PUASA BULAN SYA’BAN (JILID 1)

Kurma 08

PUASA BULAN SYA’BAN (JILID 1)

Oleh : Abu Akmal Mubarok

 Image

Sudah menjadi tradisi bagi umat Islam di berbagai negara, menyambut bulan Sya’ban sebagai bulan yang mulia dan penyongsong Ramadhan. Untuk itu umat Islam melakukan banyak ragam amalan sunnah di bulan Sya’ban ini, termasuk diantaranya adalah melaksanakan puasa sunnah.  Namun masih simpang siur beragam pendapat ada yang mengatakan puasa sebulan penuh sebagaimana bulan ramadhan, ada yang mengatakan puasa sebulan penuh kecuali tanggal 29 dan 30 dan ada juga yang mengatakan puasa pada hari tertentu saja terutama pada pertengahan bulan sya’ban yang disebut dengan nishfu sya’ban dan sebagainya.

Demikian pula masih simpang siur dihadapan kita berbagai pendapat pro dan kontra mengenai kemuliaan malam nishfu sya’ban (pertengahan bulan sya’ban), apakah disunnahkan melakukan sholat malam khusus nishfu sya’ban? Ada sebagian yang berpendapat keutamaan malam nishfu sya’ban sama dengan keutamaan malam lailatul qadar di bulan ramadhan. Ada yang menyebutkan doa khusus dan amalan-amalan khusus di malam nishfu sya’ban. Maka sebagian mengatakan amalan-amalan khusus di malam nishfu sya’ban adalah bid’ah sementara sebagian lain ada yang mengatakan hal itu adalah sunnah.

Perlu dipahami bahwa sebagaimana masalah fiqih lainnya, masalah bulan sya’ban ini tidak terlepas dari perbedaan pendapat di kalangan ulama. Maka sebagaimana kelaziman dalam forum ini kami berusaha untuk menyajikan duduk masalah sebenarnya dan tidak menyukai terburu-buru dalam mengambil kesimpulan atau melakukan pukul rata karena menemukan satu dua hadits yang dla’if kemudian berkesimpulan tak ada satupun hadits shahih dalam masalah ini. Kami juga berusaha untuk tidak terjebak pada sikap yang terlalu mudah menyimpulkan sesuatu itu bid’ah namun juga tidak terlalu mudah menggunakan hadit-hadits dla’if serta riwayat-riwayat yang tidak jelas asal-usulnya.

Adapun hadits-hadits mengenai bulan Sya’ban sangatlah banyak, maka berikut ini adalah sebagian dari hadits-hadits tersebut :

Hadits Hadits Tentang Keutamaan dan Kemuliaan Bulan Sya’ban

1a.  Dari Abdurrahman bin Madi dari Tsabit bin Qais Abu Ghusn, telah menceritakan kepada ku Abu Sa’id Al-Maqburi telah menceriakan kepadaku Usamah bin Zaid Aku bertanya Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban. Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan yang dilupakan oleh kebanyakan orang yaitu antara Rajab dan Ramadan Dan Aku Suka ketika amalanku diperlihatkan di hadapan Rabbku sedangkan aku dalam keadaan berpuasa”. (H.R.Ahmad No. 20758)

 Hadits dengan matan (redaksi) yang senada :

1b.  Dari Usamah bin Zaid, berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak melihatmu berpuasa (sunnah) dalam bulan-bulan yang ada seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?” Beliau menjawab: “Bulan Sya’ban itu bulan yang dilupakan oleh manusia antara Rajab dan Ramadhan. (H.R. Abu Daud dan Nasa’i)

Hadits di atas disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan secara tersirat menunjukkan bahwa bulan Sya’ban orang banyak melupakan untuk berpuasa dibandingkan dengan bulan Rajab dan Ramadhan.

