PUASA BULAN SYA’BAN (JILID 2)

Kurma 07

PUASA BULAN SYA’BAN (JILID 2)

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Hadits-Hadits Tentang Meng-Qodho Puasa Ramadhan di Bulan Sya’ban

  1. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Yahya dari Abu Salamah berkata; Aku mendengar ‘Aisyah r.ah. berkata: “Aku berhutang puasa Ramadhan dan aku tidak biasa mengqadha’nya kecuali pada bulan Sya’ban“. (Atsar Riwayat Bukhari No. 1814)
  2. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdullah bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Abu Salamah ia berkata; Saya mendengar Aisyah radliallahu ‘anhu berkata; “Aku masih punya hutang puasa Ramadlan. Tetapi aku belum membayarnya sehingga tiba bulan Sya’ban, barulah kubayar, berhubungan dengan kesibukanku bersama Rasulullah s.a.w. .” (Atsar Riwayat Muslim No. 1933)
  3. Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari Yahya bin Sa’id dari Abu Salamah bin Abdurrahman ia mendengar Aisyah isteri Nabi s.a.w. berkata; “Sungguh aku pernah punya tanggungan puasa Ramadhan, dan aku tidak bisa berpuasa hingga datang bulan Sya’ban.” (Atsar Riwayat Malik No. 600)

Hadits-Hadits Yang Meriwayatkan Tentang Nishfu Sya’ban

  1. Telah menceritakan kepada kami Rasyid bin Sa’id bin Rasyid Ar Ramli berkata, telah menceritakan Al Walid dari Ibnu Lahi’ah dari Adl Dlahhak bin Aiman dari Adl Dlahhak bin ‘Abdurrahman bin ‘Arzab dari Abu Musa Al Asy’ari dari Rasulullah s.a.w, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah akan muncul di malam nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang meninggalkan jama’ah (murtad). “. ” (H.R.  Ibnu Majah 1380)

Adz-Zhahabi dan Muhammad bin Sa’d mengatakan Ibnu Lahi’ah atau Abdullah bin Lahi’ah adalah perawi dla’if. Sedangkan Ibnu Hajar Asqolani mengatakan Ibnu Lahi’ah shaduuq (jujur).  Namun Ibnu Hajar Asqolani menyatakan Abu-Dlahhak bin Aiman adalah majhul (tidak dikenal).  Abul ‘Alaa Al Mubarokfuri dalam, Tuhfatul Ahwadzi berkata, “Hadits ini  munqothi’ (terputus sanadnya) yaitu dari Adl-Dlahhak bin ‘Abdurrahman bin ‘Arzab terputus .

Muhammad bin Ishaq berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Aswad An Nadlr bin Abdul Jabbar berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Az Zubair bin Sualim dari Adl Dlahhak bin ‘Abdurrahman dari Bapaknya ia berkata; aku mendengar Abu Musa Asya’ari dari Nabi s.a.w. bersabda sebagaimana hadits di atas. Hadits di atas juga diriwayatkan dari jalur lain yang lebih kuat. Syekh Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits di atas Hasan. Kesimpulannya : hadits ini hasan.

  1. Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam Nisfhu Sya’ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya.” (H.R. Ibnu Majah No. 1390).

Ath-Thabrani juga meriwayatkannya dari Mu’adz ibn Jabal dalam Mu’jamul Kabir, begitu pula Imam Ahmad mencantumkan dalam Musnadnya No. 6642. Dalam Majma’ Zawa’id-nya, hadits ini dinyatakan dha’if karena adanya perawi yang dianggap lemah. Al-Arna’uth dalam ta’liqnya pada dua kitab terakhir berkata, “Shahih dengan syawahid (dikuatkan dari riwayat lain semakna yang mendukung)”. Al-Albani juga menilai hadits Nishfu Sya’ban ini shahih (Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah No. 1144, Shahih Targhib wa Tarhib No. 1026)

  1. Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali Al Khallal berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah memberitakan kepada kami Ibnu Abu Sabrah dari Ibrahim bin Muhammad dari Mu’awiyah bin Abdullah bin Ja’far dari Bapaknya dari Ali bin Abu Thalib r.a. ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apabila malam nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban), maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: “Adakah orang yang beristighfar kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar. ” (H.R. Ibnu Majah 1378)

Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits di atas ma’udhu (palsu) karena Ibnu Abu Sabrah atau Abu Bakar bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Sabrah dikenal sebagai perawi dla’if. Sebagaimana disebutkan dalam At Taqrib Disandarkan pada kakeknya bahwa ia dituduh memalsukan hadits. Adz Dzahabi dalam Al Mizan mengatakan, “Imam Al Bukhari dan ulama lainnya men-dha’if-kannya”. Anak Imam Ahmad yaitu  ‘Abdullah dan Sholih, mengatakan dari ayahnya, yaitu Imam Ahmad berkata, “Dia adalah orang yang memalsukan hadits.” An Nasa’i mengatakan, “Ia adalah perowi yang matruk (dituduh dusta) Kesimpulannya hadits ini mau’dhu (palsu)

  1. Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali Al Khallal berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah memberitakan kepada kami Ibnu Abu Sabrah dari Ibrahim bin Muhammad dari Mu’awiyah bin Abdullah bin Ja’far dari Bapaknya dari Ali bin Abu Thalib r.a. ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apabila datang malam nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban), maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: “Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1378)

Menurut Syekh Nashiruddin Al-Albani hadits ini dla’if karena salah seorang perawi dari generasi tabi’ut tabiin yaitu Abu Bakar bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Sabrah dikatakan sebagai perawi dla’if dan tidak diterima riwayatnya. Kesimpulannya : hadits ini dla’if.

  1. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad dari Al ‘Ala’ bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Jika telah masuk pada pertengahan bulan Sya’ban (nishfu sya’ban), maka janganlah kalian berpuasa.” . (H.R. Tirmidzi No. 669)

Abu ‘Isa berkata, hadits Abu Hurairah di atas merupakan hadits hasan shahih, kami tidak mengetahui kecuali melalui jalur ini dengan lafadz seperti di atas. Arti dari hadits di atas menurut sebagian ulama ialah jika seseorang tidak terbiasa berpuasa kemudian ketika masuk pada pertengahan bulan Sya’ban (nisyfu sya’ban) baru ia mulai berpuasa karena (menyambut) bulan Ramadlan.

  1. Telah menceritakan kepada kami Abdah bin Abdullah Al Khuza’i dan Muhammad bin Abdul Malik Abu Bakr keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Yazin bin Harun berkata, telah memberitakan kepada kami Hajjaj dari Yahya bin Abu Katsir dari Urwah dari ‘Aisyah r.ah. ia berkata, “Suatu malam aku kehilangan Nabi s.a.w., aku pun mencarinya, dan ternyata beliau berada di Baqi’ menengadahkan kepalanya ke langit, beliau s.a.w. lalu bersabda: “Wahai ‘Aisyah, apakah engkau takut Allah dan Rasul-Nya akan mengurangi (haknya) atasmu?” ia menjawab, “Aku telah mengatakan tidak, hanya saja aku khawatir engkau mendatangi salah seorang dari isterimu (yang lain). ” Maka beliau pun bersabda: “Sesungguhnya pada pertengahan malam Sya’ban Allah turun ke langit dunia lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu kambing. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1379)

Abu ‘Isa berkata, hadits ‘Aisyah ini tidak kami ketahui kecuali dari jalur Al Hajjaj. Sedangkan Al Hajjaj ternyata menyatakan tidak pernah mendengar hadits ini dari Yahya bin Abu Katsir demikian pula Yahya bin Abu Katsir belum pernah mendengar hadits ini dari Urwah. Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini dla’if. Al-Baihaqi meriwayatkan hadis ini lewat jalur Al-‘Alaa’ bin Al-Harits dan menyatakan bahwa hadits ini mursal jayyid. Hal itu karena Al-‘Alaa’ tidak mendengar langsung dari Aisyah r.ah. Kesimpulannya : hadits ini dla’if karena mursal (terputus sanadnya) tidak diketahui dari mana Hajaj bisa sampai kepada Urwah dan Aisyah r.ah.

