DAUN QOT ATAU KHAT

Campaign against mildly narcotic khat in Yemen

DAUN QOT ATAU  KHAT

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Baru baru ini muncul kasus mengenai selebriti tanah air yang ditangkap dengan tuduhan memfasilitasi dan mengkonsumsi narkoba. Namun yang menarik dari berita ini adalah terungkap adanya jenis narkoba baru yang disebut methylon. Ternyata methylon ini adalah turunan (derivat) dari katinon, sebua senyawa yang terdapat pada daun qot atau khat. Yang lebih menarik lagi, daun ini ternyata telah sejak tahun 1992 ditanam di daerah Puncak Bogor dan dikonsumsi oleh orang orang Arab yang datang ke sana. Cara mengkonsumsinya adalah diseduh dengan air panas seperti orang membuat minuman teh. Maka ada yang menjulukinya sebagai teh arab. Yang lebih mengejutkan adalah bahwa harganya tenyata sangat mahal yaitu sekitar 900.000 s/d 1 Juta per satu kantong plastik.

Khasiat daun ini jika diseduh adalah memberikan efek “mem-forsir badan”, sehingga orang yang meminumnya akan kuat bekerja sampai 4-5 jam tanpa merasa lelah, selain itu hatinya akan merasa gembira dan tidak mengantuk.   Efek ini mirip dengan efek yang ditimbulkan oleh pil ecstasy atau inex.

Orang yang meminum daun qot atau khat ini, walaupun tidak merasa lelah dan ngantuk, namun ini hanyalah fatamorgana. Karena sebenarnya tubuh itu di-forsir atau dipaksa untuk bekerja, namun sebenarnya tubuh itu tetap merasa lelah terutama jantung yang dipacu. Hanya saja kesadaran syaraf orang tersebut, yang semestinya mengirim sinyal  lapar dan lelah ke otak, tertutupi oleh pengaruh zat katinon ini. Maka mengkonsumsi daun ini secara berlebihan dan terus menerus akan berbahaya pada jantung.

Daun “qot” atau sering ditulis di infotainment sebagai khat adalah tanaman yang berasal dari daerah Yaman di jazirah Arab, dan sudah dikonsumsi oleh orang Arab Yaman sejak dahulu kala. Dalam kadar normal dan biasa saja, memang tidak menimbulkan efek yang terlalu berbahaya. Efek yang mirip mirip sebenarnya juga terdapat pada zat cafein yang terdapat pada biji kopi dan nikotin pada daun tembakau. Demikian pula zat kation pada daun qot ini juga menimbulkan efek kecanduan atau ketagihan (addictive) sama seperti cafein dan nikotin pada rokok. Dalam kondisi normal, efek kecanduan ini hanyalah perasaan tidak bisa konsentrasi dan tidak bisa fokus bekerja jika tidak mengkonsumsi zat ini. Sama seperti orang yang tidak bisa berfikir atau mulut terasa asam jika belum merokok dan minum kopi. Situasi kecanduan yang semacam ini dianggap biasa dan tidak berbahaya oleh kebanyakan orang.

Namun yang dihebohkan sebagai narkoba bukanlah daun ini sebagai kondisi aslinya. Disebut dengan istilah “derivat”  atau “turunan” maksudnya zat tersebut mengalami proses lebih lanjut baik itu proses ekstraksi maupun proses kimiawi lainnya. Tujuan dari proses kimiawi ini adalah untuk melipat gandakan efek dari zat  tersebut. Jika pada daun aslinya, katinon ini bisa menyebabkan orang tidak merasa lelah dan mengantuk selama 4-5 jam, maka zat derivatnya bisa membuat orang gembira dan tidak mengantuk selama 8 jam bahkan lebih.

Zat katinon dari daun qot ini diproses secara kimiawi sehingga menjadi yang dinamakan methyl katinon atau disebut M3. Ini adalah derivat pertama. Kemudian diproses lagi secara kimiawi menjadi methylon atau disebut M1 ini adalah derivat kedua. Maka derivat ketiga inilah yang sangat berbahaya dan sudah termasuk dalam katagori narkoba, karena dapat menimbulkan efek halusinasi permanen (tetap).

Bagaimana Islam memandang hal ini? Sebenarnya secara umum Al-Qur’an telah memberikan isyarat bahwa makanan atau minuman yang boleh dikonsumsi adalah tidak hanya memenuhi persyaratan halal (dibolehkan syariat) melainkan juga thayyib (baik).

