dibolehkannya men-jamak shalat dalam kondisi musafir, terdapat banyak dalil yang berbeda-beda. Dari mulai 3 mil, 5 farsakh sampai 80 kilometer, bahkan ada yang hanya mengambil patokan batas kota. Masing-masing berpijak pada dalil. Maka salah satu pihak tidak boleh menganggap pihak lain sebagai pelaku bid’ah, gara-gara merasa penafsirannyalah yang berada di atas sunnah, sedangkan penafsiran orang lain dianggap tidak memiliki dalil.

Demikian pula hal ini tidak bisa diterapkan dimana ada hal-terjadi ke-samar-an dalam dalil yag ada, Dalam beberapa kasus ada jelas contohnya dari Rasulullah s.a.w.  namun karena pertimbangan tertentu, pada suatu situasi dan masa tertentu berbeda pelaksanaannya. Hal ini terjadi pada para sahabat Nabi s.a.w.

Misalnya dalam kasus hukuman  cambuk bagi  peminum   khamr. Pada masa Rasulullah s.a.w menderanya / mencambuk pemabuk dengan 40 kali. Namun pada masa Khalifah Umar bin Khattab-atas saran Abdurrahman bin ‘Auf menderanya 80 kali. Karena saat itu dianggap orang masih kurang jera dengan cambuk 40 kali.

Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Sa’id bin Abu ‘Arubah dari Abdullah Ad Danah dari Hudhain bin Al Mundzir bin Al Harits bin Wa’lah bahwa Al Walid bin Uqbah mengimami orang-orang pada shalat subuh empat raka’at, kemudian dia menoleh kepada mereka dan berkata; “Saya sengaja menambahnya.” Hal itu disampaikan kepada Utsman, maka dia menyuruh agar dijilid. Ali berkata kepada Al Hasan bin Ali; “Bangunlah Wahai Hasan! dan jilid!” Dia menyanggahnya; “Kenapa dengan anda?” Ali menjawab; “Kenapa kamu lemah dan loyo? Wahai Abdullah bin Ja’far, jilidlah dia!” Abdullah bin Ja’far bangkit dan menjilidnya, sedang Ali menghitungnya. Tatkala sampai pada hitungan empat puluh, dia berkata; “Tahan!” lalu dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memukul pada masalah minum khamer empat puluh kali, Abu Bakar juga demikian, dan Umar sampai pada masa pertengahan kekhilafahannya, kemudian dia menyempurnakannya menjadi delapan puluh kali keduanya adalah sunnah.” (H.R. Ahmad 1167)

Demikian pula dalam kasus diyat (denda) untuk pengganti qishash terpotongnya jari-jari,

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda tentang diyat jari-jari kedua tangan dan kaki: “Diyatnya sama yaitu sebesar sepuluh ekor unta pada setiap jari.” (H.R. Tirmidzi No, 1311) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Maka pendapat Rasulullah ini diikuti oleh Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ibnu Musayyab,  Sufyan Ats-Tsauri, Imam Syafi’i, Imam Ahmad ,Ibnu Ishaq dll dimana diyat 10 unta untuk 1 jari, 20 unta untuk 2 jari, 30 unta untuk 3 jari dst. Namun suatu ketika Umar bin Khattab r.a. membedakan diyat antara satu jari dengan jari lainnya, untu jari tengah 10 unta untuk jari manis 9 unta dan jari kelingking hanya 6 unta. Demikian pula Muhahid menetapkan 15  unta untuk diyat terpotongnya Ibu Jari. (Ibnu Rusydi,  Bidayatul Mujtahid Bab Ad-Diyat , Juz III hal 594)

Contoh di atas merupakan Ijtihad para sahabat yang menyelisihi nash dalil yang jelas dari Rasulullah s.a.w. Namun ijtihad sahabat terlebih yang termasuk Khulafa’ur Rasyidin tidak bisa dianggap sebagai bid’ah walaupun ia menyelisihi nash, karena beliau mungkin memiliki alasan lain yang kita tidak paham dan ilmu beliau jauh berada di atas generasi berikutnya. Selain itu karena Rasulullah s.a.w. terlah bersabda bahwa hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin (Khalifah yang mendapat petunjuk), gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham.” (H.R. Tirmidzi No. 2600, Abu Daud No. 3991, Ibnu Majah No. 42, Ahmad No. 16521 dan No 16522) atau kalian harus mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa`urrasyidin (H.R. Darimi No. 95) Jika Anda menganggap beliau melakukan bid’ah yang dlolal berarti beliau akan masuk neraka. Padahal Rasulullah s.a.w menjamin Umar bin Khattab r.a. masuk surga.

