HUKUM KB DAN ALAT KONTRASEPSI DALAM PANDANGAN ISLAM (JILID 1)

gembok cinta

HUKUM KB DAN ALAT KONTRASEPSI DALAM PANDANGAN ISLAM (JILID 1)

Image
Telah sampai kepada kami pertanyaan mengenai KB (keluarga berencana) dalam pandangan Islam. Seperti biasanya, sebelum membahas sesuatu kita harus dudukkan dulu apa definisi KB yang Anda tanyakan? Namun apapun definisinya, secara sederhananya kita definisikan saja KB yang dimaksud di sini adalah upaya pencegahan kehamilan.

Lalu apa tujuan atau motivasi dari ber-KB itu? Apakah dilakukan dalam kerangka pernikahan atau di luar pernikahan ? Jika dilakukan di luar pernikahan, perilaku itu sendiri adalah zina dan zina adalah haram dan dosa besar. Maka upaya pencegahan kehamilan di luar pernikahan hanya akan membuat para pelaku dosa menjadi semakin bebas dan tidak takut dengan resiko kehamilan. Maka upaya pencegahan kehamilan dalam konteks zina tidak perlu dibahas karena zina nya itu sendiri sudah haram.

Dan terakhir bagaimana caranya ber-KB apakah permanen (irreversible) atau non permanen (reversible). Semua aspek di atas menentukan boleh tidaknya dan haram tidaknya KB.

TUJUAN PERKAWINAN UNTUK MEMILIKI KETURUNAN

Salah satu tujuan dari orang menikah adalah untuk memiliki keturunan. Maka berketurunan itu adalah hak asasi manusia dan berkembang biak adalah hak makhluk hidup. Berbeda dengan binatang yang boleh berkembang biak tanpa melalui lembaga pernikahan, maka manusia harus menikah terlebih dahulu jika ingin berketurunan. Maka salah satu tujuan dari pernikahan adalah untuk berketurunan :
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan untuk kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak (ada) pasangan-pasangannya (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. (Q.S. Asy-Syuura [42] : 11)

Pada ayat di atas perkataan “dijadikan kamu berkembang biak dengan jalan itu” menunjukkan bahwa berpasang-pasangan, menikah dan bersetubuh merupakan mekanisme untuk spesies manusia berkembang biak. Maka berkembang biak merupakan salah satu ciri makhluk hidup sehingga merupakan hak asasi semua makhluk hidup.

Dalam berbagai ayat Al-Qur’an penjelasan mengenai pernikahan diikuti dengan pernyataan mengenai berketurunan atau berkembang biak. Misalnya pada ayat yang sering tercantum dalam undangan pernikahan berikut ini :

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir . (Q.S. Ar-Ruum [30] : 21)

Pernyataan pernikahan pada Q.S. Ar-Ruum : 21 di atas, ternyata didahului dengan pernyataan mengenai reproduksi atau berkembang biak, yaitu pada ayat sebelumnya :

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. (Q.S. Ar-Ruum [30] : 20)

Hal ini menunjukkan bahwa memang salah satu tujuan dari pernikahan itu adalah reproduksi yaitu berketurunan dan berkembang biak. Maka tidak boleh ada sebuah pembatasan atau pelarangan untuk berketurunan. Maka KB jika maksudnya untuk membatasi atau melarang berketurunan adalah haram dalam Islam.

Demikian pula dalam ayat lainnya, kita dapati pula bahwa pernyataan mengenai berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan diikuti dengan pernyataan mengenai mengandung dan melahirkan.

Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. (Q.S. Al-Faathir [35] : 11)

Hal ini menunjukkan bahwa hikmah dari pernikahan adalah memiliki anak, sehingga tidak boleh seseorang yang menikah dilarang untuk mengandung, dibatasi kehamilannya atau dibatasi memiliki keturunan.

Dalam sebuah doa yang diajarkan kepada kita dalam Al-Qur’an juga merangkaikan antara permohonan dianugerahi isteri dengan permohonan dianugerahi keturunan :
Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa (Q.S. Al-Furqaan [25] : 74)

Perhatikanlah bahwa pada ayat di atas, kosa kata azwaaj(pasangan-pasangan) dan keturunan (dzuriyaat) dinyatakan dalam bentuk jamak (plural) dari zauj dan dzariyaat, maka hal ini mengisyaratkan Islam mendorong untuk memperbanyak keturunan.

