TRADISI NYADRAN

Nyadran

ANTARA ZIARAH KUBUR DAN NYADRAN

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Timbul pertanyaan di forum ini apakah nyadran itu boleh dilakukan oleh umat Islam? Aakah ada dalil yang menjadi sandaran bagi kegiatan ini? Pertama-tama perlu dipahami bahwa tradisi “nyadran” ini berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Sang penanya menguraikan tradisi nyadran berupa ziarah kubur menjelang bulan ramadhan, membersihkan kuburan kerabat dan ada beberapa keluarga yang menambahinya dengan memberi shodaqoh pada fakir miskin. Sebagian keluarga lain ada yang mengadakan kenduri, kumpul dengan sanak keluarga, mirip seperti mudik lebaran.

Namun di tempat yang disebut nyadran disamping mengadakan ziarah kubur juga melakukan makan-makan di kuburan beramai-ramai dengan menggelar daun pisang. Sedangkan di beberapa daerah di pantai utara Jawa, tradisi nyadran ini disertai dengan melarung sesaji ke laut ada yang disertai dengan pagelaran wayang kulit, orkes dangdut dll. Maka pembahasan mengenai boleh tidaknya nyadran ini tidak bisa dipukul rata, melainkan harus ditinjau berdasarkan apa motovasinya (niatnya), dan kedua, bagaimana teknis pelaksanaannya (acaranya).

ASAL USUL ISTILAH NYADRAN

Dalam buku kalangwan (tahun 1974) karangan seorang orientalis Belanda bernama P.J. Zoetmulder, istilah nyadran sendiri berasal dari istilah sadran, sraddha, nyraddha, nyraddhan yang disebut-sebut dalam kiitab Kidung Buwana Sekar yaitu upacara sekar (bunga) untuk memperingati kematian Ratu Tribuwana Tungga Dewi tahun 1350. Upacara sraddha ini berlangsung sejak jaman Majapahit. Dari sini pula timbul istilah lain dari ziarah kubur di jawa yaitu “nyekar”.

Kalau melihat asal muasal kata nyadran maka timbullah antipati dari sebagian orang karena kecemburuan dan ketidak relaan karena istilah ini berasal dari upacara agama Hindu di Jawa. Lalu mereka menampilkan hadits bahwa barang siapa menyerupai suatu kaum maka termasuk dalam kaum itu.

Hadits ini benar namun tidak bisa dipukul rata bahwa setiap hal yang sama itu pasti meniru. Jika umat Islam melakukan ziarah kubur dan umat non-muslim juga melakukan ziarah kubur maka tidak bisa dikatakan bahwa hal ini menyerupai non-muslim. Karena ziarah kubur memang juga diperintahkan dalam Islam. Sebagaimana pula jika umat Islam puasa lalu umat lain puasa, maka tidak berarti ini meniru-niru umat lain.

Bahwasanya asal muasal istilah nyadaran itu dari upacara Hindu Majapahit, maka itu wajar karena memang sebagian besar nenek moyang bangsa indonesia adalah mantan Hindu. Sehingga apa yang memang dibolehkan dalam Islam, ya tradisi itu boleh dilakukan. Sedangkan apa yang tidak dibolehkan dalam Islam, maka tradisi itu tidak boleh dilakukan.

Adapun jika dipahami bahwa aktifitas nyadran itu meniru upacara memperingati kematian Tribuwana Tungga Dewi, bisa ya bisa tidak. Dari segi istilah iya, namun dari segi aktifitasnya berbeda. Kita tidak tahu persis bagaimana tata cara upacara sradha Tribuwana Tungga Dewi jaman Majapahit dulu, saya yakin tidak semata menziarahi kuburan Tribuwana Tungga Dewi melainkan juga ada ritual lainnya.