  1.  “Allah melihat kepada makhluk-Nya pada malam nishfu (pertengahan) Sya’ban lalu mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bertikai.” (Ibnu Hiban No. 5665)

Hadits di atas dikeluarkan oleh sejumlah Imam Ahli Hadist dari hadits Abu Bakr Ash-Shiddîq, Mu’adz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al-Khusyany, ‘Aisyah, Abu Hurairah, ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, Abu Musa Al-‘Asy’ary, ‘Auf bin Malik, ‘Utsman bil Abil ‘Ash dan Abu Umamah Al-Bahily, Dan hadits di atas dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dari seluruh jalannya.

Hadits di atas adalah satu-satunya hadits shohih yang menunjukkan keutamaan malam nishfu Sya’ban. Dan hal ini berlaku bagi mereka yang mempunyai kebiasaan beribadah pada malam hari yang bertepatan dengan malam nishfu Sya’ban. Ini bukanlah berarti bahwa diizinkan untuk melakukan ibadah-ibadah khusus yang tidak pernah dilakukan pada hari-hari lainnya sebagaimana kebiasaan sebagian manusia yang menghidupkan malam nishfu Sya’ban secara khusus.

  1. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’ telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Al Hajjaj bin Arthah dari Yahya bin Abu Katsir dari ‘Urwah dari ‘Aisyah r.ah dia berkata : “Pada suatu malam saya kehilangan Rasulullah s.a.w, lalu saya keluar, ternyata saya dapati beliau sedang berada di Baqi’, beliau bersabda: ” Apakah kamu takut akan didzalimi oleh Allah dan Rasul-Nya?” saya berkata, wahai Rasulullah, saya mengira tuan mendatangi sebagian istri-istrimu (yang lain), beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala turun ke langit dunia pada malam pertengahan bulan Sya’ban, lalu mengampuni manusia sejumlah rambut (bulu) kambing.” (H.R. Tirmidzi No. 670 dan Ahmad No. 24825)

Al-Imam At-Tirmidzi menyatakan bahwa riwayat ini di-dhaifkan oleh Al-Bukhari. Muhammad melemahkan hadits ini. Dia (Muhammad) juga berkata, Yahya bin Abu Katsir belum pernah mendengar dari ‘Urwah, bin Az-Zubair Al-Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul ‘izzi bin Qun. Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini dla’if karena rawinya terputus karena dari generasi tabi’ut tabi’in yaitu Yahya bin Abu Katsir mengaku  belum pernah mendengar hadits ini dari Urwah dan Hajjaj bin Arthah pun belum pernah mendengar hadits ini dari Yahya.

  1. Wahai Ali, barangsiapa melakukan shalat pada malam Nisfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat; ia membaca setiap rakaat Al-Fatihah dan Qul Huwallahu Ahad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala kebutuhannya… dan seterusnya.” (Disebutkan oleh Imam Syaukani dalam  Al-Fawaaidul Majmu’ah)

Hadit di atas sanadnya majhul (tidak dikenal). Hadits ini diriwayatkan dari jalan kedua dan ketiga, kesemuanya maudhu’ dan perawi-perawinya majhul.

  1. “Shalat Seratus rakaat dengan tulus ikhlas pada malam Nisfu Sya’ban adalah pahalanya sepuluh kali lipat “ (Al-Mukhtashar)

Hadits ini disebutkan dalam kitab “Al Mukhtashar” Imam Syaukani mengatakan : “Hadits yang menerangkan shalat malam pada malam Nisfu Sya’ban adalah bathil. Imam Syaukani berkata: Hadits yang menerangkan bahwa dua belas rakaat,  empat belas rakaat dengan tulus ikhlas pahalanya adalah tiga puluh kali lipat, perawinya adalah majhul (tidak dikenal) maka hal ini adalah hadits maudhu (palsu).

