SHALAT ‘ID DI MASJID ATAU LAPANGAN? (JILID 2)

SHALAT ‘ID DI MASJID ATAU LAPANGAN? (JILID 2)

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

PERIHAL JAUHKANLAH WANITA HAID DARI MUSHOLLA (TEMPAT SHOLAT)

Sebagian orang yang berpendapat shalat hari raya harus di masjid berdalil dengan mengatakan bahwa terbukti shalat hari Raya tidak boleh dihadiri oleh wanita yang sedang haid, sehingga ini menunjukkan bahwa shalat waktu itu bukan di lapangan melainkan di masjid sebagaimana hadits berikut :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah berkata, telah memberitakan kepada kami Sufyan dari Ayyub dari Ibnu Sirin dari Ummu Athiah ia berkata, “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Keluarkanlah para wanita-wanita belia (gadis) dan wanita berhijab untuk menghadiri shalat ied dan do`a kaum muslimin. Dan jauhkanlah wanita haid dari musholla. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1298)

Maka perkataan “jauhkan wanita haid dari tempat shalat” sama sekali tidak menunjukkan bahwa shalat tersebut dilaksanakan di masjid. Karena dalam hadits lain jelas disebutkan bahwa termasuk wanita haid diminta hadir untuk mendengar khutbah, menyaksikan perayaan, namun mereka tidak ikut shalat karena wanita haid dalam keadaan hadats besar, dan dilarang ikut melaksanakan shalat.

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ayyub, Yunus, Habib, Yahya bin ‘Atiq dan Hisyam di riwayat yang lain, dari Muhammad bahwa Ummu ‘Athiyah berkata : “Rasulullah s.a.w. memerintahkan kami menyuruh keluar para wanita yang terpingit dalam rumah untuk keluar pada hari raya ‘Id, lalu di tanyakan; “Bagaimana dengan wanita haid?” beliau bersabda; “Hendaknya ia menyaksikan kebaikan pada hari itu dan juga do’a dari kaum Muslimin.” (H.R. Abu Daud No. 961)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami Hammad telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Muhammad dari Ummu ‘Athiyah seperti hadits ini, katanya; “Hendaklah wanita haidh agak menjauh dari tempat shalat kaum Muslimin…”

Telah menceritakan kepada kami An Nufaili telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami ‘Ashim Al Ahwal dari Hafshah binti Sirin dari Ummu ‘Athiyah dia berkata; “Kami di perintah …” seperti hadits ini, katanya; “Hendaknya wanita-wanita berada di belakang orang-orang dan bertakbir bersama mereka.”

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid yaitu Ath Thayalisi dan Muslim keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ishaq bin ‘Utsman telah menceritakan kepadaku Isma’il bin Abdurrahman bin ‘Athiyah dari neneknya yaitu Ummu ‘Athiyah lalu dia berkata; “Aku adalah utusan Rasulullah s.a.w. kepada kalian, beliau memerintahkan kami untuk menyuruh keluar wanita yang sedang haidh dan para hamba sahaya pada dua hari raya” (H.R. Abu Daud No. 962)

Maka perintah agar wanita menjauhi tempat shalat maksudnya adalah sekadar menjauh saja dan berada di tepi orang yang shalat, namun dibolehkan hadir di situ. Maka hal ini menunjukkan bahwa shalat ‘Id tidak dilaksanakan di masjid, karena seandainya shalat dilaksanakan di masjid, tentu wanita haid tidak diminta hadir.

Perintah bahwa wanita yang haid hendaklah menjauh dari musholla, maka sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya di atas, bahwa istilah musholla di sini bukanlah bangunan tempat sholat atau masjid, melainkan adalah tanah lapang yang dipakai untuk sholat. Hal ini sebagaimana dijelaskan pada hadits yang telah kami sebutkan sebelumnya :

Nafi’ dari Ibnu Umar berkata, “Di pagi menjelang siang Rasulullah s.a.w. keluar saat hari shalat id, membawa tombak kecil (untuk sutrah). Ketika sampai di tempat musholla, tombak kecil itu ditancapkan di antara beliau dan hadapannya lalu beliau shalat ke hadapannya. Dan itu karena tanah musholla adalah tempat yang terbuka dan tidak ada apapun yang menutupinya (atau untuk dijadikan sutroh). ” (H.R. Ibnu Majah No. 1294)

Maka perkataan musholla (tempat sholat) di sini bukanlah masjid melainkan lapangan karena ada keterangan bahwa ia adalah tempat terbuka yang tidak tertutup apapun.
Maka perkataan Dan jauhkanlah wanita haid dari musholla. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1298) maksudnya adalah agar agak menjauh dari lapangan yang dipakai sebagai tempat shalat ‘Id.

