EUTANASIA DALAM PANDANGAN ISLAM

Gantung Diri

EUTANASIA DALAM PANDANGAN ISLAM

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Beberapa waktu lalu dalam forum ini muncul pertanyaan mengenai eutanasia apakah diperbolehkan dalam Islam. Sebagaimana biasa, ketika memulai pembahasan sesuatu, lebih dulu harus kita dudukkan apa definisinya. Eutanasia itu ada eutanasia aktif dan ada eutanasia pasif. Dan masing-masing berbeda hukumnya. Ada yang mengaitkan eutanasia dengan menggugurkan kandungan, padahal tentu saja ini sesuatu yang berbeda. Menggugurkan kandungan yang sudah pasti cacat itu (apalagi jika tidak cacat) bukanlah upaya eutanasia melainkan aborsi. Mengenai aborsi akan dibahas pada artikel yang berbeda.

EUTANASIA AKTIF ADALAH HARAM

Eutanasia aktif itu ialah ia melakukan sendiri perbuatan yaitu mengakhiri hidupnya. Apa yang ia lakukan sendiri itu adalah upaya mengakhiri hidup atau mencabut nyawa saat itu juga, secepatnya, sesegera mungkin dengan cara menyerang atau menghancurkan organ vital penunjang kehidupan. Contohnya orang yang minta disuntik mati, memotong urat nadinya, terjun dari gedung tinggi atau jurang, orang yang menabrakkan dirinya ke kereta api, melakukan upacara hara kiri (adat jepang) dengana cara menyabetkan pedang katana ke perut, dan sebagainya. Eutanasia aktif adalah haram di dalam Islam dan pelakunya diancam masuk neraka.

Telah mengabarkan kepada kami Ya’qub berkata; telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih bin Kaisan Ibnu Syihab berkata; telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Abdullah bin Ka’ab bin Malik sesungguhnya dia mengabarinya sebagian yang menyaksikan Nabi s.a.w. di Khaibar, Rasulullah s.a.w. bersabda kepada seorang laki-laki yang bersamanya, “Orang ini termasuk dari penduduk neraka. Tatkala datang pertempuran yang sangat dahsyat, orang itu berperang dengan sangat gigihnya sampai banyak lukanya, lalu beberapa sahabat Nabi s.a.w. mendatanginya.” Mereka katakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana anda mengatakan bahwa orang yang anda sebutkan adalah dari penduduk neraka, demi Allah dia telah berperang di jalan Allah dengan perang yang dahsyat dan banyak sekali lukanya.” Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dia termasuk penduduk neraka, dan sebagian orang ragu, tatkala mereka dalam keadaan demikian, lalu seorang laki-laki itu merasakan sakitnya, lalu laki-laki itu mengulurkan tangannya ke tempat panahnya dari kulit, dia mencabut panah dari kulit itu, dan dia membunuh dirinya sendiri. Beberapa orang kaum muslimin kontan mendatangi Rasulullah s.a.w. dan berkata; “Wahai Nabiyullah, Allah telah membenarkan perkataan anda. Fulan telah membunuh dirinya sendiri.” (H.R. Ahmad No. 16586)

Pada contoh hadits di atas, seorang sahabat yang ikut berjihad namun ia tidak tahan rasa sakit ketika terkena panah lalu ia membunuh dirina sendiri. Maka ini adalah contoh eutanasia aktif dan Rasulullah s.a.w. mengisyaratkan bahwa ia adalah penduduk neraka. Artinya eutanasia aktif itu adalah haram dan dosa besar.

Allah di dalam Al-Qur’an melarang perilaku bunuh diri tersebut :

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maka Penyayang kepadamu” (Q.S. An-Nisaa’ [4] : 29)

Hal ini berbeda dengan kasus seorang sahabat yang menyerang musuh sebanyak-banyaknya seorang diri sedangkan secara hitungan normal di atas kertas, ia pasti akan terbunuh. Namun hal ini bukan termasuk upaya bunuh diri atau eutanasia aktif.

