DZIKIR DIKERASKAN APAKAH BID’AH? (JILID 1)

DZIKIR DIKERASKAN APAKAH BID’AH? (JILID 1)

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Secara umum atau dalam kondisi umum, maka berdoa kepada Allah itu sebaiknya dilakukan dengan suara yang lembut dan tidak melampaui batas. Tidak melampaui batas di sini adalah tidak dikeraskan.

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut (tadlarru’aa  wa khufyah). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (Q.S. Al-A’raaf [7] : 55)

Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa tadllarru’a adalah merendahkan diri sedangkan khufyah ialah suara yang berbisik (Tafsir Jalalain Jilid 2 Hal 643)

Dalam Tafsir Ibnu Jarir disebutkan bahwa tadlarru’a ialah berendah diri dan tenang dalam ketaatan kepadaNya. Yang dimaksud dengan khufyah ialah dengan hati yang khusyuk, penuh keyakinan kepada Keesaan dan KekuasaanNya terhadap semua yang ada antara kalian dan Dia, bukan dengan suara yang keras untuk pamer.

Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ata AlKhurrasani, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan maksud dari ayat  “tadlarru’aa  wa khufyah”  Yang dimaksud dengan khilfah ialah suara yang pelan. Sehubungan dengan makna firman-Nya di atas, Ibnu Juraij mengatakan bahwa makruh mengeraskan suara, berseru, dan menjerit dalam berdoa; hal yang diperintahkan ialah melakukannya dengan penuh rasa rendah diri dan hati yang khusyuk. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8 Hal. 358)

Namun Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menafsirkan ayat berikut ini :

Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan  tadlarru’a wa khufyah (lalu mengatakan) : “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur” (Q.S. Al-An’aam [6] : 63)

mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “tadlarru’aa” adalah suara yang keras sedangkan khufyah adalah suara yang lembut. Sehinga terjemahannya semestinya adalah : “Kamu berdoa kepadaNya dengan suara yang keras dan suara yang lembut” (Tasfsir Ibnu Katsir Jilid 7 Hal 310)

Demikian pula berzikir, baik dzikir itu isinya adalah asma-asma Allah atau kalimat pujian kepada Allah (kalimat thoyyibah) maka dalam kondisi normal sebaiknya dilakukan dengan suara yang lembut sebagaimana firman Allah sebagi berikut :

Dan berdzikir lah kepada Rabb kalian dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (tadlarru’aa  wa khufyah), dan dengan tidak mengeraskan suara (wa duuna jahri min qoul), di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.  (Q.S. Al-A’raaf [7] : 205)

 

Ketika menafsirkan ayat di atas Ibnu Katsir mengatakan : “Artinya, sebutlah nama Tuhanmu dalam dirimu dengan penuh rasa harap dan takut, yakni dengan suara yang tidak terlalu keras. Untuk itulah maka dzikir disunatkan dilakukan bukan dengan ucapan yang keras sekali” (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9 Hal 299-300)

Sehubungan dengan hal ini Rasulullah s.a. w pernah ditanya, “Apakah Tuhan kami dekat, maka kami akan berbicara dengan suara perlahan? Ataukah jauh, maka kami akan berbicara dengannya dengan suara yang keras?” Maka Allah SWT. menurunkan firman-Nya : Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasannyaAku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepadaKu. (Q.S. Al-Baqarah [2] :186)

Dalam ayat yang lain kita dapati isyarat serupa yaitu ketika diceritakan bagaimana Nabi Zakariyya a.s. berdoa kepada Allah dengan suara yang lembut :

yaitu tatkala ia (Nabi Zakaria) berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut (Q.S. Maryam [19] : 3)

Demikian pula dalam ayat-ayat yang lain terdapat perintah untuk berdoa dengan suara yang pelan saj karena Allah mengetahui apa yang tersirat dalam hati manusia

Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi (Q.S. Thaha [20] : 7)

Maksud ayat ini ialah: tidak perlu mengeraskan suara dalam mendoa, karena Allah mendengar semua doa itu walaupun diucapkan dengan suara rendah. Ad-Dhahak mengatakan bahwa yang dimaksud “siirun” (rahasia) di situ adalah apa yangterbetik dalam hatimu sedangkan yang dimaksud dengan “akhfa” (tersembunyi) adalah apa yang belum terbetik dalam hatimu. Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan : “Dia mengetahui as-siiru yaitu apa yang dirahasiakan anak cucu Adam dalam dirinya. Sedangkan wa akhfa adalah apa yang disembunyikan dari anak cucu Adam yang nanti dia akan menjadi pelakunya sebelum dia mengetahuinya.