Pendapat Para Ulama Yang Mendukung Pengutamaan Malam Nishfu Sya’ban

Ibnu Rajab berkata dalam bukunya “Lathaiful Ma’arif”, “Para Tabi’in dari ahli Syam (Syiria) seperti Khalid bin Ma’daan, Makhul, Luqman dan lainnya pernah berijtihad melakukan ibadah khusus sebagai pengutamaan malam Nisfu Sya’ban kemudian orang- orang berikutnya mengikti ijitihad mereka. Khalid bin Ma’daan dan Luqman bin Amir memperingati malam tersebut dengan memakai pakaian paling baru dan mewah, dan bangun menjalankan sholatul lail di masjid. Hal ini disetujui oleh Ishaq bin Ruhwiyah, ia berkata: “Menjalankan ibadah sunnah (termasuk shalat malam) di masjid pada malam itu secara jamaah tidak bid’ah.” Hal ini dicuplik oleh Harbu Al-Kirmany. Abdurrahman bin Yazid bin Aswad pernah mengerjakannya, dan ia termasuk tabi’in. Ijtihad ini juga disetujui oleh ulama Bashrah (Iraq).

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengatakan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat. Menurut Imam Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karepa pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun malam Nishfu Sya’ban, di dalamnya terdapat keutamaan.” (Mukhtashar Fatawa Mishriyah, hal 291).  Jika seseorang shalat pada malam nishfu sya’ban sendiri di rumah atau secara berjama’ah di masjid sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka itu suatu hal yang baik. Adapun jika dilakukan dengan kumpul-kumpul di masjid untuk melakukan shalat dengan bilangan tertentu, seperti berkumpul dengan mengerjakan shalat 1000 raka’at, dengan membaca surat Al Ikhlas terus menerus sebanyak 1000 kali, ini jelas suatu perkara bid’ah, yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama. (Majmu’ Al Fatawa, 23/131)

Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya yang lain yaitu Iqtido’ Ash-Shiroth Al-Mustaqim mengatakan : “telah diriwayatkan mengenai kemuliaannya (Malam Nishfu Sya’ban) dari hadits-hadits Nabi dan pada kenyataan para sahabat telah menjelaskan bahwa itu adalah malam yang mulia dan dikalangan ulama Salaf yang meng- khususkan malam Nishfu Sya’ban dengan melakukan sholat khusus padanya dan berpuasa bulan Sya’ban. Ada kalangan Salaf sebagian dari ahli Madinah dan sebagian kalangan Khalaf (orang belakangan) yang mengingkari kemuliannya dan menyanggah hadits-hadits yang diriwayatkan padanya seperti hadits: ‘Sesungguhnya Allah swt. mengampuni padanya lebih banyak dari bilangan bulu kambing bani kalb’. Akan tetapi kebanyakan ulama ahli Ilmu atau kebanyakan ulama Madzhab kami dan ulama lain memuliakan malam Nishfu Sya’ban, demikian adalah kenyataan yang dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan ulama Salaf, karena cukup banyak hadits yang menyatakan mengenai kemuliaan Nishfu Sya’ban, begitu juga kenyataan pendapat ulama Salaf, yang telah dinyatakan kemuliaan Nishfu Sya’ban dalam banyak kitab hadits Musnad dan Sunan”. (Iqtido’ As-sirot Al-Mustaqim hal 266)

Ibnu Taimiyah juga mengatakan, “Adapun tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban terdapat beberapa hadits dan atsar, juga ada nukilan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka melaksanakan shalat pada malam tersebut. Jika seseorang melakukan shalat seorang diri ketika itu, maka ini telah ada contohnya di masa lalu dari beberapa ulama Salaf. Maka inilah yang dijadikan hujjah, sehingga tidak perlu diingkari. (Majmu’ Al Fatawa, 23/132)

Al-Qasthalani dalam kitabnya, menuliskan dalam Al-Mawahib bahwa para tabi’in di negeri Syam seperti Khalid bin Mi’dan dan Makhul telah berjuhud (mengkhususkan beribadah) pada malam nishfu sya’ban. Khalid bin Mi’dan, Luqman bin ‘Amir dan Ishaq bin Rahawaih berpendapat cara ibadah pada malam nishfu Sya’ban adalah shalat di masjid secara berjama’ah. Sedangkan Al-Auza’i dan para ulama Syam lainnya berpendapat melaksanakan shalat sendiri-sendiri di rumah.  (Al-Mawahib Alladunniyah Jilid 2 hal. 59)

Mengenai menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat malam, Ibnu Rajab mengatakan : “Mengenai shalat malam di malam Nishfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari Nabi s.a.w. dan juga para sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat lail.” (Lathoif Al Ma’arif, 247-248).

