MENOLEH DALAM SHALAT BOLEHKAH??

MENOLEH DALAM SHALAT BOLEHKAH?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image
Kemarin saya melihat ada sekelompok anak santri yang shalat tapi selama shalat mereka saling tengak tengok ke samping bahkan ke belakang. Namanya juga anak kecil. Tapi kadang orang dewasa pun ada yang seperti itu. Batalkah shalat jika kita menengok?

Di satu sisi kita jumpai hadits yang melarang orang menoleh ketika Sholat.

Telah bercerita kepada kami Al Hasan bin ar-Rabi’ telah bercerita kepada kami Abu Al Ahwash dari Asy’ats dari bapaknya dari Masruq berkata, ‘Aisyah r.ah. berkata; “Aku bertanya kepada Nabi s.a.w. tentang seseorang yang menoleh ketika sedang shalat maka Beliau bersabda: “Itu adalah sambaran yang sangat cepat yang dilakukan oleh setan terhadap shalatnya seseorang dari kalian”. (H.R. Bukhari No. 3048 dan No. 709)

Telah menceritakan kepada kami Shalih telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash dari Asy’ats bin Abu Asy Sya’tsa’ dari ayahnya dari Masruq dari ‘Aisyah dia berkata : “Saya bertanya kepada Rasulullah s.a.w. tentang menoleh dalam shalat, maka beliau bersabda: “Menoleh dalam shalat adalah godaan syetan yang memalingkan seseorang dari shalatnya.” (H.R. Tirmidzi No. 538)

Abu ‘Isa berkata, ini adalah hadits hasan gharib.

Dari Yusuf bin Abdullah bin Salam dari Abu Darda dari Nabi s.a.w.bersabda : “Tidak sah shalat bagi orang yang menolehkan muka” (H.R. Al-Bazzar)
Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar tidak pernah menoleh dalam shalatnya.” (Atsar R. Malik dalam Al-Muwatha’ No. 354)

Namun di sisi lain kita jumpai hadits yang menceritakan Sahabat Abu Bakar r.a. pernah menoleh dalam shalatnya :

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’man telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami Abu Hazim Al Madani dari Sahal bin Sa’d As Sa’idi mengatakan : “Ketika terjadi peperangan antara bani ‘Amru, berita ini sampai kepada Nabi s.a.w., maka beliau shalat zhuhur kemudian mendatangi mereka untuk mendamaikan sesama mereka. Tatkala tiba shalat ashar, Bilal mengumandangkan adzan dan iqamat. Lantas beliau perintahkan Abu bakar untuk mengimami orang-orang. Ia pun maju mengimami. Selanjutnya Nabi s.a.w. datang sedang Abu Bakar tengah mengimami. Nabi menerobos barisan hingga berdiri di belakang Abu Bakar, dan terus melaju hingga tepat di shaff (barisan) setelah Abu Bakar. Kata Sahal, saat itulah para sahabat menepukkan tangan kanannya di atas punggung lengan kiri (tashfiih) sebagai pertanda Rasul di belakangnya. Adalah kebiasaan Abu bakar jika telah menunaikan shalat, ia tidak menolah-noleh hingga selesai, maka tatkala beliau melihat tashfih terus dilakukan tanpa henti, dia (Abu Bakar) menoleh dan melihat Nabi s.a.w. berada di belakangnya. Nabi s.a.w. memberi isyarat kepadanya agar meneruskan shalatnya dengan tangannya dan mengisyaratkan dengan tangannya sedemikian. Abu Bakar meneruskan shalat beberapa saat, memuji Allah atas ucapan Nabi s.a.w., kemudian dia berjalan mundur, dikala Nabi s.a.w. melihat yang demikian (yaitu Abu Bakar mundur), Nabi maju dan mengimami orang-orang”. (H.R. Bukhari No. 6653)

Ibnul Qayim dalam Zadul Ma’ad menjelaskan bahwa Rasulullah s.a.w. pernah mengutus seorang penunggang kuda ke Persia, lalu shalat danmenoleh melihat sekelompok orang yang didatangi oleh tenrara itu padahal menoleh di dalam shalat itu tidak dibolehkan.