Mengubah Perincian Ibadah, Dari Sisi Kaifiyatnya Belum Tentu Bid’ah Dlolalah

Syaikh Utsaimin memberi contoh dalam kasus kaifiyat  (cara) berwudlu ,  seandainya  seseorang  berwudhu  dengan  cara  membasuh  kaki  terlebih  dahulu kemudian tangan, maka tidak sah wudhunya, karena menyelisihi kaifiyat wudhu’.

Kami sepakat dengan hal ini sepanjang semua dalil yang ada menunjukkan atau menjelaskan satu macam kaifiyat (tata cara) ibadah saja tanpa bisa ditafsirkan lain. Sayangnya, dalam masalah detil teknis pelaksanaan ibadah (sebagaimana juga masalah fiqih lainnya) terdapat rincian kaifiyat yang berbeda-beda.

Perbedaan itu ada beberapa kemungkinan :

  1. Daya tangkap dan penafsiran sahabat Nabi s.a.w. yang berbeda-beda
  2. Proses penyampaian hadits yang bisa jadi sebagian berubah atau tidak utuh lagi
  3. Bisa jadi, Rasulullah s.a.w. kadang melakukan begini dan di waktu lain melakukan dengan cara yang berbeda, maka hal ini merupakan pilihan dan keleluasaan serta keluwesan Islam.
  4. Bisa jadi, Rasulullah s.a.w. kadang melakukan begini dan di waktu lain berbeda karena situasi yang berbeda

Namun dalam hal tertentu kita jumpai kasus dimana , petunjuk kaifiyatnya sudah jelas dari Nabi s.a.w. namun sahabat Nabi s.a.w. melakukan inovasi dan modifikasi, dan hal itu tidak disalahkan oleh Nabi s.a.w. padahal hal itu merupakan ibadah mahdhoh yang termasuk rukun Islam yang 5.

Shalat  Ashar di Bani Quraidzhah

Sebagai contoh : perbedaan penafsiran antara yang berpegang pada zhahir teks dalil dan yang berpegang pada konteks (makna tersirat).

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Asma’ berkata, telah menceritakan kepada kami Juwairiyah dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar berkata, “Nabi s.a.w. bersabda kepada kami ketika beliau kembali dari perang Ahzab: “Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian shalat ‘Ashar keculi di perkampungan Bani Quraizhah.” Lalu tibalah waktu shalat ketika mereka masih di jalan, sebagian dari mereka berkata, ‘Kami tidak akan shalat kecuali telah sampai tujuan’, dan sebagian lain berkata, ‘Bahkan kami akan melaksanakan shalat, sebab beliau tidaklah bermaksud demikian’. Maka kejadian tersebut diceritakan kepada Nabi s.a.w., dan beliau tidak mencela seorang pun dari mereka.” (H.R. Bukhari No. 894)

Pada hadits di atas dapat kita lihat bahwa perbedaan pendapat dalam penafsiran dalil bisa terjadi, bahkan ketika Rasulullah s.a.w. masih hidup. Para ulama pun berbeda pendapat mana yang lebih benar dari dua kelompok sahabat ini? Ibnu Qoyyim berpendapat bahwa yang benar adalah yang shalat ashar di jalan (yaitu yang berpegang pada konteks bukan pada zhahir teks).

Mandi Junub Bagi Yang Sakit

Contoh kedua terjadi pada kasus mandi junub, dimana kebanyakan sahabat berpegang pada makna harfiyah atau zhahirnya dalil, dimana orang yang junub harus mandi.