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Q.S. Luqman [31] : 19)

Juga dalam ayat yang lain Allah berfirman agar menyeru nama Allah dan asmaul husna dengan suara pertengahan, tidak keras dan tidak pula pelan.

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu (Q.S. Al-Israa’ [17] : 110)

Namun ayat ini sebenarnya berbicara tentang kondisi di masa awal Islam. Dimana ketika itu kaum kafir protes akan kerasnya bacaan shalat dan bacaan Al-Qur’an kaum muslimin sehingga membuat tetangga-tetangga tertarik mendengarnya dan kemudian terpengaruh masuk Islam. Asbabun Nuzul ayat ini sebagaimana dijelaskan pada hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim Telah menceritakan kepada kami Husyaim Telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas r.a. mengenai firman Allah: “dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya…, ” (Q.S. Al Israa : 110). Ibnu Abbas berkata; ayat ini turun ketika Rasulullah s.a.w. sembunyi-sembunyi di Makkah. Beliau s.a.w. bila mengimami shalat para sahabatnya, mengeraskan suara saat membaca Al Qur`an. Ketika orang-orang musyrik mendengarkan hal itu, mereka mencela Al Qur`an, mencela yang menurunkannya dan yang membawakannya. Maka Allah Azza Wa Jalla berfirman kepada NabiNya: (Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu) maksudnya adalah dalam bacaanmu sehingga orang-orang musyrik mendengarnya dan mereka mencela al Qu`ran dan: Dan janganlah pula merendahkannya dari para sahabatmu sehingga mereka tidak dapat mendengarkan dan mengambil Al Qu`ran darimu dan: Maka carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (H.R. Bukhari No. 4353)

Maka ayat di atas tidak bisa diterapkan untuk melarang orang mengucapkan asmaul husna dengan suara yang keras karena ayat tersebut berbicara pada kondisi masa lalu agar asma Allah dan Al-Qur’an itu sendiri tidak dilecehkan oleh orang kafir setiap kali mereka mendengarnya.

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari ‘Uqail berkata Ibnu Syihab, telah menceritakan kepadaku ‘Urwan bin Az Zubair bahwa ‘Aisyah radliallahu ‘anha, istri Nabi s.a.w. berkata : “……kagetlah para pembesar Quraisy dari kalangan Musyrikin yang akhirnya mereka memanggil Ibnu Ad Daghinah ke hadapan mereka dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya kami telah memberikan jaminan kepada Abu Bakar dengan jaminan dari anda untuk beribadah di rumahnya, namun dia melanggar hal tersebut dengan membangun tempat shalat di halaman rumahnya serta mengeraskan shalat dan bacaan, padahal kami khawatir hal itu akan dapat mempengaruhi istri-istri dan anak-anak kami, dan ternyata benar-benar terjadi. Maka laranglah dia. Jika dia mau beribadah kepada Rabbanya di rumahnya saja silakan.”  (H.R. Bukhari No. 3616)

Dalam sebuah hadits shahih juga diriwayatkan bahwa suatu ketika perang Khaibar Rasulullah s.a.w. melarang para sahabat bertakbir dengan berteriak-teriak dengan suara keras :

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid dari ‘Ashim dari Abu ‘Utsman dari Abu Musa Al Asy’ari r.ah. ia berkata; Ketika Rasulullah s.a.w.  perang melawan (penduduk) Khaibar, -atau dia berkata- Ketika Rasulullah s.a.w. melihat orang-orang menuruni lembah sambil meninggikan suara dengan bertakbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar Laa ilaaha illallah, maka Rasulullah s.a.w. bersabda: “Rendahkanlah, karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan Dzat yang ghaib. Sesungguhnya kalian menyeru Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia selalu bersama kalian”. (H.R. Bukhari No. 3883 Muslim No. 4873 Abu Daud No. 1305 dan Ahmad No. 18910)