2.  Dari Za’idah bin Abi Ar-Ruqaad dari Ziyaad An-Numairy dari Anas bin Malik r.a. berkata : “Nabi s.a.w. bila beliau telah memasuki bulan Rajab beliau berdoa: ‘Ya Allah, berkahilah untuk kami bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.”(H.R.  Ahmad Jilid 1 hal. 259 No. 2228, Ath-Thabarani dalam Al-Ausath Jild 4 No. 3939 dan dalam Ad-Du’a’ No. 911, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman Jilid 3 hal. 375 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah Jilid 6 hal. 269 )

Za’idah bin Abi Ar-Ruqad menurut Imam Al-Bukhari munkarul hadits, dan Ziyad An-Numairy mengatakan hadits ini lemah sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Adz-Dzahaby dalam Mizanul I’tidal. Dan hadits di atas dilemahkan pula oleh Syaikh Al-Albani dalam Dho’iful Jami’

3.     Dari Nuh bin Abi Maryam dari Zaid Al-‘Ammy dari Yazid Ar-Raqasyi dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah s.a.w bersabda : ” Rajab adalah bulannya Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulannya umatku”. (H.R. Baihaqi)

Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu’abul Imân Juz III Hal 374 Berkata Al-Baihaqy setelah meriwayatkannya, “Sanad ini sangatlah mungkar.” Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar Asqolani dalam Tabyiin Al-Ujab telah menegaskan bahwa hadits ini adalah hadits maudhu (palsu) dari kedustaan Nuh bin Abi Maryam.

Syaikh Al-Albani dalam Adh-Dha’ifah No. 4400  menyebutkan bahwa Al-Ashbahani  dalam At-Targhib membawakan riwayat lain dengan sanad yang mursal (terputus) dari Hasan Al-Bashri maka kemungkinan hadits tersebut adalah atsar (ucapan) Hasan Al-Bashri. Dan demikian pula disebutkan oleh Asy-Syaukani dalam Nailul Authar bahwa hadits ini dla’if.

4.     Keutamaan Rajab terhadap bulan-bulan yang lain adalah seperti keutamaan Al-Qur’an terhadap dzikir-dzikir selainnya, dan keutamaan Sya’ban terhadap bulan-bulan selainnya adalah seperti keutamaan Muhammad terhadap nabi-nabi selainnya, dan keutamaan Ramadhan terhadap bulan-bulan selainnya adalah seperti keutamaan Allah terhadap segenap hamba-Nya.” (H.R. Baihaqi)

Hadits di atas adalah hadits maudhu  palsu. Demikian keterangan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Tabyin Al-Ujab sebagaimana dalam Kasyful Khafa’ karya Al-Ajluni Juz 2/85 dan Al-Mashnu’ fi Ma’rifah Al-Hadits Al-Maudhu’ karya ‘Ali Qari’ hal. 128.

5.     Adalah Rasulullah s.a.w. berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak pernah berbuka, dan beliau berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak (akan) berpuasa, dan kebanyakan puasa beliau pada bulan Sya’ban. Maka saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, kenapa saya melihat kebanyakan puasamu (adalah) pada bulan Sya’ban?’ Beliau berkata, ‘Wahai ‘Aisyah, ia adalah bulan yang dituliskan untuk malaikat maut siapa yang akan dicabut nyawanya, maka saya senang namaku ditulis sedang saya dalam keadaan berpuasa.

Hadits Yang Menceritakan Rasulullah s.a.w Melakukan Puasa Sunnah Pada Bulan Sya’ban

1. Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al-Qasim berkata; Telah menceritakan kepada kami Al-Asyaja’i, dari Sufyan, dari Tsaur, dari Khalid bin Ma’dan, dari Aisyah r.ah, bahwasanya ia pernah ditanya tentang puasa Rasulullah S.A.W. maka ia (Aisyah r.ah) Berkata: “Beliau (Rasulullah s.a.w.) berpuasa Sya`ban dan sangat menjaga puasa senin dan kamis.” (H.R. Ahmad dalam Musnadnya No. 23368)

2. Dari Usamah bin Zaid, berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak melihatmu berpuasa dalam bulan-bulan yang ada seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?” Beliau menjawab: “Bulan Sya’ban itu bulan yang dilupakan oleh manusia antara Rajab dan Ramadhan. (H.R. Nasa’i dalam Sunannya Juz 4 Hal 201)

3. Dari Usamah bin Zaid, berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak melihatmu berpuasa (sunnah) dalam bulan-bulan yang ada seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?” Beliau menjawab: “Bulan Sya’ban itu bulan yang dilupakan oleh manusia antara Rajab dan Ramadhan. (H.R. Abu Dawud) Hadits di atas disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah

4. Aisyah r.a. berkata ‘Aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa kecuali di bulan Sya’ban. (H.R. Muslim)

5. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, dari Mu’awiyah bin Shalih dari Abdullah bin Abu Qais, ia mendengar Aisyah berkata : “Bulan yang paling Rasulullah s.a.w.sukai untuk berpuasa adalah Bulan Sya’ban, kemudian beliau menyambungnya dengan Ramadhan”. (H.R. Abu Daud No. 2076) Syaikh Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits di ini shahih.