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Abdurrahman Al-Anthaki telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Az-Zubair bin Khuraiq dari ‘Atha` dan Jabir dia berkata; Kami pernah keluar dalam sebuah perjalanan, lalu salah seorang di antara kami terkena batu pada kepalanya yang membuatnya terluka serius. Kemudian dia bermimpi junub, maka dia bertanya kepada para sahabatnya; Apakah ada keringanan untukku agar saya bertayammum saja? Mereka menjawab; Kami tidak mendapatkan keringanan untukmu sementara kamu mampu untuk menggunakan air, maka orang tersebut mandi dan langsung meninggal. Ketika kami sampai kepada Nabi s.a.w., beliau diberitahukan tentang kejadian tersebut, maka beliau bersabda: “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka! Tidakkah mereka bertanya apabila mereka tidak mengetahui, karena obat dari kebodohan adalah bertanya! Sesungguhnya cukuplah baginya untuk bertayammum dan meneteskan air pada lukanya -atau- mengikat lukanya.” (H.R. Abu Daud No. 284)

Kita tidak mengingkari dan mencela orang yang terpaku dan tidak berkutik di hadapan makna harfiyah dari teks dalil. Karena terbukti orang-orang seperti ini ada, dan hal itu sudah terjadi sejak jaman sahabat dan Rasulullah s.a.w. masih hidup. Pada kasus di atas zhahir teks dalil Q.S. Al-Maidah : 6 hanya menunjukan asbab diberlakukan tayamum karena tidak ada air, tak ada petunjuk bahwa tayamum boleh diterapkan pada orang yang sakit. Maka sahabat berfatwa bahwa ia harus tetap mandi karena masih ada air. Maka ternyata penafsiran sahabat ini salah.

Hanya saja pada kasus di atas, kesalahan penafsiran bisa langsung dikoreksi oleh Nabi s.a.w. sebagai otoritas pembuat syari’at. Sedangkan kini, tidak ada satupun yang berhak mengklaim dirinya sebagai pemegang otoritas tunggal dalam menafsiri teks dalil. Maka kita tidak bisa membid’ahkan seseorang yang berbeda pemahaman dan berbeda penafsiran, sepanjang dia masih memiliki sandaran pada nash syari’at.

Seseorang Menambahkan Doa Karangan Sendiri Saat Bangkit Dari Ruku

Dari Rifa’ah ibn Rafi’, r.a. berkata: “Suatu hari kami shalat berjama’ah di belakang Rasulullah s.a.w.. Ketika beliau bangun setelah ruku’, beliau membaca: “Sami’allahu Lima Hamidah”. Tiba-tiba salah seorang makmum berkata: Rabbana walakalhamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih.  Setelah selesai shalat, Rasulullah bertanya: “Siapakah tadi yang mengatakan kalimat-kalimat itu?”. Orang yang yang dimaksud menjawab: “Saya Wahai Rasulullah” Lalu Rasulullah berkata: “Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berlomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya”.(H.R. Bukhari No. 799 Nasa’i No 1016, Abu Daud No. 770, Ahmad No. 19018, Ibnu Khuzaimah No. 614)

Pada hadits di atas Rasulullah s.a.w. mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya dan terdapat isyarat bahwa doa ini belum pernah diajarkan atau dicontohkan Rasulullah s.a.w. sebelumnya, terbukti dari perkataan pada hadits ini bahwa Nabi s.a.w. bertanya  “ siapa di antara kalian tadi yang berbicara begitu?” Bila hal itu sesuatu yang diketahi orang banyak dan telah diajarkan Nabi s.a.w. maka pasti Nabi tidak perlu bertanya apa-apa padad orang  orang. Dan ternyata Nabi s.a.w. membenarkan bahkan memuji doa itu karena redaksinya memang baik.

Lalu apakah ini perkara agama? Jawabnya : Ya. Apakah ini belum pernah dilakukan Nabi s.a.w.? Jawab : Ya, belum pernah. Lalu apakah ini ada landasan dalilnya? Jawabnya : Tidak, ini adalah inisiatif Mu’adz r.a. Lalu apakah ini bid’ah yang dlolalah? Jawabnya : Jika Mu’adz r.a. melakukan bid’ah dlolalah berarti ia sesat dan masuk neraka, padahal ia adalah salah satu sahabat yang dijamin masuk surga.

