PEMBAHASAN MASALAH BID’AH (JILID 7)

Belajar Qur'an 14

PEMBAHASAN MASALAH BID’AH (JILID 7)

 Oleh : Abu Akmal Mubarok

PEMBAGIAN BID’AH BERDASARKAN LIMA HUKUM FIQIH

Belajar Qur'an 14

Pembagian Ulama menjadi bid’ah dua jenis saja sebagaimana diuraikan di atas yaitu :

Imam Syafi’i  membagi: bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madmumah (tercela)

Ibnu Hajar Asqolani membagi :  bid’ah hasanah dan bidh’ah mustaqbahah

Ibnu Atsir Aj-Jaziri membagi :  bid’ah huda (sesui petunjuk) dan bidh’ah dlolal (sesat)

ternyata masih dianggap belum cukup memadai karena kenyataannya bid’ah yang mahmudah (terpuji) pun ada yang merupakan keharusan (wajib) diadakan dan ada juga yang tidak harus melainkan lebih baik jika diadakan. Demikian pula bid’ah yang bid’ah madmumah (tercela) kadarnya berbeda beda ada yang haram namun ada juga yang sekadar makruh.

Untuk itulah ulama lainnya membagi bid’ah dengan pembagian yang berbeda yaitu sesuai kedudukan hukum fiqihnya sesuai kadar kebolehannya dan kadar terlarangnya.

Contohnya adalah Imam Nawawi yang mengatakan : “Para ulama berkata, bid’ah itu ada lima macam : wajib, mandub, haram, makruh dan mubah. Termasuk bid’ah yang wajib adalah menyusun dalil-dalil ulama mutakallimin untuk menolak mereka yang melakukan penyimpangan akidah dan para pelaku bid’ah serta yang seumpamanya. Termasuk bid’ah yang mandub adalah menyusun kitab-kitab ilmu, membangun madrasah, dan tempat-tempat pengajian serta yang lainnya. Termasuk ia bid’ah yang mubah adalah memperbanyak warna-warna, makanan dan lainnya. Sedangkan bid’ah yang haram dan makruh sudah jelas”. (Lihat Dalam Kitab Tahziibul Asma’ wa-Lughat)

Imam Shan’ani juga mengatakan : Ulama membagi bid’ah ke dalam lima bagian : a) bid’ah wajib, seperti memelihara ilmu-ilmu agama dengan cara membukukannya dan menolak terhadap kelompok-kelompok dengan menegakkan dalil-dalil b) bid’ah mandubah  seperti membangun berbagai madrasah, c) bid’ah mubahah seperti memakan berbagai makanan dan baju yang indah d) bid’ah muharamah (yang haram) dan e) bid’ah makruhah  sedangkan keduanya ini (muharamah dan makruhah) telah jelas contohnya. Dengan demikian bunyi hdits “sema bid’ah adalah sesat adalah kata-kata umum yang dibatasi jangkauannya (‘aam makhshush) ” (Subulus Salam Juz 2 Hal 48)

Imam Izzuddin bin Abdussalam seorang ulama mazhab Syafi’i mengatakan : “Bid’ah terbagi lima : bid’ah wajibah, bid’ah muharamah, bid’ah mandubah (bid’ah sunnat), bid’ah makruhah, dan bid’ah mubahah (bid’ah yang mubah). Jalan untuk mengetahui hal itu ialah dengan cara membandingkan bid’ah (hal baru tsb) dengan kaidah-kaidah syari’at. Apabila bid’ah (hal baru) itu masuk ke dalam kaidah wajib maka disebut bid’ah wajibah. Jika masuk kedalam kaidah haram, maka menjadi bid’ah muharamah. Apabila masuk ke dalam kaidah sunnat maka menjadi bid’ah mandubah Dan apabila masuk dalam kaidah mubah menjadi  bid’ah mubahah” (Qawa’id Al-Ahkam fii Mashalih Al-Anam juz 2 hal 172)

