MEMOTONG RAMBUT DAN KUKU SEBELUM QURBAN

cut-nail

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Menjelang Hari Raya ‘Idul Adha, ada khotib jum’at yang mewanti-wanti (mengingatkan) agar jangan memotong rambut dan kuku sebelum memotong hewan qurban. Berdosakah jika kita memotong rambut dan kuku sebelum shalat ‘Idul Adha? Demikian sebagian pertanyaan yang muncul.

Permasalahan di atas bermula dari adanya hadits Nabi s.a.w. dari Ummu Salamah :

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi s.a.w. bersabda : “man kaana ‘indahu dzabhan yuriidu an yadzbahahu faroo-a hilaal dzilhijjah (Barang siapa memiliki hewan sembelihan yang hendak disembelih, lalu ia melihat hilal bulan dzulhijjah),  falaa yamussa min sya’rihi wa laa min adzfarihi hatta yudlohha (janganlah ia mencukur rambutnya dan jangan menggunting kukunya sampai ia berqurban)”  (H.R. Muslim)

Hadits dari Ummu Salamah ini diterima dengan beberapa jalur dengan redaksi yang sedikit berbeda. dalam hadits Ummu Salamah dari jalur yang  lain:

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi s.a.w. bersabda : “idzaa dakholati ‘asyru wa aroo da ahadukum an yudhohha (Apabila telah masuk tanggal 10 sedangkan kalian bermaksud menyembelih udh-hiyah (hewan qurban) ,falaa yamussa min sya’rihi  syaian (maka  janganlah ia mencukur sebagian rambutnya dan jangan menggunting kukunya seluruhnya)”  (H.R. Muslim)

Dalam redaksi yang lain :

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi s.a.w. bersabda : “Apabila telah masuk tanggal 10 Dzulhijjah sedangkan kalian bermaksud menyembelih udh-hiyah (hewan qurban) ,maka  falaa yamussa min sya’rihi syai’an (janganlah kalian menyentuh bulunya seluruhnya / sedikitpun) ; dan dalam riwayat yang  lain : falaa ta’khudzanna sya’ran wa laa yaq lumanna zhufron (janganlah kalian mengambil bulunya jangan menggunting kukunya )”  (H.R. Muslim)

Maka walaupun dalam redaksi sebelumnya dinyatakan jika masuk hilal Bulan Dzulhijjah (kesannya dari awal Dzulhijjah) namun maksudnya adalah 10 Dzulhijjah.

Perbedaan pendapat timbul dalam perkataan : “sya’rihi” (rambutnya) dan “adzfarihi”  (kukunya). Kata ganti “nya” pada hadits tersebut bisa menunjuk kepada orang yang berkurban (mudlohhi), bisa juga menunjuk kepada hewan yang dikurbankan (mudlohha).

Pendapat pertama mengatakan bahwa yang tidak boleh dipotong sebelum disembelih hewan qurban adalah “bulu dan kuku” hewan yang hendak diqurbankan. Hal ini demi kesempurnaan hewan qurban tersebut. Ini adalah pendapat Ibnul Malak dan Ustadz Ali Mustafa Ya’qub.

Alasannya karena ada hadits :

Dari “Aisyah r.ah Rasulullah s.a.w. bersabda : “Tidak ada amalan anak adam yang dicintai Allah pada hari Idhul Adha kecuali berqurban.  Karena ia  akan datang pada hari kiamat bersama tanduk, bulu, dan kukunya.”  (H.R. Ibnu Majah).

Rasulullah s.a.w. bersabda : “Bagi orang yang berkurban, setiap helai rambut (bulu hewan kurban) adalah kebaikan” (H.R. Tirmidzi).

Sehingga tanduk, bulu dan kuku hean qurban tidak boleh cacat sampai ia disembelih. Namun pendapat ini gharib (asing / sendirian) dan dianggap nyeleneh. Karena tidak ada  Imam Madzhab yang berpendapat seperti ini.

Pendapat kedua , yang tidak boleh dipotong (sebelum disembelih hewan qurban) adalah “rambut dan kuku orang yang ber-qurban. Hal ini dikarenakan ibadah qurban saat sholat ‘Idul Adha adalah meniru (tasyabuh) atau menyamakan (qiyas) atau menghormati ibadah haji yang berlangsung di Makkah.

Memang Hari Raya ‘Idul Adha bersamaan dengan Ritual / Ibadah Haji di Makkah. Salah satu urutan (rukun) dalam melaksanakan ibadah Haji, adalah wuquf di Arafah, menginap di muzdalilfah, melakukan thawaf (mengelilingi Ka’bah) kemudian melakukan Sa’i (menempuh bukit Shofa), melempar jumroh,  lalu qurban dan diahiri  dengan ber-tahalul (memotong rambut).