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik (halalan thoyyiban) dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya (Q.S. Al-Maaidah [5] : 88)

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik (thoyyibaat), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S. Al-Mu’minuun [23] : 51)

Maka makanlah yang halal lagi baik (halalan thoyyiban) dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu (Q.S. An-Nahl [16] : 114)

Pengertian thoyyib (baik) itu sangat luas, dan pemahaman manusia akan makanan yang thoyyib itu berkembang sejalan dengan perkembangan pengetahuan manusia akan ilmu kedokteran dan ilmu gizi. Maka secara umum dapat dikatakan bahwa thoyyib itu bisa diartikan sebagai sehat. Dan sehat itu rumusannya bisa bermacam-macam, diantaranya memenuhi keperluan gizi, vitamin, protein, dan mineral yang diperlukan oleh tubuh. Maka Islam menyuruh umatnya untuk makan makanan yang sehat dan melarang makan makanan yang tidak sehat.

Makanlah di antara rezki yang thoyyib (baik)  yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu (Q.S. Thahaa [20] : 81)

Maka walaupun daun daunan dan zat lainnya tidak disebutkan keharamannya secara langsung pada ayat Al-Qur’an maupun hadits, namun segala sesuatu yang merusak tubuh dan membinasakan badan baik membinasakan cepat maupun membinasakan secara perlahan (yaitu efeknya baru terasa setelah mengkonsumsi bertahun-tahun) tetaplah haram. Hal ini sebagaimana keumuman ayat Al-Qur’an :

dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (Q.S. Al-Baqarah [2] : 175)

Walaupun asbabun nuzul ayat di atas yang dimaksud menjerumuskan diri dalam kebinasaan itu adalah karena mereka kikir dalam menunaikan zakat, namun keumuman makna nya tidak bisa dinafikkan bahwa menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan adalah haram. Dan merusak kesehatan tubuh, melalaikan dari kehidupan yang wajar, menyia-nyiakan waktu serta menghamburkan harta merupakan tindakan menjerumuskan diri sendiri (dan juga keluarga) pada kebinasaan.

Telah menceritakan kepada kami Al Makki bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Sa’id yaitu Ibnu Abu Hind dari Ayahnya dari Ibnu Abbas r.a. dia berkata : “Nabi s.a.w. bersabda: “Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang.” (H.R. Bukhari No. 5933)

Maka sebagaimana diceritkan oleh Yusuf Qardhawiy bahwa beliau menyaksikan sendiri ketika berkunjung ke Yaman pada akhir tahun 70-an bahwa para pecandu Al-Qot ini biasa menngkonsumsi daun ini dari zhuhur hingga maghrib, padahal itu adalah waktu yang produktif untuk bekerja mencari nafkah. Lalu tanah tanah di Yaman yang subur pun habis ditanami Al-Qot sementara mereka mengimpor gandum untuk makanan pokok mereka. (Fatawa Muashiroh Jilid 2 hal 801) Maka jelas ini merupakan penyia nyiaan waktu dan potensi yang berharga yang dilarang oleh agama.

Qadhi Yahya bin Luth Al-Fuzayyil menyangkal adanya keserupaan Al-Qot dengan narkotika. Demikikan pula sebagian orang orang yang beraliran zhahiriyah yang berpatokan pada lahiriyah teks dalil, mereka mengatakan :

Katakanlah tidaklah aku peroleh dalam wahyu yangd iwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya kecuali makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi…”  (Q.S. Al-An’aam [6] : 145)

Artinya mereka mengatakan bahwa tidak ada satupun dalil yang jelas-jelas mengharamkan daun Al-Qot dan tembakau. Tentu saja pada zaman Rasulullah s.a.w. belum ada atau belum diketahui manusia cara mengkonsumsi tanaman tanaman ini. Sebagaimana juga daun ganja, bunga opium, daun kecubung, dan tanaman lain yang tidak tumbuh di Arab atau belum ada pada zaman Rasulullah s.a.w maka semua itu pasti tidak dijumpai dalil yang menyebutnya secara langsung.

Muhammad Salim Al-Baihani mengatakan bahwa pembela Al-Qot ini telah salah menempatkan dalil. Mereka pura pura lupa pada dalil dalil umum yang mewajibkan memelihara kemaslahatan dan haramnya barang barang (atau makanan) yang tidak buruk serta keharusan menjaga diri agar tidak terjatuh ke dalam mafsadat (kerusakan). Sedangkan sudah dimaklumi bahwa daun Al-Qot sanat berpengaruh pada kesehatan badan, dapat menimbulkan kerusakan gigi, menyebabkan wasir (ambeien), merusak lambung, mengurangi nafsu makan dan menyebabkan wadi melimpah, kadang merusak sumsum, melemahkan sperna , menjadi kurus, sulit buang air besar (konstipasi) ddll. Anak anak (di Yaman) yang memakan Al-Qot berbadan lemah dan kecil pendek perawakan nya dan kekurangan darah. (Kitab Islahul Mujtama Al Baihani hal 406-408)

Maka Rasulullah s.a.w. pun dalam banyak hadits melarang untuk menjerumuskan diri sendiri dan orang lain ke dalam kemudharatan selagi ia mampu menghindarinya.