Kesimpulannya : dari hadits-hadits di atas jelas dapat disimpulkan bahwa pada bulan sya’ban Rasulullah s.a.w. melakukan puasa sunnah dan lebih banyak dibandingkan bulan lainnya (selain bulan Ramadhan). Namun pertanyaannya berapa harikah / berapa banyakkah Rasulullah s.a.w melakukan puasa di bulan Sya’ban?

Hadits-Hadits Yang Menceritakan Rasulullah s.a.w. Berpuasa Sebulan Penuh Di Bulan Sya’ban

1. Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamzah berkata, telah menceritakan kepada kami Tsaur bin Yazid dari Khalid bin Ma’dan dari Rabi’ah Ibnul Ghaz Bahwasanya ia pernah bertanya kepada ‘Aisyah r.ah. tentang puasanya Rasulullah s.a.w., lalu ‘Aisyah r.ah. menjawab, “Beliau puasa di bulan sya’ban secara penuh hingga menyambungnya dengan ramadlan. ” (H.R. Ibnu Majah 1639)

Syaikh Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits di atas hasan shahih. Hadists ini mengisyaratkan bahwa Rasulullah s.a.w. berpuasa sebulan penuh dan menyambungnya hingga ramadhan.

2. Telah mengabarkan kepada kami ‘Ubaidullah bin Musa dari Israil dari Manshur dari Salim dari Abu Salamah r.a. dari Ummu Salamah r.ah. ia berkata, “Aku tidak melihat Rasulullah s.a.w. melakukan puasa penuh satu bulan kecuali pada bulan Sya’ban. Karena beliau menyambungnya dengan bulan Ramadan agar menjadi dua bulan berturut-turut. Kadang beliau berpuasa (dalam sebagian bulan) hingga kami berkata ‘Beliau tidak pernah berbuka’. Dan kadang beliau berbuka hingga kami berkata ‘Beliau tidak pernah berpuasa’(H.R. Ad-Darimi No. 1676) Husain Salim Assad Ad-Daroni mengatakan sanad hadits ini shahih

3. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Taubah Al ‘Anbari dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah r.a. dari Ummu Salamah r.ah dari Nabi s.a.w. bahwa ia tidak pernah berpuasa sunah satu bulan penuh kecuali Bulan Sya’ban, beliau menyambungnya dengan Ramadhan. (H.R. Abu Daud No. 1989) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih.

Syaikh Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits di atas shahih. Hadits ini jelas menyatakan bahwa Rasulullah s.a.w. berpuasa satu bulan penuh di bulan Sya’ban

4. Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Abu Salamah bahwa ‘Aisyah r.ah. menceritakan kepadanya, katanya: “Rasulullah s.a.w. tidak pernah melaksanakan shaum lebih banyak dalam sebulan selain bulan Sya’ban, yang Beliau melaksanakan shaum bulan Sya’ban seluruhnya. Beliau bersabda: “Lakukanlah amal-amal yang kalian sanggup melaksanakannya, karena Allah tidak akan berpaling (dalam memberikan pahala) sampai kalian yang lebih dahulu berpaling (dari mengerjakan amal) ” (H.R. Bukhari No. 1834)

Hadits Bukhari disepakati keshahihannya. Imam An-Nawawi berkata: “kalimat ‘Kullahu’ maksudnya adalah Ghalibuhu, yaitu sebagian besarnya. Ungkapan kaana shaumu sya’ban kullahu maksudnya berpuasa pada sebagian besar bulan Sya’ban kecuali sedikit (beberapa hari yang tidak berpuasa).”  Hal ini sesuai dengan hadits berikut ini yang lebih jelas maksudnya :

