BOLEHKAH SHOLAT JUM’AT DILAKSANAKAN DUA SHIFT ?

sholat jum'at dua shift

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Dalam nusanews.com diberitakan bawha Direktur Utama P.D. Dharma Jaya (Sebuah BUMD Pemda DKI), bernama Marina Ratna Dwi Kusuma Jati mengusulkan kebijakan agar shalat jumat dua shift. Perkara ini menjadi semakin panas ketika dikaitkan dengan isu politik, dimana disinyalir Ibu Marina adalah pendukung Ahok, (karena ia memimpin BUMD milik Pemda DKI). Sehingga muncul statemen bahwa ini adalah agenda untuk menghancurkan Islam.

Pemikir Islam bernama Ibnu Masduki kepada Suara Nasional menyatakan.“Kalau untuk efektifitas kerja biar tidak ada yang kosong, sangat tidak masuk akal, karena ada karyawan yang non-muslim bisa mengerjakan tugas lainnya. Ini ada agenda tersembunyi ingin hancurkan Islam”

Terlepas dari soal politik, sholat jum’at dua shift atau dua gelombang pada satu masjid yang sama bukanlah hal yang asing. Faktanya di Kanada dan Perancis, sholat jum’at diadakan dua kali atau dua shift. Hal ini karena masjid di sana tempatnya terbatas. Selain itu masjid di negara non-muslim sangat jarang / sedikit (misal di beberapa negara non-muslim kadang orang harus menempuh puluhan bahkan ratusan kilometer untuk melaksanakan sholat jum’at. Sehingga kadang terjadi sekelompok orang datang terlambat ke masjid.

Bagaimanakah status hukum melaksanakan sholat jum’at dua kali / dua shift di masjid yang sama?
Pada dasarnya rumus awalnya adalah : Apabila dikumandangkan adzan panggilan untuk sholat jum’at maka wajib bagi laki-laki meninggalkan semua pekerjaan dan bergegas pergi sholat jum’at. Kecuali bagi yang sakit, musafir atau ada alasan udzur syar’i. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah perniagaan (pekerjaan) Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.(Q.S. Al-Jumuah [62] : 9)

Oleh karena itu menyelenggarakan sholat berjamaah dua kali pada satu masjid yang sama tidak pernah dilakukan pada zaman Rasulullah s.a.w. Sama saja permasalahannya berjamaah untuk sholat fardhu maupun sholat jum’at.

Imam Nawawi mengatakan : “Nabi s.a.w, para khulafau rasyidin dan generasi setelahnya tidak pernah melaksanakan sholat jum’at lebih dari satu kali pada satu tempat yang sama padahal mereka melaksanakan sholat di tanah lapang dan negeri yang kecil” (Majmu Syarah Muhadzdzab Jilid IV Hal 1014)

Namun para fuqaha berbeda pendapat ketika membahas jika tidak sampai panggilan adzan dan jarak terjauh gugurnya kewajiban shalat jum’at. Artinya jika di suatu negeri masjid sangat jarang (seperti di negeri non-muslim) maka orang boleh shalat dzuhur saja jika jarak ke masjid yang menyelenggarakan shalat jum’at sangat jauh. Hal ini dibahas dalam tulisan tersendiri.

Rasulullah s.a.w. ketika menjumpai di masjid namun sholat jamaah sudah selesai, maka Beliau akan melaksanakan sholat berjamaah bersama keluarga beliau di rumah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam hadits :

Dari Abu Bakrah r.a.: bahwa Rasulullah s.a.w. pergi ke perkampungan di luar kota Madinah dan menuju masjid hendak sholat, namun ternyata penduduk setempat telah selesai sholat berjamaah. Maka Rasulullah s.a.w. pulang ke rumahnya dan mengumpulkan keluarganya untuk melaksanakan sholat berjamaah.(H.R Thabrani No. 3601 dalam Majma’ Al Ausath).
Imam Haitami mengatakan para perawi hadits di atas terpercaya (Majma’u Zawaid Jilid Hal 135)

