NIKAH MUT’AH ATAU KAWIN KONTRAK

NIKAH MUT’AH ATAU KAWIN KONTRAK

Oleh : Abu Akmal Mubarok
Image

Nikah mut’ah disebut juga nikah kontrak atau kawin kontrak dimana kedua pasangan yang menikah sepakat untuk bercerai setelah jatuh tempo waktu tertentu. Misalnya sepakat bahwa pernikahan ini hanya berjalan 1 bulan atau 1 minggu bahkan 1 hari. Dan setelah mencapai waktu yang disepakati otomatis keduanya bercerai.

Biasanya pernikahan seperti ini disertai dengan ketidak jelasan lainnya seperti cerainya itu talak satu kah atau sekaligus talak tiga? Lalu jika dari pernikahan itu timbul anak maka bagaimana status anak tersebut?  Dan bagaimana status warisnya jika misalnya bapaknya meninggal?

Nikah mut’ah memang pernah diijinkan oleh Rasulullah s.a.w pada waktu terjadi Perang Khaibar sebagaimana dikisahkan dalam hadits berikut ini

Dan Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Amru bin Dinar ia berkata, saya mendengar Al Hasan bin Muhammad menceritakan dari Jabir bin Abdullah dan Salamah bin Al Akwa’ ia berkata; utusan Rasulullah s.a.w. datang kepada kami, lalu dia berkata, “Rasulullah s.a.w. telah mengizinkan kalian untuk nikah mut’ah.” (H.R. Muslim No. 2494)

Dan telah menceritakan kepadaku Umayyah bin Bistham Al ‘Aisi telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Rauh yakni Ibnul Qasim, dari Amru bin Dinar dari Al Hasan bin Muhammad dari Salamah bin Al Akwa’ dan Jabir bin Abdullah bahwasanya; “Rasulullah s.a.w. menemui kami, lalu beliau mengizinkan kami untuk nikah mut’ah.” (H.R. Muslim 2495)

Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari ayahnya dia pernah mengabarkan bahwa Rasulullah s.a.w. melarang nikah mut’ah di saat penaklukan kota Makkah, dan ayahnya juga pernah melakukan mut’ah dengan dua helai kain burdah berwarna merah. (H.R. Muslim No. 2507)