Telah menceritakan kepada kami Abdu Rabbih bin Khalid An Numairi Abu Al Mughallis berkata, telah menceritakan kepada kami Fudlail bin Sulaiman berkata, telah menceritakan kepada kami Musa bin Uqbah berkata, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yahya bin Al Walid dari Ubadah bin Ash Shamith berkata : “Rasulullah s.a.w. memutuskan bahwa tidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat.” (H.R. Ibnu Majah No. 2331) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih.

Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari ‘Amru bin Yahya Al Muzani dari Bapaknya bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak boleh membuat kemudharatan pada diri sendiri dan membuat kemudharatan pada orang lain.” (H.R. Malik dalam Al-Muwatha’ No. 1234) Semua perawinya tsiqoh

Demikian pula ketika ada suatu makanan atau minuman yang baru, Rasulullah s.a.w. bertanya apakah itu memabukkan ? Jika itu memabukkan maka termasuk khamr walaupun bukan hasil fermentasi buah-buahan.

Telah menceritakan kepada kami Abu Ar Rabi’ Al ‘Ataki dan Abu Kamil keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar r.a. dia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah khamer, dan setiap yang memabukkan adalah haram.” (H.R. Muslim No. 3733 No. 3734, Nasa’i No. 5492 No. 5603. Abu Daud  No. 3195)

Maka Muhammad Salim Al-Baihani ketika mensyarah hadits tentang segala yang memabukkan adalah haram mengatakan :  “Di sini saya mendapat peluang dan kesempatan yang tepat untuk memngatakan bahwa daun Al-Qot dan tembakau dan orang yang terkena dengan ujian kedua daun ini sangat banyak sekali, padahal keduanya merupakan musibah dan penyakit sosial yang fatal. Meskipun keduanya tidak memabukkan, tetapi bahayanya hampir sama dengan khamr dan judi karena keduanya dapat menyia-nyiakan harta, menyita waktu, dan merusak kesehatan. Selain itu keduanya dapat melalaikan orang dari melaksanakan shalat dan kewajiban penting lainnya. Ada orang yang mengatakan bahwa ini adalah sesuatu yang didiamkan oleh Allah dan tidak satupun dalil yang mengharamkannya dan melarangnya…. Saya tidak mengiyaskan haramnya Al-Qot dan tembakau dengan khamr beserta akibat dan resikonya di akhirat. Tetapi saya hanya mengatakan bahwa Al-Qot dan tembakau bahayanya mendekati khamr. Dan segala sesuatu yang membahayakan atau merusak kesehatan manusia baik pada tubuhnya, akalnya maupun hartanya, maka dia adalah haram. Da kebaikan (thoyyibat) itu adalah apa yang menenangkan jiwa dan menentramkan hati, sedangkan dosa itu adalah yang mengacaukan jiwa dan mengguncangkan dada, meskipun orang memberi alasan begini dan begitu kepadamu” (Kitab Islahul Mujtama Al Baihani hal 406-408)

Jika daun Al Qot dan Tembakau pada kondisi aslinya saja sudah dikatakan oleh Syaikh Muhammad Salim Al-Baihani seperti itu, maka bagaimana pula dengan methylon yang merupakan derivat kedua dari katinon yang memiliki efek 3 X lipat dari zat aslinya? Maka sudah sewajarnya dan kemestian jika methylon ini digolongkan sebagai narkoba yang dilarang.

Dalam sebuah wawancara di televisi seorang Arab diwawancara dan mengatakan bahwa daun ini dalam kondisi aslinya jika berguna untuk obat kuat sama seperti minuman energi lain yang memanfaatkan cafein untuk membangkitkan energi. Alasan yang sama pernah ditanyakan kepada Rasulullah s.a.w. :

Telah menceritakan kepada kami Hannad bin As Sari telah menceritakan kepada kami ‘Abdah dari Muhammad bin Ishaq dari Yazid bin Abu Habib dari Murtsad bin Abdullah Al Yazini dari Dailam Al Himyari ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w., “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami berada di negeri yang dingin, di sana kami melakukan pekerjaan berat, dan kami membuat minuman dari gandum ini agar kami kuat untuk melakukan pekerjaan kami dan tahan terhadap dinginnya negeri kami?” Beliau menjawab: “Apakah hal itu memabukkan?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Jauhilah minuman tersebut!” Aku katakan, “Orang-orang tidak meninggalkannya.” Beliau bersabda: “Apabila mereka tidak meninggalkannya maka perangilah mereka.” (H.R. Abu Daud No. 3198)