Syaikh Imam Abu Muhammad Abdurrahman Ibnu Ismail al Muqadaasiy menolak (menganggap batil) hadits tentang malam Nisfu Sya’ban. Beliau berkata : “dalam hal ini telah banyak pengapat para ahli ilmu, maka jika kita hendak memindahkan pendapat mereka, hal itu akan memperpanjang pembicaraan. Semoga pendapat para ulama itu cukup memuaskan bagi siapa saja yang berkeinginan untuk mendapat sesuatu yang haq.

Pendapat Para Ulama Yang Tidak Setuju Pengutamaan Malam Nishfu Sya’ban

Namun ijtihad mengenai keutamaan malam nisyfu sya’ban ini ditentang  oleh Ulama Hijaz (Jazirah Arab)  seperti  Atha’ dan Ibnu Abi Malikah dan Abdurrahman bin Zaid bi Aslam dari fuqaha’ Madinah, yaitu ucapan Ashhabu Malik dan lain-lainnya. Mereka mengatakan bahwa semua perbuatan itu (pengutamaan malam nisfu Sya’ban) adalah bid’ah.

Al-Hafizh Al-Iraqi berkata: Hadits (yang menerangkan) tentang shalat Nisfu Sya’ban maudhu’ dan pembohongan atas diri Rasulullah s.a.w. Dalam kitab Al Majmu’, Imam Nawawi berkata :  “Tak boleh seseorang mengamalkan hadits itu hanya karena telah disebutkan di dalam buku Quutul Quluub dan Ihya’ Ulumuddin. Sebab pada dasarnya hadits-hadits tersebut bathil (tidak boleh diamalkan)”

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, ulama Saudi Arabia masa kini mengatakan, “Hadits yang menerangkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadits-hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan sandaran. Adapun hadits yang menerangkan mengenai keutamaan shalat pada malam nishfu sya’ban, semuanya adalah berdasarkan hadits palsu (maudhu’). Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh kebanyakan ulama.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 1/188).

Begitu juga di halaman yang sama, Syaikh Ibnu Baz menjelaskan, “Hadits dha’if barulah bisa diamalkan dalam masalah ibadah, jika memang terdapat penguat atau pendukung dari hadits lain yang shahih. Adapun untuk hadits tentang menghidupkan malam nishfu sya’ban, tidak ada satu dalil shahih pun yang bisa dijadikan penguat untuk hadits yang lemah tadi.”

‘Abdullah bin Al Mubarok pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam Nishfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam pada 1/3 malam (bukan haya pada malam Nishfu Sya’ban saja).” (Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah hal 92).

Al ‘Aqili mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam Nishfu Sya’ban itu sudah masuk pada keumuman malam, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29).

Dalam hadits-hadits tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban disebutkan bahwa Allah akan mendatangi hamba-Nya atau akan turun ke langit dunia. Perlu diketahui bahwa turunnya Allah di sini tidak hanya pada malam Nishfu Sya’ban. Sebagaimana disebutkan dalam Bukhari-Muslim bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap 1/3 malam terakhir, bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja. Oleh karenanya, keutamaan malam Nishfu Sya’ban sebenarnya sudah masuk pada keumuman malam, jadi tidak perlu diistimewakan.