Allah berfirman yang artinya :

Janganlah kamu mencukur (rambut) kepalamu sebelum hewan kurban sampai pada tempat penyembelihannya“ (Al-Baqarah [2] : 196)

Rasulullah s.a.w. bersabda yang artinya :

Dari Anas bin Malik r.a. berkata : “Setelah Rasulullah s.a.w. melempar jumroh dan menyembelih hewan qurbannya, kemudan beliau mencukur rambutnya dengan menyodorkan bagian kanan rambutnya kepada tukang cukur lalu dicukur oleh tukang cukur” (H.R. Bukhari & Muslim)

Dari Jabir r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda : “Akhirilah ihram kalian dengan melakukan Sa’i antara Shifa dan Marwa lalu potonglah rambut kalian” (H.R. Bukhari Muslim)

Jadi mencukur rambut (tahalul) dilakukan setelah memotong hewan qurban (Hadyu). Orang yang melaksanakan haji, harus memakai pakaian ihram. Orang yang sudah memakai pakaian ihram, disebut muhrim (bedakan dengan istilah mahram, yaitu yang haram dinikahi).

Selama berihram, ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan, yaitu bersetubuh, menikah, membunuh binatang (kecuali ikan), memakai wangi-wangian, memotong rambut dan memotong kuku, dan menjaga tidak ada bagian tubuh lain yang hilang/terpotong  hingga ibadah ini diakhiri dengan tahalul (memotong rambut).

Walaupun di dalam Al-Qur’an dinyatakan dengan kalimat larangan (jangan mencukur rambut), namun maksudnya adalah makruh, bukan haram. Artinya jika larangan ini dipenuhi, ia akan mendapatkan pahala, namun jika dilanggar  tidak terkena dosa. Hal ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah s.a.w. :

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash r.a. bahwa ia melihat Nabi s.a.w. ditanya orang-orang pada Hari Haji saat Haji Wada’ (Haji perpisahan). Ada seorang laki-laki bertanya : “Wahai Rasulullah aku belum paham sehingga aku mencukur rambut sebelum menyembelih hewan qurban”. Nabi s.a.w. bersabda : “Sembelilhlah hewan qurban mu dan kamu tidak berdosa” (H.R. Bukhari & Muslim)

Walaupun demikian Ar-Riffa’i dan Ad-Darimi yang berpendapat harus membayar dam (denda) apabila telah mencukur rambut sebelum menyembelih hadyu (hewan qurban untuk haji).

Nah, oleh karena sholat Idul Adha dan ber-qurban pada dasarnya adalah meniru, disamakan (tasyabuh) atau menghormati orang-orang yang melaksanakan ibadah haji di Makkah, maka ketentuan dan batasan-batasan orang yang berhaji pun “di-copy-paste. Maka orang yang tidak pergi haji pun disunnahkan untuk menjaga diri tidak memotong rambut dan kuku sebelum menyembelih udh-hiyah (hewan qurban untuk ‘Idul Adha). Menahan diri tidak memotong rambut dan kuku ini dilakukan sejak masuk tanggal 10 Dzulhijjah (Saat yang berhaji mulai  wuquf di Arafah) sampai akhirnya menyembelih hewan qurban.

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi s.a.w. bersabda : “Barang siapa memiliki dzibhun (hewan sembelihan) yang hendak disembelih, lalu ia melihat hilal bulan dzulhijjah,  janganlah ia mencukur rambutnya dan jangan menggunting kukunya sampai ia berqurban”  (H.R. Muslim)

Walaupun dinyatakan jika masuk hilal Bulan Dzulhijjah (kesannya dari tanggal 1 Dzulhijjah) namun maksudnya adalah 10 Dzulhijjah sebagaimana dinyatakan dalam hadits Ummu Salamah dari jalur yang  lain:

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi s.a.w. bersabda : “Apabila telah masuk tanggal 10 Dzulhijjah sedangkan kalian bermaksud menyembelih udh-hiyah (hewan qurban) ,maka  janganlah ia mencukur sebagian rambutnya dan jangan menggunting kukunya seluruhnya”  (H.R. Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, Sa’id bin Musayyab, Rabi’ah, Imam Ahmad, Ishaq dan Abu Daud serta Abu Al-Hasan Al-Abbadi menyatakan hukumnya haram menggunting rambutnya dan memotong kuku. Ad-Darimi menyatakan haram jika sembelihan sunnah (untuk qurban) namun tidak haram untuk sembelihan wajib (qurban yang telah dinadzarkan). Jika hal ini dilanggar maka ada fidyahnya (denda berupa shodaqoh).