Maka kalau melihat rangkaian ayat di atas, kita akan berkesimpulan bahwa berdoa, berdzikir, bersholawat, membaca Al-Qur’an dan memuja muji asma Allah hendaknya dilakukan dengan suara lembut dan perlahan. Dari sini maka tampillah para pemuda yang terlalu bersemangat kemudian mengecam orang-orang yang berdzikir dan berdoa dengan suara yang keras bahkan lebih jauh lagi orang yang berdzikir dengan suara keras sebagai bid’ah dan keluar dari sunnah.

Yang benar adalah bahwa berdoa, berdzikir, bersholawat, membaca asmaul husna, membaca Al-Qur’an dan semacam itu jika sendirian adalah lebih baik sedang-sedang saja. Perlahan dan suara lembut namun bukan berarti berbisik. Tidak pula berarti dibaca dalam hati melainkan sebaiknya tetap bersuara yaitu terdengar oleh orang di sebelahnya jika ada. Lalu jika sedang sendirian atau tidak ada acara apa-apa janganlah Anda tiba-tiba berdoa atau bertakbir “Allahu Akbar !!” dengan suara yang keras. Apalagi jika sedang jalan-jalan di terminal Blok M atau Mall karena pasti nanti dikira orang gila.

Walaupun demikian, perlu dipahami bahwa dalam Islam banyak hal yang pada dasarnya begini dan dilarang begitu, namun jika ada perlunya boleh begitu. Misalkan : “pada dasarnya shalat itu tidak boleh bergerak-gerak di luar gerakan sholat namun jika ada perlunya boleh bergerak” (Hal ini tidak dibahas di sini namun dibahas di tulisan tersendiri). Demikian pula ketika khutbah jum’at pada dasarnya harus diam dan tidak boleh ngobrol atau mengatakan sesuatu dengan suara keras karena akan gugur pahala jum’atnya, namun jika ada perlunya boleh-boleh saja (Hal ini tidak dibahas di sini namun dibahas di tulisan tersendiri).

Demikian pula dalam masalah berdoa, berdzikir, bersholawat, bertakbir dll pada dasarnya jika sendirian harus dilakukan dengan suara lembut dan tidak boleh dengan suara keras. Sebagian ulama mengatakan makruh. Dan jika tidak ada perlunya maka jangan bersuara keras. Namun.. sekali lagi namun, jika ada perlunya dan perlunya ini memang syar’i (perlu di sini adalah perlu sesuai syariat) maka dibolehkan untuk berdoa, berdzikir, bersholawat, bertakbir dengan suara yang keras. Yaitu dalam kondisi-kondisi tertentu yang akan kami sampaikan sebagai berikut :

1.  Boleh Membaca Al-Qur’an Dengan Suara Keras

Walaupun ada ayat yang menyatakan agar berdoa dan berdzikir dengan suara pelan, namun itu tidak berarti tidak boleh bersuara keras. Rasulullah s.a.w. kadang di malam hari (di rumah bukan ramai-ramai di masjid) membaca Al-Qur’an dengan suara keras sebagaimana diceritakan Aisyah r.ah.:

Telah mengabarkan kepada kami Syu’aib bin Yusuf dia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman dari Mu’awiyah bin Shalih dari ‘Abdullah bin Abu Qais dia berkata; “Aku pernah bertanya kepada Aisyah tentang cara Rasulullah s.a.w. membaca (Al-Qur’an) di malam hari, `Beliau membacanya dengan bersuara keras atau pelan (tanpa bersuara)? ‘ Aisyah menjawab; ‘Semuanya pernah dilakukan beliau. Kadang beliau membacanya dengan suara keras dan kadang membacanya dengan pelan (tanpa bersuara) ‘.” (H.R. Nasa’i No. 1644 Tirmidzi No. 411) Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Hal ini sejalan dengan tafsir dari Ibnu Katsir yang berbeda mengartikan kata “tadlarru” ketika menafsirkan (Q.S. Al-An’aam [6] : 63) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “tadlarru’aa” adalah suara yang keras sedangkan “khufyah” adalah suara yang lembut. Sehinga terjemahannya adalah : “Kamu berdoa kepadaNya dengan suara yang keras dan suara yang lembut” (Tasfsir Ibnu Katsir Jilid 7 Hal 310)