Ibnu Umar r.a. Menambahkan Doa Karangan Sendiri Saat Talbiyah

Ibnu Umar r.a. meriwayatkan doa talbiyah yang diajarkan Rasulullah s.a.w. adalah “Labaikallahumma labaik, Labaika Laa Syarika laka labaik, Innal Hamda wa ni’mata laka wal mulk laa syarikalak” Lalu Ibnu Umar berdoa : “Labaikalabaika wa saidaika wal khairu biyadaik labaik warraghba’u ilaika wal ‘amal” (Atsar.R.  Bukhari Juz 2 Hal 170, Muslim No. 1184, Abu Daud No. 1812)

Dalam atsar Ibnu Umar r.a. di atas jelas bahwa Ibnu Umar menambahkan doa karangan sendiri setelah doa talbiyah yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w. tentu saja doa ini tidak ada pada masa Rasulullah s.a.w. Maka ini jelas modifikasi atas kaifiyat ibadah yang telah jelas ada petunjuknya dari Rasulullah s.a.w. Lalu apakah ini perkara agama? Jawabnya : Ya. Apakah ini belum pernah dilakukan Nabi s.a.w.? Jawab : Ya, belum pernah. Lalu apakah ini ada landasan dalilnya? Jawabnya : Tidak, ini adalah inisiatif Ibnu Umar r.a. Lalu apakah ini bid’ah yang dlolalah? Jawabnya : Jika Ibnu Umar r.a. melakukan bid’ah dlolalah berarti ia sesat dan masuk neraka, padahal ia adalah salah satu sahabat yang dijamin masuk surga.

Mengubah Perincian Ibadah, Dari Sisi Waktu Pelaksanaan, Belum Tentu Bid’ah Dlolalah

Syaikh Utsaimin mencontohkan bid’ah dari segi raktu, yaitu seandainya ada orang yang menyembelih binatang kurban pada hari pertama  bulan Dzulhijjah, maka tidak sah, karena waktunya tidak sebagaimana yang diperintahkan.  Kami sepakat pada kasus ini. Untuk ibadah-ibadah yang telah ditetapkan waktunya maka hal itu tak dipungkiri lagi tidak boleh diubah. Kecuali memang ada petunjuk lain, misalnya dalam kasus shalat, jika situasi tertentu boleh dijamak.

Namun untuk hal tertentu dimana dalil mengenai ketetapan waktu itu dipahami bukan sebagai kewajiban melainkan sebagai mustahab (lebih disukai) maka hal ini boleh diubah sesuai kondisi dan situasi. Misalkan waktu pelaksanaan jumroh dimana disunnahkan setelah dzuhur, namun jika 3-4 Juta orang serentak melaksanakan pada waktu yang sama, akan terjadi musibah seperti tragedi terowongan Mina. Maka tidak mengapa jika penguasa mengatur penjadwalan pelaksanaan jumroh dari sejak subuh (setelah mabit di Mina) hingga waktu dzuhur. Hal ini demi mempertimbangkan kemaslahatan dan keselamatan umum. Demikian pula hal ini demi memenuhi maqoshid syar’i yaitu terwujudnya keselamatan jiwa.

Demikian pula untuk pelaksanaan shalat jum’at dan shalat ‘Id, di negeri-negeri yang jumlah muslimnya minoritas, dan sarana ibadah sangat terbatas, maka dapat dilakukan penyesuaian seperlunya dengan tetap mengindahkan dalil syar’i. Misalnya shalat jum’at dilaksanakan 2X di Pakistan. Atau shalat ‘Id di London dilaksanakan 8 X dengan waktu berbeda. Namun itu semua masih dalam koridor waktu yang dimungkinkanmenurut dalil syar’i. Dan tentu ini bukanlah bid’ah dlolalah (sesat)

Mengubah Perincian Ibadah, Dari Sisi Tempat Pelaksanaan, Belum Tentu Bid’ah Dlolalah

Syaikh Utsaimin mencontohkan bid’ah dari segi tempat, seandainya seseorang beri’tikaf bukan di Masjid, maka tidak sah I’tikafnya, karena I’tikaf hanyalah disyari’atkan di masjid, tidak pada selainnya.  Kami sepakat pada kasus ini sepanjang hal itu memungkinkan untuk diterapkan.