Lebih lanjut Imam Izzuddin bin Abdussalam memberikan contoh sebagai berikut : “Bid’ah wajibah memiliki banyak contoh. Salah satunya adalah menekuni ilmu nahwu (jaman Nabi takada ilmu nahwu) sebagai sarana memahami Al-Qur’an dan Sunnah Rasul s.a.w. Hal ini hukumnya wajib karena menjaga syari’at itu wajib dan tidak mungkin dapat menjaganya tanpa mengetahui ilmu nahwu. Sedangkan sesuatu yang menjadi sebab terlaksananya hal yang wajib, maka hukumnya juga wajib. Contoh kedua, adalah ilmu jarh dan ta’dil (dulu tak ada ilmu jarh wa ta’dil) untuk membedakan hadits yang shahih yang shahih dan lemah. Bid’ah muharamah memiliki banyak contoh, diantaranya bid’ah ajaran qadariyah, jahmiyah, murji’ah dan mujassimah. Sedangkan menolak terhadap bid’ah jenis ini adalah hal yang wajib.

Bid’ah mandubah memiliki banyak contoh, diantaranya mendirikan madrasah-madrasah, jembatan-jembatan, dan setiap perbuatan yang belum pernah dikenal pada masa generasi awal, diantaranya termasuk shalat tarawih (berjamaah). Bid’ah makruhah memiliki banyak contoh, diantaranya memperindah bangunan masjid dan menghiasi mushaf Al-Qur’an. Bid’ah mubahah memiliki banyak contoh, diantaranya memakan makanan dan minuman yang lezat-lezat, pakaian yang indah, tempat tinggal yang mewah, memakai baju kebesaran, dll.” (Qawa’id Al-Ahkam fii Mashalih Al-Anam juz 2 hal 133)

Maka perlu dipahami di sini bahwa pembagian bid’ah menjadi lima katagori sesuai dengan status hukum fiqihnya yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah adalah pada posisi pen-takhshish-an yang ketiga. Dan mereka para ulama sampai pada pen-takhshish-an yang keempat dengan menimbangnya dengan Al-Qur’an dan Sunnah sehingga akhirnya bisa menetapkannya termasuk pada bid’ah yang wajib, haram, sunnah, makruh atau mubah.

Pembagian ini menjadi lain perkaranya jika disalahpahami bahwa pembagian ini terjadi setelah menetapkan istilah bid’ah itu sebagai bid’ah yang dlolalah (sesat) tentu saja tak ada pembagian bid’ah yang wajib, haram, sunnah, makruh atau mubah setelah bid’ah yang dlolalah. Maka jika disalahpahami bahwa pembagian ini terjadi setelah takhshish yang ke-4 akan menimbulkan tuduhan bahwa para ulama itu telah menyimpang dan sesat dalam agama.

Pemilahan Bid’ah Oleh Para Ulama Berada Pada Takhshish Yang Mana?

Kita kembali pada pembahasan makna bid’ah secara istilah syari’ah dimana makna bid’ah yang semula umum, telah mengalami 4 tahap pengkhususan atau 4 tahap pembatasan makna yaitu :

Tahap 1 : Yang dimaksud bid’ah (secara istilah) adalah bid’ah dalam perkara agama

Tahap 2 : Yang dimaksud bid’ah (secara istilah) adalah yang menyerupai syari’at

Tahap 3 : Yang dimaksud bid’ah (secara istilah) adalah yang terjadi pada syari’at Muhammad s.a.w.

Tahap 3 : Yang dimaksud bid’ah (secara istilah) adalah yang belum ada di masa Muhammad s.a.w.

Tahap 4 : Yang dimaksud bid’ah (secara istilah) adalah yang tidak memiliki landasan dari nash ayat Al-Qur’an maupun hadits Rasulullah s.a.w.

Maka perhatikanlah bahwa pembagian ulama tentang adanya 5 jenis bid’ah itu adalah pada posisi takhsish tahap ke-3.

Oleh karena ahdats (membuat perkara baru) atau muhdats juga merupakan persamaan dari bid’ah maka ia mengalami 4 tahap pengkhususan atau 4 tahap pembatasan makna yang sama yaitu :

Tahap 1 : Yang dimaksud muhdats adalah perkara baru yang dibuat atau di-ada-ada-kan dalam perkara agama

Tahap 2 : Yang dimaksud muhdats adalah perkara baru yang dibuat atau di-ada-ada-kan dengan tujuan menyerupai syari’at

Tahap 3 : Yang dimaksud adalah perkara baru yang dibuat atau di-ada-ada-kan pada syari’at Muhammad s.a.w.

