DZIKIR DIKERASKAN APAKAH BID’AH? (JILID 2)

DZIKIR DIKERASKAN APAKAH BID’AH? (JILID 2)

Oleh : Abu Akmal Mubarok

DOA 04

6. Boleh berdoa, berdzikir, bertakbir, membaca Al-Qur’an  dengan suara keras ketika khutbah

Ketika Anda sedang khutbah jum’at lantas di dalam khutbah tersebut anda berdoa atau mengucapkan kalimat thoyyibah boleh saja disuarakan dengan suara keras. Karena memang itu adalah khutbah yang harus didengar orang banyak. Bahkan khutbah tersebut dikeraskan dengan speaker (ini berarti lebih keras daripada bersuara keras) sampai terdengar keluar masjid, hal ini boleh-boleh saja.

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Abdul Wahhab bin Abdul Majid dari Ja’far bin Muhammad dari bapaknya dari Jabir bin Abdullah ia berkata, bahwasanya; Apabila Rasulullah s.a.w. menyampaikan khutbah, maka kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar-kobar bagaikan panglima perang yang sedang memberikan komando kepada bala tentaranya.  (H.R. Muslim No. 1435)

Dalam hadits di atas digambarkan Rasulullah s.a.w. berkhutbah itu lantang dan berkobar-kobar laksana panglima perang memberikan komando. Hal ini jelas menunjukkan suara yang keras bahkan sampai terdengar pada barisan belakang. Karena bagaimana mungkin memberikan komando kepada bala tentara jika suaranya tidak terdengar sampai jauh. Dan di dalam khutbah pasti berisi ayat Al-Qur’an, penyebutan asma Allah, kadang mengucap kalimat thoyyibah, kadang berdzikir atau berdoa memohon kepada Allah. Maka semuanya ini boleh diucapkan dengan suara lantang.

7. Boleh berdoa, berdzikir atau bertakbir dengan suara keras Untuk Membangkitkan Semangat

Demikian pula ketika Anda sedang ceramah dalam tabligh akbar dan peringatan perjuangan Palestina atau ketika menggalang dana untuk mendukung mujahidin yang berjuang di Syiria tentu boleh saja berteriak “Allahu Akbar” dengan suara sekeras-kerasnya lantas diikuti pula dengan teriakan seluruh pendengar. Ini bukan sesuatu yang terlarang karena memang ada perlunya.

Abdullah berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Musa Al ‘Anazi berkata; telah menceritakan kepada kami Abdushshomad bin Abdul Warits berkata; telah menceritakan kepadaku Sakan bin Al Mughirah berkata; telah menceritakan kepadaku Al Walid bin Abu Hisyam dari Farqad Abu Thalhah dari Abdurrahman bin Khabbab As-Sulami berkata : “Rasulullah s.a.w. keluar lalu beliau menyemangati pada pasukan Perang ‘Usrah. Lalu ‘Utsman bin ‘Affan berkata; saya akan memberikan seratus unta lengkap dengan perhiasan dan pelananya. (Abdurrahman bin Khabbab) berkata; lalu beliau menyemangati lagi, lalu ‘Utsman berkata; saya tambah seratus lagi lengkap dengan perhiasan dan pelananya. (Abdurrahman bin Khabbab) berkata; lalu beliau turun dari satu tingkat tingkat dari mimbar, lalu menyemangati lagi. Lalu ‘Utsman bin ‘Affan berkata; saya tambah seratus lagi lengkap dengan perhiasan dan pelananya. (H.R. Ahmad No. 16099)

8. Boleh Membaca Al-Qur’an Dan Berdoa Dengan Suara Keras Untuk Pelajaran

Seorang imam boleh mengeraskan bacaan shalat dan bacaan Al-Qur’an nya di luar shalat jika tujuannya adalah untuk memberi pelajaran atau mencontohkan bacaan.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf berkata, telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abu Katsir telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Abu Qatadah dari Bapaknya bahwa Nabi s.a.w. membaca Al Fathihah dan dua surah pada dua rakaat pertama dalam shalat Zhuhur dan ‘Ashar. Terkadang beliau memperdengarkan (mengeraskan bacaan) ayat yang dibacanya, dan beliau biasa memanjangkannya pada rakaat pertama.” (H.R. Bukhari No. 736)