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Malik telah menceritakan kepada kami Salim Abu An Nadlr, pembantu Umar bin Ubaidillah dari Abi Salamah bin Abdurrahman bahwa Aisyah berkata; “Rasulullah s.a.w. sedemikian sering berpuasa sehingga kami katakan kalau beliau tidak pernah berbuka, namun beliau juga sedemikian sering tidak berpuasa sehingga kami katakan kalau beliau tidak pernah berpuasa. Dan saya sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah s.a.w. menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali puasa ramadlan dan saya tidak pernah melihat sama sekali beliau berpuasa dibulan tertentu sedemikian banyak dari pada ketika bulan sya’ban.” (H.R. Ahmad No. 24039) Perawi hadits ini semuanya tsiqoh (terpercaya) di semua tabaqot (generasi).

5. Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Mughirah, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al-Auza’i, dia berkata; telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abi Katsir, dari Abi Salamah berkata; telah menceritakan kepadaku Aisyah berkata; “Rasulullah s.a.w. tidak pernah lebih banyak melakukan puasa di suatu bulan (selain Ramadhan) pada setiap tahunnya melebihi puasanya di bulan sya’ban, beliau berpuasa penuh pada bulan itu.” (H.R. Ahmad 23402) Seluruh perawi hadits ini tsiqoh (terpercaya) di semua tabaqot (generasi).

6. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Sufyan dari Manshur dari Salim bin Abu Al Ja’d dari Abu Salamah dari Ummu Salamah r.ah. dia berkata, saya tidak pernah melihat Nabi s.a.w. berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali pada bulan Sya’ban dan Ramadlan. (H.R. Tirmidzi No. 668) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini hasan shahih. Abu ‘Isa (Tirmidzi) berkata, hadits Ummu Salamah merupakan hadits hasan.

Itulah hadits hadits Shahih yang menceritakan puasa Rasulullah s.a.w. sebulan penuh atau menurut Imam Nawawi adalah pada sebagian besar hari kecuali hanya beberapa hari saja tidak berpuasa.

Hadits-Hadits Yang melarang Puasa Khusus Di Pertengahan Sya’ban

Beberapa hadits lain menceritakan dilarangnya puasa di bulan Sya’ban yaitu ketika telah memasuki pertengahan bulan Sya’ban. Hal ini bagi mereka yang tidak rutin berpuasa sunnah pada bulan-bulan lainnya sehingga dianggap tidak terbiasa berpuasa sunnah

1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ibnu Akhi Mutharrif bin Syikhir dari Mutharrif bin Syikhkhir berkata; “Aku mendengar sebuah hadits dari Imran bin Hushain r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda kepada seseorang: “Apakah kamu berpuasa pada pertengahan bulan ini yaitu Sya’ban?.” Dia menjawab; “Tidak!.” (H.R. Ahmad No. 18997) Seluruh perawi hadits ini tsiqoh (terpercaya) di semua tabaqot (tingkatan generasi).

2. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad dari Al ‘Ala’ bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda: ” Jika telah masuk pada pertengahan bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa.” (H.R. Tirmidzi)

Abu ‘Isa (Tirmidzi) berkata, hadits Abu Hurairah merupakan hadits hasan shahih. Dan Syaikh Al-Albani juga menshahihkan hadits ini.

Arti dari hadits di atas menurut sebagian ulama ialah jika seseorang tidak terbiasa berpuasa atau pada awal-awal bulan Sya’ban tidak berpuasa, kemudian ketika masuk pada pertengahan bulan Sya’ban baru ia berpuasa karena (menyambut) bulan Ramadlan maka hal itu dilarang atau makruh. Karena hal itu seolah olah mengkhususkan diri puasanya pada pertengahan bulan Sya’ban saja sehingga dikhawatirkan ada kesan keliru untuk mengagungkan khusus pertengahan bulan saja atau baru mulai berpuasa setelah pertengahan bulan saja

3. Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi s.a.w. seperti makna yang diterangkan oleh mereka, yaitu beliau s.aw. bersabda: “Janganlah kalian berpuasa beberapa hari menjelang bulan Ramadlan (yaitu bulan sya’ban)  kecuali jika bertepatan hari puasa yang biasa kalian lakukan.” Hadits ini menunjukan larangan bagi orang yang sengaja berpuasa menjelang datangnya puasa Ramadlan jika sebelumnya (yaitu dari awal sampai pertengahan bulan dan bulan lainnya) ia tidak terbiasa rutin berpuasa.