Tahap 3 : Yang dimaksud adalah perkara baru yang dibuat atau di-ada-ada-kan yang belum ada di masa Muhammad s.a.w.

Tahap 4 : Yang dimaksud adalah perkara baru yang dibuat atau di-ada-ada-kan yang tidak memiliki landasan dari nash ayat Al-Qur’an maupun hadits Rasulullah s.a.w.

Maka perlu dipahami bahwa pembagian bid’ah oleh para ulama terjadi pada tahapan takhshish yang ke-3 yaitu ketika menetapkan sesuatu yang baru dan belum menetapkan nya bahwa sesuatu yang baru itu adalah dlolalah (sesat) .

Sebagai contoh Imam Asy-Syafi’i berkata:

Bid’ah ada dua macam: Bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madmumah (yang tercela ). Bid’ah yang sesuai dengan sunnah adalah bid’ah terpuji, dan bid’ah yang menyalahi sunnah adalah bid’ah tercela”. (Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, Juz 9 hal  113)

Imam Syai’i juga membagi muhdats dengan perkataan yang sama : “Perkara yang muhdats (yang baru) itu ada dua macam, yaitu pertaka yang dibuat-buat dan menyelisihi Al Qur’an, As Sunnah, atsar (sahabat) dan ijma’, maka ini termasuk bid’ah dholalah (yang sesat). Sedangkan perkara yang masih dalam kebaikan yang tidak menyelisihi dalil-dalil tadi, maka itu bukanlah perkara baru (bid’ah) yang tercela (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Manaqib Asy Syafi’I (1: 468-469). Riwayat ini shahih sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiq beliau terhadap Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 131)

Imam Syafi’i membagi bidah menjadi bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madmumah (tercela) adalah dalam tingkatan bid’ah yang telah ditakhsish tiga kali yaitu perkara baru dalam agama, yaitu yang menyerupai syariat dan terjadi pada agamanya syari’at Muhammad s.a.w, dan yang belum ada contohnya pada masa Muhammad s.a.w , namun dalam tahap ini Imam Syafi’i masih perlu membagi bid’ah menjadi bid’ah yang mahmudah (terpuji) dan bid’ah yang madmumah (tercela) Hal ini dillakukan agar tidak salah kaprah bahwa semua perkara baru dalam agama (yaitu sampai takhsish yang ketiga) adalah pasti bid’ah yang tercela.

Lalu apa kriterianya untuk mengetahui mana bid’ah yang mahmudah (terpuji) dan mana bid’ah yang madmumah (tercela) ? Maka lebih lanjut Imam asy-Syafi’i menjelaskan kriterianya sb :
“Perkara-perkara baru itu terbagi menjadi dua bagian. Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi Atsar (sesuatu yang dilakukan atau dikatakan sahabat tanpa ada di antara mereka yang mengingkarinya), perkara baru semacam ini adalah bid’ah yang sesat. Sedangkan perkara baru yang baru yang baik (hasanah) dan tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka hal yang baru seperti ini tidak tercela”. (Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi’i, Juz 1, Hal 469).

Maka sebagaimana dijelaskan sebelumnya, ini adalah tahapan takhshsish yang keempat dimana landasan syariat adalah kriteria untuk memilah lagi bid’ah menjadi bid’ah yang mahmudah (terpuji) dan mana bid’ah yang madmumah (tercela).

Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata :

Yang dimaksud dengan bid’ah adalah sesuatu yang baru yang tidak memiliki landasan (dalil) dalam syari’at sebagai pendukung. Adapun jika didukung oleh dalil syar’i, maka itu bukanlah bid’ah menurut istilah syar’i, namun bid’ah secara bahasa.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 127)

Setiap yang dibuat-buat lalu disandarkan pada agama dan tidak memiliki dasar dalam Islam, itu termasuk kesesatan. Islam berlepas diri dari ajaran seperti itu termasuk dalam hal i’tiqod (keyakinan), amalan, perkataan yang lahir dan batin.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 128)

Apa yang dimaksud tidak memiliki dalil? Apa definisi tidak memiliki landasan dalam syariat? Apa batasan yang disebut tidak memiliki dasar dalam Islam? Persoalan ini tidak semudah mengatakannya sehingga dapat membahwa pada sikap terlalu berlebih-lebihan dalam menyalahkan dan menuduh bid’ah .