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Aun Telah menceritakan kepada kami Khalid dari Isma’il dari Qais dari ‘Abdullah r.a. dia berkata; Kami pernah berperang bersama Nabi s.a.w. namun tidak mengikut sertakan istri-istri kami, lalu kami berkata: Wahai Rasulullah, tidakkah kami dikebiri? Namun Nabi s.a.w. melarang kami melakukannya. tapi setelah itu beliau memberikan keringanan kepada kami untuk menikahi wanita dalam waktu tertentu (kawin kontrak). lalu beliau membacakan ayat : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Al Maidah: 87).” (H.R. Bukhari No. 4249)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Abdul Aziz bin Ar-Rabi’ bin Sabrah bin Ma’bad dia berkata; Saya telah mendengar ayahku, Ar-Rabi’ bin Sabrah menceritakan dari ayahnya, Sabrah bin Ma’bad bahwa pada saat penaklukan kota Makkah, Nabiyallah s.a.w. memerintahkan kepada para sahabatnya supaya nikah mut’ah, lantas dia (Sabrah) berkata, kemudian saya bersama temanku dari Bani Sulaim keluar sampai kami bertemu dengan seorang budak perempuan dari Bani ‘Amir, sepertinya dia adalah seorang perawan, lantas kami meminangnya sambil memperlihatkan kain burdah kami (sebagai maskawin), lalu dia memandangi kami, dia melihatku, dan ternyata wajahku lebih tampan daripada temanku, namun dia melihat kain burdah temanku lebih bagus daripada kain burdahku, setelah dia meminta izin untuk bermusyawarah beberapa saat, dia memilihku daripada temanku, lalu kami tinggal bersamanya selama tiga hari, kemudian Rasulullah s.a.w. memerintahkan kami untuk menceraikannya. (H.R. Muslim No. 2504)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Fudlail bin Husain Al Jahdari telah menceritakan kepada kami Bisyr yaitu Ibnu Mufadldlal telah menceritakan kepada kami Umarah bin Ghaziyyah dari Ar Rabi’ bin Sabrah bahwa ayahnya pernah ikut perang Fathu Makkah bersama Rasulullah s.a.w., dia berkata; Kami tinggal di Makkah selama lima belas hari dan malam, lantas Rasulullah s.a.w. memberikan izin kepada kami melakukan nikah mut’ah. Lalu saya bersama seorang dari kaumku pergi mencari seorang wanita untuk kami nikahi secara mut’ah, saya lebih tampan dari saudaraku yang memang dia agak jelek daripadaku. Masing-masing dari kami membawa kain baju (untuk mas kawin); tetapi baju telah usang, sedangkan baju sepupuku masih baru dan halus. Sesampainya kami di bawah kota Makkah atau di atasnya, kami bertemu seorang wanita muda yang cantik dan berleher panjang. Lantas kami bertanya kepadanya; “Maukah kamu menerima salah satu dari kami untuk kawin mut’ah denganmu?” Dia menjawab; “Apa ganti (maskawin) yang akan kalian berikan?” Lalu masing-masing dari kami memperlihatkan baju yang telah kami siapkan sebelumnya, sementara itu, wanita tersebut sedang memperhatikan kami berdua, saudara sepupuku melihat kepadanya sambil berkata; “Sesungguhnya baju yang ini sudah usang, sedangkan bajuku masih bagus dan halus.” Wanita tersebut berkata; “Baju usang ini juga tak masalah.” Dia mengatakannya sampai tiga kali atau dua kali. Kemudian saya nikah mut’ah dengannya. Saya tidak keluar dari (Makkah) sehingga Rasulullah s.a.w. mengharamkannya (untuk selamanya).” Dan telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Sa’id bin Shakhr Ad Darimi telah menceritakan kepada kami Abu An Nu’man telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami ‘Umarah bin Ghaziyyah telah menceritakan kepadaku Ar Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari Ayahnya dia berkata; Kami pernah keluar bersama Rasulullah s.a.w. pada hari penaklukan kota Makkah menuju Makkah, kemudian dia menyebutkan seperti haditsnya Bisyr dengan menambahkan; Gadis itu berkata; “Apakah hal itu boleh?” dan ada juga tambahan (kata sepupu Sabrah); “Sesungguhnya kain burdah yang ini sudah usang.” (H.R. Muslim 2501)

Dan telah menceritakan kepadaku Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Laits dari Ar Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari bapaknya Sabrah, bahwa ia berkata : “Rasulullah s.a.w. pernah mengizinkan kami untuk nikah mut’ah. Maka aku beserta seorang temanku mendatangi seorang wanita dari Bani Amir, sepertinya wanita itu masih gadis dan cantik jelita. Maka kami pun menyerahkan diri kami padanya, lalu wanita itu berkata, “Mahar apa yang akan kalian berikan?” Aku menjawab, “Pakaianku.” Dan temanku juga berkata, “Pakaian milikku.” Pakaian temanku sebenar lebih bagus dari pakaianku, namun usiaku lebih muda darinya. Bila wanita itu melirik pakaian milik temanku, ia pun terkagum olehnya. Dan ketika melirik kepadaku, aku pun membuatnya terkagum-kagum. Kemudian wanita itu pun berkata, “Kamu dan pakaianmu telah mencukupiku.” Maka aku pun tinggal bersamanya selama tiga hari. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang masih memiliki isteri dengan cara mut’ah, maka ceraikanlah.” (H.R. Muslim No. 2500)

Dan Telah menceritakan kepada kami Al Hasan Al Hulwani telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij ia berkata, Atha` berkata; Jabir bin Abdullah kembali dari menunaikan Umrah, lalu kami pun menemuinya di rumahnya, dan orang-orang pun bertanya kepadanya tentang berbagai persoalan. Kemudian mereka pun menyebutkan tentang nikah mut’ah, maka Jabir menjawab; “Ya, kami pernah melakukan nikah mut’ah pada masa Rasulullah s.a.w., Abu Bakar dan Umar.” (H.R. Muslim No. 2496)