Mayoritas ulama melemahkan hadits larangan berpuasa setelah pertengahan Sya’ban. Berdasarkan hal itu ada ulama yang  mengatakan, tidak dimakruhkan berpuasa setelah pertengahan Sya’ban walaupun ia tidak terbiasa berpuasa sebelumnya.

Al-Hafidz Ibnu Hajar Asqolani berkata: “Mayoritas ulama membolehkan berpuasa sunah setelah pertengahan Sya’ban, dan mereka melemahkan hadits yang melarang tentang hal itu.  Imam Ahmad dan Yahya bin Ma’in berkata bahwa (hadits yang melarang) munkar.” (Fathul Bari)

Di antara yang melemahkannya juga adalah Baihaqi dan At-Thahawi. Disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam Kitab Al-Mughni bahwa Imam Ahmad berkomentar tentang hadits ini, ‘Tidak valid. Kami pun menanyakan kepada Abdurrahman bin Mahdi, beliau tidak menshahihkannya, dan tidak meriwayatkannya kepadaku, bahkan beliau menghindarinya.

Alaa’ adalah perawi  tsiqah (terpercaya), haditsnya tidak diingkari, selain ini (saja).”

Al-Alaa adalah Al-Alaa bin Abdurrahman meriwayatkan hadits ini dari bapaknya dan dari Abu Hurairah r.a. Ibnu Qoyyim rahimahullah telah menjawab dalam kitab Tahzibus Sunan terhadap orang yang melemahkan hadits ini, kesimpulannya adalah bahwa sesungguhnya hadits ini shahih  dengan persyaratan Muslim.

Adapun bahwa Al-Alaa meriwayatkan hadits seorang diri tidak termasuk cacat, karena beliau tsiqah (terpercaya). Muslim telah mengeluarkan banyak hadits dari beliau dari bapaknya dari Abu Hurairah r.a.. Banyak terdapat dalam kitab Sunan, para perawi yang tsiqah, namun secara sendirian (gharib) dalam meriwayatkan (hadits) dari Nabi s.aw. Umat dapat menerima dan mengamalkannya.

Dugaan bahwa hadits ini bertentangan dengan hadits yang menunjukkan (dibolehkannya) puasa Sya’ban, sebenarnya tidak ada pertentangan di antara keduanya. Karena  hadits-hadits yang membolehkan berpuasa ditujukkan bagi mereka yang berpuasa pada pertengahan Sya’ban untuk meneruskan puasa sebelumnya  dan bagi mereka yang biasa berpuasa pada pertengahan kedua. Maka hadits Al-A’laa menunjukkan larangan berpuasa bagi mereka yang tidak terbiasa berpuasa setelah pertengahan (Sya’ban), bukan karena kebiasaan, juga bukan karena ingin meneruskan puasa dari pertengahan sebelumnya.”

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz ditanya tentang hadits larangan berpuasa setelah pertengahan Sya’ban, beliau menjawab: Maksud larangannya adalah baru memulai berpuasa dari pertengahan bulan (Sya’ban). Adapun bagi yang sudah sering berpuasa atau telah banyak banyak berpuasa di bulan (Sya’ban), maka dia telah sesuai dengan sunnah.” (Al-Majmu Fatawa Ibnu Baz, 15/385)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata dalam syarah (penjelasan) Riyadus Shalihin, 3/394: “Kalau pun haditsnya shahih, maka larangannya tidak bermakna haram akan tetapi hanya makruh saja. Sebagaimana pendapat sebagian ulama. Kecuali bagi yang terbiasa berpuasa sunnah, maka dibolehkan baginya berpuasa meskipun setelah pertengahan Sya’ban.”

Kesimpulannya : tidak boleh (makruh) mengkhususkan diri berpuasa hanya pada pertengahan bulan Sya’ban saja. Hal ini untuk menghindari kesan pengkhususan atau pengagungan khusus pertengahan bulan Sya’ban. Adapun jika sebelumnya ia telah berpuasa atau rutin berpuasa sunnah pada bulan-bulan sebelumnya, dibolehkan berpuasa di pertengahan Sya’ban.