Sebagian sahabat juga melakukan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah s.a.w. Imam Ath-Thabari dalam kitabnya Mu’jam Al-Kabir dengan sanad yang bagus dari shahabat Ibnu Mas’ud r.a. Yaitu suatu saat Ibnu Mas’ud bersama dua temanya keluar dari rumah menuju masjid untuk mengikuti shalat jama’ah. Saat itu ia melihat orang-orang keluar masjid, karena sudah selesai melakukan shalat jama’ah. Maka Ibnu Mas’ud pun kembali ke rumah bersama dua temannya. Ia shalat berjama’ah bersama mereka di rumahnya.

Namun Ibnu Abbas r.a. berpendapat boleh melaksanakan sholat jum’at di beberapa tempat (di masjid yang berbeda) dalam suatu negeri. Karena ia melihat Baghdad sebagai negeri yang luas dan sulit bagi orang untuk berkumpul di satu tempat saja. Namun tidak ada keterangan untuk sholat jum’at dua kali di masjid yang sama.

Sebagian generasi tabi’in juga tidak pernah melaksanakan sholat berjamaah dua kali di masjid yang sama. Al-Hafidzh Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah mengaitkannya dalam kitabnya yang masyhur Al-Mushannaf. Riwayatnya berdasarkan sanad yang kuat dari Hasan Al-Bashri, bahwa sesungguhnya para shahabat apabila ketinggalan shalat berjama’ah mereka shalat sendiri-sendiri.

Namun Abu Thayib As-Salamah berpendapat setiap penjuru negeri boleh dilaksanakan sholat jum’at (di masjid yang berbeda) karena Baghdad sama seperti dua negeri, namun tidak boleh lebih dari itu (4 masjid saja). Adapun mengenai sholat jum’at dua kali di masjid yang sama, maka hal itu tidak dikenal pada masanya.

Muhammad bin Al-Hasan berpendapat pelaksanaan dua shalat jumat dalam satu negeri (di beberapa masjid) boleh, baik negeri yang memiliki dua sisi (seperti Baghdad yang dibelah oleh sungai) maupun yang tidak. Atha’ dan Daud Az-Zhahiri berpendapat melaksanakan beberapa sholat jumat boleh dalam satu negeri (di beberapa masjid bukan beberapa sholat jum’at di satu masjid).

Bagaimana pendapat para Imam Madzhab?

Madzhab Hanafi

Abdari menjelaskan tidak ada riwayat yang jelas mengenai pendapat Abu Hanifah. Namun As-Saji mengatakan bahwa pendapat Abu Hanifah sama seperti pendapat Muhammad bin Al-Hasan, yaitu pelaksanaan dua shalat jum’at boleh di suatu negeri yang memiliki dua sisi atau tidak.

Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) berpendapat jika hal itu diadakan di masjid lokal suatu kampung dimana yang sholat adalah penduduk kampung tersebut dengan jadwal yang telah diketahui penduduk kampung tersebut, dengan imam dan muadzin tertentu, serta dihadiri jamaah penduduk kampung tersebut, maka hukumnya makruh tanzih mengadakan sholat berjamaah dua kali termasuk sholat jum’ah dua kali.

