PEMBAHASAN MASALAH BID’AH (JILID 9)

manuscript_large

PEMBAHASAN MASALAH BID’AH (JILID 9)

Oleh : Abu Akmal Mubarok

 Image

 

PENETAPAN TARAWIH BERJAMAAH OLEH UMAR BIN KHATTAB R.A.

Ada yang mengatakan bahwa perkataan Umar r.a. “hadza ni’matil bid’ah” disalah pahami  dan sesungguhnya yang dimaksud Umar r.a. adalah bid’ah secara bahasa, sedangkan secara makna istilah bukan bid’ah. Lebih lanjut mereka menjelaskan bahwa shalat taraweh berjamaah masih memiliki landasan syar’i karena Rasulullah s.a.w.  bukannya tidak pernah shalat berjamaah, melainkan beliau hanya tiga kali saja shalat berjamaah selebihnya sengaja shalat di rumah karena khawatir dianggap wajib oleh umatnya.

tatkala malam kelima (yaitu malam ke dua puluh lima dari awal Ramadhan) beliau melakukan shalat malam bersama kami (berjamaah) hingga berlalu setengah malam terakhir (H.R. Ad-Darimi No. 1712)

Bahkan Abu Hurairah r.a. mengatakan ia tidak pernah melihat Rasulullah s.a.w. shalat berjamaah :

Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Umar telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah s.a.w. tidak pernah shalat tarawih bersama orang-orang (berjama’ah).” (H.R. Ahmad No. 7542)

Lalu bukankah orang orang yang bersemangat itu mengatakan bahwa “merutinkan sesuatu yang tak ada petunjuknya dari  Rasulullah s.a.w. adalah bid’ah?” Mengapa mereka tidak konsisten dengan rumusan mereka sendiri?

Ada sebagian orang yang dalam rangka bersikukuh menolak adanya bid’ah hasanah dengan mengatakan bahwa perkataan umar “hadza ni’matil bid’ah” (ini sebaik-baik bid’ah) adalah bid’ah secara bahasa karena hal ini bersifat baru (muhdats) karena belum pernah dilakukan sebelumnya pada masa Rasulullah s.a.w.namun apa yang dilakukan Umar r.a. masih ada landasannya dalam syari’at.

Memang benar Rasulullah s.a.w. bukannya sama sekali tidak pernah melakukan taraweh berjamah bahkan Rasulullah s.a.w. mengatakan bahwa hal itu lebih utama

Beliau bersabda : ‘Jika seseorang shalat bersama imam (berarti berjamaah) hingga usai, maka Allah menuliskan baginya pahala menegakkan shalat malam’. Kemudian beliau tidak bangun (guna shalat malam) bersama kami. (H.R. Nasa’i No. 1242)

Namun kenyataannya setelah mengatakan hal itu, Rasulullah s.a.w. hanya melakukan sekitar 3 malam dan selebihnya beliau melakukan sendiri di dalam rumah agar orang tidak mengira bahwa hal ini diwajibkan. Tapi tetap saja mengapa Umar bin Khattab r.a. berani merutinkan sebulan penuh, yang justru Rasulullah s.a.w. sengaja tidak merutinkannya?

Mereka menjawab lagi bahwa karena setelah orang-orang semua paham bahwa hal ini tidak wajib dan tak timbul lagi kekhawatiran akan dianggap wajib oleh orang-orang, maka hal ini tidak mengapa dirutinkan.

Dan dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az Zubair dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Qariy bahwa dia berkata; “Aku keluar bersama ‘Umar bin Al Khaththob r.a. pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh ma’mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka ‘Umar berkata: “Aku pikir seandainya mereka semuanya shalat berjama’ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik”. Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama’ah dengan dipimpin seorang imam, lalu ‘Umar berkata: “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini ”. (Atsar .R. Bukhari 1871)

Maka kalau pun benar bahwa Umar r.a. merutinkan hal ini karena ‘tidak ada kekhwatiran orang menganggap wajib” maka ini menunjukkan dibolehkannya kaidah taghayyur al-ahkam bi taghayyur al-azminati wa al-amkan (perubahan hukum dimungkinkan seiring dengan perubahan tempat dan waktu), artinya berbeda situasi dan kondisi membolehkan kita melakukan sesuatu yang berbeda dengan dalil (atau istilahnya menyelisihi dalil).