Kesimpulan Dari Kesimpulan

  1. Dalil tentang kemuliaan dan keutamaan bulan sya’ban adalah shahih dan jelas walaupun ada banyak juga yang dla’if
  2. Bahwa Rasulullah s.a.w. lebih banyak berpuasa sunnah di bulan Sya’ban dibanding bulan lainnya juga diriwayatkan oleh hadits shahih Bukhari dan Muslim.
  3. Rasulullah s.a.w. dikatakan pernah berpuasa 2 bulan berturut turut dari sya’ban hingga ramadhan artinya pada bulan sya’ban berpuasa 1 bulan penuh.
  4. Ibnu Mubarak berkata ungkapan “puasa sebulan penuh”,, menurut kaidah bahasa arab, boleh diucapkan walaupun sebenarnya maksudnya “puasanya kurang  dari sebulan” sebagaimana dikatakan fulan terjaga sepanjang malam padahal dia hanya melakukan beberapa urusan.  Imam An-Nawawi berkata: “kalimat ‘Kullahu’  maksudnya adalah Ghalibuhu, yaitu sebagian besarnya. Ungkapan kaana shaumu sya’ban kullahu maksudnya berpuasa pada sebagian besar bulan Sya’ban kecuali sedikit (beberapa hari yang tidak berpuasa). Maka dapat disimpulkan bahwa Rasulullah tidak berpuasa sebulan penuh di bulan sya’ban.
  5. Untuk menjaga telah munculnya hilal tanda telah memasuki bulan Ramadhan, maka pada tanggal 29 dan 30 Sya’ban tidak berpuasa. Jadi hal ini bukan karena terlarang melainkan berjaga-jaga.
  6. Jika telah berlalu setengah bulan Sya’ban, dan sebelumnya tidak berpuasa maka Mazhab Syafi’i berpendapat makruh untuk berpuasa. Namun jika sejak awal telah berpuasa boleh berpuasa terus melewati pertengahan bulan Sya’ban. Hal ini karena Imam Syafi’I menganggap hadits Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Apabila bulan sya’ban telah terlewati separuhnya, maka janganlah berpuasa” adalah shahih. Demikian pula Imam Suyuthi dan Ibnu Hibban berkata hadits ini shahih. Artinya larangan berpuasa pada pertengahan bulan Sya’ban adalah bagi orang yang tidak berpuasa sebelumnya dan hanya mengkhususkan diri pada 1 hari pertengahan bulan Sya’ban saja. Sedangkan jika ia melaksanakan puasa 3 hari pada pertengahan bulan Sya’ban maka itu memenuhi sunnah puasa ayyamul bidl yang memang disunnahkan pada tiap tiap bulan.
  7. Namun madzhab Imam Ahmad tidak memakruhkan puasa mulai dari tengah bulan sya’ban karena berpendapat hadits yang melarang hal ini Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Apabila bulan sya’ban telah terlewati separuhnya, maka janganlah berpuasa” adalah dla’if. Yahya bin Ma’in berkata,”Sesungguhnya hadis itu munkar.
  8. Tentang keutamaan malam nisyfu sya’ban dan ibadah khusus ada dua hadits yang derajatnya hasan dan shahih namun  inipun masih diperdebatkan karena pada asalnya perawinya dla’if namun dikuatkan dari jalur lain. Oleh karena itu dikatakan bahwa keshahihan hadits ini terjadi perbedaan pendapat. Sebagian tabi’in dan ulama salaf seperti Auzai, Ibnu Taimiyah, Al-Ghazali dll meyakini keshahihan hadits ini sehingga membolehkan melaksanakan ibadah khusus pada malam nisyfu sya’ban. Sedangkan bagi yang menganggap hadits ini dla’if akan memakruhkan bahkan menganggap haram dan bid’ah dlolalah terhadap perayaan malam nisyfu sya’ban.
  9. Pendapat pertengahan adalah bahwa amalan pada malam nisyfu syaban ini tidak diyakini sebagai pengkhususan yang dilandasi sunnah Rasulullah s.a.w. melainkan sebagai sebuah ijtihad para Tabi’in yang merupakan bid’ah hasanah. Maka sholat malam, bersedekah, berpuasa dan amalan baik lainnya adalah boleh saja dan berpahala sebagaimana sama pahalanya jika dilaksanakan pada malam-malam lainnya. Adapun kondisi umat masa kini memang perlu diperbanyak event-event peringatan keislaman untuk membangkitkan gairah umat akan Islam akan agamanya dan RasulNya.

Wallahua’lam.

One thought on “PUASA BULAN SYA’BAN (JILID 2)

  1. Tuti alawiah says:

    Assalamualaikum,
    apakah masih bisa meng Qadha puasa setelah nisfu sya’ban?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s