Namun sholat berjamaah dua kali atau sholat jum’ah dua kali boleh dilakukan jika sholat jum’ah yang kedua (shift kedua) dilakukan tanpa adzan dan iqamah yang dikeraskan. Atau jika sholat jum’ah yang pertama dilakukan dengan adzan dan iqamah tidak dikeraskan sehingga tidak terdengar keluar. Atau jika sholat jum’ah yang pertama dilakukan dengan adzan dan iqamah namun tidak dipimpin imam dan jamaah dari penduduk lokal. Abu Hanifah berdalil dengan hadits dari Abu Bakrah di atas.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa pendapat yang masyhur dari Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) adalah shalat jum’at boleh diselenggarakan di beberapa masjid apabila suatu negeri memiliki dua sisi atau lebih dan ini tidak khusus untuk Baghdad saja. (Majmu Syarah Muhadzdzab Jilid IV Hal 1013)
Dalam kitab lain dijelaskan pendapat Abu Yusuf bahwa melakukan shalat berjamaah atau shalat jum’ah dua kali (dalam satu masjid) dibolehkan asalkan tidak menyamai shalat jum;ah yang pertama Yaitu misalkan khatib dan imam tidak berdiri di tempat yang sama dengan imam pada shalat jum’ah yang pertama. Jika shalat jum’ah tersebut dilaksanakan di jalanan atau di ruang lain, maka dibolehkan dilakukan dua kali atau dua shift. (Raddul Mukhtar Jilid 1 Hal 553)

Madzhab Maliki

Madzhab Maliki berpendapat mengenai boleh tidaknya membuat shalat jum’at gelombang kedua bergantung apakah di masjid itu sehari-harinya ada orang yang resmi ditunjuk sebagai imam? Jika ada, maka hukumnya makruh membuat shalat jamaah atau sholat jum’at gelombang kedua. Jika seseorang atau sekelompok orang ketinggalan shalat jamaah atau sholat jum’at, maka ada beberapa alternatif : ia sholat munfarid (sendiri), atau mencari masjid lain yang masih menyelenggarakan sholat berjamaah, atau silakan membuat sholat jum’at tersendiri di tempat lain asalkan bukan di masjid itu. Hal ini dikecualikan untuk Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha, diutamakan tetap sholat di masjid itu secara munfarid. (Al-Mudawanatul Kubro Jilid 1 hal 89-90)
Diriwayatkan dari Imam Malik, dari Abdurrahman bin Mujbir, yang mangatakan : “Saya memasuki masjid Juhfah dengan Salim bin Abdullah (cucu Umar Bin Khattab r.a.) namun orang di masjid itu telah selesai melaksanakan sholat berjamaah. Mereka bertanya kepada Salim bin Abdullah ketika hendak melaksanakan sholat munfarid : “Tidakkah kamu hendak mengadakan sholat berjamaah?” Salim menjawab : “Tidak bisa dilaksanakan sholat berjamaah dua kali dalam satu masjidKecuali jika masjid itu tidak ada orang yang resmi ditunjuk sebagai imam, maka di situ boleh dilaksanakan sholat berjamaah beberapa kali”. (Al-Mudawanatul Kubro Jilid 1 hal 89-90)

Madzhab Hambali
Imam Ahmad bin Hambal (Madzhab Hambali ) berpendapat jika negerinya luas seperti Baghdad dan Bashrahm pelaksanaan dua shalat jum’at atau lebih boleh bila diperlukan (Majmu Syarah Muhadzdzab Jilid IV hal 1014)

Madzhab Hambali juga memboleh secara mutlak pelaksanaan shalat berjamaah (termasuk shalat jum’at) beberapa kali (beberapa gelombang) di satu masjid yang sama. Hal berdasarkan atsar sahabat Anas bin Malik r.a. :

Anas r.a. datang ke masjid dan menjumpai orang-orang telah selesai melaksanakan shalat berjamaah. Maka Anas mengumandangkan adzan dan iqamah kemudian melaksanakan shalat berjamaah (lagi dengan orang lain di masjid itu) (H.R. Bukhari)

Jika orang datang ke masjid dan ternyata shalat berjamaah telah selesai, maka ia boleh mengadakan shalat berjamaah lagi bersama orang lain atau jamaah setempat tanpa syarat apapun, tidak perlu izin dari imam masjid. Ini juga merupakan pendapat dari Ataa bin Abi Rabaah, Ibrahim An-Nakha’i, Qathadah, Ishaq bin Rawahi dan Hasan Al-Bashri.(Al-Mughni Jilid I Hal 331)