Hadits-hadits yang membolehkan nikah mut’ah di atas telah dimansukh (dibatalklan) dengan hadits-hadits yang melarang nikah mut’ah berikut ini :

Dan telah menceritakan kepadaku Salamah bin Syabib telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin A’yan telah menceritakan kepada kami Ma’qil dari Ibnu Abi Ablah dari Umar bin Abdul Aziz dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ar Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullah s.a.w.  melarang melakukan nikah mut’ah seraya bersabda: “Ketahuilah, bahwa (nikah mut’ah) adalah haram mulai hari ini sampai hari Kiamat, siapa yang telah memberi sesuatu kepada perempuan yang dinikahinya secara mut’ah, janganlah mengambilnya kembali.” (H.R. Muslim No. 2509)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faris, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Rabi’ bin Sabrah dari ayahnya bahwa Nabi s.a.w.  telah mengharamkan menikahi wanita secara mut’ah. (H.R. Abu Daud No. 1775) Syaikh Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih.

Ada sebagian kaum muslimin termasuk kaum Syi’ah yang meyakini bahwa nikah mut’ah pernah dibolehkan dan pernah dilarang namun pelarangan ini tidaklah permanen artinya ketentuan nikah mut’ah ini bisa diberlakukan kembali ketika situasi masyarakat menuntut perlunya niah mut’ah (misal merajalelanya zina yang tak bisa diberantas, dalam peperangan dll) sedangkan jika situasi sudah tidak memerlukan nikah mut’ah maka ketentuan nikah mut’ah bisa kembali dilarang.

Maka pendapat seperti di atas, tertolak dengan adanya hadits Rasulullah s.a.w. yang menyatakan  bahwa pelarangan nikah mut’ah ini berlaku sampai hari kiamat :

Beliau s.a.w. bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya dahulu aku telah mengizinkan kalian untuk menikahi para wanita secara mut’ah. Ketahuilah bahwa Allah telah mengharamkannya hingga Hari Kiamat. Barangsiapa memiliki sesuatu dari mereka, hendaknya ia melepaskannya, dan janganlah mengambil sesuatupun dari apa yang kalian berikan kepada mereka.” (H.R. Ad-Darimi No. 2098)

Husain Salim Asad Ad-Daroni mengatakan hadits ini sanadnya sahih.

Makah hadits-hadits lainnya yang berisi larangan nikah mut’ah atau kawin kontrak adalah bersifat permanen dan sampai hari kiamat walaupun tidak disebutkan demikian karena ada hadits lain yang sudah menyebutkan bahwa hal itu berlaku sampai hari kiamat :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah menceritakan kepadaku Ibnu ‘Uyainah dari Az Zuhri dari Al Hasan dan Abdullah dari ayah mereka berdua, ia berkata; aku mendengar Ali  r.a. berkata kepada Ibnu Abbas r.a. ; “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah melarang mut’ah yaitu menikahi wanita secara mut’ah, dan daging keledai jinak ketika perang Khaibar.” (H.R. Ad-Darimi No. 2100) Husain Salim Asad Ad-Daroni mengatakan hadits ini sanadnya sahih.

Telah menceritakan kepada kami Amru An Naqid dan Ibnu Numair keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Az Zuhri dari Ar Rabi’ bin Sabrah dari ayahnya bahwasannya Nabi s.a.w. telah melarang nikah mut’ah. (H.R. Muslim No. 2505)

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulaiyah dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Ar Rabi’ bin Sabrah dari ayahnya bahwa pada hari Fathu Makkah Rasulullah s.a.w.melarang nikah mut’ah. (H.R. Muslim No. 2506)

Maka demikianlah para sahabat Rasulullah s.a.w. memahaminya dan tak ada yang berbeda pendapat bahwa nikah mut’ah atau kawin kontrak itu telah dilarang oleh Rasulullah s.a.w sehingga siapa yang mengerjakannya dianggap berzina. Hal ini sebagaimana dikisahkan dalam hadits berikut ini :