Saya yakin menziarahi kuburan Tribuwana Tungga Dewi dahulu tidak dilakukan sebelum Ramadhan, karena bulan Ramadhan saja mereka tidak kenal. Yang ada pada zaman Majapahit memiliki kalender sendiri. Sedangkan nyadran pada zaman sekarang pun aktifitas nya bermacam-macam, ada yang memahaminya sebagai ziarah kubur ada juga yang melarung sesaji ke laut. Maka pembahasan boleh tidaknya nyadran tidak tepat jika ditinjau dari segi istilah, melainkan harus ditunjau segi aktifitasnya.

ZIARAH KUBUR DIANJURKAN AGAMA

Pertama perlu dipahami bahwa ziarah kubur itu pada awalnya memang dimakruhkan terutama untuk kaum wanita karena dikhawatirkan kebiasaan meratapi mayit yang berlebihan serta berbagai khurafat kepercayaan di masa jahiliyah :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Muhammad bin Juhadah ia berkata; saya mendengar Abu Shalih menceritakan dari Ibnu Abbas berkata : “Rasulullah s.a.w. melaknat para wanita yang menziarahi kuburan (H.R. Abu Daud No. 2817)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Umar bin Abu Salamah dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah s.a.w. melaknat wanita-wanita yang menziarahi kuburan. (H.R. Tirmidzi No. 976) Abu Isa (Tirmidzi) berkata; “Ini merupakan hadits hasan shahih.
Namun pada masa berikutnya Rasulullah s.a.w. memberikan keringanan (rukhshoh) dibolehkan melakukan ziarah kubur :

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’id Al Jauhari berkata, telah menceritakan kepada kami Rauh berkata, telah menceritakan kepada kami Bistham bin Muslim ia berkata; aku mendengar Abu At Tayyah berkata; aku mendengar Ibnu Abu Mulaikah dari ‘Aisyah berkata, “Rasulullah s.a.w. memberi keringanan untuk ziarah kubur. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1559)

Dan kemudian akhirnya bahkan Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk menziarahi kuburan untuk mengigatkan manusia akan kematian dan hari akhirat :

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid dari Yazid bin kaisan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ziarahilah kubur, sesungguhnya ia dapat mengingatkan kalian dengan akhirat. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1558)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Mu’arrif bin Washil dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu Buraidah dari ayahnya, ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda: “(Dulu) Aku melarang kalian menziarahi kuburan, sekarang berziarahlah ke kuburan, karena dalam berziarah itu terdapat peringatan (mengingatkan kematian).” (H.R. Abu Daud No. 2816)

Maka larangan ziarah kubur dari Rasulullah s.a.w. ini telah dibatalkan :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar dan Mahmud bin Ghailan dan Al Hasan bin Ali Al Khallal mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim An Nabil telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari Bapaknya berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda: “Saya pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang telah diizinkan untuk Muhammad menziarahi kuburan ibunya, maka berziarahlah, karena (berziarah kubur itu) dapat mengingatkan akhirat.” (H.R. Tirmidzi No. 974)

Abu Isa (Tirmidzi) berkata “Sebagian ulama berpendapat bahwa larangan ziarah kubur adalah sebelum adanya keringanan dari Nabi s.a.w. mengenai bolehnya menziarahi kuburan. Setelah beliau memberikan keringanan di dalamnya, termasuk di bagi laki-laki maupun perempuan. Adapun sebagian ulama berpendapat tetap makruhkan wanita berziarah kubur karena sedikitnya kesabaran dan banyaknya keluh kesah mereka sehingga dikhawatirkan meratap di kuburan.”