Sedangkan dalam kasus situasi tidak memungkinkan untuk dilaksanakan karena perubahan zaman dan waktu, terlebih jika menyangkut keselamatan dan kemaslahatan umum, tidak menutup kemungkinan syari’at dapat melakukan penyesuaian.

Contohnya pada pelaksanaan tempat miqot pada ibadah haji. sesuai hadits Rasulullah s.a.w. orang yang berhaji datang dari arah timur harus melakukan miqot (start dengan cara mandi, shalat 2 rakaat lalu memakai pakaian ihram ) di Yalamlam sebuah bukit di Thuhaah 80 km  sebelah Timur Mekah

Dari Ibnu Abbas r.a. : “Rasulullah s.a.w. telah menentukan tempat wajib ihram bagi tiap-tiap pihak yaitu bagi ahli MAdinah dari Zul Hulaifah, bagi ahli Syam dari Juhfah, bagi Ahli Najdi (Nejd) dari Qarnul Manazil dan bagi Ahli Yaman dari Yalamlam. Beliau s.a.w. bersabda : “Tempat empat itu untuk penduduk negeri-negeri tersebut da orang yang datang ke negeri-negeri itu bermaksud untuk beribadah haji dan umarah. Adapun orang yang negerinya lebih dekat ke Mekah maka miqatnya dari negerinya masing-masing sehingga bagi ahli Mekah miqat mereka adalah negeri Mekah” (H.R. Bukhari Muslim)

Dan para sahabat sejak dahulu tidak ada yang berani mengubah ketentuan miqot ini

Ibnu Al Arabi menceritakan dari Az-Zubair bin Bakkar, ia berkata: Aku mendengar Malik bin Anas berkata —ketika seseorang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Abdullah! Dari mana aku harus berihram?’ Dijawab: “Dari Dzul Khulaifah, bagaimana Rasulullah SAW berihram dari tempat tersebut.” Orang itu lalu berkata, “Aku ingin berihram dari masjid.” Ia berkata,” Jangan kamu lakukan.” Orang tersebut berkata, “Aku ingin berihram dari masjid di dekat makam.” Ia berkata, “Jangan kamu lakukan, karena aku khawatir akan turun fitnah atas dirimu.” Orang itu bertanya, “Fitnah apa? Bukankah aku hanya menambah beberapa mil.” Ia menjawab, “Fitnah apa yang lebih besar dari dirimu yang telah mendahului keutamaan yang tidak diperintahkan Rasulullah s.a.w.? Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman, ‘Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih’.” (Disebutkan oleh Imam Syatibi dalam Al-Ittishom hal 138)

Namun pesawat masa kini melewati Yalamlam dan mendarat di Jeddah. Apakah ia kembali berjalan dari Jeddah ke Yalamlam Ataukah ia miqot di Jeddah? Atau ia miqot di atas pesawat?? Maka hal ini jelas perkara bid’ah tidak hanya belum ada di masa Nabi s.a.w. namun juga menyelisihi syari’at.

Jika kita bersikeras untuk miqot saat berada di titik Yalamlam, maka pada saat bersamaan (sekitar 400 s/d 600 orang dalam pesawat) harus mengantri mandi, shalat 2     rakaat dan memakai pakaian ihram, sedangkan kamar mandi di pesawat hanya ada 6 s/d 8 buah. Jelas hal ini tidak mungkin dilaksanakan. Maka diambilah keringanan dan kaidah dalam ushul fiqih yang disebut dengan “istishan” (memilih 2 qiyas/analogi  yang lebih baik).