EUTANASIA PASIF DIBOLEHKAN

Adapun eutanasia pasif adalah upaya untuk membiarkan dirinya menderita, dan menolak untuk ditolong hingga Allah mencabut ruhnya. Dalam hal ini ia tidak secara aktif menyerang atau menghancurkan organ penopang kehidupan. Contohnya adalah orang yang menolak dibawa ke dokter, menolak diobati, atau menolak minum obat, atau orang yang meminta agar alat bantu penapasan dan alat bantu lainnya dicabut, atau orang yang minta pulang dari rumah sakit karena tidak ada biaya lagi. Tindakan seperti ini dibolehkan dalam Islam sebagaimana kisah dalam hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Imran bin Abu Bakar dia berkata; telah menceritakan kepadaku ‘Atha` bin Abu Rabah dia berkata; Ibnu Abbas pernah berkata kepadaku; “Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita dari penduduk surga?” jawabku; “Tentu.” Dia berkata; “Wanita berkulit hitam ini, dia pernah menemui Nabi s.a.w. sambil berkata; “Sesungguhnya aku menderita epilepsi dan auratku sering tersingkap (ketika sedang kambuh), maka berdoalah kepada Allah untukku.” Beliau bersabda: “Jika kamu mau, bersabarlah maka bagimu surga, dan jika kamu mau, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu.” Ia berkata; “Baiklah aku akan bersabar.” Wanita itu berkata lagi; “Namun berdoalah kepada Allah agar (auratku) tidak tersingkap.” Maka beliau mendoakan untuknya.” (H.R. Bukhari No. 5220)

Pada hadits di atas, wanita tersebut lebih memilih pahala sabar dan tidak jadi meminta kesembuhan. Padahal kata Rasulullah s.a.w. seandainya ia mau didoakan, ia akan sembuh. Ini adalah salah satu bentuk eutanasia pasif.
Dalam contoh lainnya : beberapa sahabat malah berdoa agar minta ketularan penyakit dan akhirnya benar-benar tertular penyakit dan meninggal karena penyakit tersebut

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepadaku Aban bin Shalih dari Syahr bin Hausyab Al Asy’ari dari suami ibunya, seorang lelaki dari kaumnya yang menikahi ibunya setelah ayahnya meninggal, dia termasuk yang menyaksikan peristiwa menjangkitnya penyakit lepra yang merajalela, dia berkata : Ketika wabah merajalela, berdirilah Abu Ubaidah bin Jarrah berkhutbah di hadapan orang-orang dan berkata; “Wahai manusia! sesungguhnya penyakit ini merupakan rahmat dari Rabb kalian, doa para Nabi kalian, dan sebab kematian orang-orang shalih sebelum kalian. Dan sesungguhnya Abu Ubaidah memohon kepada Allah untuk mendapat bagian dari rahmat tersebut.” Lalu dia terjangkit penyakit lepra tersebut sehingga meninggal dunia -semoga Allah memberikan rahmat kepadanya.- kemudian Mu’adz bin Jabal menggantikan dia untuk memimpin orang-orang, kemudian dia dia berdiri menyampaikan khutbah setelah wafatnya Abu Ubaidah; “Wahai manusia, penyakit ini merupakan rahmat dari Rabb kalian, doanya para Nabi kalian dan sebab kematiannya para orang-orang shalih sebelum kalian. Dan sesungguhnya Mu’adz memohon kepada Allah agar keluarga Mu’adz mendapat bagian dari rahmat tersebut.” Kemudian Abdurrahman bin Mu’adz, anaknya terjangkit penyakit lepra sampai meninggal. Dia pun bangkit memohon kepada Rabbnya untuk dirinya, dan akhirnya dia juga terjangkit lepra di telapak tangannya. Sungguh saya melihatnya memperhatikan penyakit lepra tersebut kemudian mencium bagian atas tangannya sambil berkata; “Aku tidak senang mempunyaimu dan (aku pergunakan untuk meletakkan perhiasan) dunia ada padamu.” Ketika dia wafat, ‘Amru bin Al-Ash menggantikan kedudukannya untuk memimpin orang-orang. Kemudian dia berdiri menyampaikan khutbah di hadapan kami; “Wahai manusia! sesungguhnya jika wabah ini menjangkiti (di suatu negri) maka dia akan melahap sebagaimana menyalanya api, maka menghindarlah kalian ke gunung-gunung.” (H.R. Ahmad No. 1605)

Sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah r.a. dan Mu’adz bin Jabal r.a. serta anaknya yaitu Abdurrahman bin Mu’adz bin Jabal sengaja berdoa agar tertular penyakit lepra. Dan akhirnya mereka tertular dan meninggal karena penyakit lepra. Namun Amru bin Al-Ash bertindak lain dan menyuruh penduduk untuk mengungsi ke gunung agar tidak tertular wabah lepra. Dua sikap yang saling bertolak belakang ini dibenarkan dalam Islam, karena eutanasia pasif itu dibolehkan dengan niat mengharap pahala kesabaran serta digugurkan dosa-dosanya sebagai imbalan dari penyakit yang dideritanya. Adapun orang yang berikhtiar mencari kesembuhan atau menghindari dari wabah penyakit itu juga dibolehkan.