Dalam hadits di atas dikisahkan bahwa Rasulullah s.a.w. mengeraskan bacaan pada shalat zhuhur dan ashar padahal kedua shalat tersebut tidak termasuk shalat yang dikeraskan bacaannya. Namun karena untuk tujuan memberi pelajaran (sambil benar-benar shalat juga) maka boleh mengeraskan bacaannya. Mungkin ada yang membantah bahwa ini kan shalat, bukan doa maupun dzikir. Maka shalat maknanya adalah doa, dan bacaan Al-Fatihah maupun bacaan shalat lainnya termasuk juga surah surah Al-Qur’an yang dibacakan dalam shalat terkandung di dalamnya kalimat doa dan dzikir (mengingat Allah) maka bacaan shalat adalah doa dan dzikir juga.

9.  Boleh berdoa, dengan suara keras ketika Terdesak Dan Memohon Dengan Amat Sangat

Jika suatu ketika Anda merasa terhimpit suatu musibah dan terdesak kezhaliman manusia kemudian Anda memohon dan berdoa kepada Allah dengan suara yang keras, maka hal ini boleh saja asalkan bukan acting atau berpura-pura agar dilihat orang. Melainkan hal ini karena ekspresi keterdesakan dan permohonan yang amat sangat walaupun kita tahu Allah tidak tuli dan Allah Maha Mendengar.

Rasulullah s.a.w. pernah melakukan hal ini ketika dalam peperangan Badr pasukan kaum muslimin sempat terdesak dan sebagai seorang manusia, Rasulullah s.a.w. sempat khawatir jika kaum muslimin kalah sementara ketika itu jumlah orang beriman yang baru segitu-gitunya, sehingga jika ketika itu kalah, atau terbunuh semuanya maka habislah kaum beriman.

Telah menceritakan kepada kami Hannad bin Sari telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Mubarak dari Ikrimah bin Ammar telah menceritakan kepadaku Simak Al Hanafi dia berkata; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; telah menceritakan kepadaku Umar bin Khattab berkata, “Ketika perang Badr.” (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan ini adalah lafadz dia, telah menceritakan kepada kami Umar bin Yunus Al Hanafi telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin ‘Ammar telah menceritakan kepadaku Abu Zumail -yaitu Simak Al Hanafi- telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abbas dia berkata; telah menceritakan kepadaku Umar bin Khattab dia berkata, “Saat terjadi perang Badr, Rasulullah s.a.w. melihat pasukan orang-orang Musyrik berjumlah seribu pasukan, sedangkan para sahabat beliau hanya berjumlah tiga ratus Sembilan belas orang. Kemudian Nabi Allah s.a.w.menghadapkan wajahnya ke arah kiblat sambil menengadahkan tangannya, beliau berdo’a: “ALLAHUMMA ANJIS LII MAA WA’ADTANI, ALLAHUMMA AATI MAA WA’ADTANI, ALLAHUMMA IN TUHLIK HAADZIHIL ‘ISHAABAH MIN AHLIL ISLAM LA TU’BAD FIL ARDLI (Ya Allah, tepatilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan Islam yang berjumlah sedikit ini musnah, niscaya tidak ada lagi orang yang akan menyembah-Mua di muka bumi ini).’ Demikianlah, beliau senantiasa berdo’a kepada Rabbnya dengan mengangkat tangannya sambil menghadap ke kiblat, sehingga selendang beliau terlepas dari bahunya. Abu Bakar lalu mendatangi beliau seraya mengambil selendang dan menaruhnya di bahu beliau, dan dia selalu menyeratai di belakang beliau.” Abu Bakar kemudian berkata, “Ya Nabi Allah, cukuplah kiranya anda bermunajat kepada Allah, karena Dia pasti akan menepati janji-Nya kepada anda.” Lalu Allah menurunkan ayat: ‘((ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut) ‘ (Qs. Al Anfaal: 9), Allah lalu membantunya dengan tentara Malaikat.” Abu Zumail berkata, “Ibnu Abbas menceritakan kepadaku, dia katakan, “Pada hari itu, ketika seorang tentara Islam mengejar tentara Musyrikin yang berada di hadapannya, tiba-tiba terdengar olehnya bunyi suara cemeti di atas kepala seorang Musyrik itu, dan suara seorang penunggang kuda berkata, “Majulah terus wahai Haizum!. Tanpa diduga, seorang Musyrik yang berada di hadapannya telah mati terkapar dengan hidungnya bengkak, dan mukanya terbelah seperti bekas pukulan cambuk serta seluruh tubuhnya menghijau. Lalu tentara Muslim itu datang melaporkan peristiwa yang baru saja dialaminya kepada Rasulullah s.a.w., maka beliau bersabda: “Kamu benar, itu adalah pertolongan Allah dari langit ketiga.” Pada hari itu, tentara kaum Muslimin dapat membunuh tujuh puluh tentara kaum Musyrikin, dan berhasil menawan tujuh puluh orang tawanan.” (H.R. Muslim No. 3309)