Memang suatu ketika Nabi s.a.w. pernah menegur para sahabat yang membaca Al-Qur’an dengan suara keras :

Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a., dia berkata, Rasulullah s.a.w. pernah beri’tikaf di masjid lalu beliau mendengar mereka mengeraskan suara bacaan al-Qur’an, lalu beliau membuka tabir pemisah seraya bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya masing-masing dari kalian bermunajat kepada Rabb-nya. Oleh karena itu, janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian lainnya, dan janganlah sebagian mengangkat suara atas yang lainnya dalam membaca Al-Qur’an.” (H.R.  Abu Daud)

Namun sebenarnya hadits ini maksudnya adalah ketika ada orang sedang shalat, jangan ada yang membaca Qur’an dengan suara keras, karena akan menggangu orang yang sedang shalat. Hal ini sebagaimana diperjelas pada hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami ‘Attab telah menceritakan kepada kami Abu Hamzah -yakni As Sukkari- dari Ibnu Abu Laila dari Shadaqah Al Makki dari Ibnu Umar berkata : “Suatu hari beliau mengeluarkan kepalanya seraya bersabda: “Sesungguhnya orang yang shalat itu hakekatnya sedang bermunajat kepada Rabbnya ‘azza wajalla, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan apa ia bermunajat kepada Rabbnya, dan janganlah sebagian kalian dengan sebagian lainnya mengeraskan suaranya ketika membaca Al Qur’an.” (H.R. Ahmad No. 5096)

Namun jika tidak ada orang shalat di dekatnya boleh saja membaca Al-Qur’an dengan suara keras hingga terdengar orang lain agar bisa juga menjadi pelajaran dan pengingat bagi orang lain. Dalam sebuah hadits diceritakan seorang sahabat semalaman membaca Al-Qur’an dengan suara keras sampai terdengar oleh Rasulullah s.a.w. namun Rasulullah s.a.w. tidak mengecam bahkan memujinya karena beliau ikut mendengar dan menjadi pengingat bagi diri beliau sendiri

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Hammad dari Hisyam bin ‘Urwah dari ‘Urwah dan Aisyah r.ah, bahwa seorang laki-laki melakukan shalat malam dam membaca Al Qur’an dengan mengeraskan suaranya. Di pagi harinya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Semoga Allah merahmati Fulan, dengan bacaan yang ia lakukan tadi malam, ia telah banyak mengingatkan aku dengan ayat-ayat yang aku lupa.” (H.R. Abu Daud 3456)

Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Shalih dari Bahir bin Sa’d dari Khalid bin Ma’dan dari Katsir bin Murrah dari Uqbah bin Amir ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Orang yang mengeraskan suara saat membaca Al Qur’an seperti orang yang terang-terangan dalam bersedekah. Dan orang yang memelankan suaranya saat membaca Al qur’an seperti orang bersedekah secara diam-diam.” (H.R. Ahmad No. 16802)

2.  Boleh Menyebut Asma Allah Dengan Suara Keras Ketika Adzan

Ketika mengumandangkan adzan tentu dibolehkan bersuara keras karena tujuannya memang pemberitahuan waktu shalat dan mengajak orang tanda shalat. Maka adzan harus bisa terdengar sampai jauh. Pada zaman dulu muadzin naik ke menara dan jaman sekarang bisa menggunakan loud speaker.