Hal ini karena meniru orang yang berhaji dan umroh harus menjaga anggota tubuhnya sesuai firman Allah yang artinya :

Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (rontok rambutnya), maka wajiblah atasnya membayar fidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 196)

Demikian pula dalam hadits ada lafdz “ta’khudzanna” dan “yaqlumanna” terdapat “nun taukid” nun yang berfungsi memberikan penekanan yang artinya “jangan sekali-kali” sehingga disimpulkan hukumnya “haram”.

Sedangkan Madzhab Syafi’i menyatakan hal ini bukan haram melainkan makruh. Imam Nawawi menyatakan bahwa madzhab kami (yaitu Madzhab Syafi’i) berpendapat bahwa memotong rambut dan kuku pada tanggal 10 Dzulhijjah, bagi orang yang hendak berqurban hukumnya makruh, sampai ia menyembelih hewan qurban . Asy-Syirazi berkata apabila telah masuk tanggal 10 Dzulhijjah sementara orang hendak menyembelih udh-hiyah disunnahkan tidak menggunting rambutnya dan tidak memotong kuku sampai menyembelih hewan qurban.Ar-Rafi’i (ulama Madzhab Syafi’i) juga meriwayatka pendapat Imam Syafi’i bahwa tidak makruh (tidak mengapa)  jika menggunting kuku, namun Imam Nawawi menyatakan pendapat ini lemah. Yang benar adalah makruh mencukur rambut dan menggunting kuku jika telah masuk 10 Dzullhijjah. (Majmu’ Syarah Muhadzdzab Jilid 9 hal 554)

Sedangkan Madzhab Maliki dan Abu Hanifah (Madzhab Hanafi) berpendapat tidak mengapa (tidak makruh) memotong rambut dan kuku sebelum menyembelih qurban. Hal ini berdasarkan hadits Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash r.a mengenai orang yang memotong rambut sebelum menyembelih hadyu (qurban untuk haji) dan Rasulullah s.a.w. bersabda : “tidak berdosa”.

Juga berdasarkan hadits dari ‘Aisyah r.ah. : “Aku (‘Aisyah) pernah menganyam kalung untuk hadyu (qurban untuk haji) lalu Beliau s.a.w. mengalunginya dan mengirimnya. Dan tida haram bagi Beliau s.a.w. melakukan hal-hal  yang dihalalkan Allah sampai Beliau s.a.w. menyembelih hadyu nya”. (H.R. Bukhari & Muslim)

Hal-hal yang dihalalkan Allah sehari-harinya adalah termasuk memotong rambut dan kuku.

Mengenai hadits Ummu Salamah Al-Laith bin Sa’d berkata: “(Hadits) ini telah diriwayatkan, namun orang-orang mempraktekkan selain yang terkandung dalam hadits ini (artinya memotong rambut dan kuku tidak mengapa).

‘Ikrimah (generasi tabi’in murid dan mantan hamba Ibnu Abbas r.a.) seorang ulama besar Makkah,  ketika disampaikan hadits Ummu Salamah, mengatakan: “Tidakkah sebaiknya orang-orang itu meninggalkan berhubungan badan dan wewangian? (juga) (yaitu sebagaimana orang yang haji)?”.

Maksudnya, seandainya memotong rambut dan memotong kuku itu diharamkan (sebelum memotong qurban), tentu berhubungan badan juga diharamkan (sebelum memotong qurban), karena bersetubuh itu lebih berat daripada memotong rambut dan kuku. Logika ini diamini oleh Ibnu ‘Abdil Barr, Ulama Madzhab Maliki, beliau berkata: “Semua ulama’ telah berijma’ (konsensus), bahwa bersetubuh dengan istri di sepuluh awal Dzulhijjah bagi yang ingin berqurban diperbolehkan, maka perbuatan yang kurang dari itu (seperti memotong rambut dan kuku) hukumnya mubah (boleh)”.

Artinya, walaupun shalat ‘Idul Adha dan qurban ‘Idul Adha itu menyamai ibadah orang yang berhaji, tetap saja tidak sama-sama banget. Karena orang yang berhaji, selama memakai kain ihram sebelum menyembelih qur’bannya, bukan hanya dilarang memotong rambut dan kuku, melainkan dilarang memotong seluruh anggota tubuh yang lain, juga dilarang bersetubuh, melakukan akad nikah, berburu hewan, memakai wewangian yang berbekas dan lain-lain. Sementara larangan ini tidak diterapkan kepada orang yang ‘Idul Adha di negeri masing-masing.

Wallahua’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s