BEROBAT TIDAK WAJIB

Dalam pasal ini ada pertanyaan sebenarnya bagaimana sikap Islam dalam masalah berobat dan mengupayakan kesembuhan? Apakah berobat dan berikhtiar untuk sembuh itu adalah wajib? Atau sunnah? Ataukah sesuatu yang boleh-boleh saja?

Telah menceritakan kepada kami ‘Imran bin Maisarah telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail telah menceritakan kepada kami Hushain -lewat jalur periwayatan lain, – Abu Abdullah mengatakan; dan telah menceritakan kepadaku Asid bin Zaid telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Hushain mengatakan, pernah aku di sisi Sa’id bin Jubair, selanjutnya ia katakan, Ibnu ‘Abbas telah menceritakan kepadaku dengan mengatakan, Nabi s.a.w. bersabda: “Beberapa umat diperlihatkan kepadaku, maka aku melihat ada seorang Nabi lewat bersama umatnya, kemudian lewatlah seorang Nabi bersama beberapa orang, kemudian lewatlah seorang Nabi bersama sepuluh orang, dan Nabi bersama lima orang, dan seorang Nabi yang berjalan sendirian. Tiba-tiba aku melihat ada rombongan besar, maka saya tanyakan kepada Jibril; ‘Apakah mereka umatku? ‘ ‘bukan, namun lihatlah ufuk, ‘ jawab Jibril. Aku melihat, tiba-tiba ada serombongan besar. Kata Jibril; ‘Itulah umatmu, dan itu ada tujuh puluh ribu orang mula-mula yang masuk surga dengan tanpa hisab dan tanpa siksa.’ Saya bertanya; ‘Mengapa mereka bisa seperti itu? ‘ Jibril menjawab; ‘Karena mereka tidak minta di obati (dengan) kay (ditempel besi panas), tidak minta diruqyah dan tidak meramal nasib dengan burung, dan kepada rabb-Nya mereka bertawakkal.” ‘Ukkasyah bin Mihshan berdiri seraya berujar; “doakanlah aku, agar Allah menjadikan diriku diantara mereka!” Nabi berdoa; “Ya Allah, jadikanlah dia supaya diantara mereka!” Lantas laki-laki lainnya berdiri dan berujar; “Jadikanlah aku diantara mereka!” Nabi menjawab; “kamu sudah didahului ‘Ukkasyah.” (H.R. Bukhari No. 6059)

Hadits di atas menceritakan bahwa 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab (perhitungan amal baik dan buruk) adalah orang yang tidak minta berobat dengan kay maupun ruqyah. Berdasarkan hadits ini sebagian ulama berpendapat bahwa berobat itu tidak wajib.

Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ia berkata; aku mendengar Hushain berkata; Ketika aku di tempat Sa’id bin Jubair, ia berkata; dari Ibnu Abbas; bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Akan masuk ke dalam surga tanpa hisab dari umatku sebanyak tujuh puluh ribu.” Maka aku bertanya; “Siapakah mereka itu?” beliau menjawab; “Mereka yang tidak minta diruqyah, tidak pernah bertathayyur, tidak ber’iyafah (meramal alamat baik) dan kepada Rabb merekalah, mereka bertawakal” (H.R. Ahmad No. 2800)

Dalam hadits lainnya dikatakan bahwa jika ada wabah di suatu kota maka tidak boleh keluar dari kota tersebut agar tidak menulari orang lain namun jika belum terlanjur masuk maka jangan masuk agar tidak tertular:

Telah bercerita kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah berkata, telah bercerita kepadaku Malik dari Muhammad bin Al Munkadir dan dari Abu an-Nadlar, maula ‘Umar bin ‘Ubaidullah dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abu Waqash dari bapaknya bahwa dia (‘Amir) mendengar bapaknya bertanya kepada Usamah binZaid; “Apa yag pernah kamu dengar dari Rasulullah s.a.w. tentang masalah tha’un (wabah penyakit sampar, pes, lepra)?”. Maka Usamah berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tha’un adalah sejenis kotoran (siksa) yang dikirim kepada satu golongan dari Bani Isra’il atau kepada umat sebelum kalian. Maka itu jika kalian mendengar ada wabah tersebut di suatu wilayah janganlah kalian memasuki wilayah tersebut dan jika kalian sedang berada di wilayah yang terkena wabah tersebut janganlah kalian mengungsi darinya”. (H.R. Bukhari No. 3214)

Maka dengan kata lain yang sudah terlanjut terkena wabah di dalam kota, jika tidak ada obat di kota tersebut boleh bersabar menderita dengan wabah tersebut.
Namun Alalh dalam Al-Qur’an mengisyaratkan adanya obat baik itu obat non-medis yaitu Al-Qur’an maupun obat medis yang diminum seperti madu :

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman (Q.S. Yunus [10] : 57)

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman (Q.S. Al-Israa’ [17] : 82)

Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin (Q.S. Al-Fushilat [41] : 44)

Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. (Q.S. An-nahl [16] : 69)

Tidak mungkin tidak diperintahkan berobat sementara Al-Qur’an mencantumkan adanya obat.

Dalam berbagai hadits lain diriwayatkan adanya perintah dari Rasulullah s.a.w. untuk berobat

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubadah Al Wasithi telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Isma’il bin ‘Ayyasy dari Tsa’labah bin Muslim dari Abu Imran Al Anshari dari Ummu Ad Darda dari Abu Ad Darda ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan bagi setiap penyakit terdapat obatnya, maka berobatlah dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram!” (H.R. Abu Daud No. 3376)

Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Mu’adz Al ‘Aqadi, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Ziyad bin Ilaqah dari Usamah bin Syarik ia berkata; Para orang Arab baduwi berkata, “Wahai Rasulullah, Tidakkah kami ini harus berobat (jika sakit)?” Beliau menjawab: “Iya wahai sekalian hamba Allah, Berobatlah sesungguhnya Allah tidak menciptakan suatu penyakit melainkan menciptakan juga obat untuknya kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya, “Penyakit apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu penyakit tua (pikun).” (H.R. Tirmidzi No. 1961)

Abu Isa (Tirmidzi) berkata; Hadits semakna diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah, Abu Khuzaimah dari bapaknya dan Ibnu Abbas. Dan ini merupakan hadits hasan shahih.

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Hisyam bin ‘Ammar keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari Ziyad bin ‘Ilaqah dari Usamah bin Syarik dia berkata, “Saya menyaksikan beberapa orang Arab badui bertanya kepada Nabi s.a.w.,” Mereka bertanya “Wahai Rasulullah, berdosakah kami jika kami tidak berobat?” beliau menjawab: “Wahai hamba Allah, berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah Subhaanahu tidak menurunkan penyakit melainkan kecuali Dia juga menurunkan obatnya, kecuali sakit pikun.” (H.R. Ibnu Majah No. 3427)

Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Harb berkata, saya telah mendengar ‘Imran yang buta berkata: saya mendengar Anas berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah ‘azza wajalla ketika menciptakan penyakit, juga menciptakan obat, maka berobatlah kalian.” (H.R. Ahmad No. 12136)

Maka kesimpulannya berobat itu memang tidak wajib namun sunnah dan sangat disarankan jika memang bisa diupayakan dan secara ekonomi mampu. Karena isyarat adanya obat dalam Al-Qur’an dan perintah berobat dalam hadits minimal mencapai derajat sunnah (kalaupun bukan wajib)

Sunnahnya berobat itu ialah jika masih bisa diupayakan obatnya dan manusia pada masa itu telah mengetahui obatnya. Hal ini diisyaratkan dengan kalimat bahwa Allah tidak menurunkan penyakit melainkan Dia juga menurunkan obatnya. Memang hal ini benar. Namun yang jadi masalah, apakah manusia pada masa itu telah mengetahui obatanya? Jika tidak, maka berobat itu tidak wajib dan bersabar menderita penyakit itu memilik balasan pahala tersendiri dari Allah. Maka bersabar dengan penyakit dan menolak berobat adalah bentuk eutanasia pasif. Wallahua’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s