Telah mengabarkan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq ia berkata; Aku mendengar Al Bara` bin ‘Azib berkata; Kami bersama Rasulullah s.a.w. pernah memindahkan tanah pada saat perang Ahzab, tanah tersebut telah menutupi kedua ketiak beliau yang putih, sementara beliau bersenandung: “Ya Allah, seandainya bukan karenaMu, maka kami tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak akan bersedekah dan tidak akan melakukan shalat, maka turunkanlah ketenangan kepada kami, serta kokohkan kaki-kaki kami apabila bertemu dengan musuh. Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berlaku semena-mena kepada kami, apabila mereka menghendaki fitnah, maka kami menolaknya.” Beliau menyenandungkan (doa) itu sambil mengeraskan suaranya”. (H.R. Darimi No. 2347)

10. Boleh berdoa, berdzikir atau bertakbir dengan suara keras ketika memimpin rombongan Haji

Ketika melaksanakan haji dan bertalbiyah dibolehkan untuk mengucapkan kalimat thoyibah, doa talbiyah maupun dzikir lainnya dengan suara keras. Hal ini pernah dilakukan pada zaman Nabi s.a.w.

Telah menceritakan kepada Kami Al Qa’nabi dari Malik dari Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm dari Abdul Malik bin Abu Bakr bin Abdurrahman bin Al Haritsb Hisyam dari Khallad bin As Saib Al Anshari dari ayahnya bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jibril telah datang kepadaku dan memerintahkanku agar memerintahkan para sahabatku dan orang-orang yang bersamanya agar mengeraskan suara mereka ketika bertahlil atau beliau mengatakan dengan talbiyah.”  (H.R. Abu Daud No. 1548 Tirmidzi No. 759 Ibnu Majah No. 2913 Ahmad No. 648) Nashiruddin Al-Albani menshahihkan hadits ini.

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Abu Qalabah dari Anas radliallahu ‘anhu berkata : “Nabi s.a.w. melaksanakan shalat Zhuhur di Madinah empat raka’at dan shalat ‘Ashar di Dzul Hulaifah dua raka’at. Dan aku mendengar mereka melakukan talbiyah dengan mengeraskan suara mereka pada keduanya (hajji dan ‘umrah).” (H.R. Bukhari No. 1447)

Demikian pula jika kita memimpin rombongan haji dan memimpin bacaan doa atau dzikir tidak mungkin membaca dengan suara pelan. Maka dibolehkan membaca dengan suara keras.