 Bisa jadi suatu praktek ibadah dikatakan orang tidak memiliki landasan dalil  padahal ia melakukan itu mengikuti pendapat salah satu sahabat Rasulullah s.a.w. (yang mana terkadang sahabat yang satu  berbeda dengan sahabat yang lain). Bisa jadi ia mengikuti salah satu pendapat  tabi’in atau tabiut tabi’in. Atau dapat saja ia menyandarkan diri pada qiyas, atau metoda istishan dengan mempertahankan maqoshid syar’i. Maka kita tidak boleh gegabah menuduh sesuatu perbuatan itu bid’ah karena sepintas lalu tidak ada landasannya dalam syari’at.

Demikianlah Ibnu Taimiyyah ketika mengomentari pernyataan Imam Syafi’i : “Maksud perkataan Imam Asy Syafi’i di atas ialah apa saja yang menyelisihi dalil, maka itu adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin. Dan apa yang tidak diketahui menyelisihi dalil, maka tidak disebut bid’ah (Majmu’ Al Fatawa, 20: 163)

Senada dengan Imam Syafi’i, Ibnu Hajar Asqolani (penulis kitab Fathul Bari) berkata :

Siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama lalu tidak didukung oleh dalil, maka ia tidak perlu dilihat.”  (Fathul Bari, Juz 13 hal. 253)

Ibnu Hajar  Asqolani berkata :

“Yang dimaksud perkataan kullu bid’ah dlaolalh, yaitu setiap amalan yang dibuat-buat dan tidak ada dalil pendukung baik dalil khusus atau umum.” (Fathul Bari Juz 13 hal. 254)

Ibnu Hajar Asqolani menjelaskan lebih lanjut :

“Jika bid’ah itu masuk dalam naungan sesuatu yang dianggap baik oleh syara’ maka disebut bid’ah hasanah. Bila berada dalam naungan sesuatu yang dianggap buruk oleh syara’ maka disebut bid’ah mustaqbahah (tercela). Bila tidak termasuk dalam naungan keduanya (baik atau buruk) maka menjadi bagian yang bersifat mubah (boleh-boleh saja). Dan bid’ah itu dapat dibagi menjadi lima hukum” (Fathul Bari’ Juz 4 Hal 253)

Ibnu Hajar Asqolani membagi bidah menjadi bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) dan bid’ah mustaqbahah (tercela) adalah dalam tingkatan bid’ah yang telah ditakhsish tiga kali. Sudah jelas bagi beliay bahwa yang dimaksud bid’ah atau muhdats adalah perkara baru dalam agama, yaitu yang menyerupai syariat dan terjadi pada agamanya syari’at Muhammad s.a.w, dan yang belum ada contohnya pada masa Muhammad s.a.w , namun masih dibagi menjadi bid’ah yang hasanah (baik) dan bid’ah yang mustaqbahah (tercela).

Demikian pula dengan Imam Ibnu Atsir Al-Jaziri berkata : “Bid’ah itu terbagi dua yaitu bid’ah huda (bid’ah yang sesuai dengan petunjuk) dan bid’ah dholal (bid’ah yang sesat). (An Nihayah Al-Gharib fii Hadits wa Al-Atsar juz 1 Hal 267)

 

Imam Ibnu Atsir Al-Jaziri membagi bidah menjadi bid’ah huda (mendapat petunjuk) dan bid’ah dlolal (sesat) adalah dalam tingkatan bid’ah yang telah ditakhsish tiga kali, yaitu perkara baru dalam agama, yaitu yang menyerupai syariat dan terjadi pada agamanya syari’at Muhammad s.a.w, dan yang belum ada contohnya pada masa Muhammad s.a.w , namun masih dibagi menjadi bid’ah yang huda (sesuai petunjuk) dan bid’ah yang dlolal (sesat).

