APAKAH SALAH MENGARTIKAN AULIYA=PEMIMPIN? (JILID 2)

JILID 2 (SAMBUNGAN )

abbasiyah-02

Nusron Wahid membahas gonjang ganjing pernyataan Ahok mengatakan dalam acara ILC dari segi –katanya sih — “ilmu tafsir” yaitu bahwa kalau kita berhadapan dengan sebuah “teks” selalu multi tafsir. Kalau soal ini sih bener banget. Memang teks itu memungkinkan adanya multi tafsir. Tapi tidak berarti mentang-mentang multi tafsir, lantas bebas menafsirkan seenaknya, khususnya jika itu teks A-Qur’an. Ada kaidah untuk menafsirkan ayat Al-Qur’an.

Lebih lanjut Nusron Wahid menyataan bahwa yang paling tahu tentang Al-Qur’an itu sendiri adalah Allah SWT bukan MUI. Karena Allah berfirman “Al-Haqqu mirobbik (kebenaran itu dari Allah)”. Ayat ini benar , namun tidak pas diterapkan pada persoalan menafsirkan Al-Qur’an. Maksud dari kalimat Al-Haqqu min Robbik adalah bahwa apa yang diturunkan dari Allah lah mutlak kebenaran nya.

Untuk apa Al-Qur’an diturunkan kepada manusia jika hanya Allah saja yang tahu tafsirnya. Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Maka percuma saja jika gara-gara Al-Qur’an multi tafsir lantas tidak layak kita jadikan pedoman hidup.

Bahwa memahami text Al-Qur’an memungkinkan terjadi multi tafsir itu ada benarnya. Namun tidak berarti bahwa text Al-Qur’an sangat luas maknanya sehingga tidak ada batasan sama sekali. Menafsirkan ayat Al-Qur’an ada kaidahnya. Sehingga tetap saja ada batasannya. Tidak boleh setiap orang dengan logikanya sendiri bebas menafsirkan ayat Al-Qur’an. Kita tetap bisa membedakan mana tafsiran yang benar dan mana tafsiran yang tanpa dasar.

Yang Paling Tahu Al-Qur’an adalah Allah, namun Allah mengutus RasulNya untuk menjelaskan kepada Manusia

Nusron Wahid menyataan bahwa yang paling tahu tentang Al-Qur’an itu sendiri adalah Allah SWT. Itu benar. Namun Allah telah mengutus RasulNya untuk menjelaskan Al-Kitab yang diturunkan oleh Allah. Itulah salah satu fungsi Rasul. Oleh karena itu, disamping Allah, maka yang paling tahu tentang Al-Qur’an adalah Rasulullah s.a.w.

Selanjutnya, RasulNya mengajarkan kepada para sahabatnya dan para pengikutnya. Sebagian dari sahabat Rasul, hadir pada saat wahyu diturunkan. Demikian juga sebagian istri Rasulullah, menjadi saksi ketika wahyu diturunkan. Sehingga mereka adalah manusia-manusia yang paling tahu konteks tentang apa ayat Al-Qur’an itu diturunkan. Mereka adala orang yang paling mengerti apa yang dibicarakan dan apa yang dimaksudkan oleh ayat Al-Qur’an. Terkadang, Rasulllah s.a.w. menjelaskan maksud dari ayat tersebut. Terkadang mereka bertanya dan Rasulullah s.a.w. menjelaskan.

Banyak sekali hadits yang menerangkan bahwa maksud ayat ini adalah begini dan begitu. Atau sahabat bertanya apa arti dari suatu kata atau istilah yang tidak mereka pahami. Lalu Rasulullah s.a.w. menjelaskan arti kata tersebut.

Maka metoda menafsirkan dan memahami sebuah ayat Al-Qur’an, salah satunya mengacu pada penafsiran para sahabat. Ini harus dipriroitaskan ketimbang penafsiran manusia yang hidup setelah mereka.

Demikian pula selanjutnya, para sahabat mengajarkan kepada generasi tabi’in. Kemudian generasi tabi’in mengajarkan kepada generasi tabiut tabi’in. Kemudian generasi tabiut tabi’in mengajarkan kepada ulama-ulama generasi berikutnya. Maka dalam hal menafsirkan Al-Qur’an, kita harus mengedepankan penafsiran para ahli tafsir generasi terdahulu, dari kitab-kitab tafsir yang paling tua. Karena semakin dekat jaraknya dengan masa kehidupan Rasulullah s.a.w. niscaya akan semakin murni ilmunya dan masih terjaga dari distorsi pemikiran lainnya.

Maka berikut ini dalam beberapa tulisan bersambung akan kami sampaikan tafsir dari ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat kata “auliya” berdafsarkan kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh generasi terdahulu :

Tafsir Q.S. Al-Baqarah [2] : 257

Allah adalah wali orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)...” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 257)

Al-Qur’an menegasan bahwa wali / auliya hanyalah Allah, Rasul dan orang beriman. Maka pemimpin muslim masuk dalam pengertian orang beriman :

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat Q.S. Al-Baqarah : 257  mengartikan wali adalah penolong dan berkata : “Orang kafir yang menjadi penolongnya hanyalah setan. Setanlah yang menghiasi mereka dengan kebodohan dan kesesatan. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3 Hal. 54)

Imam Al-Baidhowi (685 H) menafsirkan ayat Q.S. Al-Baqarah : 257  : Allah adalah wali orang beriman maksudnya adalah yang dicintai oleh mereka dan yang mengatur mereka (Tafsir Baidlowi Darul Fikr Beirut Jilid 1 Hal 558).