Dalam hadits di atas diceritakan alasan klasik sebagaimana yang sering kita dengar dari orang-orang, yaitu khamr itu untuk menghangatkan badan (terutama di daerah yang dingin), dan juga untuk gairah kerja (energizer atau minuman ber-energi) agar kuat bekerja. Maka soal manfaat ini Rasulullah s.a.w. tidak mempersoalkan, namun beliau bertanya apakah minuman tersebut berpotensi memabukkan? Sahabat tersebut menjawab “Ya”. Maka jika memabukkan, walaupun terdapat manfaat di dalamnya, tetaplah haram.

Oleh karena itu Allah dalam Al-Qur’an pun tidak menafikkan mengenai adanya manfaat dari khamr.

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi? Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya (Q.S. Al-Baqarah [2] : 219)

Jadi pertimbangan mengharamkan sesuatu tetap berdasarkan azas manfaat mudharat. Ketika sesuatu itu mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya, maka mengambil manfaat dari hal tersebut tetap dihindari. Harus dicari alternatif lain yang menghasilkan manfaat tanpa harus menghasilkan mudharat. Demikian pula dalam kasus daun qot atau khat ini, alasan sebagai obat kuat tidak bisa menghapus keharamannya karena ia berpotensi merusak badan, membuat kecanduan dan memabukkan (menghilangkan akal). Orang bisa melek, lupa makan, lupa capek, tidak ngantuk, gembira terus menerus, dan halusinasi, jelas termasuk katagori “menghilangkan akal”.

Ada yang mengatakan bukankah daun khat asli tidak se-berbahaya zat kimia derivatnya? Sebagaimana khmar bisa terbuat dari kurma dan anggur namun kurma dan anggur tidak lah haram? Memang secara sepintas lalu menimbang keharaman daun qot ini seolah bisa disamakan dengan kurma dan anggur atau gandum atau tumbuh tumbuhan lainnya. Khamr  bisa dibuat dari bermacam-macam buah seperti singkong, durian, air kelapa,  nira, siwalan, dll melalui proses fermentasi (peragian). Seperti minuman orang cina yang bernama putaw dibuat dari beras dan ketan atau minuman orang jawa bernama legen. Buah-buahan aslinya tidak haram. Yang haram setelah diproses menjadi khamr karena bisa memabukkan dan merusak badan. Namun kaidah ini tidak dapat diterapkan pada daun Al-Qot?

Berbeda dengan buah-buahan dan biji bijian, walaupun bisa difermentasikan menjadi khamr yang memabukkan, namun pada kondisi asalnya,buah-buahan dan biji-bijian itu bisa dikonsumsi sebagai bahan makanan biasa yang menyehatkan. Ia baru menjadi bersifat merusak ketika telah berubah menjadi khamr. Dengan kata lain buah-buah-an dan biji-biji-an tersebut masih ada alternatif pemanfaatan lain selain dijadikan khamr. Sedangkan daun qot, tidak ada manfaat lain selain memang dicari efek memforsir tubuh yang merusak itu?  Daun qot dalam kondisi aslinya tetap menimbulkan efek forsir tubuh yang merusak dan juga efek adiktif atau kecanduan. Maka tak ada alternatif mengkonsumsi daun qot itu selain dicari efek penguat nya. Perbedaan antara daun aslinya dengan zat derivatnya adalah pelipat gandaan dari efek forsir tersebut. Maka sangat berlasan jika daun nya pun dilarang karena tidak ada alternatif pemanfaatan lain selain memang sebagai narkoba. Keharaman yang sama juga bisa diqiyaskan pada semua daun daunan dan zat zat yang merusak kesehatan, seperti daun kecubung, daun terompetan, yohimbe, dll. Pemerintah sangat beralasan melarang penanaman daun qot ini.

Kaidah dan cara menimbang keharaman di atas, dapat diterapkan untuk zat-zat kimiawi lain yang berbahaya misalnya yang biasa digunakan dalam industri makanan seperti formalin, borax, pewarna kain dan olie yang disalah gunakan dalam makanan, atau zat berbahaya yang dipakai di kosmetik, dll Segala yang berbahaya bagi kesehatan tubuh adalah hukumnya haram. Dan pedagang muslimin yang beriman serta takut akan hukuman di hari kiamat serta mengetahui bahaya zat-zat ini semestinya tidak memasukkan dalam produk yang diperjual belikannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s