Selanjutnya Abu Isa (Tirmidzi) berkata; “Hadits Buraidah adalah hadits hasan sahih. Ulama mengamalkannya mereka berpendapat bahwa ziarah kubur tidak mengapa. Ini adalah pendapat Ibnu Mubarok (tokoh tabi’in), Syafi’i (madzhab syafi’i), Ahmad bin Hambal (madzhab hambali) dan Ishaq

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, jika nyadran itu didefinisikan sebagai ziarah kubur itu boleh bahkan dianjurkan. Namun perlu dipahami bahwa sebenarnya ziarah kubur tidak harus sebelum ramadhan, melainkan kapan saja bisa dilakukan. Namun jika momen yang ada adalah sebelum ramadhan maka hal itu tidak mengapa asalkan jangan timbul keyakinan bahwa jika ziarah di waktu lain tidak afdhol, dan juga salah jika ada keyakinan bahwa jika tidak melakukan nyadran sebelum bulan ramadhan maka puasanya tidak sah atau hidupnya bakal tidak berkah. Maka keyakinan yang salah itu adalah salah. Adapun ziarahnya tetap benar.

SHODAQOH SEBELUM RAMADHAN

shodaqoh dan memberi makan fakir miskin dan anak yatim jelas dianjurkan dalam agama.

Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar, Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin (Q.S. Al-Haaqah [69] : 33-34)

Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin (Q.S. Al-Mudatsir [74] : 43-44)

Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (Q.S. Al-Maa’uun [107] : 2-3)

Jika nyadran itu disertai dengan shodaqoh kepada fakir miskin dan anak yatim, baik itu berupa uang, atau diberikan makanan nasi kotak, atau sembako, maka hal itu adalah baik. Tradisi ini pernah dilakukan oleh Mush’ab bin Az-Zubair r.a. yang membagikan uang kepada para pembaca qur’an di kota Kufah. Tentu saja hal ini belum pernah dilakukan pada zaman Rasulullah s.a.w. dan semata inisiatif Mush’ab bin Az-Zubair r.a.

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Sa’id telah mengabarkan kepada kami Abdus Sallam dari Abdullah bin Al walid Al Muzani dari ‘Ubaid bin Al Hasan ia berkata: “Ketika memasuki bulan Ramadlan, Mush’ab bin Az Zubair membagikan hartanya kepada para qari` kota Kufah kemudian ia mengirimkan untuk Abdur Rahman bin Ma’qil sebanyak dua ribu dirham sambil berkata: ‘Gunakan uang ini untuk keperluanmu sebulan ini’. Tetapi Abdur Rahman bin Ma’qil berkata: ‘Kami tidak membaca Al-Qur`an untuk hal ini’ “. (Atsar R. Ad-Darimi No. 573) Husain Salim Assad Ad-Daroni mengatakan sanadnya shahih.

Dari atsar di atas kita tahu tercatat dalam sejarah inisiatif yang dilakukan oleh Mush’ab bin Az-Zubair r.a. membagikan uang kepada para qori’
Nyadran Dengan Makan-Makan Di Kuburan

Demikian pula jika nyadran itu diisi dengan shodaqoh, memberi makan anak yatim dan faqir miskin, itu sangat dianjurkan oleh agama. Namun kalaupun makan-makan nya itu hanya di kalangan kerabat dan keluarga, maka memberi makan kerabat dan sanak saudara itu juga baik dan tetap bernilai shodaqoh dan mendapat pahala jika tidak disertai dengan pamer atau riya’.

Jika makan-makan itu dilakukan di kuburan, dengan menggelar daun pisang dijajar memanjang, maka hal ini adalah tidak sepantasnya demikian. Tidak selayaknya pula kita mengadakan kenduri di kuburan lebih baik acara makan-makan itu di rumah. Namun, jika maka yang diziarahi itu berada jauh di luar kota, lalu rombongan kerabat ini datang dari jauh mengendari bis atau mencarter minibus, lalu selesai ziarah mereka makan karena lapar, maka hal itu boleh-boleh saja, asalkan tidak di areal kuburan. Boleh dilakukan di dalam bis, atau menyingkir keluar dari areal kuburan.