Berkata; aku telah membacanya di hadapan Abdurrahman; dari Malik dari Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Sha’sha’ah Al Mazi dari bapaknya, Bahwasanya ia mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Sa’id berkata kepadanya; engkau adzan untuk menegakkan shalat, maka hendaklah mengeraskan suaramu. Karena sesungguhnya tidaklah jin, manusia atau sesuatu yang lain mendengar suara seorang mu`adzin kecuali ia akan menjadi saksi pada hari kiamat, aku dengar itu dari Rasulullah s.a.w..” (H.R. Ahmad No. 10879)

3.  Boleh Membaca Al-Qur’an Dengan Suara Keras Ketika Mengimami Shalat

Walaupun ada ayat Dan berdzikir lah kepada Rabb kalian dalam hatimu (Q.S. Al-A’raaf [7] : 205)  dan juga ada ayat Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu (Q.S. Al-Israa’ [17] : 110) namun ketika Anda sedang menjadi imam atau mengimami shalat dimana disunnahkan untuk dikeraskan bacaannya (Maghrib, Isya, Subuh, Shalat Jum’at dll) maka boleh saja disuarakan dengan suara keras.

Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah memberitakan kepada kami Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata; “Jika Nabi s.a.w. mengimami shalat para sahabatnya, beliau mengeraskannya saat membaca al Qur`an” (H.R. Ahmad No. 1756)

Karena memang bacaan Imam harus didengar orang banyak. Mungkin Anda akan membantah bahwa itu bukan dzikir tapi shalat. Maka shalat itu juga terkandung di dalamnya dzikir yang artinya mengingat Allah. Ketika Imam membaca Al-Fatihah, dan surat Al-Qur’an maka di dalamnya juga termuat asma Allah, kalimat dzikir seperti subhanallah, alhamdulillah, atau asma-asma Allah seperti dalam surat Al-Hasyr dll, maka kami katakan semua ini boleh disuarakan dengan suara keras karena ada alasannya.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakar bin Ar Rayyan telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Mubarrak dari Imran bin Za`idah dari ayahnya dari Abu Khalid Al Wali dari Abu Hurairah bahwa dia berkata; “Bacaan Nabi s.a.w. dalam shalat malam, terkadang beliau mengeraskan suara dan terkadang melirihkannya.” (H.R. Abu Daud No. 1132)

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Nabi s.a.w. membaca (dengan suara dikeraskan) sesuai apa yang diperintahkan dan juga diam (tidak mengeraskan) sesuai apa yang diperintahkan ‘(Dan tidaklah Rabbmu lupa) ‘ (Q.S. Maryam [19] : 64). ‘(Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu) ‘ (Q.S. Al Ahzab [33] : 21).”  (H.R. Bukhari No. 732)

4.  Boleh Berdzikir Dengan Suara Keras Sehabis Shalat

Sebagian orang mengatakan bahwa berdzikir dengan suara keras setelah shalat itu tidak boleh dan merupakan bid’ah. Namun kenyataannya hal ini dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. pada waktu itu dan tercatat dalam hadits sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas r.a. berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Nashir berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Amru bahwa Abu Ma’bad mantan budak Ibnu ‘Abbas, mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu ‘Abbas r.a. mengabarkan kepadanya, bahwa mengeraskan suara dalam berdzikir setelah orang selesai menunaikah shalat fardlu terjadi di zaman Nabi s.a.w. . Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Aku mengetahui bahwa mereka telah selesai dari shalat itu karena aku mendengarnya.”  (H.R. Bukhari No. 796)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengabarkan kepada kami Ibn Juraij katanya; (Dan diriwayatkan dari jalur lain) telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Manshur dan lafadz darinya, dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibn Juraij telah mengabarkan kepadaku ‘Amru bin Dinar, bahwa Abu Ma’bad mantan budak Ibn Abbas mengabarinya, bahwa Ibn Abbas pernah mengabarinya; “Bahwa mengeraskan suara dzikr sehabis shalat wajib, pernah terjadi di masa Nabi s.a.w. .” kata Abu Ma’bad; Ibn Abbas mengatakan; “Akulah yang paling tahu tentang hal itu, ketika mereka telah selesai (mengerjakan shalat), sebab aku pernah mendengarnya.” (H.R. Muslim No. 919)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa al Balhi telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepadaku Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada kami ‘Amru bin Dinar bahwa Abu Ma’bad bekas budak Ibnu Abbas telah mengabarkan kepadanya, bahwa Ibnu Abbas telah mengabarkan kepadanya bahwa “Mengeraskan suara dzikir ketika orang-orang selesai dari shalat fardlu itu telah dilakukan di masa Rasulullah s.a.w., dan Ibnu Abbas mengatakan; “Aku mengetahuinya ketika mereka selesai melakukan itu dan aku juga mendengarnya.” (H.R. Abu Daud No. 851) Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih.