Telah menceritakan kepada kami Abu Hatim Muslim bin Hatim Al Bashri telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al Anshari dari ayahnya dari Ali bin Zaid dari Sa’id bin Al Musayyib dia berkata, Anas bin Malik berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda kepadaku: “Wahai anakku, janganlah kamu menoleh dalam shalat, karena menoleh dalam shalat adalah penyebab kebinasaan, jika kamu terpaksa untuk menoleh dalam shalat, maka lakukanlah dalam shalat sunnah, tidak dalam shalat fardlu’. (H.R. Tirmidzi No. 537)

Abu ‘Isa berkata, Ini adalah hadits hasan gharib. Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini dla’if. Ibnul Qayim mengatakan dalam Zadul Ma’ad bahwa riwayat Sa’id dari Anas tidak diketahui. Kedua hadits ini diriwayatkan dari jalur lain yaitu dari Ali bin Said bin Jad’an namun Imam Ahmad berkata dia perawi yang tidak kuat. Komentar yang sama juga dikatakan oleh Ibnu Sa’ad, Yahya bin Ma’in, Al-Ajali, Ya;qub bin Syaibah, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah (At-Tahdzib Jilid 3 hal 163)

Dalam hadits di atas ada sedikit ruhshoh (keringanan) jika terpaksa menoleh lakukan itu dalam shalat sunnah. Namun karena hadits di atas kurang kuat, baiklah tidak usah kita jadikan landasan.

Jika hadits-hadits di atas mungkin kurang shahih, maka berikut ini adalah hadits-hadits yang shahih yang menceritakan suatu ketika para sahabat pernah menoleh dalam shalatnya :

Telah menceritakan kepada kami Bisyir bin Muhammad telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah berkata, Yunus berkata, Az Zuhriy telah mengabarkan kepada saya Anas bin Malik Al Anshariy r.a. bahwa : “Ketika Kaum Muslimin sedang melaksanakan shalat Shubuh pada hari Senin yang dipimpin Abu Bakar r.a., mereka dikejutkan oleh Nabi s.a.w. yang menyingkap tabir kamar ‘Aisyah r.ah (karena Nabi s.a.w. sedang sakit saat itu). Dari balik kamar itu Nabi s.a.w, memandang mereka saat mereka berada dalam barisan shaf. Beliau tersenyum dan tertawa. Maka Abu Bakar berbalik untuk masuk kedalam barisan shaf karena menduga Nabi s.a.w. akan keluar untuk shalat. Kaum Muslimin merasa terganggu dalam shalat mereka karena sangat gembiranya dapat melihat Nabi s.a.w. Ternyata Beliau s.a.w. memberi isyarat dengan tangan Beliau agar mereka melanjutkan shalat. Kemudian Beliau masuk ke kamarnya dengan menutup tabir. Beliau s.a.w. akhirnya wafat pada hari itu. (H.R. Bukhari No. 1130)

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa kaum muslimin merasa terganggu dalam shalatnya karena sangat gembira dapat melihat Nabi s.a.w. Di sini jelas tidak mungkin mereka melihat Nabi s.a.w. tanpa menoleh dalam shalatnya, bahkan mereka melihat isyarat tangan Nabi s.a.w. untuk melanjutkan shalat, maka jelas para jamaah termasuk Abu Bakar r.a. sebagai imam menoleh dalam shalat.

Dari Abu Kabsyah As Saluli dari Sahl bin Hanzalah dia berkata : ”Iqamah dikumandangkan lalu Rasulullah s.a.w. melakukan shalat yaitu shalat subuh maka pada saat shalat beliau menoleh (melihat) ke arah gunung” (H.R. Abu Daud)

Abu Daud berkata hal itu terjadi karena pada suatu malam beliau mengutus suatu
tentara pada suatu kaum untuk berjaga-jaga. Maka menoleh dalam hal ini dibolehkan disebabkan untuk berjihad / perang.

Maka kesimpulannya, menoleh dalam shalat di sini dibolehkan jika dalam keadaan shalat khauf sebagaimana Umar pernah berkata :

“Sesungguhnya aku menyiapkan tentaraku dalam keadaan aku sedang shalat” (Atsar.R. Bukhari Jilid 3 hal 107) Diriwayatkan oleh Bukhari secara muallaq (tidak menyebutkan sanadnya).

Mengenai atsar Umar r.a. di atas Ibnu Hajar Asqolani mengatakan bahwa Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan secara maushul. Atsar seperti dia ats juga diriwayatka dari jalur Abu Utsman Al Hindy. Aku berkata Abu Utsman Al Hindy adalah Abdurrahman bin Mall dan riwayatnya adalah shahih.

Ibnul Qayim dalam Zadul Ma’ad mengatakan bahwa bisa jadi perbuatan Nabi s.a.w. (menoleh dalam shalat) adalah karena untuk kemaslahatan umat. Di sini bersatu antara perbuatan jihad dan perbuatan shalat. Sebagai perbandingan di sini adalah berfikir memahami makna-makna Al-Qur’an ketika sedang shalat adalah dibolehkan yaitu bersatunya kegiatan shalat dengan mencari ilmu. Ini adalah dinamika shalat yang tidak sama dengan menolehnya orang yang lalai atau main-main dalam shalatnya.

Wallahua’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s