Hadits-Hadits Yang melarang Puasa Sya’ban Setelah Pertengahan Bulan Sya’ban

Beberapa hadits mengisyaratkan dilarang baru berpuasa mulai pertengahan bulan sya’ban

1. Telah mengabarkan kepada kami Abdush Shamad bin Abdul Warits telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman Al Hanafi -biasa juga dipanggil dengan nama ‘Abdurrahman bin Ibrahim-, dari Al ‘Ala` dari Ayahnya dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apabila telah berlalu setengah dari bulan Sya’ban, maka tahanlah dari berpuasa.” (Sunan Darimi No. 1677)

2. Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar berkata, telah menceritakan kepada kami Muslim bin Khalid keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Al ‘Ala bin ‘Abdurrahman dari Bapaknya dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jika tiba pertengahan sya’ban maka tidak ada puasa hingga datang bulan ramadlan. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1641) Menurut Al-Albani hadits ini shahih

3. Telah menceritakan kepada kami Waki’ berkata; telah menceritakan kepada kami Abul ‘Umais ‘Utbah dari Al ‘Ala` bin Abdurrahman bin Ya’qub dari bapaknya dari Abu Hurairah r.a.  berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jika bulan sya’ban telah sampai pertengahan makan janganlah berpuasa hingga datang bulan Ramadhan.” (H.R. Ahmad No. 9330)

Dari kedua hadits di atas justru menunjukkan jika bulan sya’ban telah mencapai pertengahannya (yaitu nisyfu sya’ban) justru kita dilarang untuk berpuasa.

4. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad, ia berkata; ‘Abbad bin Katsir datang ke Madinah kemudian ia datang ke Majelis Al ‘Ala` dan menggandeng tangannya dan mengajaknya berdiri, kemudian berkata; “Ya Allah, orang ini telah menceritakan dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah s.a.w. berkata:Apabila telah berlalu setengah dari bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa!” kemudian Al ‘Ala` berkata; ya Allah, sesungguhnya ayahku telah menceritakan kepadaku dari Abu Hurairah dari Nabi s.a.w. seperti itu. (H.R. Abu Daud No. 1990)

Abu Daud berkata; hadits tersebut diriwayatkan oleh Ats Tsuri, Syibl bin Al ‘Ala`, Abu ‘Umais, serta Zuhair bin Muhammad, dari Al ‘Ala`. Abu Daud berkata: “Abdurrahman mengaku tidak menceritakannya”. Aku katakan kepada Ahmad : “Mengapa ia mengatakan menurutnya bahwa Nabi s.a.w. menyambung Sya’ban dengan Ramadhan sementara Abu Hurairah mengatakan dari Nabi s.a.w. sesuatu yang menyelisihinya (yaitu melarang berpuasa setelah setengah bulan Sya’ban?” Abu Daud berkata : “Menurutku hal ini tidaklah menyelisihinya, karena tidak ada yang meriwayatkannya selain Al ‘Ala` dari ayahnya”. Syaikh Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Kesimpulannya : tidak boleh (makruh) baru mulai berpuasa pada pertengahan bulan Sya’ban sampai akhir bulan. Adapun pertengahan bulan  telah berpuasa atau rutin berpuasa sunnah pada bulan-bulan sebelumnya, dibolehkan berpuasa mulai  pertengahan Sya’ban sampai sisa bulan tersebut.

Hadits-Hadits Yang Melarang Puasa Pada Tanggal 29-30 Sya’ban

1. Dari Aisyah r.a. : tiada pernah Nabi saw berpuasa (puasa sunnah) di suatu bulan (selain ramadhan) lebih banyak dari bulan sya’ban, dan sungguh beliau s.a.w berpuasa hampir seluruh hari bulan sya’ban, dan beliau saw bersabda : ambillah (amalkanlah) dari amal-amal ibadah semampu kalian, maka sungguh Allah swt tidak akan bosan, hingga kalian sendiri yang bosan(H.R. Bukhari No 1833)

Hadits di atas shahih dan menjelaskan bahwa Rasulullah s.a.w. melaksanakan puasa Sya’ban nyaris sebulan penuh. Bisa jadi maksudnya tidak puasa pada 2 hari akhir bisa juga tidak.