Madzhab Syafi’i

Imam Syafi’i mengatakan : “Tidak diadakan sholat jum’at pada suatu negeri walaupun banyak jumlah penduduknya banyak pekerjanya dan banyak masjidnya, selain di masjid yang terbesar (masjid agung). Kalau diadakan sholat jum’at di masjid lain sesudahnya, maka tidaklah dihitung itu sebagai sholat jum’at dan haruslah (yang sholat di masjid lain) mengulang sholat dhuhur empat rakaat” (Al-Umm Jilid 2 Hal 11)

Asy-Syirazi mengatakan “Syafi’i semoga Allah merahmati, mengatakan orang-orang dalam satu perkotaan tidak dikumpulkan (untuk sholat jumat) kecuali di satu masjid, dalilnya karena Rasulullah s.a.w. dan Khalifah sepeninggal beliau tidak pernah melaksanakan sholat jum’at di lebih dari satu tempat. (Majmuu’ Syarah Muhadzdzab Jilid IV Hal.1002)

Nawawi mengatakan : Syafi’i dan sahabat-sahabat kami menyatakan salah satu persyaratan sahnya shalat jum’at adalah tidak adanya shalat jum’at lain yang mendahului pelaksanaannya di suatu negeri pada waktu yang sama. Namun Syafi’i pernah mengunjungi kota Baghdad dimana sholat jum’at dilaksanakan di 2 atau 3 tempat, namun Syafi’i tidak memungkirinya. (Majmuu’ Syarah Muhadzdzab Jilid IV Hal.1004)

Namun Imam Syafi’i merubah pendapatnya ketika mengunjungi kota-kota besar seperti Baghdad. Imam Nawawi menjelaskan : “Sahabat-sahabat kami menjelaskan berdasarkan hal itu boleh hukumnya melaksanakan sholat jum’at lebih dari satu tempat di suatu negeri yang banyak penduduknya dan sulit dikumpulkan di suatu tempat. Pendapat ini diikuti oleh Abu Ishaq Al-marwazi dan Abu Abbas bin Suraij”. (Majmuu’ Syarah Muhadzdzab Jilid IV Hal.1005)

Ar-Rafi’i berkata pendapat di atas diikuti oleh Ibnu Kajj, Hanathi, Al Qadhi Abu Thayyib, Rauyani, Al-Ghazali. Al-Mawardi mengatakan pendapat ini juga diikuti oleh Al-Muzanni.

Terkait shalat jum’at diselenggarakan dua kali di masjid yang sama Madzhab Syafi’i memiliki pendapat : Jika sholat berjamaah itu dilaksanakan di masjid yang resmi dan di situ ada imam yang resmi ditunjuk, maka makruh melaksanakan shalat berjamaah (termasuk sholat jum’at) gelombang kedua di masjid yang sama. Maka shalat berjamaah harus menunggu imam yang resmi ditunjuk. Dan tidak boleh menyelenggarakan shalat berjamaah lagi setelah itu tanpa izin darinya. Namun jika imam mengizinkan boleh dilaksanakan shalat berjamaah (termasuk sholat jum’at) gelombang kedua. Jika orang yang datang terlambat itu hanya sendiri, atau sedikit, maka lebih disukai (mustahab) jika jamaah masjid itu ikut shalat lagi sebagai shalat shodaqoh. Jika atas seizin imam masjid, maka boleh melaksanakan shalat berjamaah lagi di masjid itu.