NYADRAN DENGAN MELARUNG SESAJI DI LAUT

Jika nyadran itu disertai dengan persembahan sesaji (sesajen) kepada jin, nyai loro kidul (ratu jin pantai selatan) maka jelas hal ini adalah haram dan merupakan bid’ah yang dlolalah (sesat). Demikian pula persembahan dan sesaji kepada arwah leluhur adalah sesat. Karena arwah itu berada di alam barzakh dan tidak butuh makanan fisik. Apa yang sering disebut-sebut sebagai arwah yang muncul di alam kita itu hanyalah rekayasa dan tipu daya jin, yang menjelma dan mengaku-ngaku sebagai arwah orang yang sudah meninggal.

Baik waktu nyadran maupun waktu apapun, kita tidak boleh menyembah jin terlebih jin-jin yang minta sesaji itu pasti adalah jin kafir.

Keyakinan bahwa jin itu adalah penguasa atau penunggu wilayah tertentu, gunung, pohon, batu, bangunan tertentu dan lain-lain adalah keyakinan yang sesat. Karena jin itu hanyalah makhluk Allah biasa sebagaimana anjing, kucing, tumbuhan, bakteri, virus dan makhluk hidup ciptaan Allah lainnya, hanya bedanya jin itu tidak kelihatan dan satu dua jin memiliki kemampuan tertentu.

Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin kebanyakan mereka beriman kepada jin itu “ (Q.S. Saba [34]:41)

Keyakinan bahwa jin itu bisa mendatangkan rezeki atau keberkahan jelas adalah keyakinan yang sesat. Karena jin itu tidak mengetahui hal yang ghaib, dan ia tidak menguasai rezeki manusia. Adapun jin memang bisa saja bertingkah merusak hasil panen, mengusir ikan di laut, hal ini sebagaimana perilaku preman dan tukan peras jika tidak dikasih uang ia akan berulah dan membuat onar. Maka aksi premanisme oleh jin seperti ini harus dilawan dan diberantas dan bukan dilestarikan.

Keyakinan bahwa jin itu bisa mendatangkan malapetaka jika tidak diberi sesaji maka hal itu juga sama seperti aksi preman dari bangsa manusia. Jika tidak diberi uang, maka jalan kita akan dihalangi, dagangan kita menjadi tidak laku, panen kita menjadi gagal, tangkapan nelayan menjadi sedikit dan bahkan nyawa kita diancam. Maka memberi sesaji pada jin itu sama saja dengan memberi upeti kepada preman dan penjahat, agar kita terlindung dari kejahatan mereka.

Barangsiapa yang menjadikan syaithan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata” (Q.S. An-Nisaa [4] : 119)

Sungguh bodoh orang yang berlindung dan memohon pertolongan kepada jin-jin terkutuk itu. Karena sesunguhnya jin itu tidak mau menolong manusia

Sesungguhnya setan itu tidak mau menolong manusia (Q.S. Al-Furqon [25] : 29)

Maka kalau pun setan itu menolong manusia pasti ada maunya dan akan meminta imbalan kekafiran dan kezhaliman. Banyak sekali orang yang meminta kekayaan dan meminta kesaktian kepada jin, harus melakukan syarat-syarat yang keji seperti memakan darah dan mayat, membunuh orang, menyobek Al-Qur’an dll.

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan (Q.S. Al-Jin [72] : 6)

Maka kalaupun setan itu memberikan rezeki dan kemakmuran kepada manusia sungguh tidak sepadan ditukar dengan kesyirikan, kesesatan dan kerusakan yang ditimbulkan di belakang hari. Maka segala ritual penyembahan dan pemberian sesaji kepada jin dan arwah (buatan jin) adalah haram.

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan” (Q.S. Al-A’raaf [7] : 27).

Wallahua’lam

2 thoughts on “TRADISI NYADRAN

  1. Blog awak nie agak popular kat FB … ramai kawan2 share pos2 dari blog awak…
    saya nak mintak izin share gak la ..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s