SHALAT DI ATAS KENDARAAN (JILID 2)

keledai 03

SHALAT DI ATAS KENDARAAN (JILID 2)

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image


Hadits Yang Menceritakan Shalat Fardhu Di Atas Kendaraan

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Bukair telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Abu Az-Zubair dari Jabir berkata; kami berangkat bersama Rasulullah s.a.w. dalam sebuah perjalanan lalu turun hujan. Lalu beliau bersabda: “Siapa yang mau, shalatlah di atas  kendaraannya.” (H.R. Ahmad No. 14742 dan No. 13827) Hadits seluruh perawinya tsiqoh. Dan hadits ini menceritakan bahwa yang peristiwa ini adalah shalat fardhu (wajib) dan bukan shalat sunnah yang dilakukan berjamaah bersama para sahabat di atas kendaraan, dan bukannya shalat sunnah sebagaimana diceritakan lebih rinci pada hadits lainnya.

Telah menceritakan kepada kami Suraij bin Nu’man Telah menceritakan kepada kami Umar bin Maimun bin Rammah dari Abu Sahl Katsir bin Ziyad Al Bashri dari Amru bin Utsman bin Ya’la bin Murrah dari Bapaknya dari Kakeknya, bahwa Rasulullah s.a.w.  dan para sahabatnya sampai pada daerah yang agak sempit sedangkan beliau masih berada di atas kendaraannya, sementar langit menurunkan hujan dan tanah yang ada di bawah mereka basah (berlumpur). Lalu datanglah waktu shalat, beliau kemudian memerintahkan seorang muadzdzin untuk mengumandang adzan, lalu muadzdzin tersebut adzan dan iqamah. Rasulullah s.a.w. kemudian maju ke depan dengan tetap berada di atas kendaraannya, lalu beliau shalat bersama mereka. Beliau shalat dengan berisyarat, menjadikan sujud lebih rendah daripada rukuk. Atau beliau menjadikan sujudnya lebih rendah daripada ruku’nya.” (H.R. Ahmad No.16915) Salah seorang perawi hadits ini yaitu Utsman bin Ya’la bin Murrah dikatakan Ibnu Hajar Asqolani dan Ibnu Qathan sebagai perawi majhul (tidak dikenal) dan Adz-Dzahabi tidak menyebutkan biografinya dalam Ats-Tsiqaat.

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa berkata; telah menceritakan kepada kami Syababah bin Sawwar berkata; telah menceritakan kepada kami Umar bin Ar Rammah Al bakhil dari Katsir bin Ziyad dari Amru bin Utsman bin Ya’la bin Murrah dari Ayahnya dari Kakeknya bahwasanya mereka bersama Nabi s.a.w. dalam sebuah perjalanan, hingga sampailah mereka pada jalan sempit, lalu waktu shalat tiba sedangkan langit dalam keadaan hujan dan kondisi tanah tergenang air. Rasulullah s.a.w. kemudian adzan di atas kendaraannya, lalu beliau iqamah dan maju ke depan. Setelah itu beliau shalat bersama para sahabat dengan merunduk, beliau menjadikan sujud lebih rendah dari rukuk.” (H.R. Tirmidzi No. 376) Nshiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini dla’if dalam Kitab Dla’if Sunan Tirmidzi No. 65 karena Utsman bin Ya’la bin Murrah adalah majhul (tidak dikenal)

Namun Abu Isa (Tirmdizi) berkata; “Hadits ini derajatnya hasan dan gharib. Umar bin Ar Ramman Al Bakhil meriwayatkan hadits ini secara sendirian atau satu jalur saja (gharib), tidak diketahui ada hadits lain kecuali dari haditsnya, dan tidak hanya satu orang ulama yang meriwayatkan darinya. Yaitu Tirmidzi menaikkan derajat hadits ini yang semula dla’if karena  terdapat riwayatkan oleh ulama lain dari berbagai jalur maka yang dla’if tadi bisa dinaikkan menjadi hasan.

Demikian juga telah diriwayatkan dari Anas bin Malik, Bahwasanya ia pernah shalat di atas kendaraannya di tanah yang becek. Hadits ini diamalkan oleh para ulama, dan pendapat ini diambil pula oleh Ahmad dan Ishaq.”

Shalat yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. di atas kendaraan (Yang dikisahkan pada hadits di atas) bersama-sama dengan para sahabat (berjamaah) dengan didahului oleh adzan dan iqomah jelas adalah shalat fardhu, karena tidak pernah shalat sunnah didahului adzan dan iqomah. Hal ini merupakan dalil bahwa dalam situasi memang tidak memungkinkan untuk turun dari kendaraan (yaitu karena hujan dan becek) maka shalat wajib di atas kendaraan adalah dibolehkan.

Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari Hisyam bin Urwah bahwa Bapaknya berkata kepadanya, “Jika kamu dalam sebuah perjalanan, sementara kamu ingin adzan dan iqamat, maka lakukanlah. Dan jika mau, kamu boleh iqamat saja tanpa adzan.” Yahya berkata, “Saya mendengar Malik berkata, “Tidak mengapa seorang laki-laki mengumandkan adzan, meskipun ia di atas kendaraannya.” (Atsar.R. Imam Malik dalam Al-Muwatha’ No. 145)

Dalam sebuah Atsar dari sahabat juga diceritakan bahwa mereka pernah melaksanakan shalat di atas kapal laut.

Jabir dan Abu Sa’id pernah shalat di atas kapal laut dengan berdiri. (Atsar Riwayat Bukhari  Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dari keduanya)

Sedangkan perjalanan dengan kapal jaman dulu bisa memakan waktu berbulan bulan. Maka sudah dipastikan shalat di atas kapal laut itu adalah shalat fardhu (shalat wajib) dan juga shalat sunnah.

Jadi kesimpulannya : Shalat di atas kendaraan pada dalam status muqim (berkendaraan namun masih dalam rentang wilayah tempat ia bermukim) hanya boleh untuk shalat sunnah. Sedangkan dalam status safar (tidak mukim) pada asalnya adalah hanya untuk shalat sunnah saja. Jika masih bisa turun berhenti untuk shalat di darat hal itu lebih utama karena arah kiblat lebih jelas. Karena shalat di atas kendaraan itu arah kiblatnya berubah ubah.

Namun shalat fardhu (wajib) boleh dilaksanakan di atas kendaraan dibolehkan jika memang tidak memungkinkan untuk turun atau melaksanakan shalat di darat. Hal ini sebagaimana dikisahkan Rasulullah s.a.w. shalat berjamaah di atas kendaraan karena turun hujan dan tanah becek berlumpur. Demikian pula sebagaimana dikisahkan sahabat shalat di atas kapal laut.

Konteks Masa Kini Shalat Di Atas Pesawat dan Kapal Laut

Dalam konteks masa kini, nyaris jarang sekali orang naik unta atau kuda untuk berkendaraan, kecuali tersisa di daerah gurun atau pedalaman saja. Pada jaman sekarang ini kendaraan itu adalah sepeda, motor, mobil, kereta api, kapal laut dan pesawat terbang. Maka dibolehkan untuk shalat di atas semua jenis kendaraan tersebut.

Dalam sebuah Atsar dari sahabat diceritakan bahwa mereka pernah melaksanakan shalat di atas kapal laut.

Jabir dan Abu Sa’id pernah shalat di atas kapal laut dengan berdiri. (Atsar Riwayat Bukhari  Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dari keduanya)

Sedangkan perjalanan dengan kapal jaman dulu bisa memakan waktu berbulan bulan. Maka sudah dipastikan shalat di atas kapal laut itu adalah shalat fardhu (shalat wajib) dan juga shalat sunnah. Arah kiblat shalat di atas kapal laut atau kapal udara boleh menghadap ke mana saja kendaraan tersebut berjalan

Al-Hassan berkata, “Kalau tidak mengganggu sahabat-sahabat yang lain, Anda boleh shalat dengan berdiri dan berputar-putar dengan berputarnya (perahu). Kalau tidak bisa, bolehlah Anda shalat dengan duduk (Atsar Riwayat Bukhari di-maushul-kan oleh Ibnu Qutaibah di dalam naskah tangannya dengan riwayat Nasa’i dan Ibnu Abi Syaibah)

Arah Kiblat Ketika Shalat Di Atas Kendaraan

Anas r.a. berkata bahwa : Apabila beliau s.a.w. bepergian kemudian ingin sholat sunat, maka beliau menghadapkan unta kendaraannya ke arah kiblat. Beliau takbir kemudian sholat menghadap ke arah mana saja kendaraannya menghadap. (H.R. Abu Daud) Sanadnya hasan.

Amir Ibnu Rabi’ah r.a.berkata: Aku melihat Rasulullah s.a.w. sholat di atas kendaraannya ke arah mana saja kendaraan itu menghadap. (H.R. Muttafaq Alaihi)

Telah menceritakan kepada kami Al Qa’nabi dari Malik dari ‘Amru bin Yahya Al Mazini dari Abu Al Habbab Sa’id bin Yasar dari Abdullah bin Umar bahwa dia berkata; aku pernah melihat Rasulullah s.a.w. shalat di atas keledai, sedangkan beliau menghadap ke arah Khaibar.” (H.R. Abu Daud No. 1037) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih.

Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi’b telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Abdullah bin Suraqah dari Jabir bin Abdullah Al Anshari ia berkata; “Pada saat perang Anmar, aku melihat Nabi s.a.w. shalat sunnah di atas tunggangannya menghadap ke arah timur.” (H.R. Bukhari No. 3825)

Cara Shalat Di Atas Kendaraan ?

Jika kendaraan yang dinaiki itu bersifat tunggangan seperti kuda, unta dan keledai, cara menaikinya tidak ada cara lain kecuali menugganginya dan tempat duduknya sempit maka cara shalat di atas kendaraan adalah dengan cara duduk di atas tunggangan / pelana dan cukup memberi isyarat mengangguk-angguk saja.

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad An Nufaili telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Abu Az Zubair dari Jabir dia berkata : “Nabi Allah s.a.w.  pernah mengutusku menuju (perkampungan) Bani Mushthaliq, lalu aku menemui beliau, sedangkan beliau tengah mengerjakan shalat di atas kendaraannya, aku pun berbicara kepadanya, maka beliau memberi isyarat dengan tangannya seperti ini, aku berbicara lagi, namun beliau hanya memberi isyarat dengan tangannya seperti ini, sedangkan aku mendengar bacaan shalat beliau, dan beliau menganggukkan kepalanya. Seusai shalat, beliau bersabda: “Bagaimana dengan tugas yang telah aku tugaskan kepadamu? Sebenarnya tidak ada halangan buatku untuk membalas perkataanmu itu, hanya saja waktu itu aku sedang mengerjakan shalat.” (H.R. Abu Daud No. 791)

Adapun posisi sujud adalah dengan membungkuk lebih rendah daripada membungkuk ketika ruku.

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Abu Az Zubair dari Jabir dia berkata : “Rasulullah s.a.w. pernah mengutusku untuk suatu keperluan, katanya; “lalu aku datang menemui beliau, sementara beliau sedang shalat di atas kendaraannya menghadap ke timur, dan sujud beliau lebih rendah daripada ruku’ beliau.” (H.R. Abu Daud No. 1038)

Telah bercerita kepada kami Abdurrazaq telah menghabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah menghabarkan kepadaku Abu Az Zubair telah mendengar Jabir bin Abdullah berkata; saya melihat Rasulullah s.a.w. Shalat nawafil di atas kendaraan di setiap arah, tapi beliau merunduk lebih rendah ketika sujud dari pada rukuk, dan beliau hanya memberi isyarat. (H.R. Ahmad No. 13640)

Adapun sujudnya adalah membungkuk sekadarnya dan tidak sampai menempel pada sesuatu

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Yahya bin Sa’id berkata; “Saya melihat Anas bin Malik ketika dalam perjalanan, mengerjakan shalat di atas keledai, padahal keledai tersebut menghadap ke selain kiblat. Dia rukuk dan sujud dengan berisyarat tanpa meletakkan wajahnya di atas sesuatu.” (Atsar .R. Imam Malik Dalam Al-Muwatha’ No. 321)

Berdiri Atau Duduk Ketika Shalat Di Atas Kendaraan ?

Jika kendaraannya adalah kendaraan yang lapang seperti kapal laut, kereta api, pesawat terbang atau kendaraan lain yang memungkinkan untuk shalat sambil berdiri dan melakukan gerakan shalat secara normal, maka dianjurkan shalat sambil berdiri dan melakukan gerakan shalat secara normal.

Jabir dan Abu Sa’id pernah shalat di atas kapal dengan berdiri. (Atsar Riwayat Bukhari  Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dari keduanya)

Al-Hassan berkata, “Kalau tidak mengganggu sahabat-sahabat yang lain, Anda boleh shalat dengan berdiri dan berputar-putar dengan berputarnya (perahu). Kalau tidak bisa, bolehlah Anda shalat dengan duduk (Atsar Riwayat Bukhari di-maushul-kan oleh Ibnu Qutaibah di dalam naskah tangannya dengan riwayat Nasa’i dan Ibnu Abi Syaibah)

Silakan Baca Juga : Apa dan Bagaimana Shalat Jamak Dan Qoshor

https://seteteshidayah.wordpress.com/2012/10/20/jama-dan-qoshor/

https://seteteshidayah.wordpress.com/2012/10/20/jama-dan-qoshor-jilid-2/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s