Namun sebenarnya jika kita merujuk pada apa yang dikatakan Umar r.a. sendiri, ia tidak mengatakan bahwa sebab diberlakukannya berjamaah dalam taraweh itu karena tidak khawatir lagi dianggap wajib. Tidak. Umar r.a. tidak pernah mengatakan begitu. Yang ada adalah umar mengatakan :

Maka ‘Umar berkata: “Aku pikir seandainya mereka semuanya shalat berjama’ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik”. (H.R. Bukhari 1871)

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Ibnu Syihab dari Urwah bin Az Zubair dari Abdurrahman bin Abdul Al-Qari dia berkata : “Umar berkata, “Demi Allah, sesungguhnya saya berpendapat, jika saya kumpulkan mereka dengan satu Qari’, niscaya akan lebih baik.” Muwatha’ Malik No. 231)

Perhatikanlah Umar mengatakan ‘illat atau sebab diberlakukannya sebuah fatwa untuk membuat taraweh berjamaah adalah karena dipandang “hal itu lebih baik”. Maka wajar dari sinilah Imam Syafi’i, Ibnu Hajar Asqolani dan ulama lainnya mengatakan adanya bid’ah mahmudah (terpuji).  Dan mereka bukanlah orang yang tidak paham agama. Nashiruddin Al-Albani pun mengatakan : siapapun yang ingin meminum samudera Hadits Bukhari tak bisa lepas dari kitab “Fathul Bari” syarah (penjelas) Hadits Bukhari yang terbaik  sepanjang sejarah, yang disusun oleh Ibnu Hajar Asqolani.

Perbincangan Taraweh 23 Rakaat Oleh Umar bin Khattab r.a.

Baiklah jika masalah berjamaah atau tidak berjamaah itu bukanlah sesuatu yang prinsipil karena Rasulullah s.a.w pun pernah melakukannya, namun tidak hanya itu, Umar bin Khattab r.a.menambahkan rakaatnya menjadi 23 rakaat.

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Yazid bin Ruman dia berkata; “Para sahabat pada masa Umar bin Khatthab mengerjakan shalat malam dua puluh tiga rakaat.” (Atsar .R. Imam Malik dalam Muwatha’ Hadits No. 233)

Padahal Aisyah jelas-jelas bersaksi bahwa tidak pernah sekalipun Rasulullah s.a.w. melakukan shalat malam lebih dari 11 rakaat baik pada ramadhan maupun pada bulan-bulan lainnya.

Maka ‘Aisyah r.ah  menjawab: “Tidaklah Rasulullah s.a.w. (melaksanakan shalat malam) di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka’at ( H.R. Bukhari No. 1874, No. 1079 dan Muslim No. 1219, Nasa’i No. 1679, Abu Daud No. 1143)

Ada yang mengatakan bahwa selalu 11 rakaat yang Rasulullah s.a.w lakukan itu adalah di luar bulan Ramadhan sedangkan pada bulan Ramadhan boleh dilebihkan karena keutamaan bulan Ramadhan. Apa dasarnya pendapat ini?

Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah, dari Malik bin Anas, dari Sa’id Al-Maqbury, dari Abu Salamah bin Abdurrohman, dia berkata; saya bertanya kepada Aisyah, saya mengatakan; bagaimana (shalat malam) Rasulullah s.a.w. pada bulan Ramadhan? Aisyah menjawab : “Shalat (malam) Rasulullah pada bulan Ramadhan dan selain bulan Ramadhan adalah sama, Beliau shalat sebelas rakaat (H.R. Ahmad No. 23589)

Perhatikanlah bahwa “Shalat (malam) Rasulullah pada bulan Ramadhan dan selain bulan Ramadhan adalah sama” Tidak ada perkataan Rasulullah s.a.w. yang menyatakan “silakan melebihkan jika kamu mau” yang ada adalah Rasulullah s.a.w. melebihkan bacaan surah Al-Qur’an pada shalat qiyam ramadhan bahkan saking panjangnya, sampai menjelang fajar.

Ketika bulan (Ramadhan) tinggal tiga hari lagi, beliau bangun untuk shalat malam bersama kami, lalu mengumpulkan keluarga dan para istrinya hingga kami khawatir kehilangan Al Falah ini.” Aku lalu bertanya; “Apakah (Al Falah) itu?” Ia menjawab; “Waktu sahur“. (H.R. Nasa’i No. 1587 dan No. 1347) Al-Albani mengatakan hadits ini shahih

Maka pada mulanya hal inilah yang diperintahkan Umar r.a. untuk melakukannya yaitu shalat taraweh berjamaah 11 rakaat saja namun dengan surat yang sangat panjang hingga pelaksanaan taraweh itu mendekati subuh. Hal ini karena keinginan untuk meniru se-asli mungkin sesuai apa yang dilakukan Rasulullah s.a.w

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Muhammad bin Yusuf dari As-Sa`ib bin Yazid dia berkata, ” Umar bin Khatthab memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Dari untuk mengimami orang-orang, dengan sebelas rakaat.” As Sa`ib berkata; “Imam membaca dua ratusan ayat, hingga kami bersandar di atas tongkat karena sangat lamanya berdiri. Dan kami tidak keluar melainkan di ambang fajar.” (Atsar R. Imam Malik dalam Muwatha’ No. 232)

Namun sebagaimana dinyatakan dalam hadits di atas orang tidak sanggup mengikuti pembacaan sampai 200 an ayat. Sehingga sebagian orang sampai bersandar di tongkat. Maka untuk itulah selanjutnya Umar r.a. mengambil inisiatif mengubah kaifiyat (perincian teknis) ibadah menjadi bacaan surat yang pendek saja namun agar mendekati kualitas taraweh Rasulullah s.a.w. dan karena keutamaan bulan Ramadhan itu sendiri maka diperbanyaklah menjadi 23 rakaat.

Namun sebagian ulama (misalnya syaikh Utsaimin) menyatakan bahwa mengubah kaifiyat ibadah yang telah dicontohkan Rasulullah s.a.w. itu merupakan tindakan bid’ah karena menyelisihi sunnah. Jika demikian, bukankah Umar r.a. telah berani mengubah kaifiyat ibadah mahdhoh dimana Aisyah r.ah mengatakan Nabi s.a.w. tidak pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat? Apakah Umar r.a. melakukan bid’ah?

Lalu seorang ustadz yang lain dari Indonesia  dalam sebuah ceramah nya mengatakan justru hadits Umar r.a. memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari untuk mengimami orang sebelas rakaat ini yang betul. Sedangkan hadits yang 23 rakaat itu hanyalah perkataan dari Yazid bin Ruman. Yang betul adalah dua-duanya adalah atsar (perkataan sahabat) dimana yang 23 rakaat adalah perkataan Yazid bin Ruman dan yang 11 rakaat adalah perkataan Sa’ib bin Yazid.

Justru Atsar dari Sa’ib bin Yazid ini lah yang menceritakan bahwa orang-orang berat mengikuti kaifiyat asli shalat tarawih sebagaimana dilakukan Rasulullah s.a.w. yaitu  Imam membaca dua ratusan ayat, hingga kami bersandar di atas tongkat karena sangat lamanya berdiri. Sehingga menyebabkan Umar bin Khattab r.a. mengubah  kaifiyat ibadah tarawih menjadi 23 rakaat.

Bersambung Jilid 10…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s