MEMILIKI ANAK ADALAH PERINTAH AGAMA

Jika kita katakan berketurunan dan memiliki anak itu adalah hak asasi manusia maka bisa saja orang mengatakan bahwa hak asasi dia pula untuk tidak mau memiliki keturunan. Seperti di dunia Barat saat ini dimana pernikahan hanya untuk kebutuhan sex saja dan tidak suka memiliki banyak anak bahkan sama sekali tidak mau punya anak.

Dalam adat Timur, jika seorang isteri hamil, hal ini merupakan berita gembira dan disambut dengan suka cita oleh sang suami. Sedangkan di Barat, jika seorang isteri membiarkan dirinya hamil tanpa lebih dulu membicarakan kesepakatan dengan suaminya, bisa-bisa suaminya marah dan meninggalkannya. Di Barat kehamilan dan memiliki anak merupakan perkara besar yang bisa menimbulkan pertengkaran rumah tangga. Karena orang Barat mau enak tapi tidak mau anak. Lembaga perkawinan pun sudah tidak memiliki makna lagi karena orang Barat hanya menyukai sex namun tidak menyukai komitmen pernikahan, bertanggung jawab menafkahi dan memiliki anak.

Sedangkan dalam Islam, nikah itu sunnah dan setelah menikah diperintahkan untuk segera punya anak. Tidak boleh seorang muslim bersedia menikah namun tidak bersedia memiliki anak.

Telah menceritakan kepada kami Musaddad dari Husyaim dari Sayyar dari Asy Sya’bi dari Jabir ia berkata; Aku pernah berada bersama Rasulullah s.a.w. dalam suatu peperangan. Ketika perjalanan pulang aku terburu-buru melajukan Untaku, lalu seorang pengendara dari arah belakang menghampiriku. Maka aku memalingkan muka, ternyata ia adalah Rasulullah s.a.w. Lalu beliau bersabda “Kalau bisa segeralah punya anak, kalau bisa segeralah punya anak wahai Jabir.” (H.R. Bukhari No. 4844)

Dari Syu’bah berkata Rasulullah s.a.w. bersabda : “Hendaklah kamu mempercepat punya anak, hendaklah kamu mempercepat punya anak” (H.R. Bukhari No. 4845)

Rasulullah s.a.w. melarang kita membujang dan memerintahkan kita untuk memiliki banyak keturunan sehingga diperintahkan pula untuk menikahi wanita yang subur banyak anak.

Dari Anas bin Malik r.a. berkata, “Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak(subur) karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat” (H.R. Ahmad jilid 2 hal 171-172 dan Ibnu Hibban Jilid 9 Hal 338)

Hadits ini juga dikuatkan oleh hadits lain dari Abu Daud, An-Nasa’i dari jalur hadits Ma’qil bin Yasar yang menyatakan agar jangan menikah dengan wanita yang mandul (tidak bisa punya anak).

Dari Ma’qil bin Yasar r.a. berkata, “Datang seorang pria kepada Nabi s.a.w. dan berkata, “Aku menemukan seorang wanita yang cantik dan memiliki martabat tinggi namun ia mandul apakah aku menikahinya?”, Nabi s.a.w. menjawab, “Jangan !”, kemudian pria itu datang menemui Nabi s.a.w. kedua kalinya dan Nabi s.a.w. tetap melarangnya, kemudian ia menemui Nabi s.a.w. yang ketiga kalinya maka Nabi s.a.w. berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak(subur) karena aku akan berbangga dengan jumlah kalian dihadapan umat-umat yang lain (H.R. Abu Daud, dan Nasa’i )

Hadits di atas dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban. Nashiruddin Al-Albani juga mengatakan hadits ini shahih dalam Irwa’ul Ghalil No. 1784

berarti wanita yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang yang sangat besar terhadap suaminya. Sedangkan Al-Walud (subur), artinya banyak anak.