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal dan Suraij bin Yunus keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Dawud bin Abu Hind dari Abu al-Aliyah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah s.a.w. berjalan melalui sebuah Lembah al-Azraq. Beliau bertanya: “Lembah apakah ini?” Para Sahabat menjawab, “Inilah Lembah al-Azraq.” Rasulullah s.a.w. bersabda: “Aku seakan-akan memandang kepada Nabi Musa yang sedang menuruni sebuah bukit sambil memohon dari Allah dengan suara yang keras ketika talbiyah.” (H.R. Muslim No. 241)

11.  Boleh berdoa, dengan suara keras ketika Mengutuk Suatu Kaum

Suatu ketika Rasulullah s.a.w. pernah berdoa dengan suara keras setelah selesai shalat yaitu ketika Abu Jahal dan kawan-kawannya menyuruh kawan-kawannya meletakkan isi perut unta yang disembelih sehari sebelumnya sehingga sudah bau, ke bahu Rasulullah s.a.w. yang sedang shalat di dekat Ka’bah. Padahal bangkai itu adalah najis. Artinya mereka meletakkan najis ke bahu orang yangs sedang shalat.

Dan telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Umar bin Muhammad bin Aban Al Ja’fi telah menceritakan kepada kami Abdurrahim -yaitu Ibnu Sulaiman- dari Zakaria dari Abu Ishaq dari ‘Amru bin Maimun Al Audi dari Ibnu Mas’ud dia berkata, ” Seusainya Nabi s.a.w. shalat, beliau mengeraskan suaranya dan mendo’akan kejelekan terhadap mereka. Apabila beliau berdo’a, biasanya beliau mengulanginya sampai tiga kali, dan apabila beliau meminta, beliau juga mengucapkan tiga kali, kemudian beliau berucap: “Allahumma ‘alaika bi Quraisy (Ya Allah, binasakanlah orang-orang Quraisy).” Beliau mengucapkannya tiga kali. Tatkala mereka mendengar suara beliau, mereka berhenti tertawa dan merasa khawatir dengan do’a beliau, kemudian beliau melanjutkan do’anya: “ALLAHUMMA ‘ALAIKA BI ABI JAHAL BIN HISYAM, WA ‘UTBAH BIN RABI’AH WA SYAIBAH BIN RABI’AH WA WALID BIN ‘UQBAH WA ‘UMAYYAH BIN KHALAF WA ‘UQBAH BIN ABI MU’ITH.” (Ya Allah, binasakanlah Abu Jahal bin Hisyam, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Walid bin ‘Uqbah, ‘Umayyah bin Khalaf dan ‘Uqbah bin Abu Mu’ith).” -Ibnu Mas’ud menyebutkan yang ketujuh, namun perawi lupa namanya- Maka demi dzat yang telah mengutus Muhammad s.a.w.dengan kebenaran, sungguh aku telah melihat orang-orang yang namanya disebut oleh beliau, mereka mati tergeletak dalam perang Badar. Kemudian mereka diseret ke sumur Badr.” (H.R. Muslim No. 3349)

Dalam riwayat lain Rasulullah s.a.w. juga berdoa dengan suara keras ketika mengutuk kaumMudlar :

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad Telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari Sa’id bin Al Musayyab dan Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah s.a.w. jika ingin mendoakan kecelakaan kepada seseorang atau berdoa keselamatan kepada seseorang beliau membaca qunut setelah rukuk.” Kira-kira ia berkata; “Jika beliau mengucapkan: “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, ” beliau berdoa: “Wahai Rabb kami bagi-Mu segala pujian, Ya Allah selamatkanlah Al Walid bin Al Walid, salamah bin Hisyam, dan ‘Ayyasy bin Abu Rabi’ah. Ya Allah keraskanlah hukuman-Mu atas Mudlar, dan timpakanlah kepada mereka tahun-tahun paceklik sebagaimana tahun-tahun pada masa Yusuf.” -beliau mengeraskan bacaan tersebut “ (H.R. Bukhari No. 4194)

12.  Boleh berdoa, dengan suara keras ketika Memimpin Doa

Boleh berdoa dengan suara dikeraskan agar terdengar semua orang yaitu ketika memimpin doa. Sebagai contoh Rasulullah s.a.w. mengeraskan bacaan dalam shalat istisqo (minta hujan) dimana dalam shalat istisqo doa beliau memimpin doa permohonan akan hujan :