Lalu apa kriterianya untuk mengetahui mana bid’ah yang huda (sesuai petunjuk) dan mana bid’ah yang dlolal (sesat ) ? Maka lebih lanjut Imam Ibnu Atsir Al-Jaziri menjelaskan kriterianya sb :

Maka bid’ah yang menyalahi perintah Allah dan Rasulullah s.a.w. tergolong bid’ah tercela dan tertolak (dzammi wal inkar). Bid’ah yang masih termasuk di bawah naungan keumuman perintah Allah dan dorongan Allah dan RasulNya maka termasuk hal yang terpuji sedangkan bid’ah yang belum ada semisalnya seperti cara kedermawanan dan cara berbuat kebajikan, maka tergolong yang terpuji (mahmudah) dan tidak mungkin hal tersebut menyelisihi syara’ “ (An Nihayah Al-Gharib fii Hadits wa Al-Atsar juz 1 Hal 267)

Imam Ibnu Abdul Barr ulama fiqih dari madzhab Maliki mengatakan : “Bid’ah dalam bahasa arab adalah menciptakan dan memulai sesuatu yang belum pernah ada (umum). Maka apabila bid’ah tersebut dalam agama menyalahi sunnah (fii diini khilafan lil sunnah)  maka ia adalah bid’ah yang tidak baik (bid’atun laa khoir) wajib mencela dan melarangnya, menyuruh menjauhinya dan meninggalkan pelakunya apabila telah jelas keburukannya. Sedangkan bid’ah yang tidak menyelisihi syari’at dan sunnah, maka itu adalah sebaik-baik bid’ah (ni’matil bid’ah)” (Al-Istidzkar Juz 5 Hal 152)

Di sini Imam Abni Abdul Barr membagi bid’ah menjadi bid’ah laa khoir (bid’ah yang tidak baik) dan ni’matil bid’ah (diambil dari perkataan Umar bin Khattab yang artinya bid’ah yang nikmat). Untuk membedakan mana bid’ah laa khoir  dan mana yang ni’matil bid’ah, maka sebagaimana penjelasan beliau di atas apabila bid’ah tersebut dalam agama menyalahi sunnah (fii diini khilafan lil sunnah)  maka ia adalah bid’ah yang tidak baik (bid’atun laa khoir). Sedangkan bid’ah yang tidak menyelisihi syari’at dan sunnah, maka itu adalah sebaik-baik bid’ah (ni’matil bid’ah)”

Said Hawwa berkata : “Bid’ah itu ada bermacam-macam diantaranya ada bid’ah sayyi’at (buruk) dan bid’ah hasanah (baik) Apa-apa yang sesuai dengan pokok-pokok syari’at yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah, qiyas, ijma, maslahah mursalah, ‘istishab, istishan, menolak mafsadah dan mengambil masalahat, maka hal itu tak ada salahnya. Akan tetapi ada orang-orang yang bersikap kaku dan keras mengenai masalah ini sehingga mereka menuduh umat dan para imam melakukan dosa padahal tidak ada dosa yang telah mereka perbuat” (Mudzakarat fii Manazil Shiddiqiin wa Rabbaniyiin, hal 63)

Memang Semua Bid’ah Adalah Sesat, Yaitu Bid’ah Yang Telah Ditakhshish

Makna bid’ah yang benar-benar lengkap secara istilah atau secara syari’at menurut cara penjelasan kami adalah makna bid’ah yang telah mengalami pentakhshishan 4 (empat) tahap yaitu :

–          Takhshih pertama : Maksudnya perkara baru adalah di bidang agama

–          Takhshih kedua  : Maksudnya agama adalah yang menyerupai thariqah, syari’at baru atau ghuluw

–          Takhshih ketiga : Maksudnya agama adalah agamanya syari’at Muhammad s.a.w. dan tidak ada pada masa Muhammad s.a.w.

–          Takhshih keempat : Yang tidak memiliki dalil / landasan dari Al-Qur’an dan Sunnah,

Tentu saja kita setuju jika makna bid’ah yang dipakai pada hadits kullu bid’atin dlolalah dan kullu dlolalah fii naar adalah makna secara istilah atau makna syariat yang lengkap yang telah ditakhshish dalam 4 tahapan di atas. Jika pengertian bid’ah ini yang diambil, maka semua sepakat bahwa semua bid’ah adalah sesat. Kalimat lengkapnya agar tidak salah paham : “semua bid’ah yang tidak sesuai dengan sunnah adalah sesat” atau ““semua bid’ah yang tidak ada dalil syar’inya adalah sesat”. Maka bid’ah dlolalah lah yang sesat.