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Zubair ia berkata, saya mendengar Jabir bin Abdullah berkata; “Kami pernah melakukan nikah mut’ah selama beberapa hari dengan mas kawin beberapa genggam kurma dan tepung, pada masa Rasulullah s.a.w.  dan Abu Bakar r.a. sampai Umar r.a. melarang nikat mut’ah dalam kasus Amru bin Huraits.” (H.R. Muslim 2497)

Telah menceritakan kepada kami Hamid bin Umar Al Bakrawi telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid yakni Ibnu Ziyad, dari Ashim dari Abu Nadlrah ia berkata; Aku pernah berada di dekat Jabir bin Abdullah, lalu ia didatangi oleh seseorang dan berkata; Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair berselisih pendapat mengenai Mut’atain (yaitu nikah mut’ah dan haji tamattu’), maka Jabir pun berkata, “Kami pernah melakukan keduanya bersama Rasulullah s.a.w., kemudian Umar melarang kami untuk melakukan keduanya dan kami tidak pernah lagi melakukannya lagi.” (Atsar riwayat Muslim No. 2498)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf Al ‘Asqalani berkata, telah menceritakan kepada kami Al Firyabi dari Aban bin Abu Hazim dari Abu Bakr bin Hafsh dari Ibnu Umar ia berkata, “Tatkala Umar bin Khaththab menjadi Khalifah, dia berkhutbah di hadapan orang banyak, ia menyampaikan, “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah mengizinkan kita untuk melakukan nikah mut’ah sebanyak tiga kali, kemudian mengharamkannya. Demi Allah, tidaklah aku mengetahui seseorang yang melakukan nikah mut’ah sementara dia sudah menikah melainkan aku akan merajamnya dengan batu. Kecuali jika dia mendatangkan kepadaku empat orang yang bersaksi bahwa Rasulullah s.a.w. menghalalkannya setelah Beliau mengharamkannya“.” (H.R. Ibnu Majah No. 1953)

Dan telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Yunus. Ibnu Syihab berkata; telah mengabarkan kepadaku ‘Urwah bin Az-Zubair bahwa Abdullah bin Az-Zubair tinggal di Makkah, lantas dia berkata : “Sesungguhnya Allah telah membutakan hati orang-orang sebagaimana Dia membutakan penglihatan mereka, karena mereka telah melakukan nikah mut’ah, tiba-tiba nampaklah seorang laki-laki sambil menyerunya; Sesungguhnya kamu orang yang bodoh, demi hidupku, sungguh nikah mut’ah telah berlaku sejak zaman imam Muttaqin, maksudnya adalah Rasulullah s.a.w.. Ibnu Umar pun berkata kepadanya; coba kamu lakukan, demi Allah jika kamu melakukannya sungguh saya akan merajammu dengan batu. Ibnu Syihab berkata; Telah mengabarkan kepadaku Khalid bin Muhajir bin Saifullah bahwa ketika dia sedang duduk-duduk bersama seorang laki-laki, tiba-tiba seorang laki-laki datang meminta fatwa kepadanya tentang nikah mut’ah. Dia (Khalid) pun membolehkannya, maka Ibnu Abi ‘Amrah Al Anshari berkata kepadanya; Tunggu dulu!, lantas dia (Khalid) berkata; kenapa? Demi Allah hal itu pernah dilakukan di masa Imamul Muttaqin (yaitu Rasulullah s.a.w.). Ibnu Abi ‘Amrah berkata kepadanya; Memang, nikah mut’ah pernah dibolehkan pada masa permulaan Islam karena terpaksa, sebagaimana bolehnya memakan bangkai, darah dan daging babi (dalam kondisi terpaksa), namun Allah telah menetapkan hukum dalam agam-Nya dan melarang melakukannya. Ibnu Syihab berkata; Telah mengabarkan kepadaku Rabi’ bin Sabrah Al Juhani bahwa ayahnya berkata; Sungguh saya pernah melakukan nikah mut’ah di masa Rasulullah s.a.w. dengan wanita dari Bani ‘Amir dengan maskawin dua kain burdah berwarna merah, kemudian Rasulullah s.a.w. melarang melakukan nikah mut’ah. Ibnu Syihab berkata; Saya mendengar Rabi’ bin Sabrah telah menceritakan hal itu kepada Umar bin Abdul Aziz sedangkan saya duduk (disampingnya). (H.R. Muslim No. 2508)