Telah menceritakan kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi’b dari Az Zuhri dari ‘Abbad bin Tamim dari Pamannya berkata, “Aku pernah melihat Nabi s.aw. di hari saat beliau keluar minta turunnya hujan. Beliau kemudian menghadap ke arah kiblat dengan menghadapkan punggungnya ke arah manusia, beliau lalu berdoa sambil membalikkan kain selendangnya. Setelah itu beliau mengimami kami shalat dua rakaat dengan mengeraskan bacaan.” (H.R. Bukhari No. 969)

Demikian pula misalkan seorang pemimpin rombongan haji memimpin jamaah nya agar bersama-sama melafalkan niat haji maka boleh saja bersuara dengan keras sebagaimana hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ibrahim Ad Dimasyqi; telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim; telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dari ‘Atha` dari Jabir bin Abdullah, ia berkata; “Kami mengeraskan suara bacaan niat untuk mengerjakan haji saja bersama Rasulullah s.a.w. tanpa mencampurnya dengan niat umrah.”  (H.R. Ibnu Majah No. 2971)

13. Boleh berdoa dan Berdzikir Dengan Suara Keras Untuk Agar Tidak Mengantuk

Boleh mnemgeraskan bacaan Al-Qur’an dan dzikir jika dengan tujuan untuk melawan rasa kantuk. Hal ini pernah dilakukan oleh Umar bin Khatab r.a. dimana Rasulullah s.a.w. sempat bertanya alasan Umar mengeraskan bacaan Al-Qur’annya :

Ali r.a. berkata : “Abu Bakar bila membaca Al-Qur’an dengan suara lirih sedangkan Umar dengan suara keras. Dan Ammar bila membaca Al-Qur’an mencampur surat ini dan itu. Kemudian hal itu dilaporkan kepada Nabi s.a.w. sehingga beliau bertanya kepada Abu Bakar : “Mengapa kamu membaca dengan suara lirih?” Ia menjawab : “Allah dapat mendengar suaraku walaupun lirih”. Lalu beliau bertanya kepada Umar: “Mengapa kamu membaca dengan suara keras ?” Umar menjawab : “Aku mengusir setan dan menghilangkan kantuk”. Lalu beliau bersabda : “Semua itu baik” (H.R. Ahmad No. 865 ) Al-Haistami berkata isnad hadits ini tsiqat / terpercaya (Majma’u Zawaid Juz 2 hal 544)

14.  Boleh Bertakbir Dengan Suara Keras Untuk Membangunkan Orang

Boleh bertakbir dengan suara keras untuk membangunkan orang yang tertidur dan kesiangan atau terlewat waktu shalat. Di sini takbir bukan untuk  melaksanakan shalat karena dalam hadits diceritakan bahwa mereka tidak menemukan air dan masih melanjutkan perjalanan untuk mencari air wudlu.

Telah bercerita kepada kami Abu Al Walid telah bercerita kepada kami Salm bin Zarir aku mendengar Abu Raja’ berkata, telah bercerita kepada kami ‘Imran bin Hushain bahwa Abu Bakr duduk dekat kepala beliau s.a.w. lalu bertakbir dengan mengeraskan suaranya hingga Nabi s.a.w. terbangun. Kemudian beliau keluar (dari tenda) lalu menunaikan shalat Shubuh bersama kami. (H.R. Bukhari No. 3306)

Demikianlah sekelumit pembahasan yang menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, mengucapkan kalimat thoyyibah, mengucapkan asmaul huna, bertakbir, membaca shalawat dibolehkan dilakukan dengan suara keras jika ada perlunya,

Wallahua’lam

One thought on “DZIKIR DIKERASKAN APAKAH BID’AH? (JILID 2)

  1. Jubah Moden says:

    Eh … kenapa blog nie x leh view kat tablet arr ..
    theme dia ker … minta tlg admin cek jap .. best arr
    blog nie .. sayang pc x leh on…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s