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dan Ibnu Bakr keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Amru bin Dinar bahwa Abu Ma’bad mantan budak Ibnu Abbas telah mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu Abbas mengabarkan kepadanya bahwa meninggikan suara dzikir ketika selesai orang-orang selesai shalat wajib adalah berlaku pada masa Nabi s.a.w.. Bahwa ia berkata; Ibnu Abbas berkata; Aku mengetahui hal itu bila mereka selesai, bila aku mendengarnya. (H.R. Ahmad No. 3298) seluruh perawi hadits ini tsiqoh

Maka sebagian orang yang menyangka bahwa berdzikir dengan suara keras setelah shalat itu merupakan hal yang bertentangan dengan sunnah adalah prasangka yang salah. Karena hal ini telah terjadi pada zaman Nabi s.a.w. dan tidak ada hadits atau riwayat yang menceritakan protes dari sahabat bahwa ini salah atau bid’ah. Namun suara keras di sini tidak berarti berteriak, melainkan tetap seperlunya saja.

5.  Boleh Berdoa Dengan Suara Yang Keras

Walaupun dalam Al-Qur’an Allah berfirman : “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut (tadlarru’aa  wa khufyah). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (Q.S. Al-A’raaf [7] : 55)

Hal ini tidak berarti sama sekali tidak boleh sama sekali berdoa dengan suara yang keras yaitu jika ada alasannya misal karena saking memelas dan mengadu kepada Allah dan untuk menimbulkan optimisme bagi orang yang berdoa maka itu dibolehkan.

Rasulullah s.a.w. setiap habis selesai shalat berjamaah, kemudian membaca doa dengan mengeraskan suara yang terdengar oleh semua jamaah. Hal ini dikisahkan dalam hadits berikut :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Abu Zubair katany : “Setelah selesai shalat dan membaca salam, Ibn Zubair sering memanjatkan do’a; LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR, LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH, LAA-ILAAHA ILALLAAH WALAA NA’BUDU ILLAA IYYAAH, LAHUN NI’MATU WALAHUL FADHLU WALAHUTS TSANAA’UL HASAN, LAA-ILAAHA ILLALLAAH MUKHLISIHIINA LAHUD DIINA WALAU KARIHAL KAAFIRUUNA.” (Tiada sesembahan yang hak selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya selaga puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Daya dan kekuatan selain dengan pertolongan Allah. Tiada sesembahan yang hak selain Allah, dan Kami tidak beribadah selain kepada-Nya, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, hanya bagi-Nya ketundukan, sekalipun orang-orang kafir tidak menyukai).” Rasulullah s.a.w. selalu mengeraskan suara dengan kalimat ini setiap selesai shalat.” (H.R. Muslim No. 935)

Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah s.a.w. memuji Dzul Bijadain karena selalu berdoa dengan suara yang keras.

Telah menceritakan kepada kami Yunus Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Harits bin Yazid dari Ali bin Rabah dari Uqbah bin Amir, bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda kepada seorang laki-laki yang biasa dipanggil Dzul Bijadain: “Sesungguhnya ia adalah seorang Awwaah.” Demikian itu karena ia adalah seorang yang banyak berdzikir kepada Allah ‘azza wajalla di dalam Al Qur’an, dan selalu mengeraskan suara saat berdo’a.” (H.R. Ahmad No. 16811) Seluruh perawi nya tsiqoh.

Bersambung Jilid 2…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s