Dan Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dari Al Jurairi dari Abul Ala` dari Mutharrif dari Imran bin Hushain r.a., bahwa Nabi s.a.w. bertanya kepada seseorang: “Apakah kamu berpuasa di hari-hari terakhir bulan (Sya’ban) ini?” laki-laki itu menjawab, “Tidak.” Maka Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jika kamu telah menunaikan puasa Ramadlan, maka berpuasalah dua hari untuk menggantikannya.” (H.R. Muslim No. 1980)

2. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Mahdi, telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah bin Shalih dari Abdullah bin Abu Qais, ia berkata; saya mendengar Aisyah r.ah. berkata: “Rasulullah s.a.w.memperhatikan Bulan Sya’ban tidak seperti perhatian beliau kepada selainnya, kemudian beliau berpuasa karena melihat Ramadhan, apabila terhalang untuk melihatnya maka beliau menggenapkan bilangan tiga puluh hari (di bulan Sya’ban)  kemudian beliau berpuasa”.  (H.R. Abu Daud No. 1980)

Syaikh Nashiruddin Al-Albani menshahihkan hadits ini. Dari hadits ini dapat dipahami bahwa kemungkinan Rasulullah s.a.w. tidak berpuasa pada tanggal 29-30 Sya’ban karena berjaga-jaga melihat hilal Ramadhan bukan karena tidak terlarang.

Hadits-Hadits Yang Menceritakan Rasulullah s.a.w. berpuasa beberapa hari saja di Bulan Sya’ban

3. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Sufyan dari Manshur dari Salim bin Abu Al Ja’d dari Abu Salamah dari Ummu Salamah r.ah. dia berkata : “Saya tidak pernah melihat Nabi s.a.w. berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali pada bulan Sya’ban dan Ramadlan. (H.R.Tirmidzi 668)

Abu ‘Isa (Tirmidzi) berkata, hadits Ummu Salamah r.a. merupakan hadits hasan shahih

4. Dari Abu Salamah dari ‘Aisyah r.ah. bahwa dia berkata: “ saya tidak pernah melihat Nabi s.a.w. lebih banyak berpuasa kecuali pada bulan Sya’ban, beliau dulu sering berpuasa pada bulan Sya’ban kecuali beberapa hari saja (tidak puasa) bahkan beliau sering berpuasa sebulan penuh.

5. Telah menceritakan kepada kami Hannad telah menceritakan kepada kami ‘Abdah dari Muhammad bin Amru telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dari ‘Aisyah dari Nabi s.a.w. redaksi hadits yang sama seperti diatas. Abu ‘Isa berkata, Salim Abu Nadlr dan yang lainnya telah meriwayatkan hadits ini dari Abu Salamah dari ‘Aisyah r.ah. seperti riwayatnya Muhammad bin Amru di atas

Ibnu Mubarak berkata, menurut kaidah bahasa arab, hukumnya boleh mengungkapkan puasa sebulan kurang dengan ungkapan puasa sebulan penuh, sebagaimana dikatakan fulan terjaga sepanjang malam (beraktifitas terus) padahal dia hanya makan malam dan melakukan beberapa urusan. Berdasarkan pernyataan tadi, sepertinya Ibnu Mubarak melihat dua hadits di atas memiliki korelasi arti yang sama, dia berkata, sesungguhnya makna hadits di atas ialah Nabi s.a.w. lebih banyak berpuasa pada bulan Sya’ban.

6. Dari ‘Aisyah r.ah berkata : “Adalah Rasulullah s.a.w. berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka, dan beliau berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan/pernah berpuasa, maka saya tidak pernah melihat Rasulullah s.a.w. menyempurnakan puasa sebulan selain bulan Ramadhan dan tidaklah saya melihat paling banyaknya beliau berpuasa (di luar Ramadhan) yaitu di bulan Sya’ban. (H.R. Bukhari No. 1969, Muslim No. 1156, Abu Daud No. 2434, An-Nasa’I Juz IV Hal 151 dan Ibnu Majah No. 1710)

Bersambung Jilid 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s