HADITS YANG MENGISYARATKAN SHALAT DI LAPANGAN

Kelompok yang berpendapat bahwa shalat hari raya harus di lapangan berdalil berdasarkan hadits-hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. bersama kaum muslimin melaksanakan shalat hari raya di lapangan :

Dari Al-Baraa’ r.a. berkata : “Nabi s.a.w. keluar pada hari ‘Idul Adha menuju Baqi’. Lalu beliau shalat ‘id dua rakaat. Kemudian beliau menghadapkan wajahnya kepada kami seraya bersabda, “Sesungguhnya awal kurban kita adalah pada hari kita ini. Kita mulai dengan shalat, lalu kita kembali untuk menyembelih hewan kurban. Barang siapa yang melakukan hal itu, maka sungguh ia telah mencocoki sunnah kita. Barangsiapa yang menyembelih sebelum itu (sebelum shalat), maka dia (sembelihannya) adalah sesuatu yang ia segerakan untuk keluarganya, bukan hewan kurban sedikitpun“.(H.R. Bukhari No. 933)

Baqi adalah tanah luas di sebelah Timur masjid Rasulullah s.a.w. yang belakangan dijadikan sebagai kuburan kaum muslimin.

Telah menceritakan kepada kami Hamzah bin Nushair telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Suwaid telah mengabarkan kepadaku Unais bin Abu Yahya telah mengabarkan kepadaku Ishaq bin Salim bekas budak Naufal bin ‘Adi telah mengabarkan kepadaku Bakr bin Mubasyir Al Anshari dia berkata; “Aku berangkat untuk melaksanakan shalat Idul Fithri dan Idul Adha bersama sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. Ketika pergi, kami melewati lembah Bathhan hingga sampai di musholla, lalu kami shalat bersama Rasulullah s.a.w., ketika kami pulang ke rumah masing-masing, kami juga lewat lembah Bathhan.” (H.R. Abu Daud No. 978)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah s.a.w. shalat ke musholla namun musholla tersebut adalah sebuah tempat yang melewati lembah bathan. Maka jelas musholla di sini bukanlah masjid. Walaupun demikian hadits ini dla’if karena mauquf (terputus) sampai pada perkataan Bakr bin Mubasyir dan ia tidak tsiqoh karena Mubasyir hanya meriwayatkan 1 hadits ini saja.

Mengenai maksud dari musholla ini maka dikatakan dalam kitab Subulus Salam membedakan istilah masjid dan musholla :

“Bahwasanya Rasulullah s.a.w. pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adlha keluar ke mushalla.. Hadits ini sebagai dalil disyari’atkannya keluar ke mushalla. Dari hadits ini pula dengan mudah difahami bahwa keluarnya Nabi itu ke sebuah tempat yang “bukan masjid” dan memang benar demikian, karena sesungguhnya mushallanya Nabi itu berupa suatu tempat yang telah diketahui oleh banyak orang yang mana jarak antara mushalla dan pintu masjidnya Rasulullah s.a.w. adalah seribu dzira’ (± 500 m.) (Subulus Salam Juz 2 Hal 67)

“Bahwasanya ketika hari raya, Rasulullah menempuh jalan yang bebeda, yakni kembali dari mushallanya melewati arah yang tidak beliau lewati sewaktu berangkat menuju mushalla”. (Subulus Salam Juz 2 Hal 69)

Jika musholla yaitu maksudnya adalah masjid Nabi s.a.w., niscaya tidak disebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. menempuh jalan yang berbeda antara ketika menuju mushola dan kembali dari musholla, karena masjid Rasulullah s.a.w. menempel dengan kamar beliau.

KETIKA HUJAN, SHALAT DILAKSANAKAN DI DALAM MASJID

Dari Abu Hurairah r.a. berkata : bahwa kami pernah kehujanan pada waktu pelaksanaan shalat Ied, maka Nabi s.a.w.melaksanakannya di masjid.” (H.R. Abu Daud 980, Ibnu Majah No. 1303)

Telah menceritakan kepada kami Al ‘Abbas bin Utsman Ad Dimasyqi berkata, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim berkata, telah menceritakan kepada kami Isa bin Abdul A’la bin Abu Farwah ia berkata; Aku mendengar Abu Yahya Ubaidullah At Taimi menceritakan hadits dari Abu Hurairah ia berkata, “Pada masa Rasulullah s.a.w.orang-orang diguyur hujan di hari raya, maka beliau pun shalat bersama mereka di masjid. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1303)

Dari hadits-hadits di atas diketahui apabila shalat ‘Id memang dilaksanakan di dalam masjid, niscaya tidak disebutkan bahwa “karena hujan maka shalat dilaksanakan di masjid”. Jika sejak awal shalat memang dilaksanakan di dalam masjid, maka tidak jadi masalah hujan atau tidak hujan sehingga tidak perlu diceritakan dalam hadits. Maka penceritaan masalah hujan menunjukkan bahwa semula shalat dilaksanakan di luar masjid / lapangan, dan ketika hujan baru dilaksanakan di dalam masjid.

BERSAMBUNG..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s