Imam Ibnu Abdul Barr ulama fiqih dari madzhab Maliki mengatakan : “Bid’ah dalam bahasa arab adalah menciptakan dan memulai sesuatu yang belum pernah ada (umum). Maka apabila bid’ah tersebut dalam agama menyalahi sunnah (fii diini khilafan lil sunnah)  maka ia adalah bid’ah yang tidak baik (bid’atun laa khoir) wajib mencela dan melarangnya, menyuruh menjauhinya dan meninggalkan pelakunya apabila telah jelas keburukannya. Sedangkan bid’ah yang tidak menyelisihi syari’at dan sunnah, maka itu adalah sebaik-baik bid’ah (ni’matil bid’ah)” (Al-Istidzkar Juz 5 Hal 152)

Lihatlah perkataan Ibnu Abdul Baar bahwa yang dimaksud harus kita jauhi harus kita tinggalkan sebagaimana hadits : adalah bid’ah yang tercela yaitu yang telah didetilkan, dirinci melalui pentakhshishan 4 tahap di atas.

Demikian pula Imam Jurjani mengatakan :

Bid’ah ialah perbuatan yang menyelisihi sunnah. Dinamakan bid’ah karena pelakunya mengada-adakannya tanpa berlandaskan pendapat seorang Imam. Bid’ah juga berarti perkara baru yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in, dan tidak merupakan sesuatu yang selaras dengan dalil syar’i (Al-Jurjani dalam At-Ta’rifaat Juz 1 hal 13)

Jika Yang Dimaksud Makna Bid’ah Secara Istilah, Tentu Tak Ada Bid’ah Hasanah

Dari uraian makna “bid’ah” secara istilah yang telah spesifik dan khusus sebagaimana telah ditakhshish dalam 4 tahap jelas tidak pada tempatnya dibagi lagi menjadi bid’ah terpuji atau bid’ah tercela. Dan pada makna khusus ini juga tidak bisa dibagi lagi ada bid’ah hasanah dan bid’ah dlolalah. Karena : “tak ada bid’ah dlolalah yang hasanah” (tak ada bid’ah sesat yang baik). Maka klaim dari pihak yang bersemangat bahwa tak ada itu yang namanya bid’ah hasanah. Ya, tentu saja, jika yang Anda maksud bid’ah di sini adalah bid’ah yang itu tuh, bid’ah yang tak ada landasannya dalam syariat dan bid’ah yang jelas kesesatannya, maka kita sepakat bahwa tak ada yang namanya bid’ah hasanah.

Maka wajar jika ada ulama dan sebagian umat muslim yang ngotot mengatakan tak ada bid’ah hasanah. Perkataan ini tidak harus menjadi perdebatan melainkan ditempatkan dan diartikan bahwa di sini yang dipakai adalah makna secara istilah atau makna bid’ah secara syariat yang telah ditakhshish secara lengkap dan detil, sehingga maksudnya kalimat “tak ada bid’ah hasanah” adalah “bid’ah yang itu tuh” bukan bid’ah secara umum, yaitu perkara baru dalam agama, yaitu yang menyerupai syari’at, yaitu syari’atnya Muhammad s.a.w., yaitu yang tak ada pada masa Muhammad s.a.w. dan yaitu yang tak ada landasan dalil syar’iny baik Al-Qur’an, hadits, atsar sahabat, tabi’in atau ijma ulama.

Hal ini sesuai dengan penjelasan Ibnu Taimiyyah sebagai berikut : Siapa yang menyatakan bahwa sebagian bid’ah dengan bid’ah hasanah, maka itu jika memang telah ada dalil syar’i yang mendukungnya yang menyatakan bahwa amalan tersebut termasuk sunnah. Namun jika bukan wajib dan bukan pula sunnah, maka tidak ada seorang ulama pun boleh mengatakan amalan tersebut sebagai hasanah (kebaikan) yang mendekatkan diri kepada Allah (Majmu’ Al Fatawa, 1: 162)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s