Maka dengan kaidah istishan ini dibolehkan untuk miqot dari Jeddah atau Riyadh sesuai dengan tempat mendarat pesawat. Hal ini dengan mengqiyaskan seolah jamaah haji itu setelah mendarat di airport maka dia dianggap jamaah dari negeri sekitar mekah yaitu berasal dari Riyadh atau Jeddah sehingga boleh miqot dari kota itu, dan bukan dianggap jamaah dari Indonesia walaupun passportnya dari Indonesia. Maka hal ini sesuai dengan sabda Rasul s.a.w

Adapun orang yang negerinya lebih dekat ke Mekah maka miqatnya dari negerinya masing-masing sehingga bagi ahli Mekah miqat mereka adalah negeri Mekah” (H.R. Bukhari Muslim)

Mengkhususkan Dan Merutinkan Sesuatu Bukan Selalu Menyerupai Syari’at

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan memerinci bid’ah dalam ibadah mahdhoh salah satu ciri nya adalah menghususkan suatu ibadah yang disyari’atkan (apalagi yang tidak disyaria’atkan), sedangkan syari’at tidak pernah mengkhususkan hal itu.

Namun dalam contoh kasus lainnya, misalkan seseorang mengkhususkan menghafal Al-Qur’an setiap malam senin, maka membaca Al-Qur;an adalah ibadah, namun pengkhususan pada hari tertentu itu bukan diniatkan untuk menjadikan ia menyerupai syari’at dan jelas hal ini memang tidak ada dalilnya. Melainkan pengkhususan dan perutinan itu hanyalah  masalah  penjadwalan saja dalam aktifitas hidupnya. Maka ini bukanlah bid’ah yang dlolalah.

Dalam kasus lain dikisahkan Ibnu Taimiyah telah mengkhususkan dan merutinkan suatu cara ia berdoa sementara hal itu belum pernah dilakukan oleh orang lain sebelumnya.

Salah seorang murid Ibnu Taimiyyah bernama Umar bin Ali Al-Bazzar berkata : “Apabila Ibnu Taimiyyah selesai shalat subuh maka ia berdzikir kepada Allah bersama jamaah dengan doa yang datang dari Nabi s.a.w. yaitu : “Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabarakta ya dzaljalali wal ikrom. Lalu beliau menghadap kepada jamaah lalu membaca tahlil-tahlil yang datang dari Nabi s.a.w. lalu tasbih, tahmid dan takbir masing-masing 33 kali, dan diakhiri dengan tahlil sebagai bacaan yang keseratus. Ia membacanya bersama jamaah yang hadir. Kemudian ia berdoa kepada Allah ta’ala untuk dirinya dan jamaah serta kaum muslimin. Kebiasaan Ibnu Taimiyyah sudah dimaklumi, ia sulit diajak bicara setelah shalat subuh kecuali terpaksa. Ia akan terus berdzikir pelan cukup didengar sendiri dan terkadang dapat didengar oleh orang yang ada di sampingnya. Di tengah-tengah dzikir itu ia sering mengarahkan pandangannya ke langit dan ini kebiasaannya hingga matahari naik dan waktu larangan shalat habis. Aku selama tinggal di Damaskus selalu bersamanya siang dan malam. Ia sering mendekatkan ku kepadanya sehingga aku duduk di sampingnya. Pada saat itu aku selalu mendengar apa yang dibacanya dan yang dijadikannya sebagai dzikir. Aku melihatnya membaca Al-Fatihah mengulang-ulangnya dan menghabiskan seluruh waktunya dengan membacanya yakni dengan mengulang-ulang Al-Fatihah sejak selesai shalat subuh hingga matahari naik. Dalam hal ini aku merenung mengapa ia hana rutin membaca Al-Fatihah dan tidak yang lainnya ? Akhirya aku tahu bahwa ia bermaksud menggabungkan antara keterangan dalam berbagai hadits dan apa yang disebutkan para ulama yaitu : “Apakah pada saat itu disunnahkan mendahulukan dzikir dzikir yang datang dari Nabi s.a.w. daripada Al-Qur’an atau sebaliknya?” Beliau berpendapat bahwa dalam membaca dan mengulang-ulang Al-Fatihah ini berarti menggabungkan antara dua pendapat dan meraih dua keutamaan, ini termasuk bukti kecerdasan dan pandangan hatinya yang jitu “ (Al-A’lam Al-‘Aliyyah fii Manaqib Ibnu Taimiyyah Hal 37-39)

Bersambung Jilid 6…

One thought on “PEMBAHASAN MASALAH BID’AH (JILID 5)

  1. haris says:

    jazakallah ustadz, ditunggu jilid 6 nya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s