Menurut Al-Munawi, “Al-Waduud (Penyayang) yaitu yang sangat mencintai suaminya, lemah lembut jika berbicara dengannya, selalu melayaninya, penuh adab (dihadapan) suaminya dan selalu tersenyum manis…” (Faidhul Qodir Jilid 3 hal 242)

KB UNTUK MENGENDALIKAN POPULASI

Setelah kita mengetahui tujuan perkawinan adalah untuk memiliki keturunan, dan ciri makhluk hidup adalah berkembang biak, maka pembatasan keturunan (misal dibatasi 1 atau 2 anak saja) itu adalah melanggar hak asasi manusia.
Jika yang dimaksud KB di sini adalah pembatasan keturunan (seperti halnya saat ini diterapkan di RRC hanya boleh 2 anak saja, dan jika lebih dari itu maka kandungan wajib digugurkan dan kepala keluarga bia mendapat hukuman, maka hal itu adalah sebuah pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Terlebih jika pembatasan kelahiran ini hanya dikhususkan bagi umat Islam saja dengan tujuan membatasi perimbangan demografi (komposisi penduduk) suatu negara, sebagaimana baru-baru ini diterapkan di Myanmar dimana muslim Rohingya dilarang memiliki anak banyak, juga diterapkan aturan pembatasan kelahiran pada muslim Xinjiang (Turkmenistan) maka hal ini juga merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Maka jika ada upaya untuk membatasi atau mengendalikan pertumbuhan populasi umat Islam, maka umat Islam wajib melawannya dan berupaya melakukan sebaliknya, yaitu memperbanyak populasi umat Islam agar unggul dari umat lainnya.
Banyak Anak Adalah Jihad Demografi

Saat ini struktur demografi di banyak negara Eropa adalah seperti piramida terbalik. Artinya usia tua dan tidak produktif lebih banyak daripada usia produktif dan anak-anak. Itu juga artinya angka kematian nantinya akan lebih besar daripada angka kelahiran. Hal ini terjadi karena orang Barat tidak suka direpotkan memiliki anak. Mereka juga lebih suka sex daripada membina rumah tangga. Mereka juga lebih suka bebas berganti pasangan daripada terikat pada pasangannya. Maka lembaga perkawinan pun sudah tidak penting. Lebih banyak yang kumpul kebo daripada nikah secara resmi.

Dalam situasi demikian itu, umat Islam menjadi umat yang paling pesat pertumbuhannya di Eropa. Hal ini salah satunya disebabkan karena rata-rata umat Islam memiliki banyak anak. Jika jumlah anak-anak orang Eropa dibagi dengan jumlah suami isteri, maka hanya menunjukkan angka 1,2 anak per suami isteri. Sedangkan di kalangan umat muslim di Eropa angkanya adalah 3,8 anak per suami isteri. Dengan perbandingan ini diperkirakan pada tahun 2050 umat Islam menjadi mayoritas di Eropa. Untuk itu Eropa melarang poligami dan poligami adalah perilaku kriminal yang bisa dikenai hukum pidana. Andaikan poligami dibolehkan di Eropa, maka populasi umat Islam akan lebih meledak lagi.

Setelah menikah, tugas seorang muslim selanjutnya adalah bagaimana membina rumah tangga robbani dan mencetak generasi muda Islam yang taat dan komit pada agama. Jangan sampai generasi muda Islam rusak dan mengikuti gaya hidup orang Barat. Maka dengan cara sepertI ini populasi muslim akan melebihi populasi non-muslim dalam waktu singkat. Maka tidak perlu melakukan revolusi jihad bersenjata. Karena bom demografi lebih dahsyat daripada bom mesiu. Oleh : Abu Abuakmal Mubarok

BERSAMBUNG JILID 2

3 thoughts on “HUKUM KB DAN ALAT KONTRASEPSI DALAM PANDANGAN ISLAM (JILID 1)

  1. Saya rasa… kita tak boleh nak kira pendapat kita ajer… pendapat org lain patut juga di beri keutamaan. Tahniah admin atas pos yg bermanafaat.

  2. Terus terang saya kater… blog nie .. memang terbaikklahhh🙂

  3. Ropingi el Ishaq says:

    sepakat bahwa kuantitas umat muslim dapat menjadi kekuatan dakwah, tetapi jika hanya kekuatan yang bersifat kuantitas, belum bisa menjadi kekuatan yang diandalkan. bukankah di beberapa negara muslim jumlah umat muslimnya mayoritas? tapi mengapa masih juga dapat dikalahkan oleh negara-negara non muslim? hal itu karena kuantitas besar umat muslim tidak diikuti oleh kualitas, sehingga seperti buih di lautan yang diombang-ambingkan oleh ombak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s