Hal ini sebagaimana hadits Nabi s.a.w. :
Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata; “Seorang laki-laki masuk ke dalam masjid sedang Rasulullah s.a.w dan para sahabatnya telah melakukan shalat, maka Rasulullah saw pun bersabda: “Barangsiapa ingin bersedekah kepada orang ini hendaklah ia shalat bersamanya, ” lalu berdirilah seorang laki-laki dan shalat bersamanya”. (H.R. Ahmad)
Dari Jabir bin Yazid bin Al-Aswad dari Ayahnya : “Bahwa dia pernah shalat bersama Rasulullah s.a.w sementara ketika itu dia masih muda. Tatkala shalat telah selesai dilaksanakan, ada dua orang laki-laki yang berada di salah satu sudut masjid tidak melaksanakan shalat, maka beliau memanggil keduanya dan keduanya pun didatangkan dalam kondisi merinding bulu kuduknya, lalu beliau bersabda: “Apakah yang menghalangi kalian berdua untuk melaksanakan shalat bersama kami?” Mereka menjawab; Kami sudah melaksanakannya di rumah kami. Beliau bersabda: “Janganlah kalian melakukannya lagi, apabila seseorang di antara kalian sudah melaksanakan shalat di rumahnya, lalu mendapatkan imam sedang shalat, maka shalatlah bersamanya, karena yang ini baginya adalah nafilah (sholat sunnah)” (H.R. Abu Daud & Tirmidzi)

Didalam hadits di atas terdapat pemahaman bahwa barangsiapa yang telah melaksanakan shalat di rumahnya (secara munfarid) lalu dia mendapati jamaah tengah melaksanakan shalat berjamaah di masjid, maka hendaklah dia melaksanakan shalat lagi berjamaah bersama mereka, Inilah pendapat Syafi’i, Imam Ahmad dan Ishaq, Al Hasan dan Az-Zuhri. (Aunul Ma’bud Juz II hal 100)

Demikian pula bagi orang yang telah melaksanakan shalat berjamaah di masjid kemudian datang orang yang terlambat / tidak kebagian shalat berjamaah, dapat diminta mendampingi lagi shalat berjamaah kedua kalinya di masjid. Dan shalat nya dianggap shalat sunnah (disebut shalat shodaqoh). Tentu saja pelaksanaannya di masjid yang sama.

Namun jika di masjid itu tidak ada imam dan muadzin yang resmi ditunjuk, maka baik itu masjid resmi atau ruangan yang dijadikan masjid, boleh dilakukan shalat berjamaah (termasuk shalat jum’at) beberapa kali (Majmuu’ Syarah Muhadzdzab Jilid IV Hal.193-194)

Bagaimana pendapat ulama masa kini ?

Syaikh Utsaimin berkata : Berdasarkan pendapat Ibnu Hazm dan ulama yang sependapat dengannya, mengatakan jika seseorang yang ketinggalan shalat jum’at dan mendapati orang lain yang bisa shalat berjamaah dengannya walau hanya satu orang, maka mereka berdua boleh shalat jum’at berjamaah. Jika ia tidak mendapati satu orang pun yang bisa shalat berjamaah dengannya, hendaknya ia shalat dhuhur munfarid (sendirian). Namun jumhur ulama mengatakan pendapat di atas tidak benar. Tidak boleh mengadakan shalat jum’at dua kali di satu masjid yang sama tanpa adanya alasan. Karena jika hal ini dibolehkan, akan menghilangkan tujuan shalat jum’at yaitu berkumpulnya umat Islam untuk satu tujuan di satu tempat dipimpin satu imam (Majmu Fatawa wa Rasail Jilid XVI Hal 29)

Jadi kesimpulannya : pada dasarnya tergantung situasi dan keperluannya. Di kota metropolitan yang amat luas,dan jika hanya ada sedikit tempat yang menyelenggarakan sholat jum’at (seperti di negeri non-muslim) maka dibolehkan mengadakan sholat jum’at beberapa gelombang. Namun untuk negeri muslim seperti indonesia, tidak ada alasan untuk melaksanakan sholat jum’at dua gelombang di masjid yang sama, karena tempat yang menyelenggarakan sholat jum’at banyak sekali, dan jaraknya tidak berjauhan. Wallahua’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s