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Ibnu Syihab dari Urwah bin Zubair bahwa Khaulah binti Hakim menemui Umar bin Khattab dan berkata; “Rabi’ah bin Umayyah telah menikah secara mut’ah dengan seorang wanita, lalu wanita itu hamil! ” Umar bin Khattab kemudian keluar dengan membawa selendangnya, lalu ia berkata, ‘Ini adalah Nikah mut’ah, sekiranya aku mendapatinya, maka akan aku rajam.” (Atsar Sahabat dalam Al-Muwatha’ Imam Malik No. 995)

Telah menceritakan kepadaku Hasan Al Khulwani dan Abd bin Humaid dari Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad telah menceritakan kepada kami ayahku dari Shalih telah mengabarkan kepada kami Ibnu Syihab dari Ar

Telah mengabarkan kepada kami ‘Amr bin Ali, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya dari ‘Ubaidullah bin Umar, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Az Zuhri dari Al Hasan dan Abdullah keduanya anak Muhammad, dari ayah mereka, Ali mendapat informasi bahwa terdapat seorang laki-laki yang berpendapat nikah mut’ah tidak dilarang. Kemudian Ali berkata; Engkau sesat, Rasulullah s.a.w. telah melarang nikah mut’ah dan daging keledai jinak pada saat terjadi perang Khaibar. (H.R. Nasa’i No. 3312)

Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Umaroh bin Ghoziyyah Al Anshori berkata: telah menceritakan kepada kami Rabi’ bin Sabrah Al Juhani dari Bapaknya berkata : “Kami berangkat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pada Fathu Makkah. Kami tinggal selama lima belas hari dan satu malam. (Rabi’ bin Sabrah Al Juhani Radliyallahu’anhu) berkata; (Bapaknya) berkata; Rasulullah s.a.w.  mengijinkan nikah Mut’ah. Saya dan anak pamanku keluar ke daerah yang rendah di Makkah atau daerah yang tinggi, lalu kami bertemu seorang wanita muda dari Bani ‘Amir bin Sho’sho’ah, sepertinya dia adalah unta muda yang sangat bagus dan berleher panjang (maksudnya gadis belia yang berperawakan menarik). Saya orang termasuk orang buruk rupa, namun saya memakai mantel baru yang sangat bagus, sedang anak pamanku membawa mantel yang sudah usang. Kami mengatakan kepadanya, maukah kau menikah mut’ah dengan salah satu dari kami? Lalu wanita itu bertanya, apakah hal itu boleh? Ya, jawabku. Lalu dia melihat ke anak pamanku, lalu saya katakan kepadanya, mantelku ini baru dan bagus sedangkan mantel anak pamanku itu sudah usang dan lusuh. (wanita itu) berkata; mantel anak pamanmu itu tidak masalah. Lalu (anak pamannya) menikahinya secara mut’ah. Kami tidak berangkat lagi ke Makkah sampai Rasulullah s.a.w. mengharamkannya. (H.R. Imam Ahmad No. 14805)

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah saudara Qabishah bin Uqbah, telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats Tsauri dari Musa bin Ubaidah dari Muhammad bin Ka’ab dari Ibnu Abbas berkata; “Mut’ah itu pernah dibolehkan pada awal Islam. Ada seorang yang datang dari negeri yang jauh, yang belum tahu. Dia menikahi seorang wanita dengan jangka waktu tinggal di tempat tersebut. Agar wanita itu menjadi perhiasannya dan mengurusi kebutuhannya sampai turunlah ayat; “Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki.” ” Ibnu Abbas berkata; “Semua farj (kemaluan) selain dari keduanya (farj istri dan budaknya), haram hukumnya.” (Atsar Riwayat  Tirmidzi No. 1041)

Maka termasuk pada selain hal itu maksudnya adalah bentuk bentuk nikah lainnya yang dilarang. Kesimpulannya nikah mut’ah dan kawin kontrak yang banyak dilakukan sebagian kalangan umat Islam dan kaum Syi’ah jelas mutlak keharamannya sampai hari kiamat. Orang yang melakukannya dianggap berzina.

Wallahua’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s