Ibnu  Jauzi (597 H) menafsirkan kata wali dalam ayat Allah adalah wali orang beriman maksudnya pengatur mereka, yang menuntun mereka dan mendukung mereka (Zad al-Masir fi ‘Ilm At-Tafsir, Darul Fikr Beirut Jilid 1 Hal 268).

Muhammad bin Ibrahim bin Ta’labi An-Naishaburi (427 H) “Allah adalah wali orang-orang yang beriman..” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 257) maksudnya Allah adalah penolong dan pendukung mereka, dikatakan yang mereka cintai, dan dikatakan yang mengatur mereka. (Tafsir Al-Kasyaf wal Bayan, Ihya-u Ats-Tsurat Beirut, Jilid Hal. 237).

Imam Nasafi ketika menafsirkan “Allah adalah wali orang-orang yang beriman..” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 257) maksudnya Allah adalah penolong dan pemimpin mereka (Tafsir An-Nasafi Jilid 1 Hal 199)

Muhammad bin Ibrahim Al-Kazan (725 H) “Allah adalah wali orang-orang yang beriman..” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 257) maksudnya Allah adalah penolong dan pendukung mereka, dikatakan yang mereka cintai, dan dikatakan yang berhak mengatur mereka. (Al-Lubaab At-Ta’wil fii Ma’ani At-Tanzil, Darul Fikr, Jilid 1 Hal. 272).

Jalalluddin Al-Mahalli dan Jalalluddin As-Suyuthi menafsirkan  “Allah adalah wali orang-orang yang beriman.. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 257) yaitu pemimpin mereka. (Tafsir Jalalain, Darul Hadits Kairo, Jilid 1 Hal. 216).

Imam Suyuthi ketika menafsirkan Q.S. A-Baqarah: 257 menurut Ibnu Mundzir dan Thabrani mengutip perkataan Ibnu Abbas r.a. tentang ayat Allahuwaliyulladzina amanu yukhrijuhum minadzulumati ilan nuur (Allah adalah wali orang beriman yang mengeluarkan dari kegelapan menuju cahaya) : yang dibicaraakan adalah mereka para pengikut Nabi Isa yang kemudian beriman kepada Muhammad s.a.w. dan terkait ayat selanjutnya.. walladzina kafaru auliya-u-humut thogut yang dibicaraakan adalah mereka para pengikut Nabi Isa yang menolak beriman kepada Muhammad s.a.w. mereka adalah kafir. (Tafsir Durul Mantsur Tafsir bil Ma’tsur, Jilid 3 Hal. 202)

Tafsir Q.S. Ali Imran [3] : 28

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali  dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena siasat… (Q.S.Ali-Imran [3] : 28)

Yang benar adalah Dalam Tafsir Al-Qurtubi ketika menafsirkan Q.S. Ali Imran : 28, dikutip hadits dari Ibnu Abbas  r.a. bahwa ayat tersebut (Q.S. Ali Imran : 28) turun terkait dengan Ubadah bin Tsamit Al-Anshori yang berencana berkoalisi dengan Yahudi dalam perang Ahzab (bukan perang Uhud). Ubdah berkata kepada Rasulullah s.a.w. : Wahai Rasulullah, saya memiiki dukungan 500 orang Yahudi, saya kira mereka bisa bergabung dalam pasukan kaum muslimin untuk menghadapi musuh. Maka kemudian turunlah ayat itu.

Sedangkan menurut Ath-Thabari, asbabun Nuzul ayat di atas adalah Al-Hajjaj bin Amr), yang mempunyai teman orang-orang Yahudi yaitu Ka’ab bin Al-Asyraf (pemuka Yahudi yang terkenal sebagai penafsir), Ibnu Abi Haqiq dan Qais bin Zaid kemudian ada beberapa sahabat (Rifa’ah bin Al-Mundzir, Abdullah bin Zubair dan Sa’ad bin Khattamah) yang berkata :”Jauhilah mereka dan kalian harus berhati-hati karena mereka nanti akan memberi fitnah kepada kalian tentang agama kalian dan kalian akan tersesatkan dari jalan kebenaran,  para sahabat yang laianya mengabaikan nasehat tersebut begitu saja, dan mereka masih tetap memberi sedekah kepada orang-orang Yahudi dan bersahabat dengan mereka, maka turunlah ayat ini. (Tafsir Ath-Thabari Jilid 3, Hal. 228)

Ibnu Katsir ketika menafsirkan Q.S. Ali Imran : 28 menjelaskan bahwa Allah melarang hambanya yang mukmin berpihak kepada orang kafir dan menjadikan mereka teman setia. Jadi wali di sini adalah teman setia. Kemudian Ibnu Katsir  menjelaskan bahwa ayat ini terkait dengan Q.S.Al-Mumtahanah [60] : 1 dimana jika orang mukmin menjadikan orang kafir sebagai teman setia, nantinya akan membeberkan berita rahasia orang mukmin kepada orang kafir karena rasa kasih sayang, berarti ia telah meninggalkan orang mukmin. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4 Hal 333)

Imam Suyuthi ketika menafsirkan Q.S. Ali Imran : 28 menyebukan dari Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas r.a.ketika Ibnu Umar pergi haji bersama rombongan Ka’ab bin Asraf dan Ibnu Abi Duqoiq ada sekelompok orang Anshor yang mengagungkan agama kafir kemudian  dikatakan hindarilah kumpulan orang Yahudi itu, dan jangan kalian agungkan agamanya . (Tafsir Durul Mantsur Tafsir bil Ma’tsur, Jilid 3 Hal. 505)

BERSAMBUNG JILID 3

TULISAN LAIN TERKAIT :
APAKAH SALAH MENGARTIKAN AULIYA=PEMIMPIN? (JILID 1 ) http://wp.me/p22fQF-oP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s